Anda di halaman 1dari 12

BAB 3

KOMUNIKASI NON VERBAL

“A smile is something you can't give away;


it always comes back to you.” 

Author Unknown

Komunikasi lisan yang setiap hari dilakukan oleh manusia baik dalam
kegiatan pribadi yang tidak resmi maupun kegiatan organisasional yang resmi
pada umumnya menggunakan komunikasi verbal dan non verbal. Komunikasi
verbal dan non verbal digunakan secara simultan atau bersamaan secara
alamiah dalam komunukasi lisan Oleh karena itu komunikasi non verbal
seringkali dilakukan secara reflek atau tanpa disadari ketika seseorang berbicara.
Sebagai contoh, ketika pimpinan kantor Anda memarahi salah seorang karyawan
di kantor Anda, maka Anda akan melihat wajah pimpinan Anda itu memerah,
matanya terbelalak dengan sorot mata yang tajam, tangannya bergetar,
suaranya meninggi, dan sebagainya. Kemarahannya tidak hanya tercermin
dalam kata-katanya tetapi juga tercermin dalam segenap bahasa tubuhnya.
Bahasa tubuhnya itu semakin memastikan seberapa besar tingkat
kemarahannya. Komunikasi verbal yang dibarengi dengan komunikasi non
verbal dapat meningkatkan efektifitas komunikasi.
Dalam kegiatan bisnis sangat penting untuk menyadari akan perlunya
memanfaatkan bahasa non verbal untuk mendapatkan hasil komunikasi yang
diharapkan. Misalnya ketika bernegosiasi, seorang negosiator perlu mencermati
bahasa tubuh mitra negosiator lainnya karena bahasa tubuh tersebut
menyampaikan pesan tertentu. Cara negosiator duduk, kerutan dahinya,
tangannya yang menopang dagu, tatapan matanya, senyumannya, dan
sebagainya pasti menyampaikan pesan tertentu jika diperhatikan dengan cermat
dan seksama. Jika seorang negosiator sedang meyakinkan sesuatu kepada
negosiator yang lain, maka seyogyanya bahasa tubuhnya dimanfaatkan juga
untuk menguatkan pesan yang disampaikannya secara verbal.

3.1. Pengertian Komunikasi Non Verbal


Dalam komunikasi dapat terjadi seseorang berbicara bohong kepada orang
lain. Akibatnya orang lain tertipu oleh kebohongan tersebut. Hal ini dapat terjadi
dalam dunia bisnis dan politik yang sarat intrik. Untuk menghindarinya perlu
dipelajari unsur-unsur non verbal yang menyertai komunikasi verbal yang
dilakukan. Konon, untuk mendeteksi kebohongan seseorang ketika sedang
berbicara adalah dengan mengamati pupil atau biji mata orang tersebut. Jika
diamati dengan cermat dan seksama sorot mata yang dipancarkan dari pupil
mata orang yang berbicara bohong dan jujur akan tampak benar bedanya.
Perlu dimengerti bahwa bahasa non verbal itu lebih dapat dipercaya
daripada bahasa verbal. Dengan bahasa verbal orang dapat memutar balikan
fakta kebenaran. Orang bilang hal ini dengan mudah dapat terjadi karena lidah
memang tidak bertulang. Kebohongan tempatnya hanya ada pada lidah. Hati
nurani dan pikiran manusia tidak dapat melakukan kebohongan. Demikian pula
dengan organ tubuh manusia. Semuanya dengan sangat jujur akan
mengkomunikasikan apa yang menjadi niat seseorang. Oleh sebab itu jika
ditanyakan kepada orang mana yang lebih dapat dipercaya kata-kata atau
bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh seseorang, pada umumnya orang
berpendapat akan lebih percaya kepada bahasa tubuh. Pernah seorang kawan
mengatakan: ‘Ia sudah lima kali menyatakan rasa cintanya kepadaku. Namun
aku tak sedikitpun menanggapinya. Kau tahu kenapa? Melihat sorot matanya
waktu ia bicara, aku tak percaya deh kalau ia benar-benar mencintaiku. Beda
ketika Aksan, yang jadi suamiku sekarang, mengatakan rasa cintanya kepadaku
sepuluh tahun yang lalu, Dia cuma bilang ‘I love you’, Santi! Tapi rasanya aku
sudah demikian yakin bahwa memang ia sangat mencintaiku. Bahkan jika ia tak
mengatakannya. Sorot matanya begitu dalam menembus ke dasar hatiku’.
Pengalaman kawan saya itu mungkin pula dialami oleh orang yang lainnya.
Jelasnya, bahasa non verbal itu merupakan sarana komunikasi yang amat efektif
untuk menyampaikan pesan. Para pakar komunikasi pada umumnya
berpendapat bahwa komunikasi non verbal mempengaruhi efektifitas komunikasi
sebanyak kurang lebih 65%, komunikasi verbal hanya memberi pengaruh 7%,
dan nada suara atau infleksi memberi pengaruh 38%.
Beberapa karakteristik komunikasi non verbal, diantaranya adalah sebagai
berikut:
1) Untuk dapat memaknai tanda-tanda non verbal kita tidak dapat membuat
suatu generalisasi mengenai arti tanda-tanda tersebut. Arti tanda-tanda non
verbal dapat bersifat situasional dan kultural. Oleh karena itu kita perlu
bersikap hati-hati dan cermat dalam memahami komunikasi non verbal.
2) Komunikasi non verbal seringkali muncul sebagai pelengkap komunikasi
verbal. Sangat jarang komunikasi non verbal muncul tanpa dibarengi dengan
komunikasi verbal kecuali untuk kasus tertentu yang sangat khusus. Hal ini
disebabkan tanda-tanda non verbal hanya dapat menyampaikan pesan yang
sangat terbatas. Oleh sebab itu boleh dikatakan komunikasi non verbal
merupakan bagian dari komunikasi verbal.
3) Komunikasi non verbal sangat mungkin untuk disalah-pahami. Oleh
karenanya diperlukan wawasan yang luas untuk memahami dengan baik
komunikasi non verbal seperti mempelajari budaya komunitas pengguna
bahasa tertentu.

3.2 Komponen Komunikasi Non Verbal


Dalam komunikasi sehari-sehari manusia pada umumnya melakukan
komunikasi non verbal dalam beberapa bentuk yang merupakan komponen
komunikasi non verbal. Komponen-komponen tersebut adalah body language
(bahasa tubuh), physical proximity (jarak fisik), non linguistic / para linguistic /
supra segmental (komponen di luar struktur gramatikal bahasa), dan other non
verbal components (komponen non verbal lainnya).
1) Bahasa tubuh
Bahasa tubuh pada umumnya bersifat universal atau berlaku untuk semua
manusia yang hidup di planet bumi ini. Namun demikian ada pula bahasa tubuh
yang bersifat terbatas atau local karena maknanya terikat oleh budaya lokal
komunitas setempat. Bahasa tubuh lebih merupakan tanda non verbal yang
memiliki arti tertentu.
Bahasa tubuh dapat berupa kontak tubuh, gerak isyarat, postur tubuh,
anggukan/gelengan kepala, mimik wajah, dan gerakan mata.
a) Kontak tubuh
Di negara-negara Barat seperti Amerika, Inggris, Australia, dan sebagainya
untuk menunjukkan hubungan yang akrab diantara anggota keluarga, kerabat,
dan sahabat tampak mereka menyatakannya dengan saling memberikan ciuman
(kissing) di pipi kiri dan kanan. Hal itu berlaku untuk semua gender atau lintas
gender. Sebaliknya hal tersebut tabu dilakukan di negara-negara Timur seperti
Indonesia, Malaysia, Brunai dan sebagainya. (tetapi sekarang sudah mulai terjadi
pergeseran budaya ketika globalisasi menjadi kenyataan). Di negara-negara
Timur untuk menyatakan keakraban dan persahabatan orang menyatakannya
dengan berjabat tangan saja. Di Barat berjabat tangan sering dilakukan di dalam
pertemuan bisnis.

Cara seseorang berjabat tangan akan menunjukkan tingkat kedalaman


hubungan diantara orang-orang yang berjabat tangan. Pertama, jika orang
berjabat tangan dengan menggunakan satu tangan saja, maka hal ini dapat
diartikan adanya hubungan yang biasa dan saling menghargai. Kedua, jika saat
berjabat tangan seseorang menjabat tangan orang lainnya dengan kedua telapak
tangannya, hal ini bermakna bahwa orang tersebut memilki hubungan yang
mendalam dengan orang yang diajak berjabat tangan, menaruh kepercayaan,
dan menggambarkan kesungguhan hati. Ketiga, apabila tangan kiri orang yang
berjabat tangan memegang bagian siku tangan kanan orang yang diajak berjabat
tangan, hal ini menunjukkan adanya hubungan yang lebih dalam lagi. Keempat,
jika tangan kiri orang yang berjabat tangan memegang tangan lengan bagian
atas orang yang diajak berjabat tangan, hal ini menggambarkan adanya
hubungan pribadi yang lebih mendalam lagi. .Kelima, jika tangan kiri orang yang
berjabat tangan memegang bahu tangan kiri orang yang diajak berjabat tangan,
hal ini mengindikasikan adanya hubungan yang jauh lebih mendalam lagi.
Keenam, bila seseorang merasa bahwa dengan berjabat tangan dengan cara
yang terakhir ini kurang atau tidak cukup, maka orang dapat saling berpelukan
(hugging). Ketujuh, kontak tubuh yang menunjukkan hubungan yang sangat
intim adalah dengan berciuman (kissing)
Kontak tubuh dapat pula dinyatakan dalam bentuk sentuhan. Seorang pria
yang mencintai seorang perempuan dapat menyatakan kerinduannya dengan
meremas jari jemari tangan kekasihnya saat mereka berdua. Seorang ibu yang
mengasihi anaknya yang masih kecil dapat membelai-belai rambut anaknya itu
dengan lembut. Sentuhan dapat mengekspresikan perasaan seseorang
terhadap orang lain. Ilmu yang secara khusus mempelajari sentuhan sebagai
sarana komunikasi non verbal disebut haptics.
b) Gerak Isyarat
1. Isyarat ring atau Okay
Di Amerika isyarat ring atau okay digunakan untuk menyatakan bahwa
semuanya beres atau tidak ada masalah (all correct). Di Indonesia isyarat ini
menunjukkan angka nol. Di Jepang isyarat ring berarti uang
2. Isyarat acungan jempol
Di Indonesia tanda acungan jempol menyatakan adanya pujian. Acungan
jempol yang disertai dengan gerak badan yang membungkuk, di Jawa hal
tersebut dilakukan untuk mempersilakan orang yang lebih tua atau orang yang
dihormati.
3. Isyarat telapak tangan
Telapak tangan yang terbuka mengindikasikan sifat jujur, terbuka, apa
adanya. Telapak tangan yang dihadapkan ke atas menunjukkan adanya
permintaan. Adapun telapak tangan yang dihadapkan ke bawah berarti ada
upaya untuk mengendalikan emosi atau menahan sesuatu.
4. Isyarat lainnya
Jari-jemari tangan yang mengelus-elus dagu mengandung arti sedang
memikirkan atau menilai suatu usulan. Tangan yang memukul-mukul dahi
menunjukkan seseorang sedang kelupaan sesuatu dan berupaya mengingatnya.
Kaki yang digoyang-goyangkan menunjukkan seseorang sedang risau atau galau
hatinya.
Dalam ilmu komunikasi gerakan tubuh seperti goyangan kaki, anggukan
kepala, mimik wajah dan sebagainya disebut kinesics
c) Postur tubuh
Orang yang berdiri tegak, kepala miring ke belakang, dan tangan di atas
paha merupakan pertanda bahwa orang tersebut ingin mendominasi orang
lainnya. Barangkali orang ini lebih berkuasa daripada orang yang lainnya.
Dua orang yang berdiri agak berjauhan dan separoh badannya tampak
dalam posisi rileks, hal ini menunjukkan bahwa kedua orang tersebut sedang
saling menilai.
Seseorang yang berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada
menyatakan bahwa orang tersebut menutup diri atau melindungi diri dari
lingkungan yang baginya terasa asing.
Dua orang yang duduk berhadap-hadapan dengan salah satu kakinya
ditaruh di atas kaki yang lainnya, sambil menyandarkan kepalanya di atas kedua
tangannya masing-masing dan dalam posisi santai menunjukkan bahwa kedua
orang itu tingkat kepandaiannya sama.

d) Anggukan / Gelengan Kepala


Jika ada orang sedang berbicara dan kemudian ada orang lain
menganggukkan kepalanya, hal ini dapat menandakan bahwa orang tersebut
setuju dengan apa yang dikatakan. Kalau orang itu mengangguk-anggukkan
kepalanya maka hal tersebut menyatakan bahwa orang tersebut memberi pujian
kepada orang tersebut. Akan tetapi bila orang tersebut mengangguk-anggukkan
kepalanya dengan frekuensi yang lebih cepat, maka hal ini memberikan isyarat
agar orang yang sedang berbicara seyogyanya segera mengakhiri
pembicaraannya itu.
Gelengan kepala secara umum menyatakan ketidak-setujuan terhadap
sesuatu yang dikatakan. Apabila gelengan kepala ini dilakukan berulang-ulang
(mengeleng-gelengkan kepala), maka hal ini dapat ditafsirkan sebagai suatu
keheranan terhadap suatu peristiwa yang sedang terjadi atau dikatakan.
e) Mimik Wajah
Mimik wajah atau ekspresi wajah menyampaikan pesan facial kepada
orang lain seperti takut, senang, sedih, khawatir, mengharap, kecewa, marah,
tersinggung, dan sebagainya. Sebagai contoh orang yang secara tiba-tiba
mendapat berita bahwa ia mendapat hadiah sebuah mobil, maka wajahnya
seketika akan tampak bersinar cerah, matanya membesar, dan mulutnya
tersenyum lebar. Sebaliknya orang yang mendapatkan berita bahwa ada
saudaranya yang tertimpa musibah, maka wajah orang itu akan tampak muram,
air matanya meleleh, dan mulutnya bergetar menanggung rasa sedihnya itu.
Gambar 3.1
Berbagai Ekspresi Mimik Wajah

Gambar 3.2
Berbagai Ekspresi Mimik Wajah 2
Gambar 3.3
Berbagai Ekpresi Mimik Wajah

f) Gerakan dan Tatapan Mata (Kontak Mata)


Dalam komunikasi non verbal gerakan dan tatapan mata dapat
menyampaikan pesan tertentu. Orang yang sedang melirik (mencuri pandang
dengan menggerakkan pupil atau biji matanya ke kanan atau ke kiri)
menunjukkan bahwa orang tersebut sedang memiliki rasa tertarik atau
mempunyai hasrat terhadap seseorang atau sesuatu. Namun perasaan tersebut
disembunyikan. Orang yang menatap orang lain dengan pandangan yang
lembut menunjukkan adanya perasaan suka, sayang, simpati, mengasihi dan
seterusnya. Sedangkan bila tatapan matanya tajam, hal itu menunjukkan adanya
perasaan tidak suka, benci, memusuhi, memarahi, dan seterusnya. Tatapan
mata dapat bermakna positip atau negatip.
2) Jarak Fisik
Jarak fisik akan memperlihatkan jarak psikologis antara dua orang yang
berkomunikasi. Orang yang saling menyukai cenderung memperpendek jarak
fisik diantara mereka. Contohnya, dua orang yang sedang dimabuk asmara,
pasti inginnya selalu berdekatan. Orang tua dan anak juga demikian. Orang
yang saling membenci cenderung saling menjauh. Bahkan seringkali mereka
tidak ingin saling bertemu.
Dalam komunikasi non verbal jarak fisik dibagi menjadi lima kategori:
a) Intimate zone (wilayah intim)
Berdasarkan penelitian Edward T Hall wilayah intim dalam komunikasi non
verbal untuk masyarakat Amerika jaraknya berkisar dari 0 – 18 inci. Wilayah
intim biasanya berlaku untuk komunikasi antara orang tua dengan anak-anaknya,
sepasang kekasih atau suami istri, famili dan teman yang sangat akrab atau
sahabat.
b) Personal zone (wilayah pribadi)
Jarak wilayah pribadi berkisar antara 18 inci – 4 kaki. Biasanya hal ini dapat
terjadi dalam suasana pesta, rapat, atau pertemuan-pertemuan sosial lainnya.
Orang Barat pada umumnya sangat memperhatikan batas wilayah pribadi
dibandingkan dengan orang Timur. Hal ini penulis rasakan pada waktu tinggal di
Australia selama satu tahun.sebagai mahasiswa.
c) Social zone (wilayah sosial)
Wilayah sosial berjarak kurang lebih 4- 10 kaki. Wilayah sosial akan terjadi
dalam pertemuan antar banyak orang yang belum saling mengenal satu sama
lain.
d) Public zone (wilayah publik)
Jarak wilayah publik adalah lebih besar dari 10 kaki (> 10 kaki). Sebagai
contoh, ketika seseorang sedang berpidato di hadapan masa di suatu lapangan
terbuka.
e) Orientasi
Orientasi adalah posisi fisik seseorang terhadap posisi fisik orang lain dalam
komunikasi. Contoh, apabila dua orang duduk berdampingan hal ini dapat
ditafsirkan bahwa kedua orang tersebut dapat bekerja sama. Apabila dua orang
duduk, salah satunya menghadap ke Selatan atau Utara dan yang lainnya
menghadap ke Timur atau ke Barat, maka hal ini dapat diterjemahkan bahwa
kedua orang itu bersedia melakukan pembicaraan yang sifatnya khusus. Apabila
dua orang duduk berhadap-hadapan, hal ini mengindikasikan adanya persaingan
diantara keduanya.
Jarak fisik yang berlaku untuk setiap bangsa tidak lah sama. Hal ini
tergantung dari budaya bangsa tersebut. Pada bangsa-bangsa yang masih
primitif dan komunal pada umumnya jarak fisik tersebut lebih pendek.
3) Non Linguistik
Non linguistic / para linguistic / supra segemental merupakan makna yang
dapat ditimbulkan oleh nada, irama, tekanan kata-kata di luar susunan kata,
frase, dan kalimat yang merupakan unsur gramatikal atau tata bahasa.
Seorang ibu yang menyuruh seorang anaknya untuk makan siang berkata
sebagai berikut: ‘Makan lah nasi dan lauk itu semuanya!’. Apabila kalimat
tersebut diucapkan dengan nada, irama, dan tekanan yang berbeda tentu akan
menimbulkan makna yang berbeda. Makna kalimat tersebut dapat berarti
ketulusan seorang ibu yang demikian mengasihi anaknya; seorang ibu yang
sedang memarahi anaknya yang rakus; seorang ibu yang memerintahkan
anaknya untuk makan nasi dan lauk saja dan jangan makan yang lainnya, dan
seterusnya.
Disamping nada, irama, dan tekanan pada waktu suatu kata, frase, dan
kalimat diucapkan, makna juga ditentukan oleh mimik wajah, bahasa tubuh orang
yang mengatakannya, serta situasi yang melingkupinya.
4) Komponen non verbal lainnya
Komponen non verbal lainnya di luar apa yang sudah diuraikan sebelumnya
diantaranya adalah warna,waktu, dan penampilan diri.
a) Warna
Dalam dunia bisnis warna memiliki makna khusus. Ketika membuat logo
perusahaan pemilik perusahaan akan memilih warna tertentu terkait dengan
logonya itu. Mengapa demikian ? Hal itu tidak lain karena warna mempunyai
makna filosofis tertentu. Bahkan banyak perusahaan yang mengecat bangunan
perusahaannya itu dengan warna khusus. Misal, PDAM mengecat warna
gedung perusahaannya dengan warna biru. Telkom juga mengecat warna
gedungnya dengan wana biru. Coca Cola mengecat warna gedungnya dengan
warna merah.
Di mal-mal, toserba, dan super market warna dinding dibuat lembut agar
menimbulkan kesan nyaman bagi para pengunjung. Perusahaan-perusahaan
mobil di Jepang rajin melakukan survey warna untuk menentukan trend warna
mobil yang akan dipasarkan. Demikian pula perusahaan kosmetik. Warna dipilih
oleh konsumen karena warna dapat mencitrakan pribadi orang yang memiliknya.
Warna dapat mengkomunikasikan pesan tertentu.
Tempat-tempat ibadah seperti masjid, gereja, klenteng, dan vihara masing-
masing memiliki warna yang khas untuk memberi identifikasi spiritualitas yang
berbeda.
b) Waktu
Waktu dapat menyatakan sesuatu. Misal seorang pejabat yang diundang ke
suatu acara secara sengaja akan datang tepat pada saat acara akan dimulai
atau terlambat beberapa menit setelah acara dimulai. Biasanya pejabat yang
seperti ini ingin mengatakan secara non verbal kepada para tamu undangan
bahwa ia adalah orang penting (Very Important Person / VIP) atau orang yang
berkedudukan tinggi. Ia tidak mau datang lebih awal untuk bersama-sama
dengan para tamu undangan menunggu acara dimulai. Ia ingin ketika ia datang
semua orang menyaksikan kedatangannya dan memberi hormat kepadanya.
Tentu hal ini bermakna kesombongan. Namun demikian, ini sering terjadi di
lingkungan kita, bukan?
Di negara-negara tertentu seperti Australia, Amerika, Inggris, dan Jerman
orang sangat menghargai waktu. Di Indonesia, Malaysia, Brazil, dan Filipina
orang fleksibel dalam urusan waktu. Penyikapan suatu bangsa terhadap waktu
sesungguhnya menyampaikan pesan seberapa besar ethos kerja bangsa
tersebut.
c) Penampilan Diri
Peribahasa Jawa mengatakan: “ajining diri jalaran saka lati, ajining raga
jalaran saka busana’ (berharga tidaknya seseorang adalah karena ucapannya,
dan berharga tidaknya seseorang adalah karena pakaiannya). Peribahasa ini
mengajari kita untuk menjaga penampilan diri secara utuh. Penampilan diri
penting karena penampilan diri seseorang akan menceritakan kepada orang
yang melihatnya apakah orang tersebut orang yang patut dihormati, cukup
bonafide, dan dapat dipercaya. Penampilan diri juga mencerminkan kelas sosial
seseorang. Oleh karena itu dalam kegiatan bisnis penampilan diri yang baik
sangat diperlukan. Kepercayaan (trust) yang timbul di hati seseorang seringkali
dimulai dengan melihat penampilan orang tersebut. Orang yang berpakaian rapi,
dengan disertai dasi dan jas yang bagus, juga sepatu yang mengkilap, dan jam
tangan yang berkelas akan membuat mitra bisnis percaya untuk melakukan
kerjasama.