Anda di halaman 1dari 34

BAB 1

Dasar-Dasar
Komunikasi Bisnis

“Proper words in proper places


make the true definition of a style.”

Jonathan Swift

1.1 Pengertian Komunikasi


Istilah komunikasi berasal dari kata communicatio yang berarti pemberitahuan
atau pertukaran pikiran. Kata communicatio merupakan kosa kata dari Bahasa
Latin. Secara etimologis kata communicatio bersumber dari kata communis, yang
memiliki arti sama. Adapun yang dimaksud dengan sama tersebut adalah sama
maknanya. Dengan kata lain komunikasi akan terjadi secara efektif apabila setiap
orang yang terlibat dalam suatu proses komunikasi dapat menyerap makna yang
sama dari suatu pesan yang disampaikan dalam komunikasi tersebut. Jika hal ini
tidak terjadi maka proses komunikasi gagal berlangsung dengan baik. Tidak akan
terjadi saling pengertian (mutual understanding) antara orang yang satu dengan
orang yang lainnya.
Komunikasi merupakan kegiatan yang tidak pernah lepas dari kehidupan
manusia. Ketika manusia sendirian atau bersama dengan orang lain manusia selalu
melakukan kegiatan komunikasi. Artinya manusia selalu terlibat dalam kegiatan
menyampaikan pesan dan menterjemahkan pesan. Hal ini dapat berlangsung
secara disadari atau tidak disadari. Seseorang yang wajahnya murung merupakan
pertanda bahwa orang tersebut sedang dirundung kesedihan atau masalah.
Mungkin orang ini tidak menyadari bahwa kemurungan pada wajahnya itu dibaca
orang lain sebagai sebuah pesan. Hal ini dapat membuat orang lain memberikan
respon atau tanggapan. Mungkin orang lain itu dapat bertanya: ‘ Eh, kamu kok
kelihatan sedih ? Apa ada masalah? Bisa saya bantu?”. Hal ini dapat terjadi kalau
kebetulan seseorang ada bersama orang lain. Ketika sendirian orang dapat pula
berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Misalnya ketika seseorang akan membuat
sebuah keputusan yang sulit. Orang tersebut dapat melakukan dialog dengan
hatinya sendiri untuk mengambil keputusan yang terbaik. Pengertian komunikasi
seperti ini dapat dikategorikan sebagai pengertian komuniksai dalam arti yang luas
(in the broad sense). Dengan demikian setiap kegiatan penyampaian dan
penerimaan pesan dapat dianggap sebagai kegiatan komunikasi.
Menurut Keith Davis komunikasi adalah pemindahan pengertian dari satu
orang kepada orang lain. T. Hani Handoko mengatakan bahwa komunikasi adalah
proses pemindahan pengertian dalam bentuk gagasan atau informasi dari
seseorang kepada orang lain. Menurut Handoko perpindahan pengertian tersebut
tidak hanya melibatkan sekedar kata-kata, melainkan juga mimik wajah, intonasi, titik
putus suara atau vokal, dan sebagainya. Pendapat ini menekankan pentingnya
bahasa non verbal disamping bahasa verbal.
Definisi yang diberikan oleh Davis dan Handoko tidak mempersoalkan apakah
komunikasi tersebut telah mendapatkan respon yang positip atau tidak. Hal yang
terpenting menurut pendapat mereka adalah penyampaian dan penerimaan pesan
telah berlangsung. Hal ini berbeda dengan pendapat Judith Dwyer yang
menyatakan bahwa kegiatan menyampaikan dan menerima pesan baru dapat
dikatakan sebagai komunikasi jika dalam kegiatan komunikasi tersebut ada respon
yang positip atau ada perubahan perilaku (change of behavior) Pada suatu sore
seorang kakak memberikan perintah kepada adiknya untuk belajar. Katanya: “Dik,
mbok kamu belajar. Jangan nonton tv terus.!. Adik yang sedang nonton tv itu tahu
benar apa yang dikatakan oleh kakaknya. Namun demikian ia sama sekali tak
beranjak dari pesawat televisi yang sedang ditontonnya. Ia dapat diam saja. Cuek.
Atau ia dapat pula memberikan jawaban: “Ah, ini kan urusanku. Jangan ngelarang
dong. Kamu aja kalau nonton tv aku tidak ngelarang !” Diam atau jawaban verbal
yang diberikan oleh sang Adik merupakan respon negatif yang menunjukkan tidak
adanya perubahan perilaku. Bila ini yang terjadi, maka menurut Dwyer pada
hakikatnya belum terjadi komunikasi. Berikut ini beberapa contoh perubahan
perilaku yang diharapkan terjadi dalam kegiatan atau proses komunikasi:

Perubahan Perilaku

NO SEBELUM SESUDAH
1 Tidak tahu Tahu
2 Tidak mengerti Mengerti
3 Tidak memahami Memahami
4 Tidak tertarik Tertarik
5 Tidak menyadari Menyadari
6 Tidak peduli Peduli
7 Tidak menyukai Menyukai
8 Marah Tidak marah
9 Sedih Tidak sedih
10 Dan sebagainya

Selain definisi yang telah diberikan oleh Davis, Dwyer, dan Handoko, berikut
ini ada beberapa definisi lainnya yang perlu diketahui untuk memperoleh gambaran
yang lebih lengkap mengenai definisi-definisi komunikasi tersebut:

a. Definisi Brent D. Ruben


Ruben (1988) memberikan definisi bahwa komunikasi adalah suatu proses
koordinasi yang dilakukan oleh individu dengan lingkungannya (kelompok,
organisasi, masyarakat) dengan cara menciptakan, mengirimkan, dan
menggunakan informasi
Berdasarkan definisi yang diberikan oleh Ruben, dapat diambil suatu
pengertian bahwa komunikasi adalah suatu proses yang interaktif. Dalam
definisi ini juga dinyatakan adanya proses menciptakan ide atau gagasan
(developing ideas) yang merupakan tahap awal dalam proses komunikasi.
Kemudian terjadi proses pengiriman ide atau gagasan yang telah diolah dan
dikembangngkan dalam bentuk informasi yang merupakan pesan (message), dan
berikutnya terjadi proses pengiriman pesan (transmitting the message). Bagaimana
pesan yang disampaikan oleh komunikator diterima, dipahami, dan ditanggapi oleh
komunikan tidak secara jelas dirangkum dalam definisi tersebut.

b. Definisi Louis Forsdale


Forsdale (1981) berpendapat bahwa komunikasi adalah ‘the process by
which a system is established, maintained, and altered by means of shared signals
that operate according to rules’. (proses yang membuat suatu sistem dibangun,
dipelihara, dan diubah dengan menggunakan isyarat yang digunakan bersama-sama
dan bekerja menurut aturan-aturan tertentu)
Definisi Forsdale memberikan pengertian bahwa komunikasi adalah proses.
Proses tersebut berlangsung untuk membangun, memelihara, dan mengubah suatu
sistem. Dari pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa definisi Forsdale mengacu
pada komunikasi yang bersifat kelembagaan (organisasi) Disamping itu proses
tersebut berlangsung dengan menggunakan isyarat-isyarat yang dapat dipahami
bersama-sama dan mengikuti pola aturan tertentu. Hal ini menyatakan bahwa dalam
komunikasi tersebut digunakan bahasa atau jenis isyarat lainnya. Jika pengertian ini
dipahami secara lebih luas, maka berarti dalam komunikasi dapat digunakan bahasa
verbal dan non verbal, lisan maupun tulisan.

c. Definisi William J. Seiler


Seiler (1988) memberikan definisi yang lebih bersifat umum atau universal.
Seiler mengatakan bahwa komunikasi adalah proses pengiriman, penerimaan, dan
pemberian arti terhadap simbol verbal dan non verbal.
Definisi Seiler ini memberikan fokus perhatian pada adanya proses dan
simbol verbal dan non verbal dalam proses komunikasi. Tidak disinggung mengenai
adanya tanggapan (feedback) dari komunikan. Oleh sebab itu ketimbal-balikan
proses komunikasi yang berlangsung antara komunikator dan komunikan tidak
terlihat secara nyata.

d. Definisi Hovland, Janis dan Kelley


Hovland, Janis dan Kelley (Forsdale, 1981) menyatakan bahwa
‘communication is the process by which an individual transimits stimuli (usually
verbal) to modify the behaviour of other individuals”. (komunikasi adalah proses
penyampaian rangsangan atau stimulus - biasanya verbal - yang dilakukan oleh
seseorang untuk mengubah perilaku orang lain).
Seperti beberapa definisi sebelumnya, definisi ini menekankan keberadaan
kegiatan komunikasi sebagai suatu proses. Di dalamnya terdapat stimulus yang
biasanya berbentuk verbal, yang berarti berbentuk bahasa. Kegiatan komunikasi ini
memilki tujuan untuk mengubah perilaku orang lain. Dalam definisi ini tujuan
komunikasi tampak sangat jelas, yaitu mengubah perilaku orang lain (the changing
of other’s behaviour). Bila dalam proses komunikasi tidak terdapat perubahan
perilaku pada diri komunikan maka dapat disimpulkan bahwa proses komunikasi
tersebut tidak efektif. Tidak ada pencapaian tujuan. Oleh karena itu harus dievaluasi.
e. Definisi yang lebih komprehensif
Dalam merumuskan definisi komunikasi para pakar tersebut dapat
menggunakan perspektif yang berbeda tergantung dari latar belakang kepakaran
dalam disiplin ilmu yang didalaminya, perkembangan sosial budaya yang
menyertainya, dan faktor-faktor lain yang melatarinya. Oleh sebab itu meskipun
secara umum definisi tersebut sama saja tetapi masing-masing definisi memiliki
penekanan-penekanan tertentu.
Agar definisi tersebut dapat lebih mencakup semua aspek komunikasi yang
diharapkan, perlu dikembangkan definisi yang lebih komprehensif sebagai berikut:
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan
dengan menggunakan lambang-lambang baik verbal maupun non verbal dengan
menggunakan media dan bertujuan melakukan perubahan perilaku.

1.2 Tujuan Komunikasi


Komunikasi yang baik memiliki tujuan merubah suatu kondisi yang kurang
baik menjadi lebih baik. Komunikasi yang kurang baik atau tidak baik memiliki
tujuan yang sebaliknya.
Perubahan perilaku dalam komunikasi tidak dapat dicapai dengan mudah.
Oleh karena itu diperlukan siasat untuk mempengaruhi agar komunikan (orang yang
menjadi sasaran komunikasi) dengan sukarela dan penuh kesadaran berkenan
melakukan perubahan perilaku sebagaimana yang diharapkan oleh komunikator
(pelaku komunikasi). Inilah yang dinamakan persuasive communication. Disamping
melakukan komunikasi persuasif untuk dapat mencapai perubahan perilaku
diperlukan pula pengulangan atau repetitive communication.
Tujuan dasar komunikasi adalah untuk mencapai persamaan persepsi antara
komunikator dengan komunikan. Menyamakan persepsi terhadap suatu pesan
bukan lah pekerjaan mudah. Hal ini diantaranya disebabkan oleh perbedaan latar
belakang sosial budaya, tingkat pendidikan, kepribadian, dan sebagainya. Bahkan
ketika tujuan tersebut tercapai, maka persepsi yang ada dalam pikiran komunikator
dan komunikan hampir mustahil seratus persen sama. Mungkin hanya mendekati
seratus persen saja. Akan tetapi hal tersebut telah memungkinkan terjadinya saling
pengertian atau mutual understanding.
Ketika melakukan komunikasi sangat penting untuk memperhatikan faktor
psikologis mengingat pikiran dan perasaan atau emosi manusia sangat berpengaruh
dalam proses komunikasi. Ada seorang pimpinan di kantor sebuah perusahaan
yang memberikan perintah kepada karyawannya. Katanya: ‘Hei, kamu mesti
bersihkan ruangan itu sekarang juga. Nanti siang akan ada tamu’. Karyawan itu
kemudian melakukan apa yang diperintahkan oleh pimpinan tersebut. Namun ia
mengerjakannya tidak dengan sepenuh hati. Ia merasa tidak dihargai oleh pimpinan
yang memberikan perintah tanpa keramahan., dengan suara tinggi, tidak
bersahabat, wajahnya tampak menyepelekan, tanpa ada kata tolong, dan
seterusnya. Komunikasi seperti ini belum dapat dikatakan berhasil sebab tujuan
tidak dapat tercapai dengan sebaik-baiknya. Disamping itu terjadi luka psikologis
pada komunikan. Dalam komunikasi yang efektif disamping target atau tujuan
komunikasi itu dapat dicapai harus pula dibarengi dengan adanya kepuasan
psikologis yang dirasakan oleh komunikator dan komunikan.

1.3 Model Komunikasi


Model komunikasi merupakan bentuk proses komunikasi yang disajikan
dengan menggunakan gambar. Dengan cara membuat gambar proses komunikasi
ini, diharapkan definisi komunikasi dan proses komunikasi yang terjadi dapat lebih
mudah untuk dipahami. Model komunikasi dibuat dengan menyajikan komponen-
komponen proses komunikasi dan membuat hubungan-hubungan antar komponen
tersebut dengan menggunakan garis yang menunjukkan arah hubungan yang
dimaksud.
Di bawah ini akan diuraikan secara singkat beberapa model komunikasi
sebagai berikut:

a. Model Lasswell
Seorang pakar Ilmu Politik dari Yale University, Amerika Serikat yang
bernama Harold Lasswell (Forsdale, 1981) membuat sebuah model komunikasi.
Model ini dibuat dengan menggunakan lima macam pertanyaan, yakni: who (siapa),
say what (mengatakan apa), in which medium (dalam media apa), to whom (untuk /
kepada siapa), dan what effect (apa efeknya)
Gambar 1.1
Model Komunikasi Lasswell (Ruben, 1988)

SIAPA
SIAPA APA SALURA (KOMUNI
N EFEK
(KOMUNI KAN)
KATOR) (MEDIUM
(PESAN) )

Dalam model komunikasi Lasswell ini, yang dimaksud dengan who adalah
orang yang pertama kali berinisiatif melakukan komunikasi atau komunikator.
Komunikator dapat berarti individu, kelompok, atau organisasi.
Adapun yang dimaksud dengan say what adalah apa yang disampaikan
komunikator kepada komunikan dalam proses komunikasi. Hal ini berarti pesan.
Pesan dapat berupa curahan perasaan, konsep pemikiran, pengajuan argumentasi,
usulan, saran, dan sebagainya. Pesan dapat menyangkut hal-hal yang bersifat
resmi dan tidak resmi, pribadi dan kelembagaan.
Pertanyaan yang ketiga adalah in which medium. Yang dimaksud adalah
dengan melalui media apa suatu pesan disampaikan oleh komunikator kepada
komunikan. Media komunikasi itu seperti panca indera (mata, telinga, hidung, mulut,
peraba), telepon, pengeras suara, televisi, internet, surat, dan sebagainya.
Dengan demikian media meliputi organ tubuh yang ada pada manusia dan hasil
rekayasa teknologi yang dihasilkan oleh manusia. Kecanggihan teknologi semakin
mempermudah terjadinya komunikasi antar manusia. Jarak dan waktu tidak lagi
menjadi penghalang terjadinya komunikasi. Bahkan seperti yang dinyatakan oleh
Kenichi Ohmae (1985) dunia ini seperti sudah tidak memilki jarak dan sekat
pembatas. Menjadi sangat kecil. Just like a borderless world. As small as an orange.
Pertanyaan yang keempat adalah to whom. Hal ini maksudnya kepada siapa
pesan tersebut disampaikan oleh komunikator. Dengan kata lain adalah komunikan.
Sama seperti komunikator, komunikan dapat berwujud individu, kelompok, atau
organisasi. Dalam kaitan ini perlu dipelajari interpersonal communication
(komunikasi antar pribadi / individu), mass communication (komunikasi masa), dan
organizational communication (komunikasi organisasi). Komunikasi organisasi pada
umumnya dilakukan oleh Bidang Public Relations yang ada di perusahaan.
Pertanyaan yang terakhir adalah what effect. Artinya dampak apa yang
ditimbulkan oleh adanya suatu komunikasi. Apabila komunikasi itu dapat
berlangsung secara efektif, maka dampak yang terjadi adalah seperti apa yang
diharapkan oleh komunikator. Dalam komunikasi tujuan utamanya adalah terjadinya
perubahan perilaku komunikan.
Seperti tampak pada gambar 1.2 model komunikasi Lasswell bersifat satu
arah (one way traffic of communication).

b. Model Schraumn
Model ini dilontarkan oleh Wilbur Schraumn (Ruben, 1988). Model
komunikasi Schraumn memiliki perbedaan dengan model komunikasi lainnya dalam
hal bahwa model komunikasi ini memperlihatkan pentingnya faktor pengalaman
dalam proses komunikasi. Jika komunikator dan komunikan memiliki pengalaman
yang berbeda maka interpretasi yang benar akan sulit diperoleh. Akibatnya dapat
menimbulkan pengertian yang salah (misunderstanding).
Pada awalnya Schraumn membuat model komunikasi satu arah. Namun
model ini kemudian diubah menjadi model komunikasi dua arah karena Schraumn
menyadari bahwa dalam komunikasi yang sesungguhnya yang terjadi adalah bahwa
komunikator dan komunikan secara bersamaan atau simultan melakukan peran
komunikator dan komunikan itu secara bergantian. Bukankah komunikasi itu bersifat
resiprocal atau timbal balik?.

Gambar 1.2
Model Komunikasi Schraumn Satu Arah (Ruben, 1988)
Pengirim Pe- Penerimaan Tujuan
pesan nyandian signal sandi

Gambar 1.3
Model Komunikasi Schraumn Dua Arah (Ruben, 1988)

c. Model Komunikasi Berlo


Model Komunikasi Berlo dikembangkan pada tahun 1960. Model komunikasi
ini satu arah dan terdiri dari empat komponen. Empat komponen tersebut adalah
Sumber, Pesan, Saluran, dan Penerima. Di dalam tiap komponen tersebut ada sub-
sub komponen yang dapat mempengaruhi kualitas proses komunikasi.
Penekanan dari model Komunikasi Berlo ini adalah bahwa meanings are in
the people. Makna suatu pesan komunikasi terletak pada bagaimana penerima
pesan (komunikan) menginterpretasikan pesan tersebut. Oleh karenanya arti pesan
bukan pada kata-kata tetapi pada persepsi atau penterjemahan terhadap kata-kata.
Hal ini bersifat sangat personal pada tiap komunikan. Maka logis jika sistem sosial,
kebudayaan, pengalaman, dan pengetahuan komunikan, misalnya memberikan
pengaruh terhadap interpretasi komunikan terhadap pesan yang diterimanya.

Gambar 1.4
Model Komunikasi Berlo (Ruben, 1988)

Keterampilan Penglihatan Keterampilan

berkomunikasi berkomunikasi

Sikap Pendengaran Sikap

Pengetahuan Penciuman Pengetahuan

Sistim sosial Perasaan Sistim sosial

Kebudayaan Alat Peraba Kebudayaan

d. Model Komunikasi Seiler


William J. Seiler (1988) membuat model komunikasi dua arah yang bersifat
lebih universal.
Seiler berpendapat bahwa pengirim pesan memiliki empat peranan, yaitu
menentukan arti apa yang akan dikomunikasikan, menyandikan arti menjadi suatu
pesan, mengirimkan pesan, mengamati, dan bereaksi terhadap tanggapan dari
penerima pesan.
Pesan merupakan rangsangan atau stimulus yang dibuat oleh pengirim pesan
baik disengaja maupun tidak disengaja, disadari maupun tidak disadari. Pesan
memiliki makna yang berbeda dari waktu ke waktu karena pemaknaan terhadap
pesan bersifat situasional dan kondisional. Pengulangan pemaknaan terhadap
pesan yang sama akan mendapatkan hasil interpretasi yang berbeda karena kaitan
dengan situasi dan kondisi yang berbeda dapat menimbulkan nuansa makna yang
berbeda pula.
Contoh, pemberitaan mengenai tsunami di Aceh, India, dan Sri Lanka pada
awalnya menimbulkan ketakutan, kesedihan, rasa iba dan terpukul yang luar biasa.
Namun demikian ketika berita itu sudah berpuluh-puluh kali menjadi menu harian di
koran dan televisi, perasaan orang yang mendengarkan berita tersebut menjadi
semakin biasa dan datar saja. Hal ini menunjukkan adanya interpretasi yang tidak
sama terhadap berita tersebut. Bobot Interpretasi kognitif, interpretasi psikologis,
dan interpretasi spiritual komunkian yang berubah akan mengakibatkan timbulnya
nuansa makna tertentu terhadap suatu berita.
Sehubungan dengan komponen saluran dalam proses komunikasi,, menurut
pendapat Seiler saluran tersebut terutama berwujud gelombang suara dan
gelombang cahaya. Dengan adanya gelombang suara maka pesan dapat didengar
dan disimak. Dengan adanya gelombang cahaya maka pesan dalam bentuk tulisan
dapat dibaca Gelombang suara dan gelombang cahaya merupakan saluran yang
secara alami telah tersedia untuk manusia. Disamping gelombang suara dan
cahaya, panca indera juga merupakan saluran dalam proses komunikasi. Mata,
telinga, hidung, mulut, dan alat peraba merupakan saluran komunikasi yang paling
mendasar bagi manusia.
Sejalan dengan perkembangan peradaban manusia, kemudian saluran
komunikasi dapat berwujud hasil rekayasa teknologi seperti telepon, televisi,
perangkat internet, dan sebagainya.
Menurut Seiler komponen penerima dapat terdiri dari satu orang individu atau
banyak individu atau kelompok. Penerima menterjemahkan pesan dengan sengaja
atau tidak disengaja, disadari atau tidak disadari. Sebagai contoh, ketika kita diajak
mendiskusikan kebersihan lingkungan dan penghijaun di kampung dengan Pak RT,
maka kita akan memberikan interpretasi pesan yang disampaikan Pak RT dengan
sengaja dan sadar. Pada saat yang berbeda ketika kita pulang dari kantor bertemu
dengan tetangga yang wajahnya tampak muram, tidak ceria seperti biasanya, maka
secara serta merta mungkin kita berpikir bahwa orang tersebut sedang ditimpa
kesedihan atau masalah yang belum dapat dipecahkan.
Dalam proses komunikasi peranan penerima dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Menerima pean dengan cara mendengarkan, melihat, mencium, merasakan,
dan meraba.
2. Menyimak pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan, berkonsentrasi dan
megatasi gangguan (noise) yang timbul dalam proses komunikasi.
3. Mengidentifikasi dan menganalisis pesan. Kemampuan ini berbeda-beda pada
tiap orang. Dengan demikian ketajaman, ketelitian, dan kedalaman dalam
memahami suatu pesan pada tiap orang tidak sama.
4. Menyimpan dan mengingat kembali pesan. Kemampuan ini juga berbeda pada
tiap orang Ada yang mampu menyimpan dan mengingat kembali suatu pesan
dengan cepat dan ada yang lambat.
5. Memberi tanggapan terhadap pengirim pesan. Tanggapan tersebut dapat berupa
ungkapan verbal seperti pernyataan senang, menyetujui, menolak, meminta
penjelasan., dan sebagainya. Dapat pula tanggapan dinyatakan dengan bahasa
non verbal, seperti anggukan atau gelengan kepala, tatap mata, mimik wajah,
dan sebagainya.

Gambar 1.5
Model Komunikasi Seiler (Seiler, 1988)
e. Model Komunikasi Shannon dan Wever
Model komunikasi lain adalah model yang dibuat oleh Claude Shannon dan
Wever. Ada enam komponen dalam model ini, yaitu Sumber Informasi
(Information Source), Saluran (Transmitter), Penyandian Pesan (Encoding),
Penterjemahan Pesan (Decoding), Tujuan (Destination), dan Sumber Gangguan
(Noise).
Shannon dan Wever berpendapat bahwa sumber informasi pada manusia
adalah otak. Di dalam otak dilakukan proses pengolahan informasi dari yang
paling sederhana sampai dengan yang paling rumit. Dari sekedar pengolahan
informasi ketika seseorang mengucapkan ‘selamat pagi’ kepada teman yang
lewat sampai dengan memberikan argumentasi terhadap kebenaran suatu teori
keilmuan ketika seseorang sedang diuji dalam forum ilmiah untuk meraih gelar
Doktor. Otak merupakan Central Processing Unit (CPU) bagi adanya informasi
dalam komunikasi.
Dalam model komunikasi Shannon dan Wever ada dua jenis saluran
komunikasi. Yang pertama adalah saluran yang secara alami telah ada pada diri
manusia yang berupa organ-organ bicara (speech organs), dan organ-organ
tubuh manusia lainnya yang dapat difungsikan untuk melakukan komunikasi non
verbal. Jenis yang kedua adalah saluran komunikasi yang berwujud hasil
rekayasa teknologi seperti telepon, televisi, loud speaker, internet, dan
sebagainya.
Penyandian pesan merupakan kerja otak untuk mengubah pesan menjadi
lambang-lambang yang sesuai dengan saluran komunikasi yang akan
digunakan. Apabila saluran komunikasi menggunakan lisan atau mulut, maka
yang digunakan adalah bahasa. Apablila saluran komunikasi menggunakan
bahasa non verbal, maka yang digunakan adalah tatapan mata, anggukan
kepala, dan sebagainya.
Adapun penggunaan saluran komunikasi dengan hasil rekayasa teknologi
itu merupakan perluasan dari penggunaan panca indera. Sebagai contoh,
telepon merupakan perluasan dari suara manusia, televisi merupakan perluasan
dari mata manusia dan demikian seterusnya.
Penterjemahan pesan merupakan proses menguraikan pesan yang
disampaikan Sumber Informasi berupa simbol-simbol verbal dan non verbal
menjadi suatu pemahaman atau pengertian. Untuk memahami pesan dengan
benar diperlukan kecerdasan dan ketelitian dalam menguraikan sandi-sandi yang
disampaikan oleh sumber informasi. Keterbatasan pada organ bicara dan organ
tubuh lainnya seperti pada orang yang cacat fisik dapat mengurangi efektifitas
penterjemahan pesan.
Tujuan yang dimaksud oleh Shannon dan Wever adalah otak penerima
pesan. Kerja otak penerima pesan adalah sama dengan kerja otak pengirim
pesan. Bedanya pada otak penerima pesan, otak bekerja menterjemahkan
pesan yang disampaikan pengirim pesan (decoding) sedangkan pada otak
pengirim pesan, otak bekerja membuat lambing-lambang untuk menyampaikan
pesan (encoding).
Sumber Gangguan biasanya muncul ketika Sumber Informasi
menyampaikan pesan melalui Saluran Komunikasi kepada Penerima Informasi.
Contoh, ketika Anda berbicara dengan teman Anda, ada suara mesin mobil yang
dihidupkan. Contoh lain, ketika Anda sedang berbicara lewat telepon ada
gangguan pada saluran pesawat telepon Anda sehingga suaranya tidak jelas.
Mungkin ketika Anda chatting di internet tiba-tiba listrik padam, atau jaringan
terganggu,dan sebagainya.
Hampir dalam setiap komunikasi ada gangguan. Untuk itu perlu dimengerti
kiat-kiat untuk mengatasi gangguan tersebut. Berikut ini adalah kiat-kiat yang
diberikan Shannon dan Wever:
1) Menambah kekuatan suara. Misalnya, pada saat kita sedang berbicara di
tempat yang gaduh, maka kita harus memperkeran suara kita.
2) Mengarahkan suara secara tepat. Misalnya, pada saat mendengarkan radio
di tempat yang ramai, kita harus menghadapkan radio itu tepat ke arah
telinga kita dan kalau perlu jaraknya diperdekat.
3) Menggunakan bahasa non verbal. Jika hanya dengan bahasa verbal
komunikasi kurang efektif, perlu diperkuat dengan bahasa non verbal.
4) Menggunakan pengulangan-pengulangan seperti mengulang-ulang kata-kata
kunci (key words) dalam proses komunikasi. Hal ini hanya baik dilakukan jika
suasana komunikasi benar-benar hiruk pikuk. Redundansi (menggunakan
lambing-lambang secara berlebihan) tidak baik digunakan dalam situasi yang
normal.
Gambar 1.6
Model Komunikasi Shannon dan Wever (Forsdale, 1981)

Sumber Transmitter Penerima Tujuan


informasi

penyedia Signal Penerima Penginterpretasian


pesan signal pesan

Sumber Gangguan

Dari beberapa model komunikasi yang telah diuraikan dapat diambil model
komunikasi yang dapat mewakili model-model tersebut, sebagai berikut:

Gambar 1.7
Model Komunikasi Secara Umum

Pengirim pesan menyampaikan dengan media melalui berbagai

pesan gangguan/

kendala
penerima pesan pesan diterima

memberikan oleh penerima


respon pesan

1.2 Komunikasi bagi Manusia


Sejak dari lahirnya manusia itu adalah zoon politicon. Hal ini mengandung
arti bahwa manusia secara kodrati tidak dapat hidup sendirian. Ia membutuhkan
orang lain untuk bersosialisasi, bermasyarakat atau membangun komunitasnya, .
Untuk itulah ia melakukan komunikasi. Komunikasi menjadi keniscayaan
eksistensial bagi manusia sebab tanpa komunikasi manuisia tidak dapat melakukan
fungsi kemanusiaannya dengan baik.
Fungsi komunikasi pada manusia berkembang sejalan dengan meningkatnya
tingkat kebudayaan manusia. Pada saat ini kita telah mengenal apa yang
dinamakan Komunikasi Manajemen, Komunikasi Pemasaran, Komunikasi Politik,
Komunikasi Massa, Komunikasi Budaya, Komunikasi Internasional, Komunikasi
Pembangunan, Komunikasi Bisnis, Komunikasi Antar Budaya, Komunikasi Sosial,
dan sebagainya
Bagi manusia komunikasi memiliki fungsi yang sangat penting. Fungsi-fungsi
tersebut antara lain:
1. fungsi eksistensial
2. fungsi budaya
Fungsi eksistensial adalah fungsi komunikasi yang secara otomatis melekat
pada diri setiap individu manusia. Tidak ada manusia yang tidak berkomunikasi. Bila
fungsi ini ditiadakan, maka manusia akan mengalami penderitaan psikologis yang
luar biasa. Oleh sebab itu tidak ada manusia yang rela jika hak-hak
berkomunikasinya dikurangi atau ditiadakan sama sekali. Ketika Bung Karno
diisolasi oleh Pak Harto di Wisma Yaso, setelah terjadinya peristiwa berdarah
Gerakan 30 September pada tahun 1965, Bung Karno sangat menderita.
Penderitaan Bung Karno yang luar biasa ini disebabkan Bung Karno dilarang
berhubungan dengan siapa pun. Menonton televisi, mendengarkan radio, membaca
koran juga tidak diijinkan. Akibatnya Bung Karno sakit keras Sebagai manusia tentu
kebutuhan berkomunikasi sangat penting. Tidak ada manusia yang dapat berpuasa
untuk tidak berkomunikasi meski hanya satu minggu. Jika sekedar berpuasa dari
makanan mungkin masih ada yang dapat melakukannya. Larangan terhadap Bung
Karno untuk melakukan komunikasi dalam bentuk apapun merupakan penyiksaan
yang amat berat bagi Bung Karno. Hal ini kiranya yang makin mempercepat
wafatnya Bung Karno pada tahun 1970. Apalagi sebelum diasingkan di Wisma Yaso
itu, Bung Karno merupakan tokoh yang selalu ada di tengah-tengah rakyat sebagai
solidarity maker pada masa persiapan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Tokoh yang sangat aktif melakukan komunikasi.
Fungsi eksistensial komunikasi bagi manusia yang sangat penting ini juga
telah ditunjukkan dengan fakta bahwa ketika seorang manusia lahir ke dunia, maka
hal yang paling pertama dilakukan adalah berkomunikasi. Kegiatan pertama yang
dilakukan oleh seorang bayi yang baru lahir dari rahim seorang ibu adalah
menangis. Tangisan bayi yang baru lahir dari rahim kasih sayang seorang ibu dapat
menyatakan beberapa hal:
1. Sang bayi ingin menyatakan bahwa dirinya sehat karena dari sisi medis bayi
yang lahir tanpa menangis adalah kurang sehat atau tidak sehat.
2. Ia terkejut dengan terang benderang dunia dan keriuhannya karena di dalam
rahim ibu ia dilingkupi kegelapan dan kesunyian.
3. Ia menangis mendapatkan alam kehidupan baru yang penuh tipu daya,
muslihat, keserakahan dan harus dihadapi dengan perjuangan yang keras
untuk dapat hidup dengan selamat sampai ke alam kehidupan berikutnya,
yakni alam akhirat.
4. Ia terharu meninggalkan alam rahim yang hangat, penuh kedamaian dan
kasih sayang.

Adapun yang dimaksud dengan fungsi budaya adalah fungsi komunikasi


untuk membangun budaya manusia dari waktu ke waktu sehingga tercapai
perkembangan peradaban manusia yang sangat maju seperti yang dapat dilihat
pada abad 21 ini. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat canggih
sekarang ini merupakan hasil kerja manusia yang dikomunikasikan dari waktu ke
waktu. Manusia melakukan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya itu
dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya. Manusia secara terus
menerus melakukan komunikasi intelektual melalui diskusi-diskusi dan penulisan
buku-buku ilmiah.
Fungsi budaya dari kegiatan komunikasi inilah yang membuat manusia jauh
lebih maju daripada makhluk-makhluk yang lainnya. Manusia memliki kemampuan
menggunakan bahasa yang jauh lebih canggih daripada binatang, misalnya
sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi manusia berkembang sangat cepat.
Sebaliknya ilmu pengetahuan dan teknjologi binatang berhenti dan tak mungkin
dikembangkan lagi karena keterbatasan bahasa yang dimiliki. (Ferkiss, 1969)
Sebagai contoh, burung tempua dapat membuat sarang yang amat indah di ranting-
ranting pohon yang tinggi. Dari jaman dahulu kala sampai hari kiamat nanti
teknologi pembuatan sarang burung tempua itu akan tetap sama. Berbeda dengan
teknologi membuat rumah yang dimilki manusia. Manusia kini dapat membuat
rumah yang jauh lebih kokoh dan indah daripada pada jaman dahulu kala. Manusia
kini telah berhasil membuat rumah dengan enam puluh lantai yang ketinggiannya
mencapai 800 meter seperti di Dubai, Uni Emirat Arab. Keindahan arsitekturnya pun
sangat spektakuler. Hal ini akan terus berkembang semakin pesat.
Fungsi budaya kegiatan komunikasi bagi manusia telah diajarkan oleh Tuhan
ketika Tuhan menurunkan wahyu yang pertama kepada Rasul-Nya, Muhammad
saw, dengan firman-Nya: “Iqra!” (“Bacalah!”). Wahyu ini jelas menunjukkan fungsi
pentingnya kegiatan berkomunikasi bagi manusia lewat kegiatan membaca.
Kegiatan membaca merupakan bentuk komunikasi intelektual yang akan dapat
menjamin berlangsungnya pengembangan budaya dalam kehidupan manusia.
Kegiatan membaca mengimplikasikan akan perlunya budaya menulis, yang
merupakan sarana yang sangat vital untuk merekam perkembangan budaya
manusia dari generasi ke generasi.

1.3 Proses Komunikasi


Untuk dapat mengetahui bagaimana proses komunikasi terjadi, perlu
diketahui terlebih dahulu komponen-komponen yang ada dalam suatu kegiatan
komunikasi. Jika diamati secara cermat, dalam setiap kegiatan komunikasi ada
beberapa komponen yang selalu menyertai berlangsungnya suatu proses
komunikasi. Komponen –komponen itu adalah:
a. Komunikator (Communicator)
b. Pesan (Message)
c. Komunikan (Communicant)
d. Media (Media)
e. Efek (Effect)
a. Komunikator
Komunikator adalah seseorang atau sekelompok orang yang menyampaikan
suatu pesan kepada orang lain dalam kegiatan komunikasi. Komunikator dapat
menyampaikan suatu pesan secara lisan dan tulisan, langsung atau tidak langsung,
verbal atau non verbal.
Komunikator pada umumnya menyampaikan pesan secara individual atau
pribadi. Akan tetapi dalam kehidupan modern seringkali pula pesan disampaikan
secara kolektif atau berkelompok. Sebagai contoh, media masa seperti surat kabar
dan stasiun televisi menyampaikan berita yang merupakan hasil olahan bersama tim
redaksi kepada pembaca dan pemirsa. Pesan yang disampaikan oleh komunikator
secara kolektif pada umumnya menyangkut kegiatan keorganisasian. Pesan seperti
ini bersifat kelembagaan atau institusional. Pesan pribadi bersifat personal.
b. Pesan
Pesan adalah lambing-lambang yang bermakna (meaningful symbols), yaitu
lambing-lambang yang membawa pemikiran dan perasaan komuinikator.
Pesan yang disampaikan dalam proses komunikasi pada umumnya
dinyatakan dalam bentuk bahasa. Mengapa bahasa?. Karena bahasa merupakan
lambang yang paling efektif dibandingkan dengan lambang-lambang lainnya untuk
menyampaikan pemikiran dan perasaan manusia. Bahasa dapat menyatakan
gagasan, konsep, dan emosi manusia secara hampir sempurna. Apalagi dalam
penyampaian pesan dengan menggunakan bahasa lisan dibarengi dengan
penggunaan bahasa non verbal seperti kontak mata (eye contact), mimik wajah
(facial expression), dan bahasa tubuh (body language) lainnya. Disamping itu
bahasa juga dapat menyampaikan konsep waktu yang rumit seperti sekarang,
kemarin, besok, baru saja, dan sebagainya yang tak mungkin dimiliki oleh lambang-
lambang lainnya. Nuansa makna yang terkandung dalam kata, frasa, dan kalimat
juga dapat menambah penyampaian pesan dengan menggunakan bahasa jauh lebih
teliti, mendalam, dan sangat khusus. Namun perlu ditekankan kembali bahwa
memanfaatkan perpaduan berbagai lambang dalam proses komunikasi dapat
membuat komunikasi lebih lengkap dan efektif.
c. Komunikan
Komunikan adalah seseorang atau sekelompok orang yang menjadi sasaran
komunikator dalam penyampaian pesan dalam suatu proses komunikasi.
Komunikan merupakan target audience (pendengar sasaran) yang dapat
terdiri dari satu orang saja atau sekelompok orang yang memiliki kesamaan dalam
kepentingan atau perhatian terhadap hal-hal tertentu. Sekelompok orang yang
seperti ini dinamakan publik (public). Kenyataan ini memberikan gambaran bahwa
komunikan dapat bersifat homogen dan heterogen.
Faktor-faktor yang mempengaruhi homogenitas dan heterogenitas target
audience antara lain, usia, tingkat pendidikan, status sosial, kegemaran (hobi),
agama, dan sebagainya.
d. Media
Media merupakan sarana atau alat yang digunakan oleh komunikator ketika
menyampaikan pesan kepada komunikan.
Media pada umumnya digunakan ketika komunikator ingin menyampaikan
pesan kepada komunikan yang berada di suatu tempat yang jauih. Ketika Anda ingin
berkomunikasi dengan seorang sahabat yang saat ini berada di Banda Neira,
misalnya, sementara Anda berada di Pemalang, sebuah kota kecil di pantura Jawa
Tengah, maka Anda memerlukan pesawat telepon, handphone (telepon genggam),
telegram atau surat untuk menghubunginya. Seorang pimpinan perusahaan multi-
nasional (multi-national corporation) dapat melakukan rapat dengan pimpinan
cabang di beberapa negara dengan menggunakan alat tele-conference.
Disamping faktor jarak, faktor kenyamanan atau pengurangan gangguan
(noise) dalam proses komunikasi juga membuat komunikator merasa perlu
menggunakan media. Misalnya, dalam sebuah kampanye Pemilihan Presiden
(Pilpres) yang dihadiri oleh banyak orang, untuk menjamin lancarnya komunikasi
maka para juru kampanye perlu dibantu dengan perangkat pengeras suara (loud
speaker) oleh panitia kampanye Pilpres. Tujuannya adalah agar pesan yang
disampaikan oleh para juru kampanye dapat disimak dengan baik oleh target
audience. Radio, televiisi, internet , surat kabar, tabloid, dan majalah merupakan
contoh media elektronik dan media cetak yang dapat memberi solusi terhadap
kendala komunikasi karena rentang jarak (distance) dan gangguan kegaduhan
(noise).
e. Efek
Efek adalah reaksi, respon atau tanggapan yang diberikan oleh komunikan
ketika komunikator menyampaikan pesan dalam proses komunikasi.
Efek dapat berbentuk verbal, non verbal, atau keduanya. Efek dapat bersifat
kognitif, afektif, dan konatif. Efek kognitif terjadi apabila komunikan mengalami
perubahan kondisi dari tidak tahu menjadi tahu; dari tidak mengerti menjadi
mengerti; dari tidak memahami menjadi memahami; dari tidak menguasai menjadi
menguasai. Efek afektif terjadi jika komunikan mengalami perubahan kondisi dari
tidak suka menjadi suka; dari tidak menyenangi menjadi menyenangi; dari tidak
tertarik menjadi tertarik, dan sebagainya. Sedangkan efek konatif terjadi bila
komunikan mengalami perubahan perilaku dari bersikap malas menjadi bersikap
rajin; dari bersikap memusuhi menjadi bersikap mencintai, dan sebagainya.
Dalam komunikasi efek yang diberikan oleh komunikan dapat diketahui atau
tidak diketahui secara langsung oleh komunikator. Jika efek tersebut diketahui
secara langsung oleh komunikator, maka efek ini berfungsi sebagai umpan balik
(feed-back). Hal ini sangat bermanfaat bagi komunikator. Komunikator dapat
memanfaatkan umpan balik ini untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas
komunikasi yang sedang berlangsung. Umpan balik yang negatif (negative feed-
back) seyogyanya dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas komunikasi yang
sedang terjadi. Umpan balik yang positif (positive feed-back) dapat dimanfaatkan
untuk menjaga kualitas komunikasi tersebut.

Gambar 1.8
Proses Komunikasi

Komunikator Pesan Media Komunikan

EFEK

1.4 Komunikasi Bisnis


Komunikasi memainkan peran yang sangat penting bagi keberhasilan hidup
seseorang baik dalam lingkup kehidupan pribadi maupun dalam lingkup kehidupan
bisnis.
Para pakar Ilmu Komunikasi dan Psikologi sepakat bahwa untuk
mendapatkan teman yang banyak (to wind a friendship), mendapatkan sahabat,
mendapatkan perhatian dari orang-orang yang berada di sekitar kehidupan
seseorang diperlukan ketrampilan berkomunikasi yang memadai. Dr. Norman V.
Peale memberi anjuran bahwa bagi siapa saja yang ingin mendapatkan
keberhasilan dalam kehidupan pribadi dan karir perlu mempelajari teknik
berkomunikasi yang efektif. Hal senada juga dinyatakan oleh Dr Dale Carnegie.
Para pakar Ilmu Manajemen dan Public Relations mengatakan bahwa
komunikasi merupakan tulang punggung dalam kegiatan manajemen. (the back
bone of management). Seperti dapat kita pahami bahwa kegiatan manajemen tak
mungkin akan dapat berjalan tanpa adanya kegiatan komunikasi. Dalam
pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen, yakni Perencanaan (Planning),
Pengorganisasian (Organizing), Pelaksanaan (Actuating), dan Pengawasan
(Controlling) kegiatan komunikasi merupakan sesuatu yang inklusif. Artinya pasti
ada; karena kegiatan manajemen dalam perusahaan atau institusi yang lain
melibatkan banyak orang. Tanpa kegiatan komunikasi yang efektif kegiatan
manajemen tersebut akan gagal menciptakan team work atau kerja tim yang baik.
Kesukesesan seorang pimpinan di dalam organisasi bisnis akan dipengaruhi
oleh kemampuannya dalam melakukan komunikasi dengan para karyawannya dan
pihak-pihak di luar organisasi bisnisnya itu. Inilah yang dinamakan membangun
relasi dengan publik internal (internal public relations) dan publik eksternal (external
public relations). Komunikasi dengan publik internal dan eksternal dapat dilakukan
oleh seorang pimpinan secara personal dan institusional. Komunikasi personal
dilakukan secara langsung oleh pimpinan sedangkan komunikasi institusional dapat
dilakukan oleh Bidang Public Relations pada perusahaan yang dipimpinnya itu.
Agar komunikasi bisnis dapat dilakukan secara positif untuk mendukung
keberhasilan bisnis perusahaan, perlu dipelajari bagaimana gaya manajemen dan
komunikasi dapat merealisasikan hal tersebut.

1.5 Gaya Manajemen dan Komunikasi


Dalam kegiatan manajerial seorang pimpinan berupaya mencapai tujuan-
tujuan perusahaan dengan melalui orang lain, terutama para karyawannya.
Bagaimana seorang pimpinan mengelola suimber daya yang ada, termasuk di
dalamnya sumber daya manusia, akan mencerminkan gaya manajemen dan
kepemimpinan yang dilakukannya. Gaya kepemimpinan seseorang pasti akan
mempengaruhi cara orang tersebut dalam melakukan komunikasi.
Sudah jamak diketahui bahwa tidak ada kepemimpinan dalam duinia bisnis
yang bersifat magis atau hanya berdasarkan karisma seorang pimpinan saja. Dunia
bisnis adalah dunia rasional yang harus didukung dengan kemampuan manajjerial,
kepemimpinan, dan komunikasi yang handal. Sekarang ini yang dikembangkan
adalah knowledge based business.. Bisnis yang didasari dengan ilmu pengetahuan
sehingga semuanya dapat dipertanggung jawabkan dengan akal sehat.
Bila hanya mengandalkan karisma, suatu kepemimpinan pasti tidak akan
dapat dijalankan dengan baik. Untuk dapat melaksanakan gaya kepemimpinan
dalam suatu manajemen bisnis perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1) Anda, sebagai pimpinan
2) Karyawan Anda
3) Tugas yang harus dikerjakan.

Dengan memperhatikan tiga hal di atas barulah Anda dapat memilih gaya
kepemimpinan yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisinya. Ada empat gaya
kepemimpinan, yakni sebagai berikut:
1) Directing
2) Coaching
3) Supporting
4) Delegating
Directing adalah gaya yang paling tepat digunakan bila ada tugas yang rumit.
Sementara itu karyawan Anda belum memiliki pengalaman yang memadai dan
motivasi kerjanya masih rendah. Atau Anda dalam posisi under pressure (di bawah
tekanan) untuk dapat menyelesaikan pekerjaan secepat-cepatnya.
Kelemahan gaya kepemimpinan ini adalah Anda dapat terjebak pada over
communicating dan time wasting. Artinya, Anda memberikan penjelasan yang
berlebihan sehingga seringkali menimbulkan kebingungan bagi karyawan dan
membuang-buang waktu.
Secara negatif biasanya kepemimpinan ini disebut sebagai kepemimpinan
yang otoriter (authoritarian leadership).
Coaching digunakan bila karyawan Anda telah memiliki pengalaman dan
motivasi kerja yang baik. Yang perlu Anda lakukan adalah memberikan penjelasan
yang lebih rinci mengenai suatu tugas dan membangun hubungan yang lebih
produktif dengannya. Anda perlu hadir sebagai sosok inspirator yang membuat
karyawan tersebut lebih bergairah.
Kepemimpinan gaya coaching sering pula dinamakan gaya kepemimpinan
supervisory (supervisory leadership).
Supporting akan efektif digunakan bila karyawan telah menguasai teknik-
teknik menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang diharapkan. Disamping itu Anda
telah dapat menjalin hubungan yang dekat dan baik dengan karyawan. Dalam
situasi ini yang Anda perlukan adalah melakukan pendekatan yang lebih intensif lagi
dengan karyawan. Sediakan waktu untuk berbincang-bincang dengan karyawan
tersebut dan libatkan dalam pengambilan keputusan-keputusan.yang menyangkut
pekerjaan. Dengarkan pula saran-saran karyawan terkait dengan peningkatan
kinerja.
Gaya kepemimpinan supporting biasanya dinamakan pula gaya
kepemiimpinan laissez faire (laissez faire leadership)
Delegating paling tepat digunakan dalam keadaan karyawan sudah dapat
mengerjakan tugas secara efektif dan efisien. Kinerjanya terbukti bagus dan
karenanya Anda mempercayainya untuk bekerja secara mandiri. Akan tetapi Anda
masih terus harus memantau kinerjanya itu supaya tetap sesuai dengan standar
yang diharapkan.
Secara positif gaya kepemimpinan delegating ini dinamakan pula gaya
kepemimpinan demokratis (democratic leadership).

Gambar 1.9
Empat Gaya Dasar Kepemimpinan

Tinggi

Supporting Coaching

Tingkat

komunikasi
dengan
staf Delegating Directing

Rendah

Rendah Tinggi

Tingkat Staf.Pengarahan

Seorang pimpinan perusahaan yang profesional harus dapat mengembangkan


gaya kepemimpinan yang sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi di
perusahaannya. Hal ini dinamakan situational leadership. Untuk dapat
mengembangkan situational leadership diperlukan pengembangan ketrampilan di
bawah ini:
1) Ketrampilan menganalisa (analytical skills) dalam menilai kemampuan tingkat
pengalaman dan motivasi bawahan dalam melaksanakan tugas.
2) Ketrampilan dalam menerapkan gaya kepemimpinan secara luwes (flexibility
skills) berdasarkan analisa terhadap situasi.
3) Kemampuan untuk menyampaikan (communication skills) kepada karyawan
mengapa Anda menggunakan gaya kepemimpinan yang berbeda dalam
situasi yang berbeda.
Berikut ini kemampuan komunikasi yang perlu Anda kembangkan sebagai
pimpinan perusahaan:
1) Menyampaikan pesan atau informasi secara singkat dan jelas mengenai
suatu pekerjaan.
2) Menjelaskan kepada para karyawan apa yang harus dilakukan dan
bagaimana melakukannya.
3) Memberi dorongan kepada mereka yang melakukan tugas dengan baik dan
benar.
4) Membangun hubungan baik dengan para karyawan Anda.
5) Berbagi masalah dengan para karyawan dan mendengarkan ide-ide, serta
perasaan mereka.
6) Mendelegasikan tugas secara efektif kepada para karyawan.
7) Menjelaskan kepada para karyawan mengapa Anda mengubah-ubah gaya
kepemimpinan Anda dalam situasi yang berbeda dan mengapa Anda tetap
bersikap konsisten dalam ketidak-konsistenan Anda.

1.6 Hambatan-hambatan dalam komunikasi


Seperti yang telah dibahas dalam bagian sebelumnya dalam proses
komunikasi terdapat gangguan (noise) yang dapat mengurangi lancarnya proses
komunikasi. Gangguan atau hambatan tersebut secara garis besar dapat
dikelompokkan menjadi hambatan internal dan hambatan eksternal.
Hambatan internal adalah hambatan yang berasal dari dalam diri individu
yang terkait dengan kondisi fisik dan psikologis. Contoh, jika seseorang mengalami
gangguan pendengaran maka ia akan mengalami hambatan dalam komunikasi.
Demikian pula seseorang yang sedang tertekan (depresi) tidak akan dapat
melakukan komunikasi dengan baik.
Hambatan eksternal adalah hambatan yang berasal dari luar diri individu yang
terkait dengan lingkungan fisik dan lingkunga social budaya. Contoh, suara gaduh
dari lingkungan sekitar dapat menyebabkan komunikasi tidak berjalan lancar.
Contoh lainnya, perbedaan latar belakang social budaya antara komunikator dan
komunikan dapat menyebabkan salah pengertian (misunderstanding) antara
keduanya.
Secara umum hambatan-hambatan komunikasi dapat disebabkan oleh hal-
hal berikut:
1) Penyampaian pesan kurang efektif. Hal ini pada umumnya
disebabkan oleh faktor bahasa. Misalnya, piliihan kata kurang cermat
atau penyususunan kalimat yang kurang tepat.
2) Perbedaan tingkat dalam organisasi atau lingkungan sosial.
Misal, seorang bawahan tidak dapat berbicara lancar saat menghadap
pimpinan di Ruang Direktur. Seorang yang berpendidikan rendah
cenderung menghadapi kesulitan ketika berbicara dengan orang-orang
yang berpendidikan tinggi.
3) Perbedaan persepsi. Persepsi yang dimiliki setiap orang dalam
melihat suatu hal dapat berbeda-beda. Demikian pula dalam
menafsirkan pesan yang diterimanya. Perbedaan persepsi
dimungkinkan terjadi karena perbedaan kondisi psikologis, sosial dan
budaya yang melingkupi setiap orang.
4) Kurang perhatian. Akibat kurang perhatian, orang tidak dapat
menyimak pesan yang diterimanya secara seksama sehingga
menimbulkan penafsiran yang kurang atau tidak tepat.
5) Adanya hallo effect. Hallo effect merupakan sikap / perilaku
mempersepsikan atau menilai seseorang secara subjektif. Apabila ada
orang yang berkedudukan tinggi berbicara langsung saja dipercaya.
Padahal belum tentu yang dikatakan itu benar. Sebaliknya kalau ada
orang yang tak berkedudukan berbicara, secara apriori beranggapan
bahwa yang disampaikan itu tidak penting. Padahal barangkali justeru
pesan itu sangat penting.
6) Emosi. Setiap orang yang sedang emosi pada umumnya tidak dapat
melakukan komunikasi secara efektif. Misal, orang yang sedang
marah, sedih atau takut yang luar biasa tidak dapat berpikir secara
jernih dan rasional. Akibatnya dapat menimbulkan kesalah-pahaman.

1.7 Cara Mengatasi Hambatan dalam Komunikasi


Ada beberapa cara untuk mengatasi hambatan yang terjadi dalam
komunikasi, yakni sebagai berikut:

1) Gunakan umpan balik (feed-back). Komunikator harus memperhatikan


umpan balik yang ditunjukkan oleh komunikan apakah dengan bahasa verbal
atau non verbal. Kemudian memberi penafisiran terhadap umpan balik
tersebut dengan benar,
2) Pahami perbedaan individu (individual differences) atau kompleksitas
individu (individual complexity) dengan baik. Karena setiap individu itu
merupakan pribadi yang unik / khas (everybody is a unique individual) maka
komunikator seyogyanya mempelajari latar belakang psikologis, sosial,
ekonomi, budaya, pendidikan dan yang lainnya yang menyangkut komunikan.
Dengan demikian komunikator dapat menggunakan taktik yang tepat dalam
berkomunikasi dengan komunikan tersebut.
3) Gunakan komunikasi langsung (face to face communication).
Komunikasi langsung dapat mengatasi hambatan komunikasi karena sifatnya
lebih persuasif Komunikator dapat memadukan bahasa verbal dan non
verbal secara bersamaan (simultan). Disamping kata-kata yang selektif dapat
pula digunakan kontak mata, mimik wajah, bahasa tubuh lainnya, dan juga
meta language (isyarat di luar bahasa) yang dapat membuat komunikasi lebih
berdaya guna / sangkil dan berhasil guna / mangkus.
4) Gunakan bahasa yang sederhana dan mudah. Kosa kata yang digunakan
jangan yang sulit dimengerti dan panjang suku katanya. Kalimat yang
digunakan seyogyanya yang berpola sederhana (pola kanonik). Kalimat
yang mengandung banyak anak kalimat membuat pesan lebih sulit
dimengerti.

1.8 Jenis-Jenis Komunikasi


Komunikasi dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis sebagai berikut:
1) Berdasarkan jumlah orang yang berkomunikasi
a. Komuninkasi perseorangan / pribadi (interpersonal communication)
Misal: pembicaraan pimpinan dengan seorang karyawan, dan
karyawan dengan karyawan lainnya.
b. Komunikasi dengan banyak orang / umum (mass commuinication)
Misal: pembicaraan dalam rapat, seminar, dan sebagainya.
2) Berdasarkan cara penyampaian pesan
a. Komunikasi Lisan
- Komunikasi langsung (direct / face to face communication)
Misal: wawancara, rapat, dan sebagainya.
- Komunikasi tidak langsung (indirect / distance communication)
Misal: pembicaraan lewat telepon, chatting dengan menggunakan
internet, dan sebagainya.
b. Komunikasi Tertulis
- surat atau korespondensi
- foto, gambar, grafik, diagram
- formulir, memo
- naskah seperti laporan
3). Berdasarkan simbol / lambang penyampaian pesan
a. Komunikasi verbal
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata
atau bahasa.
b. Komunikasi non verbal
Komunikasi non verbal adalah komunikasi yang tidak menggunakan
kata atau bahasa melainkan menggunakan gambar, bahasa tubuh
atau simbol-simbol non verbal lainnya.

4) Berdasarkan perilaku
a. Komunikasi formal / resmi
Komunikasi formal adalah komunikasi yang tata aturannya telah
ditentukan oleh organisasi. Misal: rapat, laporan
b. Komunikasi informal / tidak resmi
Komunikasi informal adalah komunikasi yang tidak mengikuti tata
aturan tertentu. Misal: komunikasi dalam kegiatan arisan, dan sosial
lainnya.
5) Berdasarkan ruang lingkup
a. Komunikasi internal.
Komunikasi internal adalah komunikasi yang terjadi di dalam suatu
organisasi. Komunikasi internal meliputi:
- Komunikasi dari atasan kepada bawahan. Misal: instruksi,
petunjuk, pujian, teguran (vertical)
- Komunikasi dari bawahan kepada atasan. Misal: saran, pendapat,
keluhan.(vertical)
- Komunikasi dari bawahan kepada atasan atau atasan kepada
bawahan dalam bidang yang berbeda (diagonal)
- Komunikasi antar karyawan dalam tingkat / kedudukan yang
sama (horizontal)
b. Komunikasi eksternal
Komuniksi eksternal adalah komunikasi antara organisasi dengan
pihak lain di luar organisasi / masyarakat.
6) Berdasarkan arah komunikasi
a. Komunikasi satu arah (one way traffic of communication)
Komunikasi satu arah adalah komunikasi yang berlangsung dari
satu orang kepada orang lain tanpa ada tanggapan / respon / feed-
back.
b.. Komunikasi dua arah (two way traffic of communication)
Komunikasi dua arah adalah komunikasi yang terjadi secara timbal
balik (resiprocal). Ada tanggapan / respon / feed-back dari pihak
lain.

1.9 Komunikasi Bisnis dan Teknologi

Abad 21 merupakan abad perkembangan peradaban manusia yang luar


biasa. Pada abad ini orang dapat melakukan kegiatan apapun dari rumah. Belanja
barang, sekolah, berkirim surat, curhat dengan teman, membayar rekening, beli tiket
dan sebagainya, semuanya dapat dilakukan dari kamar tidur di rumah kita.
Perangkat personal computer yang ‘sederhana’ memungkinkan setiap orang meng-
akses internet kapan saja. Dengan demikian setiap orang dapat berkomunikasi
dengan siapa saja yang ia kehendaki tanpa dibatasi oleh apapun. Jarak komunikasi
yang terentang jauh kini tak lagi menjadi kendala. Kita dapat berkomunikasi,
misalnya dengan seorang petani di pedesaan kecil, Minot di Amerika Utara. Kita
dapat ‘say hello’ kepada sahabat kita di kota kecil yang sepi tapi nyaman di
Underdale, Australia Selatan atau juga dengan teman petani kita di Barossa Valley,
yang sejuk dengan pohon-pohon anggur yang berkualitas tinggi. Sahabat kita yang
sedang sendiri di kamp-kamp Freeport di Timika, Papua pun dapat kita hibur dari
kamar kita sambil minum kopi pada akhir minggu (week end). Kecanggihan
teknologi komunikasi abad ini sungguh luar biasa. Barangkali para llmuwan besar
yang ikut memberi andil sangat besar dalam perkembangan peradaban manusia ini
seperti Eintstein, Galileo Galilei, Thomas Alva Eddison, James Watt dan yang
lainnya tidak pernah dapat membayangkan keluarbiasaan kecanggihan teknologi
komunikasi saat ini. Jika kita menoleh lebih jauh lagi ke belakang, maka para
ilmuwan atau filosof yang telah membangun tiang pancang peradaban manusia
seperti Ibnu Rusyd, Al Jabir, Al Khuwarizm, Ibnu Sina dan yang lainnya pun akan
kagum melihat peradaban manusia yang luar biasa ini sekarang. Misal, hanya
dengan sebuah ponsel yang berukuran mini kita dapat berkomunikasi dengan
seseorang yang berada di suatu tempat yang jaraknya puluhan ribu kilometer. Yang
hebat, suara itu begitu jelas. Persis seperti suara aslinya sehingga kita tidak pernah
sangsi bahwa itu adalah suara orang yang kita kehendaki. Jika kita renungkan,
betapa luar biasanya !. Gelombang suara kita dalam hitungan detik dapat
menembus jarak yang terentang demikian jauhnya tanpa mengalami distorsi yang
berarti. Padahal gelombang suara kita itu dihalangi gedung-gedung pencakar langit,
gunung-gunung, pohon-pohon yang tinggi di hutan-hutan yang amat luas, Bahkan
ada bentangan samudra yang tehampar luas dengan gelombangnya yang tinggi.
Semua itu tidak menjadi kendala dalam komunikasi global abad 21. Jika Anda
sedang menekuni spiritualisme ,melalui sebuah ponsel, Anda dapat berdialog
dengan para darwis di sebuah perkampungan yang bernama Konya, di perbukitan
selatan kota Turki, tempat dimana Jalaludin Rumi, folosof besar itu pernah tinggal
dan kini ‘beristirahat’.

Gambar 1.10
Komunikasi Global
Jika komunikasi antar manusia di planet bumi ini dapat dilakukan dengan
mudah, maka dalam pemahaman bisnis, hal ini menjadi peluang yang dahsyat untuk
melakukan pemasaran! Bukankah target pemasaran itu manusia? Kenichi Ohmae,
dalam Borderless World mengatakan bahwa kini pasar global (global market) telah
menjadi pasar desa (village market) yang kita kenal sebagai pasar tradisional di
kampung kita. Sebegitu dekat. Tinggal pencet tombol komputer atau ponsel., dan
akses internet. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah dapatkan kita
memanfaatkan kecanggihan teknologi telekomunikasi ini untuk kepentingan bisnis?
Untuk itu diperlukan pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan sikap bagaimana
kita mampu memanfaatkannya secara professional !.
Ada sebuah contoh seorang wanita muda di Bandung yang berhasil
memanfaatkan kecanggihan teknologi internet untuk melakukan bisnis property.
Konon, dalam sebulan ia dapat meraih keuntungan rata-rata seratus juta rupiah.
Modal yang dimiliki hanya 15 perangkat komputer dengan 15 orang karyawan. Ia
tidak memiliki kantor resmi. Bagian depan rumahnya ia jadikan ‘kantor’. Small Office,
Home Office atau SOHO, menurut istilah orang sekarang. Yang luar biasa pada
wanita muda ini adalah ia tidak saja memasarkan property di kawasan pasar dalam
negeri saja tetapi juga property yang berada di luar negeri. Ia bahkan telah berhasil
menjual sebuah rumah besar di Inggris. Ini merupakan contoh bagaimana
memanfaatkan teknologi komunikasi untuk bisnis.
Seorang teman yang kreatif dan mempunyai naluri bisnis yang baik, suatu
saat membuat portal di internet. Ia promosi rokok sigaret dari bermacam merek. Ia
buka toko di dunia maya. Ia tak perlu membangun toko dengan biaya mahal karena
ia tak butuh semen, kayu, batu dan material lainnya. Jualannya sukses besar.
Banyak pembeli dari mancanegara yang rajin menyambangi tokonya itu.
Marketing memang membutuhkan komunikasi. Komunikasi dipermudah
dengan teknologi. Tingkat kecanggihan teknologi akan sangat mempengaruhi
kualitas komunikasi. Komunikasi pemasaran yang didukung dengan teknologi
komunikasi yang canggih pasti akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Dalam
konteks bisnis global sangat jelas cakupan wilayah pemasaran akan lebih luas jika
aktivitas pemasaran ditunjang dengan teklnologi yang canggih itu. Namun demikian
perlu diingat bahwa disamping faktor teknologi, ada faktor lain yang sangat penting,
yakni bagaimana komunikasi tersebut dilakukan. Jika teknologi itu merupakan
perangkat keras marketing, maka bagaimana komunikasi itu dilakukan merupakan
wujud dari perangkat lunaknya. Kedua faktor tersebut harus diperhatikan benar agar
komunikasi pemasaran dapat berjalan dengan efisien dan efektif.