Anda di halaman 1dari 12

1.

Deskripsikan menurut pendapat saudara tentang pengertian, karakteristik, manfaat, syarat,


maksud dan tujuan MBS.

Manajemen Berbasis Sekolah( MBS) ialah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara
mandiri oleh sekolah dengan melibatkan pihak yang berkaitan langsung dengan sekolah dengan
proses pengambilan keputusan untuk melakukan tindak peningkatan mutu sekolah guna
mencapai tujuan pendidikan.

Maksud adanya MBS adalah peningkatan mutu pendidikan, yakni dengan memandirikan
sekolah untuk mengelola lembaga bersama pihak - pihak terkait.Dengan demikian sekolah dan
masyarakat tidak perlu lagi mengganggu instruksi dari atas dalam mengambil langkah - langkah
untuk memajukan pendidikan.Mereka dapat mengembangkan suatu visi pendidikan sesuai
dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri.

Tujuan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) ialah :

a) Menambah kualitas pembelajaran lewat kemandirian serta inisiatif dari pihak sekolah
dalam mengelola sumber energi yang ada
b) Menambah kepedulian masyarakat sekolah serta warga dalam menyelenggarakan
pembelajaran lewat pengambilan keputusan bersama
c) Menaikkan tanggung jawab sekolah kepada orangtua, warga, serta pemerintah tentang
kualitas sekolahnya dan
d) Menaikkan persaingan yang sehat antar sekolah tentang kualitas pembelajaran yang
hendak dicapai.

MBS memberikan beberapa manfaat, diantaranya:


a) Sekolah dapat meningkatkan kesejahteraan guru sehingga dapat lebih berkonsentrasi
pada tugasnya.
b) Keleluasaan ddalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi, mendorong
profesionalisme kepala sekolah, dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin
sekolahuntuk kepentingan besama
c) Guru didorong untuk memilki pengetahuan yang luas dan terus berinovasi
d) Kepekaan sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan dapat menjamin layanan
pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik.
Karakteristik dari MBS ialah :

Pertama, sekolah dengan MBS memiliki misi yang besar terhadap fungsi dan efektivitas
sekolah, karena dengan misi ini warga sekolah dapat mengembangkan budaya organisasi sekolah
yang tepat, membangun komitmen yang tinggi terhadap sekolah, dan mempunyai insiatif untuk
memberikan tingkat layanan pendidikan yang lebih baik untuk mewakili sekelompok harapan
bersama, keyakinan dan nilai-nilai sekolah, membimbing warga sekolah di dalam aktivitas
pendidikan dan memberi arah kerja.
Kedua, aktivitas pendidikan dijalankan berdasarkan karakteristik kebutuhan dan situasi sekolah.
untuk meningkatkan kualitas pendidikan, karena secara tidak langsung memperkenalkan
perubahan manajemen sekolah dari menajemen kontrol eksternal menjadi model berbasis
sekolah
Ketiga, terjadinya proses perubahan strategi manajemen yang menyangkut hakikat manusia,
organisasi sekolah, gaya pengambilan keputusan, gaya kepemimpinan, penggunaan kekuasaan,
dan keterampilan-keterampilan manajemen yang lebih memandang pada apek pengembangan
yang tepat dan relevan dengan kebutuhan sekolah.
Keempat, keleluasaan dan kewenangan dalam pengelolaan sumber daya yang efektif untuk
mencapai tujuan pen-didikan, guna memecahkan masalah-masalah pendidikan yang dihadapi,
baik tenaga kependidikan, keuangan dan sebagainya.
Kelima, MBS menuntut peran aktif sekolah, adiministrator sekolah, guru, orang tua, dan pihak-
pihak yang terkait dengan pendidikan di sekolah untuk berperan mengembangkan insiatif,
memecahkan masalah, dan mengeksplorasi semua kemungkinan untuk memfasilitasi efektivitas
pembelajaran.
Keenam, MBS menekankan hubungan antar manusia yang cenderung terbuka, bekerja sama,
semangat tim, dan komitmen yang saling menguntungkan yang mengarah ke tipe komitmen
sehingga efektivitas sekolah dapat tercapai.
Ketujuh, peran administrator sangat penting dalam kerangka MBS, termasuk di dalamnya
kualitas yang dimiliki administrator.
Kedelapan, dalam MBS, efektivitas sekolah dinilai menurut indikator multitingkat dan multisegi.
Penilaian tentang efektivitas sekolah harus mencakup proses pembelajaran dan metode untuk
membantu kemajuan sekolah. Oleh karena itu, penilaian efektivitas sekolah harus
memperhatikan multitingkat, yaitu pada tingkat sekolah, kelompok, dan individu, serta indikator
multisegi yaitu input, proses dan output sekolah serta perkembangan akademik siswa.

Syarat Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah

a) MBS harus mendapat dukungan pihak - pihak sekolah.


b) MBS lebih berhasil jika diterapkan secara bertahap dengan membutuhkan waktu
beberapa tahun untuk menerapkan MBS secara berhasil.
c) Staf sekolah dan kantor dinas harus memperoleh pelatihan penerapannya, pada saat yang
sama juga harus belajar menyesuaikan diri dengan peran dan saluran komunikasi yang
baru.
d) Harus disediakan dukungan anggaran untuk pelatihan dan penyediaan waktu bagi staf
untuk bertemu secara teratur.
e) Pemerintah pusat dan daerah harus mendelegasikan wewenang kepada kepala sekolah,
dan kepala sekolah selanjutnya berbagi kewenangan ini dengan para guru dan orang tua
murid

.     Referensi :
http://ainamulyana.blogspot.co.id/2015/03/manajemen-berbasis-sekolah-mbs.html
http://langitjinggadipelupukmatarumahmakalah.blogspot.co.id/2014/10/makalah-manajemen-
berbasis-sekolah.htm
2. Jelaskan hubungan manajemen pendidikan dengan kepemimpinan pendidikan!

 Kepemimpinan disertai oleh manajemen menetapkan arah baru dan memanfaatkan


sumber daya secara efisien untuk mencapainya. Terutama aktivitas kependidikan karena
sistem manajemen merupakan kunci utama penggerak suatu aktivitas pendidikan , tanpa
adanya manajemen yang bagus, maka suatu pengorganisasian sekolah ttersebut
dikhawatirkan akan mengalami kegagalan, demikian juga bila manajemennya kurang
handal dalam melaksanakan sistem manajerialnya, maka sistem manajemen yang baik
pun kurang begitu sempurna, atau mungkin timbul kegagalan dalam
kepemimpinannya.Untuk itu antara pembentukan sistem manajemen yang tepat dan
kepemimpinan yang bertanggung-jawab terhadap kependid ikan diharapkan akan dapat
membentuk suatu lembaga pendidikan yang handal dan bermutu.

Referensi:
https://www.kompasiana.com/sontoloyo10521/5c4ac27e6ddcae4e0773ffb9/kepemimpinan-dan-
manajemen-hubungan-dan-perbedaannya

3. Jelaskan pengertian efisien hasil dan efisien proses di dalam proses manajemen pendidikan!

 Efisensi proses di dalam proses manajemen pendidikan ialah kegiatan yang dapat
menciptakan suasana yang memberi kondisi seperti mereka dapat bekerja sesuai dengan
tugas pokok, fungsi, prosedur, kriteria hasil kondusif, menyenangkan, merangsang
kreativitas, mendorong prestasi dan iklim yang sehat sehingga terwujudnya suasana
belajar dan proses pembelajaran yang aktif, kreatif dan efektif sehingga akan dihasilkan
proses pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi peserta didik dan juga
pendidik. 
 Efisiensi hasil dalam proses manajemne pendidikan ialah penggunaan sumber-sumber
pendidikan yang terbatas sehingga mencapai optimalisasi yang tinggi yang juga
berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia yang lebih baik dengan cara-cara
yang paling baik untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Keuntungan sebagai hasil pendidikan untuk menentukan kebijakan dalam pengalokasian
biaya dan pengakuan social dalam pendidikan terhadap lulusan atau hasil pendidikan
diiringi pembentukan kemampuan, sikap, keterampilan.

Referensi :

http://uray-iskandar.blogspot.com/2011/05/efisiensi-pendidikan.html
https://elqorni.wordpress.com/2013/05/11/efisiensi-dalam-pendidikan/#:~:text=Pelaksanaan
%20proses%20pendidikan%20yang%20efisien,dan%20produktifitas%20pendidikan%20yang
%20optimal.
4.Unsur karakteristik keberhasilan sekolah dapat ditinjau dari sisi (1) iklim sekolah, (2)
kepemimpinan, (3) kurikulum, (4) pengambilan keputusan, (5) outcomes, (6) sumberdaya.
Berikanlah ulasan saudara yang didukung dengan teori relevan tentang tiga dari enam faktor
yang telah disebutkan tersebut
Unsur karakteristik keberhasilan sekolah dapat ditinjau dari sisi
1) Kurikulum , Proses Pendidikan dalam kegiatan pembelajaran atau dalam kelas, akan bisa
berjalan dengan lancar, apabila pendidikan bisa dijalankan dengan baik ketika kurikulum
menjadi penyangga utama dalam proses belajar mengajar. Kurikulum mengandung sekian
banyak unsur konstruktif supaya pembelajaran berjalan dengan optimal. Sejumlah pakar
kurikulum berpendapat bahwa jantung pendidikan berada pada kurikulum. kurikulum yang bisa
membuka mindset peserta didik yang progresif. Banyaknya peserta didik yang tidak memahami
realitas sosial disebabkan oleh kurikulum yang menggiring peserta didik kepada pembelajaran
tekstual, bukan pada pendidikan konstektual. Dengan demikian, kurikulum memegang peran
penting bagi keberhasilan sebuah pendidikan bagi peserta didik.
2) Kepemimpinan, Kepemimpinan merupakan hal utama bagi kinerja, dalam hubungan ini
kepemimpinan dilihat dari perilaku seseorang dalam menjalankan perannya sebagai pemimpin.
kepemimpinan pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam membangun sekolah
efektif. Kepemimpinan pendidikan berkaitan dengan masalah kepala sekolah dalam
meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan para guru dalam
situasi yang kondusif. Dalam hal ini, perilaku kepala sekolah harus dapat mendorong kinerja
para guru dengan menunjukkan rasa bersahabat, dekat, dan penuh pertimbangan.

3) Iklim Sekolah , Iklim sekolah ialah atribut institusi yang menjadikan sekolah memiliki
kepribadian yang relatif bertahan dan dialami oleh seluruh anggota yang menjelaskan tindakan
keseharian dari prilaku rutin dan akan mempengaruhi sikap dan prilaku sekolah. Suasana yang
diciptakan oleh kepala sekolah selaku pemimpin yang dapat menunjang terjadinya proses belajar
mengajar. klim sekolah dapat mempengaruhi banyak orang di sekolah. iklim sekolah dapat
memainkan peran penting dalam menyediakan suasana sekolah yang sehat dan positif dengan
berbagai interaksi yang ada dan dapat memberikan dukungan yang memungkinkan semua
anggota komunitas sekolah untuk mengajar dan mengajar dengan optimal, hubungan antara
peserta didik serta prestasi akademis dan kemajuan sekolah secara keseluruhan termasuk
kepercayaan, menghormati, saling mengerti kewajiban dan perhatian untuk kesejahteraan
lainnya, memilki pengaruh yang kuat terhadap pendidik dan peserta didik dapat diperoleh dari
iklim sekolah.

Referensi :
http://repository.radenintan.ac.id/1322/3/BAB_II.pdf
http://bilamunu.blogspot.com/2012/11/uas-manajemen-pendidikan.html
Mutmainah. Perilaku Kepemimpinan, Iklim Sekolah Dan Sekolah Efektif. Diakses secara online
pada tanggal 23 Desember pukul 14: 56 dengan URL :
https://media.neliti.com / media / publications/75973-ID-perilaku-kepemimpinan-iklim-sekolah-
dan.pdf

5. Leadership atau kepemimpinan adalah suatu seni yang membentuk individu yang kuat dan
tangguh untuk memotivasi sekelompok orang agar mau bertindak dan bekerja bersama demi
meraih tujuan bersama. Pertanyaannya, kapankah seorang pemimpin itu dikatakan pemimpin
yang baik

Seorang pemimpin itu dikatakan pemimpin yang baik jika seorang pemimpin itu dapat
menguasai setiap kebijakan seperti metode yang telah dibentuknya sendiri dengan tujuan untuk
mempengaruhi tingkah laku orang – orang yang di pimpinnya dengan tujuan bersama yang
diterapkan melalui kerjasama . Seorang pemimpin yang dapat dikatakan baik jika pemimpin itu
memiliki keterampilan memotivasi dan menginspirasi orang lain yang menjadi pengikutnya
sehingga mereka dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal.. Tentunya keberhasilan
seorang pemimpin sangatlah tergantung pada kemampuan, kondisi dan situasi sebuah organisasi.
Kepemimpinan yang sukses adalah suatu kemauan tetapi bukan dalam kondisi sukses
managerial. Seorang manajer yang baik, maka akan baik pula kepemimpinannya, tetapi seorang
yang baik kepemimpinannya belum tentu baik dalam manajer yang baik manajer

Referensi:

https://makalah-ibnu.blogspot.com/2009/10/manajemen-dan-kepemimpinan pendidikan.html #
ixzz6hQskl6EF

6.Mengapa konsep MBS itu dipakai oleh para pengelola pendidikan? Berikan alasannya dari segi
sosiologis, manajemen, dan keuangan?

 Konsep MBS itu dipakai oleh para pengelola pendidikan dalam segi sosiologis karena
tahap sosialisais merupakan tahapan yang penting mengingat luasnya daerah yang ada
terutama daerah yang sulit dijangkau serta kebiasaan masyarakat yang umumnya tidak
mudah menerima perubahan karena perubahan yang bersifat personal maupun
organisasional memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang baru. Dengan adanya
segi sosiologis dalam MBS maka akan mengefektifkan pencapaian implementasi
Manajemen Berbasis Sekolah baik menyangkut aspek proses maupun pengembangannya
di sekolah.
 Konsep MBS itu dipakai oleh para pengelola pendidikan dalam segi manajemen karena ,
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan suatu model manajemen yang
memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan
partisipatif untuk meningkatkan kinerja para staf, menawarkan partisipasi langsung
kelompok-kelompok yang terkait, dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap
pendidikan yang pastinya melibatkan secara langsung semua warga sekolah (siswa, guru,
kepala sekolah, karyawan, orang tua siswa, dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu
sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. Dengan begitu MBS merupakan
salah satu wujud dari reformasi pendidikan yang dapat menyediakan pendidik yang lebih
baik dan memadai bagi para peserta didik.
 Konsep MBS itu dipakai oleh para pengelola pendidikan dalam segi keuangan karena
manajemen berbasis sekolah merupakan komponen yang sangat penting dan paling
menentukan keberhasilan setiap usaha pendidikan. Salah satu komponen usaha
pendidikan ialah keuangan dan pembiayaan yang secara langsung menunjang efektivitas
dan efisiensi pengelolaan pendidikan, Hal tersebut lebih terasa lagi dalam implementasi
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), yang menuntut kemampuan sekolah untuk
merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi serta mempertanggungjawabkan
pengelolaan dana secara transparan kepada masyarakat dan pemerintah. Pengelolaan dana
yang secara kreatif dan dinamis selaras dengan kebutuhan perkembangan yang terjadi di
masyarakat dan lingkungan, merupakan alternative pilihan dalam MBS.

Referensi :

http://repository.ut.ac.id/4170/1/IDIK4012-M1.pdf
http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/9/jtptiain-gdl-s1-2005-awwalinano-430-
Bab2_310-2.pdf
http://repo.iain-tulungagung.ac.id/2680/9/SUMMARY.pdf

7. Jelaskan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan pengembangan mutu


sekolah?

 Faktor ekonomi atau kemampuan sekolah dalam pembiayaan, Faktor ekonomi bisa
diamati dari banyaknya dana BOS yang tersedia untuk setiap sekolah. Sekolah dengan
jumlah siswa yang banyak, maka dipastikan mendapat dana BOS dalam jumlah besar dan
memiliki kesempatan lebih besar untuk mengupayakan mutu sekolah yang lebih baik,
khususnya dalam hal sumber daya materi (sarana dan prasarana). Hal itu dipengaruhi
juga oleh bagaimana manajemen sekolah tersebut mengolahnya
 Faktor geografis atau letak sekolah, Terbukti dengan sekolah yang maju, lebih
didominasi oleh sekolah-sekolah yang berada di pusat kota. Hal ini dapat dipahami,
karena di pusat kota lah kegiatan-kegiatan, baik tentang kependidikan maupun yang
lainnya lebih banyak terjadi. Sekolah di pusat kota cenderung lebih mudah mendapatkan
akses dalam bidang apapun, sehingga lebih dipilih oleh sebagian besar masyarakat untuk
mensekolahkan anak-anaknya. Sehingga, peserta didik yang bersekolah di sekolah-
sekolah yang ada di pusat kota berasal dari keluarga menengah ke atas yang lebih mampu
bersaing untuk masuk ke sekolah tersebut.
 Faktor lingkungan sosial tempat sekolah berada, secara langsung mempengaruhi
bagaimana lingkungan sosial di masing-masing wilayah tersebut. Wilayah pesisir
didominasi oleh perkampungan nelayan, sehingga masyarakatnya berwatak keras, dan
norma yang agak longgar. Wilayah perkotaan, penghuninya didominasi oleh para
pegawai, baik negeri maupun swasta, pengusaha, pedagang, dan pekerja lainnya yang
sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke atas dan tingkat pendidikan yang lebih
tinggi. Sementara wilayah pedesaan, didominasi oleh perkampungan petani, pedagang,
dan buruh. Keadaanya tidak jauh beda dengan wilayah pesisir, namun dengan norma
yang lebih ketat. Lingkungan sekolah yang berbeda-beda tentunya akan menjadikan
proses yang berlangsung, yaitu pembelajaran, akan berbeda pula antara satu sekolah
dengan sekolah lainnya dalam bentuk penyampaian, penggunaan media, budaya, maupun
tingkat penyerapan materi oleh peserta didik. Dalam proses inilah kinerja mengajar guru
dan pemanfaatan sumber belajar disorot. Kinerja mengajar guru akan berkolaborasi
dengan bagaimana sumber belajar dimanfaatkan untuk menunjang pembelajaran.

Referensi :

Edi Hidayat. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mutu Sekolah (Pengaruh Dari Faktor Kinerja
Mengajar Guru Dan Pemanfaatan Sumber Belajar). Diakses secara online pada tanggal 23
Desember pukul 20:15 dengan URL https://media.neliti.com/media/publications/75405-ID-
faktor-faktor-yang-mempengaruhi-mutu-sek.pdf

8. Jelaskan yang dimaksud dengan analisis SWOT dan kegunaannya dalam pengelolaan suatu
pendidikan?

Analisi SWOT itu sendiri dapat didefinisikan dengan suatu identifikasi sistematis mengenai
beberapa cara untuk merumuskan strategi . Dengan analisis SWOT tersebut diharapkan lembaga
pendidikan  dapat melakukan langkah-langkah strategis untuk mencapai tujuannya, sesuai
dengan peluang-peluang dan ancaman-ancaman lingkungan eksternal yang dihadapi, serta
sumber daya dan kemampuan internal. Setelah melakukan analisis SWOT, berikutnya adalah
melakukan langkah-langkah strategis sebagaimana dapat dibagankan sebagai berikut:
a.  Kekuatan (strengths)
Faktor-faktor kekuatan dalam lembaga pendidikan adalah kompetensi khusus atau keunggulan-
keunggulan lain yang memberi nilai plus atau keunggulan komparatif lembaga pendidikan
tersebut.Hal ini bisa dilihat jika sebuah lembaga pendidikan memiliki skill atau keterampilan
yang bisa disalurkan bagi perserta didik, lulusan terbaik/hasil andalan, maupun kelebihan-
kelebihan lain yang membuatnya unggul bagi pesaing-pesaing serta dapat
memuaskan steakholder maupun pelanggan (peserta didik, orang tua, masyarakat dan bangsa).
Bagi sebuah lembaga pendidikan sangat penting untuk mengenali terhadap kekuatan dasar
lembaga tersebut sebgai langkah awal atau tonggak menuju pendidikan yang berbasis kualitas
tinggi. Mengenali kekuatan dan terus melakukan refleksi adalah sebuah langkah bersar untuk
menuju kemajuan bagi lembaga pendidikan.

b.  Kelemahan (weaknesses)
dalam lembaga pendidikan bisa meminimalisir kelemahan-kelemahan yang adapada lembaga
pendidikan tersebut.. Kelemahan ini bisa kelemahan dalam sarana dan prasarana, kualitas atau
kemampuan tenaga pendidik, lemahnya kepercayaan masyarakat, tidak sesuainya antara hasil
lulusan dengan kebutuhan masyarakat atau dunia usaha dan industri dan lain-lain. Untuk itu,
beberapa faktor kelemahan yang harus segera dibenahi oleh para pengelola lembaga pendidikan,
antara lain ; (1) lemahnya SDM dalam lembaga pendidikan. (2) sarana dan prasarana yang masih
sebatas pada sarana wajib saja. (3) lembaga pendidikan swasta umumya kurang bisa menangkap
peluang, sehingga mereka hanya puas dengan keadaan yang dihadapi sekarang ini.
(4) uotput lembaga pendidikan belum sepenuhnya bersaing dengan output lembaga pendidikan
yang lain dan sebagainya.

c. Peluang (opportunities)
Peluang adalah suatu kondisi lingkungan eksternal yang menguntungkan bahkan menjadi
formulasi dalam lembaga pendidikan. Formulasi  lingkungan tersebut misalnya: (1)
kecenderungan penting yang terjadi dikalangan peserta didik. (2) identifikasi suatu layanan
pendidikan yang belum mendapat perhatian. (3) perubahan dalam keadaan persaingan.

d.  Ancaman  (threats)
Ancaman merupakan kebalikan dari sebuah peluang, ancaman pendidikan meliputi faktor-faktor
lingkungan yang tidak menguntungkan bagi sebuah lembaga pendidikan. Jika sebuah ancaman
tidak ditanggulangi maka akan menjadi sebuah penghalang atau penghambat bagi maju dan
peranannya sebuah lembaga pendidikan itu sendiri. Contoh ancaman tersebut adalah: minat
peserta didik baru yang menurun, kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga
pendidikan tersebut dan lain-lain.

Referensi :

https://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/02/05/analisis-swot-dalam-pendidikan-3/

9. Bagaimana merealisasikan fungsi masyarakat dalam konteks sistem MBS ?

Merealisasikan fungsi masyarakat dalam konteks sistem MBS adalah bentuk kontribusi,
sumbangan, dan keikut sertaan masyarakat dalam menunjang upaya peningkatan mutu
pendidikan. Kesadaran tentang pentingnya pendidikan yang dapat memberikan harapan dan
kemungkinan lebih baik di masa yang akan datang, mendorong berbagai u: paya dan perhatian
seluruh lapisan masyarakat , secara rinci fungsi masyarakat dalam konteks system MBS ialah:

a) Masyarakat memberi kontribusi dana, bahan, dan tenaga. Pada PSM (Peran Serta
Masyarakat) jenis ini masyarakat berpartisipasi dalam perawatan dan pembangunan fisik
sekolah dengan menyumbangkan dana, barang, atau tenaga.
b) Masyarakat secara pasif. menyetujui dan menerima serta mematuhi keputusan apa yang
diputuskan pihak sekolah (komite sekolah), misalnya membayar iuran bagi anaknya yang
bersekolahOrang tua yang merupakan bagian dari masyarakat bisa datang ke sekolah .
c) untuk berkonsultasi tentang masalah pembelajaran yang dialami anaknya.
d) Masyarakat juga berperan sebagai pelaksana kegiatan pentingnya pendidikan misalnya,
berpartisipasi dalam mencatat perkembangan gizi anak di usia sekolah di lingkungannya
agar sekolah dapat menampungnya.
e) Peran serta dalam pengambilan keputusan yang dibuat oleh sekolah yaitu orang
tua/masyarakat terlibat dalam pembahasan masalah pendidikan baik akademis maupun
non akademis, dan ikut dalam proses pengambilan keputusan dalam Rencana
Pengembangan Sekolah (RPS).

Dengan demikian, jelas sekali bahwa peran masyarakat sangatlah besar terhadap pendidikan.
Lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat adalah salah satu unsure pelaksana
asas pendidikan seumur hidup. Segala pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di
lingkungan pendidikan keluarga dan di lingkungan sekolah akan berkembang dan dirasakan
manfaatnya dalam masyarakat.
Referensi :

http://nikadekputri.blogspot.com/2015/09/mbs-peran-masyarakat.html
Syaifuddin, Mohammad. Soenarjo, Siti Fatimah. dkk. 2007. Manajemen Berbasis Sekolah

10. Apakah kebijakan tentang pendidikan demokratis perlu dipertahankan sesuai dengan kondisi
masyarakat Indonesia, apalagi bila dikaitkan dengan implementasi MBS

Pendidikan demokrasi memiliki tujuan untuk mempersiapkan peserta didik sebagai warga
masyarakat yang mampu berpikir kritis serta bertindak demokratis melalui aktivitas
pembelajaran yang berfokus pada pengajaran keterampilan dan nilai-nilai kewarganegaraan..
Menurut saya jika melihat kondisi masyarakat Indonesia saat ini pendidikan demorkratis perlu
diperrtahankan seiring dengan pengimplemntasian MBS. Melalui pendidikan demokratis
yangdapat menanamkan kesadaran akan tiga hal, yaitu: 1.) Demokrasi memberi kehidupan
bermasyarakat yang menjamin hak anggotanya sebagai warga negara; 2.) Demokrasi menjadi
proses belajar bagi masyarakat (learning process) yang bertahap dan tidak serta merta dapat
begitu saja meniru dari kelompok masyarakat lain; dan 3.) Kelangsungan kehidupan demokratis
tergantung pada kemampuan dan keberhasilan masyarakat itu sendiri dalam
menstransformasikan nilai-nilai demokrasi (kebebasan, persamaan dan keadilan), serta tingkat
loyalitas anggotanya kepada sistem politik yang bersifat demokratis. Dalam pendidikan formal
maupun non formal telah mengajari peserta didik pada keterampilan dan kebajikan
kewarganegaraan ini, maka orang tua dapat mengambil sisi lain untuk mendidik anak-anak
mereka, selain apabila memang ada kerjasama antara sekolah dan keluarga dalam menanamkan
nilai-nilai demokrasi ini.

Referensi : https://journal.uny.ac.id/index.php/jppfa/article/download/25998/13683

Anda mungkin juga menyukai