Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagian besar industri kimia selalu melibatkan tangki-tangki sebagai penampung
cairan atau gas. Untuk mengalirkan cairan dari penampung ini dapat dipakai pompa
atau dengan memanfaatkan gaya beratnya sendiri karena beda elevasi. Untuk tangki
penampung bahan cair biasanya ditempatkan pada ketinggian tertentu, sehingga
untuk mengalirkan cairan cukup digunakan gaya beratnya sendiri.

Dalam bidang teknik kimia sangat dibutuhkan suatu kemampuan untuk


mangkuantifikasikan dari kelakuan suatu elemen proses atau proses itu sendiri.
Kemampuan tersebut dikenal dari permodelan. Untuk melakukan permodelan
tersebut digunakan prinsip reaksi kimia, proses fisika, dan proses matematika untuk
memperoleh suatu persamaan. Dengan mempergunakan persamaan tersebut dapat
diperkirakan suatu kejadian pada suatu hasil (produk) dengan mengubah suhu,
tekanan, ukuran alat, dan sebagainya.

Pabrik kimia merupakan susunan/rangkaian berbagai unit pengolahan yang


terintegrasi satu sama lain secara sistematik dan rasional. Tujuan pengoperasian
pabrik secara keseluruhan adalah mengubah (mengonversi) bahan baku menjadi
produk yang lebih bernilai guna. Dalam pengoperasiannya, pabrik akan selalu
mengalami gangguan (disturbance) dari lingkungan eksternal. Selama beroperasi,
pabrik harus terus memepertimbangkan aspek keteknikan, keekonomisan, dan
kondisi sosial agar tidak terlalu signifikan terpengaruh oleh perubahan-perubahan
eksternal tersebut.

Dinamika proses menunjukkan untuk kerja proses yang profilnya selalu berubah
terhadap waktu. Dinamika proses selalu terjadi selama sistem proses belum
mencapai kondisi tunak. Keadaan tidak tunak terjadi karena adanya gangguan
terhadap kondisi proses yang tunak.
1.2 Tujuan
a. Mengetahui luas penampang pada tangki 1 dan tangki 2
b. Mengetahui laju alir keluaran pada tangki 1 dan tangki 2 pada putaran 3/4 dan 1 ½
c. Mengetahui harga konstanta k dan n pada tangki 1 dengan bukaan 3/4 putaran.
d. Mengetahui waktu keadaan tunak sebelum dan sesudah diberi gangguan dengan
bukaan valve input 1 3/4 putaran dan valve output 2 putaran
e. Mengetahui pengaruh gangguan pada tangki dengan bukaan valve input 1 putaran
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Dinamika proses adalah variasi unjuk kerja suatu proses dinamika dari waktu ke waktu
sebagai respon terhadap gangguan-gangguan dan perubahan-perubahan terhadap proses
atau sistem teknik kimia setelah diberi gangguan untuk mencapai keadaan tunak (Sater,
1980).

Dinamika proses merupakan variasi dari kinerja proses sepanjang waktu setelah setrop
gangguan yang diberikan kedalam proses. Dinamika proses dapat ditentukan dengan
metode pengosongan tangki menggunakan sistem pemodelan. Sedangkan metode
pengaturan suhu, dilakukan dengan sistem berorde satu dan berorde dua (Ritonga,
2002).

Dinamika proses menunjukkan unjuk kerja proses yang profilnya selalu berubah
terhadap waktu. Dinamika proses selalu terjadi selama sistem proses belum mencapai
kondisi tunak. Keadaan tidak tunak terjadi karena adanya gangguan terhadap kondisi
proses yang tunak (Isdiawan, 2013).

Keadaan tunak (steady state) adalah keadaan dimana suatu sistem berada dalam
kesetimbangan atau tidak berubah lagi seiring waktu, atau tunak, atau mantap. Ada
banyak fenomena didunia ini yang bisa dianggap sebagai keadaan tunak. Contoh sistem
yang tunak (steady state) adalah potensial listrik pada daerah yang bebas muatan
(daerah tanpa muatan listrik), sistem dengan temperatur yang tidak berubah seiring
waktu pada daerah yang bebas sumber panas, potensial kecepatan pada aliran tak
mampu mampat yang bebas pusaran dan bebas sumber kecepatan (McCabe, 1976).

Keadaan tidak tunak (unsteady state) adalah keadaan dimana suatu sistem berada tidak
dalam kesetimbangan atau akan berubah lagi seiring waktu, atau tidak, atau tidak
mantap (McCabe,1976).
Valve dapat dioperasikan secara manual, baik dengan menggunakan pegangan tuas
pedal dan lain sebagainya. Selain dioperasikan secara otomatis dengan menggunakan
prinsip perubahan aliran, tekanan dan suhu. Perubahan tersebut akan mempengaruhi
diafragma, pegas ataupun piston sehingga secara otomatis akan menggerakkan katup
dengan sistem buka tutup (Brown,1950).

Terdapat berbagai macam jenis valve, beserta dengan kriteria penggunaannya masing-
masing. Berikut fungsi-fungsi utama valve:
a. Untuk menutup dan membuka aliran dengan syarat, ketika terbuka memiliki
hambatan aliran dan pressure loss yang minimum. Contohnya gate, ball, plug, dan
butterfly valve.
b. Untuk mengatur aliran, dengan cara menahan aliran dengan perubahan arah atau
menggunakan suatu hambatan bisa juga dengan kombinasi keduanya.
c. Untuk mencegah aliran balik (block flow), biasanya menggunakan checkvalve (lift
check atau swing check). Valve ini akan tetap terbuka dan akan tertutup apabila
terdapat aliran yang berlawanan arah.
d. Untuk mengatur tekanan, dalam beberapa aplikasi valve, tekanan yang masuk (line
pressure) harus dikurangi untuk mencapai tekanan yang digunakan. Biasanya
menggunakan pressure-packingvalve atau regulator.
e. Untuk pressure relief dengan menggunakan relief valve dan safety valve. Relief
valve digunakan untuk mengatasi bila adanya tekanan yang berlebihan yang dapat
mengganggu proses aliran bahkan kegagalan proses. Sedangkan safety valve
menggunakan per (spring loaded) valve ini akan membuka jika tekanan melebihi
batas yang sudah ditentukan.
(McCabe, 1976)

Luas penampang tangki dikalibrasi dengan mengalurkan grafik volume terhadap


penurunan ketinggian air dalam tangki (h). Volume tangka dapat dihitung dengan
rumus:

π D2
V= × h ………...……………….……………….(2.1)
4
π D2
Dimana adalah luas penampang tangki. Dengan demikian A adalah gradient dari
4
grafik V-h. Jika diketahui luas penampang, maka laju alir volumetric dari valve yang
dgunakan dapat diketahui (Tim Dosen Teknik kimi, 2018).

Masing-masing valve mempunyai karakteristik dan laju alir berbeda-beda.


Pengukuran laju volumetric dapat dilakukan dengan mengukur volume keluaran tiap
selang waktu tertentu. Debit air biasa dihitung dengan mencari gradient grafik volume
terhadap waktu. Persamaan yang dapat digunakan dalam penggukuran debit air yaitu:
∆V
Q= ……………………………………….(2.2)
∆t
(Tim Dosen Teknik kimi, 2018)

Proses pengosongan tangki dimaksudkan untuk menentukan parameter laju volumetric


keluaran (k dan n). Laju volumetric keluaran tangki merupakan fungsi dari ketinggian
dalam tangki (Tim Dosen Teknik kimi, 2018).

Dasar percobaan ini adalah persamaan Bernouli:

P2 1 2 P1 1 2
+ v 2 +g h 2 = + v 1 +g h1……………………… (2.3)
P 2 P 2
(Tim Dosen Teknik kimi, 2018)

Pada proses pengosongan tangki ini, neraca massa dalam tangki adalah:
Akumulasi air = massa air masuk- massa air kelua……(2.4)

Pada proses pengosongan tangka massa air masuk = 0, makadiperoleh persamaan yaitu:
Akumulasi air = - massa air keluar……………..………(2.5)
dV
= -Q out......................................................(2.6)
dt
dV
A = -k. h n......................................................(2.7)
dt
dV k
= - h n......................................................(2.8)
dt A
(Tim Dosen Teknik kimi, 2018)

Dari persamaan tersebut dapat disimpulkan bahwa laju perubahan ketinggian air dalam
tangki bergantung pada ketinggian setiap saat. Konstanta k dan n merupakan parameter
yang menunjukkan keidealan tangki. Data yang diperoleh adalah h dan t. Nilai k dan n
dapat dicari dengan menggunakan linearisasi pesamaan neraca massa yaitu:

dt k
ln
dt ( )
= n. ln h - ln
A
……………………………..(2.9)

Dimana - l n ( kA ) adalah gradien garis.


(Tim Dosen Teknik kimi, 2018)
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat – Alat
a. Rangkaian alat dinamika proses
b. Gelas kimia 1000 mL
c. Stopwatch

3.1.2 Bahan – Bahan


a. Air

3.2 Rangkaian Alat

Gambar 3.1 Skema Rangkaian Alat Dinamika Proses


Keterangan:
a. Bak Tangki Penampungan
b. Pompa
c. Kran
d. Meteran
e. Tangki 2
f. Tangki 1
g. Reservoir

3.3 Prosedur Percobaan


3.3.1 Penentuan Luas Penampang Tangki
a. Dikosongkan tangki 1, kemudian di isi dengan air menggunakan gelas ukur 1000
mL
b. Dicatat tinggi air pada tangki 1 pada setiap penambahan volume tangki sebanyak
1000 mL
c. Diulangi percobaan diatas sebanyak 10 kali
d. Dibuat kurva antara volume air terhadap ketinggian air dalam tangki untuk
mencari luas penampang tangki
e. Diulangi percobaan dengan tangki 2

3.3.2 Penentuan Laju Alir Keluaran Tangki


a. Diisi tangki 1 mencapai ketinggian 30 cm
b. Dicatat ketinggian air pada tangki 1 saat t=0
c. Dibuka valve keluaran tangki 1 dengan bukaan 3/4 dan 1 ½ putaran
d. Dicatat waktu yang dibutuhkan pada setiap penurunan tinggi air pada tangki
setiap 2 cm dengan menggunakan stopwatch
e. Diulangi percobaan diatas dengan tangki 2

3.3.3 Penentuan Nilai k dan n pada Tangki


a. Diisi tangki 1 mencapai ketinggian 30 cm
b. Dicatat tinggi air pada tangki 1 saat t=0
c. Dibuka valve keluaran tangki 1 dengan bukaan 3/4 dan 2 ½ putaran
d. Dicatat waktu yang dibutuhkan pada setiap penurunan tinggi air pada tangki
setiap 2 cm dengan menggunakan stopwatch
e. Diulangi percobaan dengan tangki 2

3.3.4 Simulasi gangguan pada tangki


a. Ditentukan bukaan valve input yaitu 3/4 putaran dan bukaan valve output yaitu 1
putaran
b. Dicatat tinggi air pada tangki saat t=0
c. Dibuka valve input dan keluaran tangki dengan bukaan yang telah ditentukan
d. Dicatat ketinggian air didalam tangki setiap 10 detik
e. Dilakukan percobaan ini secara kontinyu hingga mencapai keadaan tunak
f. Diberi gangguan pada tangki dengan kondisi tunak yaitu dengan putaran 1 selama
2 menit, lalu tutup bukaan kran gangguan tersebut.
g. Dicatat ketinggian air dalam tangki setiap 10 detik
h. Dilakukan percobaan ini hingga mencapai keadaan tunak kembali
BAB IV
HASIL DAN PEBAHASAN

4.1 Data Hasil Percobaan


4.1.1 Penentuan Luas Penampang Tangki 1 Dan Tangki 2
Tabel 4.1 Data Perhitungan Luas Penampang Tangki 1
No. Volume (mL) h (cm)
1 1000 2,1
2 2000 4,1
3 3000 6,2
4 4000 8,2
5 5000 10,2
6 6000 12,2
7 7000 14,4
8 8000 16,4
9 9000 18,5
10 10000 20,5

Tabel 4.2 Data Perhitungan Luas Penampang Tangki 2


No. Volume (mL) h (cm)
1 1000 2,1
2 2000 4,1
3 3000 6,2
4 4000 8,2
5 5000 10,3
6 6000 12,4
7 7000 14,5
8 8000 16,5
9 9000 18,6
10 10000 20,8
4.1.2 Perhitungan Laju Alir Keluaran Tangki 1 dan Tangki 2

Tabel 4.3 Perhitungan Laju Alir Keluaran Tangki 1


No Bukaan valve 3/4 Putaran Bukaan valve 1 1/2 Putaran
. h (cm) t(s) v(mL) h (cm) t (s) v (mL)
1 30 0 14643,9 30 0 14643,9
2 28 21,51 13667,64 28 7,37 13667,64
3 26 42,39 12691,38 26 14,21 12691,38
4 24 65,62 11715,12 24 20,83 11715,12
5 22 88,21 10738,86 22 27,27 10738,86
6 20 111,48 9762,6 20 33,98 9762,6
7 18 136,29 8786,34 18 41,38 8786,34
8 16 161,11 7810,08 16 48,59 7810,08
9 14 186,85 6833,82 14 55,82 6833,82
10 12 213,42 5857,56 12 63,47 5857,56
11 10 241,84 4881,3 10 71,21 4881,3
12 8 270,16 3905,04 8 78,8 3905,04
13 6 300,1 2928,78 6 87,1 2928,78
14 4 331,99 1952,52 4 95,54 1952,52
15 2 363,97 976,26 2 104,67 976,26
Tabel 4.4 Perhitungan Laju Alir Keluaran Tangki 2
No Bukaan valve 3/4 Putaran Bukaan valve 1 1/2 Putaran
. h (cm) t(s) v(mL) h (cm) t (s) v (mL)
1 30 0 14674,5 30 0 14674,5
2 28 13,51 13696,2 28 7,29 13696,2
3 26 26,11 12717,9 26 11,28 12717,9
4 24 37,94 11739,6 24 16,43 11739,6
5 22 50,67 10761,3 22 21,66 10761,3
6 20 63,69 9783 20 26,68 9783
7 18 76,55 8804,7 18 31,85 8804,7
8 16 90,18 7826,4 16 37,01 7826,4
9 14 104,8 6848,1 14 42,38 6848,1
10 12 119,5 5869,8 12 47,77 5869,8
11 10 134,48 4891,5 10 53,93 4891,5
12 8 150,73 3913,2 8 60,01 3913,2
13 6 166,54 2934,9 6 66,17 2934,9
14 4 183,65 1956,6 4 72,97 1956,6
15 2 201,49 978,3 2 79,73 978,3
4.1.3 Penentuan Nilai k dan n Pada Tangki 1 dan 2
Tabel 4.5 Data Penentuan Nilai k dan n Tangki 1
No Bukaan Valve 1 1/2 Putaran
. h (cm) t (s) dh/dt A.(-dh/dt) ln (A.-dh/dt) ln h
1 30 0 -0,3971 194,2415 5,2691 3,4012
2 28 7,13 -0,3900 190,7538 5,2510 3,3322
3 26 13,83 -0,3833 187,4765 5,2337 3,2581
4 24 18,1 -0,3790 185,3879 5,2225 3,1781
5 22 23,2 -0,3739 182,8932 5,2089 3,0910
6 20 28,19 -0,3689 180,4523 5,1955 2,9957
7 18 33,21 -0,3639 177,9968 5,1818 2,8904
8 16 38,98 -0,3581 175,1744 5,1658 2,7726
9 14 44,21 -0,3529 172,6161 5,1511 2,6391
10 12 49,78 -0,3473 169,8916 5,1352 2,4849
11 10 55,7 -0,3414 166,9958 5,1180 2,3026
12 8 61,88 -0,3352 163,9729 5,0997 2,0794
13 6 68,2 -0,3289 160,8814 5,0807 1,7918
14 4 74,67 -0,3224 157,7166 5,0608 1,3863
15 2 81,89 -0,3152 154,1850 5,0382 0,6931

Tabel 4.6 Data Penentuan Nilai k dan n Tangki 2


No Bukaan Valve 1 1/2 Putaran
. h (cm) t (s) dh/dt A.(-dh/dt) ln (A.-dh/dt) ln h
1 30 0 -0,3971 194,2415 5,2691 3,4012
2 28 7,13 -0,3900 190,7538 5,2510 3,3322
3 26 13,83 -0,3833 187,4765 5,2337 3,2581
4 24 18,1 -0,3790 185,3879 5,2225 3,1781
5 22 23,2 -0,3739 182,8932 5,2089 3,0910
6 20 28,19 -0,3689 180,4523 5,1955 2,9957
7 18 33,21 -0,3639 177,9968 5,1818 2,8904
8 16 38,98 -0,3581 175,1744 5,1658 2,7726
9 14 44,21 -0,3529 172,6161 5,1511 2,6391
10 12 49,78 -0,3473 169,8916 5,1352 2,4849
11 10 55,7 -0,3414 166,9958 5,1180 2,3026
12 8 61,88 -0,3352 163,9729 5,0997 2,0794
13 6 68,2 -0,3289 160,8814 5,0807 1,7918
14 4 74,67 -0,3224 157,7166 5,0608 1,3863
15 2 81,89 -0,3152 154,1850 5,0382 0,6931
4.1.5 Simulasi Gangguan Pada Tangki
Tabel 4.7 Simulasi Gangguan Pada Tangki
Pada Keadaan Tunak Diberi Gangguan
h (cm) t (s) h (cm) t (s)
30 0 18,3 0
29,5 10 17,2 10
29 20 16,5 20
28,3 30 15,8 30
27,5 40 15 40
26,7 50 14 50
26 60 13,4 60
25,2 70 12,5 70
25,2 80 12 80
24,6 90 11,3 90
23,8 100 10,5 100
22,3 110 9,8 110
21,5 120 9,3 120
20 130 8,8 130
19 140 8 140
18,3 150 7,3 150
17 160 7 160
16,1 170 6,5 170
15,3 180 6,3 180
13,5 190 6 190
12,3 200 5,5 200
11,8 210 5 210
10,8 220 5 220
10 230 4,7 230
9,5 240 4 240
9 250 4 250
8,5 260 4 260
8 270 3,5 270
7,5 280 3,3 280
7 290 3,3 290
6,5 300 3 300
6 310 3 310
5,5 320 2,5 320
5,3 330 2,5 330
5 340 2,5 340
4,5 350 2 350
4 360 2 360
4 370 2 370
3,5 380 2 380
3,5 390 2 390
3 400
3 410
3 420
2,5 430
2,5 440
2 450
2 460
2 470
2 480
2 490

4.2 Pembahasan
12000 4.2.1

10000
f(x) = 488.13 x − 6.16 Penentuan
R² = 1
8000
Luas
Volume (mL)

6000 Penampang

4000
Tangki 1
Dan Tangki
2000
2
0
0 5 10 12000 15 20 25
Tinggi (cm)
10000
f(x) = 489.15 x + 6.83
R² = 1
8000
Volume (mL)

6000

4000

2000

0
0 5 10 15 20 25
Tinggi (cm)

Gambar 4.1 Penentuan Luas Penampang Tangki 1

Gambar 4.2 Penentuan Luas Penampang Tangki 2

Berdasarkan gambar 4.1 dan 4.2, untuk menentukan luas penampang maka dibuat grafik
dengan menggunakan sumbu x = h (cm) dan y = V (mL), dan menghasilkan persamaan
dengan menggunakan regresi garis linier: y = ax + b. Dimana y adalah volume tangki 1
dan 2 (cm3), a adalah luas penampang dari tangki 1dan 2 (cm2), dan x adalah ketinggian
permukaan air pada tangki 1dan 2 (cm). Dan diperoleh luas penampang tangki 1 yaitu
488,13 cm2 dan tangka 2 yaitu 489,15 cm2.
16000

14000
f(x) = − 37.64
100.46x x++14170.97
14104.17
R² = 1
12000
Volume Tangki 1 (mL)

10000

8000 Putaran 3/4


Linear (Putaran 3/4)
6000 Putaran 1 1/2
Linear (Putaran 1 1/2)
4000

2000

0
0 50 100 150 200 250 300 350 400
Waktu (s)

Gambar 4.3 Penentuan Laju Alir Tangki 1

16000

14000 f(x) == −− 68.66


176.19x x++14325.24
14582.16
f(x)

R² == 11
12000
Volume Tangki 2 (mL)

10000 Putaran 3/4


Linear (Putaran 3/4)
8000
Linear (Putaran 3/4)
6000 Putaran 1 1/2
Linear (Putaran 1 1/2)
4000 Linear (Putaran 1 1/2)
2000

0
0 50 100 150 200 250
Waktu (s)

Gambar 4.4 Penentuan Laju Alir Tangki 2

Berdasarkan gambar 4.3 dan 4.4, untuk menentukan laju alir tangki 1 dan 2 maka dibuat
grafik dengan menggunakan sumbu x = t (s) dan y = V (mL), dan menghasilkan
persamaan dengan menggunakan regresi garis linier: y = ax + b. Dimana y adalah
volume pada tangki 1 dan 2 (cm3), a adalah laju alir dari tangki 1dan 2 (cm 2/s), dan x
adalah waktu penurunan permukaan air pada tangki 1dan 2 (s). Dan diperoleh laju alir
tangka 1 dengan bukaan ¾ putaran valve yaitu 37,639 cm2/s dan bukaan 1,5 putaran
valve yaitu 100,46 cm2. Dan laju alir pada tangka 2 dengan bukaan ¾ putaran valve
yaitu 68,657 cm2/s dan bukaan 1,5 putaran valve yaitu 176,19 cm2. Tanda minus (-)
pada persamaan regresi linier menunjukkan nilai laju alir yang meninggalkan/keluar
dari tangka 1 dan 2. Semakin besar bukaan valve, maka semakin besar debit yang keluar
dari tangki. Nilai Q tangki 2 > tangki 1, yang disebabkan oleh adanya pengaruh waktu
keluaran air pada tangka 1 atau 2.

35

30
f(x) = 0 x² − 0.1 x + 30.13 Gambar 4.5
25 R² = 1 Regresi Tak
Linier
Tinggi (cm)

20
untuk
15

10

0
0 50 100 150 200 250 300 350 400
Waktu (s)

Mendapatkan Persamaan dh/dt pada Tangki 1

4.0000
3.9000
3.8000 f(x) = 0.16 x + 3.31
R² = 0.94
ln (-A.dh/dt)

3.7000
3.6000
3.5000
3.4000
3.3000
3.2000
0.5000 1.0000 1.5000 2.0000 2.5000 3.0000 3.5000 4.0000
ln h

Gambar 4.6 Penentuan Harga K dan n pada Tangki 1

Dari grafik 4.5 diperoleh persamaan regresi tak linier yaitu: y = 0,00005x2 - 0,1008x +
30,132. Lalu persamaan tersebut diturunkan untuk memperoleh nilai dh/dt, sehingga
persamaanya setelah diturunkan yaitu: y = 0,0001x – 0,1008. Dimana y adalah dh/dt
dan x adalah t (s), dan diperoleh data seperti pada tabel 4.5. Pada grafik 4.6 dengan
menggunakan kurva grafik dengan sumbu x + ln h dan sumbu y = ln(-A.dh/dt) diperoleh
regresi linier yaitu: y = 0,16x + 3,3082. Dimana menurut rumus/persamaan untuk
menentukan nilai k dan n yaitu: ln(-A.dh/dt) = ln n – ln k, diperoleh nilai n yaitu 0,16
dan k =exp(3,3082) = 27,3386.

35

30 f(x) = 0 x² − 0.4 x + 30.71


R² = 1
25

20
Tinggi (h)

15

10

0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Waktu (s)

Gambar 4.7 Regresi Tak Linier untuk Mendapatkan Persamaan dh/dt pada Tangki 2

5.3000
5.2500
5.2000 f(x) = 0.09 x + 4.94
R² = 0.92
ln (-A.dh/dt)

5.1500
5.1000
5.0500
5.0000
4.9500
4.9000
0.5000 1.0000 1.5000 2.0000 2.5000 3.0000 3.5000 4.0000
ln h

Gambar 4.8 Penentuan Harga K dan n pada Tangki 2


Dari grafik 4.7 diperoleh persamaan regresi tak linier yaitu: y = 0,0005x 2 - 0,3971x +
30,714. Lalu persamaan tersebut diturunkan untuk memperoleh nilai dh/dt, sehingga
persamaanya setelah diturunkan yaitu: y = 0,001x – 0,3971. Dimana y adalah dh/dt dan
x adalah t (s), dan diperoleh data seperti pada tabel 4.6. Pada grafik 4.8 dengan
menggunakan kurva grafik dengan sumbu x + ln h dan sumbu y = ln(-A.dh/dt) diperoleh
regresi linier yaitu: y = 0,0873x + 4,9378. Dimana menurut rumus/persamaan untuk
menentukan nilai k dan n yaitu: ln(-A.dh/dt) = ln n – ln k, diperoleh nilai n yaitu 0,0873
dan k =exp(4,9378) = 139,4630.

20
18
f(x) = 0.01 x² − 0.88 x + 18.95
16 R² = 1
14
Tinggi (cm)

12
10
8
6
4
2
0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

Waktu (s)

Gambar 4.9 keadaan Tunak pada Tangki 1

35

30
f(x) = − 0.06 x + 27.98
25 R² = 0.94

20

15

10

0
0 100 200 300 400 500 600

Gambar 4.10 Keadaan Tunak Setelah Diberikan Gangguan pada Tangki 1

Dari grafik 4.9 diperoleh hasil air mencapai keadaan tunak sebelum diberi gangguan
pada ketinggian 2 cm dalam waktu 480 s. Dan dari grafik 4.10 diperoleh hasil air
mencapai keadaan tunak setelah diberi gangguan pada ketinggian 2 cm dalam waktu
390 s. sehingga dapat disimpulkan bahwa air sebelum dan sesudah diberikan gangguan
memiliki ketinggian yang sama dengan waktu yang berbeda untuk mencapai kondisi
tunak. Keadaan tunak dapat dilihat ketika tidak terjadi perubahan ketinggian permukaan
air dalam waktu tertentu.
BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa :
a. Luas penampang pada tangki 1 dan tangki 2 secara berturut-turut yaitu 488,13 cm 2
dan 489,15 cm2.
b. Laju alir keluaran pada tangki 1 dengan bukaan valve 3/4 dan 1 ½ putaran secara
berturut-turut yaitu 37,639 cm2/s dan 100,46 cm2 . Laju alir keluaran pada tangki 2
dengan bukaan valve 3/4 dan 1 ½ putaran secara berturut-turut yaitu 68,657 cm2/s
dan 176,19 cm2.
c. Harga konstanta k dan n pada tangki 1 dengan bukaan valve 3/4 putaran secara
berturut-turut yaitu 0,16 dan 27,3386.
d. waktu untuk mencapai keadaan tunak sebelum dan sesudah diberi gangguan dengan
bukaan valve input 1 3/4 putaran dan valve output 2 putaran secara berturut-turut
yaitu 480 s dan 390 s.
e.
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen Teknik Kimia, 2018, Penuntun Praktikum Operasi Teknik Kimia 1,
Universitas Mulawarman, Samarinda.
LAMPIRAN

1. Perhitungan Luas Penampang Tangki 1

Persamaan regresi : y=488,13 x−6,158


Menghitung diameter
1
A= ×π×D 2
4
A×4
D=
√ π
488,13×4
D=

3,14
D=24 ,9364 cm
Menghitung jari-jari
D
r=
2
24 ,9364
r=
2
r=12 , 4682 cm
2. Perhitungan Luas Penampang Tangki 2

Persamaan regresi : y=489 ,15 x+6 ,8333


Menghitung diameter
1
A= ×π×D 2
4
A×4
D=
√ π
489, 15×4
D=

3, 14
D=24 ,9624 cm
Menghitung jari-jari
D
r=
2
24 ,9624
r=
2
r=12 , 4812 cm
3. Perhitungan Laju Alir Tangki 1
a. Volume pada ketinggian 30 cm

V=π×r 2×h
V= A×h
V=488,13×30
V=14643,90 mL
b. Volume pada ketinggian 28 cm
V = A×h
V =488,13×28
V =13667,64 mL
c. Volume pada ketinggian 26 cm
V = A×h
V =488,13×26
V =12691,38 mL
d. Volume pada ketinggian 24 cm
V = A×h
V =488 ,13×24
V =11715 ,12 mL
e. Volume pada ketinggian 22 cm
V= A×h
V=488,13×22
V=10738,86 mL
f.Volume pada ketinggian 20 cm
V = A×h
V =488,13×20
V =9762,60 mL
g. Volume pada ketinggian 18 cm
V = A×h
V =488,13×18
V =8786 ,34 mL
h. Volume pada ketinggian 16 cm
V= A×h
V=488,13×16
V=7810,08 mL
i.Volume pada ketinggian 14 cm
V =A×h
V =488,13×14
V =6833,82 mL
j.Volume pada ketinggian 12 cm
V= A×h
V=488,13×12
V=5857,56 mL
k. Volume pada ketinggian 10 cm
V= A×h
V=488,13×10
V=4881,30 mL
l.Volume pada ketinggian 8 cm
V = A×h
V =4881×8
V =3905,04 mL
m. Volume pada ketinggian 6 cm
V = A×h
V =488,13×6
V =2928,78 mL
n. Volume pada ketinggian 4 cm
V = A×h
V =488,13×4
V =1952,52 mL
o. Volume pada ketinggian 2 cm
V = A×h
V =488,13×2
V =976,26 mL

4. Perhitungan Laju Alir Tangki 2


a. Volume pada ketinggian 30 cm
V= A×h
V=489,15×30
V=14674 ,5 mL
b. Volume pada ketinggian 28 cm
V = A×h
V =489,15×28
V =13692,2 mL
c. Volume pada ketinggian 26 cm
V= A×h
V=489,15×26
V=12717,9 mL
d. Volume pada ketinggian 24 cm
V = A×h
V =489,15×24
V =11739 ,6 mL
e. Volume pada ketinggian 22 cm
V =A×h
V =489,15×22
V =10761 ,3 mL
f.Volume pada ketinggian 20 cm
V = A×h
V =489,15×20
V =9783,0 mL
g. Volume pada ketinggian 18 cm
V= A×h
V=489,15×18
V=8804 ,7 mL
h. Volume pada ketinggian 16 cm
V = A×h
V =489,15×16
V = 7826,4 mL
i.Volume pada ketinggian 14 cm
V = A×h
V =489,15×14
V =6848,1mL

j.Volume pada ketinggian 12 cm


V = A×h
V =489,15×12
V =5869 ,8 mL
k. Volume pada ketinggian 10 cm
V= A×h
V=489,15×10
V=4891,5 mL
l.Volume pada ketinggian 8 cm
V= A×h
V=489,15×8
V=3913,2 mL
m. Volume pada ketinggian 6 cm
V= A×h
V=489,15×6
V=2934 ,9 mL
n. Volume pada ketinggian 4 cm
V= A×h
V=489,15×4
V=1956,6 mL
o. Volume pada ketinggian 2 cm
V = A×h
V =489,15×2
V =978,3 mL
dh
5. Perhitungan dt Tangki 1
Persamaan regresi :
y=0 , 00005 x 2−0 ,1008 x +30 ,132
dh
=0 ,0001 x−0 , 1008
dt

a. Pada ketinggian 30 cm
dh
=0 ,0001 x−0 , 1008
dt
dh
=( 0 , 0001×0 )−0 , 1901
dt
dh
=−0 ,1008
dt
b. Pada ketinggian 28 cm
dh
=0 ,0001 x−0 , 1008
dt
dh
=( 0 , 0001×21 , 93)−0 ,1008
dt
dh
=−0 ,0986
dt
c. Pada ketinggian 26 cm
dh
=0 ,0001 x−0 , 1008
dt
dh
=( 0 , 0001×42 , 82)−0 , 1008
dt
dh
=−0 ,0965
dt
d. Pada ketinggian 24 cm
dh
=0 ,0001 x−0 , 1008
dt
dh
=( 0 , 0001×63 , 89)−0 , 1008
dt
dh
=−0 ,0944
dt
e. Pada ketinggian 22 cm
dh
=0 ,0001 x−0 , 1008
dt
dh
=( 0 , 0001×84 ,30 )−0 , 1008
dt
dh
=−0 ,0924
dt
f. Pada ketinggian 20 cm
dh
=0 ,0001 x−0 , 1008
dt
dh
=( 0 , 0001×106 , 01)−0 ,1008
dt
dh
=−0 ,0902
dt

g. Pada ketinggian 18 cm
dh
=0 ,0001 x−0 , 1008
dt
dh
=( 0 , 0001×128 , 70)−0 ,1008
dt
dh
=−0 ,0879
dt
h. Pada ketinggian 16 cm
dh
=0 ,0001 x−0 , 1008
dt
dh
=( 0 , 0001×151 ,85 )−0 ,1008
dt
dh
=−0 ,0856
dt
i. Pada ketinggian 14 cm
dh
=0 ,0001 x−0 , 1008
dt
dh
=( 0 , 0001×175 , 97 )−0 , 1008
dt
dh
=−0 ,0832
dt
j. Pada ketinggian 12 cm
dh
=0 ,0001 x−0 , 1008
dt
dh
=( 0 , 0001×200 , 81)−0 ,1008
dt
dh
=−0 ,0832
dt
k. Pada ketinggian 10 cm
dh
=0 ,0001 x−0 , 1008
dt
dh
=( 0 , 0001×226 , 12)−0 ,1008
dt
dh
=−0 ,0782
dt
l. Pada ketinggian 8 cm
dh
=0 ,0001 x−0 , 1008
dt
dh
=( 0 , 0001×252 , 85)−0 ,1008
dt
dh
=−0 ,0755
dt

m. Pada ketinggian 6 cm
dh
=0 ,0001 x−0 , 1008
dt
dh
=( 0 , 0001×280 , 61)−0 ,1008
dt
dh
=−0 ,0727
dt
n. Pada ketinggian 4 cm
dh
=0 ,0001 x−0 , 1008
dt
dh
=( 0 , 0001×309 , 02)−0 ,1008
dt
dh
=−0 ,0699
dt
o. Pada ketinggian 2 cm
dh
=0 ,0001 x−0 , 1008
dt
dh
=( 0 , 0001×338 , 86 )−0 , 1008
dt
dh
=−0 ,0669
dt

6. Perhitungan
A× (−dh dt ) Tangki 1
a. Pada ketinggian 30 cm

A× (−dh dt )=488 ,13×(−(−0 , 1008 ))


−dh
A ×(
dt )
=49 ,2035

b. Pada ketinggian 28 cm

A×(−dh dt )=488 ,13×(−(−0 , 0986 ))


−dh
A×(
dt )
=48 ,1330
c. Pada ketinggian 26 cm

A× (−dh dt )=488 ,13×(−(−0 , 0965 ))


−dh
A× (
dt )
=47 , 1133

d. Pada ketinggian 24 cm

A×(−dh dt )=488 ,13×(−(−0 , 0944 ) )


−dh
A×(
dt )
=46 , 0848

e. Pada ketinggian 22 cm

A×(−dh dt )=488 ,13×(−(−0 , 0924 ) )


−dh
A×(
dt )
=45 , 0886

f.Pada ketinggian 20 cm

A×(−dh dt )=488 ,13×(−(−0 , 0902 ))


−dh
A×(
dt )
=44 , 0288

g. Pada ketinggian 18 cm

A× (−dh dt )=488 ,13×(−(−0 , 0879 ))


−dh
A× (
dt )
=42 ,9213

h. Pada ketinggian 16 cm

A×(−dh dt )=488 ,13×(−(−0 , 0856 ))


−dh
A×(
dt )
=41 ,7912

i.Pada ketinggian 14 cm

A×(−dh dt )=488 ,13×(−(−0 , 0832 ))


−dh
A×(
dt )
=40 , 6139

j.Pada ketinggian 12 cm

A×(−dh dt )=488 ,13×(−(−0 , 0807 ))


−dh
A×(
dt )
=39 , 4014

k. Pada ketinggian 10 cm
A×(−dh dt )=488 ,13×(−(−0 , 0782 ))
−dh
A×(
dt )
=38 , 1659

l.Pada ketinggian 8 cm

A×(−dh dt )=488 ,13×(−(−0 , 0782 ))


−dh
A×(
dt )
=38 , 8611

m. Pada ketinggian 6 cm

A×(−dh dt )=488 ,13×(−(−0 , 0727 ))


−dh
A×(
dt )
=35 , 5061

n. Pada ketinggian 4 cm

A× (−dh dt )=488 ,13×(−(−0 , 0699 ))


−dh
A× (
dt )
=34 ,1193

o. Pada ketinggian 2 cm

A× (−dh dt )=488 ,13×(−(−0 , 0669 ))


−dh
A× (
dt )
=32 , 6627

−A×dh
ln (
7. Perhitungan dt ) Tangki 1

a. Pada ketinggian 30 cm

ln (− A× dh dt )= ln (−488 , 13× (− 0 ,1008 ) )


− A× dh
ln (
dt )
= ln ( 49 , 2035 )

− A× dh
ln (
dt )
=3 ,8960

b. Pada ketinggian 28 cm

ln (−A×dh dt )=ln (−488 , 13× (−0 , 0986 ) )


−A×dh
ln (
dt )
=ln ( 48 , 1330 )

−A×dh
ln (
dt )
=3 ,8740

c. Pada ketinggian 26 cm
ln (−A× dh dt )=ln (−488 , 13× (− 0 , 0965 ) )
−A× dh
ln (
dt )
=ln ( 47 , 1137 )

−A× dh
ln (
dt )
=3 ,8526

d. Pada ketinggian 24 cm

ln (−A×dh dt )=ln (−488 , 13× (−0 , 0944 ) )


−A×dh
ln (
dt )
=ln ( 46 , 0848 )

−A×dh
ln (
dt )
=3 ,8305

e. Pada ketinggian 22 cm

ln (−A×dh dt )=ln (−488 , 13× (−0 , 0924 ) )


−A×dh
ln (
dt )
=ln ( 45 , 0886 )

−A×dh
ln (
dt )
=3 ,8086

f. Pada ketinggian 20 cm

ln (−A×dh dt )= ln (−488 , 13× (−0 , 092 ) )


−A×dh
ln (
dt )
= ln ( 44 , 0288 )

−A×dh
ln (
dt )
=3 ,7848

g. Pada ketinggian 18 cm

ln (− A× dh dt )=ln (−488 , 13× (− 0 , 0879 ) )


− A× dh
ln (
dt )
=ln ( 42 , 9213 )

− A× dh
ln (
dt )
=3 ,7594

h. Pada ketinggian 16 cm

ln (−A×dh dt )=ln (−488 , 13× (− 0 , 0856 ) )


−A×dh
ln (
dt )
=ln ( 41 ,7912 )

−A×dh
ln (
dt )
=3 ,7327

i. Pada ketinggian 14 cm
ln (− A× dh dt )=ln (−488 , 13× (− 0 , 0832 ))
− A× dh
ln (
dt )
=ln ( 40 , 6139 )

− A× dh
ln (
dt )
=3 ,7041

j. Pada ketinggian 12 cm

ln (−A× dh dt )= ln (−488 , 13× (−0 , 0807 ) )


−A× dh
ln (
dt )
= ln ( 39 , 4014 )

−A× dh
ln (
dt )
=3 ,6738

k. Pada ketinggian 10 cm

ln (− A× dh dt )=ln (−488 , 13× (− 0 , 0782 ))


− A× dh
ln (
dt )
=ln ( 38 ,1659 )

− A× dh
ln (
dt )
=3 ,6419

l. Pada ketinggian 8 cm

ln (−A× dh dt )=ln (−488 , 13× (− 0 , 0755 ) )


−A× dh
ln (
dt )
=ln ( 36 ,8611 )

−A× dh
ln (
dt )
=3 ,6072

m. Pada ketinggian 6 cm

ln (−A× dh dt )= ln (−488 , 13× (−0 , 0727 ) )


−A× dh
ln (
dt )
= ln ( 35 ,5061 )

−A× dh
ln (
dt )
=3 ,5697

n. Pada ketinggian 4 cm

ln (− A× dh dt )=ln (−488 , 13× (− 0 , 0699 ) )


− A× dh
ln (
dt )
=ln ( 34 , 1193 )

− A× dh
ln (
dt )
=3 ,5299

o. Pada ketinggian 2 cm
ln (− A× dh dt )=ln (−488 , 13× (− 0 , 0669 ) )
− A× dh
ln (
dt )
=ln ( 32, 6627 )

− A× dh
ln (
dt )
=3 , 4862

dh
8. Perhitungan dt Tangki 2
Persamaan regresi :
y=0 , 0005 x 2−0 ,3971 x+30 ,714
dh
=0 ,001 x−0 , 3971
dt

a. Pada ketinggian 30 cm
dh
=0 ,001 x−0 , 3971
dt
dh
=( 0 , 001×0 )−0 , 3971
dt
dh
=−0 ,3971
dt
b. Pada ketinggian 28 cm
dh
=0 ,001 x−0 , 3971
dt
dh
=( 0 , 001×7 , 13)−0 , 3971
dt
dh
=−0 ,3900
dt
c. Pada ketinggian 26 cm
dh
=0 ,001 x−0 , 3971
dt
dh
=( 0 , 001×13 , 83)−0 , 3971
dt
dh
=−0 ,3833
dt
d. Pada ketinggian 24 cm
dh
=0 ,001 x−0 , 3971
dt
dh
=( 0 , 001×1810 )−0 , 3971
dt
dh
=−0 ,3790
dt
e. Pada ketinggian 22 cm
dh
=0 ,001 x−0 , 3971
dt
dh
=( 0 , 001×23 , 20)−0 , 3971
dt
dh
=−0 ,3739
dt
f.Pada ketinggian 20 cm
dh
=0 ,001 x−0 , 3971
dt
dh
=( 0 , 001×28 , 19)−0 ,3971
dt
dh
=−0 ,3689
dt

g. Pada ketinggian 18 cm
dh
=0 ,001 x−0 , 3971
dt
dh
=( 0 , 001×32 ,21 )−0 , 3971
dt
dh
=−0 ,3639
dt
h. Pada ketinggian 16 cm
dh
=0 ,001 x−0 , 3971
dt
dh
=( 0 , 001×38 , 98 )−0 , 3971
dt
dh
=−0 ,3581
dt
i.Pada ketinggian 14 cm
dh
=0 ,001 x−0 , 3971
dt
dh
=( 0 , 001×44 , 21)−0 , 3971
dt
dh
=−0 ,3529
dt
j.Pada ketinggian 12 cm
dh
=0 ,001 x−0 , 3971
dt
dh
=( 0 , 001×49 , 78 )−0 , 3971
dt
dh
=−0 ,3473
dt
k. Pada ketinggian 10 cm
dh
=0 ,001 x−0 , 3971
dt
dh
=( 0 , 001×55 , 70)−0 ,3971
dt
dh
=−0 ,3414
dt
l.Pada ketinggian 8 cm
dh
=0 ,001 x−0 , 3971
dt
dh
=( 0 , 001×61 , 88)−0 ,3971
dt
dh
=−0 ,3352
dt

m. Pada ketinggian 6 cm
dh
=0 ,001 x−0 , 3971
dt
dh
=( 0 , 001×68 , 20)−0 , 3971
dt
dh
=−0 ,3289
dt
n. Pada ketinggian 4 cm
dh
=0 ,001 x−0 , 3971
dt
dh
=( 0 , 001×74 , 67 )−0 , 3971
dt
dh
=−0 ,3224
dt
o. Pada ketinggian 2 cm
dh
=0 ,001 x−0 , 3971
dt
dh
=( 0 , 001×81 , 89)−0 ,3971
dt
dh
=−0 ,3152
dt

9. Perhitungan
A× (−dh dt ) Tangki 2
a. Pada ketinggian 30 cm

A× (−dh dt )=489 ,15×(−(−0 , 3971) )


−dh
A ×(
dt )
=194 ,2415

b. Pada ketinggian 28 cm
A× (−dh dt )=489 ,15×(−(−0 , 3900 ))
−dh
A× (
dt )
=190 , 7538

c. Pada ketinggian 26 cm

A× (−dh dt )=489 ,15×(−(−0 , 3833 ))


−dh
A× (
dt )
=187 , 4765

d. Pada ketinggian 24 cm

A× (−dh dt )=489 ,15×(−(−0 , 3790 ))


−dh
A× (
dt )
=185 , 3879

e. Pada ketinggian 22 cm

A×(−dh dt )=489 ,15×(−(−0 , 3739 ))


−dh
A×(
dt )
=182 , 8932

f.Pada ketinggian 20 cm

A×(−dh dt )=489 ,15×(−(−0 , 3689 ))


−dh
A×(
dt )
=180 , 4523

g. Pada ketinggian 18 cm

A×(−dh dt )=489 ,15×(−(−0 , 3639 ))


−dh
A×(
dt )
=177 , 9968

h. Pada ketinggian 16 cm

A× (−dh dt )=489 ,15×(−(−0 , 3581) )


−dh
A ×(
dt )
=175 , 1744

i.Pada ketinggian 14 cm

A×(−dh dt )=489 ,15×(−(−0 , 3529 ))


−dh
A×(
dt )
=172 , 6161

j.Pada ketinggian 12 cm

A× (−dh dt )=489 ,15×(−(−0 , 3473 ))


−dh
A× (
dt )
=169 , 8916

k. Pada ketinggian 10 cm
A×(−dh dt )=489 ,15×(−(−0 , 3414 ))
−dh
A×(
dt )
=166 , 9958

l.Pada ketinggian 8 cm

A×(−dh dt )=489 ,15×(−(−0 , 3352) )


−dh
A×(
dt )
=163 , 9729

m. Pada ketinggian 6 cm

A×(−dh dt )=489 ,15×(−(−0 , 3289 ))


−dh
A×(
dt )
=160 , 8814

n. Pada ketinggian 4 cm

A×(−dh dt )=489 ,15×(−(−0 , 3224 ))


−dh
A×(
dt )
=157 , 7166

o. Pada ketinggian 2 cm

A×(−dh dt )=489 ,15×(−(−0 , 3152) )


−dh
A×(
dt )
=154 ,1850

10. Perhitungan
ln (−A×dh dt ) Tangki 2
a. Pada ketinggian 30 cm

ln (− A×dh dt )=ln (−488 , 13× (− 0 ,3971 ) )


− A×dh
ln (
dt )
=ln (194 , 2415 )

− A×dh
ln (
dt )
=5 , 2691

b. Pada ketinggian 28 cm

ln (−A× dh dt )=ln (−488 , 13× (− 0 ,3900 ) )


−A× dh
ln (
dt )
=ln (190 , 7538 )

−A× dh
ln (
dt )
=5 , 2510

c. Pada ketinggian 26 cm
ln (− A× dh dt )= ln (−488 , 13× (−0 ,3833 ) )
− A× dh
ln (
dt )
= ln (187 , 4765 )

− A× dh
ln (
dt )
=5 , 2337

d. Pada ketinggian 24 cm

ln (− A× dh dt )= ln (−488 , 13× (−0 ,3790 ) )


− A× dh
ln (
dt )
= ln (185 , 3879 )

− A× dh
ln (
dt )
=5 , 2225

e. Pada ketinggian 22 cm

ln (− A× dh dt )= ln (−488 , 13× (− 0 ,3739 ) )


− A× dh
ln (
dt )
= ln (182 , 8932 )

− A× dh
ln (
dt )
=5 , 2089

f. Pada ketinggian 20 cm

ln (− A× dh dt )= ln (−488 , 13× (− 0 ,3689 ) )


− A× dh
ln (
dt )
= ln (180 , 4523 )

− A× dh
ln (
dt )
=5 , 1955

g. Pada ketinggian 18 cm

ln (− A× dh dt )= ln (−488 , 13× (− 0 ,3639 ) )


− A× dh
ln (
dt )
= ln (177 ,9968 )

− A× dh
ln (
dt )
=5 , 1818

h. Pada ketinggian 16 cm

ln (− A×dh dt )=ln (−488 , 13× (− 0 ,3581 ) )


− A×dh
ln (
dt )
=ln (175 , 1744 )

− A×dh
ln (
dt )
=5 , 1658

i. Pada ketinggian 14 cm
ln (− A× dh dt )= ln (−488 , 13× (− 0 ,3529 ) )
− A× dh
ln (
dt )
= ln (172 , 6161 )

− A× dh
ln (
dt )
=5 , 1511

j. Pada ketinggian 12 cm

ln (− A× dh dt )= ln (−488 , 13× (−0 ,3473 ) )


− A× dh
ln (
dt )
= ln (169 , 8916 )

− A× dh
ln (
dt )
=5 , 1352

k. Pada ketinggian 10 cm

ln (−A×dh dt )= ln (−488 , 13× (−0 ,3414 ) )


−A×dh
ln (
dt )
= ln (166 ,9958 )

−A×dh
ln (
dt )
=5 , 1180

l. Pada ketinggian 8 cm

ln (− A× dh dt )=ln (−488 , 13× (− 0 ,3352 ) )


− A× dh
ln (
dt )
=ln (163 , 9729 )

− A× dh
ln (
dt )
=5 , 0997

m. Pada ketinggian 6 cm

ln (− A× dh dt )= ln (−488 , 13× (− 0 ,3289 ) )


− A× dh
ln (
dt )
= ln (160 , 8814 )

− A× dh
ln (
dt )
=5 , 0807

n. Pada ketinggian 4 cm

ln (−A×dh dt )= ln (−488 , 13× (−0 ,3224 ) )


−A×dh
ln (
dt )
= ln (157 ,7166 )

−A×dh
ln (
dt )
=5 , 0608

o. Pada ketinggian 2 cm
ln (− A× dh dt )=ln (−488 , 13× (− 0 ,3152 ) )
− A× dh
ln (
dt )
=ln (154 ,1850 )

− A× dh
ln (
dt )
=5 , 0382

11. Perhitungan ln h
a. Pada ketinggian 30 cm
ln h=ln 30
ln h=3,4012
b. Pada ketinggian 28 cm
ln h=ln 28
ln h=3,3322
c. Pada ketinggian 26 cm
ln h=ln 26
ln h=3,2581
d. Pada ketinggian 24 cm
ln h=ln 24
ln h=3,1781
e. Pada ketinggian 22 cm
ln h=ln 22
ln h=3,0910
f. Pada ketinggian 20 cm
ln h=ln 20
ln h=2,9957
g. Pada ketinggian 18 cm
ln h=ln 18
ln h=2,8904
h. Pada ketinggian 16 cm
ln h=ln 16
ln h=2,7726
i. Pada ketinggian 14 cm
ln h=ln 14
ln h=2,6391
j. Pada ketinggian 12 cm
ln h=ln 12
ln h=2,4849
k. Pada ketinggian 10 cm
ln h=ln 10
ln h=2,3026

l. Pada ketinggian 8 cm
ln h=ln 8
ln h=2,0794
m. Pada ketinggian 6 cm
ln h=ln 6
ln h=1,7918
n. Pada ketinggian 4 cm
ln h=ln 4
ln h=1,3863
o. Pada ketinggian 2 cm
ln h=ln 2
ln h=0,6931