Anda di halaman 1dari 18

A.

Pendekatan Dalam Pembelajaran Bahasa


1. Pengertian Pendekatan Pembelajaran

Dalam buku Solchan,dkk (2014:3.5) mengatakan bahawa Pendekatan ialah


sikap atau pandangan tentang sesuatu yang biasanya berupa asumsi atau
seperangkat asumsi yang saling berhubungan dengan sesuatu. Oleh sebab
itu,pendekatann bersifat aksiomatis, artinya tidak perlu dibuktikan lagi
kebenarannya. Di dalam pengajaran bahasa, pendekatan merupakan pandangan,
filsafat, atau kepercayaan tentang hakikat bahasa,dan pengajaran bahasa yang
diyakini oleh guru bahasa.

Dalan jurnal Hidayah Nurul (2014: 294) Pendekatan adalah cara umum
seorang guru memandang persoalan atau objek sehingga diperoleh pesan tertentu.
Menurut Tarigan, pendekatan adalah seperangkat asumsi yang bersifat aksiomatik
mengenai hakikat bahasa, pengajaran, bahan, dan belajar bahasa yang digunakan
sebagai landasan dalam merancang, melakukan, dan menilai proses belajar bahasa
(Tarigan, 1995:5). Menurut Anthony (Ismati dan Umaya, 2012: 76),
pendekatan(approach) adalah sekumpulan asumsi yang terkait dengan hakikat bahasa
dan hakikat belajar bahasa. Pendekatan bersifat aksioma, menggambarkan hakikat
subjek yang akan diajarkan secara benar.
Dalam Idah Faridah Laily (2015: 7) mengatakan bahwa Istilah pendekatan
pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap
proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses
yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi,
menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu
2. Jenis-Jenis Pendekatan Pembelajaran Bahasa
a. Pendekatan Tujuan
Dalam jurnal Hidayah Nurul (2014: 294) mengatakan Pendekatan tujuan
dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan belajar mengajar yang
harus dipikirkan dan ditetapkan dulu adalah tujuan yang hendak dicapai.
Dengan adanya tujuan yang telah ditetapkan akan mudah menentukan metode
dan teknik apa yang akan digunakan dalam pembelajaran, dan akan tercapai
apa yang ditetapkan.(Isah Cahyani, 2012:74). Jadi, menurut pendekatan ini
proses belajar mengajar harus dapat menentukan terlebih dulu oleh tujuan yang
akan dicapai dan bagaimana cara untuk mencapai tujuan itu sendiri.
b. Pendekatan Keterampilan Proses

Dalam jurnal Hidayah Nurul (2014: 294) Pendekatan keterampilan


proses adalah suatu pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang berfokus pada
pelibatan siswa secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan hasil belajar.
Keterampilan proses meliputi keterampilan intelektual, keterampilan sosial,
dan keterampilan fisik. Keterampilan proses berfungsi sebagai alat menemukan
dan mengembangkan konsep.
Konsep yang telah ditemukan atau dikembangkan berfungsi pula
sebagai penunjang keterampilan proses. Interaksi antara pengembangan
keterampilan proses dengan pengembangan konsep dalam proses belajar
mengajar menghasilkan sikap dan nilai dalam diri siswa. Tanda-tandanya
terlihat pada diri siswa seperti teliti, kreatif, kritis, objektif, tenggang rasa,
bertanggung jawab, jujur, terbuka, dapat bekerja sama, rajin, dan sebagainya.
Keterampilan proses dibangun sejumlah keterampilan-keterampilan.
Karena itu pencapainnya atau pengembangannya dilaksanakan dalam setiap
proses belajar mengajar dalam semua mata pelajaran. Setiap mata pelajaran
mempunyai karakteristik sendiri. Karena itu dalam penjabaran keterampilan
proses dapat berbeda pada setiap mata pelajaran.
Pendekatan ini merupakan pemberian/menumbuhkan kemampuan-
kemampuan dasar untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan
kemampuan yang meliputi beberapa kemampuan seperti:
a. Kemampuan mengamati
b. Kemampuan menghitung
c. Kemampuan mengukur
d. Kemampuan mengklasifikasi
e. Kemampuan menemukan hubungan
f. Kemampuan membuat prediksi
g. Kemampuan melaksanakan penelitian
h. Kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data
i. Kemampuan mengkomunikasikan hasil

Keterampilan proses berkaitan dengan kemampuan. Oleh karena itu


penerapan keterampilan proses diletakkan dalam kompetensi dasar.
Keterampilan proses juga dikenali pada instruksi yang disampaikan oleh guru
kepada siswa untuk mengerjakan sesuatu.

c. Pendekatan struktural
Dalam jurnal Hidayah Nurul (2014: 294) Pendekatan struktural
merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam proses pembelajaran
bahasa. Pendekatan ini dilandasi dengan asumsi bahwa bahasa sebagai akidah.
Pendekatan truktural lebih menitikberatkan pada penguasan tata bahasa atau
kaidah -kaidah bahasa. Pembelajaran bahasa menurut pendekatan ini
difakuskan pada pengetahuan struktur bahasa yang mencakup fonologi,
morfologi, dan sintaksis. Dalam hal ini pengetahuan tentang struktur bahasa
mencakup tentang suku kata, pola kata, dan pola kalimat. pola kata, dan suku
kata menjadi sangat penting. Dengan pedekatan struktural, siswa akan
menjadi cermat dalam menyusun kalimat, karena mereka memahami
kaidah-kaidahnya. Misalnya saja, mereka mungkin tidak akan membuat
kesalahan seperti di bawah ini
"Bajunya anak itu baru".
"Di sekolahan kami mengadakan pertandingan sepak bola".
"Anak-anak itu lari-lari di halaman".
d. Pendekatan Whole Language
Dalam jurnal Hidayah Nurul (2014: 295) Whole language approach adalah
pendekatan pembelajaran bahasa yang menyajikan pengajaran bahasa secara
utuh, artinya tidak terpisah-pisah. Pendekatan whole languageberasumsi bahwa
bahasa merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, oleh
karena itu pembelajaran komponen bahasa (fonem, morfem, klausa, kalimat,
wacana) dan keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis) harus dapat disajikan secara utuh dalam situasi yang nyata (autentik)
dan bermakna kepada peserta didik. Secara
PendekatanWhole Language didasari oleh paham konstruktivisme yang
menyatakan bahwa anak/siswa membentuk sendiri pengetahuannya melalui
peran aktifnya dalam belajar secara utuh dan terpadu. Anak akan termotivasi
untuk belajar jika mereka melihat bahwa yang dipelajarinya itu diperlukan oleh
mereka orang dewasa, dalam hal ini guru, berkewajiban untuk menyediakan
lingkungan yang menunjang untuk siswa agar mereka dapat belajar dengan
baik. Fungsi guru dalam kelas Whole Language berubah dari desiminator
informasi menjadi fasilitator.
Dalam pendekatan whole language terdapat hubungan yang interaktif
antar keterampilan bahasa, yaitu antara menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis. Belajar bahasa ini hraus diintegrasikan ke dalam atau terinternalisasi,
tidak terpisah dari semua aspek kurikulum. Pengintegrasian ini didefinisikan
sebagai pendekatan whole language atau perspektif untuk perkembangan
literacy.
Melalui pendekatan whole language ini kemampuan dan keterampilan
anak dalam menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dapat dikembangkan
secara utuh, operasional, dan menyeluruh. Peserta didik dapat membentuk
sendiri pengetahuannya melalui peran aktifnya dalam proses pembalajaran
secara utuh.
Jadi, pada dasarnya dapat disimpulkan esensi dari pendekatan whole
language merupakan suatu cara untuk mengembangkan bahasa atau
mengajarkan bahasa yang dilakukan menyeluruh yang meliputi keterampilam
mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan-keterampilan
ini memiliki hubungan yang interaktif dan whole language merupakan kunci
pertama disekolah untuk mendorong anak untuk menggunakan bahasa dan
belajar bahasa dengan cara tidak terpisah-pisah. Diharapkan melalui
pendekatan whole language kemampuan dan keterampilan yang dimiliki oleh
peserta didik dapat tercapai secara holistik, dan dapat terus dikembangkan
secara operasional dan menyeluruh.
1) Strategi Pembelajaran Bahasa dengan Pendekatan Whole Language
Menurut Rafiuddin dan Darmiyati, ada beberapa strategi
pembelajaran dengan menggunakan whole language yang ditinjau dari
aspek guru dan siswa:
a) Pencelupan (immersion); guru menciptakan lingkungan yang
memungkinkan pembelajar melaksanakan program celup dalam
kegiatan pembelajaran sehari-hari dalam menggunakan: bahasa guru,
bahasa teman sebaya, bahasa buku-buku, percakapan informal, nahasa
di kelas informal lagu percakapan informal, ahasa dikelas informal,
bahasa yang didapat lagu. Nanti bahasa diinternet bahasa yang
dibuatkan , bahasa yang terdapat dalam lagu-lagu atau berbagai cerita.
b) Demonstrasi; guru terlibat dalam peragaan pemakaian bahasa sebagai
sumber pengayaan dan data bagi pembelajar dalam menformulasikan
struktur kalimat, mengembangkan makna, dan memperoleh berbagai
konvensi pemakaian sosial, pemakaian bahasa di masyarakat
(pragmatik).
c) Keterlibatan; pembelajar harus dilibatkan secara aktif dalam
pembelajaran, dimana ada perasaan nyaman dan aman bagi
pembelajar.
d) Harapan; guru harus punya harapan bahwa pembelajar akan dapat
melaksanakan kegiatan pembelajaran selaras dengan pola atau fase
perkembangan mereka.
e) Tanggung jawab
pembelajar diberikan kesempatan, kepercayaan, dan tanggung
jawab untuk menentukan apa yang mereka pelajari.
f) Pemakaian; dalam kegiatan pembelajaran ini dilakukan ide belajar
bahasa secara serentak, yaitu: (1) memahami bahasa, (2) mencoba
menggunakannya, dan (3) pembelajar mempelajari bahasa pada saat
bahasa tersebut digunakan.
g) Aproksimasi; para guru yakin bahwa kekeliruan merupakan hal yang
wajar dalam proses belajar bahasa. Kekeliruan yang dibuat oleh
pembelajar merupakan pertanda bahwa pembelajar sedang dalam
proses belajar.
h) Respons dan umpan balik; keterlibatan guru secara aktif dalam
percakapan dengan pembelajar dapat menjadi model untuk
mengembangkan sintaksis, semantik, dan pragmatik. Respon yang
diberikan oleh guru di kelas hendaknya tidak bersifat mengancam atau
menakutkan. (Rafiuddin dan Zuhdi, 2001: 140 -144)

Dari beberapa strategi di atas, dapat dipahami bahwa proses pembejaran


bahasa dengan pendekatan whole language kerjasama antara guru dan peserta
didik benar-benar harus terjalin dan saling mengisi. Siswa dapat aktif dalam
bereksplorasi segala potensi yang dalam dirinya, sedangkan guru harus bersifat
kooperatif, aktif, kreatif, dan inovatif dalam proses pembelajaran.

2) Komponen-komponen dalam pendekatan whole Language

Komponen Pendekatan Whole Language Menurut Santosa dkk ada


8 komponen dalam pendekatan whole language. Di bawah ini akan
dijelaskan setiap komponen satu persatu.

1. Reading aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru


siswanya. Guru membaca dengan keras dan intonasi yang baik
sehingga siswa dapat menikmatinya. Reading aloud berguna untuk
melatih keterampilan menyimak siswa, memperkaya kosakata,
meningkatkan minat dan pemahaman siswa.Reading aloud dilakukan
kira-kira-10 menit dan bertujuan mengajak siswa untuk melakukan
suasana belajar.
2. Jurnal writing,menulis jurnal merupakan cara yang aman untuk
menulis atau mengungkapkan perasaan siswa, menceritakan kejadian
yang dialaminya, alam sekitar, dan bentuk-bentuk lain dalam
penggunaan bahasa secara tertulis. Manfaat menulis jurnal antara lain
adalah (1) dapat meningkatkan kemampuan menulis; (2)
meningkatkan kemampuan membaca; (3) menumbuhkan keberanian
mengambil atau menghadapi resiko; (4) memberi kesempatan siswa
untuk refleksi; (5) memvalidasi perasaan dan pengalaman pribadi; (6)
memberikan tempat yang nyaman untuk menulis; (7) meningkatkan
kemampuan berpikir; (8) meningkatkan kesadaraan akan peraturan
menulis; (9) menjadi alat evaluasi; (10) menjadi dokumen tertulis
(yang merupakan karya siswa/produk).
3. Sustained Silent Reading (SSR), merupakan kegiatan membaca dalam
hati yang dilakukan siswa. Dalam hal ini siswa diberi kesempatan
untuk memilih sendiri buku atau materi yang akan dibacanya.
Kegiatan ini mengandung pesan bahwa (1) membaca merupakan
kegiatan penting dan menyenangkan; (2) membaca dapat dilakukan
oleh siapapun; (3) membaca berarti berkumunikasi dengan penulis
buku atau teks yang dibaca; (4) siswa dapat membaca atau
berkonsentrasi pada bacaan dengan waktu cukup lama; (5) guru
percaya bahwa siswa paham akan teks yang dibacanya; (6) siswa
dapat berbagi pengetahuan setelah SSR berakhir.
4. Shared Reading, adalah kegiatan membaca bersama antara guru dan
siswa dimana setiap person mempunyai buku yang sedang dibacanya.
Cara ini dilakukan di sekolah rendah hingga sekolah tinggi. Maksud
kegiatan ini adalah (1) sambil melihat tulisan siswa berkesempatan
memperhatikan guru membaca sebagai model; (2) memberikan
kesempatan yang luas untuk memperlihatkan keterampilan
membacanya; (3) siswa yang kurang terampil membaca mendapat
contoh membaca yang benar. Guru berperan sebagai model.
5. Guided Reading (membaca terbimbing) adalah kegiatan membaca
dimana semua siswa membaca dan mendiskusikan buku yang sama.
Guru berperan sebagai pengamat dan fasilitator, bertugas memberikan
pertanyan pemahaman. Siswa menjawab dengan kritis.
6. Guided Writing (menulis terbimbing), adalah kegiatan menulis di
bawah bimbingan guru, bagaiman menulis sistematis, jelas, dan
menarik, dapat menemukan apa yang ingin ditulis dan sebagainya.
Dalam hal memlih topik, membuat draft, memperbaiki dan mengedit
dilakukan oleh siswa.
7. Independent Reading(membaca bebas) adalah kegiatan membaca
dimana siswa menentukan sendiri materi yang akan dibacanya. Peran
guru yang sebelumnya menjadi pemrakarsa, model, dan penuntun,
berubah menajdi pengamat, fasilitator, dan pemberi respon. Bacaan
dapat berupa fiksi maupun nonfiksi, dan guru dapat memilih buku
yang akan dibaca oleh siswanya.
8. Independent Writing(menulis bebas) adalah kegiatan untuk
meningkatkan kemampuan menulis, meningkatkan kebiasan menulis,
dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Dalam independent
writing siswa berkesempatan menulis tanpa intervensi guru.

Jadi pendekatan whole langauge merupakan salah satu pendekatan dalam


pembelajaran bahasa, yang dilandasi oleh kontruktivisme. Dalam whole language
bahasa diajarkan secara utuh (whole), artinya tidak terpisah-pisah. Keterampilan
bahasa menyimak, berbicara, membaca, dan menulis diajarkan secara terpadu
(integrated) sehingga peserta didik mempelajari dan memahami bahasa secara
keseluruhan, sebagai satu kesatuan.

e. Pendekatan komunikatif
Dalam jurnal Laily (2015:8) mengatakan Pendekatan komunikatif
merupakan pendekatan yang berlandaskan pada pemikiran bahwa kemampuan
menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus
dicapai dalam pembelajaran bahasa. Jadi pembelajaran yang komunikatif
adalah pembelajaran bahasa yang memungkinkan peserta didik memiliki
kesempatan yang memadai untuk mengembangkan kebahasaan dan
menunjukkan dalam kegiatan berbahasa baik kegiatan produktif maupun
reseptif sesuai dengan situasi nyata, bukan situasi buatan yang terlepas dari
konteks.
1) Ciri- ciri Pendekatan Komunikatif
Ciri-ciri utama pendekatan pembelajaran komunikatif ada dua
kegiatan yang saling berkaitan yakni adanya kegiatan-kegiatan:
a) Komunikasi Fungsional
Terdiri atas empat yakni: mengolah informasi, berbagi dan
informasi, berbagi informasi dengan kerja sama terbatas, dan berbagi
informasi dengan kerja sama tak terbatas.
b) Kegiatan yang sifatnya interaksi sosial.
Terdiri dari 6 hal yakni: improvisasi, lakon-lakon pendek yang
lucu, aneka simulasi (bermain peran), dialog dan bermain peran,
siding-sidang konversasi dan diskusi, serta berdebat.
2) Implementasi Komunikatif Dalam Pembelajaran Bahasa Di Sekolah Dasar

Secara operasional, ciri-ciri pendekatan komunikatif tersebut dalam


pengajaran seperti berikut:

1. Kegiatan komunikatif yang disajikan betul-betul yang diperlukan


oleh siswa. Misalnya, kalau siswa tidak tahu tentang cara
menanam padi, suruhlah ia mewawancarai petani, sehingga ia
akan memperoleh informasi yang betul-betul dibutuhkan. Kalu
siswa bertanya tentang sesuatu, tetapi sudah tahu jawabannya, ini
bukan komunikasi, sebab tidak ada kesenjangan informasi
(Hubard dalam Subyakto, 1989). Jadi, salah satu ciri pendekatan
komunikatif adalagh adanya kekosongan informasi.
2. Untuk mendorong siswa mau belajar, Hendaknya guru
memberikan kegiatan belajar yang bermakna. Misalnya , tugas
yang diberikan guru agar mengganti satu bentuk kalimat ke
bentuk kalimat yang lain yang tidak begitu bermakna bagi siswa
misal nya Ibu memanggil adik , adik memanggil ibu . tugas yang
bermakna, Misalnya siswa menulis pengalamanya atau menulis
hasil kunjungan.
3. Materi dari Silabus kurikulum komunikasi di persiapkan setelah
diadakan suatu analisis mengenai kebutuhan barbahasa.
4. Penekanan pendekatan komunikatip ialah pada pelayanan
individu siswa.
5. Peran guru adalah sebagai peranan. Ia fasilitato motivator bagi
perkembangan individu siswa. Guru tidak selalu dibenarkan
selalu mendominasi kelas karena yang dipentingkan ialah
bagaimana siswa dapat di bimbing untuk berkomunikasi dengan
wajar ( memiliki keterampilan berbahasa baik lisan maupun
tulisan)
6. Materi interaksional siswa berperan menunjang komunikasi siswa
secara aktif.materi ini terdiri atas tiga macam: materi berdasarkan
teks ( bukubuku pelajaran). Materi berdasarkan tugas ( berupa
tugas membuat peta perjalanan dari rumah ke sekolah melakukan
tugas bermain peran) materi berdasarkan bahan otentik/relita
( materi yang diambil dari surat kabar,maja-lah,percakapan yang
sesungguh nya dan sebagainya).

Berdasarkan uraian di atas, makna penerapan pendekatan komunikatif


bertujuan agar siswa mampu berkomunikasi dan mampu menggunakan bahasa
secara baik, benar, dan secara nyata dan wajar, serta dapat digunaan untuk
berbagai tujuan dan keadaan. Di samping itu kemampuan komunikasi menuntut
adanya kemampuan gramatik, kemampuan sosiolinguistik, kemampuan wacana,
dan kemampuan strategi. Dalam proses pembelajaran, guru hanya berfungsi
sebagai komunikator, fasilator, dan motivator. Sehubungan dengan itu, yang
menjadi acuan adalah kebutuhan siswa untuk dapat berkomunikasi dalam situasi
yang sebenarnya. Sugono (1993) mengatakan bahwa pembelajaran bahasa sebagai
alat komunikasi akan menarik minat siswa karena siswa didesak oleh
kebutuhannya untuk berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu, untuk
memenuhi atau meningkatkan keterampilan menggunakan bahasa sebagai alat
komunikasi itu, pembelajaran bahasa yang paling tepat adalah menggunakan
pendekatan komunikatif.

f. Pendekatan Pembelajaran kontekstual


Pendekatan pembelajaran kontekstual intinya membantu guru untuk
mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata dan memotivasi siswa
untuk mengaitkan pengetahuan yang dipelajarinya dengan kehidupan mereka
nyata arakteristik pembelajarankontekstual mengacu pada masalah-masalah
dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab siswa
sebagai anggota keluarga, warga negara dan tenaga kerja (Mustofa, 2016).
Pendekatan kontekstual ini dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa
Indonesia, dimana siswa didorong menghubungkan antara teks sastra dan
konteks yang berkaitan dengan kehidupan nyata. Dengan demikian, siswa
terlatih menemukan pandangan tokoh dalam teks sastra yang menghargai nilai-
nilai kemanusiaan.
g. Pendekatan Pengalaman Berbahasa
Dalam jurnal Vuri Devita(2016:26) memabahas mengenai pendekatan
pembelajaran bahasa salah satunya yaitu Pendekatan Pengalaman Berbahasa.
Dimana pendekatan penggalaman bahasan itu merupakan alih kata dari istilah
Language Experience Approach (LEA).
Menurut Huff dalam jurnal Vuri Devita (2016:26) mendefinisikan LEA
berdasarkan makna yang terkandung dalam unsur-unsur kata pembentuknya,
terutama kata experience dan language. Menurut Huff, experience merupakan
pengalaman seseorang yang diperoleh dari aktivitas tertentu. Sementara itu,
Language merupakan cerminan dari empat aspek keterampilan berbahasa yang
meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. LEA dimaknai sebagai
suatu pendekatan dalam pengajaran berbicara yang melibatkan kegiatan
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis sebagai cerminan dari
pengalaman berbahasa anak.

Menurut Oka dalam jurnal Vuri Devita (2016:26) mengatakan bahwa


pendekatan pengalaman berbahasa adalah metode pengajaran penguasaan
keterampilan berbahasa yang menggabungkan pembelajaran berbicara dengan
pengalaman bahasa anak yang meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis.
Menurut Tompkins and Hoskisson dalam jurnal Vuri Devita(2016:26)
menyebutkan bahwa LEA(Language Experience Approach) berdasarkan
bahasa dan pengalaman anak. Aspek yang harus diperhatikan dalam
pembelajaran itu meliputi kemampuan berpikir dan kemampuan
mengungkapkan bahasa. Dalam PBB, guru menggunakan bahan pelajaran yang
dibuat oleh siswa itu secara tertulis. Dengan demikian, anak akan
berkesimpulan bahwa segala sesuatu yang dilisankannya itu dapat diubah
menjadi tulisan. Kesadaran seperti itu penting sekali. Dengan kesadaran
tersebut anak-anak pun akan berkesimpulan bahwa tulisan itu bisa bercerita,
bahwa dengan tulisan orang biasa berkomunikasi, bahwa dengan tulisan itu
mempunyai persamaan dengan tutur.

1. Penerapan LEA pada Pembelajaran Bahasa di Kelas Awal (dalam jurnal


Vuri Devita,2016:27 )
Belajar konstruktivisme mengisyaratkan bahwa guru tidak
memompakan pengetahuan ke dalam kepala siswa, melainkan
pengetahuan diperoleh melalui suatu dialog yang ditandai oleh suasana
belajar yang bercirikan pengalaman dua sisi. Ini berarti bahwa penekanan
bukan pada kuantitas materi, melainkan pada upaya agar siswa mampu
menggunakan otaknya secara efektif dan efisien, sehingga tidak ditandai
oleh segi kognitif belaka, melainkan oleh keterlibatan emosi dan
kemampuan kreatif. Dengan demikian, proses belajar membaca perlu
disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan siswa (Semiawan, 2002:5).
Dalam PPB guru mengembangkan wacana bersama-sama dengan
murid-muridnya mulai dengan memberikan rangsangan pada pikiran
murid-muridnya itu. Pendekatan Pengalaman Bahasa/Language
Experience Approach (LEA) didasarkan pada bahasa anak dan
pengalaman. Dalam pendekatan ini anak mendikte kata dan kalimat
tentang pengalaman mereka dan guru menulis dikte untuk anak-anak. Teks
mereka kembangkan menjadi bahan bacaan. Karena bahasa berasal dari
anak-anak sendiri dan karena konten berdasarkan pengalaman mereka,
mereka biasanya mampu membaca teks dengan mudah. Membaca dan
menulis yang terhubung sebagai siswa aktif terlibat dalam membaca apa
yang mereka tulis.
2. Tahapan-tahapan Pendekatan Pengalaman Bahasa (PBB), meliputi hal-hal
berikut.
a. Memberikan Pengalaman
Pengalaman bermakna diidentifikasi untuk melayani sebagai
stimulus untuk menulis.
b. Berbicara tentang Pengalaman
Siswa dan guru mendiskusikan pengalaman sebelum menulis.
Tujuan diskusi ini adalah untuk menghasilkan kata-kata dan meninjau
pengalaman sehingga dikte anak-anak akan lebih menarik dan lengkap.
Guru sering memulai dengan pertanyaan terbuka, seperti, “Tentang apa
yang akan ditulis?” Anak-anak berbicara tentang pengalaman mereka,
mereka menjelaskan dan mengatur ide menggunakan kosakata yang
lebih spesifik, dan memperluas pemahaman mereka.
c. Merekam Dikte Tersebut
Guru menuliskan dikte anak. Teks untuk masing-masing anak yang
ditulis pada lembar kertas tertulis atau dalam buku-buku kecil dan teks
kelompok ditulis pada kertas grafik. Guru mencetak rapi, mengeja
katakata dengan benar, dan melestarikan bahasa siswa sebanyak
mungkin. Itu adalah godaan besar untuk mengubah bahasa anak untuk
sendiri, baik dalam pilihan kata guru atau tata bahasa, tapi editing harus
disimpan ke minimum sehingga anak-anak tidak mendapatkan kesan
bahwa bahasa mereka lebih rendah atau tidak memadai. Untuk teks
individual, guru terus mengambil dikte anak dan menulis sampai anak
selesai atau ragu-ragu. Jika anak raguragu, guru membaca ulang apa
yang telah ditulis dan mendorong anak untuk terus melanjutkan. Untuk
teks grup, anak-anak bergiliran mendikte kalimat, dan setelah menulis
setiap kalimat, guru membaca ulang itu .Sangat menarik bahwa sebagai
anakanak menjadi akrab dengan mendikte guru, mereka belajar untuk
kecepatan dikte mereka untuk kecepatan guru menulis. Pada awalnya,
anak-anak mendikte karena mereka memikirkan ide-ide, tetapi dengan
pengalaman, mereka menyaksikan guru menulis dan memasok teks kata
demi kata.
d. Membaca Teks
Setelah teks tersebut telah didikte, guru membaca nyaring,
menunjuk ke setiap kata. Bacaan ini mengingatkan anak-anak dari
konten teks dan menunjukkan bagaimana untuk membacanya dengan
suara keras dengan intonasi yang tepat. Kemudian anak-anak bergabung
dalam membaca. Setelah membaca teks kelompok bersama-sama,
masing-masing anak dapat mengambil giliran membaca ulang. Teks
kelompok juga dapat disalin sehingga setiap anak memiliki tembusan
untuk dibaca secara mandiri.
e. Memperluas Teks
Setelah mendikte, membaca, dan membaca ulang teks-teks mereka,
anak-anak dapat memperpanjang pengalaman dalam beberapa cara;
misalnya, mereka dapat:
a) tambahkan ilustrasi untuk tulisan mereka
b) membaca teks mereka untuk teman sekelas dari depan kelas,
c) membawa pulang teks-teks mereka untuk berbagi dengan anggota
keluarga,
d) tambahkan teks ini untuk koleksi tulisan-tulisan mereka,
e) memilih kata-kata dari teks-teks mereka bahwa mereka ingin belajar
membaca.
Karnowski menunjukkan bahwa LEA dapat dimodifikasi, untuk
membuatnya lebih seperti menulis dalam proses.
1. Prapenulisan Anak-anak mengumpulkan ide-ide untuk menulis melalui
pengalaman, berbicara, dan seni.
2. Drafting Anak-anak mendikte teks, sedangkan guru mencatat. Ini adalah
draft pertama menulis.
3. Revisi Anak-anak dan guru membaca dan membaca ulang teks. Mereka
berbicara tentang menulis dan membuat satu atau lebih perubahan.
4. Editing Anak-anak dan guru membaca teks direvisi dan periksa ejaan,
tanda baca, huruf besar, dan pertimbangan mekanis lainnya benar.
Kemudian anak-anak memperbanyak teks dalam format buku.
5. Publishing Anak-anak berbagi teks dengan teman sekelas dari depan kelas.
Selain itu, teks dapat digunakan untuk kegiatan membaca lainnya. Dengan
modifikasi ini, siswa dapat belajar bahwa membaca dan menulis
merupakan seluruh proses.
Jadi salah pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa
di kelas rendah adalah LEA (Language Experience Approach) atau yang biasa
dikenal dengan Pendekatan Pengalaman Berbahasa. Pendekatan ini
memanfaatkan pengalaman siswa untuk diterapkan dalam belajar membaca
dan menulis permulaan. Pendekatan ini pun dapat mengembangkan semua
keterampilan berbahasa; menyimak atau mendengarkan, berbicara, membaca,
dan menulis. Dengan berbaurnya semua keterampilan dalam suatu kegiatan itu
guru dituntut untuk lebih kreatif. Diharapkan dengan menggunakan
pengalaman siswa, belajar membaca dan menulis menjadi kegiatan yang
menyenangkan dan bermakna bagi siswa.
h. Pendekatan Tematik
Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran
yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata
pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu peserta
didik akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga
pembelajaran jadi bermakna bagi peserta didik. Sebagai suatu proses,
pembelajaran tematik memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Pembelajaran berpusat pada peserta didik.
2. Menekankan pembentukan pemahaman dan kebermaknaan.
3. Belajar melalui pengalaman lansung.
4. Lebih memperhatikan proses dari hasil semata.
5. Sarat dengan muatan keterkaitan
i. Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
Pendekatan ini merupakan suatu sistem pembelajaran yang
menekankan kadar keterlibatan siswa secara fisik, mental, intelektual dan
emosional untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kadar CBSA dapat
dilihat dari aktivitas belajar siswa tinggi, aktivitas guru sebagai
fasilitator, desain pembelajaran berfokus pada keterlibatan siswa,
suasana belajar kondusif. Misal:dalam pembelajaran membaca
permulaan di kelas satu, dapat dilaksanakan secara individual,
kelompok atau klasikal. Kegiatan secara individual dapat membaca
nyaring (bagi siswa yang sudah lancar membaca), dapat pula membaca
gambar, menyusun balok-balok huruf menjadi kata, menjodohkan
gambar dan kata.
j. Pendekatan terpadu
Dalam bidang bahasa hampir sama dengan pendekatan “Whole
Language”, yang pada dasarnya pembelajaran bahasa senantiasa harus terpadu,
tidak terpisahkan antara keterampilan berbahasa
(menyimak,berbicara,membaca,menulis) dengan komponen kebahasaan
(tatabunyi, tatamakna, tatabentuk, tatakalimat) juga aspek sastra. Di samping
itu untuk kelas-kelas rendah pendekatan terpadu ini menggunakan jenis
pendekatan lintas bidang studi, yang artinya pembelajaran Bahasa Indonesia
dapat disatukan dengan mata pelajaran lain seperti: Pendidikan Agama,
Matematika, Sains, Pengetahuan Sosial, Kesenian dan Pendidikan Jasmani.
k. Pendekatan Konstruktivisme
Menurut Mustofa (2016), dalam kegiatan pembelajaran, persepsi yang
muncul akan menentukan perilaku siswa sehingga siswa akan membangun
sendiri pengetahuannya apabila mereka dilibatkan secara aktif dalam proses
belajar yang menyenangkan, serta mendukung siswa untuk belajar.
Pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme harus mengandung 5
prinsip, yaitu:
1. Menghadapi masalah yang relevan
2. Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah
pertanyaan
3. Mencari dan menilai pendapat siswa
4. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa e
5. Menilai belajar siswa dalam konteks pembelajaran
Peran guru dalam pembelajaran ini adalah sebagai model dalam cara
menyelesaikan masalah bersama siswa. Guru hadir sebagai narasumber dan
bukan menjadi penguasa yang memaksakan jawaban benar, biarkan siswa
bebas membangun pemahaman mereka sendiri. Guru mengamati siswa selama
beraktivitas dan mendengarkan secara seksama atas pertanyaan-pertanyaan
yang muncul dari siswa. Pendekatan konstruktivisme menekankan gagasan-
gagasan berasal dari siswa dalam setiap topik bahasan, sedangkan guru
dituntut harus mempersiapkan dan mengembangkan pengetahuan yang
berhubungan dengan pokok bahasan yang akan disampaikan kepada siswa
dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan
bahan yang disajikan sehingga peranan guru di dalam pembelajaran
konstruktivisme adalah sebagai fasilitator dan mediator.
DAFTAR PUSTAKA

Hidayah,Nurul.2014. Pendidikan Pembelajaran Bahasa Whole Language.


(online).(http://ejournal.radenintan.ac.id). Vol 1 No 2. Diakses 08
Februari 2020.
Laily,Faridah.2015. Pendekatan Komunikatif dalam pembelajaran Bahasa
Indonesia di SD/MI. (online).(http://jurnal.syekhnurjah.ac.id). Diakses 08
Februari 2020
Mustofa. (2016). Pembelajaran Apresiasi Sastra Indonesia Berbasis Analisis
Wacana Kritis. Lamongan: Pustaka Ilalang Group.
Solchan,dkk.2014.Pendidikan Bahasa Indonesia di SD. Tanggerang Selatan:
Universitas Terbuka.
Vuri,Devita. 2016. Penerapan Pendekatan Pengalaman Berbahasa di SD Kelas
Rendah.(Online).(http://journal.uny.ac.id). Diakses 08 Februari 2020

Anda mungkin juga menyukai