Anda di halaman 1dari 12

43

BAB IV
TUGAS KHUSUS

4.1 Latar Belakang


Boiler adalah bejana tertutup yang merubah energi kimia dari pembakaran
bahan bakar menjadi energi termal, kemudian energi termal tersebut dialirkan ke
fluida kerja di dalamnya yang biasanya berupa air sehingga fluida tersebut akan
berubah fasa dari cair ke uap. Dalam hal ini menggunakan fluida air yang biasanya
digunakan pada proses yang bertemperatur tinggi dan juga perubahan parsial menjadi
energi mekanik di dalam turbin uap. Seperti halnya pada boiler di Pusat Penelitian
dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan
Konservasi Energi (P3TKEBTKE) Dept. ESDM RI juga menggunakan fluida kerja
berupa air umpan.
PLTU pangkalan susu unit 3 beroperasi dari tahun 2018. Unit ini tergolong
masih baru namun unjuk kerja dari unit ini juga harus tetap dipantau agar tidak
mengalami banyak penurunan, salah satunya adalah boiler. Turunnya unjuk kerja
boiler disebabkan antara lain: buruknya pembakaran, kotornya permukaan penukar
panas, buruknya operasi dan pemeliharaan. Dengan turunnya unjuk kerja boiler akan
memberi dampak terhadap penurunan efisiensi keseluruhan unit 3 yang tidak mampu
lagi menghasilkan daya sebesar pada saat komisioning. Dengan kondisi ini perlu
adanya pengkajian dan penanganan tentang studi dan analisis unjuk kerja boiler.
Karena performa kerja boiler sangat berpengaruh terhadap daya yang dihasilkan oleh
sebuah PLTU. Dari hasil analisa yang didapat nantinya diharapkan dapat dilakukan
tindak lanjut yang berdampak pada peningkatan unjuk kerja boiler dan otomatis
peningkatan keseluruhan unit 3 di PLTU Pangkalan Susu, unit bisnis jasa operasi dan
maintenance pembangkitan Pangkalan Susu.
44

4.1.1 Judul Tugas Khusus


Perhitungan Efisiensi Boiler Unit 3 PT PLN (Persero) Unit Pelaksana
Pembangkit Pangkalan Susu Unit 3 dan 4 Dengan Menggunakan Metode Langsung
(Direct Method )
4.1.2 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tugas Khusus
Tempat pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ini adalah di water treatment
plant di PT PLN (Persero) unit pelaksana pembangkit pangkalan susu unit 3 dan 4
desa tanjung pasing, kabupaten langkat, Sumatra utara. Pelaksanaan Praktek Kerja
Lapangan dilakukan sejak tanggal 11 agustus 2020 -11 September 2020.

4.1.3 Objek Tugas Khusus


Pada tugas khusus ini penulis mengambil objek boiler unit 3 di PT PLN
(Persero) unit pelaksana pembangkit pangkalan susu unit 3 dan 4.

4.1.4 Tujuan Tugas Khusus


Tujuan dari tugas khusus ini adalah:
1. untuk menghitung efesiensi boiler PLTU unit 3 PT PLN (Persero) unit
pelaksana pembangkit pangkalan susu pada unit 3 dan 4.
2. untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi penurunan effisiensi PLTU unit
3 PT PLN (Persero) unit pelaksana pembangkit pangkalan susu pada.

4.1.5 Metodelogi Kerja Praktek


Untuk pengumpulan dan pengolahan data selama Kerja Praktek,penulis
menggunakan metode sebagai berikut :
 Observasi : Yaitu dengan mengamati proses dilapangan
45

 Interview : Yaitu dengan melakukan wawancara,Diskusi serta Bertanya


langsung pada operator di laboratorium dan Engineer pada Main Control
Room
46

 Mengambil dan mempelajari data pada panel Main Control Room dan
Laboratorium
 Studi literatur : Yaitu dengan mempelajari berbagai buku yang berkaitan
dengan proses dan tugas khusus
 Serta konsultasi langsung dengan pembimbing/Mentor.

4.2 Landasan Teori


4.2.1 Pengertian Boiler
Boiler adalah bejana tertutup yang merubah energi kimia dari pembakaran
bahan bakar menjadi energi termal, kemudian energi termal tersebut dialirkan ke
fluida kerja di dalamnya yang biasanya berupa air sehingga fluida tersebut akan
berubah fasa dari cair ke uap. Salah satu peralatan yang sangat penting di dalam suatu
pembangkit tenaga listrik adalah Boiler (Steam Generator) atau yang biasanya disebut
ketel uap. Alat ini merupakan alat penukar kalor, dimana energi panas yang
dihasilkan dari pembakaran diubah menjadi energi potensial yang berupa uap. Uap
yang mempunyai tekanan dan temperatur tinggi inilah yang nantinya digunakan
sebagai media penggerak utama Turbin Uap. Energi panas diperoleh dengan jalan
pembakaran bahan bakar di ruang bakar.

4.2.2 jenis-jenis boiler


Berbagai jenis boiler yang digunakan dalam industri adalah: Fire tube boiler,
Water tube boiler, Paket boiler, Fluidized bed combustion boiler, Atmospheric
fluidized bed combustion boiler, Pressurized fluidized bed combustion boiler,
Circulating fluidized bed combustion boiler, Stoker fired boiler, Pulverized fuel
boiler, Boiler pemanas limbah (Waste heat boiler) dan and Pemanas fluida termis.
1. Fire Tube Boiler
47

Pada fire tube boiler, gas panas melewati pipa-pipa dan air umpan boiler ada
didalam shell untuk dirubah menjadi steam. Fire tube boilers biasanya
digunakan untuk kapasitas steam yang relative kecil dengan tekanan steam
rendah sampai sedang.
2. Water Tube Boiler
Pada water tube boiler, air umpan boiler mengalir melalui pipa-pipa masuk
kedalam drum. Air yang tersirkulasi dipanaskan oleh gas pembakar
membentuk steam pada daerah uap dalam drum. Boiler ini dipilih jika
kebutuhan steam dan tekanan steam sangat tinggi seperti pada kasus boiler
untuk pembangkit tenaga.
3. Paket Boiler
Disebut boiler paket sebab sudah tersedia sebagai paket yang lengkap. Pada
saat dikirim ke pabrik, hanya memerlukan pipa steam, pipa air, suplai bahan
bakar dan sambungan listrik untuk dapat beroperasi. Paket boiler biasanya
merupakan tipe shell and tube dengan rancangan fire tube dengan transfer
panas baik radiasi maupun konveksi yang tinggi. Ciri-ciri dari packaged
boilers adalah: (1) Kecilnya ruang pembakaran dan tingginya panas yang
dilepas menghasilkan penguapan yang lebih cepat. (2) Dirancang dengan
transfer panas, penguapan, transfer panas konveksi dan tingkat efisiensi panas
yang tinggi. (3) Diklasifikasikan berdasarkan jumlah pass, yang paling umum
adalah unit tiga pass.
4. Boiler Pembakaran dengan Fluidized Bed (FBC)
Pembakaran dengan fluidized bed (FBC) memiliki kelebihan dibanding sistim
pembakaran yang konvensional karena rancangan boiler yang kompak,
fleksibel terhadap bahan bakar, efisiensi pembakaran yang tinggi dan
berkurangnya emisi polutan yang merugikan seperti SOx dan NOx. Dapat
digunakan bahan bakar batubara kualitas rendah, limbah industri dan
komersial, sekam padi, bagas & limbah pertanian lainnya. Kisaran suhu
48

operasinya cukup luas antara 840oC – 950oC dengan kapasitas antara 0.5
T/jam sampai lebih dari 100 T/jam.

5. Stoker Fired Boilers Stokers


diklasifikasikan menurut metode pengumpanan bahan bakar ke tungku dan
oleh jenis grate nya. Klasifikasi utamanya adalah spreader stoker dan chain-
gate atau traveling-gate stoker. Jenisnya antara lain Spreader stokers dan
chain-grate atau travelinggrate stoker
6. Pulverized Fuel Boiler
Kebanyakan boiler stasiun pembangkit tenaga yang berbahan bakar batubara
menggunakan batubara halus, dan banyak boiler pipa air di industri yang lebih
besar juga menggunakan batubara yang halus. Teknologi ini berkembang
dengan baik dan diseluruh dunia terdapat ribuan unit dan lebih dari 90 persen
kapasitas pembakaran batubara merupakan jenis ini. Sistim ini memiliki
banyak keuntungan seperti kemampuan membakar berbagai kualitas batubara,
respon yang cepat terhadap perubahan beban muatan, penggunaan suhu udara
pemanas awal yang tinggi dll.
7. Boiler Limbah Panas
Boiler ini beroperasi dengan memanfaatkan limbah panas yang tersedia dalam
pabrik, seperti gas panas dari berbagai proses, gas buang dari turbin gas dan
mesin diesel.

4.2.3 Pengkajian Efisiensi Boiler


Efisiensi termis boiler adalah energi panas masuk yang digunakan secara
efektif untuk menghasilkan steam.
Ada dua metode pengkajian efisiensi boiler:
1. Metode Langsung
49

energi yang terkandung dalam steam dibandingkan dengan energi yang


terkandung dalam bahan bakar boiler. Dikenal juga sebagai ‘metode input-output’
karena metode ini hanya memerlukan keluaran/output (steam) dan panas masuk/input
(bahan bakar) untuk evaluasi efisiensi. Efisiensi ini dapat dievaluasi dengan
menggunakan persamaan:
panas masuk
Efisiensi Boiler = X 100%..............................................
panas keluar
(4.1)
Q X (hq-hf)
Efisiensi Boiler = X 100...................................................
q x GCV
(4.2)
Dimana :
hg : Entalpi steam jenuh dalam kkal/kg steam
hf : Entalpi air umpan dalam kkal/kg air
Q : Laju alir uap sebelum masuk turbin dalam kg/jam
Parameter yang dipantau untuk perhitungan efisiensi boiler dengan metode
langsung adalah:
a. Jumlah steam yang dihasilkan per jam (Q)
b. Jumlah bahan bakar yang digunakan per jam (q)
c. Tekanan kerja (dalam kg/cm2(g)) dan suhu lewat panas (0C),
d. jika ada Suhu air umpan (0C)
e. jenis bahan bakar dan nilai panas kotor bahan bakar (GCV) dalam kkal/kg
bahan bakar

Keuntungan metode langsung


1. Efisiensi boiler dapat segera dievaluasi
2. Memerlukan sedikit parameter untuk perhitungan
3. Memerlukan sedikit instrumen untuk pemantauan
4. Mudah membandingkan rasio penguapan dengan data benchmark
50

Kerugian metode langsung


1. Tidak memberikan petunjuk kepada operator tentang penyebab dari efisiensi
masing-masing sistim
2. Tidak menghitung berbagai kehilangan pada berbagai tingkat efisiensi

2. Metode Tidak Langsung


efisiensi merupakan perbedaan antara kehilangan dan energi yang masuk.
Standar acuan untuk Uji Boiler di Tempat dengan menggunakan metode tidak
langsung adalah British Standard, BS 845:1987 dan USA Standard ASME PTC-4-1
Power Test Code Steam Generating Units.
Adapun persamaan untuk menghitung effisiensi Boiler dengan metode ini
adalah sebagai berikut
input-losses
η= x 100%.........................................................................(4.3)
input
Input merupakan energi panas yang diperoleh dari tranformasi energi kimia
yang terkandung dalam bahan bakar, sehingga input merupakan nilai kalori bahan
bakar. Sedangkan untuk losses atau kerugian yaitu:
1. Kerugian panas karena gas panas kering ( dry flue gas loss)
2. Kerugian panas karena kandungan hidrogen dalam bahan bakar ( H2 in fuel)
3. Kerugian panas karena kandungan air dalam bahan bakar ( moisture in fuel)
4. Kerugian panas karena kandungan air dalam udara ( moisture in air)
5. Kerugian panas karena Carbon Monoksida ( CO loss)
6 Kerugian panas karena permukaan radiasi, konveksi dan yang tidak terhitung
lainnya.
7. Kerugian karena tidak terbakarnya fly ash( carbon)
8. Kerugian karena tidak terbakarnya bottom ash (carbon)

faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi boiler tersebut.


1. Excess air
51

Pembakaran di dalam sistem boiler selalu membutuhkan udara lebih dengan


maksud untuk mencapai pembakaran sempurna. Untuk meningkatkan efisiensi
boiler, besarnya excess air dapat diatur. Excess air yang rendah menyebabkan
pembakaran kurang sempurna sehingga terbentuk gas CO. Sedangkan excess
air yang terlalu tinggi dapat meningkatkan kerugian panas yang terbawa oleh
gas buang yang keluar melalui cerobong. Terdapat perbandingan tertentu
antara udara pembakaran dengan bahan bakar sehingga boiler akan bekerja
dengan efisiensi terbaiknya.
2. Alat pembakar/burner
Burner berfungsi untuk mencampur udara pembakaran dengan bahan bakar.
Performansi burner mempunyai pengaruh yang penting terhadap efisiensi
boiler karena mempengaruhi kebutuhan excess air. Burner yang baik akan
membentuk campuran bahan bakar dan udara pembakaran dengan excess air
yang minimum.
3. Temperatur gas buang/flue gas
Tingginya temperatur gas buang berarti bahwa tingginya panas yang dibawa
gas buang. Jika panas tersebut terbawa keluar cerobong oleh flue gas, maka
hal ini merupakan suatu kerugian.
4. Temperatur feedwater boiler
Efisiensi boiler dapat dinaikkan dengan menaikkan temperatur feedwater.
Dengan menaikkan temperatur feedwater, berarti jumlah panas yang diserap
oleh feedwater dari flue gas untuk membentuk uap jadi berkurang. Dengan
demikian, pemakaian bahan bakar menjadi berkurang. Cara untuk menaikkan
temperatur feedwater yaitu dengan menggunakan ekonomiser.
5. Tekanan uap/ steam pressure
Keuntungan penurunan tekanan kerja operasi boiler akan menurunkan
kerugian panas akibat radiasi pada boiler, menurunkan konsumsi energi dari
pompa feedwater boiler dan memperkecil kehilangan energi pada terminal
52

penurunan tekanan. Akan tetapi, besarnya penurunan uap tekanan kerja


operasi dibatasi oleh kebutuhan uap dan pipa distribusi uap pada boiler.
6. Blowdown
juga berpengaruh terhadap efisiensi boiler. Endapan yang terbentuk didinding
tube pada sisi air dapat mengurangi efisiensi dan bahkan kerak dapat merusak
tube karena over heating. Endapan-endapan tersebut disebabkan oleh
tingginya konsentrasi suspended solid dan dissolved solid, hal itu juga dapat
menyebabkan terbentuknya busa (foam) sehingga menyebabkan carry over.
Oleh karena itu konsentrasi solid harus dijaga pada kondisi tertentu, dan ini
dilakukan dengan proses blowdown, dimana air dibuang keluar dan segera
digantikan oleh air umpan boiler. Karena blowdown adalah air yang
dikeluarkan dalam keadaan temperatur tinggi, maka hal ini merupakan
pembuang panas yang mengakibatkan penurunan efisiensi.
7. Pengaruh bahan bakar
Komposisi yang berbeda dari bahan bakar mempunyai pengaruh terhadap
efisiensi boiler. Pengaruh tersebut ditentukan oleh kandungan hidrogen dalam
bahan bakar yang akan menyebabkan perbedaan moisture content dalam flue
gas dan perbedaan jumlah panas yang dilepas pada pembakaran bahan bakar.
8. Endapan
Endapan dalam boiler dapat diakibatkan dari kesadahan air umpan dan hasil
korosi dari sistim kondensat dan air umpan. Kesadahan air umpan dapat
terjadi karena kurangnya sistim pelunakan.Endapan dan korosi menyebabkan
kehilangan efisiensi yang dapat menyebabkan kegagalan dalam pipa boiler
dan ketidakmampuan memproduksi steam.

4.2.3 Persyaratan air umpan boiler


Boiler atau ketel uap merupakan sebuah alat untuk pembangkit uap dimana
uap ini berfungsi sebagaizat pemindah tenaga kaloris. Tenaga kalor yang dikandung
dalam uap dinyatakan dengan entalpi panas.           
53

Hal-hal yang mempengaruhi efisiensi boiler adalah bahan bakar dan kualitas
air umpan boiler.Parameter-parameter yang mempengaruhi kualitas air umpan boiler
antara lain:
1.       Oksigen terlarut, dalam jumlah yang tinggi dapat menyebabkan korosi pada
peralatan boiler.
2.       Kekeruhan, dapat mengenda pada perpipaan dan peralatan proses serta
mengganggu proses.
3.     PH Bila tidak sesuai dengan standar kualitas air umpan boiler dapat
menyebabkan korosi pada peralatan
4.       Kesadahan, merupakan kandungan ion Ca dan Mg yang dapat menyebabkan
kerak pada peralatan serta perpipaan boiler sehingga menimbulkan local
overheating
5.       Fe, dapat menyebabkan air bewarna dan mengendap disaluran air dan boiler
bila teroksidasi oleh oksigen

4.3 Boiler Unit 3 dan 4 PLTU Pangkalan Susu


4.3.1 Spesifikasi Utama Boiler unit 3

Table 4.1 Spesifikasi Utama Boiler unit 3

Model : DG661/13.3-22
Manufature : Dongfang Boiler Group Co.,
Ltd.
Boiler Maximum Continuous Rating (t/h) : 661
Superheater Outlet Temp (°C) : 541
Superheater Outlet Press (Mpa) : 13.3
Reheated Steam Flow (t/h) : 561
Reheated Steam Inlet Press (Mpa) : 2.74
Reheated Steam Outlet Press (Mpa) : 2.55
54

Reheated Steam Inlet Temp (°C) : 328


Reheated Steam Outlet Temp (°C) : 541