Anda di halaman 1dari 43

DIROSAH QUR’AN MA’NANAN

RPP TAHUN AJARAN 2020 -2021

KELAS 9

ُ َ َّ َ ‫آن َو‬
َ ْ ُ ْ َ َّ َ َ ْ َ ْ ُ ُ ْ َ
‫ا‬
Sebaik-baik kalian adalah orang yang
mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya

[HR. Bukhari dan Muslim]

Nama Santri :
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN DIROSAH QUR’AN
TAHUN AJARAN 2020 – 2021

A. Arah Materi Pembelajaran


a. Membangun motivasi hidup santri bersandar dengan Al Qur’an
b. Membangun keyakinan dan pemahaman bahwa bahasa arab dan bahasa Al Qur’an adalah bahasa
yang mudah di hafal dan di fahami
c. Membangun perhatian dan kepedulian yang tinggi untuk menjadikan Al qur’an sebagi sumber
informasi dan sumber hukum
d. Membangun motivasi santri agar senantiasa menjadikan Al Qur’an sebagai dalil pada setiap
amal.

B. Target Materi Pembelajaran :


a. Support mapel bahasa arab khususnya menambah kosa kata bahasa arab
b. support mapel bahasa indonesia baik lisan maupun tulisan
c. Menghafal dan memahami arti per kata dan arti secara menyeluruh
d. Memahami tafsir singkat dari ayat-ayat Al Qur’an
e. Mengaplikasikan dalam materi pidato atau kultum
f. Mengaplikasikan dalam kehidupan pribadi dan membantu menyelesaikan persoalan ummat

C. Indikator Keberhasilan
a. Materi diawali menterjemah kata perkata surat-surat pendek juz 30 (juz amma) dengan
menambah penjelasan tafsir singkat yang banyak diambil dari tafsir Jalalain dan Al Qurthubi.

b. Keberhasilan santri diukur melalui proses PBM kelas, yaitu mampu mengulang hafalan arti
perkata dari surat atau ayat yang sudah dihafalkan dan santri mampu menjelaskan gambaran
umum dari surat yang sudah di pelajari dalam bentuk materi kultum, artikel sederhana dan
sebagainya.
Pertemuan 1
Mata pelajaran : Dirosah Qur’an
Surat : Al Muthaffifin (Reiview)
Kelas :9
Waktu : 1 x 60 menit

َ َّ َّ
ِ ِ ّ ‫ٱ‬ ‫ٱ ِٱ‬ .
Penjelasan singkat QS. Al Muthaffifin

Surah Al Mutaffifin atau surat Al-Tatfif (artinya kecurangan) adalah surah ke-83 dalam al-
Qur'an. Surah ini tergolong surah Makkiyah, terdiri atas 36 ayat. Dinamakan Al Muthaffifiin di ambil
dari kata yang terdapat pada ayat pertama surat ini, yang artinya orang-orang yang curang. Surat ini
merupakan surat terakhir yang turun di Mekkah sebelum hijrah.
Pada ayat pertama terdapat kalimat al muthaffifin yang berasal dari kata thaffafa artinya
mengurangi atau menambah sedikit. Menurut Ibnu Kastir kalimat ath-thathfif artinya pengambilan
sedikit dari timbangan atau penambahan. Maksud dari semua itu adalah kecurangan dalam
timbangan. Jadi al-muthaffifiin yang di maksud adalah para pelaku kecurangan tersebut. Karena
itulah surat ini diberi nama Al-Muthaffifin.

Isi pokok surat ini adalah ancaman bagi mereka yang suka menipu dan mengambil hak orang
lain, serta ancaman bagi orang-orang kafir yang suka mengejek dan menghina orang-orang beriman.
Bila dihubungkan dengan surat sebelumnya, terlihat jelas adanya keterkaitan makna dan kandungan:
Dalam surat al-Infithar Allah menjelaskan adanya malaikat yang menjaga dan mencatat amal
(perbuatan) manusia, lalu pada surat ini dijelaskan lagi tentang buku catatan tersebut. Bila pada surat
al-Infithar disebutkan bahwa ada dua golongan manusia pada hari kiamat, maka dalam surat ini
diuraikan lebih luas keadaan dan sifat kedua golongan manusia itu. Oleh karena itu mari kita lihat
secara ringkas kandungan surat Al-Muthaffifin sebagai berikut:

َ ُ ۡ ُ ۡ ُ ُ َ َّ َ ۡ ُ ُ َ َ َ ُ َ َ َ َ ْ ُ ۡ َ َّ ّ ّۡ ٞ
ِ 52 6'7‫ أو وز‬6' -: ‫ ;ذا‬4 ‫ ۡ*) ۡ'('ن‬+ ‫س‬-
< ‫* ون‬ ِ .ّ ‫ ٱ‬/ َ ‫ 'ا‬-)َ ‫ َ إِذا ٱ‬2ِ3 ‫ ِ ُ َ! ِ ِ َ & ٱ‬$%ۡ ‫َو‬
َ َ ٰ َ ۡ ّ َ ُ َّ ُ ُ َ َ ۡ َ َ ۡ َ َ ُ ُ ۡ َّ ُ َّ َ َ َٓ ْ ُ ُّ ُ َ َ َ
R ِ O‫بٱ‬ ِ ِ ‫س‬-. ‫ 'م ٱ‬H ‫'م‬2 N Kٖ Gِ Mٍ ' ِ I ‫@? > '='ن‬A BِCF ٰ ‫ أو‬GH - A

Ancaman Bagi Al-Muthaffifiin (1-6)


Allah memulai surat dengan suatu ancaman bagi orang–orang yang curang dalam timbangan (al-
muthaffifin) dengan kalimat “wail” artinya celakalah, suatu indikasi bahwa mereka akan
mendapatkan azab yang pedih . Siapakah al-muthaffifin dan mengapa diancam demikian? Mereka
adalah orang-orang yang jika menerima takaran mereka minta ditambah dan jika mereka menimbang
atau menakar mereka mengurangi. Merekalah orang-orang yang curang dalam jual beli, mereka tidak
beriman dengan adanya hari kiamat, hari kebangkitan, hari yang sangat besar, hari
pertanggungjawaban atas apa yang diperbuat.
َ ^ِ3ّ _ َ ُ ۡ ّ َ ۡ َ ٞ ۡ َ ٞ ُ ۡ َّ ٞ ٰ َ ٞ Sِ ّ T -َ B َ ََََٰۡٓ ّ T / َ ‫ر‬-S َّ ُ ۡ َ ٰ َ َّ ٓ َّ َ
ِ ِ 3
ٖ ِ C ' 2 $ %‫و‬ ] ‫'م‬ \ V Wِ : [ ِ Y‫ر‬ ‫د‬ ‫أ‬ - ‫و‬ X ٖ Sِ
ِ ِ ِ ‫ ٱ‬VWِ: ‫ إِن‬- :
َ َ َ ََ َ ُ َ َ ُّ ُ َّ ُ 3ّ a َ ُ ََ َ ّ َ َّ
‫ل‬-\ -.َ )ُ ٰ g‫ ۡ ِ َءا‬/ٰ )ۡ ‫& إِذا‬4 Kٍ ِd‫ أ‬bٍ )َ ۡ ُ $: - ِ ‫ ِ ِٓۦ إ‬c ‫ِب‬ 2 - ‫ ِ && و‬2ِbّ ‫ُ'ن ^ِ َ ۡ' ِم ٱ‬cِ3aُ2 َ 2ِ3 ‫`& ٱ‬
َ َ ۡ ُ َّ ٓ َّ َ َ ۡ ْ ُ َ َ ُ ُ َ َ َ َ ۜۡ َ َّ َ ََۡ َ
َٰ ‫أ‬
3ٖ ِ C َ 'ۡ َ2 ۡ ?ِ ِ kّ ‫ّر‬ ?@ِ‫ إ‬- : &I ‫* ُِ>'ن‬aَ2 ‫'ا‬7-: - ّ ?ِ ِ k' \ /ٰ ‫ ران‬$c ۖ- : &< َ ِ ‫ ّو‬i ‫ ِ! ُ ٱ‬j
َ ّ َ ُ َ ُ ُ ۡ َ َّ
ُ :ُ ‫ِي‬3َّ ‫ا ٱ‬3َ ٰrَ ‫ل‬-ُ َ Hُ َّ dُ &R nSَ ۡ ‫ ُ'ا ْ ٱ‬-oَ َ ۡ ?ُ @َّ ‫ َّ إ‬dُ &N ‫'ن‬
&X ‫ُ'ن‬cِ3ap ‫ ِ ِۦ‬c ). ِ ِ ِ k'Sn

Tempat Catatan Bagi Orang-orang Kafir (7-17)


Kemudian Allah menjelaskan bahwa catatan perbuatan orang-orang durhaka terdapat dalam daftar
keburukan dan di simpan dalam buku khusus bernama “sijjin” (kumpulan buku-buku para syetan dan
orang-orang kafir). Mereka itulah yang mendustakan para rasul dan risalahnya. Sifat-sifat mereka ada
tiga: a). mu’tad (melampaui batas dan selalu melanggar huku-hukum Allah). b). astim (bergelimang
dosa, dengan menkonsumsi barang haram, berbicara bohong, mengkhianati amanah, dan lain
sebagainya. c). Jika dibacakan Al-Qur’an, mereka mengatakan bahwa itu hanya dongeng orang-orang
terdahulu, itu bukan wahyu dari Allah SWT.
Pada ayat berikutnya Allah lalu menjelaskan sebab-sebab mengapa mereka mengejek Al-Qur’an di
antaranya, banyaknya dosa yang telah menutup hati mereka dari keimanan kepada Al-Qur’an
sehingga mereka tidak mau menerima kebenaran dan kebaikan. Karenanya mereka jauh dari rahmat
Allah sehingga mereka kelak dilemparkan ke dalam api neraka yang paling bawah. Dan dikatakan
kepada mereka, “inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan“.

َ ُ َ ّ َ ُ ۡ ُ ُ َ ۡ َ ٞ ُ ۡ َّ ٞ ٰ َ َ ُّ ّ َ َ ٰ َ ۡ َ ٓ َ َ ّ َ ۡ َ ۡ َ َ َّ ٓ َّ َ
4& ‫'ن‬k ‫ه ٱ‬b?u+ 4` ‫ \'م‬VWِ: &] ‫ ِ ِ 'ن‬- BY‫ أدر‬- ‫ ِ ِ ّ ِ َ [& و‬/ِ َ
ِ‫ ار‬cs ‫ ٱ‬VٰWِ: ‫ إِن‬- :
َ َۡ ُۡ َّ َ َ ۡ َ ۡ ُ ُ ُ َۡ َ ُ ُ َ ََٓۡ َ َ َ َ َ َ ۡ َ ۡ َّ
ِ ‫* 'ن‬+4I ِ ِ . ‫ ة ٱ‬x7 ?ِ ِ6'y‫ و‬/ِ ( ‫ ِف‬4< ‫ ون‬G.2 B ِ ِ v‫را‬i ‫ ٱ‬/ 44 Kٍ ِ 7 /ِ ‫ ار‬cs ‫إِن ٱ‬
َ َ َ ُ َٰ َ ُۡ َ َ َۡ َ َ ٞ ٰWَِ 4N Mٍ ')ُ 5ۡ َّ { ِ ‫َّر‬
-.ٗ ۡ ˆ 4X Kٍ ِ „*ۡ … ِ ‫ ُ ۥ‬y‫ا‬ ُ †َِ ‚‫ َو‬4R ‫'ن‬ *ِ |) ‫( ِ} ٱ‬-.َ ~َ ( Bِ ٰ • €ِ ‫ۚ َو‬B*ِۡ ‚ ‫ُ ُ ۥ‬ ٖ
َ ََ ۡ ۡ
4[ ‫'ن‬kُ ّ ُ ‫ ٱ‬-?َ ِ c ‫ َ ُب‬uَ+

Tempat Catatan Bagi Orang-orang Beriman (18-28)

Kemudian Allah SWT. berfirman dengan hak, “Sesungguhnya kitab orang-orang berbakti itu dalam
‘illiyin.” Yaitu, kesudahan mereka adalah ‘illyin. Berbeda dengan sijjin. Secara dzahir, ‘illiyin ini diambil
dari kata al-‘uluw ‘tinggi’ dan jika sesuatu itu sepanjang ia menaik dan meninggi, maka ia akan
membesar dan meluas. Itulah sebabnya Allah Ta’ala berfirman seraya mengagungkan
keberadaannya, “Tahukah kamu apakah ‘illiyin itu?” Kemudian berfirman untuk menegaskan tentang
sesuatu yang telah dicatatkan untuk mereka, “Kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-
malaikat yang didekatkan.”
Adapun gambaran kenikmatan yang dicapai mereka yang beruntung ini Allah sebutkan pada ayat-
ayat berikutnya: a). Mereka berada dalam kenikmatan yang luar biasa, tidak pernah mereka alami
sebelumnya. Keindahan dipan-dipan yang mereka tempati dan seluruh interior kamarnya di surga
benar-benar tak terhingga, tak terlukis dengan kata-kata. b). Wajah mereka berseri-seri, putih
bersinar. c). Minuman mereka khamar yang tidak memabukkan, cirinya ada empat: (1) makhutum,
tempatnya dilak atau distempel khusus, sebagai tanda kemulyaan. (2) khitaamuhu misk artinya
setelah minum terasa mencium semerbak wangi kesturi. (3) Minuman itu menjadi rebutan para
penghuni surga. (4) Campurannya khamar murni dari tasnim (minuman kebanggaan ahli surga).

Kemudian Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam
kenikmatan yang besar.” Yaitu, di hari kiamat nanti mereka berada dalam kenikmatan yang abadi dan
surga yang dipenuhi karunia yang menyeluruh. “Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil
memandang.” Yaitu, mereka di atas ranjang-ranjang yang berkelambu, sambil memandang Allah
Ta’ala. Kondisi ini merupakan kebalikan suasana yang dialami oleh orang-orang fajir tadi. “Sekali-kali
tidak. Sesungguhnya mereka pada hari itu terhijab dari Tuhan mereka.” Selanjutnya Allah SWT.
berfirman, “Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh
kenikmatan.” Yaitu, kamu akan mengetahui, bila memandang wajah-wajah mereka, sifat-sifat
kemewahan, kemuliaan, dan kekuasaan sebagai beberapa kenikmatan besar yang mereka rasakan.

Allah Ta’ala berfirman, “Mereka diberi minum dari khamr murni yang dilak.” Yaitu, mereka akan
diberi minum dengan arak surga. Rahiq itu termasuk salah satu nama khamr. Diriwayatkan bahwa
Ibnu Abbas pernah berkata, “Allah telah membuat khamr menjadi baik bagi mereka dan yang terakhir
dihidangkan kepada mereka dan menjadikan padanya minyak kasturi yang ditutupi dengan minyak
kasturi lagi.”

Diriwayatkan bahwa Abu Darda berkata, “Laknya adalah kasturi adalah minuman yang putih seperti
perak, yang mereka teguk setelah mereka meminum minuman yang lain. Kalau saja seseorang dari
penduduk dunia memasukkan salah satu jarinya ke dalam minuman ini, kemudian ia
mengeluarkannya kembali, maka tidak ada makhluk yang bernyawa pun melainkan akan mencium
aroma harumnya.”

Allah Ta’ala berfirman, “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” Yaitu,
dalam suasana seperti itu, hendaklah orang-orang bersaing, agar dimenangkan oleh orang-orang
yang lebih dulu. Hal ini seperti firman-Nya, “Untuk yang seperti ini, hendaklah orang-orang beramal.”
Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman, “Dan campuran khamr murni itu adalah dari tasnim,” yaitu
campuran minuman rahiq ini adalah tasnim, yaitu nama salah satu minuman dan merupakan
minuman yang paling terhormat dan tinggi di kalangan ahli surga. Itulah sebabnya Allah SWT.
berfirman, “Mata air yang minum darinya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.” Yaitu, akan
diminum oleh orang-orang yang didekatkan oleh Allah tanpa campuran dan diminum oleh ash-habul
yamin dengan dicampur minuman lain. Demikian dikatakan oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, dan yang

ْٓ َُ َ َ َ ُ َ َ َ َ ۡ ْ ُّ َ َ َ ُ َ ۡ َ ْ ُ َ َ َ َّ َ ْ ُ َ ْ ُ َ ۡ َ َ 2ِ3َّ ‫إ َّن ٱ‬
lain.
‫ >'ا‬7‫‚†ون `< ;ذا ٱ‬-‰)H ?ِ ِ c ‫ ;ذا ‚ وا‬4] ‫_'ن‬nx2 ‫'ا‬. ‫ ءا‬2ِ3 ‫'ا ِ ٱ‬7-: ‫ ‚'ا‬y‫أ‬ ِ
َ ُّ َ َ ٓ َ ُ َٓ َّ ْ ٓ ُ َ ۡ ُ ۡ َ َ َ َ ْ َ َ َۡ َ
<4 ‫ 'ن‬Šx ‫ ِء‬- ‹Œ ِ ( ‫ ُ>'ا‬7‫ُ ٱ‬
ٰ ‫ 'ا إِن‬-\ 6‫_ ِ? َ &< ;ذا رأو‬ ?ِ ِ 6‫ أ‬/ٰٓ ِ ‫إ‬

Ejekan Allah Terhadap Orang-orang Kafir (29-32)

Allah menceritakan ejekan orang-orang kafir – seperti; al Walid bin Mughirah, ‘Ubah bin Abi Mu’ith,
al-‘Ash bin Wail, al-Aswad bin ‘abd Yaghut, al-‘Ash bin Hisyam, Abu Jahal dan an-Nadhr bin al-Harist-
kepada orang-orang beriman – seperti; ‘Ammar, Khabbab, Shuhaib dan Bilal – selama di dunia: (a)
Mereka suka menertawakan orang-orang beriman. (b) Bila melihat orang-orang beriman, mereka
suka mengedip-ngedipkan matanya dengan nada mengejek sambil berkata: “lihatlah mereka
mencapekkan diri dan menjauhkan kenikmatan duniawi hanya sekedar mencari pahala!” (c) Bila
berkumpul dengan kawan-kawan mereka menampakkan kegembiraan. (d) Selalu menyebut bahwa
orang-orang beriman itu adalah orang-orang sesat.

ََٓۡ َ َ َ ُ َ ۡ َ َّ ُ ۡ َ ْ ُ َ َ َ َّ َ ۡ َ ۡ َ َ ٰ َ ۡ ?ۡ َ َ ْ ‫ ُ'ا‬T‫ ٓ أُ ۡر‬- َ ‫َو‬


B
ِ ِ v ‫ا‬‫ر‬i ‫ٱ‬ / <I ‫'ن‬ _n x 2 ِ ‫ر‬- _ ‫ٱ‬ ِ ‫'ا‬. ‫ا‬ ‫ء‬ 2ِ
3 ‫ٱ‬ ‫م‬' Ž( << G
ِ ِ • ِ ِ
َ ُ ۡ ْ ُ َ ُ َّ _
ُ ۡ َ ُّ َۡ َ ُ
<R ‫ َ 'ن‬Hَ ‫'ا‬7-: - َ ‫ر‬- ‫ ='ِب ٱ‬$6 <N ‫ ُ ون‬G.َ2

Hiburan Allah Bagi Orang-orang Beriman (33-36)

Di akhir surat ini Allah menggambarkan hiburan bagi mereka yang beriman, kelak di surga: Pertama,
bahwa perbuatan mereka itu ternyata tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Melainkan dicatat secara
ketat oleh para malaikat yang mengawasi. Dan semuanya akan mendapatkan balasan yang
setimpal. Kedua, Allah berkata kepada penghuni surga: perhatikan, sekarang kalian berada di atas
dipan-dipan yang indah sambil menertawakan mereka menderita dalam neraka, dulu mereka telah
menertawakan kalian selama di dunia. Ketiga, Allah bertanya kepada penghuni surga: sudahkah
kamu saksikan bahwa orang-orang kafir benar-benar menerima akibat perbuatannya yang keji dan
kejam selama di dunia? Suatu pernyataan yang merendahkan derajat mereka dan memulyakan
penghuni surga. Itulah ganjaran yang pantas diterima oleh orang-orang kafir dan orang-orang
melampui batas dalam berbuat dosa.

Wallahu a’lam bishshawab.

Pertemuan :2-3
Mata pelajaran : Dirosah Qur’an
Surat : Al Infithar
Kelas :9
Waktu : 2 x 60 menit

َ َّ َّ
ِ ِ ّ ‫ٱ‬ ‫ٱ ِٱ‬
ۡ ُ >ُ ُ ۡ ‫;ذا ٱ‬
I ‫'ر ُ^ ۡ •ِ َت‬
َ ۡ ّ ُ ُ َ ۡ َ
< ‫ َت‬S
ۡ َََ ُ َ َ ۡ َ ۡ َ َ َ ُ ٓ َ َّ َ
ِ ( ‫ر‬-nِ> ‫ ;ذا ٱ‬4 ‫~• ت‬7‫ ٱ‬Vِ:‫ ! ت & ;ذا ٱ _'ا‬7‫ء ٱ‬- * ‫إِذا ٱ‬

َ ٰ َّ َ َ َ َ َ َ َّ َ ۡ َ ّ َ َ َّ َ َ ُ ٰ َ ۡ َ ُّ َ َٓ ۡ َ َّ َ َ ۡ َ َ ّ َ َ ّ ٞ ۡ َ ۡ َ َ
BY'*( B ‫ِي‬3 ‫ ٱ‬R ِ %ِ _ ‫ ٱ‬Bِk ِ c ‫ “ ك‬- ”•ِ– ‫ ٱ‬-?Hs— ٰ N ‫ت‬ ‫ ‘ وأ‬b\ - } @ ‘ ِ

َ َ َ ۡ ُ ۡ َ َ َّ َ ُ ّ َ ُ ۡ َ َّ َ َ َ َّ َ َ ٓ َ َّ َ ُ ّ َ ٓ َ َ
&` ِGِ • a ‫ ِ ] ;ن‬2ِb Žِc ‫'ن‬cِ3ap $c - : [ B>™‫ء ر‬-š - ٖ ›‫'ر‬œ ‫ أ ِي‬/ِ ( X Bَ bَ َ ˜
ٰ ّ

َ َ َ َّ ُ ۡ َّ َ َ َ َ ۡ َ ۡ َّ َ ُ َ َۡ َ َ ُ َ ۡ َ َ َٰ ٗ َ
&I Kٖ n
ِ y /ِ ‫ر‬-S ‫ <& ;ن ٱ‬Kٖ ِ 7 /ِ ‫ ار‬cs ‫& إِن ٱ‬4 ‫'ن‬ - ‫ 'ن‬H && ِ žِ)Ÿ - ‫ ا‬:
ِ

َ َۡٓ َُ َ َۡٓ َٓ َۡ ُ َ َ
‫َ ۡ' ُم‬2 - َ BٰY‫ أد َر‬- َ ّ d &X ِ 2ِbّ ‫َ ۡ' ُم ٱ‬2 - َ BٰY‫ أد َر‬- َ ‫& َو‬R َ ِ >ِv-‰ِc -?َ .ˆ ۡ 6 - َ ‫& َو‬N ِ 2ِbّ ‫َ ۡ' َم ٱ‬2 -?َ @'ۡ oۡ َ2

َّ ّ َۡ َ ۡ ّ ٞ َۡ ُ َۡ َ ََۡ
.&] ِ ِ 3ٖ ِ C َ 'ۡ َ2 ُ ‚ۡ i ‫¡ٔ¡ٗ ۖ َوٱ‬/ۡ š }ٖ .َِ } @ Bِ - ‫'م‬2 &[ ِ 2ِbّ ‫ٱ‬

Penjelasan singkat :
Surat Al Infithar adalah surat ke 82 terdiri dari 19 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah dan diturunkan sesudah surat An-Naazi’aat. Al-Infithaar yang dijadikan nama untuk surat
ini adalah kata asal dari dari kata “Infatharat” (terbelah) yang terdapat pada ayat pertama. Adapun
kandungan surat ini mengabarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari kiamat, peringatan
kepada menusia agar tidak terpedaya sehingga durhaka kepada Allah, adanya malaikat yang selalu
menjaga dan mencatat segala amal perbuatan manusia, pada hari kiamat manusia tak dapat
menolong orang lain, hanya kekuasaan Allahlah yang berlaku pada waktu itu.

Ayat 1-5: Peristiwa yang akan disaksikan pada hari Kiamat dan peristiwa setelahnya berupa hisab
dan pembalasan.
ۡ َ ٓ َ َ
Apabila langit terbelah & ‫ َ! َت‬7‫ ُء ٱ‬- َ *ّ ‫إِذا ٱ‬

Infatharat artinya terbelah atau pecah, yaitu nanti pada hari kiamat akan pecah. Semua manusia
mengetahui bahwa langit adalah makhluk yang paling besar yang pernah kita saksikan. Tidak ada
makhluk yang lebih besar dan lebih luas dibandingkan dengan langit. Bahkan matahari sekalipun
berada di dalam langit, rembulan di dalam langit, bintang-bintang juga hanyalah berfungsi sebagai
perhiasan langit semata.
ۡ ََ ُ َ َ ۡ َ
Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan 4 ‫~• َت‬7‫ ٱ‬Vِ
:‫;ذا ٱ _'ا‬

Intatsarat artinya berjatuhan. Jadi Allah mengatakan bahwa bintang-bintang itu akan berjatuhan ke
bumi. Ini menunjukkan bahwa bumi itu memang yang paling rendah, maka ketika hari kiamat terjadi

ۡ ّ ُ ُ َ ۡ َ
bintang-bintang itu akan berjatuhan.

Dan apabila lautan dijadikan meluap < ‫ َت‬S


ِ ( ‫ر‬-nِ> ‫;ذا ٱ‬
‘Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas: “Allah melupakan air itu sebagaian atas sebagian
lainnya.” Al-Hasan mengatakan: “Allah meluapkan air itu dan setelah itu lenyaplah air itu.”
Lautan yang dimaksud mencakup lautan, sungai, danau, selat. Pada asalnya antara air laut dan air
tawar ada pembatasnya, sehingga tidak bisa bersatu. Namun, pada hari kiamat kelak pembatas ini
akan diangkat oleh Allah dan lautan pun meluap. Maka, seluruh lautan yang ada di alam semesta
akan bersatu. Setelah semuanya bersatu, Allah kemudian membakar lautan tersebut sehingga
menjadi lautan api karena sejatinya itu terdiri dari unsur oksigen dan hidrogen dan berdasarkan
penelitian para ilmuwan kedua unsur tersebut sangat mudah terbakar. Setelah lautan meluap
kemudian menjadi lautan api lalu pada akhirnya lautan menjadi kering.

Dan apabila kuburan-kuburan itu dibongkar


ۡ ُ >ُ ُ ۡ ‫;ذا ٱ‬
I ‫'ر ُ^ ۡ •ِ َ ت‬
َ

Ibnu ‘Abbas menjelaskan makna ayat diatas bahwa manusia akan di keluarkan dari kuburnya.
Sedangkan As-Suddi mengemukakan: “Kuburan itu berserakan dan bergerak sehingga keluarlah
orang yang ada di dalamnya. Yaitu kuburan akan dibalik sehingga yang dibawah menjadi di atas,
maksudnya yaitu manusia dikeluarkan dari kuburnya, dibangkitkan untuk dikumpulkan di padang

ۡ َّ َ ۡ َ َ ّ َ َّ ٞ ۡ َ ۡ َ َ
mahsyar”.
N ‫‘ َوأ َت‬ b\ - } @ ‘ ِ
Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.
Maksudnya bahwa setelah Allah bersumpah dengan beberapa makhluknya tentang kejadian yang
akan menimpa para makhluknya tersebut mulai dari langit tatkala terbelah, bintang-bintang tatkala
berjatuhan, lautan meluap dan manusia dibangkitkan dari kuburan, kemudian Allah berkata bahwa
semua itu agar setiap jiwa mengetahui apa yang telah dia lakukan selama dia hidup di dunia, yaitu
dia akan melihat seluruh keburukan dan kebaikan yang telah lakukan dan juga akan mengetahui
balasan apa yang pantas dia dapatkan.

Ayat 6-12: Celaan terhadap manusia yang durhaka kepada Allah dan penjelasan bahwa Allah
Subhaanahu wa Ta'aala telah menugaskan para malaikat untuk mencatat amal manusia.

َ ۡ َ َ َٓ
ََ ٰ َ ِ–ۡ ‫ ٱ‬-?َ Hُّ s—
R ِ %ِ _ ‫ ٱ‬Bِkّ َ ِ c ‫ “ ّ َك‬- َ ُ ”• ٰ
Hai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu [berbuat durhaka] terhadap Rabb-mu Yang
Maha Mulia.
Para mufassir mengatakan bahwa maksudnya bukan manusia secara umum tetapi ditujukan untuk
orang kafir yang mereka terus terperdaya sehingga durhaka kepada Allah. Adapun yang membuat
mereka demikian adalah adalah syaitan dan kebodohan diri mereka karena mengikuti hawa
nafsunya, tetap tidak mau tunduk kepada Allah dan terus bermaksiat kepadaNya. Sehingga, Allah
pun mengingatkan mengapa mereka bisa terperdaya padahal Allah yang telah menciptakannya.

َ َ َ َ َ َ َ ََ َ َّ
X B bَ َ ˜ BٰY'ّ *َ ( B ‫ِي‬3 ‫ٱ‬
Yang telah menciptakanmu, lalu menyempurnakan kejadianmu lalu menjadikan [susunan tubuh]mu
seimbang.

Bentuk tubuh yang dimiliki oleh manusia berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Kita lihat
bagaimana hewan-hewan hampir semuanya berjalan dengan kaki empat atau lebih, adapun yang
berjalan dengan dua kaki pun tidak bisa tegak lurus seperti manusia melainkan dengan bongkok.
Allah mengatakan bahwasanya Dia telah menjadikan bentuk kita adalah bentuk yang sangat
sempurna dan seimbang. Tidak ada makhluk seperti manusia yang memiliki organ-organ tubuh yang
sangat serasi. Imam Ahmad meriwayatkan dari Bisyir bin Jahsy al-Qurasyi bahwa Rasulullah SAW
pernah meludah di telapak tangannya, lalu di atasnya beliau meletakkan jari beliau dan kemudian
bersabda:

“Allah telah berfirman: ‘Hai anak Adam, bagaimana bisa engkau menilain Diri-Ku lemah padahal Aku
telah menciptakanmu seperti ini? Sehingga jika Aku telah menyempurnakan dirimu dan membuatmu
seimbang, maka kamu berjalan di antara ummat manusia. Dan bumi akan menguburmu. Lalu engkau
mengumpulkan [kekayaan] dan engkau sangat kikir. Sehingga apabila nafas sudah mendesak sampai
kerongkongan, engkau baru mengatakan: Aku akan bersedekah dan kapan waktunya bersedekah?’”
demikian hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

َ َ َّ َ َ ٓ َ َّ َ ُ ّ َ ٓ
Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. [ B>™‫ء ر‬-š - ٖ ›‫'ر‬œ ‫ي‬ ِ ‫ أ‬/ِ (

Allah menyusun rupa kita sesuai kehendak Allah dan bukan kehendak kita. Kita tidak bisa mengatur
punya anak yang memiliki rupa tertentu. Apabila bapaknya berkulit hitam sedangkan ibunya berkulit
putih, maka anaknya bisa saja berkulit hitam walaupun menginginkannya berkulit putih, pun
sebaliknya. Demikian juga tidak ada dua manusia yang sama persis di alam semesta ini, sekalipun
orang yang kembar. Maha berkuasa Allah subhanallahu wata’ala yang bisa menciptakan manusia
dalam bentuknya yang sempurna dan masing-masing mempunyai sifat dan ciri-ciri yang berbeda
antara satu dengan lainnya. Sesungguhnya ini semua tergantung kehendak Allah.
Mujahid mengatakan: “Menyerupai siapa: bapak, ibu, paman dari ibu atau paman dari bapak?” Di
dalam kitab ash-shahihain disebutkan dari Abu Hurairah, bahwasannya ada seseorang yang berkata:
“Wahai Rasulallah, sesungguhnya istriku telah melahirkan seorang anak berkulit hitam.” Beliau
bertanya: “Apakah engkau memiliki seekor unta?” “Ya.” Jawabnya. Beliau bertanya: “Apa
warnanya?” “Merah.” Jawabnya. Beliaupun bertanya lagi: “Adakah di antaranya yang berwarna
keabu-abuan?” Dia menjawab: “Ya, ada.” Beliau bersabda: “Lalu darimana warna itu dimilikinya?”
Orang itu menjawab: “Mungkin karena adanya kecenderungan susunanmu.” Beliau pun bersabda:
“Dan bayi inipun barangkali karena kecenderungan susunanmu.”

َ ّ َ ُ ۡ َّ َ
Sekali-kali tidak, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan. ] ِ 2ِbّ Žِc ‫ُ'ن‬cِ3ap $َc - :

Maksudnya, sebenarnya yang membuat kalian menentang Allah Yang Maha pemurah dan melawan-
Nya dengan berbuat maksiat itu adalah kedustaan yang ada di dalam hati dan jiwa kalian terhadap
hari kiamat, pembalasan dan perhitungan.

ُ ۡ َ َ َّ
َٰ َ ۡa
Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat) sungguh ada penjaga. &` َ ِGِ • ‫;ن‬

Allah menegaskan bahwa malaikat-malaikat pencatat amalan itu benar-benar ada. Diatara para
malaikat ada yang diberi tugas untuk mengawasi, mencatatat amal manusia. Allah SWT juga
memberitahukan tentang akhir bagi orang-orang yang berbuat baik berupa kenikmatan. Begitu juga
sebaliknya.
َ
“yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu)” && َ ِ žِ)ٰŸ - ٗ ‫ِ َ ا‬:

Maksudnya, seluruh yang kita lakukan akan dicatat oleh malaikat tersebut, tanpa terkecuali. Allah

َ ٌ َ ْ َ َ َّ ْ َ ْ ِ ُ ْ َ َ
berfirman :
bٌ ِ) V ¤ِ ‫ ِ ر‬2b - ِ ‫ \' ٍل إ‬¥ِ 2 -
“Tiada satu ucapan pun yang di katakan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu
hadir.” (QS Qaf : 18).

Seluruh apa yang kita lakukan baik itu perkataan, penglihatan bahkan niat dalam hati semuanya akan
dicatat oleh malaikat. Allah mensifati malaikat tersebut dengan malaikat yang mulia agar kita
mempunyai rasa malu terhadap malaikat apabila kita hendak bermaksiat. Sesungguhnya malaikat-
malaikat itu benar-benar hadir menyertai kita, meskipun mereka adalah makhluk-makhluk yang
ghaib. Dan keghaiban malaikat itu melebihi keghaiban para jin. Jin adalah makhluk ghaib tetapi
kehadiran jin kadang masih bisa kita rasakan, kita menyaksikan ada yang kesurupan jin, atau ada yang
merinding karena merasakan adanya jin. Adapun malaikat maka benar-benar tidak kita rasakan.
Padahal malaikat benar-benar melihat dan mencatat semua apa yang kita lakukan.

َ ُ َۡ َ َ
“mereka mengetahui apa yang kalian lakukan” &4 ‫ َ 'ن‬- َ ‫ ۡ ُ 'ن‬Hَ

Oleh karena itu, jika hati kita tergerak untuk berbuat maksiat ditambah kita sedang berada di tempat
yang tersembunyi dan tidak ada satu pun yang melihat kita, maka ingatlah bahwasanya malaikat
bersama kita, malaikat yang mulia yang akan mencatat seluruh perbuatan kita. Ingatlah bahwa
malaikat mengetahui dan mencatat amal manusia dan tidak sekalipun lalai dari pencatatannya.
Seluruh catatan tersebut akan dihadirkan di hadapan kita pada hari kiamat kelak. Sesungguhnya
malaikat tugasnya hanya pencatat. Adapun isi catatan amal tersebut pada hakikatnya kitalah yang
mengisi.

Ayat 13-19: Keadaan orang-orang yang baik dan keadaan orang-orang yang buruk pada hari

َ َ َ ۡ َ ۡ َّ
Kiamat.
َ
Sesungguhnya orang-orang yang baik benar2 berada dalam kenikmatan. &< Kٖ ِ 7 /ِ ‫ ار‬cs ‫إِن ٱ‬
Al Abrar artinya lapang dan tambah dalam berbuat kebaikan, yaitu orang yang berbuat kebaikan yang
sangat banyak, menjalankan semua kewajiban dan menyempurnakan dengan banyak kesunahan dan
kebaikan lainnya.
َ َ َ َّ ُ ۡ َّ
Dan sesungguhnya orang2 yang durhaka benar2 berada dalam neraka. &I Kٖ n
ِ y /ِ ‫ر‬- S ‫;ن ٱ‬
Sebaliknya orang al fujjar adalah orang yang durhaka kepada Allah baik karena perbuatan syirik
maupun dosa-dosa lainnya.
َ َ
Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan &N ِ 2ِbّ ‫َ ۡ' َم ٱ‬2 -?َ @'ۡ oۡ َ2
. &R
َ >vٓ-‰َ c -?َ .ۡ ˆَ ۡ 6ُ - َ ‫َو‬
Dan tidak/sama sekali mereka dari neraka ghaib/tidak ada ِِ ِ
Tidak akan ghaib artinya adalah mereka pasti ada atau hadir di dalam neraka, kekal di dalamnya dan
tidak pernah sedetik pun berhenti dari siksaan. Apabila orang-orang kafir sudah memasuki neraka,
maka mereka akan meminta agar siksaannya diringankan, namun Allah tidak akan memberi

ً َ َ َّ ْ ُ َ َ ْ َ َ ُ ُ َ
keringanan. Allah berfirman:
-c‫ا‬3 - ِ ‫إ‬ b%†ِ 7 ( ‫و\'ا‬3(
“Rasakanlah adzab Allah Subhanallahu wata’ala maka kami tidak akan menambah pada kalian

َ َۡٓ
kecuali adzab.” (QS An-Naba’ : 30).
dan tahukah kalian apa itu hari pembalasan? &X ِ 2ِbّ ‫َ ۡ' ُم ٱ‬2 - َ BٰY‫ أد َر‬- َ ‫َو‬

َ ٰ َ ۡ َ ٓ َ َّ ُ
ّ ‫َ ۡ' ُم ٱ‬2 - َ B
kemudian tahukah kalian apa itu hari pembalasan?&[ ِ 2ِ
b Y‫ أدر‬- d
Allah mengulang-ulang pertanyaan ini untuk menunjukkan dahsyatnya hari kiamat. Sebagaimana
dalam surat Al-Qari’ah, Allah juga mengulang-ulang pertanyaan dengan model yang serupa.
Pertanyaan diulang-ulang untuk menunjukkan dahsyatnya hari tersebut.

َ
َّ ّ
&] ِ ِ 3ٖ ِ C َ 'ۡ َ2 ُ ‚ۡ iۡ ‫¡ٔ¡ٗ ۖ َوٱ‬/ۡ šَ }ٖ ۡ .َِ ّ }ٞ ۡ @َ Bُِ ۡ َ -َ ‫َ ۡ' َم‬2

(yaitu) pada hari (ketika) seseorang sama sekali tidak berdaya (menolong) orang lain. Dan segala
urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.

Pada hari tersebut tidak ada seorang pun yang bisa menolong orang lain, semua akan sibuk dengan
dirinya masing-masing. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada kerabat-
kerabatnya:
ْ ُ َ َّ ُ ْ ْ َ َc -َ2 -§ً ْ¨šَ ِ ‫ ْ ِ َ ا‬a ُ ْ َ ْ ُ َ ُ َ َُْ َُ ْ ْ ُ َ ْ
/ِ.“‫ أ‬- Vِ ِ ! ‫ا‬ b
ِ >ˆ /ِ . . ˆ /ِ . “ ‫أ‬ - ِ ‫ا‬ َ ِ ْa * @A ‫) وا‬š‫ ٍ© ا‬+ َ \ َ u َ -َ2
ُ َ َ َ ّ َ ُ َّ َ َ ً ْ َ َ َ َْ ْ ُ َ َّ ُ ْ ْ َ َ ْ َ َّ َ َ ً ْ َ ُ َْ
ِ ‫'ل ا‬ِ T‫ ر‬ª ˆ ª ِ œ -2 -§¨š ِ ‫ ِ ا‬B.ˆ /ِ.“‫ أ‬- Vِ ِ ! ‫ ا‬bِ >ˆ ^ ‫س‬->ˆ -2 -§¨š ِ ‫ ْ ِ َ ا‬a.ˆ
ً-§ْ¨šَ ِ ‫ ِ َ ا‬B َْ ْ ُ َ ْ َ َ ُ َ َ ْ َُ َ َ ًْ َ َ َْ ْ ُ َ
ِ .ˆ /ِ .“‫ أ‬- ‘ ِ §ِš - ِ c /ِ . ِ T ِ ‫'ل ا‬ ِ T‫‘ ر‬.ِc ª «ِ -( -2 -§¨š ِ ‫ ِ ا‬B ِ .ˆ /ِ.“‫ أ‬-
“Wahai orang-orang Quraisy, tebuslah diri-diri kalian dari adzab Allah! Aku tidak bisa membantu
kalian sama sekali dari keputusan Allah! Wahai Bani Abdul Muththolib Aku tidak bisa membantu
kalian sama sekali dari keputusan Allah! Wahai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib, aku tidak bisa
menolongmu sedikitpun dari (keputusan) Allah! Wahai Shafiyyah (binti Abdul Muththolib) bibi
Rasulullah, aku tidak bisa menolongmu sedikitpun dari (keputusan) Allah! Wahai Fatimah putri
Rasulullah mintalah kepadaku dari hartaku sebanyak apa yang engkau mau, aku tidak bisa
menolongmu sedikitpun dari (keputusan) Allah!” (HR Muslim no 204).

Jika orang-orang terdekat Nabi saja tidak bisa di selamatkan oleh Beliau, bagaimana dengan yang
selainnya?. Oleh karena itu, setiap manusia tidak bisa mengharapkan pertolongan orang lain kecuali
jika dia bertakwa dan beriman kepada Allah ta’ala. Adapun jika dia suka bermaksiat dan melakukan
kesyirikan kemudian berharap akan ditolong oleh orang lain maka mustahil Allah akan
mengizinkannya pada hari tersebut. Maka seluruh perkara akan kembali kepada Allah Tidak ada
perkaara satupun kecuali dalam kuasa dan izin Allah.
Wallahu a’lam bish showab

Pertemuan : 4-6
Mata pelajaran : Dirosah Qur’an
Surat : At Takwir
Kelas :9
Waktu : 2 x 60 menit

َ َّ َّ
ِ ِ ّ ‫ٱ‬ ‫ٱ ِٱ‬
ۡ َ !ّ ˆُ ‫ر‬- َ ۡ َ ۡ ُ ۡ َ ۡ َ َ َ ُ ُ ُّ َ ۡ َ ّ ُ ُ ۡ َّ َ
I ‘ ِ ُ uِ ‫ ّ ِ َ ت < ;ذا ٱ‬Tُ ‫ل‬->َ S
ِ ‫ ;ذا ٱ‬4 ‫رت‬ba7‫'م ٱ‬S. ‫'ِرت & ;ذا ٱ‬: } u ‫إِذا ٱ‬

َ ُۡ َۡ َ
ۡ َ CTُ ُ‫ۥدة‬ ُ ُ .ُّ ‫;ذا ٱ‬
ۡ yَ ‫'س ُز ّو‬ َ ۡ َ ّ ُ ُ َ ۡ َ ۡ َ ُ ُ ُ ُۡ َ
[ ‘ ِ ‫ ;ذا ٱ 'ء‬X ‘ ِ R ‫ت‬ S
ِ T ‫ر‬-n ِ > ‫ٱ‬ ‫ا‬ ‫;ذ‬ N ‫ت‬ ِu ‫;ذا ٱ ' 'ش‬

َ ۡ َّ ُ ُ َ ۡ َ ۡ َ ُ ُ ٓ َ َّ َ ۡ َ ُ ُ ُ ُّ َ ۡ َ ُ َ ّ َ
‫& ;ذا‬4 ‫ ِ ت‬T n ِ S ‫ِ !‘ && ;ذا ٱ‬u: ‫ء‬- * ‫ِ ت `& ;ذا ٱ‬u• ®no ‫ \) ِ ‘ ] ;ذا ٱ‬V-
ٖ ‫ ِي ذ‬iِc

ۡ َّ َ َّ ُ ۡ َ َ ۡ َّ ُ ۡ ُ ۡ ُ ٓ َ َ ۡ َ َ ۡ َ ٓ َّ ٞ ۡ َ ۡ َ َ ۡ َ ۡ ُ ُ َّ َ ۡ
$ِ ‫& وٱ‬R }ِ „_ ‫'ارِ ٱ‬S ‫& ٱ‬N }ِ „5 Žِc *ِ \‫ أ‬- ( &I ‫ ت‬x ‫ أ‬- } @ ‘ ِ &< ‘ ِ ‫ أز‬ª.S ‫ٱ‬

ۡ َ ›'َّ \ُ ‫ ]& ذِي‬K% :َ ‫'ل‬Tُ ‫َّ ُ ۥ َ َ ۡ' ُل َر‬7‫ َّ َ} [& إ‬.َ َ ‫ ۡ>¯ِ إ َذا‬oُّ ‫& َوٱ‬X }َ َ *ۡ َ ‫إ َذا‬
ِ َ ‫ ذِي ٱ َ ۡ ِش‬b.ِ
4` ٖ _ ٍ ٖ ِ ٖ ِ ِ ِ

ۡ َۡ ََ َُ ََ ۡ ُُۡ ُ ََ ۡ َََ ُ ۡ َ ُ ُ َ ََ َ َّ َ َ ُّ
V ‰ ‫ٱ‬ / ' 6 - ‫و‬ 4< > ُ ‫ٱ‬ {( i Ž c ‫اه‬‫ء‬‫ر‬ b ‫و‬ 44 ‫'ن‬ . S c a >ِ -œ - ‫و‬ 4& ِ ‫أ‬ d ٖ‫ع‬-!
ِ ِ ِ ِ ِ ٖ ِ ٖ

َ ِ 4X َ ِ َ ٰ َ ۡ ّ ٞ ۡ َّ َ ُ ۡ َ ُ َ ۡ َ َ ََۡ َّ ٰ َ ۡ َ ۡ َ َ ُ َ َ َ
O ِ :ِ‫ ذ‬- ِ ‫' إ‬6 ‫ إِن‬4R ‫>'ن‬63p Hs( 4N Kٖ y
ِ ‫ ٖر‬± š ‫ ِ ' ِل‬c '6 - ‫ و‬4I ٖ ِ .xِc

َ ٰ َ ۡ ُّ َ ُ َّ َ ٓ َ َ َ ٓ َّ َ ُ ٓ َ َ َ َ َ َ ۡ َ َ ۡ ُ ٓ َ
4] َ ِ O ‫ء ٱ رب ٱ‬-u+ ‫ أن‬- ِ‫ءون إ‬-u… - ‫ و‬4[ ِ )*+ ‫ أن‬a.ِ ‫ َء‬-š
ara ulama sepakat bahwa surah at-Takwir adalah surah Makkiyah. Ia berjumlah 29 (dua
puluh sembilan) ayat. Diriwayatkan dari Ibn Umar (radiallu anhuma), bahwasanya
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang ingin merasakan hari kiamat seperti
menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, hendaklah ia membaca “idza syamsu
kuwirat, idza syamaaunfatarat, dan idza syamaaunsyaqat”. (HR Tirmidzi). Dengan tiga
surah tersebut (at-Takwir, al-Infitar dan al-Insyiqaq), seseorang memang dapat
membayangkan betapa dahsyatnya peristiwa kiamat nanti. Jika kita menyaksikan
fim Doomsday 2012 (Kiamat 2012), sungguh film itu tak sebanding dengan hakikat kiamat,
sebab pada film itu masih ada sekelompok orang yang selamat dan tak semua kehidupan
lenyap.

Surah at-Takwir ini, menurut Sayyid Qutb, setidaknya memiliki dua kandungan
utama: Pertama: At-Takwir bercerita tentang hakikat kiamat. Hal itu tertuang dari ayat 1
sampai dengan 14. Kiamat adalah sesuatu yang wajib diimani oleh setiap muslim. Ia
adalah peristiwa di mana seluruh alam semesta akan berakhir menunaikan tugas dan
fungsinya. Matahari, bintang-gemintang dan seluruh planet akan mengakhiri rotasi edarnya.
Mereka “digulung” bak layar kapal yang tak lagi dibutuhkan. Demikian halnya dengan
gunung yang selama ini setia menjadi paku perekat bumi. Air laut pun ditumpahkan untuk
menyapu seluruh makhluk yang hidup di atas bumi. Tak ada makhluk bernyawa yang
tersisa. Dan tak ada lagi kehidupan yang bermakna.

Kedua: Hakikat wahyu, kekuasaan Allah yang menurunkan wahyu, perantaranya (Jibril)
dan sifat-sifat Nabi yang menjadi penyebar wahyu tersebut. Hal ini tercermin mulai dari ayat
15 sampai dengan 29. Seperti kita ketahui,

Penjelasan Singkat :

Surat At-Takwir adalah surat ke 81 yang terdiri dari 29 ayat dan termasuk surat makiyyah. Surat at
takwir adalah salah satu surat yang menggambarkan tentang dahsyatnya hari kiamat. Dalam suatu
hadist yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi Nabi bersabda :

“Barangsiapa yang ingin merasakan hari kiamat seperti menyaksikannya dengan mata kepala
sendiri, hendaklah ia membaca “idza syamsu kuwirat, idza syamaaunfatarat, dan idza
syamaaunsyaqat”. (HR At-Tirmidzi)

Surah at-Takwir ini, menurut Sayyid Qutb, setidaknya memiliki dua kandungan utama: Pertama: At-
Takwir bercerita tentang hakikat kiamat, tertuang dari ayat 1 – 14. Kiamat adalah sesuatu yang wajib
diimani oleh setiap muslim. Kedua: Hakikat wahyu, kekuasaan Allah yang menurunkan wahyu,
perantaranya (Jibril) dan sifat-sifat Nabi yang menjadi penyebar wahyu tersebut. Hal ini digambarkan
Allah mulai dari ayat 15 – 29.

Ayat 1 – 14 : gambaran hakkat hari Qiyamat.


ۡ ُ َّ َ
“tatkala matahari digulung” & ‫ ّ'ِ َرت‬: }ُ ۡ u ‫إِذا ٱ‬
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-
Nya: Apabila matahari digulung. (At-Takwir: 1) Maksudnya, menjadi gelap tidak bercahaya lagi. Al-
Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa apabila matahari telah lenyap. Mujahid mengatakan
surut dan lenyap. Hal yang sama dikatakan oleh Ad-Dahhak. Qatadah mengatakan bahwa cahayanya
lenyap. Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa makna takwir ialah digulung. Ar-Rabi' ibnu Khaisam
mengatakan, kuwwirat artinya dilemparkan. Abu Saleh mengatakan bahwa kuwwirat artinya
dilemparkan atau dijatuhkan, dan menurut riwayat lain darinya disebutkan dijungkirkan. Zaid ibnu
Aslam mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah dijatuhkan ke bumi. Ibnu Jarir mengatakan
bahwa pendapat yang benar menurut pandangan kami mengenai makna takwir ialah menghimpun
sebagian darinya dengan sebagian yang lain alias menggulungnya.

“dan tatkala bintang-bintang berjatuhan”


ۡ َ ُ Sُ .ُّ ‫;ذا ٱ‬
4 ‫ َرت‬bَ a7‫'م ٱ‬
َ
Yakni jatuh berserakan, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman Allah Swt:

ْ ََْ ُ َ ْ َ
dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan. (Al-Infithar: 2) ‫~• َت‬7‫ ا‬Vِ :‫;ذا ا _'ا‬
Asal kata inkadarat adalah inkidar yang artinya berjatuhan. Ar-Rabi' ibnu Anas telah meriwayatkan
dari Abul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka'b yang mengatakan bahwa ada enam pertanda sebelum hari
kiamat, yaitu ketika manusia sedang berada di pasar-pasar mereka, tiba-tiba cahaya matahari
lenyap, dan tiba-tiba bintang-bintang jatuh berserakan. Dan seketika itu gunung-gunung jatuh ke
permukaan bumi dan sehingga menimbulkan gempa dahsyat. Saat itu, terjadilah huru-hara, para jin
merasa kaget dan berdatangan kepada manusia, begitu pula sebaliknya manusia berdatangan
kepada jin karena kekagetan huru hara ini. Hewan-hewan ternak, burung-burung, dan hewan-hewan
liar bercampur baur menjadi satu karena terkejut dengan peristiwa itu. Al-Kalbi bn ‘Athoo’ berkata :

َ َّ ْ َ َ َ َ ُ ُ َ *َّ ‫ُ ْ ِ! ُ ا‬
²َ ¤‫ َو‬- ِ ‫ ٌ إ‬S7 / ْ>Hَ - ( - ً 'Sُ 7 3ٍ ِ C َ 'ْ َ2 ‫ء‬-

“Pada hari itu langit menurunkan hujan bintang, maka tidak tersisa satu bintangpun kecuali jatuh
(ke permukaan bumi)” (Tafsir Al-Baghowi 8/346)
ۡ َّ ُ ُ َ ۡ َ
“dan tatkala gunung-gunung dijalankan” < ‫ ِ ت‬T ‫ل‬->Sِ ‫;ذا ٱ‬
Ada dua pendapat dalam ayat ini, pertama
ً َ ً َ ُ ُ َ َ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ َ ُ ُّ َ َ َ َ ْ ْ َّ ُ َ َْْ َ ْ َ ُ
- ?ِ ‚ ->¨ِ •: ‫رة ِ ˜)_'ن‬-Sn
ِ ‫ ا‬ªِ †ِ . ˆ -? 'np ,ِ‫ ا ?'اء‬/ِ ( ‫ ِ ت‬T‫ر ِض و‬i ‫\ ِ ‘ ِ ا‬
Yaitu dicabut dari pasaknya lalu dijadikan berjalan terbang di udara, di ubah dari batu yang kokoh
menjadi debu yang berhamburan (lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/228).
ۡ َ !ّ ˆُ ‫ر‬- َ ۡ َ
“dan tatkala unta-unta yang bunting ditinggalkan” I ‘ ِ ُ uِ ‫;ذا ٱ‬
Al’isyaaru adalah sebutana unta betina yang hamil besar dimana usia kehamilannya sudah 10 bulan
ke atas dan sebentar lagi akan melahirkan. ‘Isyar adalah adalah harta yang berharga bagi orang-orang
arab di zaman dahulu, karenanya Allah menggunakannya sebagai permisalan. Adapun pada hari
kiamat kelak, jika ada orang yang mengurus unta maka dia akan meningalkan untanya (Tafsri Al-
Qurthubi 19/229).
ۡ ُ ۡ َ
“dan tatkala binatang-binatang liar dikumpulkan” N ‫ِ َت‬u ُ ‫;ذا ٱ ُ' ُ 'ش‬
ۡ ُ
Ada dua pendapat tentang makna ‫ِ َ ت‬u di kalangan ulama ahli tafsir.Pertama artinya umitat yaitu
dimatikan oleh Allah, dan kedua yaitu akan dikumpulkan. Namun, pada hakikatnya kedua pendapat
ُ ۡ
ini tidak bertentangan. ‫ٱ ُ' ُ 'ش‬adalah hewan-hewan yang liar. Namun maksud ayat ini adalah
seluruh hewan akan dikumpulkan, baik jinak maupun liar. Menyebutkan termasuk hewan yang sudah
punah.
ۡ َ
“dan tatkala lautan dibakar” R ‫ َ ۡت‬Sِّ Tُ ‫ر‬-ُ nَ ِ> ‫;ذا ٱ‬
ُ nَ >ۡ ‫ ٱ‬mencakup
Ini juga merupakan perkara yang sangat mengerikan. Makna dari sisi bahasa ‫ر‬- ِ
seluruh kumpulan air mencakup seperti lautan, selat, sungai, danau dan lain sebagainya.

Kita tahu bahwa air laut di dunia ini menutupi lebih dari 2/3 permukaan bumi ini, lebih dari 70% isinya
adalah air laut. Tanah yang kita pijak ini bagiannya kurang dari 30%. Kebanyakannya diisi oleh air
dengan berbagai macam jenisnya, ada lautan, ada sungai, ada danau, ada selat, dan lainnya. Pada
hari kiamat kelak Allah akan menjadikan air laut tersebut penuh lalu meluap dan kemudian terjadi
banjir hebat sehingga para ulama mengatakan bahwa seluruh air akan bersatu. Allah menjadikan
barzakh yaitu adanya pemisah/pembeda antara air laut dan air sungai, maka kelak Allah akan angkat
barzakh tersebut sehingga bercampurlah dan bersatu padu antara air asin dan air tawar.

Mujahid berkata: “Meluap sehingga bercampur satu dengan yang lainnya, yang tawar dengan yang
asin, maka jadilah seluruh lautan menjadi satu lautan” (Tafsir Al-Qurthubi 8/346-347)

ُ ُ .ُّ ‫;ذا ٱ‬
ۡ yَ ‫'س ُز ّو‬
X ‘
َ
“dan tatkala jiwa-jiwa dipertemukan” ِ
Ada 3 tafisiran dikalangan salaf tentang makna ayat ini. Pertama adalah dipertemukan ruh dan dan
jasad, ruh dimasukkan ke dalam badannya kembali (Tafsir At-Thobari 24/144). Kedua adalah masing-
masing orang dikumpulkan dengan yang sejalan dengannya. Orang kafir akan dikumpulkan dengan
sesama orang kafir, orang munafik akan dikumpulkan dengan sesama orang munafik, orang yahudi
akan dikumpulkan dengan sesama orang yahudi, orang nasrani akan dikumpulkan dengan orang
nasrani, orang yang menyembah matahari akan dikumpulkan dengan sesama penyembah matahari,
pezina dikumpulkan dengan sesama pezina, begitupun dengan orang beriman akan dikumpulkan
dengan sesama orang beriman, orang bertakwa akan dikumpulkan dengan sesama orang bertakwa.
Sebagaimana Firman Allah SWT:
َ َ َ ‫ َ َ´ َ ُ 'ا َوأَ ْز َو‬2ِ3َّ ‫ ُ وا ا‬uُ ْ ‫ا‬
‫ون‬bُ ُc²ْ Hَ ‫ُ'ا‬7-: - َ ‫ ُ? ْ َو‬y‫ا‬

(Diperintahkan kepada malaikat), “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat
mereka dan apa yang dahulu mereka sembah.” (QS Ash-Shaffat : 22)
Allah juga berfirman dalam ayat yang lain :
َ ۡ ُ َ ۡ ََ ۡ ُ َ ۡ َ ٓ َ َ َ ۡ َ ۡ ُ َ ۡ َ َ ٗ َ َٰ َ ٗ َ ۡ َ ۡ ُ ُ َ
ٰ َ œۡ ‫ ٓ أ‬- َ ªِ َ ¡َ ٔ¡©ۡ َ ‫ ٱ‬V
ُV• ٰ•œ‫ [ وأ‬ªِ .َ َ ۡ َ ‫ ٱ‬V •ٰ œ‫ أ‬- ªِ . ‫ ٱ‬Vٰ•œi( X ª•µ= -yٰ¶‫) أز‬.™‫و‬
َ ُ ٰ َّ َ َ ۡ ۡ َ ۡ
&& ‫”> ِ 'ن‬ ‫ وٱ‬ªِ َ¡ٔ¡© َ ‫ `& ٱ‬V ٰ َ œۡ ‫ ٓ أ‬- َ ] ªِ َ َ¡ٔ¡©ۡ َ ‫ٱ‬
ُ •

“Dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu.
Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu
(beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang dekat (kepada
Allah).” (QS Al-Waqi’ah : 7-11)
Tafsiran ketiga yaitu jiwa mukmin di kumpulkan dengan para bidadari

ِ
ْ
‫ا‬ ‫'ر‬nُ ْ -c َ ِ.ِ ‹ْ ُ ْ ‫'س ا‬
ُ ُ @ُ ‘
ْ yَ ‫ُز ّو‬
ِ ِ ِ ِ
dipertemukan (yaitu dinikahkan) jiwa jiwa orang beriman dengan bidadari’’ (Tafsir Al-Baghowi
8/347)
َ َ َُۡۡ َ
“dan tatkala bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya” [ ‘ۡ ِ CTُ ‫ۥد ُة‬ ‫;ذا ٱ 'ء‬
َ ۡ
‫ ٱ َ ۡ' ُءۥد ُة‬maknanya diberi beban berat, yaitu karena anak wanita itu dikubur hidup-hidup, maka anak
wanita itu diberi beban berat yaitu tanah yang menutupinya’’ (Mu’jam Maqoosyiis al-Lughoh 6/78,
lihat juga Tafsir al-Qurthubi 19/232)
ۡ َ ُ َ ّ َ
“atas dosa apa dia dibunuh?” ] ‘ ِ )\ V-
ٖ ‫ ِي ذ‬iِc
Para ulama mengatakan bahwa ada dua sebab mengapa orang-orang arab jahiliyah dulu membunuh
putri-putri mereka. Pertama, adalah karena mereka malu dengan kehinaan. Dikisahkan di masa
jahiliyyah telah terjadi peperangan antara dua kabilah. Kemudian, ada putri ssang pemimpin di salah
satu kabilah ditawan oleh kabilah yang lain. Akhirnya kabilah tersebut ingin menebus putrinya yang
ditawan, namun ternyata putrinya yang ditawan itu lebih memilih tinggal dengan kabilah yang
menawannya karena dia jatuh cinta dengan lelaki dari kabilah tersebut. Hal ini menjadikan orang
tuanya malu dan marah karena merasa terhina. Dari peristiwa tersebut ayah putri tersebut
bersumpah apabila dia mempunyai anak perempuan lagi akan dia bunuh. Perbuatan tersebut
kemudian menjadi urf, yaitu setiap ada anak perempuan yang dilahirkan akan dibunuh.
Kedua, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Qur’an. Allah berfirman :
ُ َ ُ َ ْ َّ َ ْ َ َ ْ َ ْ ُ َ َ ْ َ ُ ُ ْ َ َ َ
ْۚ -ّ2; ْ ?ُ ¤‫ ْ ُز‬7 ُ n7 ۖ ‫ق‬-
ٍ ‚ِ‫ إ‬ª u ‫د‬- ‫ ) 'ا أو‬- ‫و‬
“Dan jangan kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin, Kamilah yang memberi rizki
kepada dan kepada kalian.” (QS Al-Isra’ : 31)
ۡ ُ ُ ُ ُّ َ
“dan tatkala catatan-catatan amal dibuka lebar” &` ‫ِ َت‬u• ®no ‫;ذا ٱ‬
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa lembaran-lembaran catatan amal yang berada di tangan para
malaikat ditutup tatkala seseorang meninggal dunia, dan tatkala hari kiamat dibuka kembali untuk
dilihat olehnya hasil catatan amalnya selama hidupnya (lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/234). Hal ini
sebagaimana firman Allah SWT :
ً َ َّ َ ُ ً ُ ُ َ ْ ُ ْ َ ْ ُ ْ ْ ُّ ُ ُ ُ ْ َ
‫ ة‬u„ - nœ ¹‹2 ‫? أن‬.ِ ‫ئ‬ ٍ ِ ‚‫ ا‬$: b% ِ 2 $c
Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran
yang terbuka (QS Al-Muddatstsir : 52).
Pada hari kiamat kelak seluruh catatan amal yang pernah kita lakukan selama di dunia semua akan
terbuka. Seluruh isi catatan amal tersebut berdasarkan amalan kita selama di dunia, kemudian
dituliskan oleh malaikat. Sehingga hakekatnya yang mencatat catatan amal kita adalah kita sendiri.
Allah berfirman:
ً uُ ْ„ َ ُ‫ه‬- َ ْ َ2 -ًc-)َِ : ªِ َ -َ ِ ْ ‫َ ْ' َم ا‬2 ُ َ ‫ ُج‬5
‫'را‬
ْ َُ ُُ
7 ‫و‬ ِ . ˆ /ِ ( ُ َ v-«َ ‫ه‬-ُ .َ ْ †َ ْ Aَ ‫ن‬-*َ ْ •‫ إ‬º
‫ه‬
َّ ُ َ
ِ ِ ِ ٍ ِ ‫و‬
“Dan tiap–tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung)
pada lehernya. Dan kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah Kitab yang dijumpainya
terbuka.” (QS Al-Isra’: 13)
Diterangkah bahwan orang yang tidak bisa membaca akan bisa membaca dengan sendirinya pada
hari tersebut. Catatan amal tersebut akan terbuka dengan sendirinya. Oleh karena itu, orang-orang
kafir dan orang-orang yang melakukan kemaksiatan akan ketakutan ketika mereka melihat catatan
amal mereka.
ُ َ ُّ ُ ُ ُّ ُ َ
ُ ُ َ ˜َ ‫ ٖء‬/ۡ šَ º
N< ٌ !َ )َ *ۡ ّ ٖ ِ >™‫ ٖ َو‬‰ِ œَ º‫ َو‬N4 ِ kُ †ّ ‫ ٱ‬/ِ ( ‫'ه‬ ‫و‬
“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (yang ada di
tangan Malaikat). Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (QS. Al-Qamar:
52-53).

“dan tatkala langit dilenyapkan”


ۡ !َ ِu:ُ ‫ ٓ ُء‬- َ *َّ ‫;ذا ٱ‬
&& ‘
َ

Imam At-Thobari berkata bahwa makna di lenyapkan juga bermakna dicabut dan ditarik dari atas
angkasa.
ۡ
&4 ‫ ّ ِ َت‬Tُ ُ n َ ۡ َ
“dan tatkala neraka jahannam dinyalakan”. ِ S ‫;ذا ٱ‬
Allah berfirman tentang api neraka :
َ ْ ْ َ ّ ُ ُ َ َ ْ َ ُ َ ّ َ ُ ُ َ َ ّ َ َّ
َ % ِ (-_ ُ َّ َ
ِ ِ ‫ت‬ bِ ‫أ‬ ۖ ‫ة‬‫ر‬-S n
ِ ‫ا‬‫و‬ ‫س‬- . ‫ا‬ -6 ‫'د‬\‫و‬ /ِ ) ‫ا‬ ‫ر‬-. ‫ا‬ ‫'ا‬ -(
“Maka takutlah kalian kepada api neraka yang bahan bakarnya batu dan manusia, yang disediakan
bagi orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah : 24)
Bahan bakar api neraka adalah manusia dan batu.Bahan bakar yang berasal dari batu memiliki panas
yang lebih pedih. Oleh karena itu, bahan bakar neraka jahannam adalah batu. Kemudian manusia
disiksa didalamnya sehingga dia terbakar dan akhirnya menjadi bahan bakar itu sendiri. Allah
menyatakan dalam ayat ini bahwa neraka Jahannam yang sudah sangat panas tersebut ternyata
dipanaskan lagi sehingga menjadi lebih panas. Ada yang menyatakan bahwa dipanaskan lagi karena
kemurkaan Allah dan juga karena dosa-dosa bani Adam (lihat Tafsiir At-Thobari 24/150)

“dan tatkala surga didekatkan”


ۡ َ ِ ‫ أُ ۡز‬ªُ .َّ S
&< ‘ َ ۡ ‫;ذا ٱ‬
َ

Ini adalah kemulian yang Allah berikan kepada orang-orang yang beriman sebagai bentuk
penghormatan kepada mereka. Seandainya jarak surga dengan kita adalah sejuta km atau lebih dari
itu, niscaya seseorang akan sabar menempuh jarak sejauh itu jika diperlihatkan kepadanya
kenikmatan-kenikmatan yang luar biasa yang ada di di surga, kenikmatan-kenikmatan yang tidak
pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, bahkan tidak pernah terbetik di hati. Apapun
kenikmatan yang dihasratkan dan dipinta maka Allah langsung menyediakannya di surga, niscaya
sejauh apapun surga itu pasti seseorang akan sabar berjalan untuk meraihnya. Tetapi khusus bagi
orang yang beriman maka Allah muliakan mereka dengan mendekatkan surga kepada mereka. Al-
Hasan Al-Bashri berpendapat bukan surga yang didekatkan dari posisinya akan tetapi orang-orang
berimanlah yang didekatkan kepada surga (Lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/235).
ۡ َ َ ۡ َ ٓ َّ ٞ ۡ َ ۡ َ َ
“setiap jiwa mengetahui apa yang telah dia kerjakan” &I ‫ ت‬x ‫ أ‬- } @ ‘ ِ
Setelah Allah menyebutkan sumpah-sumpah hingga 12 sumpah, kemudian Allah menjelaskan bahwa
tujuan dari sumpah-sumpah tersebut adalah untuk menekankan dan memastikan bahwa ‘’setiap jiwa
mengetahui apa yang telah dia kerjakan selama dia di dunia’’ berupa amal baik dan amal keburukan.
Bisa jadi dengan melihat isi catatan amal, atau amal-amalannya datang dalam bentuk tertentu yang
menunjukan akan amalannya (lihat Fathul Qodiir 5/472).
Ayat 15 -29 : Hakikat wahyu, kekuasaan Allah yang menurunkan wahyu, perantaranya (Jibril) dan
sifat-sifat Nabi yang menjadi penyebar wahyu tersebut.
َّ ُ ۡ ُ ۡ ُ ٓ َ َ
“sungguh Aku bersumpah dengan bintang-bintang yang bercahaya. &N }ِ „5 Žِc ِ*\‫ أ‬- (
Pada ayat ke 15, Allah swt bersumpah dengan menyebutkan kata bintang (yang tersembunyi). Kata
yang digunakan untuk merujuk bintang adalah “al-khunas”. ”. Ahli tafsir mengatakan, khunash adalah
bentuk jamal dari khanish artinya sesuatu yang menghilang atau lenyap dari pandangan mata. Dalam
bahasa Arab, bintang biasanya disebut dengan kata najm. Bentuk jamaknya adalah nujum. Karena
itu pula, kita sering mendengar ungkapan, si fulan itu ahli nujum atau ahli meramal seseorang dengan
ramalan bintang untuk mendapatkan peruntungan nasib yang telah dilarang oleh Rasulullah SAW
dengan sabdanya :
“Barangsiapa yang mendatangi tukang rama dan bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak
diterima shalatnya selama 40 hari“ (HR. Muslim)

َّ ُ ۡ َ َ ۡ
Yang beredar (di malam hari) dan terbenam (di siang hari)” &R }ِ „_ ‫ار ٱ‬ِ 'S ‫ٱ‬
Kemudian setelah Allah bersumpah dengan bintang-bintang yang beredar, terbenam beredar pada
garis edarnya.

َ َ َّ
Dan malam apabila telah larut &X }َ َ *ۡ ‫ إِذا‬$ِ ۡ ‫َوٱ‬

Maksudnya hampir berpisah dengan kegelapannya, atau jelang pergi meninggalkan kegelapannya
dan akan menyingsingkan sinar subuhnya.

َّ َ َ ُ
Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing &[ }َ .َ ‫ ۡ>¯ِ إِذا‬oّ ‫َوٱ‬

Yakni mulai menampakkan sinarnya hingga menjadi terang-benderang siang hari.

َ ُ َ ُ ۡ َ َ ُ َّ
&] K%
ٖ ِ : ‫'ل‬
ٖ T‫ ۥ 'ل ر‬7ِ‫إ‬

Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)

Sesungguhnya ia) yakni Alquran itu (benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia)
yakni, dimuliakan oleh Allah, dia adalah malaikat Jibril. Lafal Al-Qaul dimudhafkan kepada lafal
Rasuulin karena Al-Qaul atau firman itu dibawa turun olehnya.

ۡ َ ›'َّ \ُ ‫ذِي‬
ِ َ ‫ ذِي ٱ َ ۡ ِش‬b.ِ
4` ٖ _ ٍ

yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy,

(Yang mempunyai kekuatan) yang sangat kuat (di sisi Yang mempunyai 'Arasy) yakni Allah swt. (dia
mempunyai kedudukan yang tinggi) lafal 'Inda Dzil 'Arsyi berta'alluq kepada lafal ayat ini. Jelasnya,
dia mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah Yang mempunyai Arasy.
َ َّ َ ُ
yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya 4& ٖ ِ ‫ أ‬d ٖ‫ع‬-!َ ّ

(Yang ditaati di sana) yakni dia ditaati oleh semua malaikat yang di langit (lagi dipercaya) untuk
menurunkan wahyu.

44 ‫'ن‬ ُۡ َ ُ ُ َ ََ
Dan bukanlah temanmu (Muhammad) itu dengan keadaan gila. ٖ .S ِ c a>ِ -œ - ‫و‬

Muhammad, yang kalian kenal dan kalian ketahui kecerdasan akalnya, bukanlah orang gila
sebagaimana yang kalian tuduhkan kepadanya.

Dan sungguh benar-benar, Muhammad melihat Jibril di ufuk yang terang.4< > ُ ۡ ‫ُ ُ({ ٱ‬iۡ Žc ‫ َر َء ُاه‬bۡ َ َ ‫َو‬
ِ ِ ِ ِ
Aku (Allah) bersumpah, bahwa Muhammad telah melihat sendiri Jibril di sebuah ufuk dalam bentuk
aslinya (di ufuk yang terang) dengan benar-benar yang jelas yaitu di ketinggian ufuk sebelah timur.

َ
4I ٖ ِ .xِc V َۡۡ ََ َُ ََ
Dan bukanlah dia (Muhammad) atas yang ghaib orang yang bakhil ِ ‰ ‫ ٱ‬/ '6 - ‫و‬

Nabi Muhammad saw. terhadap perkara atau hal-hal yang gaib, yaitu wahyu Allah bukan seorang
yang bakhil untuk menerangkan atau mengajarkannya. Beliau bukanlah orang yang mengurangi,
menambah, ceroboh, kikir dalam menyampaikan dan mengajarkan wahyu Allah ta’ala.

َ َ َ ُ
Dan bukankah ia (Al Quran) perkataan syaitan yang terkutuk 4N Kٖ yِ ‫ٰ ٖ ّر‬±َ ۡ š ‫ ِ ۡ' ِل‬c 'َ 6 - َ ‫َو‬

Alquran itu bukan perkataan setan. Maksudnya bukan hasil curiannya (yang terkutuk) yang dirajam,

َ َُ ۡ َ َ ََۡ
makhluk terkutuk yang dijauhkan dari rahmat Allah Swt.
maka ke manakah kalian akan pergi? 4R ‫>'ن‬63p Hs(

Maksudnya jalan apakah yang kalian tempuh untuk ingkar kepada Alquran dan berpaling
daripadanya?. Adakah jalan lain yang lebih lurus dari jalan yang tengah kalian lalui?
Sungguh ia (Al Quran) itu tiada lain peringatan bagi semesta alam, 4X
َ ِ َ ٰOَ ۡ ِ ّ ٞ :ِۡ ‫ ذ‬-َّ ‫ َ' إ‬6ُ ‫إ ۡن‬
ِ ِ
Kitab suci al-Qur'ân ini tidak lain hanyalah sebuah peringatan dan bahan pelajaran bagi penghuni
alam yakni, manusia dan jin.
َ ُ ٓ َ
bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus. 4[ َ ِ )َ *ۡ َ + ‫ ۡ أن‬a.ِ ‫ َء‬-š َ ِ

Yaitu bagi siapa di antara kalian yang mau mengikuti perkara yang hak dan berkeinginan meniti jalan
lurus untuk mencari dan berada dalam kebenaran (risalah Islam).

َ َ ۡ ُ َّ ٓ َ َ ٓ َ ّ َ ٓ َ َ
4] َ ِ ٰO ‫ َء ٱ ُ َر ّب ٱ‬-uَ+ ‫ أن‬- ِ ‫ ُءون إ‬-u… - َ ‫َو‬
Dan tidaklah kalian dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah,
Tuhan semesta alam.

Dan kalian tidak dapat menghendak menempuh jalan yang hak itu kecuali apabila dikehendaki Allah,
Rabb semesta alam) barulah kalian dapat menempuh jalan itu. Lafal Al-'Aalamiina artinya mencakup
semua makhluk, maksudnya tidak satu pun keinginan makhluk bakal terwujud, kecuali jika Allah telah
menghendakinya.

Wallahu a’lam bishshowab.

Pertemun 7 -10
Mata pelajaran : Dirosah Qur’an
Surat : Abasa
Kelas :9
Waktu :3 x 60 menit

َ َ َّ
ِ ِ ّ ‫ٱ ِٱ ّ ٱ‬
َ ّ َ ٰ ٓ َ ۡ ّ ُ َ َ َ َ ُ َ ّ َ ّ َ ۡ َ ٓ ٰ َّ َ ّ َ ُ َ ّ َ َ َ ۡ ُ َ َ َ ۡ َۡ َُٓ َ َ َ
ٓ¼ٰ ّ 'َ َp‫ َ} َو‬žَ َ
- ‫ أ‬I ‫ ى‬:ِ3 ‫ ٱ‬.)˜ :32 ‫†½ < أو‬2 ‫ۥ‬ ٰ
B%ِ‫ر‬b2 - ‫ و‬4 / ˆi ‫ءه ٱ‬-y ‫& أن‬

َ ۡ ُ ٓ َ َ ٰ َّ َّ َ َّ َ َ ۡ َ َ َ َ ٰ َّ َ َ ُ َ َ َ َ ۡ ۡ َ
] /ٰ u5َ2 'َ 6‫ [ َو‬/ٰ َ *ۡ َ + ‫ َء َك‬-yَ َ - ّ ‫ َوأ‬X ½ †2 - A B - ‫ و‬R ‫ى‬bop ‫‘ ۥ‬7i( N /ٰ .َ ‰)َ T‫ٱ‬ ِ

ۢ َ َ ّ َ ُّ َ ُ ۡ َّ َ َّ َ ُّ ُ ُ ُ َ َ َ َ ٓ َ َ َ ٞ َ ۡ َ َ َّ ٓ َّ َ
ٰ َّ َ َ ُ ۡ َ َ َ َ
&I ِ ‫ !? ة‬ªٖ '( &< ªٖ _ ®ٖ nœ /ِ ( &4 ‫ هۥ‬:‫ء ذ‬-š ˜ && ‫ ة‬: ِ 3p -?@ِ‫ إ‬- : &` /? p .ˆ ‘7i(

َ ُّ ََ َ ۡ َ ّ َ ۡ َ ۡ َ َٓ ُ َٰ ۡ َ ُ َ َ
ªٍ !ۡ @ ِ &[ ‫ُ ۥ‬ ‫ ٍء‬/š ‫& ِ أ ِي‬X ‫َ هُۥ‬ ِ &N ٖ › َ Tَ ‫ِي‬bۡ2sِc
‫ أ‬- ”•ِ – ‫ ٱ‬$ِ)\ &R ٖ ›‫َ َ َر‬c À‫ َ ا‬:
ۡ َ َ َّ َ َ َ ٓ َ َ َُ ََۡ َ َ َ ُ َ َ َ َُ َ ََ ََ َ
Áِ Hَ - ّ - : 44 ‫ َ ُهۥ‬u•‫ َء أ‬-š ‫ ّ إِذا‬d 4& ‫ َ> َ هُۥ‬¤i( ‫ ُ ۥ‬p- َ ‫ ّ أ‬d 4` ‫ َ ّ* َ ُهۥ‬+ $ ِ ž*ّ ‫ ّ ٱ‬d &] ‫ َر ُهۥ‬bّ ˜ ‫ُ ۥ‬

ّٗ َ َ َ ۡ ۡ َ َ َ ُ ٗ ٓ ۡ َّ َ َ َٰ ۡ ُ ََۡ َٓ
4R - š ‫ض‬Âi ‫ ٱ‬-.َ š ّ d 4N ->ّ œَ ‫ َء‬- َ ‫ ٱ‬-.َ žۡ >َ œَ -7A 4I ٓ‫ ِ ِۦ‬- َ «َ /ٰ ِ‫•” ُ إ‬–ِ ‫ ِ ٱ‬G. ( 4< ‫ أ َ‚ َ هُۥ‬- َ

ََ َٗ ٗ َ ُۡ ٓ ٗۡ َ ٗ ۡ َ ٗ َۡ ََ
- ٗ ٰW ّ <& -ّcA‫ َو‬ª?َِ _ٰÃ‫ `< َو‬->ٗ “ {َ ِ v‫ا‬bَ َ ‫ َو‬4] - 57‫ َو‬-7')ُ %ۡ ‫ َو َز‬4[ ->ٗ x\‫ َو‬->ٗ .َِ ‫ َو‬4X ->ّ َ -?َ ِ˜ -.َ ~>-i(

َ ُ َ ۡ ُ ُ َّ ٓ َ
<N ِ ِ ^‫< َوأ ّ ِ ِۦ َوأ‬I ِ ِ ‫َ ِ ّ ٱ َ ۡ ُء ِ ۡ أ‬2 ‫َ ۡ' َم‬2 << ª -oّ ‫ت ٱ‬
ٓ َ َ َ ُ ََۡ ُ َّ
ِ ‫ َء‬-y ‫< (–ِذا‬4 ۡ aِ ٰO7sِ ‫ ۡ َو‬a

ٞ َ َ ٞ ُ ۡ ٞ ۡ َ ۡ $ّ _ُِ <R ِ „kَ ‫ َ>) ِۦ َو‬nٰÄَ ‫َو‬


ª_ِ -Æ <[ ‫ ّ ۡ* ِ َ ة‬3ٖ ِ C َ 'ۡ َ2 ٞ ‫'ه‬yُ ‫< ُو‬X ِ ِ.‰Hُ ‫ن‬iš 3ٖ ِ C َ 'ۡ َ2 ۡ ?ُ .ِۡ ّ ‫ٱ‚ ِ ٕ ٖي‬ ِ ِ ِ ِ

َ ۡ َ َ ۡ ُ َ َٓ ْ ُ ٌ َ َ َ َ ُ َ ۡ َ ٞ َ َ َ َ ۡ َ َ َ ۡ َ ٞ ُ ُ َ ٞ َ ۡ َ ۡ ُّ
I4 ‫ َ ُة‬Sَ ‫ َ ةُ ٱ‬a ‫ ُ ٱ‬6 Bِ CF
ٰ ‫ أو‬I& ‫) ة‬¤ -? 6 p I` ‫> ة‬Ç -? 3ٍ ِ C '2 ‫'ه‬y‫ِ ة ]< وو‬už)*

Penjelasan Singkat :

Surat ‘Abasa adalah surat dengan nomer urutan 80, terdir dari 42 ayat dan termasuk surat Makkiyah.
Surat ini adalah surat makiyyah yang diturunkan pada fase mekkah, karenanya isi surat ini juga bercerita
tentang hari kiamat yaitu munaqosah (dialog) dengan orang-orang musyrikin yang mengingkari hari
kiamat. Namun surat ini diawali dengan teguran dari Allah Subhanallahu Wata’ala kepada Rasulullah
SAW. Sebagian orang-orang saat itu yang ghuluw, yaitu orang-orang yang terlalu mengkultuskan Nabi
SAW menganggap suatu hal yang baik untuk tidak membaca surat ini, karena isinya yang berupa teguran
kepada Nabi. Namun, sejatinya surat ini justru meninggikan kemuliaan Nabi shalallahu
‘alaihiwassallam karena telah ditegur langsung oleh Allah Ta’ala dan beliau tidak segan untuk
menyampaikan berita tentang teguran tersebut kepada umatnya.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula oleh Abu
Ya’la yang bersumber dari Anas bahwa Firman Allah. ‘Abasa wa tawallaa (Dia [Muhammad] bermuka
masam dan berpaling) turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum, seorang buta yang datang kepada
Nabi Muhammad saw seraya berkata: “Berilah aku petunjuk yang Rasulullah.” Pada waktu itu Rasulullah
saw sedang menghadapi para pembesar kaum musyrikin Quraisy. Beliau berpaling dari Ibnu Ummi
Maktum dan tetap menghadapi pembesar-pembesar Quraisy. Ibnu Ummi Maktum berkata: “Apakah
yang saya katakan ini mengganggu tuan ?” Rasulullah saw menjawab: “Tidak.” Maka, turunlah ayat-ayat
ini (‘Abasa: 1-10) sebagai teguran atas perbuatan Rasulullah saw itu.
َّ َ َ َ َ َ
Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling” & ¼'َ p‫} و‬ž
ٓ ٰ
Nabi shalallahu ‘alaihiwassallam mengerutkan dahinya bermuka masam dan juga berpaling
menolehkan wajahnya melihat ke arah yang lain. Nabi. Saat itu, Rasulullah sedang sibuk menerima
tamu dari kalangan pembesar Quraisy dengan harapan mereka akan memberikan respon yang baik
atas ajakan dan dakwah beliau. Diharapkan, melalui para pemuka kaum itu, akan semakin bertambah

ۡ َۡ ٓ َ
kalangan yang akan memeluk agama Islam.
karena telah datang seorang buta kepadanya 4 /ٰ َ ˆi ‫ َء ُه ٱ‬-yَ ‫أن‬

Allah Subhanallahu Wata’ala menurunkan ayat ini untuk menegur Nabi shalallahu ‘alaihiwassallam.
Seluruh ahli tafsir sepakat bahwasanya sebab turunnya ayat ini adalah kisah tentang Abdullah bin Ummi
Maktum radhiallahu ‘anhu, seorang sahabat yang buta ketika datang menemui Nabi shalallahu
‘alaihiwassallam. Pada saat itu Nabi shalallahu ‘alaihiwassallam sedang berdakwah kepada orang-orang
kafir dan para pembesar Quraish. Datang berbagai macam riwayat tentang nama-nama para pembesar
Quraisy tersebut. Sebagian riwayat menyebutkan mereka adalah ‘Utbah bin Robi’ah, Abu Jahl bin
Hisyaam, dan al-‘Abbas bin ‘Abdil Muthholib. Sebagian riwayat menyatakan Nabi sedang mendakwahi
َّ
Umayyah bin Kholaf. Dan riwayat yang lain menunjukan Nabi sedang mendakwahi Ubay bin Kholaf.
َ َ ُۡ ََ
ٰ †َّ َ2 ‫ َ َ ّ ُ ۥ‬B%
< ٓ½ ِ‫ر‬b2 - ‫و‬
“dan apakah kamu (Muhammad) tau barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa)”

Dalam Tafsir Jalalain, arti dari tahukah kamu/apakah kamu tahu adalah mengertikah kamu
(barangkali ia ingin membersihkan dirinya) dari dosa-dosa setelah mendengar dari kamu; lafal
Yazzakkaa bentuk asalnya adalah Yatazakkaa, kemudian huruf Ta diidgamkan kepada huruf Za
sehingga jadilah Yazzakkaa.

Adapun dala Tafsir Ath Thabari di jelaskan bahwa maksud ayat ini adalah bahwa Allah Subhanallahu
Wata’ala menegur Rasulullah shallallahu ‘alaihiwassallam yang tidak menghiraukan Abdullah bin
Ummi Maktum. Barangkali dia datang ingin membersihkan dirinya dari dosa. Dan inilah yang
dilakukan oleh Abdullah bin Ummi Maktum, dia datang kepada Rasulullah shallallahu
ِ ‫“ ﺃ َ ْﺭ‬Ya Rasulullah shallallahu
‘alaihiwassallam untuk mencari ilmu, berdasarkan perkataannya, ‫ﺷ ْﺩ ِﻧﻲ‬

ۡ ّ ُ َ َ َ َ ُ َّ َّ َ ۡ َ
‘alaihiwassallam berilah petunjuk kepadaku”.
ٰٓ َ :ِ
I ‫ى‬ 3 ‫ ٱ‬.)˜ :32 ‫أو‬

“atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, kemudian memberi manfaat kepadanya pengajaran itu”

Artinya mengambil pelajaran dan nasihat (lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya) atau

ۡ ۡ َ َّ َ
nasihat yang telah didengarnya dari kamu bermanfaat bagi dirinya.
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup” N /ٰ .َ ‰)َ T‫ٱ‬ ِ -‫أ‬
Sedang kalangan yang berharta dan berkedudukan, kamu sudi menemui mereka. Keinginanmu

َ َiَ(
sangat besar untuk dapat menyampaikan misi dakwahmu pada mereka.
ٰ bَّ oَ َp ‫‘ َ ُ ۥ‬7
R ‫ى‬
Maka kamu melayaninya maksudnya menerima dan mengajukan tawaranmu, meskipun semua demi
misi dakwah. Maka, Rasulullah SAW, karena orang kafir lagi sombong itu yang tidak butuh dengan
dakwah Nabi, tetapi Nabi justru datang mendekatinya, padahal ada orang yang
datang langsung kepada Nabi tetapi beliau malah menjauhinya.
َّ َ َ َ ۡ َ َ َ َ
“dan tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak mensucikan diri (beriman)” ٰ †َّ َ2 -ّ A B
X ½ -‫و‬

Maksudnya tidak ada celaan atasmu (rasulullah) kalau dia tidak membersihkan diri, para pembesara
yakni orang yang serba berkecukupan itu tidak beriman. Memang secara logika, jika para pembesar
kaya raya itu jika masuk Islam maka banyak yang akan mengikutinya, tetapi andai saja dia tetap kafir
maka hal itu tidak jadi masalah dan bukan urusan Nabi, karena Nabi hanya berdakwah, perkara
hidayah sepenuhnya hanya di tangan Allah Subhanallahu Wata’ala. Tidak ada dosa pada diri Nabi jika

َ - َّ َ ‫َوأ‬
mereka tetap kafir.
ٓ
“dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera” [ /ٰ َ *ۡ َ + ‫ َء َك‬-yَ

Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala menyebutkan tentang Abdullah ibnu Ummi Maktum,
seorang buta yangra orang yang datang kepada Rasulullah SAW dengan maksud mencari ilmu dan
mengharap petunjuk, dan merasa takut pada Allah, kamu tinggalkan.
َ ۡ ُ
sedang ia takut kepada (Allah),” ] /ٰ u5َ2 'َ 6‫َو‬
Maksudnya adalah orang buta itu atau Abdullah bin Umi Maktum.
َََ ۡ َ َ ََ
“engkau (Muhammad) malah mengabaikannya” &` /ٰ ?ّ p ُ .ˆ ‘7i(
Ini adalah teguran dari Allah Subhanallahu Wata’ala untuk Rasulullah shalallahu ‘alaihiwassallam.
Diriwayatkan, setelah kejadian itu jika Abdullah bin Ummi Maktum datang kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihiwassallam, maka beliau menyambutnya dengan mengatakan
ّ َ َ
Èِ ‫ ˜ِ ِ َر‬/ِ.َžp- ْ َ ِ c ->ً َ ْ ‚َ
“Marhaban (selamat datang) orang yang Robbku menegurku karenanya”
Rasulullah SAW memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum. Bahkan disebutkan dalam sejarah, dalam dua
kali peperangan Rasulullah menjadikan Abdullah bin Ummi Maktum sebagai pemimpin Madinah ketika
Beliau meninggalkan Madinah. Ini menunjukkan Rasulullah SAW memuliakan terhadap Abdullah bin
Ummi Maktum. (lihat Tafsir At-Thobari 24/104 dan Tafsir al-Baghowi 8/332). Demikian juga Nabi
menjadikannya sebagai muadzin subuh kedua padahal beliau tidak bisa melihat fajar. Beliau hanya bisa
azan kalau ada yang memberitahu bahwa fajar sudah terbit. (Tafsiir Ibnu Katsiir 8/321). Padahal yang
lebih utama yang azan adalah yang bisa melihat fajar dan bukan orang buta. Namun ini semua dilakukan
oleh Nabi dalam rangka menghargai Ibnu Umi Maktuum.
ٞ ۡ َ َ َّ ٓ َّ َ
“sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh, (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan” && ‫ َ ة‬:
ِ 3p -?@ِ‫ إ‬- :
Maksudnya, surat ini atau ayat-ayat ini (adalah suatu peringatan) suatu pelajaran bagi makhluk
semuanya.
َ َ ٓ َ َ
“maka barang siapa menghendaki, tentulah dia akan memperhatikan-nya” &4 ‫ َ ُهۥ‬:‫ َء ذ‬-š َ ˜
Maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya atau tentu ia menghafalnya,
kemudian menjadikannya sebagai nasihat bagi dirinya. Bagi yang tidak mau mengambil pelajaran
maka silahkan. Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:

ْ َ ْ َ َ َ ْ َ َ ْ ْ ُ ْ َ َ َ ْ َ َ ْ ُ ّ َ ْ ُّ َ ْ ُ َ
ْ ُa ( ‫ء‬-š ‫ء ( ‹ ِ و‬-š ˜ aِk‫{ ِ ر‬n ‫ ا‬$ِ \‫و‬

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman)
hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (QS Al-Kahfi : 29).

َ َ ُ
“ (al-Qur’an) dalam lembaran-lembaran/kitab-kitab yang dimuliakan” &< ªٖ َ ّ _ ّ ®ٖ n
ُ œُ /ِ (

Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “shuhuf” adalah al-Lauh al-Mahfuuz, dan ada
yang berpendapat as-Shuhuf adalah kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para Nabi. Sebagaimana

َ ُۡ
firman Allah :
َ ‚ُ ‫ِ َ َو‬6ٰÉَ ۡc‫ ِ® إ‬n
&] /ٰ T' ُ œُ &[ ¼‫و‬ ُ oُّ ‫ ٱ‬/ِ َ ‫ا‬3َ ٰrَ ‫إ َّن‬
ٰ i ‫ ِ® ٱ‬n
ِ ِ
“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim
dan Musa” (QS Al-A’la 18-19).
َ ُ َ ُ َ
“yang ditinggikan (dan) disucikan” &I ۢ ِ ‫ ّ َ! ّ? َة‬ªٖ '( ۡ ّ
Sebagian ulama mengatakan bahwa Allah Ta’ala sedang berbicara tentang Al Qur’an. Yang
ditinggikan yaitu kedudukannya yang tinggi di sisi Allah Subhanallahu Wata’ala dan disucikan yaitu
tidak ada penyimpangan dalam Al Qur’an, juga tidak ada kebatilan, tidak pula perubahan, semuanya
disucikan oleh Allah Subhanallahu Wata’ala.
َ َ َ َ ۡ َ
“di tangan para utusan (malaikat)”. “yang mulia lagi berbakti”
َ َ
&R ٖ ›‫ ر‬c À‫ ا‬: َ
ِ &N ٖ › T ‫ِي‬b2sِc

Malaikat adalah makhluk Allah yang tidak pernah bermaksiat. Allah SWT :

َ ُ َ ْ ُ َ َ ُ َ ْ َ َ ْ ُ َ َ َ َ َ َّ َ ُ ْ َ َ
.‫‹‚ ون‬2 - ‫ 'ن‬%‫ و‬6 ‚‫ أ‬- ‫'ن ا‬o H -

“Mereka tidak pernah membangkang perintah Allah dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan” (QS At-Tahrim : 6).

َ ۡ َ ٓ َ ُ َٰ ۡ َ ُ
“celakalah manusia, apa yang membuat dia kafir?” &X ‫َ هُۥ‬ ‫ أ‬- ”•ِ– ‫ ٱ‬$ِ)\
Maksudnya, terlaknatlah orang kafir itu (alangkah sangat kekafirannya) Istifham atau kata tanya pada
ayat ini mengandung makna celaan; makna yang dimaksud, apakah gerangan yang mendorongnya

ََ َ ۡ َ ّ َ ۡ
berlaku kafir?
َ َ َ َ َ َ َ ۡ ُّ
&] ‫ َر ُهۥ‬bّ ˜ ‫ُ ۥ‬ ªٍ !@ ِ &[ ‫ُ ۥ‬ ‫ ٍء‬/š ‫ِ أ ِي‬

“Dari manakah Dia (Allah) menciptakannya?”. “Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu
menentukannya”

Maksudnya adalah Tidakkah ia ingat dari apa dirinya diciptakan?. Allah Subhanallahu
Wata’ala berfirman dalam ayat yang lain : Manusia diciptakan dari nutfah, air yang hina,
sebagaimana firman Allah SWT:

َٓ
R ‫ ٖء‬- ّ
َ ٰ َ ِ–ۡ ‫ ِ ٱ‬G.
ِ {َِ ُ {َِ ُ N {َِ ُ ّ ‚ِ ُ ”•
ُ ََۡ
(

“Hendaknya manusia merenungkan darimana dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang
terpancar.” (QS At-Tariq : 5-6).

Allah Subhanallahu Wata’ala juga berfirman dalam QS. Al Mursalat : 20

“Bukankah Kami menciptakanmu dari air yang hina (mani).”


َ َٓ
4` ٖ ?ِ ‚ّ ‫ ٖء‬- ّ
ُّ ُ ۡ َ
ِ ّ a 57 ۡ َ Aَ

Hasan Al-Basri pernah mengatakan,

ْ َ َّ ‚َ ‫ ا ْ َ> ْ'ل‬$ žTَ ْ ِ ‫_ ّ>َ ُ َ ْ َ َ َج‬


َ ََ ََْ
)H ® :
ِ ِ ِ ِ

“Bagaimana bisa sombong orang yang keluar dari jalur air kencing sebanyak 2 kali” (Tafsir Al-
Qurthubi 19/218).

Pertama dia keluar dari kemaluan ayahnya berupa air mani dan kedua ketika dilahirkan dia keluar
dari kemaluan ibunya tempat keluarnya air kencing, tetapi dia masih saja sombong dan congkak
hingga tidak mau beribadah kepada Allah Subhanallahu Wata’ala. Yaitu menjalani proses di perut
ibunya baru kemudian dia lahir setelah dikandung selama 9 bulan. Sehingga Allah Subhanallahu
Wata’ala menggunakan kata ‫“ﺛ ُ ﱠﻢ‬kemudian”.
َ َ َ َُ
“kemudian jalannya Dia mudahkan” 4` ‫ َ ّ* َ ُهۥ‬+ $ ِž*ّ ‫ ّ ٱ‬d

Yaitu menjalani proses di perut ibunya baru kemudian dia lahir setelah dikandung selama 9 bulan.
َّ ُ
Sehingga Allah Subhanallahu Wata’ala menggunakan kata d“kemudian”.

“kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya” 4& ‫َ هُۥ‬ َ>¤ۡ َiَ( ‫َ ُ ۥ‬p- َ َ‫ َّ أ‬dُ
Memang demikianlah yang terjadi, setelah ia keluar dari perut ibunya ia tidak langsung mati
melainkan hidup dulu, entah 30th, 50th, 100th dan seterusnya. Setelah lama hidup di bumi
Allah SWT mewafatkan, memasukkan dalam kubur yang menutupinya. Sungguh Allah mematikan
manusia dan memuliakannya dengan cara demikian, ditutupi di dalam kubur.
َٓ ۡ َ َ َّ َ َ َ ٓ َ َ َُ
4< ‫ أ َ‚ َ هُۥ‬- َ Áِ Hَ - ّ - : 44 ‫ َ هُۥ‬u•‫ َء أ‬-š ‫ ّ إِذا‬d

“kemudian jika Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali”. “Sekali-kali tidak, manusia itu
belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya”

Tafsir dari dua ayat diatas adalah benarlah bahwa manusia itu belum melaksanakan atau banyak yang
belum mengerjakan perintah Allah SWT. Banyak pula manusia yang kafir atau ingkar kepada Nya.
Dan ssungguh sejatinya manusia belum melaksanakan semua kewajiban atau perintah Allah untuk
beriman dan taat kepada-Nya sepanjang hidup di dunia. Mujahid berkata:

ِْ َ َ ‫ ْا˜ ُ) َض‬- َ $َّ :ُ ‫ا‬bً َcAَ bٌ ‫ أ‬/x 2 -َ


ِ

“Tidak seorangpun bisa menjalankan seluruh yang diwajibkan kepadanya, selamanya” (Tafsir Ibnu
Katsir 8/324)

Kemudian setelah Allah Subhanallahu Wata’ala mengajak manusia untuk merenungkan penyebab
mengapa para manusia kafir, apakah yang membuat mereka sombong, padahal hendaknya mereka
melihat hakekat penciptaan mereka yaitu dari air yang hina. Allah Subhanallahu Wata’ala kembali
mengajaknya untuk merenungkannya sementara seluruh kenikmatan telah Allah sediakan.

َ َٰ ۡ ُ ََۡ
“maka hendaknya manusia itu memperhatikan makanannya” 4I ‫ ِ ِٓۦ‬- َ «َ /ٰ ِ ‫•” ُ إ‬ِ– ‫ ِ ٱ‬G. (
Hendaknya manusia merenungi makanan yang dia makan, bagaimanakah makanan itu diciptakan
dan diatur untuknya?
ۡ َ ٗ ۡ ََ ّٗ َ َ َ ۡ ۡ َ َ َ ُ ٗ ٓ ۡ َّ َ
4[ ->ٗ x\‫ َو‬->ٗ .َِ ‫ َو‬4X ->ّ َ -?َ ِ˜ -.َ ~َ>-i( 4R - š ‫ض‬Âi ‫ ٱ‬-.َ š ّ d 4N ->ّ œَ ‫ َء‬- َ ‫ ٱ‬-.َ žۡ >َ œَ -7A
“Sungguh Kami yang telah melimpahkan/mencurahkan air dengan melimpah (dari langit)”.
“Kemudian Kami belah bumi denganbelahan yang sebaik-baiknya”. “Lalu Kami tumbuhkan biji-
bijian” .“Dan anggur dan sayur-sayuran”
Allah Subhanallahu Wata’ala mencurahkan air dari gumpalan awan, berupa air hujan dengan se deras
derasnya. Kemudian Allah belah dan rekahkan bumi dengan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dari
dalamnya yang kemudian tumbuh dengan sebaik-baiknya. Kemudian Allah tumbuhkan biji-bijian yang
merupakan makanan pokok seperti jagung, beras, gandum, jewawut termasuk biji bijian yang
menghasilkan sayuran yang bisa dimakan dalam keadaan segar dan bisa juga disimpan.
ٗۡ َ ٗ
dan zaitun dan pohon kurma” 4] - 57‫ َو‬-7')ُ %ۡ ‫َو َز‬
Allah Subhanallahu Wata’ala menyebutkan tentang zaitun karena faidahnya yaitu selain bisa
dimakan sebagai buah, juga bisa dijadikan sebagai minyak dan obat dan menyebutkan pohon kurma
karena kurma bisa menjadi makanan pokok, juga bisa menjadi buah-buahan. Kurma juga bisa menjadi
makanan yang disimpan.
ُ ََۡ ُ َّ َ َ َٗ ٗ َ ُۡ ٓ
<4 ۡ aِ ٰO7sِ ‫ ۡ َو‬a - ٗ ٰW ّ <& -cّ A‫ َو‬ª?َِ _ٰÃ‫ `< َو‬->ٗ “ {َ ِ v‫ا‬bَ َ ‫َو‬
“Dan kebun-kebun yang lebat”. “Dan buah-buahan serta rerumputan”. “(Semua itu) untuk
kesenangan kalian dan untuk hewan-hewan ternak kalian”.
Tafsir tiga ayat diatas adalah Allah menumbuhkan kebun-kebun yang banyak pepohonannya, yakni pohon
buah-buahan serta rumput-rumputan atau tumbuh-tumbuhan yang menjadi makanan binatang ternak.
Namun, adan yang menjelaskan maksud rumput rumputan juga tangkai atau bulir gandum, padi dan yang
sejenisnya. Semuanya Allah ciptakan untuk kesenangan kesenangan yang menyenangkan baik bagi
manusia maupun hewan ternak peliharaannya.
Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala menutup surat ‘Abasaa dengan menjelaskan tentang
dahsyatnya hari kiamat. Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:
ُ َّ ٓ َ َٓ َ َ
“maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala)” << ª -oّ ‫ت ٱ‬ِ ‫ َء‬-y ‫(–ِذا‬
ُ َّ ٓ َ
ª -oّ ‫ ٱ‬artinya suara yang sangat keras dan memekikkan telinga, sehingga tatkala ditiupkan suara
tersebut semua orang akan meninggal. Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:
َ
َ šَ َ -َّ ‫ ْر ِض إ‬iْ ‫ ا‬/ِ ( َ ‫ات َو‬
ُۖ َّ ‫ء ا‬- َ َ *َّ ‫ ا‬/ِ ( َ {َ ِ oَ (َ ‫'ر‬oُّ ‫ ا‬/ِ ( Êَ ِ ُ7‫َو‬
ِ ‫و‬-
ِ ِ
“Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi, kecuali
mereka yang dikehendaki Allah.” (QS Az-Zumar : 68)
Suara yang sangat keras bisa membuat seseorang tuli bahkan bisa membuat orang sampai meninggal
dunia. Karenanya kaum Nabi Shaleh, yaitu kaum Samud disiksa oleh Allah Subhanallahu
Wata’ala dengan suara yang menggelegar seperti guntur hingga membuat mereka tewas. Tiupan
sangkakala tersebut tanda kiamat telah tiba.
َ َ ُّ َ ۡ ُ َ
<R ِ ِ „kَ ‫ َ>)ِ ِۦ َو‬n
ِ ٰÄ‫< َو‬N ِ ِ ^‫< َوأ ِ ِۦ َوأ‬I ِ ِ ‫َ ِ ّ ٱ َ ۡ ُء ِ ۡ أ‬2 ‫َ ۡ'م‬2
“Pada hari tu manusia lari dari saudaranya”. “Dan dari ibu dan ayahnya”. “Dan dari istri dan anak-
anaknya”
Dalam ayat ini Allah Subhanallahu Wata’ala menggambarkan bagaimana kedahsyatan hari kiamat
sampai-sampai seseorang akan lari dari orang yang paling dia cintai karena saking tidak pedulinya.
Yaitu, ibunya, ayahnya, bahkan istri dan anak-anaknya yang selama ini dia bekerja keras memeras
keringat dan membanting tulang untuk menyenangkan buah hatinya tersebut juga akan ditinggalkan
pada hari itu, karena setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing.
ۡ ُ ٞ ۡ َ ََۡ ۡ ُّۡ ۡ $ّ _ُِ
<X ِ ِ .‰H ‫ن‬iš 3ٖ ِ C '2 ?.ِ ‫ٱ‚ ِ ٕ ٖي‬ ِ
“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya”
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa setiap orang akan mengingat seluruh kemaksiatan
yang pernah dia lakukan selama di dunia. Dia tahu bahwa dia akan disidang oleh Allah Subhanallahu
Wata’ala, sehingga bagaimana dia tidak takut tatkala hari itu tiba. Oleh karena itu,
Rasulullah shalallahu ‘alaihiwassallam menggambarkan tentang bagaimana manusia dibangkitkan
pada hari kiamat. Rasulullah shalallahu ‘alaihiwassallam bersabda:
َ ْ َ
َ ِ ِ -(َ -.َّ :ُ -َّ7‫ ۚ إ‬-.َ ْ َ َ ‫ا‬bً ْ ‫ ُه ۚ َو‬bُ ِ ُ7 {ْ َ ‫ أ َّو َل‬-َ7Abَ َc - َ :َ ‫ َّ \َ َ أ‬dُ -ً ْ “ُ ً‫ة ُ َ اة‬-
ً َ ُ َ ُ ُ ْ َ ْ ُ َّ
‫'رون‬un a7ِ‫إ‬
ِ ٍ
“Sungguh kalian akan dibangkitkan dalam keadaan tidak memakai alas kaki, telanjang dan belum
dikhitan,” kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah, “Sebagaimana Kami
telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami
tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya.” [QS Al–Anbiya : 104]. (HR Bukhari no.
3349, 6526)
Tatkala seseorang lahir dari perut ibunya, dia dalam keadaan telanjang, tidak memakai alas kaki,
belum disunat, tidak membawa apa-apa. Demikian pula ketika manusia dibangkitkan kelak, meskipun
dia sudah dewasa tetapi kondisinya telanjang, tidak memakai alas kaki, belum disunat, dan tidak akan
membawa sepeser hartapun dari seluruh harta yang dia kumpulkan selama di dunia. Oleh karena itu,
ketika mendengar hadist ini, ‘Aisyah radianllahu ‘anha bertanya:
“Wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihiwassallam apakah para lelaki dan para wanita dibangkitkan
bersama-sama dalam keadan telanjang dalam keadaan belum disunat? Bukankah sebagian dari
mereka akan melihat aurat yang lain?, kata Nabi shalallahu ‘alaihiwassallam: perkaranya sangat
dahsyat, sampai-sampai seorang tidak berfikir aurat orang lain”.
Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala menyebutkan kondisi-kondisi manusia setelah hari
kebangkitan. Ada manusia-manusia yang bahagia dan ada manusia-manusia yang celaka.
ٞ ُ ٞ َ َ ٞ ُ
<] ‫ِ َ ة‬užۡ )َ *ۡ ّ ª_ِ -Æ <[ ‫ ّ ۡ* ِ َ ة‬3ٖ ِ C َ 'ۡ َ2 ٞ ‫'ه‬yُ ‫ُو‬
“Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri”. “Tertawa dan gembira ria”.
Mereka adalah para penghuni surga. Mereka lah orang-orang yang beriman. Mereka akan meraih janji-janji
yang mereka baca dalam Al Quran dan hadist-hadist Nabi SAW.
ٞ َ ََ
I` ‫ َ> َ ة‬Ç -?َ ۡ 3ٍ ِ C َ 'ۡ َ2 ٞ ‫'ه‬yُ ‫َو ُو‬
“Dan pada hari itu ada (pula) wajah-wajah yang tertutup dengan debu (suram)”
Yaitu wajah-wajahnya orang kafir. Ada yang mengatakan bahwa debu-debu tersebut berasal dari hewan-
hewan yang telah disebutkan dalam tafsir surat ‘amma yatasaaluun. Sesungguhnya hewan yang telah di
qishas oleh Allah Subhanallahu Wata’ala akan berubah menjadi tanah, tanah-tanah itu kemudian
terhamparkan ke wajah orang-orang kafir (lihat Tafsiir Al-Qurthubi 19/226). Ada yang mengatakan bahwa
di padang mahsyar kelak orang-orang kafir tatkala matahari turun dengan jarak 1 mil, keringat mereka
sangat bercucuran. Dan keringat yang bercucuran ini bergantung pada keimanan, jika imannya tinggi
maka semakin rendah cucuran keringat tersebut akan tetapi semakin banyak maksiat maka keringatnya
bercucuran ke atas bahkan sampai menutup wajahnya. Terutama orang kafir keringat mereka menutupi
wajah mereka.
َ َُ َ
Tertutupi oleh kegelapan” I& ‫ َ) َ ٌة‬¤ -?َ 6ۡ p
Wajah mereka selain berdebu juga gelap hitam mengerikan. Ini semua menunjukkan penghinaan
Allah Subhanallahu Wata’ala atas mereka.
َ ۡ َ َ ۡ ُ َ َٓ ْ ُ
“Mereka itulah orang-orang kafir yang fajir” I4 ‫ َ ُة‬Sَ ‫ َ ُة ٱ‬a ‫ ُ ٱ‬6 BِCF
ٰ ‫أو‬
Allah Subhanallahu Wata’ala menggabungkan kata kufur dengan fujur. ‫ ۡٱﻟ َﻜ َﻔ َﺮﺓ‬adalah orang-orang kafir
yang melakukan kekufuran dalam hal keyakinan. Mereka mempunyai keyakinan yang salah tentang
Allah Subhanallahu Wata’ala, tidak beriman akan hari kiamat, berkeyakinan syirik kepada
Allah Subhanallahu Wata’ala, meyakini Allah Subhanallahu Wata’ala satu dari yang tiga, meyakini ada
sesembahan selain Allah Subhanallahu Wata’ala. Adapun ُ ‫َﺠ َﺮﺓ‬ َ ‫ ۡٱﻟﻔ‬adalah kemaksiatan yang berkaitan
dengan anggota tubuh misalnya mendzhalimi orang lain, berzina, menipu orang lain, dan lain-lain, semua
ini berkaitan dengan kefajiran. Dan ini terkumpulkan pada diri orang-orang kafir tersebut.
Wallahua’lam bishshowab.
Pertemuan : 11 - 13
Mata pelajaran : Dirosah Qur’an
Surat : An Naziat
Kelas :9
Waktu : 3x 60 menit

َ َّ َّ
ِ ِ ّ ‫ٱ‬ ‫ٱ ِٱ‬
َّ ۡ َ ٗۡ َ ٰ َّ َ
Ž( < -nٗ >ۡ Tَ ‘ َ ٰ َّ ‫ َوٱ‬4 -!ٗ uۡ َ • ‘± َّ ٗ َ ٰ َ ٰ َّ َ
ِ ٰ Éَ ِ cb ُ Ž( I - >Tَ ‘
‫ت‬ ِ Ìٰ ِ>” ِ ٰ•ِ>” ِ ٰ َ ِuٰ| ‫ & َوٱ‬-\ ۡ “ ‘
ِ ˆِ | ‫وٱ‬

ٞ َ ٰ َ َ ُ ٰ َ ۡ َ ٌ َ َ َ ۡ َ ٞ ُ ُ ُ َ َ ّ َ ُ َ ۡ َ ُ َ َّ ُ ُ َۡ ََۡ َٗۡ
] ª ِuÎ -6 ÏcA [ ª y ِ ‫ وا‬3ٖ ِ C '2 ‫ \ 'ب‬X ª(ِ‫ ٱ اد‬-? >~p R ª y
ِ ‫® ٱ ا‬y p ‫'م‬2 N Í ‚‫أ‬

َ ۡ ْ ُ َ ٗ َ َّ ٗ ٰ َ َّ ُ َ َ ِ َ َ ۡ
َ- @َّ –(َ &4 ٞ ‫ َ ة‬Tِ - َ ‫ َّ ٌة‬:َ ‫ إ ٗذا‬B َ ُ ُ ۡ َ َ َّ َ َ ُ ُ َ
ِ ِ ِ p ‫ 'ا‬-\ && ‫ ة‬5
ِ 7 - Ðِ -.: ‫( ِ ة `& أءِذا‬-n ‫ ٱ‬/ِ ( ‫ دودون‬-7ِ‫ ' 'ن أء‬H

َّ َ ُ ۡ َ ۡ ُ ُّ َ ُ ٰ َ َ ۡ ُ َ َ ٰ َ َ ۡ َ ِ َ َّ ُ َ َ ٞ ٞ
‫ ِس‬b ‫ 'ا ِد ٱ‬Žِc ‫ ۥ‬k‫ ر‬Y‫د‬-7 ‫& إِذ‬N /T'‚ Ñ2ِb BÒpA $6 &I ‫ِ ة‬6-* Žِc 6 ‫ة <& (–ِذا‬bَِ ٰ¶َ ‫ َ ة‬yۡ ‫ َز‬/َِ 6
ٓ ٰ َ ُ

َ ۡ ََ َ َّ ٰ َ َ َ ۡ ََ َ َ َ َّ َ ۡ ُ َ ٰ َ َ ُ َّ َ ۡ َ ۡ ٰ َ ۡ َ ۡ
ٰ½ّ †َ َp ‫ أن‬/ٰٓ َ ِ ‫ إ‬B
ٰ
&] /u5)˜ Bِk‫ ر‬/ ِ ‫ إ‬B2bِ 6‫[& وأ‬ $6 $ ˜ &X /‰« ‫ ۥ‬7ِ‫ ( ِ 'ن إ‬/ ِ ‫ إ‬V6‫& ٱذ‬R ‫ُ« ً'ى‬
ُ ُّ َ ۠ َ َ َ َ َ
ُa ٰ َ َ َ َ َ َ َ ٰ َ ۡ َ َ َ ۡ َ َ ّ ُ ٰ َ َ َ َ َّ َ َ ٰ َ ۡ ُ ۡ َ َ ُ ٰ َ َ َ
k‫ ر‬-7A ‫ل‬- ˜ 4< ‫دى‬-.˜ un( 44 / *+ c‫ أد‬d 4& /o ‫ب و‬3_( 4` ‫ ٱ _> ى‬ª2Ó‫ ٱ‬Y‫ر‬i(

ً ۡ َ ُّ َ َ ۡ ُ َ َ ٓ َ ۡ َ َ ّ ٗ َ ۡ َ َ َٰ َّ ٓ ٰ
َ ُۡ َ َ َ َ َ ُ َّ ُ َ َ َ َ َۡ َۡ
- bš‫) أ‬7‫ ءأ‬4R /ٰ u52 ِ ‫ ِ> ة‬Bِ • /ِ ( ‫ إِن‬4N ¼‫و‬i ‫ ِ ة ِ وٱ‬Ó‫ل ٱ‬-a7 ‫ه ٱ‬3 i( 4I /ٰ i ‫ٱ‬

َ َٰ َ ۡ َ َ َ ۡ َ َ ٰ َ ُ َ َ ۡ ََ َََۡ َ َ ۡ ََ َ ٰ َّ َ َ َ َ ۡ َ َ َ َ َ ٰ َ َ ُ ٓ َ َّ ِ َ
Bِ • b ^ ‫ض‬Âi ‫ وٱ‬4] -?ÒnÆ ‫ وأ ج‬-? ©!Ç‫ وأ‬4[ -?Y'*( -?_ T ²˜‫ ر‬4X -?Ò„c ۚ ‫ء‬- * ‫أم ٱ‬

َ َ ۡ ُ ٰ َ ۡ َ َ ۡ ُ َّ ٗ ٰ َ َ َ ٰ َ ۡ َ َ َ ۡ َ َ ٰ َ َۡ َ َ ََٓ َۡ َ َ ۡ َ ٓ َٰ َ َ
<< ‫ (–ِذا‬aِ O7sِ ‫ و‬a - W <4 -?ÒT‫ل أر‬->S ِ ‫ &< وٱ‬-?Ò ‚‫ و‬-6‫ء‬- -?.ِ ‫`< أ ج‬ -?Ò ‫د‬

َََ َ ۡ ‫ ّ َز‬kُ ‫< َو‬N /ٰ َ Tَ - َ - َ ُ ”• َ


ٰ َ ِ–ۡ ‫ ُ ٱ‬:ّ 3َ )َ Hَ <I ‫َ ۡ' َم‬2 ‫ى‬ ُ ۡ ُ َّ ٓ َّ َٓ
- ّ i( <R ‫ى‬
ٰ َ َ2 َ ِ ُ n
ِ S‫تٱ‬ ِ ِ ٰ َ >ۡ _ ‫ ٱ‬ª -! ‫ت ٱ‬ ِ ‫ َء‬-y

َ َ َ ّ َ َ َ َ َ َ ۡ َ َّ َ َ ۡ ۡ َ ۡ َّ َ ۡ ُّ َ َ ۡ َ َ َ
/?@‫ ِ ِۦ و‬k‫م ر‬- ‫ف‬- ٰ َ ِ S ‫ [< (–ِن ٱ‬-َ @b ‫ َ ٰ'ة ٱ‬n ‫< َو َءا= َ ٱ‬X /ٰ ‰«َ
- ‫وى ]< وأ‬i َ ‫ ٱ‬/َِ 6 َ n

َ‘7َ‫ ˜ِ َ أ‬I4 -?َ ٰ ÒTَ ۡ ‚ُ ‫ن‬-


َ َّ َ َ َ ّ َ َ َ ُ ۡ ۡ َ َ ۡ َّ َ ٰ َ َ ۡ َ َ ۡ َّ
2A ِª -* ‫ ِ ٱ‬B7' َ¡ٔ¡}+ I& ‫وى‬i َ ‫ ٱ‬/َِ 6 ª.ّ Sَ ‫ (–ِن ٱ‬I` ‫ى‬
ۡ َ ٰ َ '? ‫ } ِ ٱ‬. ‫ٱ‬

ْٓ ََُۡ َۡ َ َ ۡ ََ َ َۡ ۡ َّ َ َ َ ۡ َ َ‫ ٓ أ‬- َ َّ ٓ َٰ َ َ ُ َ ّ َ َ ٓ َٰ َ ۡ
‫ >•'ا‬2 -?@‫ و‬2 ‫'م‬2 ?ُ @s: IN -?َ ٰ Òu5َ2 َ ‫ ُِر‬3. ُ ‘7 @ِ‫ إ‬II -?Ò?). Bِk‫ ر‬/ٰ ِ‫ إ‬I< -?Y :ِ‫ِ ذ‬

ُ َ ً َ َ َّ
IR -?َ ٰ Ònَ Æ ‫ أ ۡو‬ªّ ِu - ِ ‫إ‬

Penjelasan Singkat
Surat an-Nazi’at adalah surat yang ke 79 atau surat kedua terakhir dari juz ‘amma, terdiri dari 46 surat
dan termasuk surat Makkiyah. Adapun pokok pembahasan surat-surat Makiyyah berkisar pada iman
kepada Allah, iman kepada Rasul, dan terutama iman tentang adanya hari kebangkitan yaitu tentang
hari kiamat.
ٗ َ ٰ َ ٰ َّ َ
“demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras.” & -\ ۡ “ ‘
ِ ˆِ | ‫وٱ‬
Kata para ahli tafsir, sebagian sahabat menyatakan bahwa an-nazi’at adalah para malaikat yang
mencabut nyawa orang kafir dengan pencabutan yang sangat keras. Sebagaimana yang disebutkan
dalam hadist yang shahih, dimana Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda :

ٌَ َ َ َ َ َ ْ ْ َ ْ ُّ َ َ ِ ْ 7‫ ا‬/ِ ( ‫ن‬-َ َ َ َ َ ْ َ ْ َ ْ َّ
€‫ )و‬ª_ِ v- ‚َ ‫ ِء‬- َ *ّ ‫ َ†ل إ ِ ْ ِ ِ َ ا‬7 ِ ‫ ِ َ ة‬Š ‫ل ِ َ ا‬-
ٍ
َ ¤;
> - @b ‫ا‬ ِ ٍ
‫ع‬- ! : ‫( ِ إِذا‬-_ ‫ ا‬b> ‫;ن ا‬
َّ ُ َ َ ْ َّ َ ُ ْ َ ُ ْ َ َ َّ َ
d ِ o> ‫ ا‬b .ِ ‫ ِ*'ن‬S ˜ (ِ‫ر‬-. ‫ ِ ا‬: ª2‫ روا‬€‫'ح )و‬ ُ *ُ ُ ْ ‫'ه ِ َ َ ُ? ُ ا‬yُ 'ُ ْ ‫'د ا‬
ُ ُ ٌ َ ٌَ
T (‫اد‬bšِ ‫ظ‬- “ِ : ª2‫روا‬
َ َ ْ َُ َ ْ ْ َّ ََ ُ ُ َ ْ ْ ْ َّ ْ ُ َ ُ
ِ ‫ ٍ× ِ َ ا‬5Tَ / ِ‫ إ‬/yِ ُ ‫ ا‬ª•¨ِ>5 ‫ ُ} ا‬. ‫ ا‬-?َ )ُ Hّ A :‫ ِ ˜ َ 'ل‬Tِ ‫ َرأ‬bَ .ِ }َِ Sَ2 /) َ ‫ت‬ ِ 'ْ َ ‫ ا‬B ‚َ ‫ء‬/ S
ِ 2
َ
ُّ ُ ُّ َ ُ َ ْ َ ُ َْ َ ََُ َ َ َ َ َ َ
ِ o ‫( ِ َ ا‬V u ‫ُ„) َ†ع ا ّ* 'د )ا _• ا‬2 - َ : -?َ ˆ†ِ )„َ ˜ ِ ‫ه‬bِ *َ yَ /ِ ( ‫ ” ˜ ُ) ّ ق‬:‫ل‬-\ .“ V
‫'ف‬ ٍ “‫و‬
x
ُْ َْ
(Vo ‫ ا وق وا‬-? ²! )() ‫'ل‬ ِ > ‫ا‬

“Dan sesungguhnya hamba yang kafir jika telah terputus dari dunia dan menuju ke akhirat maka
turunlah kepadanya dari langit malaikat-malaikat yang kasar dan keras serta hitam wajahnya,
sambil membawa pakaian tebal/kasar yang terbuat dari api neraka, lalu para malaikat tersebut
duduk di dekatnya sejauh mata memandang. Lalu datanglah malaikat maut hingga duduk di sisi
kepalanya, lalu berkata, “Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan
Allah”. Lalu jiwa yang buruk tersebut tersebar di jasadnya kemudian malaikat maut mencabutnya
sebagaimana dicabutnya as-sufud (besi tajam yang digunakan untuk mengaitkan daging agar siap
untuk dibakar-pent) dari wol yang basah.” (HR Ahmad No. 18534 dengan sanad yang shahih)

ٗ َ
Adapun menurut penjelasan imam Asy-Syaukani rahimahullah makna -\ ۡ “ adalah berasal dari kata
seseorang yang sedang menarik tali busur. Beliau berkata:

ّ َ ْ َ َ َ ُ َّ ُ َ ْ َ ْ َ ْ َّ ُ َ ْ
/œ-\‫أ‬ -? †.p Ñ ‫†ع‬. ‫ ا‬/( -\‫ إ“ ا‬:‫ أي‬.…bِ ‫ ا‬ª2-“ ‫ه‬b H ‫ ا ' ِس أن‬/ِ ( ‫ز ِع‬-
ِ . ‫;“ اق ا‬
‫م‬-*yi ‫ا‬

“Seseorang yang menarik tali busur panah dengan menarik tali busur dengan sekuat-kuatnya hingga
…yaitu para malaikat mencabut nyawa sekuat-kuatnya dari seluruh ujung-ujung tubuh” (Fathul Qodir
5/449)

Allah menyebutkan dalam Al Qur’an bagaimana malaikat maut mencabut nyawa orang-orang kafir
salah satunya dalam QS. Al Anfal : 50

َ ْ ‫اب ا‬ ُ ُ َ ْ ُ َ َْ ََ ْ ُ َ ُ ُ َ ُ ْ َ ُ َ َ َْ
َ 3َ َ ‫و\'ا‬ ََ َ 2ِ3َّ ‫ ا‬€َّ 'َ )َ Hَ ْ‫ى إذ‬ َ َ َْ َ
{%
ِ ِ n ‫ وذ‬6‫ر‬-c‫? وأد‬6'y‫'ن و‬kِ x2 ª_ِv- ‫ُ وا ۙ ا‬ ِ ٰ p'‫و‬

Dan sekiranya kamu mereka melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir
sambil memukul wajah dan punggung mereka (dan berkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang
membakar.” (QS Al-Anfal : 50)
ٗ ۡ َ ٰ َ ٰ َّ َ
“Dan demi malaikat yang mencabut nyawa dengan lemah lembut” 4 -!u• ‘ ِ ± ِu| ‫وٱ‬

Yaitu bersumpah dengan malaikat pencabut nyawa orang mukmin dengan pencabutan pelan-pelan
yang penuh dengan kelembutan. Disebutkan dalam hadist :

:ª2‫ روا‬€‫ )و‬ª> ! ‫ } ا‬. ‫ ا‬-?)2‫ أ‬:‫ ( 'ل‬T‫ رأ‬b. } S2 /) ‫م‬- * ‫ا‬ ‫ ا 'ت‬B ‚ Ù S2 =
َ ّ ُ
‫ء‬- *ِ ‫ ا‬/ِ ( ْ ِ ‫ ا ! ة‬$ *… - : $ *… ‫ ج‬5)( :‫ل‬-\ ‫'ان‬Æ‫ ة ا ور‬‰ / ‫ إ‬/y ‫( ا‬ª.§ ! ‫ا‬

“Kemudian datanglah malaikat Maut ‘alaihis salam. Dia duduk di samping kepalanya, dan
mengatakan, ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan ridha-Nya.’ Keluarlah ruh
itu dari jasad, sebagaimana tetesan air keluar dari mulut ceret.” (HR Ahmad no. 18543)

< -nٗ >ۡ Tَ ‘ َ ٰ َّ ‫َوٱ‬


“demi malaikat yang turun dari langit dengan cepat”. ِ ٰ•ِ>”

Para malaikat adalah makhluk Allah yang sangat dahsyat yang bergerak dengan cepat membawa
turun perintah Nya. Sebagian ulama mengatakan bahwasanya kecepatan malaikat melebihi
kecepatan jin.

ٗ َ ٰ َّ َ
“dan malaikat-malaikat yang mendahului dengan kencang”. I - >ۡ Tَ ‘
ِ Ìٰ ِ>” Ž(

Ayat ini memperkuat ayat sebelumnya tentang bagaimana malaikat bergerak sangat kencang dan
cepat dalam menjalankan pekerjaannya.

ٗ ۡ َ َّ َ ُۡ َ
“demi para malaikat yang mengatur urusan-urusan” N Í ‚‫ت أ‬ِ ٰ Éِcb Ž(

Bahwasanya malaikat itu sangatlah banyak, mereka menjalankan perintah-perintah Allah Ta’ala.
Mereka tidak pernah membangkang atas apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan mereka
menjalankan apa yang ditugaskan kepada mereka.

ُ َ َّ ُ ُ َۡ ََۡ
“hari ketika tiupan pertama menggoncang alam” R ªy ِ ‫® ٱ ا‬y p ‫'م‬2

Yakni tiupan pertama malaikat Israfil yang mengguncangkan segala sesuatu dengan hebatnya,
sehingga terjadilah goncangan yang sangat dahsyat. Itulah gambaran dalam Al Qur’an yang Allah
sebutkan tentang kehancuran alam semesta. Allah menggambarkan dampak tiupan pertama dengan
banyak ayat, diantaranya :

ْ ّ ُ ُ َ ْ َ ْ َََْ ُ َ َ ْ َ ْ َ ْ ُ َ َّ َ
‫ َت‬S
ِ ( ‫ر‬-nِ > ‫ا‬ ‫ا‬ ‫;ذ‬ . ‫ت‬ •~7‫ ا‬Vِ:‫ ;ذا ا _'ا‬. ‫ء ا@ َ! َت‬- * ‫إِذا ا‬
“Tatkala langit terbelah. Tatkala bintang-bintang berjatuhan. Tatkala lautan berubah jadi lautan
api.” (QS Al-Infithar : 1-3)
َ ُ َۡ َ َ ۡ َ‫ & َوأ‬-?َ َ ‫ض ز ۡ َ†ا‬Â
ُ َۡ َ ُۡ َ
َ ٰ َ ِ –ۡ ‫ل ٱ‬-َ \َ ‫ َو‬4 -?َ َ - َ dۡ A ‫ض‬Â
< -?َ - َ ُ ”• i‫‘ٱ‬
ِ y ِ i‫‘ٱ‬ِ †ِ ‫إِذا ز‬

“Tatkala bumi digoncangkan dengaan sedahsyat-dahsyatnya. Dan bumi mengeluarkan isi perutnya.
Dan manusia bertanya, ‘Apa yang terjadi pada bumi ini?’” (QS Az-Zalzalah : 1-3)

ُ َ ّ َ ُ َ ّ ُ َّ َ ُ ّ َ َ
ٌ ِG َ ‫ ٌء‬/ْ šَ ªِ َ -*َّ ‫ ا‬ªَ َ †َ ْ ‫ ْ ۚ إِ َّن َز‬a k‫س ا 'ا ر‬-. ‫ ا‬-?HA -2

“Wahai manusia takutlah kalian kepada Allah, sesungguhnya goncangan yang terjadi pada hari
kiamat sangatlah dahsyat.” (QS Al-Hajj : 1)

َّ َ َ ْ َ َّ َْ َ َ *َّ ‫ ا‬/ِ ( ْ َ {َ ِ oَ (َ ‫'ر‬oُّ ‫ ا‬/ِ ( Êَ ِ ُ7‫َو‬


ۖ ُ ‫ء ا‬-š - ِ‫ ْر ِض إ‬i ‫ ا‬/ِ ( ْ َ ‫ات َو‬
ِ ‫و‬- ِ

“Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang ada di langit dan di bumi kecuali
mereka yang dikehendaki Allah.” (QS Az-Zumar : 68)

َُ َ َۡ
“(tiupan yang pertama) diikuti dengan tiupan yang kedua” X ª(ِ‫ ٱ ّ اد‬-?َ ُ >َ ~p

Tiupan yang kedua inilah yang akan membangkitkan manusia. Jarak antara tiupan yang pertama
dengan yang kedua selama 40. Tiupan yang kedua ini untuk membangkitkan semua makhluk yang
mati menjadi hidup kembali, maka setelah tiupan yang kedua, mereka bangkit hidup kembali. Dari
Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda :

ُ َ ُ ْ َ َ َ َ ً ْ َ َ ُ َ ْ َ ُ َ ُ ْ َ َ َ َ ً ْ َ َ ُ َ ْ َ َ َ ْ َ ُ َ َ َ ُ َ َ ُ َ ْ َ ْ َ َ ْ َّ َ ْ َ َ
:‫ 'ا‬-\ ‘ ^A :‫ل‬-\ ‫? ا‬š ‫ 'ن‬k‫ أر‬:‫ 'ا‬-\ ‘ ^A :‫ل‬-\ - '2 ‫ 'ن‬k‫ ة أر‬% 6 -cA -2 :‫ 'ا‬-\ ‫ 'ن‬k‫) ِ أر‬5 . ‫ ^ ا‬-
َ َ ْ •–ْ ‫ َو َ¨ْ َ} ِ َ ا‬$ُ ْ >َ ْ ‫‘ ا‬ َ ُ ُ ْ َ َ ً َ َ َ ّ َ ُ ُ ْ ُ َّ ُ ُ ْ َ َ َ َ ً َ َ َ ُ َ ْ َ
ُ >ُ ْ„َ2 - َ :َ ‫'ن‬
‫ ٌء‬/ْ š ‫ن‬- *
ِ ِ )>„ ˜ ‫ء‬- ‫ ِء‬- * ‫ ِ†ل ا ِ ا‬.H d» ‘ ^A :‫ل‬-\ ª.T ‫ 'ن‬k‫أر‬
ْ ْ َ ْ ُ َّ َ ُ ُ ْ َ َ َّ ُ ْ َ َ ُ َ ً َ ً ْ َ َّ َ ْ َ َّ
«ªِ َ -َ ِ ‫َ ْ' َم ا‬2 {ُ 5 ‫ ا‬V ™ 2 .ِ ‫ و‬Vِ 73 ‫ ا‬VS '6‫ا و‬bِ ‫ وا‬- Gˆ - ِ ‫ إ‬/ >H - ِ ‫إ‬

“Jarak antara dua tiupan sangkakala adalah empat puluh”. Mereka bertanya, “Wahai Abu Hurairah
apakah jarak yang dimaksud adalah 40 hari?”. Abu Hurariah berkata, “Aku tidak bisa memastikan”.
Mereka bertanya lagi, “Apakah 40 bulan?”. Abu Hurairah menjawab, “Aku tidak bisa memastikan”.
Mereka bertanya lagi, “40 tahun?”. Abu Hurairah menjawab, “Aku tidak bisa memastikan”.Lalu Nabi
melanjutkan sabdanya : “Lalu Allah menurunkan air (hujan) dari langit, maka manusiapun tumbuh
sebagaimana tumbuhnya sayur mayur (dari tanah). Dan tidak tersisa sesuatupun dari tubuh manusia
kecuali akan sirna satu tulang, yaitu ujung tulang ekor. Dari tulang tersebutlah disusun makhluk pada
hari kiamat” (HR Al-Bukhari no 4814 dan Muslim no 2955)
ٌَ ٞ ُُ
“Hati manusia pada waktu itu sangatlah ketakutan.” [ ª yِ ‫ َوا‬3ٖ ِ C َ 'ۡ َ2 ‫\ 'ب‬

Pada hari itu semua manusia siapapun ia, baik orang kafir, mukmin bahkan para Nabi dan Raosul pun
dalam ketakutan dengan ketakutan yang ber bertingkat-tingkat. Akan tetapi, orang kafir memiliki
ketakutan yang sangat sangat parah saat menyadari bahwa hari itu adalah hari kebangkitan. Firman
Allah SWT :

ً ْ ْ ُ ْ َ
-\‫ ُز ْر‬3ٍ ِ C َ 'ْ َ2 َ ِ ِ S ُ ‫ ُ ا‬un7‫َو‬

“dan Kami kumpulkan orang-orang yang berdosa dengan (wajah) biru muram.” (QS Thaha : 102)

Bukan hanya pucat putih, tapi hingga berwarna biru karena saking takutnya. Sebagian ulama
berpendapat mata mereka berubah menjadi biru karena saking ketakutan (Tafsiir Ibnu Katsir 5/278).

ٞ َ َٰ َ ُٰ َ َۡ
“pandangannya tunduk” ] ª ِuÎ -6 ÏcA

Keadaan manusia di hari kiamat tertunduk karena kedahsyatan yang mereka saksikan. Namun, apa
yang dikatakan orang-orang kafir?

َ َ ۡ َ ُ ُ ۡ َ َ َّ َ َ ُ ُ َ
ِ
&` ‫( ِ ة‬-n ‫ ٱ‬/ِ ( ‫ دودون‬-7ِ‫ ' 'ن أء‬H

“(Orang-orang kafir) berkata: “Apakah sesungguhnya kita benar-benar akan dikembalikan kepada
kehidupan semula?”

(Mereka berkata) yakni orang-orang kafir mengatakan dengan nada yang memperolok-olokkan
karena ingkar dan tidak percaya terhadap adanya hari berbangkit ("Apakah sesungguhnya kami
benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula?". Maksudnya, apakah kami sesudah mati
akan dikembalikan menjadi hidup seperti semula karena mereka heran mengapa mereka bisa

ٗ َ َّ ٗ ٰ َ َّ ُ َ َ
dihidupkan kembali.
&& ‫ ة‬5ِ 7 - Ðِ -.: ‫أءِذا‬
“apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kita telah menjadi tulang belulang yang hancur?”

Mereka tidak yakin apakah mereka akan di kembalikan kembali sebagaimana sedia kala sementara
mereka telah menjadi tulang belulang yang sudah lumat dan bersatu dengan tanah.

ٞ َ ََ ٗ َ ۡ ْ ُ َ
&4 ‫ َ ة‬Tِ - ‫ ّ ٌة‬: ‫ إِذا‬B ِ p ‫ 'ا‬-\

“Mereka berkata, kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan”

Dengan nada ingkar dan mengejek mereka mengatakan, "Pengembalian itu, jika benar-benar terjadi,
adalah suatu pengembalian yang merugikan, sedang kami bukanlah golongan yang bakal merugi.
ٞ ٞ َّ َ
“Maka pengembalian itu hanyalah dengan sekali tiupan saja” &< ‫ة‬bَِ ٰ¶َ ‫ َ ة‬yۡ ‫ َز‬/َِ 6 - َ @ِ–(

Kemudian Allah menjawab bahwa itu sangatlah mudah yakni satu kali tiupan saja. Malaikat Israfil
akan meniup sangkakala pada tiupan yang kedua, sehingga begitu ditiupkan maka semuanya akan
dibangkitkan oleh Allah subhanAllahu wata’ala.

َ ُ َ َ
“Maka seketika itu mereka hidup kembali di bumi (yang baru)” &I ِ ‫ َ ة‬6ِ -*ّ Žِc 6 ‫(–ِذا‬

Patut diketahui bahwasanya bumi tempat dibangkitkannya kelak bukanlah bumi yang kita pijak
sekarang ini akan tetapi bumi yang lain. Allah Ta’ala berfirman :

‫ر‬-?
َّ َ ْ
‫ا‬ b
ِ ِ ‫ا‬'َ ْ ‫ َ ُزوا ِ َّ ِ ا‬kَ ‫ات َو‬ َ َ *َّ ‫َ ْر ِض َوا‬iْ ‫ ْ َ ا‬Çَ ‫َ ْر ُض‬iْ ‫ ُل ا‬bَّ >َ ُ ‫َ ْ' َم‬2
ُ ‫و‬-
ِ

“(yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit-langit, dan
mereka (manusia) berkumpul (di padang mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Maha
Perkasa.” (QS Ibrahim : 48)

Pada hari kiamat nanti Allah akan menghancurkan alam semesta ini, dan Allah akan menggantikannya
dengan yang lain. Bumi yang akan menggantikan bumi sebelumnya di padang mahsyar tempat
seluruh manusia sejak Nabi Adam sampai hari kiamat akan dikumpulkan yaitu di padang mahsyar.

َ َّ َ َ َ ۡ َ ۡ َ َ ۡ ۡ ُ َ َ ۡ ُ َ َ ََٰ َۡ
&X /ٰ ‰«َ ‫ ُ ۥ‬7ِ‫ ( ِ ۡ ۡ'ن إ‬/ٰ ِ ‫ إ‬V 6‫& ٱذ‬R ‫ ِس ُ« ً'ى‬bّ ُ ‫ َ'ادِ ٱ‬Žِc ‫ ُ ۥ‬kّ ‫ ٰ ُ َر‬Y‫د‬-7 ‫& إِذ‬N /ٰٓ T'
َ ‚ُ Ñ2ِ
b BÒpA $6

“Apakah telah datang kepada engkau, tentang kisah Nabi Musa?“. “Tatkala Tuhannya
memanggilnya (Musa) di lembah suci yang namanya Thuwa”. “Pergilah engkau kepada Fir’aun.
sesungguhnya dia telah melampaui batas”

Tatkala Allah memanggil Musa di sebuah lembah suci yang bernama Thuwa, menunjukkan bahwa
telah terjadi dialog antara Allah dan Nabi Musa. Oleh karena itu, di dalam ayat yang lain Allah

َ ُْ َ ْ َََ
berfirman:
ْ (َ B
/ٰ َ 'ُ2 - َ ِ ²ْ ِ َ)T- p ) ‫ ا‬-7A‫و‬

“Dan Aku telah memilih engkau, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)” (QS
Thaha : 13)

Ini menunjukkan bahwasanya wahyu Allah didengar langsung oleh Nabi Musa ‘allaihissallam. Allah
berbicara dengan suara yang didengar langsung oleh Nabi Musa alaihissallam untuk mendakwahi
Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan. Sebelumnya Allah juga telah berbicara dengan Nabi-Nabi yang
lain, diantaranya adalah Nabi Ibrahim. Allah berfirman dalam ayat yang lain :
َ َ َ َ َ َ َ ََ ْ َ ْ َ ُْ َ َ َ َ َ َ َْ ْ َُْ َ ّ َ َ َ
- ّ ( /ِ 7‫ َ ا‬p ‫ ُ ( َ* ْ'ف‬7-_ َ ّ َ)T‫ا‬ ‫ (–ِ ِن‬$ِ >َ Sَ ‫ ا‬/ ِ‫ ْ إ‬G@‫ ِ ا‬aِ ٰÚ‫ َو‬/ِ 7‫ َ ا‬p ْ ‫ل‬-\ B ِ ‫ إ‬G@A Ûِ ِ‫ب أر‬ ِ ‫ل ر‬-\
ً َ ‚ُ َّ َ ً ّ َ َ َ ْ ِ ُ kُّ ‫ َر‬/ٰ َّ Sَ َp
- ِ œَ /ٰ T' ‫ َو‬-:‫ َ ُ د‬yَ $ِ >َ S

(Musa) Berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.”
(Allah) berfirman, “Engkau tidak akan sanggup melihat Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap
di tempanya niscaya engkau dapat melihat Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-
Nya) kepada gunung itu, gunung hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.“ (QS Al-A’raf : 143)
َّ َ َ َّ َ ۡ ُ َ
“Maka katakanlah, “Adakah keinginanmu untuk mensucikan dirimu?”” ٰ †َ َp ‫ أن‬/ٰٓ َ ِ ‫ إ‬B
&[ ½ $6 $ ˜

Ibnul Qoyyim rahimahullah -dalam kitabnya At-Tibyaan fi Aqsaam al-Qur’an (hal 140)- menjelaskan
betapa lembutnya perkataan Musa kepada Fir’aun tatkala mendakwahinya, yaitu Nabi Musa tidaklah
mengatakan perkataan dalam bentuk perintah, “Wahai Fir’aun taatlah kalau engkau tidak taat
kepadaku, engkau akan dimasukkan ke neraka jahnnam” tetapi Nabi Musa menggunakan metode
menawarkan dengan mengatakan ”Adakah keinginanmu untuk mensucikan dirimu?”.

َ ۡ َ َ َ َ َۡ
&] /ٰ u5)َ ˜ Bِkّ ‫ َر‬/ٰ ِ‫ إ‬Bَ2ِb6‫َوأ‬

“Dan engkau akan ku tujukkan ke jalan Tuhanmu agar engkau takut kepada-Nya?”

Maksudnya Nabi Musa siap memimpin untuk menunjuki jalan untuk mengetahui Allah ta’ala melalui
bukti-bukti yang ada supaya kamu takut kepada-Nya. karena itu lalu kamu takut kepada-Nya. Bentuk
kelembutan dakwah nabi Musa juga mengajak Fir’aun untuk kembali kepada Tuhannya, yang telah
menciptakannya, yang telah memberikan kerajaan dan kekuasaan kepadanya. Seperti seseorang
yang berkata kepada orang lain yang tidak taat kepada ayahnya, “Tidakkah kau taat dan kembali
kepada ayahmu, yang sayang kepadamu, yang telah merawatmu dll..”

َ ۡ َ
Perkataan Musa /ٰ u5)َ ˜ agar engkau takut kepada-Nya yaitu Musa berkata kepada Fir’aun, “Jika
engkau mendapat petunjuk menuju Rabbmu, engkau semakin mengenal Rabbmu, maka engkau akan
semakin takut kepadaNya, dan rasa takut kepada Allah sesuai kadar makrifatmu kepada Allah”

Namun yang terjadi adalah Fir’aun tidak beriman kepada Nabi Musa bahkan membalas seluruh
kelembutan ini dengan puncak kekufuran dan pembangkangan.

ُ ۡ ََ ُٰ َََ
ٰ َ >ۡ _
“lalu (Musa) menampakkan kepadanya mukjizat yang besar” 4` ‫ى‬ ‫ ٱ‬ª2Ó‫ ٱ‬Y‫ر‬i(

Nabi Musa diutus oleh Allah SWT di zaman banyak penyihir. Sehingga, mukjizat yang Allah pilihkan
untuk Nabi Musa, adalah mukjizat yang tidak bisa dilakukan oleh para penyihir. Nabi Musa memiliki
banyak mukjizat, diantara mukjizatnya yang paling besar adalah bisa mengubah tongkat menjadi ular.
Namun sebelum Nabi Musa bertemu dengan Fir’aun untuk menunjukkan mukjizat tersebut, Allah ‫ﷻ‬
terlebih dahulu melatih Nabi Musa. Allah mengisahkan di dalam Al-Quran :
ُ َ َُ َ َ َ َ َ ْ ََ
َ ‫ َو‬/ِ .َ Çَ /ٰ َ َ -?َ ِ c ©ُّ 6ُ ‫ َوأ‬-?َ ْ َ َ i™ّ 'َ َpA ‫ي‬-
ٰ‫ر ُب أ ْ َ ى‬Š َ -?َ ِ˜ ¼ o َ
/ِ6
َ َ
‫ل‬- \ ٰ
/ T'َ ‚ُ -َ2 Bَِ . ِ َ ^ B
ِ ِp - ‫و‬
ِ ِ .
َ ٌَ َ َ َ َْ َ َ َ
َ ‚ُ -َ2 -?َِ ْ A ‫ل‬-َ \َ .
/ٰ َ *ْ … ªّ َ /َِ 6 ‫ (–ِذا‬-6- s( . /ٰ T'

“Dan apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?” Dia (Musa) berkata, “Ini adalah tongkatku,
aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku
dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain”. Dia (Allah) berfirman, “Lemparkanlah ia (tongkatmu),
wahai Musa!” Lalu (Musa) melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang
merayap dengan cepat. (QS Thaha : 17-20)

Tatkala Nabi Musa melihat ular tersebut, Nabi Musa berlari karena takut. Allah mengisahkan dalam
ayat yang lain:

َ َّ ْ َ َ َ َ ْ ْ َ ٰ َ ُ َ ْ ّ َ ُ ْ َ َ ً ْ ُ ٰ َّ َ ٌّ َ َ َّ َ َ ُّ َ ْ َ َ َ َّ َ َ َ َ َ ْ َ ْ َ َ
َ ِ .ِ Šْ ‫ ِ َ ا‬B 7ِ‫® ۖ إ‬5p - ‫ و‬$ِ>\‫ أ‬/T'‚ -2 ۚ Vِ H ‫ ِ ا و‬cb ¼‫ن و‬-y -?@s: †)? -6‫ رآ‬- ( ۖ ‫ك‬-o {ِ A ‫وأن‬

“Dan lemparkanlah tongkatmu.” Maka ketika dia (Musa) melihatnya bergerak-gerak seakan-akan
seekor ular (yang gesit), dia lari berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Allah berfirman), “Wahai
Musa! Kemarilah dan jangan takut. Sesungguhnya engkau termasuk orang yang aman. (QS Al-
Qashash : 31)

Allah menenangkan Nabi Musa yang berlari ketakutan. Setelah Musa menampakkan mukjizatnya
kepada Fir’aun yaitu tongkat menjadi ular, dia pun mengangkatnya menjadi tongkat kembali seperti
sediakala. Itulah diantara mukjizat besar dari Nabi Musa yang ditampakkan di hadapan Fir’aun.
Dengan sebab inilah orang-orang musyrik dan para penyihir di zaman Fir’aun beriman kepada Nabi
Musa. Allah berfirman :

َ َُ َ ُ ُ َ َ َ ْ َُۡ َۡ َ َ َ ۡ َ ۡ َ َ َّ َ َ ُ َ ّ َ ٓ َ ّ َ ۡ ُ َ ٓ َ ّ ٰٓ َ ُ ٰ َ ْ ُ َ
ِ ۡ ِ ‫ إ‬$ّ 5ُ2 ۡ ?ُ ّ oِ ِ َ
‫و‬ ۡ ُ
? - >ِ ‫ا‬ ‫ذ‬ِ –( ۖ
‫'ا‬ A $ c ‫ل‬- \ RN / ٰ A ‫'ن أول‬a7 ‫ أن‬- ; /ِ p ‫ أن‬- ِ‫ إ‬/T' g ‫ 'ا‬-\
َۡ َ ۡ َ ۡ َ َ َ َّ ۡ َ َ َ َ ۡ ُ َ ُّ ªٗ َ ِ ‫ َ@ ۡ *ِ ِۦ‬/ِ ( }َ yَ ‫َ ۡو‬iَ( RR /ٰ َ *ۡ َ … -?َ @َّ Aَ ۡ ِ6 nِ ۡ
{ِ A‫ َو‬R[ /ٰ i ‫‘ ٱ‬7 ‫ أ‬B7ِ‫® إ‬5p - -. \ RX /ٰ T' ِ T ِ
ُ‫ َ ة‬nَ *َّ ‫ ٱ‬/َ ۡ sُ (َ R] /ٰ َpAَ Ñ ُ ۡ َ ُ َّ ُ ۡ ُ َ َ
ِ -* ‫ ِ¯ ٱ‬H - ‫ و‬Üٖ n ٰ َ bُ ۡ :َ ْ ‫ ُ 'ا‬.َ œَ - َ @َّ ِ‫ ُ ٓۖ'ا ْ إ‬.َ œَ - َ ®ۡ َ ۡ َp Bَِ . ِ َ2 /ِ ( - َ
ِ ِ j
َ ‚ُ ‫ون َو‬ َ ُ ٰ َ ّ َ َ ّ َ َ ْ ٓ ُ َ ٗ َّ ُ
X` /ٰ T' r‫ب‬ ِ ِ c -. ‫ 'ا ءا‬-\ ‫ا‬bST

Mereka berkata, “Wahai Musa! Apakah engkau yang melemparkan (dahulu) atau kami yang lebih
dahulu melemparkan?”. Dia (Musa) berkata, “Silahkan kamu melemparkan!” Maka tiba-tiba tali-tali
dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya (Musa) seakan-akan ia merayap cepat, karena sihir
mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berfirman, “Jangan takut! Sungguh,
engkaulah yang unggul (menang). Dan lemparkan apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan
menelan apa yang mereka buat. Apa yang mereka itu hanyalah tipu daya penyihir (belaka). Dan tidak
akan menang penyihir, dari mana pun ia datang. Lalu para penyihir itu merunduk bersujud, seraya
berkata, “Kami telah percaya kepada Tuhannya Harun dan Musa.” (QS Thaha : 65-70).
َ َ َ ُ َّ ُ َ َ َ َ َ ۡ َ ۡ ُ ُ ُّ َ ۠ َ َ َ َ َ َ ََ َ َ َ َ َ ۡ َ َّ ُ َ َّ َ َ
‫ل‬-a7 ‫ه ٱ‬3 i( 4I / i ‫ ٱ‬ak‫ ر‬-7A ‫ل‬- ˜ 4< ‫دى‬-.˜ un( 44 / *+ c‫ أد‬d 4& /ٰ oَ ‫ َب َو‬3_(
ٰ ٰ ٰ َ ۡ َ َ
ُ
ٓ ٰ َ iۡ ‫ ِ َ ة ِ َوٱ‬Ó‫ٱ‬
4N ¼‫و‬
“Tetapi dia (Fir’aun) mendustakan dan dan mendurhakai”. “Kemudian dia berpaling seraya berusaha
menantang (Musa)”.“Kemudian dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru
(memanggil kaumnya)”. “(Seraya) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. “Maka Allah
menghukum Fir’aun dengan siksaan yang terakhir dan siksaan yang pertama”

(Maka Allah membinasakannya) yakni menenggelamkannya hingga binasa, kemudian dimasukkan ke


alam kubur dan disiksa di dalamnya, lalu siksaan yang terakhir adalah di neraka jahannam. Jarak dari
Fir’aun mengaku dirinya Tuhan hingga di tenggelamkan adalah 40 tahun.

َ ۡ ّ ٗ َ َ َ َّ
4R /ٰٓ u5َ2 َ ِ ‫ ِۡ> َ ة‬Bِ ٰ • /ِ ( ‫إِن‬

“Sungguh pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang yang takut (kepada Allah)”

Tujuan Allah menceritakan kisah Fira’un dan bagaimana kehancurannya adalah untuk menjelaskan
bahwa orang-orang yang ingkar keda Allah SWT nasibnya akan sama dengan Fir’aun. ungguh pada
kisah itu terdapat pelajaran amat berharga bagi orang-orang yang takut kepada Allah.

َ ٰ َّ َ َ َ َ ۡ َ َ َ َ َ ٰ َ َ ُ ٓ َ َّ ِ َ ً ۡ َ ُّ َ َ ۡ ُ َ َ
4[ -?Y'*( -?_ T ²˜‫ ر‬4X -?Ò„c ۚ ‫ء‬- * ‫ أم ٱ‬- bš‫) أ‬7‫ءأ‬

“Apakah penciptaan kalian yang lebih hebat, ataukah langit yang telah dibangun-Nya?”. “Dia telah
meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya”

Maksudnya bahwa seakan Allah berkata “Wahai orang-orang yang mengingkari datangnya hari
kebangkitan, apakah proses penciptaan diri kalian lebih sulit bagi Kami daripada penciptaan langit?"
Tuhan telah menghimpun bagian-bagian langit yang berserakan menjadi utuh. Tuhan telah
meninggikan gugusan-gugusan bintang. Langit itu telah dijadikan oleh Allah sedemikian padu tanpa
ada satu ketimpangan”. Allah telah menyempurnakan bangunan langit hingga ke tujuh. Padahal,
tidak satu manusaiapun yang pernah mencapai langit pertama saja.

َ ۡ َ
‫ل‬->َ S ‫ٱ‬‫و‬ <& - َ ٰ Ò َ ۡ ‚َ ‫ َو‬-6َ ‫ ٓ َء‬- َ -?َ .ِۡ ‫ ٓ `< أَ ۡ َ َج‬-?َ ٰ Ò َ ‫ َد‬Bَِ ٰ •َ bَ ۡ ^َ ‫ض‬Â
?
َ َۡ َ
i ‫ٱ‬‫و‬ 4] - َ ٰ Ònَ Æُ ‫ َوأَ ۡ َ َج‬-?َ َ ۡ َ ©َ !َ Çۡ َ ‫َوأ‬
?
ِ
ۡ ُ ٰ َ ۡ َ َ ۡ ُ َّ ٗ ٰ َ َ َ ٰ َ ۡ َ
<< aِ O7sِ ‫ و‬a - W <4 -?ÒT‫أر‬

“Dan Dia menjadikan malamnya (gelap gulita), dan menjadikan siangnya (terang benderang)“. “Dan
setelah itu bumi Dia hamparkan”. “Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-
tumbuhannya”. “Dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh“. “(semua itu) untuk
kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu”.
ُ ْ َُ َ َ yَ ‫َ(– َذا‬
<I ‫ ا _>ْ َ ى‬ª ّ -!ّ ‫ت ا‬
ِ ‫ء‬- ِ
ُ َٓ َ
ª ّ -!ّ ‫ ٱ‬artinya mencakup seluruhnya, yaitu malapetaka tersebut sangat dahsyat karena meliputi
segala sesuatu.

ُ ْ ْ َّ َ
“Pada hari saat manusia teringat akan apa yang telah dia kerjakan” <N / َ Tَ - َ ‫ن‬-*َ •ِ– ‫ ُ ا‬:3)َ Hَ ‫َ ْ' َم‬2

Artinya pada hari tersebut seluruh umat manusia akan mengingat seluruh perbuatan yang dia
kerjakan selama di dunia. Tidak ada sedikit pun amalan yang dia luput dari mengingatnya, baik
amalan kebajikan maupun amalan keburukan, meskipun saat di dunia banyak dari amal keburukan
kita yang manusia lupakan. Akan dibukakan buku catatan amal seluruh manusia. Kaki dan tangan
akan menjadi saksi, kulit-kulit akan berbicara, malaikat, bumi akan menjadi saksi, maka bagaimana
kita tidak akan mengingat apa yang telah kita kerjakan? Oleh karena itu, hari tersebut merupakan
hari yang sangat dahsyat.
ٰ َ َ2 َ ِ ُ n
<R ‫ى‬ َ ۡ ‫ ّ َز‬kُ ‫َو‬
ِ S‫تٱ‬ ِ ِ

“Dan neraka diperlihatkan dengan jelas kepada setiap orang yang melihat”

Pada hari tersebut neraka jahannam akan diperlihatkan, dalam hadist yang shahih yang diriwayatkan
dari sahabat Abdullah bin Mas’ud bahwasanya Nabi ‫ ﷺ‬bersabda:

ُ َ2 Bَ ‚َ ®َ ْ Aَ ‫'ن‬
َ َ7‫ ُّ و‬S َ ُ ْ َ َ ّ ُ َ َ َ َ ْ َ َ ُ ْ َ َ َ َ ْ َ َ َّ َ َ َ ْ ُ
>T Mٍ - ‫ ِز‬$ِ : ² Mٍ - ِ‫ ® ز‬A ‫> 'ن‬T -? 3ٍ ِ C '2 .?Sِc ¹‹2
ٍ

“Jahannam akan didatangkan pada hari itu dan dia mempunyai 70 tali kekang, dan setiap tali kekang
akan ditarik oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim no. 2842)

Berdasarkan hadits ini jika dihitung maka jumlah malaikat yang akan menarik untuk menghadirkan
neraka jahannam adalah sekitar 4 milyar 900 juta malaikat. Sebagian ahli tafsir mengatakan
bahwasanya yang melihat neraka jahannam nanti hanyalah orang-orang kafir. Tatkala diperlihatkan
neraka jahannam beserta isinya dan segala kedahsyatannya mereka akan ketakutan dan kengerian.
Adapun ada sebagian ahli tafsir mengatakan jika orang mukmin juga melihat neraka jahannam dan
mereka bersyukur terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah, karena telah menyelamatkannya dari
adzab yang sangat pedih yang kekal dan abadi dan Allah ‫ ﷻ‬telah memasukkannya ke dalam surga
yang kekal dan abadi pula. (lihat Tafsir al-Qurthubi 19/207).
ۡ ۡ َ ۡ َّ َ ۡ ُّ َ ٰ َ َ ۡ َ َ َ َ َ َ َ َّ َ َ
ٰ َ َ َ َ
<] ‫وى‬i ‫ ٱ‬/ِ6 n َ ٰ
ِ S ‫ [< (–ِن ٱ‬- @b ‫ 'ة ٱ‬n ‫< وءا= ٱ‬X /‰« - i(

“Maka adapun orang yang melampui batas”. “Dan lebih mengutamakan kehidupan di dunia
daripada kehidupan di akhirat”. “Maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya”

Inilah keadaan orang-orang kafir lalai bahwasanya ada hari akhirat yang menanti, ada adzab yang
abadi dan ada pula kenikmatan yang abadi. Ketika keyakinan terhadap akhirat mulai hilang dari hati,
mereka akan mendahulukan kehidupan dunia. Adapun seorang mukmin, mereka hanya menjadikan
dunia sebagai sarana dan bukan sebagai tujuan, karena tidak mungkin meraih akhirat kecuali setelah
melewati dunia ini. Mereka hanya menjadikan dunia sebagai sarana untuk beribadah dan mencari
akhirat. Seorang mukmin mencari dunia namun tidak lupa dengan akhirat. Dunia hanyalah sarana
untuk mengingat akhirat. Maka, barangsiapa yang kedurhakannya telah melampaui batas, yang
memilih untuk diri sendiri kehidupan dunia yang fana, tempat tinggalnya di akhirat adalah neraka
yang apinya berkobar-kobar, dan tidak ada tempat selain itu bagi dirinya.

ٰ َ َ ۡ َ َ ۡ َّ َ َ َ ّ َ َ َ َ َ َ ۡ َ َّ َ َ
I` ‫ } ِ ٱ ?'ى‬. ‫ ٱ‬/?@‫ ِ ِۦ و‬k‫م ر‬- ‫ف‬- - ‫وأ‬

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan)
hawa nafsunya”

Dia takut karena mengingat bahwasanya dia akan disidang oleh Allah ‫ﷻ‬. Ia takut akan kebesaran dan
keagungan Tuhannya, sehingga mengendalikan diri dari hawa nafsu agar tidak terjerumus pada
jurang kemaksiatan.

ۡ ۡ َ َ َ ۡ َّ َ
“maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya” I& ‫وى‬i َ ‫ ٱ‬/َِ 6 ª.ّ S
ٰ َ ‫(–ِن ٱ‬

Merupakan kesimpulan makna yang terkandung di dalam jawab syarat ini ialah, bahwasanya orang
yang durhaka akan dimasukkan ke dalam neraka, dan orang yang taat akan dimasukkan ke dalam
surga. Dan barangsiapa yang takut akan kebesaran dan keagungan Tuhannya, yang mengendalikan
diri dari hawa nafsu, tempat tinggalnya adalah surga yang menyenangkan.

َ ََ َ َ َ َ َ ُ
I4 -?َ ٰ ÒTَ ۡ ‚ُ ‫ن‬-ّ2A ªِ -*ّ ‫ ِ ٱ‬B7' َ¡ٔ¡}ۡ َ +

“mereka bertanya kepadamu (Muhammad) kapan tiba hari kiamat?”

Pertanyaan semacam ini ulama adalah pertanyaan ejekan kepada Nabi ‫ﷺ‬. Andai saja hari kiamat
benar-benar terjadi dengan segala kengerian dan kedahsyatannya, lantas kapankah hari kiamat?
Mereka menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini kepada Nabi ‫ ﷺ‬dalam rangka untuk mengejeknya,
akan tetapi Nabi ‫ ﷺ‬tidak memperdulikan pertanyaan mereka. Namun rupanya mereka mengulangi
pertanyaan-pertanyaan tersebut, menanyakan kapan terjadinya kiamat. Sampai akhirnya disebutkan
oleh seorang ahli tafsir, Nabi ‫ ﷺ‬bertanya kepada Allah ‫ ﷻ‬tentang kapankah itu hari kiamat karena
desakan orang-orang musyrikin (Tafsiir al-Qurthubi 19/209). Akhirnya Allah ‫ ﷻ‬menjawab

“untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)?”


ٓ ۡ َ َ ‫˜ِ َ أ‬
I< -?َ ٰ Y َ :ِ‫‘ ِ ذ‬7

Yaitu seakan akan Allah berkata kepada Nabi, “Janganlah bertanya tentang kapan hari kiamat,
sesungguhnya hal itu bukanlah urusanmu, ketahuilah, bahwa kamu tidak memiliki pengetahuan
tentang hal itu, hingga kamu dapat memberitahu mereka”. (Tafsiir al-Qurthubi 19/209). Hal ini karena
yang mengetahui hari kiamat hanya Allah ‫ﷻ‬, tidak ada selain-Nya yang mengetahui hari kiamat
bahkan malaikat Jibril pun tidak tahu.
ٓ َ ُ َ َّ َ
“Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahannya (ketentuan waktunya)” II -?َ ٰ Ò?َ ). Bِk‫ ر‬/ٰ ِ ‫إ‬

Bahwasanya ilmu tentang hari kiamat dikembalikan kepada Allah ‫ﷻ‬, yaitu mengenai ketentuan
waktunya, tiada seseorang pun yang mengetahuinya selain Dia.

َ ٰ َ ۡ َ َ ُ ُ َ َ ٓ َ َّ
IN -?Òu52 ‫ِر‬3. ‘7‫ أ‬- @ِ‫إ‬

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut akan hari
kiamat tersebut”

Tugasmu hanyalah memperingatkan orang-orang yang takut pada hari kiamat, bukan memberitahu
mereka kapan kiamat datang. Adapun orang-orang kafir yang tidak takut akan hari kiamat tidak akan
mendapatkan faidah dari peringatan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Yang mendapatkan
faidah dari peringatan ini adalah orang yang beriman terhadap hari kiamat dan hari kebangkitan.

َ Æُ ‫ أَ ۡو‬ªً َّ ِu َ -َّ ‫َ ۡ َ> ُ• ٓ'ا ْ إ‬2 ۡ َ -?َ @َ ‫َ َ ۡو‬2 ‫َ ۡ' َم‬2 ۡ ?ُ @َّ sَ :َ
IR -?َ ٰ Òn ِ

“pada hari ketika mereka melihat hari kiamat itu, mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja)
tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari”

Tatkala mereka menyaksikan sendiri kedahsyatan hari kiamat, mereka pun mulai menyadari
bahwasanya mereka akan kekal dalam nereka Jahannam dan hidup di dunia hanya sementara. Allah
‫ ﷻ‬berfirman dalam ayat yang lain :

َ ُ َ ُ َ َ ْ َ َ َ ْ َ ْ ُ َّ َ َ
َ @َّ ِ ّ ªً َ -Tَ -َّ ‫َ ْ َ> ُ•'ا إ‬2 ْ َ ‫ون‬
‫ر‬-
ٍ ? ِ b '2 - ‫ ون‬2 ‫'م‬2 ?@s:

“Pada hari mereka melihat azab yang dijanjikan, mereka merasa seolah-olah tinggal (di dunia) hanya
sesaat saja pada siang hari.” (QS Al-Ahqaf : 35)

Mereka merasa seakan-akan selama ini mereka hidup di dunia hanya sebentar saja. Hari akhirat
dinamakan hari akhirat karena itu adalah hari terakhir, hari penghujung yang tidak ada lagi hari
setelahnya. Seseorang yang membandingkan kehidupan yang abadi dan kekal dengan kehidupannya
yang selama ini dia jalani didunia ini niscaya tidak akan bisa dibandingkan. Diibaratkan dalam
matematika jika 100 tahun dibandingkan dengan kekekalan niscaya tidak akan bisa dibandingkan.
Kebanyakan kita, 1/3 waktu hidupnya kita digunakan untuk tidur.

Andaikan umur manusia itu 60 tahun, kemudian 1/3 waktunya digunakan untuk tidur yaitu 20 tahun.
Kemudian masa kecil sampai dia dewasa 15 tahun. 60 dikurangi 20 tinggal 40, 40 dikurangi 15 tinggal
25 tahun, itulah hidup yang hakiki. Sehingga hidup yang benar-benar dia rasakan hanya sebentar.
Lantas berapa tahun yang dia gunakan untuk beribadah dibandingkan untuk mencari dunia dari
umurnya tersebut. Oleh karena itu, seseorang yang cerdas akan lebih mengutamakan kehidupan
akhirat daripada kehidupan dunia. Karena dia tahu kehidupan dunia hanyalah sementara. Dan
kehidupan dunia baginya hanyalah sarana untuk memasuki kehidupan yang kekal lagi abadi yaitu
kehidupan akhirat.

Wallahu a’lam bishowab.

Anda mungkin juga menyukai