Anda di halaman 1dari 6

Sains Peternakan Vol. 16 (1), Maret 2018: 34-39 www.jurnal.uns.ac.

id/Sains-Peternakan
DOI: http://dx.doi.org/10.20961/sainspet.v16i1.19700 pISSN 1693-8828 eISSN 2548-9321

Pengaruh Suplementasi Lemak Terproteksi Terhadap Konsumsi dan Kecernaan


Nutrien Sapi Perah Friesian Holstein

A. Pramono1, A. Yusuf1, S. D. Widyawati1, H. Hartadi2


1
Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Surakarta
2
Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi lemak terproteksi terhadap konsumsi dan kecernaan
nutrien sapi perah Friesian Holstein (FH). Penelitian dilaksanakan selama 12 minggu, di Balai Besar Pembibitan Ternak
Unggul Sapi Perah (BBPTU-SP) Baturraden. Materi yang digunakan adalah sapi FH sebanyak 12 ekor dengan perlakuan P0:
ransum basal dan P1: ransum basal + 3% suplementasi lemak terproteksi. Setiap perlakuan dilakukan ulangan sebanyak 6
ulangan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan independent-samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
suplementasi lemak terproteksi tidak memberikan pengaruh (P>0,05) terhadap konsumsi bahan kering (KBK), konsumsi
bahan organik (KBO), kecernaan bahan kering (KcBK), kecernaan bahan organik (KcBO) sapi FH.

Kata kunci : Kecernaan ransum, Sapi perah FH, Suplementasi lemak terproteksi

The Effect of Protected Fat Supplement on the Nutrient Consumption and Digestibility of
Friesian Holstein Dairy Cow

ABSTRACT
The research aims to evaluate protected fat supplementation to Friesian Holstein (FH) dairy cattle based on diet
digestibility (dry matter and organic matter consumption; dry matter and organic matter digestibility). The reseach was
conducted for 12 weeks, at the Breeding Center for Dairy Cattle (BBPTU-SP) Baturraden. The material used is 12 FH dairy
cows. The experiment consists of two treatment i.e.P0: basal diet and P1: basal diet + 3% protected fat supplementation.
Each treatment wasrepeated 6 times.Data were analyzed by independent samples t-test analysis. Result showed that fat
protected supplementation had no effect on dry matter and organic matter consumption; dry matter and organic matter
digestibility.

Keywords: Diet digestibility, FH Dairy cattle, Fat protected supplementation

PENDAHULUAN asam lemak tidak jenuh tinggi. Kendala yang


ditemukan apabila minyak ikan lemuru diberikan
Ketersediaan nutrien dalam ransum sangat secara langsung dalam pakan adalah (1) terjadinya
penting untuk mengoptimalkan produktivitas sapi proses hidrogenasi dalam rumen yang mengubah
perah. Nutrien dalam ransum akan dicerna dan lemak tidak jenuh menjadi jenuh, (2) pemberian
dimetabolisme untuk memenuhi kebutuhan hidup minyak dapat mengganggu aktivitas mikrobia
pokok, produksi dan reproduksi (Pramono et al., selulolitik, sehingga menurunkan laju fermentasi serat
2017). Energi merupakan salah satu komponen kasar dalam rumen, (3) minyak ikan lemuru
nutrien yang harus dipenuhi pada sapi perah terutama mempunyai bau (aroma) yang amis karena
pada trimester 1 (satu). Hal ini dikarenakan pada mengandung senyawa trimethil amin oksida yang
masa ini terjadi peningkatan produksi susu sampai apabila dicampurkan secara langsung dalam ransum
puncak produksi yang menyebabkan prioritas akan menyebabkan rendahnya palatabilitas pakan
pemanfaatan energi utamanya untuk produksi susu. (Pramono et al., 2013).
Fenomena yang terjadi adalah energi dari bahan Pemberian asam lemak tidak jenuh pada sapi
pakan yang dikonsumsi tidak mencukupi kebutuhan perah dapat meningkatkan kinerja reproduksi
sehingga terjadi negative energy balance (NEB) dikarenakan: (1) asam lemak merupakan prekursor
berakibat rendahnya produksi susu, persistensi dan hormon- hormon steroid, (2) asam lemak sebagai
rendahnya kinerja reproduksi post partus. prekursor hormon prostaglandin, (3) konsumsi asam
Peningkatan asupan energi pada sapi perah dapat lemak tidak jenuh dapat mempengaruhi fungsi
dilakukan dengan meningkatkan densitas energi jaringan reproduksi dengan kemampuannya
pakan melalui penggunaan lemak (minyak). Salah mengubah komposisi membran sel yang kemudian
satu sumber energi potensial yang banyak tersedia, akan mengubah fluiditas (sifat cair) membran yang
dan harganya relatif murah adalah minyak ikan dapat mempengaruhi transformasi nutrien di dalam
lemuru. Minyak ikan lemuru banyak mengandung sel sehingga dapat mempengaruhi fungsi biologis
jaringan organ-organ reproduksi seperti
*Penulis Korespondensi: A. Pramono meningkatkan jumlah folikel dalam ovarium,
Alamat : Jl. Ir. Sutami No 36 A Kentingan Jebres Surakarta
E-mail : ahmad_pram@staff.uns.ac.id
meningkatkan ukuran folikel dominan dan kadar
luteinizing hormone serta terbukti dapat

34
Tabel 1. Kandungan nutrien bahan pakan penyusun ransum penelitian
BETN
No Nama bahan BK (%) (PK%) LK (%) SK (%) Abu (%)
(%)
1 Rumput gajah a) 12,74 11,51 10,62 32,97 10,67 34,28
2 Konsentrat 1 b) 89,93 18,74 3,51 15,39 10,70 51,66
3 Konsentrat 2c) 89,57 22,12 4,19 13,77 8,00 51,92
4 Suplemen lemak terproteksi d) 100 17,30 23,15 0,19 18,67 40,69
Keterangan: a) Hasil analisis Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto
b) Hasil analisis Laboratorium Balai Pengujian Mutu Pakan Ternak KEMENTAN
c) Hasil analisis Laboratorium Balai Pengujian Mutu Pakan Ternak KEMENTAN
d) Hasil analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta
meningkatkan fertilitas ternak (Santos et al., 2008; 3. Ransum
Zachut et al., 2010). Ransum yang digunakan dalam penelitian ini
Proteksi asam lemak pada ternak ruminansia yaitu terdiri dari: hijauan, konsentrat 1, konsentrat 2
sangat diperlukan supaya minyak tidak mengalami dan pakan suplemen lemak terproteksi. Ransum
hidrogenasi, tidak mengganggu aktivitas mikrobia disusun berdasarkan kebutuhan nutrien ternak sapi
dalam rumen dan mengeliminir bau amis. Pakan perah dan kandungan nutrien bahan pakan yang
suplemen lemak terproteksi pada penelitian ini dibuat tersaji pada Tabel 1 dan 2.
dengan metode penyabunan dan mikroenkapsulasi, Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan
sehingga pakan suplemen lemak terproteksi tidak pakan suplemen lemak terproteksi adalah minyak
terdegradasi sempurna di dalam rumen, namun dapat ikan lemuru. Pakan suplemen ini dibuat dengan
terurai dan terabsorbsi di dalam abomasum sampai menggunakan metode penyabunan dan
dengan usus halus (Pramono et al., 2013). Penelitian mikroenkapsulasi. Komposisi kimia pakan suplemen
ini bertujuan untuk mengevaluasi suplementasi lemak tercantum pada Tabel 1.
terproteksi terhadap kecernaan ransum sapi perah Pelaksanaan penelitian dibagi menjadi dua tahap
Friesian Holstein. yaitu tahap adaptasi dan tahap koleksi data. Tahap
adaptasi dilakukan selama 2 minggu, tujuan dari
MATERI DAN METODE periode ini untuk membiasakan ternak pada ransum
dan keadaan sekitarnya sehingga akan didapatkan
Materi respons positif terhadap perlakuan yang diberikan.
Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Tahap koleksi data dilakukan setelah masa adaptasi
Pembibitan Ternak Unggul Sapi Perah (BBPTU-SP) selama 1 minggu. Kegiatan yang dilakukan antara
Baturraden Purwokerto dan di Laboratorium Nutrisi lain mencatat pakan yang diberikan, pakan yang
dan Makanan Ternak Fakultas Pertanian Universitas dikonsumsi dan sisa pakan setiap hari serta
Sebelas Maret Surakarta. menimbang dan mencatat berat feses. Koleksi sampel
Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian feses dilakukan dengan cara mengumpulkan feses
antara lain : sapi per ekor setiap hari. Feses dikumpulkan dan
1. Ternak ditimbang per 6 jam setiap hari. Setiap penimbangan
Ternak yang digunakan dalam penelitian ini per 6 jam diambil 3% dari berat feses untuk sampel.
adalah 12 ekor sapi FH umur 3-6 tahun/ jarak laktasi Sampel tersebut dikomposit untuk memperoleh
2-4 dengan berat badan rata-rata 525  40,02 kg sampel feses harian per ekor. Sampel feses yang akan
dengan status fisiologis post partus dan tidak bunting. diuji diperoleh dengan melakukan komposit sampel
2. Kandang dan peralatan feses per ekor selama 7 hari. Sampel kemudian
Penelitian ini menggunakan kandang yang diisi dikeringkan dengan panas matahari, kemudian diuji
oleh 12 ekor sapi dengan luas 2,5 x 1,5 m per ekor dengan analisis proksimat. Penimbangan feses
dan dilengkapi dengan tempat pakan dan air minum. dilakukan sebelum pemberian pakan.
Peralatan yang digunakan berupa timbangan. 4. Pemberian Pakan
Timbangan yang digunakan terdiri dari timbangan Pemberian pakan sesuai dengan kebutuhan
pakan konsentrat, timbangan rumput dan timbangan masing-masing sapi perah, dengan frekuensi
untuk menimbang berat sapi perah. pemberian sesuai dengan jadwal yang ada di BBPTU-
SP Baturraden yakni konsentrat yang telah dicampur
Tabel 2. Rasio bahan pakan penyusun ransum penelitian
Rasio (%)
No. Nama Bahan
P0 P1
1 Rumput gajah 50 50
2 Konsentrat 1 40 37
3 Konsentrat 2 10 10
4 Pakan suplemen lemak terproteksi - 3
Jumlah 100 100

Pengaruh Suplementasi Lemak Terproteksi… (Pramono et al.) 35


Tabel 3. Komposisi dan kandungan nutrien dalam ransum penelitian
Kandungan Nutrien (%)
No. Komposisi Nutrien (%)
P0 P1
1 Bahan kering 51,30 51,60
2 Protein kasar 15,46 15,42
3 Lemak kasar 7,13 7,73
4 Serat kasar 24,02 23,56
5 Abu 10,39 10,63
6 Bahan ekstak tanpa nitrogen 43,00 42,67
7 Total digestible nutrien 64,49 65,33
Sumber: hasil perhitungan Tabel 1 dan Tabel 2
dengan pakan suplemen diberikan 2 kali sehari yaitu suplementasi lemak terproteksi tidak mempengaruhi
pukul 07.00 WIB dan pukul 15.00 WIB. Hijauan konsumsi bahan kering. Hal ini menunjukkan bahwa
diberikan tiga kali sehari yaitu pukul 07.00 WIB, suplementasi lemak terproteksi tidak mengakibatkan
12.00 WIB dan pukul 17.00 WIB sedangkan air penurunan palatabilitas ransum sehingga konsumsi
minum disediakan secara adlibitum. bahan kering antara perlakuan dengan kontrol setara.
Pemberian minyak ikan lemuru secara langsung
Metode (tanpa perlakuan tertentu) pada ransum umumnya
Penelitian ini dilakukan secara eksperimental akan menurunkan palatabilitas ternak akibat bau amis
dan menggunakan uji t dengan 2 perlakuan dan 6 yang sangat menyengat dari minyak ikan lemuru yang
ulangan masing-masing yakni: mengandung senyawa trimethil amin oksida
P0 = Ransum Basal (Pramono et al., 2013). Dengan adanya perlakuan
P1 = Ransum Basal + 3% pakan suplemen lemak proteksi terhadap minyak ikan lemuru, bau amis
terproteksi dari ransum menjadi berkurang dan dengan berubahnya bentuk
Peubah yang diamati dalam penelitian adalah: minyak menjadi tepung selain tidak menurunkan
a. Konsumsi Bahan Kering (kg/ekor/hari) palatabilitas ransum juga memudahkan dalam
Konsumsi BK (kg) = (Pemberian (kg) x % handling pakan suplemen lemak terproteksi.
BK) - (sisa (kg) x % BK) Utomo, (2010) menyatakan bahwa palatabilitas
b. Konsumsi Bahan Organik (kg/ekor/hari) merupakan gabungan dari beberapa faktor yang
Konsumsi BO (kg) = (BK pemberian x % mewakili rangsangan dari penglihatan, aroma,
BO) - (BK sisa x % BO) sentuhan dan rasa yang dipengaruhi oleh faktor fisik
c. Kecernaan Bahan Kering (kg/ekor/hari) dan kimia dari ternak yang berbeda. Sedangkan
(KonsumsiBK  EkskresiBK) menurut Pond et al. (1995) palatabilitas merupakan
KecernaanBK (%) x100%
Konsumsi BK daya tarik suatu pakan atau bahan pakan untuk
menimbulkan selera makan dan langsung dimakan
d. Kecernaan bahan organik (kg/ekor/hari)
oleh ternak. Palatabilitas ternak dipengaruhi oleh
(Konsumsi BO  Ekskresi BO) beberapa faktor diantaranya rasa, bentuk dan bau dari
Kecernaan BO (%)  x 100% pakan itu sendiri (Tilman et al., 1998).
Konsumsi BO
Suplementasi lemak terproteksi pada penelitian
Analisis Data
ini tidak mempengaruhi konsumsi bahan kering dapat
Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji
juga disebabkan kandungan nutrien ransum terutama
t tidak berpasangan/independent-samples t-test.
serat kasar ransum pada kedua perlakuan hampir
sama yaitu sebesar 24,02% (P0) dan 23,56% (P1).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hal ini dikarenakan pakan yang voluminious (bulky)
atau pakan yang mengandung serat kasar yang tinggi
Konsumsi Bahan Kering
akan menurunkan jumlah konsumsi pakan (Kamal,
Rerata konsumsi bahan kering (KBK) pada sapi
1994). Hasil penelitian ini lebih tinggi bila
perah Friesian Holstein (FH) dalam penelitian ini
dibandingkan dengan penelitian Astuti et al. (2009)
tercantum pada Tabel 4.
sapi perah yang mendapatkan substitusi 300
Rerata konsumsi bahan kering sebesar 17,54 dan
g/hari/liter susu pakan suplemen mempunyai
17,76 (kg/ekor/hari) untuk masing-masing perlakuan.
konsumsi bahan kering 13,51 kg/ekor/hari dan
Hasil analisis variansi (Anova) menunjukkan bahwa
Tabel 4. Rerata konsumsi bahan kering sapi FH betina (kg/ekor/hari)
Ulangan
Perlakuan Rerata
1 2 3 4 5 6
P0 16,77 15,05 17,20 18,56 18,35 19,32 17,54ns
P1 16,96 16,51 17,66 17,53 19,27 17,76 17,76ns
NS: non significant (berbeda tidak nyata)

36 Sains Peternakan Vol. 16 (1), 2018


Tabel 5. Rerata konsumsi bahan organik sapi Friesian Holstein (FH) (kg/ekor/hari)
Ulangan
Perlakuan Rerata
1 2 3 4 5 6
P0 14,99 13,54 15,38 16,59 16,40 17,27 15,68ns
P1 15,20 14,79 15,83 15,71 17,26 15,92 15,79ns
NS: non significant (berbeda tidak nyata)
suplementasi 300 g/hari/liter susu pakan suplemen mempunyai konsumsi bahan organik 13,53
mempunyai konsumsi bahan kering 16,73 kg/ekor/hari.
kg/ekor/hari.
Kecernaan Bahan Kering
Konsumsi Bahan Organik Rerata kecernaan Bahan Kering (KcBK) pada
Rerata konsumsi bahan organik pada sapi perah sapi Frieshian Holstein (FH) dalam penelitian ini
Friesian Holstein (FH) dalam penelitian ini tercantum tercantum pada Tabel 6.
pada Tabel 5. Rerata kecernaan bahan kering (KcBK) pada
Rerata konsumsi bahan organik (BO) pada masing-masing perlakuan P0 dan P1 pada penelitian
masing-masing perlakuan P0 dan P1 pada penelitian ini secara berturut-turut adalah 63,67 dan 64,65%.
ini secara berturut-turut adalah 15,68 dan 15,79 Hasil anova menunjukkan bahwa suplementasi lemak
(kg/ekor/hari). Hasil anova menunjukkan bahwa terproteksi tidak mempengaruhi kecernaan bahan
pengaruh suplementasi lemak terproteksi tidak kering (P0,05). Hal ini karena konsumsi bahan
mempengaruhi konsumsi bahan organik. Hal ini kering maupun konsumsi bahan organik yang relatif
dikarenakan konsumsi bahan organik mengikuti sama antara P0 dan P1. Tingkat konsumsi pakan
konsumsi bahan kering. Apabila konsumsi bahan umumnya berpengaruh terhadap kecernaan bahan
kering naik maka konsumsi bahan organik akan naik kering dan bahan organik. Sebagaimana pendapat
pula begitu juga sebaliknya. Nutrien yang terkandung Tilman et al. (1998) yang menyatakan bahwa salah
dalam bahan kering juga terkandung dalam bahan satu faktor yang mempengaruhi kecernaan adalah
organik, sehingga konsumsi bahan organik mengikuti jumlah pakan yang dikonsumsi. Hasil penelitian ini
konsumsi bahan kering. Kamal (1994), menyatakan lebih tinggi bila dibandingkan sapi perah yang
bahwa konsumsi bahan kering mempunyai korelasi mendapatkan substitusi 300 g/hari/liter susu pakan
positif terhadap konsumsi bahan organik, karena suplemen mempunyai kecernaan bahan kering
nutrien yang terkandung dalam bahan organik juga 61,73%. Namun lebih rendah bila dibandingkan
terkandung dalam bahan kering. Putro (2010) dengan sapi perah yang mendapatkan suplementasi
menambahkan bahwa jumlah konsumsi bahan kering 300 g/hari/liter susu pakan suplemen mempunyai
akan berpengaruh terhadap jumlah konsumsi bahan kecernaan bahan kering sebesar 65,52% (Astuti et al.,
organik. Banyaknya konsumsi bahan kering akan 2009).
mempengaruhi besarnya nutrien yang dikonsumsi Hasil ini juga menunjukkan bahwa suplementasi
sehingga jika konsumsi bahan kering tinggi maka lemak terproteksi tidak memberikan dampak negatif
akan meningkatkan konsumsi nutrien yang terhadap lingkungan rumen sehingga proses
terkandung didalam bahan organik. pencernaan fermentatif rumen dapat berjalan dengan
Kandungan energi ransum juga merupakan salah baik dibuktikan dengan tren lebih tingginya KcBK P1
satu faktor yang mempengaruhi konsumsi bahan daripada P0. Dengan adanya proteksi ini sangat
organik. Kandungan TDN ransum P0 64,49% dan P1 bermanfaat untuk menghindari efek negatif akibat
sebesar 65,33%. Kandungan TDN P1 lebih tinggi dari pemberian lemak yang melebihi kebutuhan ternak.
P0 namun karena peningkatannya tidak terlalu banyak Pakan suplemen lemak terproteksi berbentuk tepung
(sedikit) sehingga tidak mempengaruhi konsumsi pada penelitian ini diharapkan merupakan bentuk
bahan organik. Hal ini sebagaimana pendapat Kamal lemak terlindung dan merupakan sumber lemak yang
(1994) yang menyatakan tinggi rendahnya kandungan efektif dalam bahan pakan ternak ruminansia, karena
energi dalam pakan berpengaruh terhadap konsumsi sistem fermentasi rumen tetap normal, kecernaan
pakan ternak. Hasil penelitian ini lebih tinggi bila asam lemaknya tinggi, dan dapat dengan mudah
dibandingkan dengan penelitian Astuti et al. (2009) dicampur dengan beberapa jenis bahan pakan yang
sapi perah yang mendapatkan substitusi 300 lain.
g/hari/liter susu pakan suplemen mempunyai
konsumsi bahan organik 10,48 kg/ekor/hari dan Kecernaan Bahan Organik
suplementasi 300 g/hari/liter susu pakan suplemen Rerata kecernaan bahan organik pada sapi perah
Tabel 6. Rerata kecernaan bahan kering (KcBK) sapi FH (kg/ekor/hari)
Ulangan
Perlakuan Rerata
1 2 3 4 5 6
P0 64,72 57,75 63,15 65,55 63,93 66,94 63,67ns
P1 63,28 62,95 64,13 63,38 67,97 64,65 64,65ns
NS: non significant (berbeda tidak nyata)

Pengaruh Suplementasi Lemak Terproteksi… (Pramono et al.) 37


Tabel 7. Rerata kecernaan bahan organik sapi FH (%)
Ulangan
Perlakuan Rerata
1 2 3 4 5 6
P0 69,60 64,05 69,22 71,26 70,03 72,24 69,40ns
P1 69,06 68,18 70,15 68,97 72,56 68,91 69,64ns
NS: non significant (berbeda tidak nyata)
Frieshian Holstein (FH) dalam penelitian ini Kowalski, Z.M. 1997. Rumen fermentation, nutrient
tercantum pada Tabel 7. flow to the duodenum,and digestibility in bulls
Rerata kecernaan bahan organik pada masing- fed calcium soaps of rapeseed fatty acidsand
masing perlakuan P0 dan P1 pada penelitian ini soya bean meal coated with calcium soaps.
secara berturut-turut adalah 69,40% dan 69,64%. Anim. Feed Science Technology 69: 298 - 303.
Hasil analisis anova menunjukkan bahwa Pond, W. G., D. C. Church. And K. R. Pond. 1995.
suplementasi lemak terproteksi tidak mempengaruhi Basic Animal Nutrition and Feeding. John
kecernaan bahan organik. Hal ini menunjukkan Wiley and Sons. New York.
bahwa suplementasi lemak terproteksi 3% dari Pramono. A., E. Handayanta., D. T. Widayati., P.P
ransum belum dapat menaikkan ataupun menurunkan Putro dan Kustono. 2017. Dietary protected feed
kecernaan bahan organik. Kecernaan bahan organik supplement to increase milk production and
akan mengikuti kecernaan bahan kering karena di quality of dairy cows. Proc. International
dalam bahan kering terdapat bahan organik. Menurut Conference On Food Science and Engineering.
Tilman et al. (1998) dalam bahan kering terdapat Surakarta.
bahan organik dan bahan anorganik, dimana bahan Pramono. A., Kustono, D.T. Widayati., P.P. Putro., E.
organik terdiri atas karbohidrat, protein dan vitamin Handayanta dan H. Hartadi. 2013. Evaluasi
sedangkan bahan anorganik terdiri dari mineral Proteksi Sabun Kalsium Sebagai Pakan
sehingga bahan kering sebanding dengan bahan Suplemen Berdasarkan Kecernaan Bahan
organik. Kamal (1994) menyatakan bahwa pakan Kering, Bahan Organik dan pH In Vitro di
terdiri dari air dan bahan kering sedangkan bahan dalam Rumen DanPasca Rumen. Sains
kering terdiri dari bahan organik dan bahan Peternakan 11(02): 70-78.
anorganik. Suwandyastuti dan Suparwi (1991) Putro, G.A. 2010. Pengaruh Suplementasi Probiotik
menyatakan bahwa bahan pakan yang mempunyai Cair EM4 Terhadap Kecernaan Bahan Kering
kandungan nutrien yang sama memungkinkan dan Bahan Organik Ransum Domba Lokal
kecernaan bahan organiknya mengikuti kecernaan Jantan. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas
bahan keringnya, walaupun terkadang sering juga Sebelas Maret. Surakarta.
terjadi perbedaan. Hasil penelitian ini lebih tinggi bila Santos, J.E.P., T.R. Bilby., W.W. Thatcher., C.R.
dibandingkan dengan dengan penelitian Ueda et al. Staples and F.T. Silvestre. 2008. Long chain
(2003) yakni lemak terproteksi berbahan linseed oil fatty acids of diet as factors influencing
dengan kecernaan bahan organik (KcBO) sebesar reproduction in cattle. Reproduction in Domestic
43,4% dan lebih rendah bila dibandingkan dengan Animals 43(2):23–30.
penelitian Kowalski (1997), KcBO lemak terproteksi Suwandyastuti, S. N. O dan Suparwi. 1991.
berbahan baku minyak kanola 62,6% dan KcBO Kecernaan Nutrien Rumput Lapang Pada
kombinasi minyak kanola dengan bungkil kedelai Domba Jantan Fase Tumbuh. Laporan
sebesar 63,7%. Penelitian. Fakultas Peternakan Universitas
Jenderal Soedirman. Purwokerto.
KESIMPULAN Tillman, A. D., H. Hartadi., S. Reksohadiprodjo., S.
Prawiro Kusuma dan S. Lebdosoekoekojo. 1998.
Pemberian pakan suplemen lemak terproteksi Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada
sejumlah 3% belum memberikan pengaruh terhadap University Press. Yogyakarta.
konsumsi dan kecernaan ransum sapi perah Friesian Ueda. K., A. Ferlay., J. Chabrot., J.J. Loor., Y.
Holstein. Chilliard and M. Doreau. 2003. Effect of
Linseed Oil Supplementation on Ruminal
DAFTAR PUSTAKA Digestion in Dairy Cows Fed Diets with
Different Forage: Concentrate Ratios. Journal of
Astuti. A, A. Agus dan S.P.S, Budi. 2009. Pengaruh Dairy Science 86:3999–4007.
penggunaan high quality feed supplement Utomo, A. J. 2010. Palatabilitas serta Rasio
terhadap konsumsi dan kecernaan nutrien sapi Konsumsi Pakan dan Air Minum kelinci Jantan
perah awal laktasi. Buletin Peternakan 33(2): Lokal Peranakan New Zealand White yang
81-87. Diberi Pelet atau Silase Ransum Komplit.
Kamal, M. 1994. Nutrisi Ternak I. Laboratorium Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian
Makanan Ternak Fakultas Peternakan Bogor. Bogor.
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Zachut, M. Dekel., H. Lehrer., A. Arieli., A. Arav., L.
Livshitz., S. Yakoby and U. Moallem. 2010.

38 Sains Peternakan Vol. 16 (1), 2018


Effects of dietary fats differing in n-6: n-3
ratio fed to high-yielding dairy cows on fatty
acid composition of ovarian compartments,
follicular status, and oocyte quality. Journal of
Dairy Science 93:529–545.

Pengaruh Suplementasi Lemak Terproteksi… (Pramono et al.) 39