Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN

TENTANG

“MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK PENDIDIKAN”

Oleh

Kelompok 7

Novita Permata Sari

Rita Indah Mesra Yani

Salmia Mardhatillah

18 BKT 13

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia merupakan ciptaan Allah SWT. Yang paling istimewa bila dilihat dari
sosok diri, serta beban dan tanggung jawab yang diamanatkan. Sifat kodrati manusia
sebagai makhluk pribadi, sosial, susila dan religi harus dikembangkan secara seimbang,
selaras dan serasi. Perlu disadari, bahwa manusia hanya mempunyai arti hidup secara
layak jika ada diantara manusia lainnya. Tanpa ada manusia lain atau tanpa hidup
bermasyarakat, seseorang tidak dapat menyelenggarakan hidupnya dengan baik.
Untuk meningkatkan kualitas hidup, manusia memerlukan pendidikan, baik
pendidikan yang formal, informal maupun nonformal. Pendidikan merupakan bagian
penting dari kehidupan manusia yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk
hidup lainnya. "Hewan" juga belajar, tetapi lebih ditentukan oleh instinknya, sedangkan
manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju
kehidupan yang lebih berarti. Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan
manakala anak-anak ini sudah dewasa dan berkeluarga, mereka akan mendidik anak-
anaknya. Begitu juga di sekolah dan perguruan tinggi, para siswa dan mahasiswa diajar
oleh guru dan dosen.
Salah satu permasalahan yang tidak sepi dari perbincangan umat adalah masalah
pendidikan. Dalam al-Qur'an sendiri telah memberi isyarat bahwa permasalahan
pendidikan sangat penting. Jika Al-Qur'an dikaji lebih mendalam, maka kita akan
menemukan beberapa prinsip dasar pendidikan, yang selanjutnya bisa kita jadikan
inspirasi untuk dikembangkan dalam rangka membangun pendidikan yang bermutu.
Berdasarkan hal di atas, maka dalam makalah ini penulis akan mem-bahas konsepsi Al-
Qur'an tentang "Manusia Sebagai Makhluk Pendidikan".
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Manusia Sebagai Makhluk Yang Perlu Bantuan?
2. Bagaimana Dunia Manusia Sebagai Dunia Terbuka ?
3. Bagaimana Manusia Sebagai Makhluk Yang Dapat dan Perlu Dididik ?
4. Bagaimana Batasan-Batasan Pendidikan
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana Manusia Sebagai Makhluk Yang Perlu Bantuan !
2. Untuk mengtagui bagaimana Dunia Manusia Sebagai Dunia Terbuka !
3. Untuk mengetahui bagaimana Manusia Sebagai Makhluk Yang Dapat dan Perlu
Dididik !
4. Untuk megetahui bagaimana Batasan-Batasan Pendidikan !
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil’alamin, puji dan syukur kami panjatkan hanya kehadirat


Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul: “MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK PENDIDIKAN”. Makalah ini disusun
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan

Meskipun banyak kendala yang saya hadapi dalam menyusun makalah ini, akan
tetapi dengan kerjasama dan bantuan dari berbagai pihak akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan.

Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saya
mengharapkan konstribusi berupa saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan
makalah ini. Akhirnya saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca
dan khususnya bagi saya sebagai penulis.

Bukittinggi, Oktober 2019

Kelompok 7
BAB II

PEMBAHASAAN

A. Manusia Sebagai Makhluk Yang Perlu Bantuan


Dibandingkan dengan makhluk lainnya manusia dalam kehidupannya layak mirip
hewan,dia makan,bergerak,bernafas,bersuara dan perkembang biak dan juga
mempertahankan diri kalau menghadapi bahaya.Tapi ia mempunyai keahlian-keahlian
khusus dan pola kehidupannya serta martabat manusia diatas hewan: Dengan kesadaran
akan kemungkinan dan kemampuan menggunakan alat sekaligus merupakan permulaan
manusia yang berbudaya dan kehidupan hewan.
Perbedaan dalam struktur yang kecil saja dalam kehidupan manusia dapat
membuat akibat yang jauh pada kemampuan dan kemungkinan manusia.karena manusia
adalah makhluk yang aktif dan kreaktif dalam kehidupan alam lingkungannya.kesadaran
akan dirinya mencakup pula kesadaran akan kemampuan dan ketidak mampuannya.
Manusia tampil dalam corak kehidupan yang beraneka ragam,itulah salah satu
Cuma kehidupan manusia saat ini baik dalam status sosialnya,ekonomi pandangan sikap
hidup,kebiasaan,perilaku,pekerjaan dan pencariannya dalam segala penampilannya.betapa
sulit kita melihat orang yang mempunyai gaya hidup yang sama.
Karena manusia dilahirkan tidak dengan suatu spesialisasi ,tertentu berbeda dengan
hewan,misalkan ikan dilahirkan dengan kemampuan berenang,burung dengan kemampuan
terbang dan sebagainya.sedang kita manusia dilahirkan terlalu dini sebelum ia
mendapatkan atau dipersiapkan dengan suatu spesialisasi tertentu,sebelum ia menolong
dirinya sendiri ia sudah terlanjur dilahirkan (peursen 1981) akibatnya:
1. Setelah dewasa kehidupan manusia menunjukan keragaman dalam memenuhi
kebutuhan primernya makan,lindungan (perumahan),pergaulan,bahasa yang
digunakan,cara mempertahankan diri dan tantangan lingkungan dan sebagainya.
2. Karena saat dilahirkan manusia tidak memiliki spesialisasi tertentu maka spesialisasi itu
diperolehnya setelah ia lahir.
Memang manusia dilahir kandemikian.yang belum dapat menolong dirinya
sendiri,dan juga dengan hal yang sangat vital bagi kelangsungan hidupnya.oleh karna itu
pada saat tersebut dan masih lama setelah itu ia masih perlu dibantu.dengan kata lain pada
saat itu manusia berada dalam keadaan perlu bantuan dari pihak lain.tanpa bantuan dari
pihak lainnya mustahil manusia dapat melanjutkan dan melangsungkan hidupnya.
Pada saat dilahirkan, manusia berada dalam keadaan “tidak berdaya”. Ia belum
bisa berdiri, belum bisa berjalan, belum bisa mencari makanan sendiri, dsb. Pada saat ia
dilahirkan, untuk dapat mempertahankan hidupnya saja ia memiliki ketergantungan dan
betapa ia memerlukan bantuan dari ibu dan ayahnya, atau dari orang dewasa lainnya.
Demikian pula dalam rentang waktu tertentu dalam perjalanan hidupnya lebih lanjut,
banyak tantangan dan masalah yang ia hadapi dan harus dapat ia selesaikan.
Sementara itu, selain anak manusia belum dapat memenuhi berbagai kebutuhan
pangan dan sandangnya secara mandiri, ia pun belum menguasai berbagai pengetahuan
(ilmu pengetahuan) dan keterampilan yang dibutuhkannya dalam rangka memecahkan
berbagai masalah hidupnya, ia belum tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana
yang baik dan mana yang jahat, belum tahu ke mana arah tujuan hidupnya dsb. Dengan
demikian, dalam perjalanan hidupnya itu, anak manusia masih harus belajar untuk
“hidup”, adapun hal tersebut mengimplikasikan adanya ketergantungan dan perlunya anak
memperoleh bantuan dari orang dewasa.
Sejak kelahirannya, anak manusia memang telah dibekali insting, nafsu dan
berbagai potensi untuk dapat menjadi manusia atau untuk dapat menjadi dewasa. Manusia
memiliki potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME dan potensi untuk
berbuat baik, namun di samping itu karena hawa nafsunya ia pun memiliki potensi untuk
berbuat jahat. Selain itu, manusia memiliki potensi untuk mampu berpikir (cipta), potensi
berperasaan (rasa), potensi berkehendak (karsa), dan memiliki potensi untuk berkarya.
Tetapi bagi anak manusia, insting, nafsu, dan semua potensi itu belum mencukupi
untuk dapat langsung menjalani dan mengahadapi kehidupan serta untuk dapat mengatasi
semua masalah dan tantangan dalam hidupnya. Contoh: dalam rangka makan, manusia
tidak cukup mengandalkan insting dan nafsu saja. Sebab, makan bagi manusia bukan
hanya menyangkut lapar dan pemenuhan kebutuhan sehubungan dengan rasa lapar. Makan
bagi manusia menyangkut berbagai hal yang cukup kompleks
B. Dunia Manusia Sebagai Dunia Terbuka
1. Eksistensi Manusia bersifat Terbuka.
Setelah kelahirannya, dalam rangka-melanjtukan-eksistensinya, manusia selalu
dihadapkan kepada keharusan untuk menentukan pilihan menjadi ini atau menjadi itu.
Manusia memiliki kebebasan  menentukan pilihan untuk menjadi siapa dia nantinya.
Bersamaan dengan kebebasannya tersebut, manusia pun dituntut harus bertanggung jawab
atas pilihan yang diambilnya. Berkenaan dengan ini dapatlah dimaklumi, bahwa manusia
bersifat terbuka, artinya bahwa dalam eksistennya manusia adalah makhluk yang belum
selesai mengadakan dirinya sendiri. Ia harus merencanakan dan terus menerus berupaya
“mewujudkan” apa yang telah direncanakannya itu, untuk menjadi seseorang pribadi
tertentu sesuai pilihannya (bereksistensi).
2. Perkembangan Manusia bersifat Terbuka.  
Untuk memahami sesuatu kita perlu melakukan perbandingan, demikian pula
untuk memahami sifat perkembangan manusia. Bolk telah mengemukakan teori retardasi
(teori perlambatan dan perkembangan) sebagai hasil perbandingan antara perkembangan
manusia dengan perkembangan hewan. Teorinya menunjukkan bahwa perkembangan
hewan bersifat terspesialisasi (tertutup), sedangkan perkembangan manusia bersifat belum
terspesialisasi (terbuka), dengan itu, apabila dibandingkan dengan hewan.
Nietzschenmenyatakan bahwa manusia adalah binatang/hewan yang tidak ditetapkan atau
das nicht festgesestellte Tier. (C.A. van Peursen, Tanpa Tahun).
Proses saling mengisi dan mengimbangi tidak dirasakan sebagai suatu yang rumit
dan sulit.orang tua merasa tanggung jawab,kasih sayang dan kepercayaan untuk
memberikan bantuan kepadanya dalam rangka memungkinkan kelangsungan
hidupnya,karena anak itu adalah anaknya.sedangkan anak merasa wajar perlu bantuannya
dipenuhi oleh orang tuanya.
Dalam proses ini ia perlu menentukan kepribadian eksistensi,arah hidup,corak,arah
dan tujuan hidupnya karena baginya tidak disodorkan alam siap pakai ready to
wear.untuk memenuhi kebutuhan itu teori retardasi dan bolk membatasi perbedaan
manusia dengan hewan
a. Inisiatif dan daya kreasi manusia
b. Kemampuan manusia untuk merealisasikan kehidupannya
c. Kesadaran manusia akan lingkungannya
d. Keterarahan kehidupan manusia kepada lingkungannya
e. Kesadaran manusia dan tugasnya dalam lingkungan hidupnya
Bagi manusia lingkungan hidupnya tidak sekedar “umbgebung”atau yang
melingkunginya melainkan mengundang untuk mengolah dan mengharapkannya serta
sebagai lapangan pekerjaan.mengenai perbuatan manusia dan lingkungannya terdapat 2
pandangan ekstrim yang saling berlawan:
a. Pandangan Leibniz teori monade
Yang memandang pribadi aktif dalam hidup,tanpa mendapat pengaruh dari
luar.sehingga manusia merupakan penyebab,bukan akibat dan lingkungannya.
b. Pandangan Epifenomenalis
Yang menganggap pribadi hanyalah efek atau akibat dan system perserapan yang
tidak berdaya sama sekali.

Kalau pandangan itu tidak dapat diterima karena manusia sekaligus sebagai akibat
dan penyebab,cuaca maupun efek pasif maupun aktif terhadap lingkungannya.ia mampu
untuk memilih dan berinisiatif ,akan tetapi juga eksistensinya tidak dapat dilepaskan dan
lingkungannya(Brightman).
Beberapa pendapat para ahli tentang manusia yaitu:
1) v.d Berg (1954)
Manusia bukan benda manusia adalah dialog,sehingga ia selalu ada dalam
pertautan dengan lingkungannya dan kita hanya dapat menemukannya dalam keadaan
seutuhnya manakala ia berada dalam situasinya.akan tetapi sebaliknya,setiap pelukisan
situasi kongrit selalu menunjuk kepada orang yang menguhuninyaDan manusia tidak
merupakan suatu yang selesai,melainkan yang harus digarapnya manusia menghayati
dunianya sebagai suatu penugasan.
2) Vloemans
Manusia mendunia dalam dunianya manusia bukan makhluk yang polos,manusia
adalah makhluk yang terarah.terarah pada lingkungan,terarah pada Tuhan,kepada benda-
benda sekitar,kepada sesama manusia,kepada dirinya sendiri,kepada dunia dan dunia
tiadalah tertutup baginya (Drijarkara)
Perkembangan hewan bersifat terspesialisasi/tertutup. Contoh: kerbau lahir
sebagai anak kerbau, selanjutnya ia hidup dan berkembang sesuai kodrat kekerbauannya
(mengkerbau/menjadi kerbau). Mustahil anak kerbau berkembang menjadi serigala.
Sebaliknya, perkembangan manusia bersifat terbuka. Manusia memang telah dibekali
berbagai potensi untuk mampu menjadi manusia, misalnya: potensi untuk beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan YME, potensi untuk dapat berbuat baik, potensi cipta, rasa karsa,
dsb. Namun demikian setelah kelahirannya, berbagai potensi tersebut mungkin
terwujudkan, mungkin kurang terwujudkan, atau mungkin pula tidak terwujudkan.
Manusia mungkin berkembang sesuai kodrat dan martabat kemanusiaannya (memanusia),
sebaliknya mungkin pula ia berkembang ke arah yang kurang atau tidak sesuai dengan
kodrat dan martabat kemanusiaannya (kurang/tidak memanusia).
Demikianlah, perkembangan manusia bersifat terbuka atau serba mungkin,
mungkin menjadi manusia, mungkin kurang menjadi manusia bahkan mungkin tidak
menjadi manusia.
C. Manusia Sebagai Makhluk Yang Dapat dan Perlu Dididik
Rumusan langeveld lebih dekat pada sasaranya manusia sebagai”animal
aducation”manusia hewan yang perlu dididik,agar ia dapat melaksanakan tugas hidupnya
secara sendiri. Dan “animal educabile” bahwa manusia itu adalah hewan yang dapat
dididik:
1. Manusia dapat di Didik
Yang menjadi objek kegiatan tidak begitu saja mau menerima apa yang dididikan
kepadanya.suatu kegiatan yang keberhasilannya tercapai tidak semata-mata karena
kegiatan itu sendiri,melainkan dengan kerjasama dengan objek kegiatan itu.suatu kegiatan
yang bahkan araah dan tujuannya turut ditentukan oleh objek kegiatan itu.pendidik dan
anak didik saling mengisi dan mengimbangi.
Pendidik adalah pemberian bantuan pada anak dalam rangka mencapai
kedewasaannya.
a. Bahwa yang dibantu bukan tidak bisa apa-apa.
b. Bahwa pencapaian kemandirian harus dimulai dengan menerima realita.
Selanjutnya Lungeveld menjelaskan:
a. Manusia adalaah makhluk social,ia harus bergaul dengan sesama manusia.
b. Manusia punya eksistensinya sendiri (individualitas).
c. Manusia bersusila dan bermoral untuk mengarahkan perbuatannya.
d. Manusia unik tidak ada identik satu dengan lainnya.
Keempat prinsip dasar antropologis dan pendidikan memberikan landasan kokoh
untuk membuktikan manusia perlu dididik.
Pendidikan bersifat normatif, artinya dilaksanakan berdasarkan sistem norma dan
nilai tertentu. Pendidikan bertujuan agar manusia berakhlak mulia; agar manusia
berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang bersumber dari agama,
masyarakat dan budayanya. Di pihak lain, manusia berdimensi moralitas, manusia mampu
membedakan yang baik dan yang jahat. Sebab itu, dimensi moralitas mengimplikasikan
bahwa manusia akan dapat dididik. Mengacu kepada prinsip tersebut maka di sini dapat
dinyatakan bahwa tidak ada pendidikan untuk hewan. Hewan tidak akan dapat dididik
karena bukan makhluk bermoral atau tidak memiliki dimensi moralitas. Hewan tidak dapat
membedakan antara baik dan jahat.
Berdasarkan uraian di atas dapat ditemukan lima prinsip antropologis yang
melandasi kemungkinan manusia akan dapat dididik, yaitu:
1) Prinsip potensialitas.
2) Prinsip dinamika.
3) Prinsip individualitas.
4) Prinsip sosialitas.
5) Prinsip moralitas.
2. Manusia sebagai makhluk yang perlu dididik
Pengajaran dan latihan saja belum cukup membuat bertindak susila untuk itu perlu
pendidikan karena:
a. Manusia tidak dilahirkan secara dewasa dan ia tidak dapat bertindak secara mandiri
dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.
b. Kemampuan untuk hidup tidak cukup untuk mempercayakan pada instingnya saja
yaitu pertumbuhan dari dalam dirinya.
c. Tidak mengikuti dorongan-dorongan nafsu saja yang tidak selaras dengan martabat
manusiawi.
Maka tidak ada jalan lain dan pada keharusan untuk mengikuti bahwa manusia
adalah makhluk Yang perlu dididik (Langeveld,1969)
Pendidikan hakikatnya berlangsung dalam pergaulan (interaksi/komunikasi) antar
sesama manusia (antara pendidik dengan anak didik). Melalui pergaulan tersebut pengaruh
pendidikan disampaikan oleh pendidik dan diterima oleh peserta didik. Manusia (anak
didik) hakikatnya adalah makhluk sosial, ia hidup bersama dengan sesamanya. Dalam
kehidupan bersama dengan sesamanya ini akan terjadi hubungan pengaruh timbal balik di
mana setiap individu akan menerima pengaruh dari individu yang lainnya. Sebab itu, maka
sosialitas mengimplikasikan bahwa manusia akan dapat dididik.
Kita dapat mengidentifikasikan empat prinsip antropologis yang menjadi alasan
bahwa manusia dapat dididik. Keempat prinsip yang dimaksud adalah:
1) Manusia belum selesai mengadakan dirinya sendiri.
2) Keharusan manusia untuk menjadi manusia dewasa.
3) Perkembangan Manusia bersifat terbuka.
4) Manusia sebagai makhluk yang lahir tak berdaya, memiliki ketergantungan dan
memerlukan bantuan.
D. Batasan-Batasan Pendidikan
Sebenarnya dapat 2 pertanyaan batas pendidika dan batas untuk kemungkinan
mendapat pendidikan (untuk dididik),(Langeveld,1969).kita meaksanakan pendidikan
dengan waktu atau dengan tujuan dan pribadi dididik yang mana,baru dapat kita tentukan
batasnya.Dan sebelum menjawabnya tentu kita harus mengetahui arti pendidikan yang kita
gunakan:
Pendidikan pendahuluan yaitu belum terdapat hubungan wibawa antara pendidik
dan anak didik (Langeveld). Pendidikan bertujuan untuk mencapai kedewasaan, kalau
kedewasaan telah tercapai maka pendidikan telah selesai. Pendidikan dewasa dan
pendidikan seumur hidup sama dengan pembinaan atau meningkatkan diri bagi orang
dewasa.
Sekarang batas kemungkinan dididik berdasarkan beberapa hal:
Ada hal alami yang dibawa anak sejak lahir,yaitu bakat dan jenis kelamin, ada ajar
yaitu pengaruh orang disekitarnya dan ada dasar dan ajar gabungan keduanya.
1. Masalah Batas Pendidikan
Sebagaimana dikemukakan oleh M.I. Soelaeman (1988:42-51) mengenai batas-
batas pendidikan ini terdapat 2 permasalahan, yaitu:
a. Batas pendidikan
b. Batas kemungkinan untuk mendapatkan pendidikan atau untuk dididik. Sebelum
membahasnya lebih lanjut, perlu disepakati dulu tentang makna pendidikan. Dalam
konteks ini pendidikan adalah upaya sengaja yang dilakukan orang dewasa untuk
membantu atau membimbing anak atau orang yang belum dewasa agar mencapai
kedewasaannya. Inilah acuan kita untuk membahas batas-batas pendidikan.
2. Jenis Batas Pendidikan
Batas pendidikan dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:
a. Batas bawah pendidikan,
b. Batas atas pendidikan,
c. Batas pendidikan berkenaan dengan pribadi anak didik.
Adapun batas kemungkinan dididik berkenaan dengan konsep atau teori mengenai
bakat (potensi) dan perkembangannya.
3. Batas Bawah dan Batas Atas Pendidikan.
Batas bawah pendidikan atau saat pendidikan dapat mulai berlangsung adalah
ketika anak didik mengenal kewibawaan yaitu kurang lebih sekitar 3,5 tahun. Adapun
batas atas pendidikan atau kapan pendidikan berakhir, yaitu ketika tujuan pendidikan telah
tercapai atau ketika anak mencapai kedewasaan. Batas pendidikan sehubungan dengan
tujuan, tercapainya manakala tujuannya telah digariskan semula telah tercapai.
Batas dalam arti ini menjadi penting  artinya apabila kita bersangkutan dengan
berbagai tujuan pendidikan. Misalnya dalam usaha mencapai tujuan sementara-agar anak
pandai makan dengan menggunakan sendok dan garpu-makna batas pendidikan tersebut
dicapai manakala anak telah mampu makan dengan menggunakan sendok dan garpu.
4. Batas pendidikan berhubungan dengan pribadi anak didik
Praktek pendidikan hendaknya dilaksanakan dengan memperhatikan dan
mempertimbangkan anak didik. Pendidik dalam melaksanakan peranan-peranannya
hendaknya tetap menghormati pribadi anak didik. Jangan sampai pendidik mengorbankan
pribadi anak didik. Contoh: Pendidikan yang keras dimana pendidik menggunakan
hukuman badan yang keras dapat menjurus kepada pengabaian pribadi anak didik,
sehingga anak didik nyaris diperlakukan sebagai hewan.
Sebaliknya, pendidikan yang memperlakukan dan bertindak terhadap anak
didiknya seperti terhadap orang dewasa, atas dasar pandangan bahwa anak itu adalah
orang dewasa dalam bentuk mini, sudah dekat pada batas-batas pendidikan dalam artian
ini. Semua itu jelas berkaitan dengan apa yang disebut keanakan (kewajaran anak).
Lavengeld (1980:34) pernah mengingatkan bahwa “pergaulan yang tidak menghormati
keanakan itu menunjukkan kekurangan dan ketidaksempurnaan pedagogis”.
5. Batas kemungkinan dididik.
Diyakini bahwa manusia dilahirkan membawa berbagai potensi atau bakat.
Pendidikan tidak berurusan dengan pengadaan potensi atau bakat. Batas pendidikan hanya
berurusan dengan potensi atau bakat mana yang harus dikembangkan, bagaimana cara
mengembangkannya, dan sejauhmana potensi atau bakat yang ada pada diri anak didik
telah dikembangkan.
Selain itu, batas kemungkinan dididik berhubungan dengan jenis kelamin anak
didik. Anak lahir dengan  kelamin laki-laki atau perempuan bukan merupakan urusan
pendidikan, urusan pendidikan adalah bagaimana mengembangkan anak laki-laki menjadi
laki-laki dan anak perempuan menjadi perempuan.
6. Batas pendidikan  bersifat individual.
Mengingat jenis kelamin dan bakat setiap anak berbeda-beda, implikasinya bahwa
dalam hal ini batas pendidikan bagi setiap anak kemungkinannya berbeda-beda pula. Batas
pendidikan tidak dapat disamaratakan untuk anak yang satu dengan anak yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

Arifin. 1944. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

http://wawanhermawan90.blogspot.co.id/2012/01/makalah-filsafat-pendidikan.html

Anda mungkin juga menyukai