Anda di halaman 1dari 7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Ekstraksi merupakan suatu cara untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan yang
diduga mengandung minyak atau lemak (Karmila, dkk, 2009). Ekstraksi padat cair
(leaching) adalah proses pemisahan suatu zat terlarut yang terdapat dalam suatu padatan
dengan mengontakkan padatan tersebut dengan pelarut (solvent) sehingga padatan dan
cairan bercampur dan kemudian zat terlarut terpisah dari padatan karena larut dalam
pelarut. Pada ekstraksi padat cair terdapat dua fase yaitu fase overflow (ekstrak) dan fase
underflow (rafinat/ampas) (McCabe dalam Karmila, 2009). Teknik ekstraksi yang ideal
adalah teknik ekstraksi yang mampu mengekstraksi bahan aktif yang diinginkan sebanyak
mungkin, cepat, mudah dilakukan, murah, ramah lingkungan dan hasil yang diperoleh
selalu konsisten jika dilakukan berulang-ulang (Endarini, 2016).

Metode paling sederhana untuk mengekstraksi padatan adalah mencampurkan seluruh


bahan dengan pelarut, lalu memisahkan larutan tersebut dengan padatan tidak terlarut
(Brown dalam karmila, 2009). Ekstraksi selalu melibatkan 2 tahap yaitu:
a. Kontak pelarut dengan padatan untuk diperlakuan sehingga dapat mentransfer
konstituen terlarut atau zat terlarut ke pelarut, dan
b. Pemisahan atau pencucian larutan dari residu padatan.
(Brown, 1978)

Metode yang diperlukan untuk leaching biasanya ditentukan oleh jumlah konstituen yang
akan dilarutkan, distribusi konstituen di dalam solid, sifat solid, dan ukuran partikelnya.
Bila konstituen yang akan larut ke dalam solvent lebih dahulu, akibatnya sisa solid akan
berpori-pori. Selanjutnya pelarut harus menembus lapisan larutan dipermukaan solid untuk
mencapai konstituen yang ada dibawahnya, akibatnya kecepatan ekstraksi akan menurun
dengan tajam karena sulitnya lapisan larutan tersebut ditembus. Tetapi bila konstituen yang
akan dilarutkan merupakan sebagian besar dari solid, maka sisa solid yang berpori-pori
akan segera pecah menjadi solid halus dan tidak akan menghalangi perembesan pelarut ke
lapisan yang lebih dalam. Umumnya mekanisme proses ekstraksi dibagi menjadi 3 bagian,
yaitu:
a. Perubahan fase konstituen (solute) untuk larut ke dalam pelarut, misalnya dari
bentuk padat menjadi liquid.
b. Diffusi melalui pelarut di dalam pori-pori untuk selanjutnya dikeluarkan dari
partikel.
c. Akhirnya perpindahan solute (konstituen) ini dari sekitar partikel ke dalam lapisan
keseluruhannya (bulk).
(Anonim, 2010)

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses ekstraksi adalah sebagai berikut:


a. Temperatur Operasi
Semakin tinggi temperatur, laju pelarutan zat terlarut oleh pelarut semakin tinggi dan
laju difusi pelarut ke dalam serta ke luar padatan, semakin tinggi pula. Temperatur
operasi untuk proses ekstraksi kebanyakan dilakukan dibawah temperatur 100 °C
karena pertimbangan ekonomis.
b. Waktu Ekstraksi
Lamanya waktu ekstraksi mempengaruhi volume ekstrak yang diperoleh. Semakin
lama waktu ekstraksi semakin lama juga waktu kontak antara pelarut dengan bahan
baku sebagai padatan sehingga semakin banyak zat terlarut yang terkandung di dalam
padatan yang terlarut di dalam pelarut.
c. Ukuran, bentuk dan kondisi partikel padatan
Minyak pada partikel organik biasanya terdapat di dalam sel-sel. Laju ekstraksi akan
rendah jika dinding sel memiliki tahanan difusi yang tinggi. Pengecilan ukuran partikel
ini dapat mempengaruhi waktu ekstraksi (McCabe dalam Karmila,dkk, 2009). Semakin
kecil ukuran partikel berarti permukaan luas kontak antara partikel dan pelarut semakin
besar, sehingga waktu ekstraksi akan semakin cepat.
d. Jenis pelarut
Pada proses ekstraksi, banyak pilihan pelarut yang digunakan. Beberapa hal yang harus
dipertimbangkan dalam memilih pelarut adalah sebagai berikut:
1. Selektivitas
Pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan, bukan komponen lainnya
dari bahan yang diekstrak. Dalam hal ini, larutan ekstrak yang diperoleh harus
dibersihkan yaitu dengan mengekstraksi larutan tersebut dengan pelarut kedua
(Ketaren dalam Karmila, dkk, 2009).
2. Kelarutan
Pelarut harus mempunyai kemampuan untuk melarutkan solut sesempurna mungkin.
Kelarutan solut terhadap pelarut yang tinggi akan mengurangi jumlah penggunaan
pelarut, sehingga menghindarkan terlalu besarnya perbandingan antara pelarut dan
padatan.
3. Kerapatan
Perbedaan kerapatan yang besar antara pelarut dan solut akan memudahkan
pemisahan keduanya.
4. Aktivitas kimia pelarut
Pelarut harus bahan kimia yang stabil dan inert terhadap komponen lainnya didalam
sistem
(Treybal dalam Karmila, dkk, 2009).
5. Titik didih
Pada proses ekstraksi biasanya pelarut dan solut dipisahkan dengan cara penguapan,
distilasi atau rektifikasi. Oleh karena itu titik didih kedua bahan tidak boleh terlalu
dekat. Dari segi ekonomi akan menguntungkan bila titik didih pelarut tidak terlalu
tinggi.
6. Viskositas pelarut
Pelarut harus mampu berdifusi ke dalam maupun ke luar dari padatan agar bisa
mengalami kontak dengan seluruh solut. Oleh karena itu, viskositas pelarut harus
rendah agar dapat masuk dan keluar secara mudah dari padatan.
7. Rasio pelarut
Rasio pelarut yang dipakai terhadap padatan harus sesuai dengan kelarutan zat
terlarut atau solut pada pelarut. Semakin kecil kelarutan solut terhadap pelarut,
semakin besar pula perbandingan pelarut terhadap padatan, begitu juga sebaliknya.
Dengan demikian perbandingan solut dan pelarut yang tepat akan mampu
memberikan hasil ekstraksi yang diharapkan. Syarat-syarat lain yang harus dipenuhi
oleh pelarut yaitu pelarut sedapat mungkin harus murah, tersedia dalam jumlah yang
besar, tidak beracun, tidak korosif, tidak mudah terbakar, tidak eksplosif bila
tercampur dengan udara, tidak menyebabkan terbentuknya emulsi, dan stabil secara
kimia maupun termis.
(Ketaren dalam Karmila, dkk, 2009)

Karena hampir tidak ada pelarut yang memenuhi semua syarat di atas, maka untuk
setiap proses ekstraksi harus di cari pelarut yang paling sesuai (Karmila, dkk, 2009)

Menurut Geankoplis (1993), mekanisme ekstraksi padat-cair terbagi menjadi:


1. Single stage leaching

Gambar 2.1Aliran Proses Single stage leaching

Persamaan neraca massanya hamper sama dengan ekstraksi cair-cair yaitu:


L0 + V2 = L1 + V1 = M………………………………..(2.1)
L0Y0 + V2X2 = L1 YA1 + V XA1 = M XAM…………………(2.2)
B = N0L0 + 0 = N1L1 + 0 = NM M………………………….(2.3)

2. Countercurrent multi stage leaching


Gambar 2.2 Aliran Proses countercurrent multi stage leaching

Vn+1+ L0 = V1 + Ln……………………………….(2.4)
Vn+1 Xn+1 + L0Y0 = V1X1 + LnYn…………………………(2.5)
1 V 1 X 1 - L0 X 0
Xn+1 = Yn + ……………(2.6)
1+( V 1 - L0 )/ Ln Ln + V 1 - L0

Ekstraksi padat – cair atau Leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dalam dari
padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena
komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami
perubahan kimiawi. Ekstraksi dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan
dapat larut dalam solven pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan
hanya sedikit larut dalam pelarut, sehingga ekstrak yang masih tertinggal dalam rafinat
dapat terlarut dalam solvent pengekstrak secara sempurna dan rafinat tersebut akan jenuh.
Namun sering juga digunakan pada padatan yang larut karena efektivitasnya (Lucas dalam
Ansar, 2014).
Daftar Pustaka

Ansar, Ruliani, 2014, Laporan Praktikum Metode Pemisahan Percobaan IV Ekstraksi


Padat-Cair, Universitas Haluoleo, Kendari.
Anonim, 2010, Praktikum Operasi Teknik Kimia II Modul 6 Leaching, Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran”, Surabaya.
Brown, G., G., 1978, Unit Operation, John Willey and Sons, Inc., New York.
Endarini, Lully Hanni, M. Farm, Apt., 2016, Farmakognisi dan Fitokimia, Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Geankoplis, Christie J., 1993, Transport Process and Unit Operation, Prentice-Hall, Inc.,
New Jersey.
Karmila, Hilma, dkk, 2009, EKSTRAKSI DEDAK PADI MENJADI MINYAK MENTAH
DEDAK PADI (CRUDE RICE BRAN OIL) DENGAN PELARUT N-HEXANE DAN
ETHANOL. Vol. 16. No. 2, Universitas Sriwijaya, Palembang.