Anda di halaman 1dari 95

LAPORAN PROFESI KEPERAWATAN GERONTIK

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA NY.A

OLEH:
KINTAN RESQITHA EKAPUTRI, S. Kep
2041312013

Kelompok D

Dosen Pembimbing :
Gusti Sumarsih, S.Kp, M.Biomed
Ns. Siti Yuliharni, M.Kep, Sp.Kep.Kom

PRAKTEK PROFESI KEPERAWATAN ANAK


PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2020
LAPORAN PENDAHULUAN

Pertemuan Ke :1
Hari/Tanggal : Senin / 11 Januari 2021
I. Latar Belakang
a. Karakteristik Keluarga
Sehubungan dengan dilaksanakannya praktek profesi keperawatan secara daring pada masa
pandemi ini, mahasiswa diminta untuk memilih 1 KK binaan yang di di dalamnya terdapat
lansia yang tinggal dalam satu rumah. Proses keperawatan dilakukan mulai dari pengkajian
sampai evaluasi dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Setelah didapatkan KK
binaan sesuai kriteria, maka selanjutnya akan dilakukan kunjungan pertama untuk
perkenalan dan meminta persetujuan keluarga dan lansia untuk dijadikan KK binaan.
Keluarga akan diberikan asuhan keperawatan terkait lansia dalam konteks keluarga.
Setelah disetujui, kemudian mulai dilakukan pengkajian terhadap KK binaan yaitu
keluarga Ny. A dengan anggota lansia bernama Ny. A. Pengkajian yang dilakukan meliputi
data keluarga, riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik dan data lannya yang diperlukan.
b. Data yang perlu dikaji lebih lanjut :
- Data umum keluarga
- Tahap perkembangan dan riwayat keluarga
- Data lingkungan
- Struktur keluarga
- Fungsi keluarga
c. Masalah keperawatan keluarga : belum ada masalah keperawatan yang ditegakan

II. Proses Keperawatan


a. Diagnosa Keperawatan Keluarga : belum dirumuskan diagnosa keperawatan
b. Rencana Tindakan
1. Bina hubungan terapeutik dengan anggota keluarga
2. Jelaskan tujuan kunjungan kesehatan kepada keluarga
3. Berikan Informed Consent kepada keluarga
4. Kontrak untuk pertemuan selanjutnya
III. Implementasi Tindakan Keperawatan
a. Metode : Wawancara, observasi
b. Media dan Alat : Informed consent, format pengkajian, alat tulis
c. Waktu/ Tempat : Senin, 11 Januari 2021, jam 19.00-20.00 wib di rumah Ny. A

IV. Kriteria Evaluasi


a. Kriteria Struktur
Wawancara dilakukan langsung dengan Ny. A dan keluarga, berlangsung di rumah Ny.
A.
b. Kriteria Proses
1. Waktu yang direncanakan sesuai pelaksanaan.
2. Keluarga menerima kedatangan mahasiswa.
3. Keluarga menyetujui menjadi keluarga binaan.
4. Selama wawancara keluarga kooperatif.
c. Kriteria Hasil
1. Didapatkan hasil pengkajian tentang data umum keluarga
2. Didapatkan hasil pengkajian tentang tahap perkembangan dan riwayat keluarga
3. Keluarga bersedia untuk dilakukan pertemuan selanjutnya
LAPORAN PENDAHULUAN

Pertemuan Ke :2
Hari/Tanggal : Selasa / 12 Januari 2021
I. Latar Belakang
a. Karakteristik Keluarga
Tipe keluarga Ny. A adalah extended family, dimana satu keluarga terdiri dari satu atau
dua keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah dan saling menunjang sama lain. Ny. A
tinggal bersama anak dan menantunya. Tn.A selaku kepala keluarga dan mencari
pekerjaan dan menantu, Ny. R selaku anak dan bekerja, dan Ny. A selaku IRT.
Komunikasi dan interaksi bersifat terbuka dan berjalan dengan baik antara sesama
anggota keluarga.
b. Data yang perlu dikaji lebih lanjut :
- Fungsi keluarga
- Stress dan koping
- Harapan keluarga
- Pemeriksaan fisik
c. Masalah keperawatan keluarga : belum ada masalah keperawatan yang didapatkan

II. Proses Keperawatan


a. Diagnosa Keperawatan Keluarga : belum ada diagnose keperawtaan yang dirumuskan
b. Rencana Tindakan
1. Bina hubungan terapeutik dengan anggota keluarga
2. Jelaskan tujuan kunjungan kesehatan kepada keluarga
3. Kaji riwayat dan tahap perkembangan keluarga
4. Kaji struktur keluarga
5. Kaji fungsi keluarga
6. Kaji stress dan koping keluarga
7. Kaji harapan keluarga
8. Kaji data lingkungan
9. Lakukan pemeriksaan fisik dan tanda-tanda vital .

III. Implementasi Tindakan Keperawatan


a. Metode : Wawancara, observasi, pemeriksaan fisik
b. Media dan Alat : Format pengkajian, alat tulis, nursing kit
c. Waktu/ Tempat : Selasa, 12 Januari 2021, jam 10.30-12.00 wib di rumah Ny. A

IV. Kriteria Evaluasi


a. Kriteria Struktur
Wawancara dilakukan langsung dengan Ny.A dan berlangsung di rumah Ny. A
b. Kriteria Proses
1. Waktu yang direncanakan sesuai pelaksanaan.
2. Keluarga menerima kedatangan mahasiswa.
3. Selama wawancara keluarga kooperatif.
c. Kriteria Hasil
1. Didapatkan hasil pengkajian tentang tahap perkembangan dan riwayat keluarga
2. Didapatkan hasil pengkajian struktur keluarga
3. Didapatkan hasil pengkajian data lingkungan
4. Didapatkan hasil pengkajian struktur dan fungsi keluarga
5. Didapatkan hasil pengkajian stress dan koping keluarga
6. Didapatkan hasil pengkajian harapan keluarga
7. Didapatkan data pemeriksaan fisik
8. Keluarga bersedia untuk dilakukan pertemuan selanjutnya
LAPORAN PENDAHULUAN

Pertemuan Ke :3
Hari/Tanggal : Rabu/13 Januari 2021
I. Latar Belakang
a. Karakteristik Keluarga
Setelah dilakukan pengkajian diketahui bahwa Ny. A mengalami ansietas dengan masalah
ansietas dengan gejala seperti Ny.A mengatakan saat ini sedang banyak fikiran karena
masalah dengan tetangga dan sepupunya, Ny.A mengatakan merasa cemas dan gelisah
mengenai masalah tersebut, wajah tampak tegang, dan Ny. A mengeluhkan sulit untuk tidur
b. Data yang perlu dikaji lebih lanjut :
Data-data yang perlu di kaji lebih lanjut adalah mengkaji pengetahuan pasien terhadap
ansietas
c. Masalah keperawatan keluarga :
Ansietas

II. Proses Keperawatan


a. Diagnosa Keperawatan Keluarga : Ansietas
b. Rencana Tindakan
1. Bina hubungan terapeutik dengan anggota keluarga
2. Jelaskan tujuan kunjungan kesehatan kepada keluarga
3. Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
4. Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
5. Gali pengetahuan pasien tentang ansietas
6. Jelaskan pengertian ansietas
7. Jelaskan penyebab ansietas
8. Jelaskan tanda dan gejala ansietas
9. Jelaskan penatalaksanaan ansietas
III. Implementasi Tindakan Keperawatan
a. Metode : ceramah, diskusi
b. Media dan Alat : lembar balik, leaflet
c. Waktu/ Tempat : Rabu, 13 Januari 2021, jam 15.00-16.00 wib di rumah Ny. A

IV. Kriteria Evaluasi


a. Kriteria Struktur
Pendidikan kesehatan dilakukan langsung dengan Ny.R didampingi oleh keluarga dan
berlangsung di rumah Ny.A.
b. Kriteria Proses
1. Waktu yang direncanakan sesuai pelaksanaan.
2. Keluarga menerima kedatangan mahasiswa.
3. Ny. R berpartisipasi aktif dalam penyuluhan
c. Kriteria Hasil
1. Ny. A dan keluarga mampu menjelaskan pengertian ansietas
2. Ny. A dan keluarga mampu menjelaskan penyebab ansietas
3. Ny. A dan keluarga mampu menjelaskan tanda dan gejala ansietas
4. Ny. A dan keluarga mampu menjelaskan penatalaksanaan ansietas
LAPORAN PENDAHULUAN

Pertemuan Ke :4
Hari/Tanggal : Rabu / 20 Januari 2021
I. Latar Belakang
a. Karakteristik Keluarga
Pada kunjungan ke tiga telah dilakukan intervensi keperawatan dengan memberikan
edukasi dan demonstrasi mengenai terapi relaksasi nafas dalam yang dapat dilakukan
ketika merasa stress. Berdasarkan kontrak waktu yang disepakati sebelumnya dengan Ny.
A bahwa akan dilaksanakan pertemuan keempat, yaitu teknik relaksasi nafas dalam.
b. Data yang perlu dikaji lebih lanjut :
Data-data yang perlu di kaji lebih lanjut adalah pengetahuan pasien mengenai cara
menangkan diri jika merasakan cemas
c. Masalah keperawatan keluarga :
Ansietas

II. Proses Keperawatan


a. Diagnosa Keperawatan Keluarga : ansietas
b. Rencana Tindakan
1. Mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam

III. Implementasi Tindakan Keperawatan


a. Metode : ceramah, diskusi dan demonstrasi
b. Media dan Alat : -
c. Waktu/ Tempat : Rabu, 20 Januari 2021, jam 10.00-11.30 wib di rumah Ny. A

IV. Kriteria Evaluasi


a. Kriteria Struktur
Tanya jawab dan diskusi dilakukan langsung dengan Ny.A dan keluarga dan berlangsung
di rumah Ny.A.
b. Kriteria Proses
1. Waktu yang direncanakan sesuai pelaksanaan.
2. Keluarga menerima kedatangan mahasiswa.
3. Ny. A berpartisipasi aktif dalam kegiatan

c. Kriteria Hasil
1. Ny. A dan keluarga mampu mengerti dan mau melakukan relaksasi nafas dalam
2. Ny. A mau melakukan teknik relaksasi nafas dalam hingga ansietas yang dirasakan
berkurang
LAPORAN PENDAHULUAN

Pertemuan Ke :5
Hari/Tanggal : Kamis/21 Januari 2021
I. Latar Belakang
a. Karakteristik keluarga
Pada kunjungan ke empat telah dilakukan intervensi keperawatan dengan
menjelaskan tentang teknik relaksasi nafas dalam. Berdasarkan kontrak waktu yang
disepakati sebelumnya dengan Ny. R bahwa akan dilaksanakan pertemuan ke lima, yaitu
terapi mengurangi ansietas dengan terapi relaksasi otot progresif
b. Data yang perlu dikaji lebih lanjut
Pengetahuan keluarga tentang terapi relaksasi otot progresif.
c. Masalah keperawatan keluarga
Ansiteas
II. Proses Keperawatan
a. Diagnosa Keperawatan
Ansietas
b. Rencana Tindakan
- Jelaskan tujuan dan prosesdur terapi
- Menjelaskan pengertian terapi relaksasi otot progresif
- Menjelaskan tujuan terapi relaksasi otot progresif
- Menjelaskan indikasi terapi relaksasi otot progresif
- Menjelaskan Teknik terapi relaksasi otot progresif

III. Implementasi Tindakan Keperawatan


a. Metode : Ceramah, diskusi, dan demonstrasi
b. Media dan Alat : Lembar balik, leaflet
Waktu dan Tempat : Kamis. 21 Januari 2021/ 11/00-12.00 WIB di rumah Ny. A
IV. Kriteria Evaluasi
a. Kriteria Struktur
Tempat dan media serta alat penyuluhan sesuai rencana
b. Kriteria Proses
Waktu yang direncanakan sesuai pelaksanaan dan selama intervensi keluarga kooperatif
c. Kriteria Hasil
Ny.A dan keluarga mampu menjelaskan mengenai terapi relaksasi otot progresif
LAPORAN PENDAHULUAN
A. Lansia
1. Pengertian Lansia
Menurut UU RI No 13 Tahun 1998 tentang kesejateraan lanjut usia bab I pasal 1
dan 2 menerangkan lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai 60 tahun ke atas
(Azizah, 2011). Sutarti (2014) lansia merupakan suatu masa transisi kehidupan
terakhir yang sangat istimewa. Padila (2013) menua bukanlah suatu penyakit, tetapi
proses yang berangsur-angsur mengakibatkan perubahan yang kumulatif, proses
menurunya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar
tubuh yang berakhir dengan kematian.

2. Klasifikasi Lansia
Menurut WHO (2013) klasifikasi lansia adalah:
a. Usia pertengahan (middle age) usia 45-59 tahun
b. Lanjut usia (elderly) usia 60-74 tahun
c. Lanjut usia tua (old) usia 75-90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) usia >90 tahun

Menurut Depkes RI (2013) klasifikasi lansia terdiri dari:


a. Pre lansia yaitu seseorang berusia antara 45-59 tahun
b. Lansia yaitu seseorang berusia 60 tahun atau lebih
c. Lansia risiko tinggi yaitu seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan
masalah kesehatan
d. Lansia potensial yaitu lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan
kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa
e. Lansia tidak potensial yaitu lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga
hidupnya bergantung pada bantuan orang lain
3. Masalah Kesehatan pada Lansia
Masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia akibat perubahan sistem, antara
lain (Azizah, 2011):
a. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem respirasi, antara lain penyakit paru
obstruksi kronik, TB, influenza, dan pneumonia
b. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem kardiovaskular, antara lain
hipertensi dan penyakit jantung koroner
c. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem neurologi, seperti cerebro vascular
accident
d. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem musculoskeletal, seperti fraktur,
osteoarthritis, rheumatoid artritis, gout artritis, dan osteoporosis
e. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem endokrin, seperti DM
f. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem pencernaan, antara lain gastritis,
hemoroid, dan konstipasi
g. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem sensori, seperti katarak, glaucoma,
dan presbikusis
h. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem reproduksi dan perkemihan, seperti
menopause dan inkontinensia
i. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem integument, antara lain dermatitis,
pruitis, candidiasis, herpes zoster, ulkus pada ekstremitas bawah, dan pressure
ulcus
j. Lansia dengan masalah kesehatan jiwa, seperti demensia

4. Perubahan pada Lansia


Berikut ini merupakan beberapa perubahan yang terjadi pada lansia menurut Aspiani
(2014):
a. Perubahan fisiologis pada lansia
1) Perubahan sistem kardiovaskular
Elastisitas dinding aorta menurun, katup jantung menebal dan menjadi kaku,
kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahunnya sesudah
berumur 20 tahun, kehilangan elastisitas pembuluh darah, dan tekanan darah
meningkat
2) Perubahan sistem pernafasan
Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku, menurunnya
aktivitas silia, paru-paru kehilangan elastisitas, alveoli ukurannya melebar dan
jumlahnya berkurang, serta kemampuan batuk berkurang
3) Perubahan sistem persyarafan
Berat otak menurun menjadi 10-20%, lambat dalam merespon, mengecilnya
saraf panca indera, dan kurang sensitive terhadap sentuhan
4) Perubahan sistem gastrointestinal
Kehilangan gigi, indera pengecap menurun, esofagus melebar, rasa lapar
menurun, peristaltic usus lemah, fungsi absorbs melemah, dan liver semakin
mengecil dan menurun
5) Perubahan sistem urinaria
Fungsi ginjal menurun, otot-otot vesika urinaria melemah, dan kapasitasnya
menurun
6) Perubahan sistem endokrin
Produksi dari hampir semua hormone menurun, fungsi paratiroid, dan
sekresinya tidak berubah, menurunnya aktivitas tiroid, dan menurunnya BMR
(basal metabolic rate)
7) Perubahan sistem pengindera
a) Sistem pendengaran
Presbiakuisis (gangguan pendengaran), membrane timpani menjadi atropi,
terjadinya pengumpulan serumen, dan pendengaran menurun
b) Sistem penglihatan
Hilangnya respon terhadap sinar, lensa keruh, daya adaptasi terhadap
kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya gelap, hilangnya
daya akomodasi, dan menurunnya lapang pandang
c) Sistem perabaan
Indera peraba mengalami penurunan
d) Sistem pengecap dan penghidu
Rasa yang tumpul menyebabkan kesukaan terhadap makanan yang asin
dan banyak berbumbu, serta penciuman menurun
8) Perubahan sistem integument
Pengerutan pada kulit atau keriput, permukaan kulit kasar dan bersisik,
menurunnya respon terhadap trauma, mekanisme proteksi kulit menurun, kulit
kepala dan rambut menipis, bewarna kelabu, pertumbuhan kuku lebih lambat,
kuku menjadi pudar, dan kurang bercahaya
9) Perubahan sistem musculoskeletal
Tulang kehilangan cairan menyebabkan semakin rapuh dan osteoporosis,
kifosis, discus invertebralis menipis dan menjadi pendek, persendian menjadi
pendek, persendian membesar dan menjadi kaku, tenden mengerut dan
mengalami sclerosis
10) Perubahan sistem reproduksi
Pada perempuan frekuensi sexual intercourse cenderung menurun secara
bertahap, mengecilnya ovary dan uterus, arofi payudara, selaput lendir vagina
menurun, produksi estrogen dan progesterone oleh ovarium menurun saat
menopause. Pada laki-laki menurunnya produksi spermatozoa, dorongan
seksual menetap sampai di usia diatas 70 tahun. Dorongan dan aktivitas
seksual berkurang tetapi tidak hilang sama sekali
b. Perubahan psikososial pada lansia
1) Pensiun
Nilai seseorang diukur dari produktivitas dan identitasi dikaitkan dengan
peranan dalam pekerjaannya. Jika seseorang pensiun, maka akan mengalami
kehilangan-kehilangan antara lain:
a) Kehilangan finansial (pendapatan berkurang)
b) Kehilangan status (dulu mempunyai jabatan/posisi yang cukup tinggi,
lengkap dengan semua fasilitas)
c) Kehilangan teman/kenalan atau relasi
d) Kehilangan pekerjaan/kegiatan
2) Merasakan atau sadar terhadap kematian
3) Perubahan cara hidup (memasuki rumah perawatan, pergerakan lebih sempit)
4) Kemampuan ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan, biaya hidup
meningkat dan penghasilan yang sulit, biaya pengobatan bertambah
5) Adanya penyakit kronis dan ketidakmampuan
6) Kesepian akibat pengasingan dari lingkungan sosial
7) Gangguan saraf panca indera, timbul kebutaan, dan ketulian
8) Rangkaian dari kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan teman-teman
dan keluarga
9) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri,
perubahan konsep diri
c. Perubahan spiritual
Agama atau kepercayaan makin berintegrasi dalam kehidupan, lansia semakin
teratur dalam kegiatan beribadah. Lansia cenderung tidak terlalu takut terhadap
konsep dan realitas kehidupan (Zulmi, 2016)
d. Perubahan pola tidur dan istirahat
Penurunan aliran darah dan perubahan dalam mekanisme neurotransmitter dan
sinapsis memaikan peran penting dalam perubahan tidur dan terjaga yang
dikaitkan dengan faktor pertambahan usia. Faktor ekstrinsik seperti pensiun juga
dapat menyebabkan perubahan yang tiba-tiba pada kebutuhan untuk beraktivitas
dan kebutuhan energi sehari-hari serta mengarah perubahan pola tidur. Keadaan
sosial dan psikologis yang terkait dengan faktor predisposisi terjadinya depresi
pada lansia, kemudian mempengaruhi pola tidur lansia. Pola tidur dapat
dipengaruhi oleh lingkungan, dan bukan sepenuhnya dipengaruhi oleh penuaan
(Maas, 2011).

B. Ansietas
1. Pengertian Ansietas
Ansietas merupakan pengalaman emosi dan subjektif tanpa ada objek yang
spesifik sehingga orang merasakan suatu perasaan was-was (khawatir) seolah-olah
ada sesuatu yang buruk akan terjadi dan pada umumnya disertai gejala-gejala
otonomik yang berlangsung beberapa waktu (Stuart & Laraia, 1998). Menurut Riyadi
& Purwanto (2010), ansietas merupakan perasaan takut yang tidak menyenangkan
dan tidak dapat dibenarkan yang sering disertai gejala fisiologis, sedangkan pada
ansietas terkandung unsur penderitaan yang bermakna dan gangguan fungsi yang
disebabkan kecemasan tersebut. Rochman (2010) ansietas merupakan perasaan yang
tidak menentu tersebut pada umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akan
menimbulkan atau disertai perubahan fisiologis dan psikologis.

2. Rentang Respon Kecemasan

3. Tingkatan Ansietas
a. Ansietas ringan
Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan peristiwa kehidupan
sehari-hari. Orang yang mengalami ansietas ringan akan terdorong untuk
menghasilkan kreativitas. Respon fisiologis orang yang mengalami ansietas
ringan adalah sesekali mengalami nafas pendek, naiknya tekanan darah dan nadi,
muka berkerut, bibir bergetar, dan mengalami gejala pada lambung. Respon
kognitif orang yang mengalami ansietas ringan adalah lapang persepsi yang
melebar, dapat menerima rangsangan yang kompleks, konsertransi pada masalah
dan dapat menjelaskan masalah secara efektif. Adapun respons perilaku dan
emosi dari orang yang mengalami ansietas adalah tidak dapat duduk tenang,
tremor halus pada tangan, suara kadang meninggi.
b. Ansietas sedang
Ansietas sedang tingkat lapang persepsi pada lingkungan menurun dan
memfokuskan diri pada hal-hal penting saat itu juga dan menyampingkan hal-hal
lain. Respon fisiologis dari seseorang yang mengalami ansietas sedang adalah
sering nafas pendek, nadi dan tekanan darah naik, mulut kering, anoreksia, diare,
konstipasi, dan gelisah. Respon kognitif orang yang mengalami ansietas sedang
adalah lapang persepsi yang menyempit, rangsangan luar sulit diterima, berfokus
pada apa yang menjadi perhatian. Adapun respons perilaku dan emosi adalah
gerakan yang tersentak-sentak, meremas tangan, sulit tidur, dan perasaan tidak
aman.
c. Ansietas berat
Pada ansietas berat lapang persepsi menjadi sangat sempit, individu
cenderung memikirkan hal-hal kecil dan mengabaikan hal-hal lain. Individu sulit
berpikir realistis dan membutuhkan banyak pengarahan untuk memusatkan
perhatian pada area lain. Respon fisiologis ansietas berat adalah nafas pendek,
nadi dan tekanan darah naik, banyak keringat, rasa sakit kepala, penglihatan
kabur, dan mengalami ketegangan. Respon kognitif pada orang yang mengalami
ansietas berat adalah lapang persepsi sangat sempit dan tidak mampu untuk
menyelesaikan masalah. Adapun respon perilaku dan emosinya terlihat dari
perasaan tidak aman, verbalisasi yang cepat, dan blocking.
d. Panik
Pada tingkatan panik lapang persepsi seseorang sudah sangat sempit dan
sudah mengalami gangguan sehingga tidak bisa mengendalikan diri lagi dan sulit
melakukan apapun walaupun dia sudah diberikan pengarahan. Respon fisiologis
panic adalah nafas pendek, rasa tercekik, sakit dada, pucat, hipotensi, dan
koordinasi motorik yang sangat rendah. Sementara respon kognitif penderita
panic adalah lapang persepsi yang sangat pendek sekali dan tidak mampu berpikir
logis. Adapun respons perilaku dan emosinya terlihat agitasi, mengamuk dan
marah-marah, ketakutan dan berteriak-teriak, blocking, kehilangan kontrol diri,
dan memiliki persepsi yang kacau (Harry, 2011).
4. Etiologi
a. Faktor predisposisi
Stressor predisposisi merupakan semua ketegangan dalam kehidupan yang
dapat menimbulkan kecemasan. Ketegangan dalam kehidupan dapat berupa
(Suliswati, 2005):
1) Peristiwa traumatik, yang dapat memicu terjadinya kecemasan berkaitan
dengan krisis yang dialami individu baik krisis perkembangan atau situasional
2) Konflik emosional yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan baik.
Konflik antara id dan superego atau antara keinginana dan kenyataan yang
menimbulkan kecemasan pada individu
3) Konsep diri terganggu akan menimbulkan ketidakmampuan individu berpikir
secara realitas sehingga akan menimbulkan kecemasan
4) Frustasi akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan untuk mengambil
keputusan yang berdampak terhadap ego
5) Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena merupakan ancaman
terhadap integritas fisik yang dapat mempengaruhi konsep diri individu
6) Pola mekanisme koping keluarga atau pola keluarga menangani stress akan
mempengaruhi individu dalam berespon terhadap konflik yang dialami
karena pola mekanisme koping individu banyak dipelajari dalam keluarga
7) Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan mempengaruhi respon
individu dalam berespon terhadap konflik dan mengatasi kecemasan
8) Medikasi yang dapat memicu terjadinya kecemasan adalah pengobatan yang
mengandung benzodizepin, karena benzodizepin dapat menekan
neurotransmitter gama amino butyric acid (GABA) yang mengontrol aktivitas
neuron di otak yang bertanggung jawab menghasilkan kecemasan

b. Faktor presipitasi
Stressor prepitasi merupakan ketegangan dalam kehidupan yang dapat
mencetuskan timbulnya kecemasan. Stressor presipitasi kecemasan dikelompokan
menjadi 2, yaitu (Prabowo, 2014):
1) Ancaman terhadap integritas fisik. Ketegangan yang mengancam integritas
fisik meliputi:
a) Sumber internal, meliputi kegagalan mekanisme fisiologis sistem imun,
regulasi suhu tubuh, dan perubahan biologis normal (hamil)
b) Sumber eksternal, meliputi paparan terhadap infeksi virus dan bakteri,
polutan lingkungan, kecelekaan, kekurangan nutrisi, dan tidak adekuatnya
tempat tinggal
2) Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber eksternal dan internal
a) Sumber internal, kesulitan dalam berhubungan interpersonal dirumah dan
ditempat kerja, penyesuaian terhadap peran baru. Berbagai ancaman
terhadap integritas fisik juga dapat mengancam harga diri.
b) Sumber eksternal, kehilangan orang yang dicintai, perceraian, perubahan
status pekerjaan, tekanan kelompok, dan sosial budaya.

5. Tanda dan Gejala


APA (1994) mengatakan tanda dan gejala ansietas, antara lain:
a. Palpitasi, jantung berdebar, atau akselerasi frekuensi jantung
b. Berkeringat
c. Gemetar atau menggigil
d. Perasaan sesak nafas dan tercekik
e. Perasaan tersedak
f. Nyeri atau ketidaknyamanan pada dada
g. Mual atau distress abdomen
h. Merasa pusing, linglung, vertigo atau pingsan
i. Derealisasi (perasaan tidak realistis) atau depersonalisasi (terpisah dari diri
sendiri)
j. Takut kehilangan kendali
k. Parestesia (kebas atau kesemutan)

Gejala lain pada gangguan ansietas adalah (Prabowo, 2014):


a. Gelisah, perasaan tegang, khawatir berlebihan, mudah letih, sulit berkonsentrasi,
iritabilitas, otot tegang, dan gangguan tidur (gangguan ansietas umum)
b. Ingatan atau mimpi buruk berulang yang menganggu mengenai peristiwa
traumatis, perasaan menghidupkan kembali trauma (episode kilas balik), kesulitan
merasakan emosi (afek datar), insomnia, dan iritabilitas atau marah yang meledak-
ledak (gangguan stress pasca trauma)
c. Repetitif, pikiran obsesif, perilaku kasar yang berkaitan dengan kekerasan,
kontaminasi dan keraguan, berulang kali melakukan aktifitas yang tidak bertujuan
(seperti mencuci tangan, menghitung, memeriksa, dan menyentuh) (gangguang
obsesifkompulsif)
d. Rasa takut yang nyata dan menetap akan objek atau situasi tertentu (fobia
spesifik), situasi performa atau sosial (fobia sosial), atau berada dalam satu situasi
yang membuat individu terjebak (agoraphobia)

6. Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan


McFarlan & Wasli (1997) mengatakan bahwa faktor yang berkontribusi pada
terjadinya kecemasan meliputi ancaman pada:
a. Konsep diri
b. Personal security system
c. Kepercayaan dan lingkungan
d. Fungsi peran, hubungan interpersonal; dan
e. Status kesehatan

Menurut Direktorat Kesehatan Jiwa Depkes RI (1994) faktor yang mempengaruhi


kecemasan antara lain:
a. Perkembangan kepribadian
Perkembangan kepribadian dimulai sejak usia bayi hingga 18 tahun dan
bergantung pada pendidikan orang tua dirumah, pendidikan di sekolah, dan
pengaruh sosialnya, serta pengalaman kehidupannya. Perkembangan kepribadian
akan membentuk tipe kepribadian seseorang dimana tipe tersebut akan
memengaruhi seseorang dalam merespon kecemasan.
b. Tingkat maturasi
Tingkat maturas individu akan memengaruhi tingkat kecemasan. Pada
bayi tingkat kecemasan lebih disebabkan perpisahan dan lingkungan yang tidak
dikenal. Kecemasan pada remaja lebih banyak disebabkan oleh perkembangan
seksual. Pada orang dewasa kecemasan lebih banyak ditimbulkan oleh hal-hal
yang berhubungan dengan ancaman konsep diri. Sedangkan pada lansia
kecemasan berhubungan dengan kehilangan fungsi, sebagai contoh wanita yang
menjelang menopause.
c. Tingkat pengetahuan
Individu dengan tingkat pengetahuan lebih tinggi akan mempunyai koping
(penyelesaian masalah) yang lebih adaptif terhadap kecemasan daripada individu
yang tingkat pengetahuannya lebih rendah.
d. Karakteristik stimulus
1) Intensitas stressor
Intensitas stimulus yang semakin besar akan semakin besar pula kemungkinan
respons cemasnya. Stimulus hebat akan menimbulkan lebih banyak respon
yang nyata daripada stimulus yang timbul perlahan-lahan. Stimulus ini selalu
memberi waktu bagi seseorang untuk mengembangkan cara penyelesaian
masalah
2) Lama stressor
Stressor yang menetap dapat menghabiskan energi dan akhirnya akan
melemahkan sumber-sumber penyelesaian masalah yang ada
3) Jumlah stressor
Stressor yang besar akan lebih meningkatkan kecemasan pada individu
daripada stimulus yang lebih kecil (Solehati & Kosasih, 2015)

7. Penatalaksanaan Ansietas
Hawari (2008) penatalaksanaan ansietas pada tahap pencegahan dan terapi
memerluan suatu metode pendekatan yang bersifat holistic, yaitu mencakup fisik
(somatik), psikologik atau psikiatrik, psikososial, dan psikoreligius. Selengkapnya
pada uraian berikut ini:
a. Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress, dapat dilakukan dengan cara:
1) Makan makanan yang bergizi dan seimbang
2) Tidur yang cukup
3) Olahraga yang cukup
4) Tidak merokok
5) Tidak minum minuman keras
b. Terapi psikofarmaka
Terapi psikofarmaka merupakan pengobatan untuk ansietas dengan
memakai obat-obatan yang berkhasiat untuk memulihkan fungsi gangguan
neurotransmitter (sinyal penghantar syaraf) di susunan saraf pusat otak (limbic
system). Terapi psikofarmaka yang sering dipakai adalah obat anti cemas
(anxiolytic), yaitu diazepam, clobazam, bromazepan, lorazepam, buspirone HCL,
meprobamate, dan alprazolam,
c. Terapi somatic
Gajala atau keluhan fisik (somatik) sering dijumpai sebagai gejala ikutan
atau akibat dari kecemasan yang berkepanjangan. Untuk menghilangkan keluhan-
keluhan somatic (fisik) dapat diberikan obat-obatan yang ditunjukkan pada organ
tubuh yang bersangkutan
d. Psikoterapi
Psikoterapi diberikan tergantung dari kebutuhan individu, antara lain:
1) Psikoterapi suportif, untuk memberikan motivasi semangat atau dorongan
agar pasien yang bersangkutan tidak merasa putus asa dan diberi keyakinan
serta percaya diri
2) Psikoterapi re-edukatif, memberikan pendidikan ulang dan koreksi bila dinilai
bahwa ketidakmampuan mengatasi kecemasan
3) Psikoterapi re-konstruktif, dimaksudkan memperbaiki kepribadian yang telah
mengalami goncangan akibat stressor
4) Psikoterapi kognitif, untuk memulihkan fungsi kognitif pasien yaitu
kemampuan untuk berpikir secara rasional, konsentrasi, dan daya ingat
5) Psikoterapi psikodinamik, untuk menganalisa dan menguraikan proses
dinamikan kejiwaan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tidak
mampu menghadap stressor psikososial sehingga mengalami kecemasan
6) Psikoterapi keluarga untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan agar faktor
keluarga tidak lagi menjadi faktor penyebab dan faktor keluarga dapat
dijadikan sebagai faktor pendukung
7) Terapi psikoreligius, untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat
hubungannya dengan kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai
problem kehidupan yang merupakan stressor psikososial (Prabowo, 2014)
8) Nafas dalam, merupakan bentuk latihan nafas yang terdiri atas pernafasan
abdominal (diafragma)
Prosedur:
a) Atur posisi yang nyaman
b) Fleksikan lutut klien untuk merelaksasikan otot abdomen
c) Tempatkan 1 atau 2 tangan pada abdomen, tepat dibawah tulang iga
d) Tarik nafas dalam melalui hidung, jaga mulut tetap tertutup. Hitung sampai 3

Hembuskan udara perlahan melalui mulut (Asmadi, 2008)


DAFTAR PUSTAKA

APA. (1994). Diagnostic and statistical manual of mental disorder (4th edition). Washington
DC: APA
Asmadi. (2008). Konsep dasar keperawatan. Jakarta: EGC
Hawari, D. (2008). Manajemen stress, cemas, dan depresi. Jakarta: FK UI
Prabowo, E. (2014). Konsep & aplikasi asuhan keperawatan jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika
Riyadi, S., & Purwanto, T. (2010). Asuhan keperawatan jiwa. Yogyakarta: Graha Ilmu
Rochman, K.L. (2010). Kesehatan mental. Purwokerto: Fajar Media Press
Solehati, T., & Kokasih, C.E. (2015). Konsep dan aplikasi relaksasi dalam keperawatan
meternitas. Bandung: PT Refika Aditama
Suliswati. (2005). Konsep dasar keperawatan jiwa. Jakarta: EGC
Stuart, G.W., & Laraia, M.T. (1998). Stuart & Sundeen’s principles and practice of psychiatric
nursing. Michigan: Mosby
LAPORAN KASUS

A. DATA UMUM
Data-data yang menggambarkan keluarga dalam hal-hal dasar dicantumkan dalam bagian
ini:
1. Nama keluarga : Ny. A
2. Alamat : Padang
3. Komposisi keluarga :
No Nama JK Hub.dengan KK Usia Pendidikan
1 Ny.A P Mertua 73 tahun SMA
2 Ny.R P Istri 43 tahun S3
3 Tn.A L KK 43 tahun S1

4. Genogram keluarga :

Keterangan:
: Perempuan : Serumah :Meninggal

: Laki-laki : Klien
5. Tipe Keluarga
Tipe keluarga Ny. A adalah extended family, dimana satu keluarga terdiri dari
satu atau dua keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah dan saling menunjang sama
lain. Ny. A tinggal bersama anak dan menantunya. Tn.A selaku kepala keluarga dan
mencari pekerjaan dan menantu, Ny. R selaku anak dan bekerja, dan Ny. A selaku IRT.

6. Suku
Latar belakang etnik keluarga Ny. A adalah suku Piliang. Bahasa yang
digunakan sehari-hari didalam keluarga adalah bahasa Indonesia. Keluarga Ny.A sudah
tinggal di Padang semenjak Ny.A remaja, tetapi Ny.A juga memiliki rumah di Lubuk
Basung. Ny.A berkata sangat menyukai makan-makanan bersantan.

7. Agama
Keluarga Ny.A menganut agama Islam. Keluarga mengatakan tidak pernah
melakukan shalat 5 waktu di musholla dekat rumahnya. Keluarga lebih sering melakukan
ibadah didalam rumah, kecuali menantu Ny.A ketika shalat Jumat. Tetapi, keluarga Ny.A
aktif dalam mengikuti/menyumbang jika terdapat kegiatan di musholla. Keyakinan dalam
nilai keagamaan yang berpusat dalam kehidupan keluarga yaitu, mensyukuri segala
pemberiaan yang diberikan Allah SWT.

8. Status Ekonomi Keluarga


Kelas sosial keluarga berada pada kelas menengah. Ny.A memiliki ladang di
kampungnya, anak Ny. A yaitu Ny.R merupakan seorang dosen, dan menantunya
merupakan seorang pegawai swasta. Status ekonomi didalam keluarga cukup. Pencari
nafkah didalam keluarga Ny. A adalah anak dan menantunya yaitu Ny.R dan Tn.A.
keluarga menganggap pendapatan mereka cukup dan masih bisa menyisihkan untuk
orang tua dan menabung.
9. Aktifitas Rekreasi Keluarga
Ny.A mengatakan jarang melakukan rekreasi keluarga, karena anak dan
menantunya sangat sibuk. Biasanya dalam 1 tahun Ny.A melakukan rekreasi keluarga
sebanyak 2-3 kali.

B. TAHAP PERKEMBANGAN DAN RIWAYAT KELUARGA


1. Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini
Tahap perkembangan keluarga Ny. A adalah tahap keluarga usia lanjut.
Tugas perkembangan :
a. Mempertahankan penataan kehidupan yang memuaskan
b. Menyesuaikan terhadap penghasilan yang berkurang
c. Menyesuaikan terhadap kehilangan pasangan
d. Mempertahankan ikatan keluarga antar generasi
e. Melanjutkan untuk merasionalisasikan kehilangan keberadaan anggota
keluarga (peninjauan dan integrasi kehidupan)

2. Tahap Perkembangan Keluarga yang Belum Terpenuhi


a. Mempertahankan penataan kehidupan yang memuaskan, karena Ny. A mengeluh
dirinya sedang banyak fikiran dan stress dikarenakan masalah yang dialami Ny.A
dengan tetangga dan sepupunya. Ny. A juga mengatakan cemas akan kondisinya
karena Ny. A takut untuk kontrol penyakitnya ke dokter selama pandemi ini
b. Menyesuaikan terhadap kehilangan suaminya (orang tua), karena jika lagi
sendirian atau bermenung Ny. A sering teringat suaminya yang telah meninggal
tiga tahun yang lalu dan Ny.A sering merasa sedih

3. Riwayat Keluarga Inti


Ny. A tinggal di Kota Padang bersama anak kelima dan suaminya. Suami Ny.A telah
meninggal 3 tahun yang lalu akibat penyakit jantung. Ny. A memiliki lima orang anak
perempuan. Ny. A mengatakan sebelumnya memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus
(DM), dan jantung. Sebelum pandemi, Ny. A rutin memeriksakan kondisinya ke rumah
sakit dan mendapatkan terapi.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga Saat Ini
Ny. A mengatakan saat ini sejak seminggu yang lalu sedang banyak fikiran,
karena Ny.A mengatakan terdapat masalah dengan tetangga dan sepupunya. Hal ini
membuat Ny. A merasa cemas dan gelisah, Keluarga mengatakan karena hal tersebut
menyebabkan Ny.A susah untuk makan dan tidur. Ny.A mengatakan tidurnya sering
terbangun-bangun, Ny.A mengatakan tidak merasa puas dengan tidurnya, dan sering
kelelahan setelah bangun.

5. Riwayat Keluarga Sebelumnya


Ny. A mengatakan tidak ada didalam keluarganya yang memiliki penyakit
jantung, diabetes, dan hipertensi. Ny. A mengatakan kedua orang tuanya sudah
meninggal dunia.

C. DATA LINGKUNGAN
Data lingkungan keluarga meliputi seluruh alam kehidupan keluarga, mulai dari
pertimbangan area yang terkecil seperti aspek dalam rumah hingga komunitas yang lebih
besar tempat keluarga tinggal.
1. Karateristik Rumah
 Rumah Ny. A merupakan rumah anaknya. Rumah tersebut memilki 1 ruang tamu,
1 ruang keluarga, 1 ruang makan, 1 dapur, 3 kamar tidur, 2 kamar mandi, 1 teras,
dan 1 gudang. Lantai dari rumah tersebut merupakan lantai keramik. Ventilasi
dirumah tersebut kurang baik, karena semua lubang ventilasi didalam rumah
ditutupi oleh kaca. Penerangan didalam rumah ini cukup bagus. Tipe rumah
sederhana yang dinding rumahnya adalah tembok.
 Untuk air minum keluarga Ny.A menggunakan air galon. Untuk mandi, mencuci
baju, dan mencuci piring keluarga Ny.A menggunakan air PDAM, didalam kamar
mandi tersedia sikat gigi masing-masing, sabun cair, sampo, dan pasta gigi yang
digunakan bersama. Untuk pembuangan sampah keluarga Ny.A meletakannya di
depan rumah, saat sore hari diambil oleh tukang sampah.
 Denah rumah

WC
R. KELUARGA DAPUR GUDANG

KAMAR
TIDUR

WC

KAMAR R. MAKAN
R. TAMU KAMAR
TIDUR
TIDUR

2. Karakteristik Tetangga dan Komunikasi dengan Masyarakat


Hubungan keluarga Ny.A dengan tetangganya berjalan baik. Interaksi dan
komunikasi dalan komunitas berjalan dengan baik. Keluarga sesekali menghadiri
perkumpulan yang ada di masyarakat seperti arisan. Penduduk di lingkungan rumah
Ny.A merupakan penduduk asli dan ada pendatang serta hampir semuanya bersuku
minang. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai pegawai negeri, pedagang, pedagang
kecil, dan buruh. Jalanan yang terdapat di depan rumah adalah jalan yang dapat dilewati
oleh pejalan kaki dan kendaraan. Rumah penduduk beraneka ragam. Sebagian besar
disekitar rumah berukuran sedang dan sederhana, ada yang permanen, dan semi
permanen. Tingkat kepadatan penduduk sedang. Di lingkungan tempat tinggal terdapat
rumah sakit ibu dan anak. Jarak rumah ke pelayanan kesehatan ±500 meter.

3. Mobilitas Geografis Keluarga


Keluarga Ny.A merupakan penduduk asli Maninjau. Keluarga Ny.A sudah ±8
tahun tinggal di menetap di Kota Padang. Keluarga Ny.A sudah bisa beradaptasi dengan
lingkungan tempat beliau dan keluarga tinggal.

4. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat


Keluarga Ny.A sering berkumpul dengan keluarganya pada malam hari selepas
maghrib saat makan malam dan menonton bersama. Ketika berkumpul biasanya keluarga
akan berbagi cerita satu sama lain. Hubungan keluarga Ny.A dengan masyarakat
disekitarnya berjalan dengan baik
5. Sistem Pendukung Keluarga
Keluarga Ny.A sering berkumpul dengan keluarganya pada malam hari selepas
maghrib saat makan malam dan menonton bersama. Ketika berkumpul biasanya keluarga
akan berbagi cerita satu sama lain.

D. STRUKTUR KELUARGA
1. Pola Komunikasi Keluarga
Ny.A berkomunikasi dengan anggota keluarga nya menggunakan bahasa
Indonesia. Komunikasi keluarga Ny.A berjalan dua arah dan saling memuaskan
kedua belah pihak. Masalah diselesaikan dengan cara musyawarah dengan melibatkan
semua anggota keluarga. Yang mengambil keputusan dalam keluarga adalah Ny.A,
setiap anggota keluarga dapat mengeluarkan pendapat dan dapat menerima pendapat
orang lain.

2. Struktur Kekuatan dalam Keluarga


Pengambilan keputusan dalam keluarga Ny. A adalah Ny. A sendiri tetapi
setiap anggota keluarga dapat mengeluarkan pendapat dan keputusan diambil secara
musyawarah.

3. Struktur Peran
Ny. A mengatakan beliau merupakan seorang ibu rumah tangga dan dapat
melakukan perannya sendiri. Ny. A mengatakan tidak terdapat konflik dalam
menjalankan peran didalam keluarga.

4. Nilai dan Norma Budaya


Keluarga Ny.A berpegang pada nilai dan norma adat dan agama Islam.
Keluarga juga mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku dilingkungan tempat
tinggal. Apabila ada anggota keluarga yang sakit, keluarga biasanya menggunakan
fasilitas kesehatan terdekat.
E. FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi Afektif
Ny.A mengatakan kehidupan dalam keluarganya cukup aman dan baik-baik
saja. Hal ini terlihat dari hubungan keluarga yang akrab, harmonis, dan hangat.
Keluarga saling mendukung, menghormati, menghargai satu sama lainnya.

2. Fungsi Sosialisasi
Ny.A mengatakan bahwa untuk membesarkan anaknya, keluarga
menyesuaikannya dengan nilai-nilai agama, adat dan budaya setempat. Dalam
pengasuhan anaknya (Asah, Asih, dan Asuh) disesuaikan dengan kondisi lingkungan
sekitar dan perkembangan zaman.

3. Fungsi Perawatan Keluarga


a. Keyakinan, Nilai, dan Perilaku Kesehatan
Keluarga Ny. A memiliki nilai dan keyakinan berdasarkan agama islam
dan adat istiadat yang berlaku di minangkabau. Jika ada anggota keluarga yang
sakit merupakan suatu ujian dan tidak ada pantangan kesehatan yang bertentangan
dengan budaya masyarakat.
b. Definisi dan Tingkat Pengetahuan Keluarga Tentang Sehat-Sakit
Ny. A mengatakan sehat merupakan dimana kita dapat hidup tanpa adanya
gangguan secara fisik maupun psikologis dan sakit merupakan dimana terdapat
gangguan aspek fisik maupun psikologis.
c. Status Kesehatan Keluarga dan Kerentanan Terhadap Penyakit yang Dirasa
Keluarga Ny.A mengatakan apabila anggota keluarga ada yang sakit
biasanya keluarga Ny.A langsung memeriksakan diri ke dokter. Tetapi, selama
pandemi ini keluarga Ny.A hanya memeriksakan diri ke dokter apabila dalam
kondisi mendesak.
d. Praktik Diet Keluarga
Keluarga mengatakan didalam keluarga tidak ada diet khusus. Tetapi,
Ny.A membatasi memakan-makanan yang terlalu manis, banyak garam, dan
gorengan karena Ny.A memiliki riwayat penyakit DM dan jantung.
e. Kebiasaan Tidur dan Beristirahat
Ny.A mengatakan didalam keluarganya tidak ada aturan dalam jam tidur
dan beristirahat didalam keluarganya, jika mengantuk maka dapat tidur dikamar
yang disediakan. Tidur pada siang hari, jarang dilakukan kecuali keluarga dalam
kondisi kelelahan. Ny. A mengatakan biasanya tidur pukul 22.30 WIB-05.00
WIB.
f. Praktik Aktifitas Fisik dan Rekreasi
Keluarga Ny. A tidak pernah melakukan aktivitas fisik seperti olahraga.
Untuk rekreasi biasanya keluarga Ny.A sering berkumpul pada malam hari
sembari menonton TV bersama.
g. Praktik Penggunaan Obat dan Terapeutik dan Penenang, Alkohol, serta Tembakau
Ny. A mengatakan didalam keluarganya tidak ada yang merokok,
menggunakan obat-obatan penenang maupun meminum-minuman alkohol.
h. Peran Keluarga dalam Praktik Perawatan Diri
Ny.A mengatakan untuk pencegahan penyakit biasanya keluarga
mengatasi dengan meminum pengobatan herbal. Pengambilan keputusan tentang
kesehatan dimana Ny. A meminta pendapat anak-anaknya. Jika ada anggota
kelurga yang sakit saling mendukung agar cepat sehat.
i. Tindakan Pencegahan Secara Medis
Dahulu keluarga Ny.A rutin memeriksakan diri ke rumah sakit. Tetapi
selama pandemi keluarga Ny.A takut untuk pergi ke rumah sakit.
j. Terapi Komplementer dan Alternatif
Keluarga Ny.A mengatakan tidak pernah menggunakan terapi
komplementer maupun terapi alternatif
k. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ny. A mengatakan tidak ada anggota keluarga yang memiliki penyakit
yang sama dengannya
l. Layanan Perawatan Kesehatan yang Diterima
Ny. A mengatakan saat ini keluarga Ny. A tidak ada menerima perawatan
kesehatan
m. Perasaan dan Persepsi Mengenai Pelayanan Kesehatan
Ny. A mengatakan keluarganya tidak mau pergi ke pelayanan kesehetan
karena merasa takut dan cemas dengan kondisi pandemi saat ini
n. Pelayanan Kesehatan Darurat
Ny. A mengatakan pelayanan kesehatan darurat didekat rumahnya terdapat
di IGD RS Ibu dan Anak
o. Sumber Pembayaran
Ny.A mengatakan semua anggota keluarga memiliki kartu BPJS jadi kalau
berobat tidak terlalu membutuhkan biaya yang terlalu mahal.
p. Logistik untuk Mendapatkan Perawatan
Jarak fasilitas kesehatan tempat Ny. A berobat sejauh ±5 km. Ny. A
mengatakan biasnaya diantar oleh anak dan menantu nya untuk berobat ke RS.

F. STRESS DAN KOPING KELUARGA


1. Stressor Jangka Pendek
Ny. A mengatakan saat ini sedang banyak fikiran karena seminggu belakangan
ini klien sedang memiliki masalah dengan tetangga dan sepupunya masalah ladang.
Ny. A mengatakan sulit untuk tidur, dan klien tampak sesekali diam dan termenung.
Ny. A mengatakan khawatir dengan dampak akibat permasalah tersebut.

2. Stressor Jangka Panjang


Stressor jangka panjang yang dialami Ny. A adalah kehilangan suaminya tiga
tahun yang lalu. Ny. A mengatakan masih sering memikirkan suaminya, Ny. A
terkadang sedih dan sesekali menangis ketika memikirkan suami nya yang telah
meninggal.
3. Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Masalah
Ny.A mengatakan anak dan menantunya meskipun sangat sibuk, sering
memperhatikan kondisinya. Keluarganya juga selalu memperhatikan dan
mendengarkan keluhannya.

4. Strategi Koping yang Digunakan


Ny.A mengatakan apabila ada masalah yang dirasa berat maka mereka akan
memecahkannya secara bersama-sama dengan jalan musyawarah keluarga dengan
tidak saling memaksakan pendapat.

5. Strategi Adaptasi Disfungsional


Dari hasil pengkajian tidak ditemukan tidak adanya cara-cara mal adaptif
keluarga dalam mengatasi masalah

G. HARAPAN KELUARGA
Ny. A berharap kecemasan yang dirasakannya dapat diatasi karena hal ini
sangat menganggu Ny.A dan pandemi ini segera berlalu. Karena Ny. A ingin segera
berobat ke dokter untuk memeriksakan dirinya. Ny.A juga berkata diharapkannya dengan
datangnya mahasiswa adalah mahasiswa dapat memberikan informasi kepada Ny.A
mengenai bagaimana penanganan ansietas.

H. PEMERIKSAAN FISIK
No Pemeriksaan Fisik Ny. A Tn. A Ny.R
1 Keadaan Umum Baik Baik Baik
2 Kesadaran Compos mentis Compos mentis Compos mentis
3 TTV TD: 110/70 mmHg TD: 130/80 mmHg TD: 100/70 mmHg
Nadi: 80 x/i Nadi: 84 x/i Nadi: 76 x/i
RR: 18 x/i RR: 18 x/i RR: 16 x/i
T: 36,7˚C T: 36,8˚C T: 36,5˚C
4 Kepala Simetris, benjolan Simetris, benjolan Simetris, benjolan
(-), lesi (-) (-), lesi (-) (-), lesi (-)
5 Rambut Ikal, mudah rontok, Lurus, pendek, Ikal, panjang
terdapat uban, tidak mudah rontok sebahu, tidak mudah
panjang, dan dan tercabut, dan rontok dan tercabut,
penyebaran merata penyebaran merata dan penyebaran
merata
6 Mata Simetris, sklera Simetris, sklera Simetris, sklera
ikterik (-/-), ikterik (-/-), ikterik (-/-),
konjungtiva anemis konjungtiva anemis konjungtiva anemis
(-/-), fungsi (-/-), fungsi (-/-), fungsi
penglihatan penglihatan baik penglihatan baik
menggunakan
kacamata presbiopi
7 Telinga Bentuk normal, Bentuk normal, Bentuk normal,
telinga simetris, telinga simetris, telinga simetris,
serumen (-/-, fungsi serumen (-/-), serumen (-/-), fungsi
pendengaran baik fungsi pendengaran pendengaran baik
baik
8 Hidung Tampak simetris, Tampak simetris, Tampak simetris,
benjolan (-/-), polip benjolan (-/-), polip benjolan (-/-), polip
(-/-), sinusitis (-/-), (-/-), sinusitis (-/-), (-/-), sinusitis (-/-),
dan penciuman baik dan penciuman dan penciuman baik
baik
9 Mulut Lidah bersih, caries Lidah bersih, caries Lidah bersih, caries
(+/+), gigi tidak gigi (-/-), gigi gigi (-/-), gigi
lengkap, membrane lengkap, dan lengkap, dan
mukosa bibir lembab membrane mukosa membrane mukosa
lembab lembab
10 Kulit Bersih, dan turgor Bersih, dan turgor Bersih, dan turgor
kulit baik kulit baik kulit baik
11 Leher dan Thorax Tidak ada Tidak ada Tidak ada
pembesaran KGB pembesaran KGB pembesaran KGB
dan tiroid dan tiroid dan tiroid
12 Dada I: I: I:
Simetris, lesi (-/-), Simetris, lesi (-/-), Simetris, lesi (-/-),
retraksi dinding dada retraksi dinding retraksi dinding
(-/-), penggunaan dada (-/-), dada (-/-),
otot bantu nafas (-/-) penggunaan otot penggunaan otot
Pa: bantu nafas (-/-) bantu nafas (-/-)
Benjolan tidak ada Pa: Pa:
Pe: Tidak dilakkan Tidak dilakkan
Tidak ada massa Pe: Pe:
Aus: Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Bunyi vesikular Aus: Aus:
Tidak dilakukan Tidak dilakukan
13 Abdomen I: I: I:
Tampak simetris dan Tampak simetris Tampak simetris dan
tidak ada lesi dan tidak ada lesi tidak ada lesi
Pa: Pa: Pa:
Tidak terdapat Tidak terdapat Tidak terdapat
benjolan benjolan benjolan
Pe: Pe: Pe:
Tidak terdapat massa Tidak terdapat Tidak terdapat
Aus: massa massa
Tidak dilakukan Aus: Aus:
Tidak dilakukan Tidak dilakukan
14 Genilatila/anus Klien dan keluarga Klien dan keluarga Klien dan keluarga
mengatakan tidak mengatakan tidak mengatakan tidak
terdapat masalah terdapat masalah terdapat masalah
pada bagian tersebut pada bagian pada bagian tersebut
tersebut
15 Ekstremitas Atas: Atas: Atas:
Tidak terdapat Tidak terdapat Tidak terdapat
edema, dan tidak edema dan tidak edema dan tidak
terdapat nyeri terdapat nyeri terdapat nyeri
Bawah: Bawah: Bawah:
Ny.A mengeluhan Tidak terdapat Tidak terdapat nyeri,
nyeri pada kaki nyeri, edema, dan edema, dan varises
sebelah kirinya, varises
terdapat edema pada
kaki sebelah kanan,
dan tidak terdapat
varises
I. ANALISA DATA

Data Mayor Data Minor Diagnosis


Subjektif Objektif Subjektif Objektif (SDKI)
Merasa khawatir Tampak gelisah Anoreksia - Ansietas
dengan akibat dari - Ny. A tampak - Keluarga mengatakan
kondisi yang dihadapi gelisah Ny. A sulit untuk makan
- Ny.A mengatakan - Ny.A karena permasalahan
saat ini sedang mengungkapkan tersebut
banyak fikiran perasaan
karena masalah khawatirnya
dengan tetangga dan
sepupunya Tampak tegang
- Ny.A mengatakan - Wajah Ny. A
merasa cemas dan tampak tegang
gelisah mengenai
masalah tersebut Sulit tidur
- Keluarga
mengatakan akibat
masalah tersebut
Ny.A menjadi sulit
tidur
Kuesioner GAS
(Geriatric Anxiety
Scale): skor 44 (tingkat
ansietas sedang
J. INTERVENSI KEPERAWATAN
No SDKI SLKI SIKI
1 D.0080 Ansietas L.09093 Tingkat Ansietas I.09314 Reduksi Ansietas
Definisi: Definisi: Definisi:
Kondisi emosi dan Kondisi emosi dan pengalaman Meminimalkan kondisi individu
pengalaman subjektif subyektif terhadap objek yang tidak dan pengalaman subyektif
individu tehadap objek jelas dan spesifik akibat bahaya terhadap objek yang tidak jelas
yang tidak jelas dan yang memungkinkan individu dan spesifik akibat antisipasi
spesifik akibat antsipasi melakukan tindakan untuk bahaya yang memungkinkan
bahaya yang menghadapi ancaman individu melakukan tindakan
memungkinkan individu untuk menghadapi ancaman
melakukan tindakan untuk Setelah dilakukan intervensi selama
menghadapi ancaman 3 x 24 jam, maka tingkat ansietas Tindakan:
menurun dengan kriteria hasil: Observasi
- Verbalisasi kekhawatiran - Identifikasi saat tingkat
akibat kondisi yang ansietas berubah (mis,
dihadapi (5) kondisi, waktu, stressor)
- Perilaku gelisah (5) - Identifikasi kemampuan
- Perilaku tegang (5) pengambilan keputusan
- Pola tidur (5) - Monitor tanda-tanda
ansietas (verbal dan non
verbal)
Terapeutik
- Ciptakan suasana terapeutik
untuk menumbuhkan
kepercayaan
- Temani pasien untuk
mengurangi kecemasan,
jika memungkinkan
- Pahami situasi yang
membuat ansietas
- Dengarkan dengan penuh
perhatian
- Gunakan pendekatan yang
tenang dan meyakinkan
- Tempatkan barang pribadi
yang memberikan
kenyamanan
- Motivasi mengidentifikasi
situasi yang memicu
kecemasan
- Diskusikan perencanaan
realistis tentang peristiwa
yang akan datang
Edukasi
- Jelaskan prosedur, termasuk
sensasi yang mungkin
dialami
- Informasikan secara factual
mengenai diagnosis,
pengobatan, dan prognosis
- Anjurkan keluarga untuk
tetap bersama pasien, jika
diperlukan
- Anjurkan melakukan
kegiatan yang tidak
kompetitif, sesuai
kebutuhan
- Anjurkan mengungkapkan
perasaan dan persepsi
- Latih kegiatan pengalihan
untuk mengurangi
ketegangan
- Latih penggunaan
mekanisme pertahanan diri
yang tepat
- Latih teknik relaksasi
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian obat
antiansietas, jika perlu

I.09326 Terapi Relaksasi


Definisi:
Menggunakan teknik
peregangan untuk mengurangi
tanda dan gejala
ketidaknyamanan seperti nyeri,
ketegangan otot, atau kecemasan

Tindakan:
Observasi
- Identifikasi penurunan
tingkat energi,
ketidakmampuan
berkonsentrasi, atau gejala
lain yang menganggu
kemampuan kognitif
- Identifikasi teknik relaksasi
yang pernah efektif
digunakan
- Identifikasi kesediaan,
kemampuan, dan
penggunaan teknik
sebelumnya
- Periksa ketegangan otot,
frekuensi nadi, tekanan
darah, dan suhu sebelum
dan sesudah latihan
- Monitor respon terhadap
terapi relaksasi
Terapeutik
- Ciptakan lingkungan tenang
dan tanpa gangguan dengan
pencahayaan dan suhu
ruang nyaman, jika
memungkinkan
- Berikan informasi tertulis
tentang persiapan dan
prosedur teknik relaksasi
- Gunakan pakaian longgar
- Gunakan nada suara lembut
dengan irama lambat dan
berirama
- Gunakan relaksasi sebagai
sterategi penunjang dengan
analgetik atau tindakan
medis lain, jika sesuai
Edukasi
- Jelaskan tujuan, manfaat,
batasan, dan jenis relaksasi
yang tersedia (mis,
music,meditasi, nafas
dalam, relaksasi otot
progresif)
- Jelaskan secara rinci
intevensi relaksasi yang
dipilih
- Anjurkan mengambil posisi
nyaman
- Anjurkan rileks dan
merasakan sensasi relaksasi
- Anjurkan sering
mengulangi atau melatih
teknik yang dipilih
- Demonstrasikan dan latih
teknik relaksasi (mis, nafas
dalam, peregangan, atau
imajinasi terbimbing)

I.05187 Terapi Relaksasi Otot


Progresif
Definisi:
Menggunakan teknik
penegangan dan peregangan otot
untuk meredakan ketegangan
otot, ansietas, nyeri, serta
meningkatnya kenyamanan,
konsentrasi, dan kebugaran

Tindakan:
Observasi
- Identifikasi tempat yang
tenang dan nyaman
- Monitor secara berkala
untuk memastikan otot
rileks
- Monitor adanya indikator
tidak rileks (mis, adanya
gerakan, pernafasan yang
berat)
Terapeutik
- Atur lingkungan agar tidak
ada gangguan saat terapi
- Berikan posisi bersandar
pada kursi atau posisi
lainnya yang nyaman
- Hentikan sesi relaksasi
secara bertahap
- Beri waktu mengungkapkan
perasaan tentang terapi
Edukasi
- Anjurkan memakai pakaian
yang nyaman dan tidak
sempit
- Anjurkan melakukan
relaksasi otot rahang
- Anjurkan menegangkan
otot selama 5-10 detik,
kemudian anjurkan untuk
merilekskan otot 20-30
detik, masing-masing 8-16
kali
- Anjurkan menegangkan
otot kaki selama tidak lebih
dari 5 detik untuk
menghindari kram
- Anjurkan fokus pada
sensasi otot yang menegang
- Anjurkan fokus pada
sensasi otot yang relaks
- Anjurkan bernafas dalam
dan perlahan
- Anjurkan berlatih diantara
sesi regular dengan perawat
K. CATATAN KEPERAWATAN

Diagnosa
Hari/tanggal Implementasi Evaluasi Paraf
Keperawatan
Senin/18 Ansietas Reduksi Ansietas Tingkat Ansietas Kintan
Januari 2021 Observasi: Evaluasi indikator:
- Mengidentifikasi tingkat ansietas - Verbalisasi kekhawatiran akibat
- Memonitor tanda ansietas kondisi yang dihadapi pada skala 3
Terapeutik - Perilaku gelisah pada skala 3
- Ciptakan suasana terapeutik untuk - Perilaku tegang pada skala 3
menumbuhkan kepercayaan - Pola tidur pada skala 3
- Dengarkan dengan penuh perhatian
- Gunakan pendekatan yang tenang dan
meyakinkan
Edukasi
- Menjelaskan mengenai ansietas
1. Pengertian
2. Penyebab
3. Tanda dan gejala
4. Pengobatan (farmakologis dan non
farmakologis)
Selasa/19 Ansietas Terapi Relaksaksi Tingkat Ansietas Kintan
Januari 2021 Observasi: Evaluasi indikator:
- Identifikasi teknik relaksasi yang - Verbalisasi kekhawatiran akibat
pernah efektif digunakan kondisi yang dihadapi dari 3 ke 4
- Identifikasi kesediaan, kemampuan, dan - Perilaku gelisah dari 3 ke 4
penggunaan teknik sebelumnya - Perilaku tegang dari 3 ke 4
Terapeutik - Pola tidur pada dari 3 ke 4
- Berikan informasi tertulis tentang
persiapan dan prosedur teknik relaksasi
- Gunakan nada suara lembut dengan
irama lambat dan berirama
Edukasi
- Menjelaskan kepada klien dan keluarga
mengenai teknik relaksaksi: nafas
dalam
1. Pengertian
2. Tujuan
3. Manfaat
4. Prosedur
- Demonstrasikan dan latih teknik
relaksasi: nafas dalam
- Anjurkan sering mengulangi atau
melatih teknik yang dipilih
Kamis/21 Ansietas Terapi Relaksasi Otot Progresif Tingkat Ansietas Kintan
Januari 2021 Evaluasi indikator:
Observasi - Verbalisasi kekhawatiran akibat
- Identifikasi tempat yang tenang dan kondisi yang dihadapi dari 4 ke 5
nyaman - Perilaku gelisah dari 4 ke 5
- Monitor secara berkala untuk - Perilaku tegang dari 4 ke 5
memastikan otot rileks - Pola tidur pada dari 4 ke 5
- Monitor adanya indikator tidak rileks
(mis, adanya gerakan, pernafasan yang
berat)
Terapeutik
- Atur lingkungan agar tidak ada
gangguan saat terapi
- Berikan posisi bersandar pada kursi atau
posisi lainnya yang nyaman
- Hentikan sesi relaksasi secara bertahap
- Beri waktu mengungkapkan perasaan
tentang terapi
Edukasi
- Anjurkan memakai pakaian yang
nyaman dan tidak sempit
- Menjelaskan kepada klien dan keluarga
mengenai teknik relaksaksi otot
progresif
1. Pengertian
2. Tujuan
3. Indikasi
4. Prosedur
- Demonstrasikan dan latih teknik
relaksasi otot progresif
FORM FULL The Mini Nutritional Assessment
( Formulir Pengkajian Nutrisi Mini)

No Pertanyaan Keterangan Skor nilai


Screening
1 Apakah anda mengalami penurunan 0:mengalami penurunan asupan makan
asupan makanan selama tiga bulan yang parah
terakhir dikarenakan hilangnya selera 1:mengalami penurunan asupan
1
makan,masalah pencernaan,kesulitan makanan sedang
mengunyah atau menelan 2: tidak mengalami penurunan asupan
makan
2 Apakah anda kehilangan berat badan 0: kehilangan berat badan lebih dari 3
selama 3 bulan terakhir kg
1: tidak tahu
2:kehilangan berat badan antara 2
1sampai 3 kg
3:tidak kehilangan berat badan

3 Bagaimana mobilisasi atau pergerakan 0: hanya ditempat tidur atau kursi roda
anda 1:dapat turun dari tempat tidur namun
2
tidak dapat jalan-jalan
2: dapat pergi keluar/jalan-jalan
4 Apakah anda mengalami stress 0: ya
psikologis atau penyakit akut selama 3 2: Tidak 0
bulan trakhir
5 Apakah anda memiliki masalah 0: demensia atau depresi berat
neuropsikologi? 1:demensia ringan
2
2:tidak mengalami masalah
neuropsikologi
6 Bagaimana hasil BMI (Body Mass 0: BMI kurang dari 19 2
indeks) anda ? (berat badan (kg)tinggi 1:BMI antara 19-21
badan(m2)) 2.BMI antara 21-23
3.BMI lebih dar 23
Nilai skrining ≥ 12: normal/ tidak berisiko, tidak
membutuhkan pengkajian lebih lanjut
( total nilai maksimal14) ≤ 11: mungkin mal nutrisi 9

No Pertanyaan Keterangan Skor nilai


Pengkajian
7 Apakah anda hidup secara mandiri? 0: tidak 0
(tidak dirumah perawatan, panti atau 1: ya
rumah sakit)
8 Apakah anda diberi obat lebih dari 3 0: tidak 1
jenis obat per hari? 1: ya
9 Apakah anda memiliki luka tekan/ 0: tidak 0
ulserasi kulit? 1: ya
10 Berapa kali anda makan dalam sehari 0: 1 kali dalam sehari 1
1: 2 kali dalam sehari
2: 3 kali dalamsehari
11 Pilih salah satu jenis asupan protein 0: jika tidak ada atau hanya 1 jawaban 1
yang biasa anda konsumsi? diatas
a. Setidaknya salah satu produk 0,5: jika terdapat 2 jawaban ya
dari susu (susu, keju,yoghurt per 1: jika semua jawaban ya
hari)
b. Dua porsi atau lebih kacang-
kacangan/ telur perminggu
c. Daging, ikan atau unggas setiap
hari
12 Apakah anda mengkonsumsi sayur atau 0: tidak 1
buah 2 porsi atau lebih setiap hari? 1:ya
13 Seberapa banyak asupan cairan yang 0: kurang dari 3 gelas 1
anda minum per hari (air putih, jus, 0,5: 3-5 gelas
kopi, the, susu, dsb) 1: lebih dari 5 gelas
14 Bagaimana cara anda makan? 0: jika tidak dapat makan tanpa dibantu 2
1: dapat makan sendiri namun
mengalami kesulitan
2: jika dapat makan sendiri tanpa ada
masalah
15 Bagaimana persepsi anda tentang status 0: ada masalah gizi pada dirinya 2
gizi anda 1: ragu/ tidak tahu terhadap masalah gizi
dirinya
2: masalah tidak ada masalah terhadap
status gizi dirinya
16 Jika dibandingkan dengan orang lain, 0 : tidak lebih baik dari orang lain 1
bagaimana pandangan anda tentang 0,5: tidak tahu
status kesehatan anda? 1 : sama baiknya dengan orang lain
2 : lebih baik dari orang lain
17 Bagaimana hasil lingkar lengan atas 0 : LLA kurang dari 21 cm 1
(LLA) anda (cm)? 0,5: LLA antara 21-22 cm
1 : LLA lebih dari 22 cm
18 Bagaimana hasil lingkar betis (LB) anda 0: jika LB kurang dari 31 1
(cm)? 1: jika LB lebih dari 31
Nilai pengkajian: 12
(nilai maksimal 16)
Nilai skrining 9
( nilai maksimal 14)
Total nilai skrining dan pengkajian Indikasi nilai malnutrisi
(nilai maksimal 30) ≥ 24 : nutrisi baik
21
17-23,5: dalam resiko malnutrisi
< 17 : malnutrisi
Geriatric Depression Scale (GSD)

Petunjuk penilaian: 1.Untuk setiap pertanyaan, lingkarilah salah satu pilihan yang sesuai dengan
kondisi anda (1atau 0), 2). Jumlahkan seluruh pertanyaan yang mendapat poit 1.

Pertanyaan Yes No
1. Secara umum apakah anda merasa puas dengan hidup anda ? 0 1
2. Apakah anda telah meninggalkan banyak kegiatan dan hobi? 1 0
3. Apakah anda merasa hidup ini kosong ? 1 0
4. Apakah anda sering merasa bosan? 1 0
5. Apakah anda memiliki harapan tentang masa depan? 0 1
6. Apakah anda merasa terganggu dengan pikiran yang tidak 1 0
dapat keluar dari kepala anda ?
7. Apakah anda merasa bersemangat hampir sepanjang waktu? 0 1
8. Apakah anda merasa takut sesuatu yang buruk akan menimpa 1 0
anda ?
9. Apakah anda merasa bahagia sepanjang waktu? 0 1
10. Apakah anda sering merasa tidak ada yang menolong? 1 0
11. Apakah anda sering merasa kurang istirahat dan lemah? 1 0
12. Apakah anda lebih menyukai berada di rumah, dari pada pergi 1 0
keluar dan melakukan hal-hal baru?
13. Apakah anda sering merasa khawatir dengan masa depan 1 0
14. Apakah anda merasa memiliki lebih banyak masalah mengenai 1 0
daya ingat dibandingkan sebelumnya?
15. Menurut anda apakah saat ini hidup terasa menyenangkan? 0 1
16. Apakah anda sering merasa bersedih 1 0
17. Apakah anda merasa tidak berharga dengan cara anda sekang? 1 0
18. Apakah anda khawatir terhadap hidup anda? 1 0
19. Apakah anda merasa hidup ini sangat menarik? 0 1
20. Apakah berat untuk anda untuk memulai pada hal yang baru? 1 0
21. Apakah anda merasa penuh dengan energy? 0 1
22. Apakah anda merasa situasi sekarang tidak adaharapan? 1 0
23. Apakah anda merasa semua orang lebih beruntung dari pada 1 0
anda?
24. Apakah anda sering merasa kecewa berlebihan karena hal 1 0
kecil?
25. Apakah anda sering merasa ingin menangis? 1 0
26. Apakah anda memiliki masalah dalam hal berkonsentrasi? 1 0
27. Apakah anda menikmati bangun pada pagi hari? 0 1
28. Apakah anda lebih suka menghindari pergaulan social? 1 0
29. Mudah bagi anda untuk menbuat keputusan? 0 1
30. Apakah pikiran anda sejelas/ sejernih dahulu? 0 1

Skor 5-9 = kemungkinan depresi


Skor 10 atau lebih = depresi

Total skala : 17
Morse fall scale (MFS)

Nama lansia : Ny. A usia : 73 thn


Panti/wisma : tanggal:

No Pengkajian Skala Nilai


1 Riwayat jatuh, apakah lansia pernah jatuh dalam 3 Tidak 0 0
bulan terakhir? Ya 25 ………….
2 Diagnosa sekunder, apakah lansia memiliki lebih Tidak 0 15
dari satu penyakit? Ya 15 ………….
3 Alat bantu jalan; 30
- Bed rest/dibantu perawat 0
- Kruk/tongkat/walker 15
- Berpegangan pada benda-benda disekitar 30
(kursi, lemari,meja) ………….
4 Terapi intravena; apakah saat ini lansia terpasang Tidak 0 0
infus? Ya 25 ………….
5 Gaya berjalan/ cara berpindah 0
- Normal/ bed rest/ immobile (tidak dapat 0
bergerak sendiri)
- Lemah (tidak bertenaga) 10
- Gangguan/ tidak normal(pincang, diseret) 15 ………….
6 Status mental 0
- Lansia menyadari kondisi dirinya sendiri 0
- Lansia mengalami keterbatasan daya ingat 15 ………….
Total skala …45…

Tingkatan risiko jatuh


Tingkat risiko Nilai MFS Tindakan
Tidak berisiko 0-24 Perawatan dasar
Risiko rendah 25-50 Pelaksanaan intervensi pencegahan jatuh
standar
Risiko tinggi ≥ 51 Pelaksanaan intervensi pencegahan jatuh risiko
tinggi
Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI)
INSTRUKSI :
Pertanyaan – pertanyaan berikut berhubungan dengan kebiasaan tidur yang biasa Bapak/Ibu
jalani selama sebulan terakhir. Jawaban Bapak/Ibu harus menunjukkan jawaban yang paling
akurat dan yang paling sering terjadi pada sebagian hari dan sebagian malam dalam satu
bulan terakhir. Jawablah semua pertanyaan.

1. Dalam sebulan terakhir, jam berapa biasanya bapak/ibu pergi ke tempat tidur untuk
memulai tidur dimalam hari ? 22.00 WIB
2. Dalam sebulan terakhir, berapa lama (dalam menit) biasanya yang bapak/ibu butuhkan
untuk tertidur ? 20-30 menit
3. Dalam sebulan terakhir, jam berapa bapak/ibu biasanya bangun pagi ? 05.00 WIB
4. Dalam sebulan terakhir, berapa lama (dalam jam) bapak/ibu merasa tidur dimalam hari ?
(Ini mungkin berbeda dari jumlah jam yang bapak/ibu habiskan di tempat tidur) 5-6 jam
5. Dalam sebulan terakhir, berapa sering bapak/ibu merasakan masalah gangguan tidur
seperti..............
Tidak Kurang dari 1 1 – 2 kali dalam 3 kali atau
Masalah tidur pernah kali dalam seminggu lebih dalam
seminggu seminggu

a. Tidak bisa tidur selama 30
menit

b. Terbangun ditengah malam
atau dini hari

c. Terbangun untuk kekamar
mandi

d. Tidak bisa bernapas dengan
nyaman

e. Batuk atau mendengkur

f. Merasa sangat kedinginan

g. Merasa kepanasan

h. Mengalami mimpi buruk

i. Merasa nyeri

j. Alasan lain dan seberapa
sering mengalami kesulitan
tidur dengan alasan ini

6. Dalam sebulan terakhir, bagaimana menurut bapak/ibu kualitas tidur yang bapak/ibu
rasakan ?
Sangat baik
Cukup baik
Cukup buruk
Sangat buruk
7. Dalam sebulan terakhir, berapa sering bapak/ibu menggunakan obat-obatan untuk
membantu tertidur ?
Tidak pernah
Kurang dari sekali dalam seminggu
Sekali sampai dua kali dalam seminggu
Tiga kali atau lebih dalam seminggu
8. Dalam sebulan terakhir, seberapa sering bapak/ibu mengalami kesulitan untuk tetap
terjaga saat mengendara, makan, atau terlibat dalam kegiatan sosial ?
Tidak pernah
Kurang dari sekali dalam seminggu
Sekali sampai dua kali dalam seminggu

Tiga kali atau lebih dalam seminggu


9. Dalam sebulan terakhir, seberapa besar antusias bapak/ibu dalam menyelesaikan masalah
yang sedang dihadapi ?
Tidak ada masalah sama sekali
Beberapa masalah
Banyak bermasalah
Sangat banyak/besar masalah
PETUNJUK PENILAIAN INTRUMENT PSQI
1) Penilaian efisiensi tidur
Pertanyaan no.4 x 100%
Pengurangan pertanyaan no.3 - pertanyaan no.1
= (85,7%) apabila > 85% maka skor =0
75-84% maka skor =1
65-74% maka skor = 2
<65% maka skor =3
2) Penilaian gangguan tidur, pertanyaan no. 5b-5j
Jawaban responden Skor
Tidak pernah = 0
Kurang dari 1 kali dalam seminggu = 1
1 – 2 kali dalam seminggu = 2
3 kali atau lebih dalam seminggu = 3
Penjumlahan skor no.5b + 5c+ 5d +5e + 5f + 5g+ 5h + 5i + 5j = (12)
Apabila hasil penjumlahan skor 0 maka skor akhir =0
1 -9 maka skor akhir =1
10 – 18 maka skor =2
19-27 maka skor =3

3) Penilaian penggunaan obat bantu tidur, pertanyaan no.7


Jawaban responden Skor
Tidak pernah =0
Kurang dari sekali dalam seminggu =1
1 – 2 kali dalam seminggu =2
3 kali atau lebih dalam seminggu =3

4) Penilaian gangguan aktivitas sehari-hari, pertanyaan no.8 dan no. 9


Pertanyaan no.8
Jawaban responden Skor
Tidak pernah =0
Kurang dari sekali dalam seminggu =1
1 – 2 kali dalam seminggu =2
3 kali atau lebih dalam seminggu =3

Pertanyaan no.9
Jawaban responden Skor
Tidak ada masalah sama sekali =0
Beberapa masalah =1
Banyak masalah =2
Sangat banyak masalah =3
Skor no 8 dan no.9 dijumlahkan (2)
Jika jika skor = 0 maka skor akhir =0
1 – 2 maka skor akhir =1
3 – 4 maka skor akhir =2
5 – 6 maka skor akhir =3

5) Penilaian durasi tidur, pertanyaan no.4


Jawaban responden skor
>7 jam maka skor = 0
6-7 jam maka skor = 1
5-7 jam maka skor = 2
< 5 jam maka skor = 3
6) Penilaian subjektif kualitas tidur, pertanyaan no.6
Jika jawaban responden
Sangat baik maka skor =0
Cukup baik maka skor =1
Cukup buruk maka skor =2
Sangat buruk maka skor =3
7) Penilaian latensi tidur, pertanyaan no.2 dan 5a
Pertanyaan no. 2, Jika jawaban responden ≤ 15 menit maka skor =0
16 – 30 menit maka skor =1
31-60 menit maka skor =2
>60 menit maka skor =3
Pertanyaan no. 5a
Jawaban responden Skor
Tidak pernah =0
Kurang dari sekali dalam seminggu =1
1 – 2 kali dalam seminggu =2
3 kali atau lebih dalam seminggu =3
Perjumlahan skor yang didapat dari pertanyaan no.2 + no. 5a = (4)
Jika jumlah yang didapat 0, maka skor akhir = 0
Jika jumlah yang didapat 1 - 2, maka skor akhir = 1
Jika jumlah yang didapat 3 - 4, maka skor akhir = 2
Jika jumlah yang didapat 5 - 6, maka skor akhir = 3
Keterangan total keseluruhan pertanyaan skor 8
Minimum skor : 0 (baik), Maksimum skor : 21 (buruk)
Bila total skor < 5 maka kualitas tidur dikatakan baik, bila skor ≥ 5 dikatakan kualitas tidur buruk
MMSE (Mini Mental Status Exam)

NO ASPEK NILAI NILAI CRITERIA


KOGNITIF MAKS KLIEN
1 ORIENTASI 5 4 Menyebutkan dengan benar:
- Tahun
- Musim
- Tanggal
- Hari
- Bulan
2 ORIENTASI 5 5 Dimana kita sekarang?
- Negara Indonesia
- Provinsi….
- Kota………
- Panti werda…
- Wisma ……
3 REGISTRASI 3 3 Sebutkan 3 objek (oleh pemeriksa)
1 detik untuk mengatakan masing-
masing objek, kemudian tanyakan
kepada klien ketiga objek tadi
(untuk disebutkan)
- Objek kertas
- Objek pena
- Objek televisi
4 PERHATIAN 5 4 Mintaklien untuk memulai dari
DAN angka 100 kemudian dikurangi 7
KALKULASI sampai 5 kali
- 93
- 86
- 79
- 72
- 65
5 MENGINGAT 3 3 Minta klien untuk mengulangi ke 3
objek pada nomor 3 ( registrasi)
tadi, bila benar 1 poin untuk
masing-masing objek
6 BAHASA 9 9 Tunjukan pada klien 1 benda dan
tanyakan namanya pada klien (
missal jam tangan atau pensil)

Minta kepada klien untuk


mengulang kata berikut “tak ada
jika,dan,atau,tetapi” boila benar,
nilai 1 point.
Pernyataan benar 2 buah: tidak ada
tetapi

Minta klien untuk mengikuti


perintah berikut ini yang terdiri dari
3 langkah: “ambil kertas ditangan
anda, lipat 2 dan taruh dilantai”.
- Ambil kertas
- Lipat dua
- Taruh dilantai
Perintahkan pada klien untuk hal
berikut ( bila aktivitas sesuai
perintah nilai 1 poin)

- Tutup mata anda


Perintah pada klien untuk menulis
satu kalimat dan menyalin gambar
- Tulis satu kalimat
- Menyalin gambar
Copying :minta klien untuk
mengcopy gambar dibawah. Nilai 1
point jika seluruh 10 sisi ada dan 2
pentagon saling berpotongan
membentuk sebuah gambar 4 sisi

TOTAL NILAI 30 28

Interpretasi nilai:
>23 : aspek kognitif dari fungsi mental baik
18-22 : kerusakan aspek fungsi mental ringan
<17 : terdapat kerusakan aspek fungsi mental berat
KUESIONER GAS (GERIATRIC ANXIETY SCALE)

Sebagian
Sama sekali Kadang- Setiap
No Pertanyaan besar waktu
tidak (0) kadang (1) waktu (3)
(2)
1 Jantung saya berdegup √
kencang
2 Nafas saya pendek √
3 Saya mengalami sakit √
perut
4 Saya merasa seperti √
hal-hal yang tidak
nyata atau seperti
berada diluar diri saya
atau seperti melayang
5 Saya merasa seperti √
kehilangan kendali
atau kontrol
6 Saya takut dihakimi √
orang lain
7 Saya takut √
dipermalukan
8 Saya mengalami susah √
tidur
9 Saya mengalami √
kesulitan untuk
memulai tidur
10 Saya mudah √
tersinggung
11 Saya mudah √
marah/timbul marah
yang meledak
12 Saya mengalami √
kesulitan
berkonsentrasi
13 Saya mudah kaget √
atau kesal
14 Saya kurang tertarik √
untuk melakukan
sesuatu yang biasanya
saya nikmati/hobi
15 Saya merasa terpisah √
atau terisolasi dari
orang lain
16 Saya merasa sedang √
linglung atau bingung
17 Saya mengalami √
kesulitan duduk
diam/tenang
18 Saya terlalu khawatir √
akan banyak hal
19 Saya tidak bisa √
mengendalikan
kekhawatiran saya
20 Saya merasa gelisah √
21 Saya merasa lelah √
22 Otot saya tegang √
23 Saya mengalami sakit √
punggung, sakit leher
atau kram otot
24 Saya merasa tidak √
memiliki kendali atas
hidup saya
25 Saya merasa sesuatu √
yang mengerikan akan
terjadi pada saya
26 Saya prihatin dengan √
keuangan saya
27 Saya prihatin dengan √
kesehatan saya
28 Saya prihatin dengan √
anak-anak saya
29 Saya takut mati √
30 Saya takut menjadi √
beban keluarga atau
anak-anak saya

Total Skoring: 44 (tingkat kecemasan sedang)

Penilaian skoring:
0-22 : tingkat kecemasan ringan
23-45 : tingkat kecemasan sedang
46-68 : tingkat kecemasan berat
69-90 : panic
PROFESI NERS FAKULTAS KEPERAWATAN

Relaksasi Otot Progresif?


Apa itu?

Tertarik untuk mencoba rileks secara


cepat dan efektif? Seperti cara-cara
relaksasi pada umumnya, cara ini
GERAKAN 1: Melatih Otot Tangan mudah untuk dilakukan. Namun, untuk
Genggam tangan membuat kepalan, buat kepalan
mendapatkan relaksasi yang mantap,
semakin keras rasakan ketegangan otot. Lepaskan
kepalan dan rasakan sensasinya selama 10 detik
anda harus sering mencobanya.

Bagaimana langkah-langkah
GERAKAN 2: Melatih Otot Tangan Bagian Belakang
relaksasi otot progresif?
TEKNIK
Tekuk kedua lengan ke belakang pada

peregalangan tangan sehingga otot di tangan

bagian belakang dan lengan bawah menegang. RELAKSASI OTOT


PROGRESIF

Persiapkan alat dan lingkungan; kursi, bantal,


serta lingkungan yang tenang dan sunyi.
Posisikan tubuh secara nyaman , yaitu
GERAKAN 3: Melatih Otot Pangkal Lengan berbaring dengan mata tertutup Profesi Ners Kelompok M17
Kepalkan tangan dan tekuk lengan ke belakan ke Vira Shintya
FAKULTAS Syafma
KEPERAWATAN
dekat pundak agak otot lengan atas menjadi tegang 2041312030
UNAND

UNIVERSITAS ANDALAS
PROFESI NERS FAKULTAS KEPERAWATAN

GERAKAN 4: Melatih Otot Bahu GERAKAN 9: Ditujukan untuk merilekskan otot


Angkat kedua bahu setinggi-tingginya sekam GERAKAN 13::Ditujukan untuk melatih otot perut.
leher bagian depan maupun belakang. Tekan
menyentuh telinga, rasakan ketegangan pada otot Tarik dengan kuat perut ke dalam. Tahan sampai

bahu, leher dan punggung atas. kepala pada permukaan bantalan kursi menjadi kencang dan keras selama 10 detik, lalu

sehingga dapat merasakan ketegangan di dilepaskan bebas. Ulangi kembali seperti gerakan
awal untuk perut.
bagian belakang leher dan punggung atas.
GERAKAN 14-15 : Ditujukan untuk melatih otot-
GERAKAN 10: Ditujukan untuk melatih otot leher
otot kaki. Luruskan kedua telapak kaki sehingga
bagian depan. Gerakan kepala ke muka otot paha terasa tegang. Lanjutkan hingga

sampai ke dada, sehingga dapat merasakan ketegangan pindah ke otot betis. Tahan posisi
tegang selama 10 detik, lalu dilepas. Ulangi setiap
ketegangan di daerah leher bagian muka.
gerakan masing-masing dua kali.
GERAKAN 11: Ditujukan untuk melatih otot

punggung. Angkat tubuh dari sandaran kursi.

Busungkan dada, tahan kondisi tegang selama

GERAKAN 5 DAN 6: ditujukan untuk melemaskan 10 detik, kemudian relaks.


otot-otot wajah. Dengan cara mengerutkan dahi
Gerakan 12 : Ditujukan untuk melemaskan otot
dan memejamkan mata sampai menegang.
dada. Tarik napas panjang. Tahan selama
GERAKAN 7: Ditujukan untuk melemaskan otot
rahang. Katupkan rahang dan rapatkan gigi agar beberapa saat, sambil merasakan ketegangan
terasa tegang.
di bagian dada sampai turun ke perut,
GERAKAN 8: Ditujukan untuk mengendurkan otot
sekitar mulut. kemudian lepas.

UNIVERSITAS ANDALAS
TERAPI RELAKSASI OTOT
PROGRESIF

KINTAN RESQITHA EKAPUTRI, S.Kep


2041312018
Teknik relaksasi otot
progresif merupakan
terapi yang dilakukan
dengan peregangan
otot kemudian
dilakukan relaksasi
otot (Gemilang 2013)

Teknik relaksasi otot


progresif merupakan
cara yang efektif
dalam mengurangi
kecemasan (Sustrani,
Alam, & Hadibroto,
2004)
TUJUAN RELAKSASI OTOT
PROGRESIF
Menurunkan ketegangan otot, kecemasan, nyeri leher dan punggung,
tekanan darah tinggi, frekuensi jantung, dan laju metabolik

Meningkatkan rasa kebugaran dan konsentrasi

Memperbaiki kemampuan untuk mengatasi stress


TUJUAN RELAKSASI OTOT
PROGRESIF
Mengatasi insomnia, depresi, kelelahan, iritabilitas, spasme otot,
fobia ringan, dan gagap ringan

Membangun emosi positif


INDIKASI TERAPI RELAKSASI
OTOT PROGRESIF

Klien yang mengalami insomnia


Klien dengan stress
Klien yang mengalami kecemasan
Klien yang mengalami depresi
GERAKAN TERAPI RELAKSASI
OTOT PROGRESIF
• Gerakan 1: Ditujukkan untuk melatih otot
tangan

 Genggam tangan hingga membuat kepalan


 Buat kepalan semakin keras dan rasakan ketegangan otot
 Lepaskan kepalan dan rasakan sensasinya selama 10 detik
GERAKAN TERAPI RELAKSASI
OTOT PROGRESIF
• Gerakan 2: Ditujukkan untuk melatih otot
bagian belakang

 Menekuk kedua lengan ke belakang pada pergelangan


tangan sehingga otot di tangan bagian belakang dan lengan
bawah menegang
 Jari-jari menghadap ke langit-langit
GERAKAN TERAPI RELAKSASI
OTOT PROGRESIF
• Gerakan 3: Ditujukkan untuk melatih otot
biseps

 Genggam kedua tangan sehingga menjadi kepalan


 Kemudian membawa kedua kepalan ke pundak sehingga
otot biseps akan menjadi tegang
GERAKAN TERAPI RELAKSASI
OTOT PROGRESIF
• Gerakan 4: Ditujukkan untuk melatih otot
bahu

 Angkat kedua bahu setinggi-tingginya seakan-akan


menyentuh kedua telinga
 Fokuskan perhatian gerakan pada kontrak ketegangan yang
terjadi di bahu, punggung atas, dan leher
GERAKAN TERAPI RELAKSASI
OTOT PROGRESIF
• Gerakan 5 dan 6: Ditujukkan untuk
melemaskan otot-otot wajah (seperti dahi,
mata, rahang, dan mulut)
 Mengerutkan dahi dan alis sampai otot terasa seperti
keriput
 Pejamkan mata secara keras, sehingga terasa ketegangan
disekitar otot-otot mata
GERAKAN TERAPI RELAKSASI
OTOT PROGRESIF
• Gerakan 7: Ditujukkan untuk mengendurkan
ketegangan yang dialami oleh otot rahang

 Katupkan rahang, diikuti dengan mengigit gigi sehingga


terjadi ketegangan di sekitar otot rahang
GERAKAN TERAPI RELAKSASI
OTOT PROGRESIF
• Gerakan 8: Ditujukkan untuk mengendurkan
otot-otot disekitar mulut

 Bibir dimonyongkan semonyong-monyongnya sehingga akan


dirasakan ketegangan disekitar mulut
GERAKAN TERAPI RELAKSASI
OTOT PROGRESIF
• Gerakan 9: Ditujukkan untuk merilekskan otot
leher bagian belakang
 Letakkan kepala sehingga dapat beristirahat
 Tekan kepala pada permukaan bantalan kursi sehingga dapat
merasakan ketegangan di bagian belakang leher dan
punggung atas
GERAKAN TERAPI RELAKSASI
OTOT PROGRESIF
• Gerakan 10: Ditujukkan untuk melatih otot
leher bagian depan

 Gerakan membawa kepala ke muka


 Benamkan dagu ke dada, sehingga dapat merasakan
ketegangan di daerah leher bagian muka
GERAKAN TERAPI RELAKSASI
OTOT PROGRESIF
• Gerakan 11: Ditujukkan untuk melatih otot
punggung
 Angkat tubuh dari sandaran kursi
 Punggung dilengkungkan ke depan
 Busungkan dada, tahan kondisi selama 10 detik, kemudian
relakskan
 Saat relaks, letakkan tubuh kembali ke kursi sambil
membiarkan otot menjadi lurus
GERAKAN TERAPI RELAKSASI
OTOT PROGRESIF
• Gerakan 12: Ditujukkan untuk melemaskan
otot dada

 Menarik nafas panjang untuk mengisi paru-paru dengan


udara sebanyak-banyaknya
 Tahan selama beberapa saat, sambil merasakan ketegangan
di daerah paru dan perut. Lepaskan secara perlahan-lahan
GERAKAN TERAPI RELAKSASI
OTOT PROGRESIF
• Gerakan 13: Ditujukkan untuk melatih otot
perut

 Tarik kuat perut kedalam


 Tahan sampai menjadi kencang dan keras selama 10 detik
 Kemudian lepaskan
GERAKAN TERAPI RELAKSASI
OTOT PROGRESIF
• Gerakan 14 dan 15: Ditujukkan untuk melatih
otot kaki (seperti paha dan betis)

 Luruskan kedua kaki sehingga otot paha terasa tegang


 Lanjutkan ketegangan pindah ke otot betis
 Tahan posisi selama 10 detik, lalu dilepas