Anda di halaman 1dari 34

PRA RANCANGAN PABRIK ASAM LAURAT DARI BAHAN BAKU

VIRGIN COCONUT OIL MENGGUNAKAN PROSES HIDROLISIS


CONTINUOUS FAT SPLITTING DENGAN KAPASITAS
5.000 TON/TAHUN

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh:

Freankgy Hockyawan (1709065037)


Ayub Rohman Hafid (1709065049)

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA

2020
PROPOSAL SKRIPSI

Oleh:

Freankgy Hockyawan (1709065037)


Ayub Rohman Hafid (1709065049)

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MULAWARMAN
LEMBAR PENGESAHAN

Pra Rancangan Pabrik Asam Laurat Dari Bahan Baku Virgin Coconut Oil
Menggunakan Proses Hidrolisis Continuous Fat Splitting Dengan Kapasitas
5.000 Ton/Tahun
Oleh :
Mahasiswa I Mahasiswa II

Freankgy Hockyawan Ayub Rohman Hafid


NIM. 1709065037 NIM. 1709065049

Samarinda, 25 November 2020


Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Tantra Diwa Larasati S.T., M.T.. Ari Susandy Sanjaya S.T., M.T.
NIP. 19930529 201903 2 020 NIP. 19780319 201012 1 001

Mengetahui,
Ketua Program Studi Teknik Kimia

Ari Susandy Sanjaya S. T., M.T.


NIP. 19780319 201012 1 001

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena rahmad dan
karunianya saya dapat menyelesaikan dan menyusul Proposal Skripsi ini dengan judul
“Pra Rancangan Pabrik Asam Laurat Dari Bahan Baku Virgin Coconut Oil Menggunakan
Proses Hidrolisis Continuous Fat Splitting Dengan Kapasitas 5.000 Ton/Tahun” yang
merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Studi Strata Satu (S-1)
Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang
telah membantu menyelesaikan proposal skripsi, yaitu:

1. Bapak Ari Susandy Sanjaya S.T., M.T selaku Ketua Program Studi S-1 Teknik
Kimia Fakultas Teknik Universitas Mulawarman, Kalimantan
Timur.
2. Ibu Tantra Diwa Larasati S.T., M.T. selaku Dosen Pembimbing I yang telah
banyak memberikan masukan demi kesempurnaan laporan ini.
3. Bapak Ari Susandy Sanjaya S.T., M.T selaku Dosen Pembimbing II yang
telah banyak memberikan masukan demi kesempurnaan laporan ini.
4. Seluruh teman-teman Teknik Kimia 2017 yang telah memberikan motivasi.
5. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan proposal skripsi ini.

Saya menyadari bahwa banyak kekurangan dalam pembuatan Proposal Skripsi ini
baik dari segi materi maupun penyajian. Untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun. Akhir kata penyusun berharap semoga Proposal Skripsi ini
bermanfaat bagi saya sendiri khususnya dan pembaca pada umumnya.

Samarinda, 25 November 2020

Penyusun
iii
ABSTRAK

Pra rancangan pabrik asam laurat dengan bahan baku minyak kelapa (Virgin Coconuts Oil)
dibuat dan ingin didirikan atas dasar untuk memenuhi kebutuhan asam laurat di Indonesia.
Asam laurat Asam laurat atau asam dedokanoat merupakan asam lemak yang memiliki 12
karbon dengan rumus kimia C12H24O2 dan juga merupakan asam lemak rantai menengah
menengah (medium chaind fatty acid-MCFA) yang mudah diserap oleh tubuh sehingga dapat
meningkatkan metabolisme. Pembuatan asam laurat dengan bahan baku minyak kelapa (virgin
coconut oil) kali ini menggunakan proses hidrolisis fat splitting continous. Dalam tahapan ini,
bahan baku yaitu minyak kelapa (virgin coconut oil) dan direncanakan akan didirikan di daerah
Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Pra rancangan pabrik asam laurat dengan bahan baku minyak kelapa (Virgin Coconuts Oil)
yang akan didirikan memliki kapsitas sebesar 5.000 Ton/Tahun. Setelah dibandingkan dengan 3
proses didapatkan proses yang digunakan untuk memproduksi asam laurat dari (Virgin
Coconuts Oil) yaitu proses hidrolisis fat splitting continous dimana proses ini memiliki 3 tahap.
Pertama tahap persiapan bahan aku yaitu dimana bahan baku (Virgin Coconuts Oil) di simpan
di tangki penyimpanan bahan baku sebelum masuk tahap selanjutnya, kedua tahap Continuous
Fat Splitting dimana mengubah bahan baku agar terbentuk asam lemak, dan ketiga tahap
Fractionation hasil yang didapatkan adalah asam laurat dan disimpan ditangki penyimpanan.

Kata kunci: Asam laurat, Proses hidrolisis fat splitting continous, Virgin Coconuts Oil
.

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
PENGESAHAN SKRIPSI ii
KATA PENGANTAR iii
ABSTRAK iv
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vii

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Lokasi Pabrik 2
1.3 Kapasitas Pabrik 4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Produk 9
2.2 Bahan Baku dan Penunjang 10
2.3 Proses Pembuatan Produk 12

BAB III. DESKRIPSI PROSES


3.1 Pemilihan Proses 17
3.2 Langkah Proses 18

BAB IV. KESIMPULAN 21

DAFTAR PUSTAKA 22

v
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Perbandingan Pemilihan Lokasi Pabrik 2


Tabel 1.2 Data Produsen Virgin Coconut Oil di Kalimantan 3
Tabel 1.3 Data Ekspor dan Impor Asam laurat 4
Tabel 1.4 Data Produksi Asam laurat 5
Tabel 1.5 Data Konsumsi di Indonesia 5
Tabel 1.6 Data Perhitungan kebutuhan Konsumsi, Produksi, Ekspor dan Impor Asam Laurat
pada tahun 2031 6
Tabel 2.1 Sifat Fisik dan Kimia Asam laurat 9
Tabel 2.2 Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa 11
Tabel 2.3 Sifat Fisik dan Kimia Minyak Kelapa 11
Tabel 2.4 Sifat Fisik dan Kimia Air 12
Tabel 3.1 Perbandingan Proses Fat Splitting 17

vi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Lokasi Pabrik 3


Gambar 3.1 Diagram Alir Kualitatif Proses Pembuatan Asam Laurat 20

vii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Memasuki era perdagangan bebas, Indonesia dituntut untuk mampu bersaing dengan
negara lain dalam bidang industri. Perkembangan industri di Indonesia sangat
berpengaruh terhadap ketahanan ekonomi Indonesia. Sektor industri kimia banyak
memegang peranan dalam memajukan perindustrian di Indonesia. Inovasi proses
produksi maupun pembangunan pabrik baru yang berorientasi pada pengurangan
ketergantungan kita pada produk luar negeri maupun untuk menambah devisa negara
sangat diperlukan, salah satunya dengan mendirikan pabrik Asam laurat.

Salah satu kekayaan alam Indonesia yang dapat memenuhi kebutuhan industri kimia
Indonesia yaitu kelapa, dan memiliki manfaat yang sangat besar untuk kebutuhan
manusia adalah asam laurat yang terkandung dalam virgin coconut oil. Kelapa juga
mengalami peningkatan produksi dari tahun ke tahun di Indonesia khususnya di
Kalimantan Timur.

Asam laurat atau asam dedokanoat merupakan asam lemak yang memiliki 12
karbon dengan rumus kimia C12H24O2 dan juga merupakan asam lemak rantai
menengah menengah (Medium Chaind Fatty Acid-MCFA) yang mudah diserap oleh
tubuh sehingga dapat meningkatkan metabolisme (Supriatna, 2008).

Ketersedian asam laurat pada virgin coconut oil bekisar 47,5%. Di dalam tubuh
manusia asam laurat akan diubah menjadi monolaurin yang bersifat antibakteri dan
antiprotozoa serta asam asam lain seperti asam kaprilat yang di dalam tubuh manusia
diubah menjadi monocaprin yang bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit yang
disebabkan oleh virus HSV2 dan HIV1 dan bakteri Neisseria Gonnorhoeae.

Adapun tujuan pra perancangan pabrik Asam Laurat dari Virgin Coconut Oil
Dengan Proses Hidrolisis Continuous Fat Splitting yaitu mengaplikasikan ilmu teknik
kimia seperti neraca massa dan energi, termodinamika, pepindahan panas, ekonomi
teknik dan utilitas. Mengetahui kelayakan pendirian pabrik Asam Laurat dari Virgin
1
Coconut Oil Dengan Proses Hidrolisis Continuous Fat Splitting baik dari segi teknologi
dan segi ekonominya.

1.2 Lokasi Pabrik


Adapun yang menjadi 3 daerah pemilihan lokasi berdirinya pabrik terdiri atas
Kabupaten Kutai Kartanegara, Kota Balikpapan dan Kota Samarinda. Tabel 1.1
merupakan pertimbangan pemilihan lokasi pabrik, sebagai berikut:

Tabel 1.1 Perbandingan Pemilihan Lokasi Pabrik


Parameter Kabupaten Kutai Kota Samarinda Kota Balikpapan
Kartanegara
Luas lahan Sangat luas dan Memadai seluas Memadai seluas
memadai seluas 7.025 Ha 6.815 Ha
602.426 Ha
Ketersediaan Tidak ada Kurang memadai Tidak ada
bahan sebanyak 1.079,274
ton VCO/tahun
Utilitas Sangat memadai Sangat memadai Sangat memadai
(adanya listrik dari (adanya listrik dari (adanya listrik dari
PLN sebanyak PLN sebanyak PLN sebanyak
1.894.608 Mwh, 89.833 Mwh, 882.307 Mwh,
/pabrik, air dari /pabrik, air dari /pabrik, air dari
PDAM sebanyak PDAM sebanyak PDAM sebanyak
1.468 L/detik, 2.517 L/detik, 1.370 L/detik,
/sungai Mahakam) /sungai Mahakam) /sungai Wain dan
Manggar)
Transportasi Sangat memadai Sangat memadai Sangat memadai
(adanya jalur darat (adanya jalur darat (adanya jalur darat
yaitu jalan tol yaitu jalan tol yaitu jalan tol
samarinda- samarinda- samarinda-
balikpapan; perairan balikpapan dan balikpapan dan
melalui sungai perairan melalui perairan melalui
Mahakam, sungai Mahakam Pelabuhan
Pelabuhan Laut dan Pelabuhan Kampung Baru dan
Kuala dan Samarinda, serta Semayang; serta
Ambrawang udara .melalui udara melalui
Samboja; dan udara bandara APT bandara Sultan Aji
melalui bandara Pranoto, ) Muhammad
muara badak dan Sulaiman
Tanjung Santan) Sepinggan)
Tenaga kerja Memadai (ada Memadai (ada Memadai (ada
banyaknya tenaga banyaknya tenaga banyaknya tenaga
ahli yang ahli yang ahli yang
pendidikan akhirnya pendidikan akhirnya pendidikan akhirnya
SMA/SMK SMA/SMK SMA/SMK
sebanyak 1.734 sebanyak 6.978 sebanyak 7.039
orang dan S-1 orang dan S-1 orang dan S-1
2
sebanyak 296 sebanyak 1.864 sebanyak 1.911
orang) orang) orang)
Pemasaran Sangat memadai (penjualan dapat dilakuka oleh pihak perusahaan
melalui website perusahaan, atau melalui aplikasi belanja online,
serta melalui pihak distributor lainnya)
(Sumber: BPS Kaltim, 2020)

A B
Gambar 1.1 Lokasi Pabrik A) Kabupaten Kutai Kartanegara, B) Kecamatan Samboja,
letak lokasi pabrik ditandai kotak hitam
(Sumber: Dispertaru kukar, 2020)

Dari Tabel 1.1 maka lokasi pabrik Asam laurat dari Virgin Coconut Oil Dengan
Proses Hidrolisis Continuous Fat Splitting di rencanakan akan didirikan di daerah
Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur dikarenakan
kawasan tersebut masih merupakan lahan memiliki kosong yang dekat dengan perairan,
sehingga memudahkan dalam transportasi pemasaran, pengolahan bahan baku dan
utilitas serta bahan baku yang dekat dengan pabrik yang dapat menghemat biaya
transportasi bahan baku. Adapun pemilihan lokasi ini didasarkan beberapa hal dengan
mempertimbangkan:

a. Produsen Bahan Baku Virgin Coconut Oil


Tabel 1.2 Data Produsen Virgin Coconut Oil di Kalimantan
Perusahaan Jumlah (kg/tahun)
PT. Indowell Lintas Khatulistiwa 20.000.000
BUMDes Karang Unarang 5.777,6
Disbun Kaltim 1.079.274
PT. Kalimantan Kelapa Jaya 1.543.236
PT. Daxen KJP Agro 219.000
(Sumber: Kemenperin, 2020).

3
Bahan baku pada Tabel 1.2 merupakan data produsen bahan baku virgin coconut oil
yang berada di daerah Kalimantan timur yang masih berada di satu pulau terutama di
Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Sedangkan bahan baku penunjang seperti air
diperoleh dari air sungai Mahakam.
a. Letak Sumber dan Ketersediaan Bahan Baku
Bahan baku pembuatan Asam laurat dari Virgin Coconut Oil dapat diperoleh dari
Disbun Kaltim (sebagai pemasok utama), PT. Indowell Lintas, PT. Kalimantan
Kelapa Jaya, dan PT. Daxen KJP Agro.
b. Sarana Transportasi
Mengenai transportasi di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara,
Kalimantan Timur memiliki jalur darat yang melalui Jalan Tol Provinsi Poros Kota
Samarinda-Kota Balikpapan yang akan mempermudah pengiriman dan jalur perairan
melalui Sungai Mahakam serta dapat melalui Pelabuhan Laut Kuala dan Ambrawang
Samboja.
c. Penyediaan Utilitas
Untuk penyediaan tenaga listrik akan menggunakan PLN atau generator pabrik
(boiler). Sedangkan kebutuhan air dapat dipenuhi dari sumber air Sungai Mahakam.
d. Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang dibutuhkan banyak tersedia, baik dari tenaga kerja ahli,
menengah, maupun buruh. Untuk tenaga kerja ahli (S1) dapat diperoleh dan tenaga
kerja menengah (Diploma dan SMK/sederajat). Sedangkan tenaga kerja terampil dan
non terampil dapat diperoleh dari daerah sekitar, sehingga kebutuhan tenaga
kerja dianggap mudah untuk dicukupi.
e. Pemasaran
Untuk menunjang pabrik, perlu diketahui kemana produk kita akan dipasarkan.
Produk RBD Coconut Oil dapat dipasarkan di dalam negeri.

1.3 Kapasitas pabrik


Adapun data ekspor dan impor Asam laurat yang ada di Indonesia pada tahun
2015 hingga 2019, dapat dilihat pada Tabel 1.3 sebagai berikut:
Tabel 1.3 Data Ekspor dan Impor Asam laurat
Tahun Impor (ton) Ekspor (ton)
2015 7.695,02 198.375,255
2016 5.660,024 230.388,939
2017 8.134,707 130.051,004
2018 4.165,936 159.022,095
4
2019 4.311,930 202.332,787
(Sumber: BPS, 2020)

Data Produksi Asam Laurat di Indonesia pada tahun 2015 hingga 2019, dapat
dilihat pada Tabel 1.4

Tabel 1.4 Data Produksi Asam laurat di Indonesia


Tahun Jumlah (ton)
2015 475.262,43
2016 479.485,53
2017 484.783,58
2018 489.434,97
2019 500.974,565
(Sumber: BPS, 2020)

Data Konsumsi Asam Laurat di Indonesia pada tahun 2015 hingga 2019,
sebagaimana terlihat pada Tabel 1.5.
Tabel 1.5 Data Konsumsi Asam Laurat di Indonesia
Tahun Konsumsi (Ton) i (%)
2015 273.582,196 0
2016 248.756,615 -0,090743
2017 366.867,286 0,474804
2018 312.578,806 -0,147979
2019 361.135,240 0,155341
Rata-rata 0,078285
(Sumber: BPS, 2020)

Perhitungan kapasitas:
Berdasarkan data kebutuhan konsumsi, produksi, ekspor dan impor asam laurat di
Indonesia pada tahun 2015 – 2019 yang diperoleh dari Biro Pusat Statistik pada Tabel
1.3-1.5 maka kapasitas perancangan pabrik dapat ditentukan dengan menggunakan
persamaan discounted yaitu:
n
F = P (1 + i) …………………………………. (1.1)
(Perry. Pers.9-32.Hal.812, 1999)

Dimana:
F = Proyeksi data konsumi, produksi, ekspor dan impor asam laurat di Indonesia pada
tahun 2031 (ton/tahun)

5
P = Jumlah konsumsi, produksi, ekspor dan impor asam laurat di Indonesia tahun
terakhir (ton/tahun)
i = Laju pertumbuhan (rata-rata)
=

Data pada tahun ke n−data pada tahun ke n−1


data pada tahun ke n−1
n = Jangka waktu pabrik berdiri

Sehingga didapatkan bahwa kebutuhan konsumsi, produksi, ekspor dan impor asam
laurat di Indonesia tahun 2031 dengan menggunakan persamaan 1.1 yang telah disajikan
dalam Tabel 1.6 sebagai berikut:

Tabel 1.6 Data Perhitungan kebutuhan Konsumsi, Produksi, Ekspor dan Impor
Asam Laurat pada tahun 2031
Impor (m1) Produksi Dalam Negeri (m2)
Tahun Jumlah Jumlah
i (%) i (%)
(ton/tahun) (ton/tahun)
2015 7.695,02 0 475.262,43 0
2016 5.660,02 -0,264456 479.485,53 0,008886
2017 8.134,71 0,437221 484.783,58 0,011049
2018 4.165,94 -0,487881 489.434,97 0,009595
2019 4.311,93 0,035045 500.974,57 0,023577
Rata-rata 5.993,5234 -0,056014 485.988,215 0,010621
F pada tahun 2031
2.422,8463 556.802,2105
(ton/tahun)

Tabel 1.6 Data Perhitungan kebutuhan Konsumsi, Produksi, Ekspor dan Impor
Asam Laurat pada tahun 2031 (Lanjutan)
Konsumsi Dalam Negeri (m4) Ekspor (m5)
Tahun Jumlah Jumlah
i (%) i (%)
(ton/tahun) (ton/tahun)
2015 273.582,20 0 198.375,26 0
2016 248.756,62 -0,090743 230.388,94 0,161379
2017 366.867,29 0,474804 130.051,00 -0,435515
2018 312.578,81 -0,147979 159.022,10 0,222767
2019 361.135,24 0,155341 202.332,79 0,272356
Rata-rata 312.584,086 0,078285 184.034,016 0,044198
F pada tahun 2031
767.370,3 311.812,0047
(ton/tahun)

6
Direncanakan kapasitas pabrik Asam Laurat berdiri pada tahun 2031 dapat menggunakan
persamaan:
m1 + m2 + m3 = m4 + m5…………………………………………………………….1.2
Dimana:
m1 = Kapasitas impor pada tahun n
m2 = Produksi dalam negeri pada tahun n
m3 = Kapasitas pabrik yang didirikan pada tahun n
m4 = Konsumsi dalam negeri pada tahun n
m5 = Kapasitas ekspor pada tahun n

Dan untuk mendapatkan kapasitas pabrik baru dari data Tabel 1.6, maka:
m3 = (m4+m5)-(m1+m2)……………………………………………………………….1.3
Diperoleh:
m3 = (767.370,3 + 311.812,0047) – (2.422,8463 + 556.802,2105)
= 519.957,2479 ton/tahun

Direncanakan Kapasitas pabrik Asam Laurat berdiri pada tahun 2031 yang didasarkan
pada data Produsen Virgin Coconut Oil di Kalimantan pada tahun 2020 yang diperoleh dari
Kementerian Perindustrian pada Tabel 1.1, sehingga kapasitas pabrik sebesar:
Jumlah Virgin Coconut Oil Disbun Kaltim = 1.079.274 ton/tahun
Asumsi Jumlah penggunaan VCO untuk pabrik = 50%
Konversi VCO menjadi asam lemak = 99,5%
Kandungan asam laurat dalam asam lemak = 47,5%
Perhitungan
Jumlah penggunaan VCO untuk pabrik = 50% × 1.079,274 ton/tahun
= 539,637 ton/tahun
Jumlah asam laurat yang diperoleh = 47,5%×99,5%×539,637 ton/tahun
= 255,0459 ton /tahun
≈ 255 ton/tahun

Jika menggunakan penambahan Virgin Coconut Oil dari pabrik PT. Indowell Lintas, PT.
Kalimantan Kelapa Jaya, PT. Daxen KJP Agro masing-masing Asumsikan sebesar
50%, maka kapasitas pabrik menjadi:
Asumsi Jumlah penggunaan VCO untuk pabrik = 47%

7
Konversi VCO menjadi asam lemak = 99,5%
Kandungan asam laurat dalam asam lemak = 47,5%
Perhitungan
Jumlah VCO yang diperoleh = 10.767,8879 ton/tahun
Jumlah asam laurat yang diperoleh = 47,5%×99,5%×5.327,3289 ton/tahun
= 5.089,173 ton/tahun
≈ 5.000 ton/tahun

Berdasarkan perhitungan dan pertimbangan bahan baku Virgin Coconut Oil (VCO)
di Kalimantan Timur untuk memproduksi asam laurat pada tahun 2031, maka rencana
kapasitas pabrik asam laurat yang akan didirikan pada tahun 2031 sebesar 5.089,173
ton/tahun, maka pabrik asam laurat dari Virgin Coconut Oil (VCO) kapasitas 5.000
ton/tahun.

8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Produk
Asam laurat atau asam dedokanoat merupakan asam lemak yang memiliki 12 karbon
dengan rumus kimia C12H24O2 dan juga merupakan asam lemak rantai menengah menengah
(medium chaind fatty acid-MCFA) yang mudah diserap oleh tubuh sehingga dapat
meningkatkan metabolisme (Supriatna, 2008).
Adapun sifat fisik dan kimia adalah sebagai berikut;

Tabel 2.1 Sifat Fisik dan Kimia Asam Laurat


Sifat Fisik dan Kimia Keterangan
Rumus molekul C12H24O2
Berat molekul 200,3 gr/mol
Titik beku 44 - 46°C
Titik didih 225°C
Densitas 0,880
Wujud Padat (Suhu ruang)
Warna Putih
Viskositas 7.30 mPa.s (50 °C)
Kelarutan Larut larut dalam pelarut
polar ; air dan lemak
(Sumber: Perry, 1999)

Adapun kegunaan dari asam laurat sebagai berikut (Fauzi, dkk, 2004):
1. Dalam indutri pencuci, yaitu sebagai bahan pengikat atau surfaktan pembuat sampo,
sabun mandi dan detergen.
2. Pada indutri kosmetik, yaitu sebagai pengental, pelembab, dan pelembut.
3. Pada industri makanan bayi, yaitu meningkatkan kecerdasan, menambah daya tahan dan
stamina tubuh, mencengah dan mengatasi masalah gizi, seperti kurang vitamin,
mengoptimalkan kecerdasan anak.
4. Sebagai antimicrobial pada indutri farmasi (melindungi tubuh dari virus, herves, HIV,
protozoa Oamblia, dan bakteri clamidya).
5. Dalam industri parfum, sebagai pengikat atau surfaktan

2.2 Bahan Baku dan Penunjang


Untuk merancang suatu proses industri perlu di ketahui terlebih dahulu sifat kimia dan
9
sifat fisika dari bahan baku yang digunakan serta bahan baku dan penunjang yang akan
dihasilkan. Dengan mengetahui sifat kimia dari bahan baku akan mempermudah pemilihan
senyawa yang akan direaksikan sehingga terbentuk produk dengan sifat kimia yang
diinginkan. Sedangkan sifat fisik suatu bahan akan mempermudah penentuan perlakuan
terhadap bahan tersebut sehingga menghasilkan produk. Di bawah ini akan dijelaskan
mengenai sifat fisik dan kimia bahan baku dan penunjang yang digunakan dalam pra
rancangan pabrik Asam laurat.

2.2.1 Bahan Baku


Buah kelapa dewasa biasa memiliki berat lebih dari 1 kg dan berbentuk bulat telur
dan berwarna hijau atau kuning. Kelapa memiliki kulit ari halus di atas mesocarp berserat
(sekam) yang menutupi endocarp keras (cangkang). Di dalam cangkang adalah endosperm
(kernel, daging) tebalnya sekitar 1–2 cm. Lapisan coklat tipis yang disebut testa memisahkan
kernel dari permukaan bagian dalam cangkang. Rongga di dalam kernel memiliki volume
rata-rata 300 mL dan berisi cairan endosperm (air kelapa). Buah kelapa terdiri dari sabut 33
persen, 12 persen tempurung, 28 persen daging buah dan 25 persen air; kadar minyak dalam perikarp
sekitar 30 - 40 persen (Shahidi, 2005).
Minyak kelapa berdasarkan kandungan asam lemaknya digolongkan ke dalam minyak asam
laurat, karena kandungan asam lauratnya paling besar jika dibandingkan dengan asam lemak lainnya.
Berdasarkan tingkat ketidakjenuhannya yang dinyatakan dengan bilangan iod (iodine value), maka
minyak kelapa termasuk ke dalam golongan non drying oil, karena bilangan iod minyak tersebut
berkisar antara 7,5-10,5 (Ketaren, 1986).
Minyak kelapa yang belum dimurnikan mengandung sejumlah kecil komponen
bukan minyak, misalnya fosfatida, gum, sterol (0,06-0,08%), tekoferol (0,003%), dan asam
lemak bebas (kurang dari 5%), sterol yang terdapat dalam minyak nabati disebut fitosterol
dan mempunai dua isomer, yaitu betasitosterol (C29H50O) dan stigmasterol (C29H48O). Sterol
bersifat tidak berwarna, tidak berbau, stabil, dan berfungsi sebagai stabilizer dalam minyak.
Tokoferol mempunyai tiga isomer, yaitu α-tokoferol (titik cair 158-1600C), β-tokoferol (titik
cair 118-1200C). Persenyawaan tokoferol bersifat tidak dapat disabunkan, dan berfungsi
sebagai anti oksidan (Ketaren, 1986). Warna coklat pada minyak yang mengandung protein
dan karbohidrat bukan disebabkan oleh zat warna alamiah, tetapi oleh reaksi browning.
Warna ini merupakan hasil reaksi dari senyawa karbonil dan terjadi terutama pada suhu
tinggi. Zat warna alamiah yang terdapat pada minyak kelapa adalah karoten yang merupakan
hidrokarbon tidak jenuh dan tidak stabil pada suhu tinggi (Ketaren, 1986). .
Minyak kelapa adalah lemak semi padat yang mempunyai komposisi yang tetap.
10
Rata - rata komposisi asam lemak minyak kelapa dapat dilihat pada Tabel 2.2 berikut;

Tabel 2.2 Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa


Asam Lemak Rata-rata Massa Kandungan (%)
Asam Kaproat C6 0,4-0,6 0,5
Asam Kaprilat C8 6,9-9,4 7,8
Asam Kaprat C10 6,2-7,8 6,7
Asam Laurat C12 45,9-50,3 47,5
Asam Miristat C14 16,8-19,2 18,1
Asam Palmitat C16 7,7-9,7 8,8
Asam Stearat C18 2,3-3,2 2,6
Asam Oleat C18:1 5,4-7,4 6,2
Asam Linoleat C18:2 1,3-2,1 1,6
Asam Arakidat C20 t-0,2 0,1
Asam Dokekanoat C20:1 t-0,2 0
(Sumber: Shahidi, 2005)

Adapun sifat fisik dan kimia dari minyak kelapa adalah sebagai berikut;

Tabel 2.3 Sifat Fisik dan Kimia Minyak Kelapa


Sifat Fisik dan Kimia Kandungan
Titik cair (°C) 22-26
Densitas (60°C) 0,890-0,895
Berat spesifik (40°C/air pada 0,908-0,921
20°C)
Indeks bias pada 40°C 1,448-1,450
Bilangan penyabunan 248-265
Bilangan Iod 6-11
Bilangan peroksida 10 max
Bilangan Reichert-Meissel 6-8,5
Bilangan Polenske 13-18
(Sumber: Shahidi, 2005)

2.2.2 Bahan Baku Penunjang


Bahan baku penunjang yang digunakan dalam pembuatan Asam laurat ialah Air
(H2O). Adapun sifat fisika dan kimia air bersih (H 2O) yang digunakan sebagai bahan baku
yang digunakan dalam proses produksi magnesium hidroksida dapat dilihat pada tabel 2.4 di
bawah ini.
Tabel 2.4 Sifat Fisik dan Kimia Air
Sifat Fisik dan Kimia Keterangan
Rumus molekul H2O
Berat molekul 18,015 g/mol
Titik lebur 0°C

11
Titik didih 100°C
Densitas 1 g/ml (4°C)
Wujud Cair
Warna Tidak berwarna
Viskositas 0,9 cP
Kelarutan Mudah larut dalam air, asam
encer, dan alcohol
(Sumber: Kirk, 2007)

2.3 Proses Pembuatan Produk


2.3.1 Hidrolisis
Reaksi hidrolisis dapat dikatalisasi dengan asam, basa, atau lipase, tetapi juga dapat
direaksikan tanpa katalisasi yaitu antara lemak dan air yang dilarutkan dalam fase lemak
pada suhu dan tekanan yang sesuai. Hidrolisis lemak dan minyak berhubungan dengan
pemisahan triasilgliserol menjadi unsur asam lemak dan gliserol yang direaksikan dengan
air. Hidrolisis triasilgliserol menjadi asam lemak dan gliserol ini dibagi menjadi tiga jenis
yaitu splitting dengan tekanan yang tinggi, hidrolisa dengan menggunakan basa
(saponifikasi), dan hidrolisis enzim. Untuk memproduksi sabun dan gliserol, lemak dan
minyak dihidrolisis dengan menggunakan steam yang prosesnya berkelanjutan dan
dioperasikan pada suhu yang tinggi (250˚C) dan tekanan (50-60 bar). Adapun proses
hidrolisis dari trigliserida tersebut adalah sebagai berikut:

….(2.1)
………

.(2.2)
……

.(2.3)

Dari ketiga reaksi diatas dapat disimpulkan reaksi tersebut menjadi reaksi berikut ini:

12
…(2.4)

Adapun jenis-jenis hidrolisis adalah sebagai berikut:


1. Hidrolisis dengan katalis basa

Pada umumnya, sabun diproduksi melalui hidrolisis alkali lemak dan minyak, dan proses
ini dikenal dengan reaksi saponifikasi. Sabun yang sekarang dihasilkan melalui
netralisasi asam lemak yang berasal dari fat splitting, tetapi hidrolisis alkali dapat
digunakan untuk asam lemak yang sensitif terhadap panas. Pada skala laboratorium,
hidrolisis alkali ini direaksikan dengan kelebihan basa, misalnya kalium hidroksida 1 M
dalam etanol 95%, direfluks selama satu jam, dan asam lemak diperoleh kembali setelah
asidifikasi campuran tersebut. Ini merupakan salah satu cara yang sederhana yang cukup
banyak menghasilkan asam lemak, termasuk polyunsaturated, epoxi, dan siklopropena
yang tidak diubah.
2. Fat splitting

Industri yang memproduksi asam lemak menggunakan reaksi langsung antara air dan
lemak, yang dilakukan pada suhu 250˚C dan tekanan 2-6 Mpa (20-60 bar). Dibawah
kondisi tersebut, air menjadi terlarut dalam fase minyak, dan hidrolisis triasilgliserol
berlangsung tanpa bantuan katalis. Reaksi tersebut direaksikan dengan air berubah
menjadi sweet water (air yang mengandung gliserol), yang menghasilkan konversi asam
lemaknya sebesar 99%. Gliserol diperoleh kembali dari fasa encer.
Adapun jenis-jenis fat splitting sebagai berikut :
 Proses Twitchell

Proses Twitchell ini merupakan proses yang paling tua. Dimana proses ini
menggunakan reagen Twitchell dan asam sulfat sebagai katalis. Reagen tersebut
merupakan campuran sulfonat oleat atau asam lemak lain dan naftalen. Proses ini
menggunakan tangki tahan asam dimana air yang digunakan kira-kira setengah dari
lemak, asam sulfat 1-2%, dan reagen Twitchell 0,7501 25% yang dididihkan pada
tekanan atmosfer selama 36 sampai 48 jam, menggunakan steam terbuka. Proses ini
biasanya diulangi dua sampai empat kali. Pada tahap terakhir, air ditambahkan dan
campuran di didihkan untuk mencuci asam yang tersisa. Proses ini jarang digunakan
karena waktu yang digunakan cukup lama, konsumsi steam yang tinggi, serta

13
perusakan terhadap warna asam lemak cukup besar.
 Proses AutoClave system batch

Proses ini merupakan metode komersial tertua yang digunakan untuk memisahkan
asam lemak tanpa merusak warna. Proses ini lebih cepat dibandingkan dengan proses
Twitchell, waktu yang dibutuhkan sekitar 6 - 10 jam. Proses ini menggunakan katalis,
biasanya zink, magnesium, atau 19 kalsium oksida. Biasanya digunakan katalis zink
karna paling aktif dan digunakan sekitar 2-4%. Autoklaf berbentuk silinder panjang,
diameter dalamnya 1220-1829 mm dan tingginya 6-12 m, terbuat dari logam tahan
korosi dan bersekat. Dalam proses ini, autoklaf diisi dengan minyak, air yang
ditambahkan sekitar setengah dari minyak, serta katalis. Steam dialirkan terus
menerus guna untuk menghilangkan udara terlarut, kemudian autoklaf ditutup. Steam
dialirkan sampai tekanan naik menjadi 1135 kPa dan diinjeksikan secara terus
menerus melalui bagian bawah. Konversi yang dihasilkan setelah 6-10 jam adalah
lebih dari 95%. Lalu ditransfer menuju tangki pengendapan dimana terbentuk dua
lapisan yaitu lapisan atas asam lemak dan bagian bawah sweet water. Lapisan asam
lemak yang terpisah, ditambahkan dengan asam untuk memisahkan sabun yang
terbentuk, dan terakhir dicuci untuk menghilangkan asam mineral yang terikut.
 Proses Continuous

Proses ini berlawanan arah, menggunakan tekanan yang tinggi, dan merupakan
proses hidrolisis yang sangat efisien. Suhu dan tekanan yang tinggi digunakan untuk
waktu yang singkat. Aliran minyak dan air yang berlawanan arah menghasilkan
derajat splitting yang tinggi tanpa menggunakan katalis. Bagaimanapun, katalis
mungkin digunakan juga. Menara splitting merupakan jantung proses tersebut.
Biasanya menara yang digunakan dengan diameter dalam 508 - 1220 mm dan
tingginya 18 - 25 m serta terbuat dari bahan yang tahan korosi seperti baja 316 atau
20 logam inconel dengan tekanan operasinya sekitar 5000 kPa. Suhu yang tinggi
sekitar 250 - 260˚C menjamin fase air terlarut pada minyak. Prosesnya adalah fase
lemak dan minyak diumpankan melalui bawah lalu akan menuju atas, sedangkan air
diumpankan melalui bagian atas lalu menuju bawah, sehingga akan berkontak
langsung antara kedua fase tersebut dan terbentuk asam lemak. Derajat splitting
dapat mencapai 99%. Proses kontinu ini dengan tekanan tinggi lebih efisien
dibandingkan dengan proses lain, karena waktu reaksinya hanya 2 - 3 jam, perubahan
warna asam lemak yang sedikit.
14
3. Hidrolisis dengan katalis enzim

Hidrolisis dengan katalis enzim merupakan alternatif proses untuk menghasilkan asam
lemak dan dibentuk pada kondisi suhu atau tekanan yang rendah. Kemudian, proses ini
dapat digunakan untuk menghasilkan asam lemak dari minyak yang mudah teroksidasi
dimana mengandung asam lemak tak jenuh yang cukup tinggi. Hidrolisis dengan katalis
enzim lipase untuk menghasilkan asam lemak dan gliserol tidak lebih ekonomis
dibandingkan proses kimia yang konvensional karena harga enzim lipase yang cukup
mahal. Bagaimanapun keekonomisan merupakan nilai tambah suatu produk. Hidrolisis
minyak ikan dengan lipase untuk menghasilkan n-3 polyunsaturated fatty acid
merupakan aplikasi penggunaan hidrolisis enzim untuk menghasilkan produk dengan
harga komersial yang terjangkau.
(Shahidi, 2005)

2.3.2 Fraksinasi

Fraksinasi berguna untuk memisahkan minyak dan lemak menjadi fraksi-fraksi


berdasarkan perbedaan titik lelehnya. Minyak dan lemak yang difraksinasi telah digunakan
untuk menghasilkan makanan-makanan seperti margarin, mentega, minyak salad, minyak
goreng, dan produk gula. Fraksinasi juga digunakan untuk memisahkan diasilgliserol
(DAGs) dan monoasilgliserol (MAGs) untuk menghasilkan fraksi yang bermacam-macam
dengan sifat-sifat yang diinginkan untuk sabun, atau aplikasi oleokimia dan obat-obatan.
Prinsip dari fraksinasi minyak didasarkan pada perbedaan daya larut dari komponen
triasilgliserol (TAGs). Perbedaan kelarutan secara langsung berhubungan dengan jenis-jenis
TAGs dalam minyak dan lemak. Adapun jenis-jenis fraksinasi adalah sebagai berikut :
 Fraksinasi kering.

Fraksinasi kering minyak dan lemak didasarkan pada pendinginan minyak secara
bertahap dibawah kondisi yang diatur tanpa menggunakan pelarut. Pada proses ini, tidak
ada penambahan zat kimia. Ketika minyak mencapai suhu yang diinginkan, pendinginan
dihentikan dan TAGs padat dibiarkan agar terpisah dari TAGs cair. Pemisahan olein
(cair) dan stearin (padat) dilakukan melalui sentrifugasi. Fraksinasi kering biasanya
digunakan untuk memisahkan olein dan stearin.
 Fraksinasi dengan menggunakan pelarut.

Fraksinasi dengan menggunakan pelarut ini merupakan istilah yang digunakan untuk
15
menggambarkan proses kristalisasi dari fraksi lemak yang diinginkan dari minyak yang
dilarutkan dengan pelarut yang sesuai. Fraksi lemak dikristalisasi pada suhu yang
berbeda, setelah itu fraksi dipisahkan dan pelarut dihilangkan. Proses ini biasanya
digunakan untuk produk mentega biji coklat dan medium-chain triacylglycerol (MCTs).
 Fraksinasi untuk detergen.

Dalam fraksinasi detergen, larutan cair detergen (natrium lauril sulfat 5%) digunakan
untuk mengkristalkan bahan tersebut yang berfungsi untuk membantu pemisahan olein
cair dan stearin padat. Pemisahan dua fasa tersebut dapat dipisahkan dengan cara
sentrifugasi. Kandungan detergen yang kecil dalam olein dapat dihilangkan dengan cara
pembilasan air. Proses ini biasanya digunakan untuk minyak sawit dan lemak.
 Fraksinasi dengan Pengembunan (Fractional Condentation).

Proses fraksinasi ini merupakan suatu proses fraksinasi yang didasarkan pada titik didih
dari suatu zat / bahan sehingga dihasilkan suatu produk dengan kemurnian yang tinggi.
Fraksinasi pengembunan ini membutuhkan biaya yang cukup tinggi namun proses
produksi lebih cepat dan kemurniannya lebih tinggi.
(Shahidi, 2005)

16
BAB III
DESKRIPSI PROSES

3.1 Pemilihan Proses


Dalam pemilihan proses pra rancangan pabrik asam laurat, membutuhkan biaya
serendah–rendahnya dengan membandingkan dari aspek konsumsi energi, biaya produksi,
dan kapasitas. . Tabel 3.1 menunjukkan perbandingan dari masing–masing metode hidrolisis fat
splitting dari pabrik asam laurat.
Tabel 3.1 Perbandingan Proses Fat Splitting
Parameter Continuous Twitchell AutoClave system
batch
Waktu 2 – 3 jam 36 – 48 jam 6 – 10 jam
Temperature 250 – 260oC 250oC 280oC
Tekanan 5000 kPa 101,325 kPa 1135 kPa
Konversi 99% 90 – 95% 95%
Yield
10-25% 5-15% 10-15%
Gliserol
Alkyl-aryl silfonic acids
Zinc, Calcium atau
Katalis Tanpa Katalis atau cycloaliphatic
magnesium oxides
sulfonic acids
Dapat digunakan
Waktu operasi tercepat
pada skala kecil
diantara 2 proses Tekanan yang
biaya awal lebih
lainnya, kualitas digunakan rendah,
rendah
produk seragam dapat digunakan pada
Kelebihan dibandingkan sistem
,konsentrasi gliserin skala kecil, biaya awal
continous, waktu
tinggi, lebih akurat, rendah karena relatif
operasi lebih cepat
menggunakan kontrol sederhana.
dibandingkan
otomatis
Twitchell

17
Harga katalis lebih
Perlu penanganan
mahal dibandingkan
katalis, reaksi lebih
Biaya awal tinggi, Batch Autoclave.
lama dibandingkan
temperatur dan Konsumsi uap tinggi,
continous, tidak
tekanan yang asam yang terbentuk
dapat menggunakan
digunakan tinggi, berwarna gelap, butuh
Kekurangan kontrol otomatis,
memerlukan bahan lebih dari satu tahap
butuh lebih dari satu
alat yang kemampuan untuk dapat yield dan
tahap untuk
operasi yang lebih konsentrasi gliserin
mendapat yield dan
baik yang tinggi, tidak dapat
konsentrasi gliserin
menggunakan kontrol
yang tinggi.
otomatis.
(Sumber: Shahidi, 2005)

Berdasarkan Tabel 3.1, maka dipilih proses Continuous Fat Splitting dengan alasan memiliki
banyak kelebihan dan sedikitnya kekurangan jika dibandingkan dengan Twittchel dan
autoklaf sistem batch dan juga menggunakan proses fraksinasi pengembunan karena proses
produksi lebih cepat dan kemurnian yang didapat sangat tinggi.

3.2 Langkah Proses


3.2.1 Unit persiapan bahan baku
Hasil olahan minyak kelapa VCO yang diproduksi oleh beberapa pabrik selanjutnya
disimpan dalam Tangki Penyimpanan sebelum masuk ke proses selanjutnya.

3.2.2 Continuous Fat Splitting


Aliran minyak dan air yang berlawanan arah menghasilkan derajat splitting yang
tinggi tanpa menggunakan katalis. Menara splitting merupakan proses utama. Tekanan
operasinya sekitar 5000 kPa dengan suhu yang tinggi sekitar 250 - 260˚C menjamin fase air
terlarut pada minyak. Prosesnya adalah fase lemak dan minyak diumpankan melalui bawah
lalu akan menuju atas, sedangkan air diumpankan melalui bagian atas lalu menuju bawah,
sehingga akan berkontak langsung antara kedua fase tersebut dan terbentuk asam lemak
(Shahidi, 2005).
.

3.2.3 Fractionation
Setelah terbentuk asam lemak, kemudian dipisahkan asam laurat dari asam lemak
dengan proses fraksinasi. Proses fraksinasi bertujuan untuk memisahkan suatu campuran
bahan guna mendapatkan zat asalnya, dimana fraksi - fraksinya didasarkan perbedaan titik
18
didihnya (berat atom). Unit fraksinasi terdiri dari 2 kolom fraksinasi. Pada proses fraksinasi,
kondisi temperatur dan kolom divakumkan sesuai dengan jenis produk yang diinginkan. Di
dalam kolom fraksinasi I terdapat struktur packing, pada kolom ini dihasilkan blanded C8 -
C10 akan dilewatkan di bagian atas kolom dan dialirkan menuju kondensor untuk diubah
fasa dari gas menjadi cair, lalu menuju cooler I untuk diturunkan suhunya dari 158˚C
menjadi 80˚C yang kemudian dialirkan menuju tangki penyimpanan akhir. Proses ini
berlangsung pada tekanan 5 kPa dan suhu 200˚C. Dari bagian bawah kolom fraksinasi I
residu kemudian dialirkan ke reboiler . Pada reboiler akan direcycle dan dialirkan ke kolom
fraksinasi II. Di dalam kolom fraksinasi II dihasilkan C12 (99%) yang dilewatkan melalui
bagian atas kolom dan dialirkan menuju kondensor untuk diubah fasa dari gas menjadi cair,
lalu dialirkan menuju cooler II untuk diturunkan suhu dari 188˚C menjadi 80˚C yang
kemudian dialirkan menuju tangki penyimpanan akhir. Proses ini berlangsung pada tekanan
5 kPa dan suhu 200˚C. Dari bagian bawah kolom fraksinasi II destilat kemudian dialirkan ke
reboiler, kemudian dialirkan menuju cooler III untuk menurunkan suhu dari 236˚C menjadi
80˚C dan kemudian dialirkan menuju tangki penyimpanan akhir.

3.2.4 Unit Penanganan Produk Akhir


Setelah melewati proses fraksinasi, asam laurat disimpan dalam gudang penyimpanan
dan selanjutnya masuk keproses pengemasan dan siap didistribusikan.

3.2.5 Unit Penanganan Produk Samping


Peralatan utama dalam proses ini adalah flash tank. Hasil bawah Reaktor diumpankan
ke dalam flash tank residu dimana air yang berwujud gas akan terpisah kemudian
didinginkan didalam cooler sehingga suhunya turun menjadi 30°C kemudian disimpan ke
dalam tangki penyimpanan produk samping.

19
20
H 2O
Asam Kaproat Asam Kaproat
Tangki
Asam Kaplirat Asam Kaplirat
Penyimpanan
Asam Kaprat Asam Kaprat
Flash Asam Laurat Menara Asam Laurat
H2O Tank I Asam Miristat Fraksinasi
Asam Palmitat 1
Asam Stearat
Asam Oleat Asam Kaproat
Asam Linoleat Asam Kaplirat
Gudang
H2O Asam Arakidat Asam Kaprat
Penyimpanan
(Steam) Asam Laurat
Reaktor Menara Asam Miristat
Spliting Fraksinasi 2

Asam Laurat Tangki


Asam Miristat Penyimpanan
Asam Palmitat
Asam Stearat
H2O
Trigliserida Asam Oleat
H2O Asam Linoleat
Flash Asam Arakidat
H2O Tank2
VCO Gliserol
Tangki Trigliserida
Penyimpanan Tangki
Penyimpanan
H2O
Gliserol
Trigliserida

Gambar 3.1 Diagram Alir Kualitatif Proses Pembuatan Asam Laurat dari VCO

21
BAB IV
NERACA MASSA DAN ENERGI

4.1 Neraca Massa


Hasil perhitungan neraca massa pada proses pembuatan asam laurat dari VCO (Virgin
Coconut Oil) diuraikan sebagai berikut:
Kapasitas Produksi = 5.000 ton/tahun
Waktu operasi = 330 hari/tahun
Basis perhitungan = 1 jam operasi
ton 1000 kg 1 tahun 1 hari
Laju Kapasitas Produksi = 5.000 × × ×
tahun 1 ton 330 hari 24 jam
kg
= 631,1234
jam
4.1.1. Kolom Splitting (C-101)
4.1.2. Flash Tank I (D-101)
4.1.3. Flash Tank II (D-102)
4.1.4. Kolom Fraksinasi I (C-102)
4.1.5. Kondensor I (CD-101)
4.1.6. Reboiler I (RB-101)
4.1.7. Kolom Fraksinasi II (C-103)
4.1.8. Kondensor II (CD-102)
4.1.9. Reboiler II (RB-102)

4.2 Neraca Energi

22
23
BAB X
KESIMPULAN

Berdasarkan data diatas dapat diperolah kesimpulan yaitu Pra Rancangan Pabrik
Asam Laurat Dari Bahan Virgin Coconut Oil Menggunakan Proses Hidrolisis
Continuous Fat Splitting Dengan Kapasitas 5.000 Ton/Tahun.

24
DAFTAR PUSTAKA

BPS. 2020. Statistik Indonesia Tahun 2019. Badan Pusat Statistik, Jakarta.
BPS Kaltim. 2020. Statistik Kalimantan Timur Tahun 2019. Badan Pusat Statistik
Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda.
Dispertaru Kukar. 2020. Peta Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara,
Kalimantan Timur. Dinas Pertanahan dan Penataan Ruang Kabupaten Kutai
Kartanegara.
Kemenperin. 2020. Data Perusahaan Virgin Coconut Oil. Kementerian Perindustrian
Republik Indonesia, Jakarta.
Ketaren, S, 1986, Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan, Cetakan I, UI Press,
Jakarta.
Kirk, R. & O. 2007. Encyclopedia of Chemical Engineering Technology, 5th Edition,
Volume 25. John Wiley and Sons Inc, New York.
Perry, Robert H. and Green, D. W. 1999. Perry's Chemical Engineers Handbook.
McGraw-Hull Companies Inc, United States of America:.
Shahidi, F. 2005. Bailey’s Industrial Oil And Fat (Vol. 6). A John Wiley & Sons Inc,
United States of America.
Supriatna, A; A, M. A. 2008. Cairan Ionik Berbasis Asam Lemak sebagai Pemodifikasi
Organik pada Lumpur Pengeboran (Drilling Mud) Minyak Bumi. UPI, Bandung.

25