Anda di halaman 1dari 30

DAFTAR ISI

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.


Teori belajar bahasa adalah teori mengenai bagaimana manusia
mempelajari bahasa, dari tidak bisa berkomunikasi antar sesama manusia dengan
medium bahasa menjadi berkomunikasi dengan baik. Manusia adalah makhluk
social yang perlu berinteraksi serta butuh berkomunikasi dengan manusia
lain.Interaksi semakin penting pada saat manusia ingin menampilakan
eksistensinya.Agar interaksi berlangsung interaktif,tentunya membutuhkan alat
sarana atau media dan yang paling utama yaitu bahasa. Berbahasa merupakan ciri
utama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.Karena manusia bisa
berbahasa ,maka manusia sering disebut sebagai makhluk sosial. Dengan
bahasanya, manusia berkomunikasi untuk bersosialisasi dan menyampaikan hasil
pemikirannya Manusia mampu berbahasa namun harus belajar bahasa. Setiap
orang juga pasti bisa berbahasa karena setiap orang pasti pernah belajar ,namun
hampir setiap orang tidak mengetahui apa sebenarnya pengertian atau definisi dari
bahasa maupun belajar.Sebagai calon pendidik kita dituntut untuk mengetahui
tentang arti penting bahasa maupun belajar,sehingga nanti kita bisa
mengajarkannya kepada peserta didik .
Salah satu tugas guru adalah mengajar. Hal ini menyebabkan adanya
tuntutan kepada setiap guru untuk dapat menjawab pertanyaan tentang bagaimana
seharusnya mengajar. Dengan kata lain, setiap guru dituntut untuk memiliki
kompetensi mengajar. Guru akan memiliki kompetensi mengajar jika, guru paling
tidak memiliki pemahaman dan penerapan secara taktis berbagai pendekatan
dalam pembelajaran.
Sesuai dengan karakteristik anak SD dan seusianya, tanpa adanya
pendekatan, itu akan menyebabkan siswa bersikap pasif dan tentunya menjadi
pelajaran yang membosankan. Oleh karena itu, guru di harapkan mampu
menguasai pendekatan, dengan teori yang cocok untuk pembelajaran bahasa agar
siswa lebih tertarik pada pelajaran tersebut.

B. Rumusan Masalah
a. Apa saja yang termasuk teori dalam pembelajaran bahasa?
b. Apa dan bagaimana pendekatan dalam pembelajaran bahasa?

C. Tujuan.
a. Mengetahui teori dalam pembelajaran bahasa!
b. Mengetahui bagaiamana pendekatan dalam pembelajaran bahasa!
BAB II
PEMBAHASAN

A. Teori Pembelajaran Bahasa


1. Pengertian teori pembelajaran bahasa.
Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang
saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis
mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan
menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena
alamiah. Labovitz dan Hagedorn mendefinisikan teori sebagai ide pemikiran
“pemikiran teoritis” yang mereka definisikan sebagai “menentukan”
bagaimana dan mengapa variable-variabel dan pernyataan hubungan dapat
saling berhubungan.
Kata teori memiliki arti yang berbeda-beda pada bidang-
bidang pengetahuan yang berbeda pula tergantung pada metodologi dan
konteks diskusi. Secara umum, teori merupakan analisis hubungan antara fakta
yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta.Selain itu,
berbeda dengan teorema, pernyataan teori umumnya hanya diterima secara
"sementara" dan bukan merupakan pernyataan akhir yang konklusif. Hal ini
mengindikasikan bahwa teori berasal dari penarikan kesimpulan yang
memiliki potensi kesalahan, berbeda dengan penarikan kesimpulan pada
pembuktian matematika.
Pembelajaran atau ungkapan yang lebih dikenal sebelumnya dengan
pengajaran merupakan proses interaksi yang berlangsung antara guru dan juga
siswa atau juga merupakan sekelompok siswa dengan tujuan untuk
memperoleh pengetahuan, ketrampilan, sikap serta menetapkan apa yang
dipelajari itu (nasution, 1999: 102).
Menurut Dimyati dan Mudjiono, dalam Syaiful Sagala (2005, :62)
pembelajaran adalah Kegiatan guru secara terprogram dalam desain
instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan
pada penyediaan sumber belajar. Pembelajaran disini sebagai proses belajar
yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berfikir yang
dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa, serta dapat meningkatkan
penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.
Teori menurut Ratna Wilis (1988:5) menyatakan bahwa “Teori-teori
berarti sejumlah proposisi-proposisi yang terintegrasi secara sintatik (artimya,
kumpulan proposisi ini mengikuti aturan-aturan tertentu yang dapat
menghubungkan secara logis proposisi yang satu dengan proposisi yang lain
dan pada data yang diamati) dan yang digunakan untuk memprediksi dan
menjelaskan peristiwa-peristiwa yang diamati”. Sedangkan pengertian belajar
seperti yang sudah diuraikan di atas bahwa belajar merupakan suatu proses
perubahan perilaku yang berasal dari hasil Teori Belajar Bahasa ~19~
pengalaman. Jadi, belajar sebagai suatu proses berfokus pada apa yang terjadi
ketika belajar berlangsung. Penjelasan tentang apa yang terjadi merupakan
teori-teori belajar. Teori belajar adalah upaya untuk menggambarkan
bagaimana orang dan hewan belajar, sehingga membantu kita memahami
proses kompleks inheren pembelajaran.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa teori
belajar merupakan suatu upaya yang dilakukan seseorang untuk membantu
dalam memahami pada saat proses pembelajaran. Jadi, teori belajar merupakan
proses dimana dalam proses belajar menghasilkan pengajaran yang baik,
manjemen yang baik dengan menggunakan teori belajaryang relevan, sesuai
dan disukai sehingga tujuan belajar yang diinginkan bisa tercapai.
2. Teori-teori pembelajaran bahasa.
Dalam buku Hijriah (2016 :1- 6) terdapat lima teori pembelajaran bahasa
yaitu sebagai berikut :
a. Teori Behaviorisme.
Menurut teori ini, semua perilaku, termasuk tindak balas (respons)
ditimbulkan oleh adanya rangsangan (stimulus). Jika rangsangan telah
diamati dan diketahui maka gerak balas pun dapat diprediksikan. Watson
juga dengan tegas menolak pengaruh naluri (instinct) dan kesadaran
terhadap perilaku. Jadi setiap perilaku dapat dipelajari menurut hubungan
stimulus - respons. Menurut Skinner, perilaku verbal adalah perilaku yang
dikendalikan oleh akibatnya. Bila akibatnya itu hadiah, perilaku itu akan
terus dipertahankan. Kekuatan serta frekuensinya akan terus
dikembangkan. Bila akibatnya hukuman, atau bila kurang adanya
penguatan, perilaku itu akan diperlemah atau pelan-pelan akan
disingkirkan.
Implikasi teori ini ialah bahwa guru harus berhati-hati dalam
menentukan jenis hadiah dan hukuman. Guru harus mengetahui benar
kesenangan siswanya. Hukuman harus benar-benar sesuatu yang tidak
disukai anak, dan sebaliknya hadiah merupakan hal yang sangat disukai
anak. Jangan sampai anak diberi hadiah menganggapnya sebagai hukuman
atau sebaliknya, apa yang menurut guru adalah hukuman bagi siswa
dianggap sebagai hadiah.
b. Teori Nativisme.
Istilah nativisme dihasilkan dari pernyataan mendasar bahwa
pembelajaran bahasa ditentukan oleh bakat. Bahwa setiap manusia
dilahirkan sudah memiliki bakat untuk memperoleh dan belajar bahasa.
Teori tentang bakat bahasa itu memperoleh dukungan dari berbagai sisi.
Eric Lenneberg (1967) membuat proposisi bahwa bahasa itu merupakan
perilaku khusus manusia dan bahwa cara pemahaman tertentu,
pengkategorian kemampuan, dan mekanisme bahasa yang lain yang
berhubungan ditentukan secara biologis. Chomsky dalam Hadley
(1993:50) mengemukakan bahwa belajar bahasa merupakan kompetensi
khusus bukan sekedar subset belajar secara umum. Cara berbahasa jauh
lebih rumit dari sekedar penetapan Stimulus- Respon. Chomsky dalam
Hadley (1993: 48) mengatakan bahwa eksistensi bakat bermanfaat untuk
menjelaskan rahasia penguasaan bahasa pertama anak dalam waktu
singkat, karena adanya LAD.
Mc. Neil (Brown, 1980:22) mendeskripsikan LAD itu terdiri atas empat
bakat bahasa, yakni:
1) Kemampuan untuk membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi
yang lain.
2) Kemampuan mengorganisasikan peristiwa bahasa ke dalam variasi
yang beragam.
3) Pengetahuan adanya sistem bahasa tertentu yang mungkin dan sistem
yang lain yang tidak mungkin.
4) Kemampuan untuk mengevaluasi sistem perkembangan bahasa yang
membentuk sistem yang mungkin dengan cara yang paling sederhana
dari data kebahasaan yang diperoleh.

Chomsky dalam Hadley (1993: 49) mengemukakan bahwa bahasa


anak adalah sistem yang sah dari sistem mereka. Adapun Kelebihan Teori
Nativisme yaitu :

1) Mampu memunculkan bakat yang dimiliki


Dengan teori ini diharapkan manusia bisa mengoptimalkann
bakat yang dimiliki dikarenakan telah mengetahui bakat yang bisa
dikembangkannya. Dengan adanya hal ini, memudahkan manusia
mengembangkan sesuatu yang bisa berdampak besar terhadap
kemajuan dirinya.
2) Mendorong manusia mewujudkan diri yang berkompetensi
Jadi dengan teori ini diharapkan setiap manusia harus lebih
kreatif dan inovatif dalam upaya pengembangan bakat dan minat agar
menjadi manusia yang berkompeten sehingga bisa bersaing dengan
orang lain dalam menghadapi tantangan zaman sekarang yang
semakin lama semakin dibutuhkan manusia yang mempunyai
kompeten lebih unggul daripada yang lain.
3) Mendorong manusia dalam menetukan pilihan
Adanya teori ini manusia bisa bersikap lebih bijaksana terhadap
menentukan pilihannya, dan apabila telah menentukan pilihannya
manusia tersebut akan berkomitmen dan berpegang teguh terhadap
pilihannya tersebut dan meyakini bahwa sesuatu yang dipilihnya adalh
yang terbaik untuk dirinya.
4) Mendorong manusia untuk mengembangkan potensi dari dalam diri
seseorang.
Teori ini dikemukakan untuk menjadikan manusia berperan
aktif dalam pengembangan potensi diri yang dimilii agar manusia itu
memiliki ciri khas atau ciri khusus sebagai jati diri manusia.
5) Mendorong manusia mengenali bakat minat yang dimiliki.
Dengan adanya teori ini, maka manusia akan mudah mengenali
bakat yang dimiliki, dengan artian semakin dini manusia mengenali
bakat yang dimiliki maka dengan hal itu manusia dapat lebih
memaksimalkan bakatnya sehingga bisa lebih optimal.
c. Teori Kognitivisme.
Menurut teori ini perkembangan bahasa harus berlandaskan pada
atau diturunkan dari perkembangan dan perubahan yang lebih mendasar
dan lebih umum di dalam kognisi manusia. Dengan demikian urutan-
urutan perkembangan kognisi seorang anak akan menentukan urutan-
urutan perkembangan bahasa dirinya. Menurut aliran ini kita belajar
disebabkan oleh kemampuan kita menafsirkan peristiwa atau kejadian
yang terjadi di dalam lingkungan.
Titik awal teori kognitif adalah anggapan terhadap kapasitas
kognitif anak dalam menemukan struktur dalam bahasa yang didengar di
sekelilingnya. Pemahaman, produksi, komprehensi bahasa pada anak
dipandang sebagai hasil dari proses kognitif anak yang secara terus
menerus berubah dan berkembang. Jadi stimulus merupakan masukan bagi
anak yang berproses dalam otak. Pada otak terjadi mekanisme mental
internal yang diatur oleh pengatur kognitif, kemudian keluar sebagai hasil
pengolahan kognitif tadi.
Dapat dikemukakan bahwa pendekatan kognitif menjelaskan
bahwa:
1) Dalam belajar bahasa, bagaimana kita berpikir.
2) Belajar terjadi dan kegiatan mental internal dalam diri kita
3) Belajar bahasa merupakan proses berpikir yang kompleks.

Laughlin dalam Elizabeth (1993: 54) berpendapat bahwa dalam


belajar bahasa seorang anak perlu proses pengendalian dalam berinteraksi
dengan lingkungan. Pendekatan kognitif dalam belajar bahasa lebih
menekankan pemahaman, proses mental atau pengaturan dalam
pemerolehan, dan memandang anak sebagai seseorang yang berperan aktif
dalam proses belajar bahasa.

d. Teori Fungsional
Para peneliti bahasa mulai melihat bahwa bahasa merupakan
manifestasi kemampuan kognitif dan efektif untuk menjelajah dunia,
untuk berhubungan dengan orang lain dan juga keperluan terhadap diri
sendiri sebagai manusia lebih mengutamakan pada bentuk bahasa dan
tidak pada tataran fungsional yang lebih dari makna yang dibentuk dari
interaksi sosial.
Kognisi dan perkembangan bahasa Piaget menggambarkan
penelitian itu sebagai interaksi anak dengan lingkungannya dengan
interaksi komplementer antara perkembangan kapasitas kognitif perseptual
dengan pengalaman bahasa mereka. Penelitian itu berkaitan dengan
hubungan antara perkembangan kognitif dengan pemerolehan bahasa
pertama
e. Teori Konstruktvisme
Pembelajaran harus dibangun secara aktif oleh pembelajar itu
sendiri dari pada dijelaskan secara rinci oleh orang lain. Dengan demikian
pengetahuan yang diperoleh didapatkan dari pengalaman. Namun
demikian, dalam membangun pengalaman siswa harus memiliki
kesempatan untuk mengungkapkan pikirannya, menguji ide-ide tersebut
melalui eksperimen dan percakapan atau tanya jawab, serta untuk
mengamati dan membandingkan fenomena yang sedang diujikan dengan
aspek lain dalam kehidupan mereka. Selain itu juga guru memainkan
peranan penting dalam mendorong siswa untuk memperhatikan seluruh
proses pembelajaran serta menawarkan berbagai cara eksplorasi dan
pendekatan.
Dalam rangka kerjanya, ahli konstruktif menantang guru- guru
untuk menciptakan lingkungan yang inovatif dengan melibatkan guru dan
pelajar untuk memikirkan dan mengoreksi pembelajaran. Untuk itu ada
dua hal yang harus dipenuhi, yaitu:
1) Pembelajar harus berperan aktif dalam menyeleksi dan menetapkan
kegiatan sehingga menarik dan memotivasi pelajar,
2) Harus ada guru yang tepat untuk membantu pelajar-pelajar membuat
konsep-konsep, nilai-nilai, skema, dan kemampuan memecahkan
masalah

Teori ini muncul diilhami oleh perkembangan dalam psikologi


yaitu psikologi Humanisme. Sesuai pendapat yang dikemukakan oleh
McNeil (1977) “In many instances, communicative language programmes
have incorporated educational phylosophies based on humanistic
psikology or view which in the context of goals for other subject areas has
been called ‘the humanistic curriculum’. Teori humanisme dalam
pengajaran bahasa pernah diimplementasikan dalam sebuah kurikulum
pengajaran bahasa dengan istilah Humanistic curriculum yang diterapkan
di Amerika utara di akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an.
Kurikulum ini menekankan pada pembagian pengawasan dan
tanggungjawab bersama antar seluruh siswa didik. Humanistic curiculum
menekankan pada pola pikir, perasaan dan tingkah laku siswa dengan
menghubungkan materi yang diajarkan pada kebutuhan dasar dan
kebutuhan hidup siswa. Teori ini menganggap bahwa setiap siswa sebagai
objek pembelajaran memiliki alasan yang berbeda dalam mempelajari
bahasa.Tujuan utama dari teori ini adalah untuk meningkatkan
kemampuan siswa agar bisa berkembang di tengah masyarakat.
Sementara menurut Fraida Dubin dan Elita Olshtain (1992- 76)
pengajaran bahasa menurut teori humanisme, sbb:

1) Sangat menekankan kepada komunikasi yang bermakna (meaningful


communication) berdasarkan sudut pandang siswa. Teks harus otentik,
tugas-tugas harus kommunikatif, Outcome menyesuaikan dan tidak
ditentukan atau ditargetkan sebelumnya.
2) Pendekatan ini berfokus pada siswa dengan menghargai existensi
setiap individu.
3) Pembelajaran digambarkan sebagai sebuah penerapan pengalaman
individual dimana siswa memiliki kesempatan berbicara dalam proses
pengambilan keputusan.
4) Siswa lain sebagai kelompok suporter dimana mereka saling
berinteraksi, saling membantu dan saling mengevaluasi satu sama lain.
5) Guru berperan sebagai fasilitator yang lebih memperhatikan
atmosphere kelas dibanding silabus materi yang digunakan.
6) Materi berdasarkan kebutuhan-kebutuhan siswa.
7) Bahasa ibu para siswa dianggap sebagai alat yang sangat membantu
jika diperlukan untuk memahami dan merumuskan hipotesa bahasa
yang dipelajari.

Menurut Yulaelawati (2004: 54) terdapat ciri-ciri teori pembelajaran


yang konstruktivistik yaitu:

1) Pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman atau pengetahuan


yang telah ada sebelumnya.
2) Belajar adalah merupakan penafsiran personal tentang dunia.
3) Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna dikembangkan
berdasarkan pengalaman.
4) Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan (negoisasi) makna
melalui berbagai informasi atau menyepakati suatu pandangan dalam
berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain.
5) Belajar harus disituasikan dalam latar (setting) yang realistik,
penilaian harus terintegrasi dengan tugas dan bukan merupakan
kegiatan yang terpisah.

Ia juga menyebutkan secara garis besar, prinsip-prinsip


konstruktivistik yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah:

1) Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri


2) Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali
hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar
3) Murid aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu
terjadi perubahan konsep ilmiah
4) Guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses
konstruksi berjalan lancar.
5) Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa
6) Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah
pertanyaan
7) Mencari dan menilai pendapat siswa
8) Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.

Dari prinsip-prinsip tersebut di atas hanya terdapat satu prinsip yang


paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan
pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuan di
dalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan
cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna
dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan
mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi
mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan tangga kepada
siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu
mereka mencapai tingkat penemuan.
B. Pendekatan Dalam Pembelajaran Bahasa
1. Pengertian Pendekatan Pembelajaran.
Dalam buku Solchan,dkk (2014:3.5) mengatakan bahawa Pendekatan
ialah sikap atau pandangan tentang sesuatu yang biasanya berupa asumsi
atau seperangkat asumsi yang saling berhubungan dengan sesuatu. Oleh
sebab itu,pendekatann bersifat aksiomatis, artinya tidak perlu dibuktikan
lagi kebenarannya. Di dalam pengajaran bahasa, pendekatan merupakan
pandangan, filsafat, atau kepercayaan tentang hakikat bahasa,dan pengajaran
bahasa yang diyakini oleh guru bahasa.
Dalan jurnal Hidayah Nurul (2014: 294) Pendekatan adalah cara umum
seorang guru memandang persoalan atau objek sehingga diperoleh pesan
tertentu. Menurut Tarigan, pendekatan adalah seperangkat asumsi yang
bersifat aksiomatik mengenai hakikat bahasa, pengajaran, bahan, dan belajar
bahasa yang digunakan sebagai landasan dalam merancang, melakukan, dan
menilai proses belajar bahasa (Tarigan, 1995:5). Menurut Anthony (Ismati dan
Umaya, 2012: 76), pendekatan(approach) adalah sekumpulan asumsi yang
terkait dengan hakikat bahasa dan hakikat belajar bahasa. Pendekatan bersifat
aksioma, menggambarkan hakikat subjek yang akan diajarkan secara benar.
Dalam Idah Faridah Laily (2015: 7) mengatakan bahwa Istilah pendekatan
pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang
terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya
mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran
dengan cakupan teoretis tertentu
2. Jenis-Jenis Pendekatan Pembelajaran Bahasa
a. Pendekatan Tujuan.
Dalam jurnal Hidayah Nurul (2014: 294) mengatakan Pendekatan
tujuan dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan belajar
mengajar yang harus dipikirkan dan ditetapkan dulu adalah tujuan yang
hendak dicapai. Dengan adanya tujuan yang telah ditetapkan akan mudah
menentukan metode dan teknik apa yang akan digunakan dalam
pembelajaran, dan akan tercapai apa yang ditetapkan.(Isah Cahyani,
2012:74). Jadi, menurut pendekatan ini proses belajar mengajar harus
dapat menentukan terlebih dulu oleh tujuan yang akan dicapai dan
bagaimana cara untuk mencapai tujuan itu sendiri.
b. Pendekatan Keterampilan Proses.
Dalam jurnal Hidayah Nurul (2014: 294) Pendekatan keterampilan
proses adalah suatu pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang berfokus
pada pelibatan siswa secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan
hasil belajar. Keterampilan proses meliputi keterampilan intelektual,
keterampilan sosial, dan keterampilan fisik. Keterampilan proses berfungsi
sebagai alat menemukan dan mengembangkan konsep.
Konsep yang telah ditemukan atau dikembangkan berfungsi pula
sebagai penunjang keterampilan proses. Interaksi antara pengembangan
keterampilan proses dengan pengembangan konsep dalam proses belajar
mengajar menghasilkan sikap dan nilai dalam diri siswa. Tanda-tandanya
terlihat pada diri siswa seperti teliti, kreatif, kritis, objektif, tenggang rasa,
bertanggung jawab, jujur, terbuka, dapat bekerja sama, rajin, dan
sebagainya.
Keterampilan proses dibangun sejumlah keterampilan-
keterampilan. Karena itu pencapainnya atau pengembangannya
dilaksanakan dalam setiap proses belajar mengajar dalam semua mata
pelajaran. Setiap mata pelajaran mempunyai karakteristik sendiri. Karena
itu dalam penjabaran keterampilan proses dapat berbeda pada setiap mata
pelajaran.
Pendekatan ini merupakan pemberian/menumbuhkan kemampuan-
kemampuan dasar untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan
kemampuan yang meliputi beberapa kemampuan seperti:
a. Kemampuan mengamati
b. Kemampuan menghitung
c. Kemampuan mengukur
d. Kemampuan mengklasifikasi
e. Kemampuan menemukan hubungan
f. Kemampuan membuat prediksi
g. Kemampuan melaksanakan penelitian
h. Kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data
i. Kemampuan mengkomunikasikan hasil

Keterampilan proses berkaitan dengan kemampuan. Oleh karena itu


penerapan keterampilan proses diletakkan dalam kompetensi dasar.
Keterampilan proses juga dikenali pada instruksi yang disampaikan oleh
guru kepada siswa untuk mengerjakan sesuatu.

c. Pendekatan struktural.
Dalam jurnal Hidayah Nurul (2014: 294) Pendekatan struktural
merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam proses
pembelajaran bahasa. Pendekatan ini dilandasi dengan asumsi bahwa
bahasa sebagai akidah. Pendekatan truktural lebih menitikberatkan pada
penguasan tata bahasa atau kaidah -kaidah bahasa. Pembelajaran bahasa
menurut pendekatan ini difakuskan pada pengetahuan struktur bahasa
yang mencakup fonologi, morfologi, dan sintaksis. Dalam hal ini
pengetahuan tentang struktur bahasa mencakup tentang suku kata, pola
kata, dan pola kalimat. pola kata, dan suku kata menjadi sangat
penting. Dengan pedekatan struktural, siswa akan menjadi cermat
dalam menyusun kalimat, karena mereka memahami kaidah-
kaidahnya. Misalnya saja, mereka mungkin tidak akan membuat
kesalahan seperti di bawah ini
"Bajunya anak itu baru".
"Di sekolahan kami mengadakan pertandingan sepak bola".
"Anak-anak itu lari-lari di halaman".
d. Pendekatan Whole Language.
Dalam jurnal Hidayah Nurul (2014: 295) Whole language
approach adalah pendekatan pembelajaran bahasa yang menyajikan
pengajaran bahasa secara utuh, artinya tidak terpisah-pisah. Pendekatan
whole languageberasumsi bahwa bahasa merupakan satu kesatuan yang
tidak dapat dipisah-pisahkan, oleh karena itu pembelajaran komponen
bahasa (fonem, morfem, klausa, kalimat, wacana) dan keterampilan
berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) harus dapat
disajikan secara utuh dalam situasi yang nyata (autentik) dan bermakna
kepada peserta didik. Secara
PendekatanWhole Language didasari oleh paham konstruktivisme
yang menyatakan bahwa anak/siswa membentuk sendiri pengetahuannya
melalui peran aktifnya dalam belajar secara utuh dan terpadu. Anak akan
termotivasi untuk belajar jika mereka melihat bahwa yang dipelajarinya
itu diperlukan oleh mereka orang dewasa, dalam hal ini guru,
berkewajiban untuk menyediakan lingkungan yang menunjang untuk
siswa agar mereka dapat belajar dengan baik. Fungsi guru dalam kelas
Whole Language berubah dari desiminator informasi menjadi fasilitator.
Dalam pendekatan whole language terdapat hubungan yang
interaktif antar keterampilan bahasa, yaitu antara menyimak, berbicara,
membaca, dan menulis. Belajar bahasa ini hraus diintegrasikan ke dalam
atau terinternalisasi, tidak terpisah dari semua aspek kurikulum.
Pengintegrasian ini didefinisikan sebagai pendekatan whole language atau
perspektif untuk perkembangan literacy.
Melalui pendekatan whole language ini kemampuan dan
keterampilan anak dalam menyimak, berbicara, membaca, dan menulis
dapat dikembangkan secara utuh, operasional, dan menyeluruh. Peserta
didik dapat membentuk sendiri pengetahuannya melalui peran aktifnya
dalam proses pembalajaran secara utuh.
Jadi, pada dasarnya dapat disimpulkan esensi dari pendekatan
whole language merupakan suatu cara untuk mengembangkan bahasa atau
mengajarkan bahasa yang dilakukan menyeluruh yang meliputi
keterampilam mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
Keterampilan-keterampilan ini memiliki hubungan yang interaktif dan
whole language merupakan kunci pertama disekolah untuk mendorong
anak untuk menggunakan bahasa dan belajar bahasa dengan cara tidak
terpisah-pisah. Diharapkan melalui pendekatan whole language
kemampuan dan keterampilan yang dimiliki oleh peserta didik dapat
tercapai secara holistik, dan dapat terus dikembangkan secara operasional
dan menyeluruh.
1) Strategi Pembelajaran Bahasa dengan Pendekatan Whole Language.
Menurut Rafiuddin dan Darmiyati, ada beberapa strategi
pembelajaran dengan menggunakan whole language yang ditinjau
dari aspek guru dan siswa:
a) Pencelupan (immersion); guru menciptakan lingkungan yang
memungkinkan pembelajar melaksanakan program celup dalam
kegiatan pembelajaran sehari-hari dalam menggunakan: bahasa
guru, bahasa teman sebaya, bahasa buku-buku, percakapan
informal, nahasa di kelas informal lagu percakapan informal,
ahasa dikelas informal, bahasa yang didapat lagu. Nanti bahasa
diinternet bahasa yang dibuatkan , bahasa yang terdapat dalam
lagu-lagu atau berbagai cerita.
b) Demonstrasi; guru terlibat dalam peragaan pemakaian bahasa
sebagai sumber pengayaan dan data bagi pembelajar dalam
menformulasikan struktur kalimat, mengembangkan makna, dan
memperoleh berbagai konvensi pemakaian sosial, pemakaian
bahasa di masyarakat (pragmatik).
c) Keterlibatan; pembelajar harus dilibatkan secara aktif dalam
pembelajaran, dimana ada perasaan nyaman dan aman bagi
pembelajar.
d) Harapan; guru harus punya harapan bahwa pembelajar akan dapat
melaksanakan kegiatan pembelajaran selaras dengan pola atau
fase perkembangan mereka.
e) Tanggung jawab
pembelajar diberikan kesempatan, kepercayaan, dan tanggung
jawab untuk menentukan apa yang mereka pelajari.
f) Pemakaian; dalam kegiatan pembelajaran ini dilakukan ide
belajar bahasa secara serentak, yaitu: (1) memahami bahasa, (2)
mencoba menggunakannya, dan (3) pembelajar mempelajari
bahasa pada saat bahasa tersebut digunakan.
g) Aproksimasi; para guru yakin bahwa kekeliruan merupakan hal
yang wajar dalam proses belajar bahasa. Kekeliruan yang dibuat
oleh pembelajar merupakan pertanda bahwa pembelajar sedang
dalam proses belajar.
h) Respons dan umpan balik; keterlibatan guru secara aktif dalam
percakapan dengan pembelajar dapat menjadi model untuk
mengembangkan sintaksis, semantik, dan pragmatik. Respon
yang diberikan oleh guru di kelas hendaknya tidak bersifat
mengancam atau menakutkan. (Rafiuddin dan Zuhdi, 2001: 140
-144)

Dari beberapa strategi di atas, dapat dipahami bahwa proses


pembejaran bahasa dengan pendekatan whole language kerjasama
antara guru dan peserta didik benar-benar harus terjalin dan saling
mengisi. Siswa dapat aktif dalam bereksplorasi segala potensi yang
dalam dirinya, sedangkan guru harus bersifat kooperatif, aktif, kreatif,
dan inovatif dalam proses pembelajaran.

2) Komponen-komponen dalam pendekatan whole Language.


Komponen Pendekatan Whole Language Menurut Santosa dkk ada
8 komponen dalam pendekatan whole language. Di bawah ini akan
dijelaskan setiap komponen satu persatu.
a) Reading aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh
guru siswanya. Guru membaca dengan keras dan intonasi yang
baik sehingga siswa dapat menikmatinya. Reading aloud berguna
untuk melatih keterampilan menyimak siswa, memperkaya
kosakata, meningkatkan minat dan pemahaman siswa.Reading
aloud dilakukan kira-kira-10 menit dan bertujuan mengajak
siswa untuk melakukan suasana belajar.
b) Jurnal writing,menulis jurnal merupakan cara yang aman untuk
menulis atau mengungkapkan perasaan siswa, menceritakan
kejadian yang dialaminya, alam sekitar, dan bentuk-bentuk lain
dalam penggunaan bahasa secara tertulis. Manfaat menulis jurnal
antara lain adalah (1) dapat meningkatkan kemampuan menulis;
(2) meningkatkan kemampuan membaca; (3) menumbuhkan
keberanian mengambil atau menghadapi resiko; (4) memberi
kesempatan siswa untuk refleksi; (5) memvalidasi perasaan dan
pengalaman pribadi; (6) memberikan tempat yang nyaman untuk
menulis; (7) meningkatkan kemampuan berpikir; (8)
meningkatkan kesadaraan akan peraturan menulis; (9) menjadi
alat evaluasi; (10) menjadi dokumen tertulis (yang merupakan
karya siswa/produk).
c) Sustained Silent Reading (SSR), merupakan kegiatan membaca
dalam hati yang dilakukan siswa. Dalam hal ini siswa diberi
kesempatan untuk memilih sendiri buku atau materi yang akan
dibacanya. Kegiatan ini mengandung pesan bahwa (1) membaca
merupakan kegiatan penting dan menyenangkan; (2) membaca
dapat dilakukan oleh siapapun; (3) membaca berarti
berkumunikasi dengan penulis buku atau teks yang dibaca; (4)
siswa dapat membaca atau berkonsentrasi pada bacaan dengan
waktu cukup lama; (5) guru percaya bahwa siswa paham akan
teks yang dibacanya; (6) siswa dapat berbagi pengetahuan
setelah SSR berakhir.
d) Shared Reading, adalah kegiatan membaca bersama antara guru
dan siswa dimana setiap person mempunyai buku yang sedang
dibacanya. Cara ini dilakukan di sekolah rendah hingga sekolah
tinggi. Maksud kegiatan ini adalah (1) sambil melihat tulisan
siswa berkesempatan memperhatikan guru membaca sebagai
model; (2) memberikan kesempatan yang luas untuk
memperlihatkan keterampilan membacanya; (3) siswa yang
kurang terampil membaca mendapat contoh membaca yang
benar. Guru berperan sebagai model.
e) Guided Reading (membaca terbimbing) adalah kegiatan
membaca dimana semua siswa membaca dan mendiskusikan
buku yang sama. Guru berperan sebagai pengamat dan fasilitator,
bertugas memberikan pertanyan pemahaman. Siswa menjawab
dengan kritis.
f) Guided Writing (menulis terbimbing), adalah kegiatan menulis di
bawah bimbingan guru, bagaiman menulis sistematis, jelas, dan
menarik, dapat menemukan apa yang ingin ditulis dan
sebagainya. Dalam hal memlih topik, membuat draft,
memperbaiki dan mengedit dilakukan oleh siswa.
g) Independent Reading(membaca bebas) adalah kegiatan membaca
dimana siswa menentukan sendiri materi yang akan dibacanya.
Peran guru yang sebelumnya menjadi pemrakarsa, model, dan
penuntun, berubah menajdi pengamat, fasilitator, dan pemberi
respon. Bacaan dapat berupa fiksi maupun nonfiksi, dan guru
dapat memilih buku yang akan dibaca oleh siswanya.
h) Independent Writing(menulis bebas) adalah kegiatan untuk
meningkatkan kemampuan menulis, meningkatkan kebiasan
menulis, dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Dalam
independent writing siswa berkesempatan menulis tanpa
intervensi guru.

Jadi pendekatan whole langauge merupakan salah satu pendekatan


dalam pembelajaran bahasa, yang dilandasi oleh kontruktivisme. Dalam
whole language bahasa diajarkan secara utuh (whole), artinya tidak
terpisah-pisah. Keterampilan bahasa menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis diajarkan secara terpadu (integrated) sehingga peserta didik
mempelajari dan memahami bahasa secara keseluruhan, sebagai satu
kesatuan.

e. Pendekatan komunikatif.
Dalam jurnal Laily (2015:8) mengatakan Pendekatan komunikatif
merupakan pendekatan yang berlandaskan pada pemikiran bahwa
kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan
tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Jadi pembelajaran
yang komunikatif adalah pembelajaran bahasa yang memungkinkan
peserta didik memiliki kesempatan yang memadai untuk mengembangkan
kebahasaan dan menunjukkan dalam kegiatan berbahasa baik kegiatan
produktif maupun reseptif sesuai dengan situasi nyata, bukan situasi
buatan yang terlepas dari konteks.
1) Ciri- ciri Pendekatan Komunikatif.
Ciri-ciri utama pendekatan pembelajaran komunikatif ada dua
kegiatan yang saling berkaitan yakni adanya kegiatan-kegiatan:
a) Komunikasi Fungsional
Terdiri atas empat yakni: mengolah informasi, berbagi
dan informasi, berbagi informasi dengan kerja sama terbatas,
dan berbagi informasi dengan kerja sama tak terbatas.
b) Kegiatan yang sifatnya interaksi sosial.
Terdiri dari 6 hal yakni: improvisasi, lakon-lakon pendek
yang lucu, aneka simulasi (bermain peran), dialog dan bermain
peran, siding-sidang konversasi dan diskusi, serta berdebat.
2) Implementasi Komunikatif Dalam Pembelajaran Bahasa Di Sekolah
Dasar.
Secara operasional, ciri-ciri pendekatan komunikatif tersebut
dalam pengajaran seperti berikut:
a) Kegiatan komunikatif yang disajikan betul-betul yang diperlukan
oleh siswa. Misalnya, kalau siswa tidak tahu tentang cara
menanam padi, suruhlah ia mewawancarai petani, sehingga ia
akan memperoleh informasi yang betul-betul dibutuhkan. Kalu
siswa bertanya tentang sesuatu, tetapi sudah tahu jawabannya, ini
bukan komunikasi, sebab tidak ada kesenjangan informasi
(Hubard dalam Subyakto, 1989). Jadi, salah satu ciri pendekatan
komunikatif adalagh adanya kekosongan informasi.
b) Untuk mendorong siswa mau belajar, Hendaknya guru
memberikan kegiatan belajar yang bermakna. Misalnya , tugas
yang diberikan guru agar mengganti satu bentuk kalimat ke
bentuk kalimat yang lain yang tidak begitu bermakna bagi siswa
misal nya Ibu memanggil adik , adik memanggil ibu . tugas yang
bermakna, Misalnya siswa menulis pengalamanya atau menulis
hasil kunjungan.
c) Materi dari Silabus kurikulum komunikasi di persiapkan setelah
diadakan suatu analisis mengenai kebutuhan barbahasa.
d) Penekanan pendekatan komunikatip ialah pada pelayanan
individu siswa.
e) Peran guru adalah sebagai peranan. Ia fasilitato motivator bagi
perkembangan individu siswa. Guru tidak selalu dibenarkan
selalu mendominasi kelas karena yang dipentingkan ialah
bagaimana siswa dapat di bimbing untuk berkomunikasi dengan
wajar ( memiliki keterampilan berbahasa baik lisan maupun
tulisan)
f) Materi interaksional siswa berperan menunjang komunikasi siswa
secara aktif.materi ini terdiri atas tiga macam: materi berdasarkan
teks ( bukubuku pelajaran). Materi berdasarkan tugas ( berupa
tugas membuat peta perjalanan dari rumah ke sekolah melakukan
tugas bermain peran) materi berdasarkan bahan otentik/relita
( materi yang diambil dari surat kabar,maja-lah,percakapan yang
sesungguh nya dan sebagainya).

Berdasarkan uraian di atas, makna penerapan pendekatan


komunikatif bertujuan agar siswa mampu berkomunikasi dan mampu
menggunakan bahasa secara baik, benar, dan secara nyata dan wajar,
serta dapat digunaan untuk berbagai tujuan dan keadaan. Di samping
itu kemampuan komunikasi menuntut adanya kemampuan gramatik,
kemampuan sosiolinguistik, kemampuan wacana, dan kemampuan
strategi. Dalam proses pembelajaran, guru hanya berfungsi sebagai
komunikator, fasilator, dan motivator. Sehubungan dengan itu, yang
menjadi acuan adalah kebutuhan siswa untuk dapat berkomunikasi
dalam situasi yang sebenarnya. Sugono (1993) mengatakan bahwa
pembelajaran bahasa sebagai alat komunikasi akan menarik minat
siswa karena siswa didesak oleh kebutuhannya untuk berkomunikasi
dengan orang lain. Oleh karena itu, untuk memenuhi atau
meningkatkan keterampilan menggunakan bahasa sebagai alat
komunikasi itu, pembelajaran bahasa yang paling tepat adalah
menggunakan pendekatan komunikatif.

f. Pendekatan Pembelajaran kontekstual.


Pendekatan pembelajaran kontekstual intinya membantu guru untuk
mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata dan memotivasi
siswa untuk mengaitkan pengetahuan yang dipelajarinya dengan
kehidupan mereka nyata arakteristik pembelajarankontekstual mengacu
pada masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan
tanggung jawab siswa sebagai anggota keluarga, warga negara dan tenaga
kerja (Mustofa, 2016). Pendekatan kontekstual ini dapat diterapkan dalam
pembelajaran bahasa Indonesia, dimana siswa didorong menghubungkan
antara teks sastra dan konteks yang berkaitan dengan kehidupan nyata.
Dengan demikian, siswa terlatih menemukan pandangan tokoh dalam teks
sastra yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan.
g. Pendekatan Pengalaman Berbahasa.
Dalam jurnal Vuri Devita(2016:26) memabahas mengenai
pendekatan pembelajaran bahasa salah satunya yaitu Pendekatan
Pengalaman Berbahasa. Dimana pendekatan penggalaman bahasan itu
merupakan alih kata dari istilah Language Experience Approach (LEA).
Menurut Huff dalam jurnal Vuri Devita (2016:26) mendefinisikan
LEA berdasarkan makna yang terkandung dalam unsur-unsur kata
pembentuknya, terutama kata experience dan language. Menurut Huff,
experience merupakan pengalaman seseorang yang diperoleh dari aktivitas
tertentu. Sementara itu, Language merupakan cerminan dari empat aspek
keterampilan berbahasa yang meliputi menyimak, berbicara, membaca,
dan menulis. LEA dimaknai sebagai suatu pendekatan dalam pengajaran
berbicara yang melibatkan kegiatan menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis sebagai cerminan dari pengalaman berbahasa anak.
Menurut Oka dalam jurnal Vuri Devita (2016:26) mengatakan
bahwa pendekatan pengalaman berbahasa adalah metode pengajaran
penguasaan keterampilan berbahasa yang menggabungkan pembelajaran
berbicara dengan pengalaman bahasa anak yang meliputi menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis.
Menurut Tompkins and Hoskisson dalam jurnal Vuri
Devita(2016:26) menyebutkan bahwa LEA(Language Experience
Approach) berdasarkan bahasa dan pengalaman anak. Aspek yang harus
diperhatikan dalam pembelajaran itu meliputi kemampuan berpikir dan
kemampuan mengungkapkan bahasa. Dalam PBB, guru menggunakan
bahan pelajaran yang dibuat oleh siswa itu secara tertulis. Dengan
demikian, anak akan berkesimpulan bahwa segala sesuatu yang
dilisankannya itu dapat diubah menjadi tulisan. Kesadaran seperti itu
penting sekali. Dengan kesadaran tersebut anak-anak pun akan
berkesimpulan bahwa tulisan itu bisa bercerita, bahwa dengan tulisan
orang biasa berkomunikasi, bahwa dengan tulisan itu mempunyai
persamaan dengan tutur.
1) Penerapan LEA pada Pembelajaran Bahasa di Kelas Awal (dalam
jurnal Vuri Devita,2016:27 ) .
Belajar konstruktivisme mengisyaratkan bahwa guru tidak
memompakan pengetahuan ke dalam kepala siswa, melainkan
pengetahuan diperoleh melalui suatu dialog yang ditandai oleh
suasana belajar yang bercirikan pengalaman dua sisi. Ini berarti
bahwa penekanan bukan pada kuantitas materi, melainkan pada upaya
agar siswa mampu menggunakan otaknya secara efektif dan efisien,
sehingga tidak ditandai oleh segi kognitif belaka, melainkan oleh
keterlibatan emosi dan kemampuan kreatif. Dengan demikian, proses
belajar membaca perlu disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan
siswa (Semiawan, 2002:5).
Dalam PPB guru mengembangkan wacana bersama-sama
dengan murid-muridnya mulai dengan memberikan rangsangan pada
pikiran murid-muridnya itu. Pendekatan Pengalaman Bahasa/
Language Experience Approach (LEA) didasarkan pada bahasa anak
dan pengalaman. Dalam pendekatan ini anak mendikte kata dan
kalimat tentang pengalaman mereka dan guru menulis dikte untuk
anak-anak. Teks mereka kembangkan menjadi bahan bacaan. Karena
bahasa berasal dari anak-anak sendiri dan karena konten berdasarkan
pengalaman mereka, mereka biasanya mampu membaca teks dengan
mudah. Membaca dan menulis yang terhubung sebagai siswa aktif
terlibat dalam membaca apa yang mereka tulis.
2) Tahapan-tahapan Pendekatan Pengalaman Bahasa (PBB), meliputi
hal-hal berikut.
a) Memberikan Pengalaman
Pengalaman bermakna diidentifikasi untuk melayani sebagai
stimulus untuk menulis.
b) Berbicara tentang Pengalaman
Siswa dan guru mendiskusikan pengalaman sebelum
menulis. Tujuan diskusi ini adalah untuk menghasilkan kata-kata
dan meninjau pengalaman sehingga dikte anak-anak akan lebih
menarik dan lengkap. Guru sering memulai dengan pertanyaan
terbuka, seperti, “Tentang apa yang akan ditulis?” Anak-anak
berbicara tentang pengalaman mereka, mereka menjelaskan dan
mengatur ide menggunakan kosakata yang lebih spesifik, dan
memperluas pemahaman mereka.
c) Merekam Dikte Tersebut
Guru menuliskan dikte anak. Teks untuk masing-masing
anak yang ditulis pada lembar kertas tertulis atau dalam buku-
buku kecil dan teks kelompok ditulis pada kertas grafik. Guru
mencetak rapi, mengeja katakata dengan benar, dan melestarikan
bahasa siswa sebanyak mungkin. Itu adalah godaan besar untuk
mengubah bahasa anak untuk sendiri, baik dalam pilihan kata
guru atau tata bahasa, tapi editing harus disimpan ke minimum
sehingga anak-anak tidak mendapatkan kesan bahwa bahasa
mereka lebih rendah atau tidak memadai. Untuk teks individual,
guru terus mengambil dikte anak dan menulis sampai anak selesai
atau ragu-ragu. Jika anak raguragu, guru membaca ulang apa
yang telah ditulis dan mendorong anak untuk terus melanjutkan.
Untuk teks grup, anak-anak bergiliran mendikte kalimat, dan
setelah menulis setiap kalimat, guru membaca ulang itu .Sangat
menarik bahwa sebagai anakanak menjadi akrab dengan
mendikte guru, mereka belajar untuk kecepatan dikte mereka
untuk kecepatan guru menulis. Pada awalnya, anak-anak
mendikte karena mereka memikirkan ide-ide, tetapi dengan
pengalaman, mereka menyaksikan guru menulis dan memasok
teks kata demi kata.
d) Membaca Teks
Setelah teks tersebut telah didikte, guru membaca nyaring,
menunjuk ke setiap kata. Bacaan ini mengingatkan anak-anak
dari konten teks dan menunjukkan bagaimana untuk membacanya
dengan suara keras dengan intonasi yang tepat. Kemudian anak-
anak bergabung dalam membaca. Setelah membaca teks
kelompok bersama-sama, masing-masing anak dapat mengambil
giliran membaca ulang. Teks kelompok juga dapat disalin
sehingga setiap anak memiliki tembusan untuk dibaca secara
mandiri.
e) Memperluas Teks
Setelah mendikte, membaca, dan membaca ulang teks-teks
mereka, anak-anak dapat memperpanjang pengalaman dalam
beberapa cara; misalnya, mereka dapat:
(1) tambahkan ilustrasi untuk tulisan mereka
(2) membaca teks mereka untuk teman sekelas dari depan kelas,
(3) membawa pulang teks-teks mereka untuk berbagi dengan
anggota keluarga,
(4) tambahkan teks ini untuk koleksi tulisan-tulisan mereka,
(5) memilih kata-kata dari teks-teks mereka bahwa mereka ingin
belajar membaca.
Karnowski menunjukkan bahwa LEA dapat dimodifikasi, untuk
membuatnya lebih seperti menulis dalam proses.
a. Prapenulisan Anak-anak mengumpulkan ide-ide untuk menulis
melalui pengalaman, berbicara, dan seni.
b. Drafting Anak-anak mendikte teks, sedangkan guru mencatat. Ini
adalah draft pertama menulis.
c. Revisi Anak-anak dan guru membaca dan membaca ulang teks.
Mereka berbicara tentang menulis dan membuat satu atau lebih
perubahan.
d. Editing Anak-anak dan guru membaca teks direvisi dan periksa
ejaan, tanda baca, huruf besar, dan pertimbangan mekanis lainnya
benar. Kemudian anak-anak memperbanyak teks dalam format
buku.
e. Publishing Anak-anak berbagi teks dengan teman sekelas dari
depan kelas. Selain itu, teks dapat digunakan untuk kegiatan
membaca lainnya. Dengan modifikasi ini, siswa dapat belajar
bahwa membaca dan menulis merupakan seluruh proses.
Jadi salah pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran
bahasa di kelas rendah adalah LEA (Language Experience Approach)
atau yang biasa dikenal dengan Pendekatan Pengalaman Berbahasa.
Pendekatan ini memanfaatkan pengalaman siswa untuk diterapkan
dalam belajar membaca dan menulis permulaan. Pendekatan ini pun
dapat mengembangkan semua keterampilan berbahasa; menyimak
atau mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dengan
berbaurnya semua keterampilan dalam suatu kegiatan itu guru
dituntut untuk lebih kreatif. Diharapkan dengan menggunakan
pengalaman siswa, belajar membaca dan menulis menjadi kegiatan
yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa.
h. Pendekatan Tematik.
Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan dalam
pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam
intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya
pemaduan itu peserta didik akan memperoleh pengetahuan dan
keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran jadi bermakna bagi
peserta didik. Sebagai suatu proses, pembelajaran tematik memiliki
karakteristik sebagai berikut :
1) Pembelajaran berpusat pada peserta didik.
2) Menekankan pembentukan pemahaman dan kebermaknaan.
3) Belajar melalui pengalaman lansung.
4) Lebih memperhatikan proses dari hasil semata.
5) Sarat dengan muatan keterkaitan
i. Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).
Pendekatan ini merupakan suatu sistem pembelajaran yang
menekankan kadar keterlibatan siswa secara fisik, mental, intelektual dan
emosional untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kadar CBSA dapat
dilihat dari aktivitas belajar siswa tinggi, aktivitas guru sebagai
fasilitator, desain pembelajaran berfokus pada keterlibatan siswa,
suasana belajar kondusif. Misal:dalam pembelajaran membaca
permulaan di kelas satu, dapat dilaksanakan secara individual,
kelompok atau klasikal. Kegiatan secara individual dapat membaca
nyaring (bagi siswa yang sudah lancar membaca), dapat pula membaca
gambar, menyusun balok-balok huruf menjadi kata, menjodohkan
gambar dan kata.
j. Pendekatan terpadu.
Dalam bidang bahasa hampir sama dengan pendekatan “Whole
Language”, yang pada dasarnya pembelajaran bahasa senantiasa harus
terpadu, tidak terpisahkan antara keterampilan berbahasa
(menyimak,berbicara,membaca,menulis) dengan komponen kebahasaan
(tatabunyi, tatamakna, tatabentuk, tatakalimat) juga aspek sastra. Di
samping itu untuk kelas-kelas rendah pendekatan terpadu ini
menggunakan jenis pendekatan lintas bidang studi, yang artinya
pembelajaran Bahasa Indonesia dapat disatukan dengan mata pelajaran
lain seperti: Pendidikan Agama, Matematika, Sains, Pengetahuan Sosial,
Kesenian dan Pendidikan Jasmani.
k. Pendekatan Konstruktivisme.
Menurut Mustofa (2016), dalam kegiatan pembelajaran, persepsi
yang muncul akan menentukan perilaku siswa sehingga siswa akan
membangun sendiri pengetahuannya apabila mereka dilibatkan secara
aktif dalam proses belajar yang menyenangkan, serta mendukung siswa
untuk belajar. Pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme harus
mengandung 5 prinsip, yaitu:
1) Menghadapi masalah yang relevan
2) Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah
pertanyaan
3) Mencari dan menilai pendapat siswa
4) Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa e
5) Menilai belajar siswa dalam konteks pembelajaran
Peran guru dalam pembelajaran ini adalah sebagai model dalam
cara menyelesaikan masalah bersama siswa. Guru hadir sebagai
narasumber dan bukan menjadi penguasa yang memaksakan jawaban
benar, biarkan siswa bebas membangun pemahaman mereka sendiri. Guru
mengamati siswa selama beraktivitas dan mendengarkan secara seksama
atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari siswa. Pendekatan
konstruktivisme menekankan gagasan-gagasan berasal dari siswa dalam
setiap topik bahasan, sedangkan guru dituntut harus mempersiapkan dan
mengembangkan pengetahuan yang berhubungan dengan pokok bahasan
yang akan disampaikan kepada siswa dengan cara memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan bahan yang disajikan
sehingga peranan guru di dalam pembelajaran konstruktivisme adalah
sebagai fasilitator dan mediator.
DAFTAR PUSTAKA.

Hidayah,Nurul.2014. Pendidikan Pembelajaran Bahasa Whole Language.


(online).(http://ejournal.radenintan.ac.id). Vol 1 No 2. Diakses 08
Februari 2020.
Hijriah, Umi. (2016). Paradigma Pembelajaran Bahasa: Reorientasi Teori,
Pendekatan, dan Metode Pengajaran. Lampung: LP2M IAIN Raden Intan
Laily,Faridah.2015. Pendekatan Komunikatif dalam pembelajaran Bahasa
Indonesia di SD/MI. (online).(http://jurnal.syekhnurjah.ac.id). Diakses 08
Februari 2020
Mustofa. (2016). Pembelajaran Apresiasi Sastra Indonesia Berbasis Analisis
Wacana Kritis. Lamongan: Pustaka Ilalang Group.
Nasution. S. (1999). Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta : Bumi Aksara
Solchan,dkk.2014.Pendidikan Bahasa Indonesia di SD. Tanggerang Selatan:
Universitas Terbuka.
Syaiful Sagala. (2005). Konsep Makna Pembelajaran: Untuk Membantu
Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung : Alfabeta,
2005)
Vuri,Devita. 2016. Penerapan Pendekatan Pengalaman Berbahasa di SD Kelas
Rendah.(Online).(http://journal.uny.ac.id). Diakses 08 Februari 2020
Yulaelawati, E. 2004. Kurikulum dan Pembelajaran: Filosofi, Teori dan Aplikasi.
Jakarta: Pakar Raya.

Anda mungkin juga menyukai