Anda di halaman 1dari 9

Prosiding Seminar Nasional dan Konsultasi Teknologi Lingkungan

Jakarta, 20 September 2018

DENITRIFIKASI NITRAT MENGGUNAKAN SEDIMEN


KOLAM IKAN MUJAIR (Oreochromis mossambicus) DENGAN
OPTIMASI NITRAT DAN RASIO FRUKTOSA
Tjioe Michael Kurniawan1, Hanies Ambarsari2, Rega Permana1
1
Fakultas Ilmu Hayati, Universitas Surya, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia
2
Pusat Teknologi Lingkungan (PTL) – Lembaga Pengkajian dan Penerapan Teknologi Indonesia (BPPT)
Gedung 820 Geostech PUSPIPTEK Serpong 15314, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia

Abstrak
Konsentrasi nitrat yang berlebihan merupakan masalah dalam meningkatkan produktivitas kolam
ikan Mujair. Namun, pengumpulan bakteri pereduksi nitrat pada sedimen kolam ikan Mujair masih
terbatas dalam penelitian di Indonesia. Pengaruh kandungan Nitrat dan konsentrasi fruktosa
sebagai sumber karbon dalam mempengaruhi proses denitrifikasi pada sedimen kolam ikan Mujair
masih belum banyak dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi bakteri pereduksi
nitrat pada kolam Mujair dan mengetahui kadar nitrat dan fruktosa yang optimal untuk
meningkatkan laju denitrifikasi oleh bakteri dari endapan tambak ikan Mujair. Kemampuan bakteri
untuk mereduksi nitrat menjadi nitrit serta pengaruh penambahan fruktosa dianalisis menggunakan
desain eksperimental Central Composite Design (CCD). Uji ANOVA digunakan untuk melihat
signifikansi model yang dihasilkan. Dalam penelitian ini berhasil diisolasi dua isolat bakteri (isolat
A dan B) yang mampu bertahan pada tahap aklimatisasi dengan kadar nitrat yang tinggi. Hasil
analisis menunjukkan bahwa laju reduksi nitrat oleh isolat B tidak dipengaruhi secara signifikan
oleh konsentrasi nitrat dan fruktosa (p-value <0,05), sedangkan isolat A sangat dipengaruhi oleh
konsentrasi nitrat dan fruktosa (p-value >0,05). Kondisi optimum untuk isolat A dalam mereduksi
nitrat dan menghasilkan nitrit adalah pada konsentrasi nitrat 74,1 mg / l dan dengan konsentrasi
fruktosa 1,16 g

Kata kunci: Central Composite Design. Denitrifikasi, Fruktosa. Nitrat, Sedimen kolam

1. PENDAHULUAN
Kualitas air yang buruk menyebabkan berkurangnya produktivitas tambak.salah satu polutan yang paling
sering ditemui pada tambak dan memiliki toksisitas tinggi adalah limbah nitrogen dalam bentuk
nitrat.Pencemaran nitrat sering terjadi pada kolam budidayadengan sistem denitrifikasi yangburuk. Untuk
mengatasinya, metode bioremediasi dapat digunakan untuk mengurangi dan memperbaiki situs yang tercemar
telah banyak diterapkan pada berbagai studi. Alternatif bioremediasi yang efektif contohnya menggunakan
mikroorganisme yang ada di lingkungan tercemar karena bersifat ekonomis dan tidak memiliki efek samping
untuk menghilangkan bahan kimia berbahaya. Penggunaan bakteri pada sedimen kolam air tawar sebagai agen
bioremediasi adalah salah satu alternatif yang baik. Bakteri dari lumpur aktif biasanya tersusun dari spesies
bakteri yang mampu mendegradasi bahan pencemar.
Sedimen kolam adalah endapan dalam lumpur yang terbentuk karena adanya interaksi antara atmosfer
dan hidrosfer pada kerak bumi, yang kemudian mengendap pada dasar kolam. Sedimen dihasilkan dari senyawa
tidak terlarut yang berukuran partikel>0,5µm yang akhirnya mengendap pada suatu titik pada kolam dan
kemudian terakumulasi dengan cepat. Sedimen ini biasanya menjadi lapuk karenamengalami berbagai proses
alam, sehingga sedimen ini biasanya membawa elemen nutrienunsur hara yang menyediakan berbagai
kebutuhan yang diperlukan oleh kolam. Sedimen mengandung berbagai senyawa organik, nitrogen dan fosfor
yang terakumulasi selama proses kultur. Bahan organik yang diperoleh dalam tambak yang dibudidayaseringkali
bersumber dari pupuk hewan (fertilizer), ikan yang mati, dan hasil metabolisme organisme air. Kolam yang
memiliki organisme lebih tua, menghasilkan sisa metabolisme dan sedimen lebih banyak serta tingkat
sedimentasinya lebih tinggi.
Karena tinggi akan kandungan bahan organik dan nutrien ini, maka sedimen kolam menjadi habitat yang
sempurna untuk pertumbuhan bakteri. Sedimen mengandungberbagai jenis bakteri seperti bakteri aerob, aerob
fakultatif, metanogen, homoasetonogen, pereduksi sulfat, pereduksi sulfur, denitrifikasi, pereduksi besi dan
fermentatif. Bakteri-bakteri pada sedimen ini mempunyai berbagai peran dalam proses biokimia di perairan
kolam, antara lain dalam degradasi materi organik, perputaran siklus biogeokimia, mengendalikan kadar

236
Prosiding Seminar Nasional dan Konsultasi Teknologi Lingkungan
Jakarta, 20 September 2018

amonium, nitrat dan nitrit, sumber makanan bagi organisme perairan, produksi primer dan remediasi. Di Cina,
Thailand, dan Vietnam, sedimen kolam biasa digunakan sebagai agen fertilisasi dan terbukti meningkatkan
produksi budidaya perikanan.

2. METODE PENELITIAN
2.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan di laboratorium Balai Teknologi Lingkungan (BTL), Puspiptek Serpong, Kota
Tangerang Selatan, Banten periode Oktober 2017-Maret 2018.

2.2 Rancangan Penelitian


Persiapan Fermenter
Tahap pertama adalah pembuatan fermenter menggunakan botol plastik hitam 1 liter yang dibuat lubang
di bagian samping ketinggian 5-6 centimeter dari dasar tabung dengan solder. Setelah itu kita tutup dengan
selang berukuran 6 centimeter lalu kita rekatkan dengan lem dan kita tekuk lalu jepit dengan penjepit. Selang ini
yang nanti akan berguna untuk mengambil sampel dengan melepas penjepit dan meluruskan selang, maka air
dari fermenter dapat mengalir lalu kita tutup kembali. Tutup botol juga dibuat lubang dengan solder dengan
tepat di tengah dan kita masukan selang yang lebih panjang diluar. Lalu kita ikat balon pada ujung yang
panjang. Ini berguna untuk memastikan adanya gas nitrogen yang terbentuk.

5 cm

8 cm

5 cm

Gambar 1. Rancangan Tabung Fermenter

Aklimatisasi
Pengambilan sedimen kolam sebanyak 50 gram dari kolam ikan mujair dibawa ke dalam lab. Sedimen
kolam seberat 50 gram dimasukkan ke dalam fermenter ditambah dengan KNO3 sebagai pengatur kadar nitrat
dalam fermenter sehingga 60 ppm dan gula 2 gram. Sesuai literatur (0,2%). Setelah itu tambahkan akuades
hingga ¾ fermenter penuh lalu kita taruh di ruangan yang tertutup, bisa ditutup dengan kain hitam. Selama
seminggu

Identifikasi bakteri
Langkah pertama adalah membuat larutan media pada Erlenmeyer 1 liter menggunakan Nitrate Broth 20
gram yang dicampur dengan agar-agar 15 gram lalu ditambahkan air hingga ¾ erlenmayer.Lalu autoklaf
erlenmayer tersebut bersama dengan 6 cawan petri, tabung reaksi, dan pipet. Setelah autoklaf bakteri diisolasi
dari larutan sampel fermenter pada cawan petri dengan metode pour plate dengan 5 pengenceran berbeda, yaitu:
0x, 10x, 100x, 1000x, 10000x dan blanko untuk mengecek kontam tidaknya. Lalu biarkan tumbuh 1-2 hari.
Untuk identifikasi bakteri, metode yang digunakan adalah Gram stain dan VITEK 2. Gramstain bertujuan untuk
mengetahui gram positif atau negative dari bakteri isolate kita, sementara VITEK 2 bertujuan untuk mngetahui
spesies dari bakteri isolate.

Optimasi Bakteri
Metode optimais yang digunakan adalah Central Composite Design (CCD) Variabel bebas yang
dicobakan dalam optimasi adalah jumlah nitrat dan kadar fruktosa,sementara pH dan jumlah sedimen
disamakan sebagai variabel kontrol. Setelah mengetahui jumlah isolate, tiap isolate bakteri dibiakkan pada
media agar masing-masing. Setelah bakteri tumbuh pada media agar, lalu siapkan 12 erlenmayer 250ml untuk
tiap isolat, sehingga menjadi 24 erlenmayer. Tiap isolae diberikan perlakuan variabel kontrol yaitu pH dengan

237
Prosiding Seminar Nasional dan Konsultasi Teknologi Lingkungan
Jakarta, 20 September 2018

bantuan H2SO4 dengan dan pH meter dan disamakan pada pH 7 serta sampel bakteri dengan jumlah yang sama
dari media agar yaitu 5ml. Untuk variabel beba, kadar nitrat dan jumlah fruktosa.sebagai berikut.

Tabel 1.Variabel bebas fruktosa dan KNO3


-2 -1 0 1 2
A 45,9 50 60 70 74,1
B 0 0,41 1,41 2,41 2,82
Keterangan:
A: Jumlah KNO3 dalam ukuran gram
B: Jumlah Fruktosa dalam ukuran gram

Konsentrasi nitrat dihitung menggunakan metode kolorimetri. Sebelum pengujian, kurva kalibrasi
diperlukan dengan memasukkan larutan standar NO3-N 50 mg / L 2; 4; 6; 8; dan 10 mL ke dalam labu ukur 50
ml. Ditambahkan air bebas nitrat sampai tanda tera. 0,5 mL dari setiap larutan standar diinokulasi ke dalam
tabung reaksi untuk ditambahkan 0,25 mL asam salisilat, dicampur dan diinkubasi pada suhu ruang selama 30
menit. Kemudian ditambahkan 5 mL 4N natrium hidroksida, larutan dicampur dan diinkubasi pada suhu ruang
selama 1 jam. Larutan-larutan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam cuvette untuk mengukur absorbansi
pada 410 nm dengan spektrofotometer. Pengukuran konsentrasi sampel kultur sedimen dilakukan dengan
mengambil 0,25 ml sampel kultur sedimen, dicampur dengan 0,5 ml reagen asam salisilat, ditunggu 30 menit
dan kemudian ditambahkan 5 ml NaOH 4N sehingga bisa diabsorbansi dengan menggunakan kurva kalibrasi
yang telah ditentukan sebelumnya

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil Aklimatisasi
Aklimatisasi dari fermentor berukuran 1 L yang mengandung sedimen kolam Ikan mujair dengan
perlakuan 60 mg/l NO3- dilakukan selama 1 minggu. Aklimatisasi bertujuan untuk menyeleksi bakteri pereduksi
nitrat yang terdapat pada sedimen kolam Ikan mujair sehingga hanya bakteri pereduksi nitrat yang tersisa pada
fermentor. Bakteri pereduksi nitrat di dalam fermentor juga akan terbiasa dengan lingkungan tinggi nitrat.
Perhitungan konsentrasi nitratdan dan nitrit dilakukan pada hari ke-tujuh masa kultur untuk mengetahui aktivitas
reduksi nitrat pada masing-masing fermentor.
Sampel air dari fermentor aklimatisasi ini akan digunakan sebagai starter untuk melanjutkan penelitian.
Sampel air dari fermentor aklimatisasi ini akan dicaritahu bakteri apa yang terlibat dalam aktivitas reduksi nitrat.
Nilai optimum konsentrasi nitrat dan fruktosa juga akan dicaritahu menggunakan analisis Central Composite
Design (CCD).
Isolasi dan Karakterisasi Morfologi Isolat
Tahap isolasi dimulai dengan mengambil 1 ml sampel air dari fermentor aklimatisasi dan diinokulasikan
ke media selektif nitrat di cawan petri. Pertumbuhan bakteri dalam cawan teramati meningkat seiring dengan
sedikitnya pengenceran yang dilakukan. Media selektif nitrat mengkondisikan lingkungan media untuk
pertumbuhan bakteri pereduksi nitrat.
Berdasarkan hasil isolasi pada media selektif di cawan petri, terlihat bahwa terdapat dua macam koloni
yang tumbuh. Isolat bakteri yang membentuk koloni dibagian permukaan media dinamakan isolat A sedangkan
isolat bakteri yang membentuk koloni dibagian dasar hingga pertengahan media dinamai dengan isolat B. Isolat
A memiliki karakteristik koloni yang berwana putih keabu-abuan, berbentuk irregular, permukaan raised, dan
mempunyai margin berbentuk undulate. Sedangkan untuk isolat B, warna koloni krem dengan bentuk koloni
membulat (circular), permukaan raised, dan margin berbentuk entire. Buchanan dan Gibbon (1974),
menyebutkan dalam bukunya bahwa karakteristik umum bakteri denitrifikasi adalah mempunyai bentuk koloni
membulat (circular), dengan sel berbentuk bulat atau batang dan bersifat gram negatif.
Pengujian gram dilakukan untuk membuktikan sifat morfologis kedua isolat yang terisolasi. Dari hasil
pewarnaan gram didapatkan bahwa isolat A merupakan bakteri gram negatif sedangkan isolat B merupakan
bakteri gram positif. Hal ini ditunjukkan pada hasil pengamatan mikroskop yang menunjukkan bahwa isolat A
berwarna merah dan isolat B berwarna biru. Hasil pewarnaan gram ditampilkan pada Gambar 3.1. Dan dari hasil
VITEK 2 di rumah sakit menunjukan bahwa kedua spesies bakteri tersebut adalah Pseudomonas aeruginosa dan
Bacillus sp.

238
Prosiding Seminar Nasional dan Konsultasi Teknologi Lingkungan
Jakarta, 20 September 2018

Gambar 2. Hasil dari gram stain menunjukan 2 isolat bakteri, 1 bakteri gram negatif (kiri)
dan 1 bakteri gram positif (kanan).

Kedua isolat ini kemudian diinokulasikan ke media aktivasi untuk diperbanyak konsentrasinya. Media
aktivasi sendiri adalah media selektif yang sama dengan media yang digunakan untuk isolasi, namun media
aktivasi berbentuk cair (broth). Inokulan masing masing isolat dipindahkan ke media aktivasi dalam Erlenmeyer
ukuran 250 mL dan diinkubasi dalam anaerobic jar selama 1 minggu. Isolat yang telah diperbanyak di media
aktivasi akan digunakan sebagai stok untuk analisis reduksi nitrat menggunakan metode Central Composite
Design

Optimasi Konsentrasi Nitrat dan Fruktosa dalam Aktivitas Reduksi Nitrat oleh Kedua Isolat
Hasil laju reduksi nitrat kedua isolat berdasarkan metode CCD ditampilkan pada Tabel 3.1. berdasarkan
hasil yang didapatkan, dilakukan metode analisis Response Surface analysis berbasis ANOVA. Model akan
diuji signifikansinya menggunakan nilai F-values dari p ≤ 0.05 dan R2 dari model.
Tabel 2. Eksperimen matrix desain untuk Efisiensi laju reduksi nitrat berdasarkan metode CCD kedua isolat
Kode Faktor Isolat A Isolat B
No. Nitrat fruktosa
Nitrit penurunan Nitrit penurunan
Perlakuan nitrat fruktosa (mg/l) (g)
(mg/l) nitrat (%) (mg/L) nitrat (%)
1 -1 -1 50 0.41 2,93 86,64 1,93 98,60
2 1 -1 70 0.41 3,37 99,11 2,29 99,03
3 -1 1 50 2.41 2,33 92,33 6,35 99,36
4 1 1 70 2.41 2,75 93,50 5,63 99,56
5 -α 0 45,9 1.41 3,66 93,00 3 98,54
6 +α 0 74,1 1.41 4,11 91,83 1,34 98,39
7 0 -α 60 0 2,72 92,00 1,58 98,50
8 0 +α 60 2.81 4,13 92,00 2,64 99,42
9 0 0 60 1.41 0,14 91,00 1,86 98,90
10 0 0 60 1.41 2,3 91,83 2,76 99,35
11 0 0 60 1.41 1.43 92,00 1.41 99,67
12 0 0 60 1.41 0,87 91,64 2.45 99,58

Kemampuan Reduksi Nitrat Isolat A dan Isolat B


Hasil ANOVA hubungan variabel bebas yakni konsentrasi nitrat dan fruktosa terhadap kemampuan
reduksi isolat A dan B ditampilkan pada Gambar 3.2 dan Gambar 3.3 secara berturut-turut.

239
Prosiding Seminar Nasional dan Konsultasi Teknologi Lingkungan
Jakarta, 20 September 2018

Gambar 3. Hasil ANOVA hubungan variabel bebas terhadap kemampuan


reduksi nitrat isolat A

Berdasarkan hasil ANOVA yang ditampilkan pada Gambar 3, terlihat bahwa semua model kecuali
kuadratik memiliki hubungan yang signifikan terhadap aktivitas reduksi nitrat oleh isolat A. Signifikasi dari
model ini dibuktikan dari nilai p-value semua model yang kurang dari α = 0.05. Model dapat diterima apabila
nilai p-value ≤ 0.05. Sedangkan untuk aktivitas reduksi nitrat oleh isolat B tidak ditemukan model signifikan
dari variabel bebas. Hal ini ditunjukkan dari nilai p-value semua model yang lebih dari α = 0.05.

Gambar 4. Hasil ANOVA hubungan variabel bebas terhadap kemampuan reduksi nitrat isolat B

Nilai R2, adj-R2 dan pred- R2 juga penting untuk diperhatikan. Nilai-nilai tersebut merepresentasikan
ketepatan model dengan kejadian sesungguhnya di alam. Model yang bagus mempunyai nilai R2 minimal
sebesar 0.8 atau 80%.. Dari Gambar 3 dan Gambar 4 dihasilkan nilai R2 berturut-turut sebesar 93.22% dan
31.96%, yang dapat diartikan bahwa variabel bebas mempengaruhi 93.22% pada aktivitas reduksi isolat A,
sedangkan untuk isolat B hanya berpengaruh sebesar 31.96% (Tong, et al., 2014).

Kemampuan Produksi Nitrit Isolat A dan Isolat B


Hasil ANOVA hubungan variabel bebas terhadap kemampuan isolat A dan B dalam memproduksi nitrit
ditampilkan pada Gambar 3.4 dan Gambar 3.5 secara berturut-turut. Berdasarkan hasil ANOVA yang
ditampilkan pada Gambar 3.4, terlihat bahwa semua model kecuali model kuadratik nitrat hubungan variabel
bebas terhadap kemampuan memproduksi nitrit oleh isolat A tidak ada yang signifikan. Ketidaksignifikansian
240
Prosiding Seminar Nasional dan Konsultasi Teknologi Lingkungan
Jakarta, 20 September 2018

dari semua model ini dibuktikan dari nilai p-value semua model yang lebih dari α = 0.05. Nilai p-value yang
signifikan adalah pada model kuadratik nitrat dengan nilai p-value sebesar 0.04. Sedangkan pada Gambar 3.5
ditampilkan hasil ANOVA isolat B yang sama sekali tidak mempunyai model signifikan baik linear, kuadratik
maupun interaksi.

Gambar 5. Hasil ANOVA hubungan variabel bebas terhadap kemampuan memproduksi nitrit isolat A

Nilai R2 dari masing-masing isolate juga menunjukkan hasil berbeda. Pada isolat Adihasilkan nilai R2
sebesar 67.87%, yang menunjukkan bahwa variabel bebas mempengaruhi 67.87% terhadap aktivitas produksi
nitrit oleh isolat A.

Gambar 6. Hasil ANOVA hubungan variabel bebas terhadap kemampuan memproduksi nitrit isolat B.

Signifikansi dari model hubungan variabel bebas terhadap kemampuan reduksi nitrat dan produksi
nitrit oleh isolat A ditampilkan dibuktikan melalui Normal Probability Plot yang akan ditampilkan pada Gambar
3.6 yang menjadi tolak ukur penyimpangan model. Data akan dikatakan berdistribusi secara normal apabila
titik-titik residu yang ditampilkan sesuai atau mendekati garis lurus (prediksi) yang ditentukan. Dari Gambar
3.6, dapat dilihat bahwa titik-titik residu pada model linier dan mengikuti garis yang ditentukan.

241
Prosiding Seminar Nasional dan Konsultasi Teknologi Lingkungan
Jakarta, 20 September 2018

.
Visualisasi Model
Gambar 7. Hubungan Variabel
Hasil Normal bebas
Probability Plotterhadap Kemampuan
reduksi nittrat Produksi
(a) dan produksi NitritIsolat
nitrit B
(b) isolat A.

Gambaran optimum pengaruh variabel bebas terhadap kemampuan reduksi nitrat dan produksi nitrit isolat
A juga dapat diketahui dengan menggunakan grafik Surface Plots, perbedaanya adalah pada surface plots
didapatkan gambaran 3D mengenai hubungan antar variabel. Hasil Surface Plots ditampilkan pada Gambar 9.
Hasil Gambar 9 mendukung hasil yang sudah dijelaskan pada grafik Contour Plot (Gambar 8). hanya saja dalam
grafik Surface Plots warna hijau yang lebih cerah menandakan semakin tinggi persentase reduksi nitrat dan
konsentrasi nitrit oleh isolat A
Dari Gambar 8 dapat dilihat bahwa range produksi nitrit oleh isolate A yang dibedakan melalui warna.
Dimana masing-masing warna mewakili banyaknya konsentrasi nitrit yang terbentuk atau dihasilkan oleh isolat
A. Semakin hijau warna pada grafik, semain tinggi pula nitrit yang dihasilkan. Hal ini yang menjadi kunci
mendapatkan letak titik optimum variabel bebas dalam memproduksi nitrit.

Gambar 8. Hasil visualisasi hubungan variabel bebas terhadap aktivitas reduksi nitrat (a) dan
produksi nitrit (b) oleh isolat A yang digambarkan menggunakan Contour Plots.

Gambar 9. Hasil visualisasi hubungan variabel bebas terhadap kemampuan produksi nitrit oleh isolate B
yang digambarkan menggunakan Surface Plots
242
Prosiding Seminar Nasional dan Konsultasi Teknologi Lingkungan
Jakarta, 20 September 2018

Titik optimum juga dapat ditentukan dengan Surface Plots, perbedaanya adalah pada surface plots
didapatkan gambaran 3D mengenai hubungan antar variabel. Hasil Surface Plots ditampilkan pada Gambar 9.
Berdasarkan hasil yang ditunjukkan oleh Gambar 8, dapat dikatakan bahwa aktivitas reduksi nitrat akan
meningkat seiring dengan bertambahnya konsentrasi nitrat dan konsentrasi fruktosa. Sedangkan aktivitas
produksi nitrit akan menurun seiring bertambahnya konsentrasi fruktosa.
Dalam mengoptimalkan produksi nitrit, perlu dilakukan metode response optimizer yang tertera pada
minitab 18. Gambar 10 menunjukkan Optimization Plot yang menunjukkan nilai konsentrasi nitrat dan fruktosa
yang dibutuhkan untuk mendapatkan aktivitas reduksi nitrat dan konsentrasi nitrit tertinggi. Dari hasil diatas,
kondisi optimum isolate B dalam memproduksi nitrit adala dengan nilai konsentrasi nitrat sebesar 74.1 mg/l dan
dengan konsentrasi fruktosa sebanyak 1.16 g.

Gambar 10. Hasil Optimization Plot yang menunjukkan optimasi nitrat dan konsentrasi fruktosa dalam
meningkatkan produksi nitrit oleh isolate A

4. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis hasil dan data dari penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa:
 Hasil isolasi mendapatkan dua isolat yang mampu bertahan dengan kondisi nitrat konsentrasi tinggi (60
mg/l) yakni isolat Pseudomonas aeruginosa dan Bacillus sp. Kedua isolat adalah kandidat bakteri untuk
diaplikasikan pada perairan tinggi nitrat.
 Pengaruh Fruktosa dan Nitrat dari proses reduksi nitrat oleh isolat B, tidak ditemukan model yang
signifikan dengan p-value sebesar <0,05. Sedangkan pada proses reduksi nitrat oleh isolat A, nilai
optimum adalah dengan konsentrasi nitrat sebesar 74.1 mg/l dan dengan konsentrasi fruktosa sebanyak
1.16 g.
 Isolat B memiliki nilai reduksi nitrat lebih tinggi tetapi lebih tidak terpengaruh variabel bebas.

SARAN
Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan variabel bebas berbeda seperti jumlah sedimen, pH untuk
mengetahui dampaknya terhadap reduksi nitrat oleh isolat. Selain itu penambahan range dalam percobaan juga
perlu dilakukan untuk mendapat hasil yang ebih signifikan.

UCAPAN TERIMA KASIH


Laporan ini didukung dan didanai dari Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional 2017-2018 (INSINAS
2017-2018), sebagai program yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

243
Prosiding Seminar Nasional dan Konsultasi Teknologi Lingkungan
Jakarta, 20 September 2018

Indonesia (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi) atas nama Dr. Hanies Ambarsari, BSc.,
MApplSc.

DAFTAR PUSTAKA
Blackburn. 1987. Factors influencing organic carbon preservation in marine sediments. Copyright © 1994
Published by Elsevier B.V.
Camargo J. A., Alonso A. 2006. Ecological and toxicological effects of inorganic nitrogen pollution in
aquaticecosystems:aglobalassessment. Environ.Int. 32 831–849. 10.1016/j.envint.2006.05.00.
Chen, R., Deng, M., He, X., & Hou, J. 2017. Enhancing Nitrate Removal from Freshwater Pond by Regulating
Carbon/Nitrogen Ratio. Frontiers in Microbiology, 1-9.
Danovaro, Rosa, T.L., Mazolla, A., 2001. Differential responses of benthic microbes and meiofauna to fish-
farm disturbance in coastal Sediments. Environmental Pollution 112 (3), 427–434.
Dhan Prakash 2013. Bioremediation: a genuine technology to remediate radionuclides from the environment
Microb Biotechnol. 2013 Jul; 6(4): 349–360. Published online 2013 Apr 26. doi: 10.1111/1751-
7915.12059
Erbanova, E., Palarcik, J., Slezak, M., & Mikulasek, P. 2012. Removing of nitrates from waste water by using
pond culture. Elsevier, 1552-1560.
Francis-Floyd R., Watson C., Petty D., Pourder D. B.1996. Ammonia in aquatic systems. University of Florida,
Department of Fisheries and Aquatic Science, Florida Coop, Ext. Serv. FA-16, 4 pp.
Hargreaves J. A., Tucker C. S. 2004. Managing ammonia in fish pond. SRAC Publication No. 4603, 8 pp.
Hidayanto, Heru, W., Yossita, F. 2004. Analisis tanah tambak sebagai indikator tingkat kesuburan tambak.
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian 7(2), 180–186.
H. E., Sharma R., Klotz M. G., Ferdelman T. G., Hettich R. L., et al.2014. The environmental controls that
govern the end product of bacterial nitrate respiration. Science 345676–679.10.1126/science.1254070.
Jaap van Rijn 1990 ”Aerobic and anaerobic biofiltration in an aquaculture unit—Nitrite accumulation as a result
of nitrification and denitrification’’Aquacultural EngineeringVolume 9, Issue 4, 1990, Pages 217-234.
Lindberg, H. 2014. The effect of different carbon sources on reduction of nitrate in effluent from the mining
industry. Examensarbete 30 hp, 1-48.
Muendo, P. N., Verdegem, M. C., Stoorvogel, J. J., Milstein, A., Gamal, E.-N., Duc, P. M., & Verreth, J. A.
2014. Sediment Accumulation in Fish Ponds; Its Potential for Agricultural Use. International Journal of
Fisheries and Aquatic Studies; 1(5), 228-241.
Rakocy J. E., Masser M. P., Losordo T. M. 2006. Recirculating aquaculture tank production Systems:
aquaponics-integrating fish and plant culture (revision). Southern Regional Aquaculture Center (SRAC),
United State, 16 pp.
Roshni, K. et al. 2016. Fishery of Mozambique Tilapia oreochromis Mossambicus (Peters) in Poringalkuthu
Reservoir of Chalakudy River, Kerala, India. Journal of Aquatic Biology & Fisheries Vol. 4. 2016. pp.
110-114© Department of Aquatic Biology & Fisheries, University of Kerala
Steinheimer, R. T., Scoggin, D. K., & Kramer, A. L. 1998. Agricultural chemical movementthrough a field-
sized watershed in Iowa: subsurface hydrology and distribution of nitrate in groundwater. Environ. Sci.
Tech, 1039-1047.
Tong, S., Chen, N., Wang, H., Liu, H., Tao, C., Feng, C., Zhao, J. (2014). Optimization of C/N and current
density in a heterotrophic/biofilm-electrode autotrophic denitrification reactor. Bioresour Technol,
171:389–395.
Zumft, W. G. 1997. Cell Biology and Molecular Basis of Denitrification. American Society for Microbiology,
533-616.

244