Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS (PPOK)

A. Konsep Dasar PPOK


1. Definisi
Penyakit paru-paru obstrutif kronis (PPOK) merupakan suatu istilah yang
sering digunakan untuk sekelompok penyakit paruparu yang berlangsung lama
(Grace & Borlay, 2011) yang ditandai oleh adanya respons inflamasi paru
terhadap partikel atau gas yang berbahaya (Padila, 2012). Adapun pendapat lain
mengenai P P O K adalah kondisi ireversibel yang berkaitan dengan dispnea
saat aktivitas dan penurunan aliran masuk dan keluar udara paru-paru yang
ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran
patofisiologi utamanya (Edward. 2012).
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) adalah suatu istilah yang sering
digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan
ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran
patofisiologi utamanya (Somantri, 2012)
Infeksi Kolonisasi pada saluran pernapasan secara kronis merupakan suatu
pemicu imflamasi atau peradangan neutrofilik pada saluran nafas, terlepas dari
paparan rokok. Adanya kolonisasi bakteri menyebabkan peningkatan kejadian
imflamasi yang dapat diukur dari peningkatan jumlah sputum, peningkatan
frekuensi eksaserbasi, dan 9 percepatan penurunan fungsi paru, yang semua ini
meningkatkan risiko kejadian PPOK.

2. Manifestasi klinis
Gejala dan tanda PPOK sangat bervariasi dari tanpa gejala dan dengan gejala
dari ringan sampai berat, yaitu batuk kronis, berdahak, sesak napas bila
beraktifitas, sesak tidak hilang dengan pelega napas, memburuk pada
malam/dini hari, dan sesak napas episodic (Tana et al., 2016). Untuk dapat
menghindari kekambuhan PPOK, maka pemahaman tentang penyakit dan cara
mencegah kekambuhan PPOK menjadi dasar yang sangat penting bagi
seseorang khususnya penderita PPOK. Kekambuhan dapat terukur dengan
meliputi skala sesak berdasarkan skala MMRC (Modified Medical Research
Counci). Untuk mengeluarkan dahak dan memperlancar jalan pernapasan pada
penderita PPOK dapat dilakukan dengan cara batuk efektif (Faisal, 2017)
Gejala PPOK jarang muncul pada usia muda umumnya setelah usia 50 tahun ke
atas, paling tinggi pada laki-laki usia 55-74 tahun. Hal ini dikarenakan keluhan
muncul bila terpapar asap rokok yang terus menerus dan berlangsung lama
(Salawati, 2016).
Tanda dan gejala penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah sebagai
berikut Suddarth, (2015):
a. PPOK dicirikan oleh batuk kronis, produksi sputum, dan dyspnea saat
menggerakkan tenaga kerap memburuk seiring waktu.
b. Penurunan berat badan sering terjadi.
c. Gejala yang spesifik dengan penyakit. Lihat “Manifestasi Klinis” pada
“Asma”, “Bronkiektasis”, “Bronkitis”, dan “ Emfisema”
3. Etiologi
Menurut Ikawati (2016), etiologi penyakit paru obstruktif kronis terdapat faktor
paparan lingkungan. Beberapa faktor paparan lingkungan yaitu :
a. Merokok
Merokok yang merupakan penyebab utama dari PPOK, dengan risiko 30
kali lebih besar pada perokok dibandingkan dengan bukan merokok dan
merupakan penyebab dari 85-95% kasus PPOK. Kurang lebih 15-20%
akan mengalami PPOK. Namun demikian, tidak semua penderita PPOK
adalah perokok. Sekitar 10% orang yang tidak merokok mungkin
menderita PPOK.
b. Pekerjaan
Para pekerja tambang emas atau batu bara dan pekerja yang terpapar
debu katun dan debu gandum mempunyai risiko yang lebih besar
daripada yang bekerja ditempat selain yang sudah disebutkan diatas.
c. Polusi Udara
Pasien PPOK yang mempunyai disfungsi paru akan semakin memburuk
gejalanya dengan adanya polusi udara. Polusi ini bisa berasal dari luar
rumah seperti asam pabrik, asap kendaraan bermotor maupun polusi
yang berasal dari dalam rumah misalkan asap dapur.
d. Infeksi Kolonisasi pada saluran pernapasan secara kronis merupakan
suatu pemicu imflamasi atau peradangan neutrofilik pada saluran nafas,
terlepas dari paparan rokok. Adanya kolonisasi bakteri menyebabkan
peningkatan kejadian imflamasi yang dapat diukur dari peningkatan
jumlah sputum, peningkatan frekuensi eksaserbasi, dan 9 percepatan
penurunan fungsi paru, yang semua ini meningkatkan risiko kejadian
PPOK.
4. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan diagnostik untuk pasien dengan Penyakit Paru Obstruksi Kronis
antara lain:
a. Sinar x dada dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru, mendatamya
diafragma, peningkatan area udara retrosternal, penurunan tanda
vaskularisasi atau bula (emfisema), tanda bronkovaskuler (bronkhitis),
hasil normal selama periode remisi (asma).
b. Tes fungsi paru untuk menentukan penyebab dispnea,
c. Analisa Gas Darah (AGD) memperkirakan progresi proses penyakit
kronis misalnya paling sering PaO; menurun, dan PaCO; normal atau
meningkat (bronkhitis kronis dan emfisema) tetapi sering menurun pada
asma, pH normal atau asidosis, alkalosis respiratorik ringan sekunder
terhadap hiperventilasi (emfisema sedang atau asma).
d. Sputum, kultur untuk menentukan siapa yang mengidentifikasi,
memeriksa patogen, pemeriksaan sitolitik untuk melihat keganasan atau
gangguan alergi.
e. Pemeriksaan darah lengkap.
f. Elektrokardiogram (EKG). Deviasi aksis kanan, peninggian gelombang P
(asma berat), disaritmia atrial (bronchitis), peninggian gelombang P pada
leas II, III, AVF (bronchitis, emfisema), aksis vertikal QRS (emfisema)

a. Penatalaksanaan Farmakologi dan non farmakologi


a) Non Farmakologi
1. Berhenti Merokok Menurut PDPI (2011) Strategi untuk membantu pasien
berhenti merokok adalah 5A :
a.Ask (Tanyakan). Mengidentifikasi semua perokok pada setiap
kunjungan.
b. Advise (Nasihati). Dorongan kuat pada semua perokok untuk berhenti
merokok.
c.Assess (Nilai). Keinginan untuk usaha berhenti merokok (misal: dalam
30 hari ke depan).
d. Assist (Bimbing). Bantu pasien dengan rencana berhenti merokok,
menyediakan konseling praktis, merekomendasikan penggunaan
farmakoterapi.
e.Arrange (Atur). Buat jadwal kontak lebih lanjut.
2. Rehabilitasi PPOK
Tujuan program rehabilitasi untuk meningkatkan toleransi keletihan dan
memperbaiki kualitas hidup penderita PPOK. Penderita yang dimasukkan
ke dalam program rehabilitasi adalah mereka yang telah mendapatkan
pengobatan optimal yang disertai: simptom pernapasan berat, beberapa
kali masuk ruang gawat darurat, kualitas hidup yang menurun. Program
rehabilitasi terdiri dari 3 komponen yaitu: latihan fisik, psikososial dan
latihan pernapasan (PDPI, 2011)
3. Terapi Oksigen. Pemberian terapi oksigen merupakan hal yang sangat
penting untuk mempertahankan oksigenasi seluler dan mencegah
kerusakan sel baik di otot maupun organ-organ lainnya (PDPI, 2011).
4. Nutrisi Malnutrisi sering terjadi pada PPOK, kemungkinan karena
bertambahnya kebutuhan energi akibat kerja muskulus respirasi yang
meningkat karena hipoksemia kronik dan hiperkapni menyebabkan terjadi
hipermetabolisme. Kondisi malnutrisi akan menambah mortaliti PPOK
karena berkorelasi dengan derajat penurunan fungsi paru dan perubahan
analisis gas darah (PDPI, 2011).
b) Farmakologis
1. Methylxanthine
Contoh obat yang tergolong methylxanthine adalah teofilin. Obat ini
dilaporkan berperan dalam perubahan otot-otot inspirasi. Namun obat ini
tidak direkomendasikan jika onat lain tersedia.
2. Kortikosteroid
Inhalasi yang diberikan secara regular dapat memperbaiki gejala, fungsi
paru, kualitas hidup serta mengurangi frekuensi eksaserbasi pada pasien
dengan FEV1 Tetapi, penggunaan obat ini memiliki efek samping seperti
mual, menurunnya nafsu makan, sakit perut, diare, gangguan tidur dan
sakit kepala (Soeroto & Suryadinata, 2014).
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a) Riwayat keperawatan
 Keluhan Utama
Biasanya pada pasien dengan Penyakit Paru Obstriksi Kronik (PPOK)
keluhan berupa sesak nafas.
 Riwayat kesehatan sekarang
Menurut Oemiati (2013) Bahwa Perokok aktif dapat mengalami
hipersekresi mucus dan obstruksi jalan napas kronik. Perokok pasif juga
menyumbang terhadap symptom saluran napas dan dengan peningkatan
kerusakan paru-paru akibat menghisap partikel dan gas-gas berbahaya.
Kebiasaan memasak dengan bahan biomass dengan ventilasi dapur yang
jelek misalnya terpajan asap bahan bakar kayu dan asap bahan bakar
minyak diperkirakan memberi kontribusi sampai 35% dapat memicu
terjadinya PPOK. Produsi mukus berlebihan sehingga cukup
menimbulkan batuk dengan ekspetorasi selama beberapa hari ± 3 bulan
dalam setahun dan paling sedikit dalam dua tahun berturut-turut dapat
memicu terjadinya PPOK (Somantri, 2012).
 Riwayat kesehatan masa lalu
Riwayat merokok atau bekas perokok dengan atau tanpa gejala
pernapasan, riwayat terpajan zat iritan yang bermakna di tempat kerja
(PDPI, 2011). Dan memiliki riwayat penyakit sebelumnya termasuk
asama bronchial, alergi, sinusitis, polip nasal, infeksi saluran nafas saat
masa kanak-kanak dan penyakit respirasi lainya. Riwayat eksaserbasi atau
pernah dirawat di rumah sakit untuk penyakit respirasi (Soeroto &
Suryadinata, 2014)
 Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat penyakit emfisema pada keluarga (PDPI, 2011). Riwayat
keluarga PPOK atau penyakit respirasi lainya. (Soeroto & Suryadinata,
2014). Riwayat alergi pada keluarga.
b) Pemeriksaan fisik : Data Fokus
Pemeriksaan Fisik yang dapat dilakukan pada pasien dengan PPOK
menurut Wahid & Suprapto (2013) adalah sebagai berikut:
1. Pernafasan (B1: Breathing).
a) Inspeksi.
Terlihat adanya peningkatan usaha dan frekuensi pernafasan serta
penggunaan otot bantu nafas. Bentuk dada barrel chest (akibat udara
yang tertangkap) atau bisa juga normo chest, penipisan massa otot,
dan pernapasan dengan bibir dirapatkan. Pernapasan abnormal tidak
fektif dan penggunaan otototot bantu nafas (sternocleidomastoideus).
Pada tahap lanjut, dispnea terjadi saat aktivitas bahkan pada aktivitas
kehidupan sehari-hari seperti makan dan mandi. Pengkajian batuk
produktif dengan sputum purulen disertai demam mengindikasikan
adanya tanda pertama infeksi pernafasan.
b) Palpasi.
Pada palpasi, ekspansi meningkat dan taktil fremitus biasanya
menurun.
c) Perkusi.
Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hiper sonor sedangkan
diafragma menurun.
d) Auskultasi.
Sering didapatkan adanya bunyi nafas ronchi dan wheezing sesuai
tingkat beratnya obstruktif pada bronkiolus. Pada pengkajian lain,
didapatkan kadar oksigen yang rendah (hipoksemia) dan kadar
karbondioksida yang tinggi (hiperkapnea) terjadi pada tahap lanjut
penyakit. Pada waktunya, bahkan gerakan ringan sekalipun seperti
membungkuk untuk mengikat tali sepatu, mengakibatkan dispnea dan
keletihan (dispnea eksersorial). Paru yang mengalami emfisematosa
tidak berkontraksi saat ekspirasi dan bronkiolus tidak dikosongkan
secara efektif dari sekresi yang dihasilkannya. Pasien rentan terhadap
reaksi inflamasi dan infeksi akibat pengumpulan sekresi ini. Setelah
infeksi terjadi, pasien mengalami mengi yang berkepanjangan saat
ekspirasi.
2. Kardiovaskuler (B2:Blood).
Sering didapatkan adanya kelemahan fisik secara umum. Denyut nadi
takikardi. Tekanan darah biasanya normal. Batas jantung tidak
mengalami pergeseran. Vena jugularis mungkin mengalami distensi
selama ekspirasi. Kepala dan wajah jarang dilihat adanya sianosis.
3. Persyarafan (B3: Brain). Kesadaran biasanya compos mentis apabila
tidak ada komplikasi penyakit yang serius.
4. Perkemihan (B4: Bladder). Produksi urin biasanya dalam batas normal
dan tidak ada keluhan pada sistem perkemihan. Namun perawat perlu
memonitor adanya oliguria yang merupakan salah satu tanda awal dari
syok.
5. Pencernaan (B5: Bowel). Pasien biasanya mual, nyeri lambung dan
menyebabkan pasien tidak nafsu makan. Kadang disertai penurunan
berat badan.
6. Tulang, otot dan integument (B6: Bone). Kerena penggunaan otot bantu
nafas yang lama pasien terlihat keletihan, sering didapatkan intoleransi
aktivitas dan gangguan pemenuhan ADL (Activity Day Living).
7. Psikososial. Pasien biasanya cemas dengan keadaan sakitnya.
2. Patofisiologi

Faktor pencetus
(Asma, Bronkitis Kronis, Rokok dan polusi
Emfisema)

PPOK Inflamasi

Perubahan anatomis
Sputum meningkat
parenkim paru

Pembesaran alveoli Batuk

Hipertropi kelenjar MK : Bersihan Jalan Nafas tdk


mukosa Efektif

Penyempitan saluran
udara secara periodik

MK : Gg. Pertukaran Infeksi


Gas
Ekspansi paru
menurun

Leukosit meningkat

Suplai O2 tidak adekuat


Kompensasi tubuh utk memenuhi
keseluruh tubuh
kebutuhan o2 dgn meningkatkan
frekuensi pernapasan Imun menurun

Hipoksia
Kontraksi otot pernapasan Kuman
penggunaan energi untuk pathogen&endogen
pernapasan meningkat difagosit makrofag
Sesak

MK : Pola Nafas MK : Intoleransi Aktfitas Anoreksia


Tidak efektif

MK : Gg. Nutrisi : Kurang


dari Kebutuhan Tubuh
3. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan ketidakadekuatan
batuk.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan produksi sputum.
c. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan produksi sputum berlebih.
d. Gangguan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake nutrisi tidak adekuat.

4. Intervensi Keperawatan
No Dx Tujuan / Kriteria Intervensi Rasional
Hasil
1. Ketidakefektifan Setelah dilakukan 1. Auskultasi 1. Untuk
bersihan jalan napas tindakan selama 3 x bunyi napas. mengetahui
berhubungan dengan 24 jam diharapkan 2. Kaji frekuensi adanya suara
ketidakadekuatan bersihan jalan nafas pernapasan. napas
batuk. kembali efektif 3. Observasi abnormal.
dengan kriteria hasil : karateristik 2. Untuk
a. Klien mudah batuk. mengetahui
bernafas. 4. Ajarkan teknik frekuensi
b. Tidak ada batuk efektif. pernafasan
sianosis dan 5. Kolaborasi normal atau
dyspnea. pemberian obat tidak.
c. Jalan nafas sesuai indikasi. 3. Untuk
paten. mengetahui
d. Mengeluarkan karakteristik
sekret secara batuk.
efektif. 4. Membantu
mengeluarkan
dahak yang
tertahan.
5. Membantu
mengencerka
n dahak.
2. Gangguan Setelah dilakukan 1. Observasi 1. Untuk
pertukaran gas tindakan 3x24 jam pernafasan. mengetahui
berhubungan dengan diharapkan klien 2. Auskultasi karakteristik
peningkatan mampu menunjukkan bunyi nafas. pernafasan.
produksi sputum. perbaikan oksigenasi. 3. Pertahankan 2. Untuk
Dengan kriteria hasil : posisi semi mengetahui
a. RR 14-22x/menit fowler. adanya suara
b. Nafas normal 4. Observasi tanda napas
c. Tidak ada batuk tanda vital. abnormal.
d. Tidak ada dyspnea 5. Kolaborasi 3. Meningkatkan
e. Nadi 60- pemberian ekspansi paru
100x/menit. oksigen. dan
memudahkan
pernapasan.
4. Untuk
mengetahui
adanya
perubahan
TD, nadi dan
pernafasan.
5. Untuk
mempertahan
kan
pernafasan.
3. Ketidakefektifan Setelah dilakukan 1. Monitor pola 1. Mengetahui
pola nafas tindakan selama 3x24 nafas pasien. frekuensi,
berhubungan dengan jam diharapkan pola 2. Pantau tanda kedalaman,
produksi sputum napas efektif. Dengan tanda vital. irama
berlebih. kriteria hasil : 3. Atur posisi pernafasan.
a. Klien semi fowler 2. Mengetahui
menunjukkan 4. Ajarkan teknik kondisi
kemudahan dalam bernafas pasien.
bernafas. buteyko. 3. Untuk
b. Ekspansi dada 5. Kolaborasi membantu
simetris pemberian ekspansi paru
c. Tidak ada bunyi okasigen dan 4. Untuk
tambahan bronkodilator. mengurangi
d. Tidak ada nafas sesak nafas.
pendek. 5. Membantu
memenuhi
kebutuhan
oksigen dan
meringankan
sesak nafas.
4. Gangguan kebutuhan Setelah dilakukan 1. Kaji 1. Mengetahui
nutrisi : kurang dari tindakan selama 2x24 pemenuhan kekurangan
kebutuhan tubuh jam diharapkan kebutuhan nutrisi klien.
berhubungan dengan terpenuhinya nutrisi nutrisi. 2. Agar dapat
intake nutrisi tidak sesuai kebutuhan 2. Kaji penurunan dilakukan
adekuat. tubuh. Dengan kriteria nafsu makan intervensi
hasil : klien. dalam
a. Adanya 3. Ukur berat pemberian
peningkatan badan klien. makanan pada
berat badan. 4. Berikan makan klien.
b. Mampu selagi hangat. 3. Membantu
menghabiskan 5. Ciptakan dalam
½ porsi suasana makan identifikasi
makan. yang malnutrisi
c. Mengalami menyenangkan. protein-kalori.
peningkatan 6. Jelaskan 4. Untuk
nafsu makan. pentingnya memudahkan
makanan bagi proses makan.
proses 5. Untuk
penyembuhan. meningkatkan
nafsu makan.
6. Dengan
pengetahuan
yang baik
tentang nutrisi
akan
memotivasi
untuk
meningkatkan
pemenuhan
nutrisi.
C. Daftar Pustaka
Oemiati, R., 2013. Kajian Epidemiologis Penyakit Paru Obstruktif Kronik
(Ppok). Media Litbangkes , Vol. 23 No. 2.
PDPI, 2011. PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) Diagnosis dan
Penatalaksanaan. Jakarta : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
Somantri, I., 2012. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan, Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Tana, L. et al., 2016. Sensitifitas dan Spesifisitas Pertanyaan Gejala Saluran
Pernapasan dan Faktor risiko untuk Kejadian Penyakit Paru Obstruktif Kronik
(PPOK). Buletin Penelitian Kesehatan, Vol. 44, No. 4.
Wilkinson, J.M., 2017. Diagnosis Keperawatan Diagnosis NANDA-1,
Intervensi NIC, NOC Ed.10. Jakarta : EGC.
Salawati, L., 2016. Hubungan Merokok Dengan Derajat Penyakit Paru
Obstruksi Kronik. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, Volume 16 Nomor 3 .
Suddarth, B.&., 2015. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth,
Ed.12. Jakarta: EGC.