Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

PEMBELAJARAN PKn SD 1
“Keberagaman Karateristik Individu”

Kelompok 2
Elva Riani
Rita Inda Mesra Yani
Belia Fadhila

Dosen Pengampu : Yesi Anita, S.Pd., M.Pd

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha kuasa karena telah memberikan kesempatan
pada penulis untuk menyelesaikan makalah ini. Atas rahmat dan hidayah-Nya lah penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Keberagaman Karakteristik Individu Dalam Kehidupan
Beragama, Suku Bangsa, Ciri Fisik, Psikis Serta Hobi, Toleransi, Kasih Sayang Dalam
Berintegrasi Dengan Sesama Sebagai Pancasila dengan tepat waktu. Makalah Keberagaman
Karakteristik Individu Dalam Kehidupan Beragama, Suku Bangsa, Ciri Fisik, Psikis Serta Hobi,
Toleransi, Kasih Sayang Dalam Berintegrasi Dengan Sesama Sebagai Pancasila disusun guna
memenuhi tugas pada mata kuliah Pembelajaran PKN SD I di Universitas Negeri Padang. Selain
itu, penulis juga berharap agar makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembaca tentang
Keberagaman Karakteristik Individu Dalam Kehidupan Beragama, Suku Bangsa, Ciri Fisik,
Psikis Serta Hobi, Toleransi, Kasih Sayang Dalam Berintegrasi Dengan Sesama Sebagai
Pancasila.
Penulis juga mengucapkan terimakasih pada semua pihak yang telah membantu proses
penyusunan makalah ini. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun akan penulis terima demi kesempurnaan makalah
ini.

Payakumbuh, 19 September 2020

Kelompok 2

BAB I
PENDAHULUAN
A. LatarBelakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita akan menemukan keragaman  sifat dan ciri-ciri
khas dari setiap orang yang kita jumpai. Jadi manusia sebagai pribadi adalah unik dan
beragam. Selain makhluk individu, manusia juga makhluk sosial yang membentuk
kelompok persekutuan hidup. Tiap kelompok persekutuan hidup manusia juga beragam.
Masyarakat sebagai persekutuan itu berbeda dan beragam karena ada perbedaan,
misalnya dalam hal ras, suku, agama, budaya, ekonomi, status sosial, jenis kelamin,
daerah tempat tinggal dan lain-lain. Hal demikian adalah sebagai unsur-unsur yang
membentuk keragaman dalam masyarakat. Keragaman manusia baik dalam tingkat
individu dan tingkat masyarakat merupakan tingkat realitas atau kenyataan yang harus
kita hadapi dan alami. Keragaman individu maupun social adalah implikasi dari
kedudukan manusia, baik sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Kita sebagai
individu akan berbeda dengan seseorang sebagai individu yang lain.
Demikian pula kita sebagai bagian dari satu masyarakat memiliki perbedaan
dengan masyarakat lainnya. Keragaman manusia sudah menjadi fakta social dan fakta
sejarah kehidupan, sehingga pernah muncul penindasan, perendahan, penghancuran dan
penghapusan rasa atau etnis tertentu. Dalam sejarah kehidupan manusia pernah tumbuh
ideology atau pemahaman bahwa orang berkulit hitam adalah berbeda, mereka lebih
rendah dari yang berkulit putih.
Pancasila dan Toleransi, sudah semestinya kita sebagai warga negara Indonesia
harus sadar jika kita adalah sesame warga bangsa, sesame saudara, dan bertempat tinggal
dalam wilayah yang sama. Hendaknya kita saling menghargai satu sama lain agar tercipta
persatuan, kehidupan bermasyarakat yang damai dan aman. 
Jika kita kaitkan toleransi dengan Pancasila, tentulah sangat erat hubungannya.
Dengan bertoleransi maka kita akan dapat menjalankan kehidupan yang di dalamnya
banyak sekali perbedaan. Kita boleh memiliki prinsip sendiri dalam kehidupan, namun
jika dapat menghargai prinsip orang lain maka akan lebih baik lagi untuk kita.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimakasud keberagaman karateristik individu dalam kehidupan beragama,
suku bangsa, ciri fisik, dan psikis serta hobi ?
2. Jelaskan toleransi, kasih sayang dalam berintegrasi dengan sesama sebagai
perwujudan Pancasila ?
C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui keberagaman karateristik individu dalam kehidupan beragama, suku
bangsa, ciri fisik, dan psikis serta hobi.
2. Mengetahui toleransi, kasih sayang dalam berintegrasi dengan sesama sebagai
perwujudan Pancasila.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Keberagaman Karakteristik Individu Dalam Kehidupan Beragama, Suku
Bangsa,Ciri Fisik Dan Psikis Serta Hobi
1. Pengertian Keragaman
Keragaman berasal dari kata ragam yang menurut kamus besar bahasa Indonesia
(KBBI) artinya : tingkah laku, macam jenis, lagu musik : langgam, warna :corak : ragi,
laras (tata bahasa). Keragaman manusia bukan berarti manusia itu bermacam-macam
atau berjenis-jenis seperti halnya binatang dan tumbuhan. Manusia sebagai makhluk
Tuhan tetaplah berjenis satu. Keragaman manusia dimaksudkan bahwa setiap manusia
memiliki perbedaan. Perbedaan itu ada karena manusia adalah makhluk individu yang
setiap individu memiliki cirri-ciri khas tersendiri. Perbedaan itu terutama ditinjau dari
sifat-sifat pribadi, misalnya sikap, watak, kelakuan, temperamen, dan hasrat. Contoh,
sebagai mahasiswa baru kita akan menjumpai teman-teman mahasiswa lain dengan sifat
dan watak yang beragam.
Menurut Widiyanto (2007), Keragaman manusia sudah menjadi fakta social dan
fakta sejarah kehidupan, sehingga pernah muncul penindasan, perendahan,
penghancuran dan penghapusan rasa atau etnis tertentu. Dalam sejarah kehidupan
manusia pernah tumbuh ideology atau pemahaman bahwa orang berkulit hitam adalah
berbeda, mereka lebih rendah dari yang berkulit putih. Contohnya di Indonesia, etnis
Tionghoa memperoleh perlakuan diskriminatif, baik secara sosial dan politik dari suku-
suku lain di Indonesia. Dan ternyata semua yang telah terjadi adalah kekeliruan, karena
perlakuan merendahkan martabat orang atau bangsa lain adalah tindakan tidak masuk
akal dan menyesatkan, sementara semua orang dan semua bangsa adalah sama dan
sederajat. Sehingga keragaman yang dimaksud disini adalah suatu kondisi masyarakat
dimana terdapat perbedaan-perbedaan dalam berbagai bidang, terutama suku bangsa dan
ras, agama dan keyakinan, ideologi, adat kesopanan serta situasi ekonomi.
Struktur masyarakat Indonesia yang majemuk dan dinamis, antara lain ditandai
oleh keragaman suku bangsa, agama, dan kebudayaan. Sebagaimana diketahui bahwa
bangsa Indonesia memiliki keragaman suku bangsa yang begitu banyak, terdiri dari
berbagai suku bangsa, mulai dari sabang hingga Merauke, ada suku Batak, suku
Minang, suku Ambon, suku Madura, suku Jawa, suku Asmat, dan masih banyak
lainnya. Konsep keragaman mengandaikan adanya hal-hal  yang lebih dari satu,
keragaman menunjukan bahwa keberadaan yang lebih dari satu itu berbeda-beda,
heterogen bahkan tidak bisa disamakan. Keragaman Indonesia terlihat dengan jelas pada
aspek-aspek geografis, etnis, sosiokultural dan agama serta kepercayaan.
1) Keberagaman Dalam Kehidupan Beragama
Setiap orang Indonesia pasti memiliki satu keyakinan, membenarkan salah
satu agama yang ada di Indonesia. Terdapat enam agama yang diakui secara resmi
oleh pemerintah Indonesia, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan
Khonghucu. Beberapa perilaku yang perlu diwujudkan dalam keberagaman agama
adalah sebagai berikut:
a. Menghormati serta menghargai agama yang dianut oleh orang lain.
b. Tidak memaksa orang lain untuk berpindah keyakinan
c. Mengamalkan ajaran agama masing-masing dengan sebaik-baiknya
d. Mewujudkan sikap toleransi dan tidak mengganggu ibadah orang-orang yang
berbeda agama.
e. Tidak mencela serta merendahkan agam orang lain.
Sikap diatas sangat perlu untuk dilaksanakan, baik dalam lingkungan keluarga,
sekolah, serta dalam kehidupan bermasyarakat.

Istiqomah & Widiarti (2016: 10) mengemukakan bahwa guru dan sekolah
dalam membangun paradigma keberagaman agama dengan kegiatan pembelajaran
iman yang diintegrasikan materi keberagaman agama dalam pembelajaran pendidikan
pancasila dan kewargangeraan (PPKn). Hal ini menunjukkan bahwa guru berperan
dalam membentuk sikap toleransi sehingga siswa mampu menyikapi berbagai
keragaman secara arif dan bijaksana. Persoalan yang terjadi pada kasus diskriminasi
dan rendahnya menghargai sesama terkadang terdapat pada penyelenggaraan
pendidikan.
Hal ini dikemukakan Rahman (2012: 138- 141) terdapat orang tua yang
mengajarkan kebencian terhadap anaknya seperti , kasus orang tua melarang siswa
berteman dengan anak tidak sekolah dan orang tua melarang siswa berteman dengan
anak yang berbada agama.
Oleh sebab itu , perlu diajarkan kepada siswa bagaimana menjalani kehidupan
dalam beragama agar tidak terjadi pendiskriminasian dan tidak bertoleransi dimasa
mendatang.
2) Keberagaman dalam Suku bangsa
Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan berbagai suku dan ras.
Perbedaan ini tentu bukanlah kendala dalam mewujudkan semangat persatuan dan
kesatuan bangsa Indonesia. Dalam kehidupan, hendaknya kita menghormati harkat
dan martabat orang lain. Menghindari sikap egois dan lebih membuka diri terhadap
pendapat dan pandangan orang lain. Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusiaan, kita dapat bersama-sama meningkatkan semangat persatuan guna
menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang lebih baik di mata dunia. Sebuah
perbedaan tidak selalu berarti bahwa yang satu lebih baik daripada yang lainnya.
Suatu penilaian atau pandangan tidaklah seharusnya disebabkan oleh
perbedaan warna, rupa, serta bentuk, namun lebih kepada bagaimana seseorang
bersikap dalam suatu masyarakat. Jadi, penting untuk kita semua agar bersikap adil
tanpa saling membeda-bedakan satu sama lain.
Suku-suku bangsa yang tersebar di Indonesia merupakan warisan sejarah
bangsa, persebaran suku bangsa dipengaruhi oleh factor geografis, perdagangan laut,
dan kedatangan para penjajah di Indonesia. perbedaan suku bangsa satu dengan suku
bangsa yang lain di suatu daerah dapat terlihat dari ciri-ciri berikut ini.
a) Tipe fisik, seperti warna kulit, rambut, dan lain-lain.
b) Bahasa yang dipergunakan, misalnya Bahasa Batak, Bahasa Jawa, Bahasa
Madura, dan lain-lain.
c) Adat istiadat, misalnya pakaian adat, upacara perkawinan, dan upacara
kematian.
d) Kesenian daerah, misalnya Tari Janger, Tari Serimpi, Tari Cakalele, dan Tari
Saudati.
e) Kekerabatan, misalnya patrilineal(sistem keturunan menurut garis ayah) dan
matrilineal(sistem keturunan menurut garis ibu).
f) Batasan fisik lingkungan, misalnya Badui dalam dan Badui luar.
Di Indonesia terdapat kurang lebih 300 suku bangsa. Setiap suku bangsa hidup
dalam kelompok masyarakat yang mempunyai kebudayaan berbeda-beda satu sama
lain
DAFTAR PUSTAKA

Istiqomah, A., & Widiarti, P. W. (2016). Implementasi pendidikan multikultural sebagai upaya
bela negara dalam membentuk ketahanan nasional di SD Kanisus Eksperimental
Mangunan. Jurnal pendidikan kewarganegaraan dan hukum, 1-15.

Widiyanto, D. (2017). Penanaman Nilai Toleransi dan Keragaman Melalui Strategi Pembelajaran
Tematik Storybook pada Mata Pelajaran PPKn di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan
Kewarganegaraan, 7(2), 28-36.

Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian,
tergantung sudut pandang masing-masing. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh
Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang
kepribadian yang berbeda-beda. Berangkat dari studi yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu
rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian
adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang
unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah
penyesuaian diri. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons
individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan
dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara
pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan.

Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan
antara individu satu dengan individu lainnya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-
fisiknya, misalnya konstitusi dan kondisi fisik, tampang, hormon, segi kognitif dan afektifnya yang saling
berhubungan dan berpengaruh, sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang
bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu, terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah
banyak dikenal, diantaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud, teori Analitik dari Carl Gustav Jung,
teori Sosial Psikologis dari Adler, Fromm, Horney dan Sullivan, teori Personologi dari Murray, teori
Medan dari Kurt Lewin, teori Psikologi Individual dari Allport, teori Stimulus-Respons dari Throndike,
Hull, Watson, teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya.

Sementara itu, Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, yang di
dalamnya mencakup :

a. Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsiten tidaknya dalam
memegang pendirian atau pendapat.
b. Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-
rangsangan yang datang dari lingkungan.

c. Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen

d. Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan.
Seperti mudah tidaknya tersinggung, marah, sedih, atau putus asa

e. Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan
yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari resiko
yang dihadapi.

f. Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Seperti : sifat
pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.

Anak perlu bergaul dengan teman lainya, di samping sebagai segi individu ia juga mempunyai segi
sosial yang perlu diperhatikan dan dikembangkan. Karena bekerja di dalam kelompok dapat juga
meningkatkan cara berpikir mereka sehingga dapat memecahkan masalah dengan baik dan
lancar.[4]
Dalam perkembanganya setiap individu dalam kelompok pasti akan menjumpai problem atau masalah
dalam kelompok tersebut. Masalah kelompok akan muncul jika tidak terpenuhinya kebutuhan-
kebutuhan kelompok, kelas akan jadi membosankan dan akhirnya para siswa dalam kelompok
bersikap pasif, acuh, tidak puas dan belajarnya terganggu.
Ciri-ciri kelompok menurut Lois U Johnson dan Marry A. Bany:
a. Kesatuan kelompok
b. Interaksi dan komunikasi
c. Struktur kelompok
d. Tujuan-tujuan kelompok
e. Kontrol (hukum)
f. Iklim kelompok
Jika kebutuhan tersebut tidak dijumpai dalam kelompok maka akan timbul enam kategori masalah
kelompok dalam pengelolaan kelas. Masalah-masalah yang dimaksud adalah sebagai berikut[5]:
a. Kelas kurang kohesif, misalnya perbedaan jenis kelamin, suku dan tingkatan sosio ekonomi dan
sebaginya.
b. Kelas mereaksi negatif terhadap salah satu anggotanya, misalnya, mengejek anggota kelas yang
dalam pengajaran seni suara, menyanyi dengan suara sumbang.
c. Membesarkan hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya pemberian
semangat kepada badut kelas.
d. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.
e. Semangat kerja rendah, misalnya semacam aksi protes kepada guru karena mengangap tugas yang
diberikan kurang adil.
f. Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru, misalnya gangguan jadwal atau
guru kelas terpaksa diganti sementara oleh guru lain, dan sebagainya.

Daftar pustaka
Roestiyah N.K, Masalah-masalah Ilmu Keguruan, (Jakarta: PT Bina Aksara), hal. 22

Anda mungkin juga menyukai