Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Orientasi Karya

Kehidupan masyarakat pasti memiliki adat yang merupakan gagasan kebudayaan,

norma dan kebiasaaan, kelambangan dan hukum adat lazim dilakukan si suatu daerah-daerah.

Adat Bali sesungguhnya merupakan serangkaian pengetahuan mengenai simbol-simbol yang

didapat melalui pengalaman maupun proses belajar yang ada pada masyarakat Bali. Menurut

Suparlan (1981:241) simbol adalah segala sesuatu (benda, peristiwa, kelakuan, atau tindakan

manusi, ucapan) yang telah ditempeli suatu arti tertentu menurut kebudayaan yang bersangkutan.

Masyarakat Hindu Bali identik dengan berbagai kegiatan upacara ritual budaya dan adat

istiadat. Upacara-upacara sudah sejak lama menjadi tata cara dan adat yang dilakukan turun

temurun oleh masyarakat Bali yang masih melekatkan diri dengan tradisi leluhur. Budaya, adat

dan agama sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Bali, salah satunya adalah kasta.

Masyarakat Hindu di kenal adanya sistem kasta atau Catur Kasta karena adanya

persoalan (perkembagan masyarakat) yang membagikan tingkatan seseorang di masyarakat

berdasarkan kelahiran. Kasta di bagi berdasarkan tingkatan, yaitu kasta Brahmana yang diawali

dengan gelar Ida Bagus untuk laki-laki, dan Ida Ayu (disingkat Dayu) untuk perempuan. Pada

masa lalu, kasta Brahmana adalah golongan rohaniwan atau pemuka agama, yaitu pendeta,

pedanda, beserta keluarganya. Kasta Kesatria biasanya diawali dengan gelar Anak Agung

(disingkat Gung), Cokorda (disingkat Cok), Desak atau Gusti. Mereka umumnya keturunan raja

dan tinggal di puri atau sekitar puri, yaitu kediaman leluhur mereka (Bangsawan Bali) yang

memerintah atau mengabdi pada masa lalu. Kasta Waisya dengan gelar nama I Gustu Bagus,

mereka umumnya dominan berpofesi bidan niaga dan industri. Kasta Sudra merupakan kasta
terakhir yang berfrofesi pejabat negara hingga buruh kasar. Kastai ini tidak memiliki gelar

kebangsawanan, namun langsung mengacu pada urutan kelahiran Wayan, Made, Komang, dan

Ketut.

Turun kasta terjadi adanya pernikahan Nyerod (terpeleset), prosesnya pun sedikit

berbeda dengan pernikahan biasanya. Pernikahan Nyerod menyebabkan turunnya kasta di

karenakan pihak laki-laki memiliki kasta yang lebih rendah (Sudra) di bandingkan dengan kasta

perempuan yang lebih tinggi (Waisya). Karean pihak perempuan biasanya tidak akan

mengizinkan putri mereka menikah dengan lelaki yang memiliki kasta lebih rendah. Maka dari

itu, biasanya pernikahan terjadi secara sembunyi-sembunyi atau bisa di sebut sebagai ngemaling

atau kawin lari sebagai alternatifnya. Kemudian, perempuan yang menikahi laki-laki yang

berkasta lebih rendah akan mengalami turun kasta mengikuti kasta suaminya, yang di sebut

sebagai Nyerod.

Pengambilan ide dinamis berada dalam alam nyata yang berujuk pada adat Bali yang di

gunakan dalam masyarakat Bali berdasarkan ajaran agama Hindu. Itulah mengapa ide ini di

jadikan sebagai tema penciptaan tari, karena memiliki keindahan pada hukum adat yang

berkembang pada masyarakat berdasarkan apa yang di lihat.

B. Kajian Sumber Penciptaan

Tradisi turun kasta meupakan salah satu hukum adat yang ada pada masyarakat Bali.

Turun kasta merupakan radisi keluar atau terbuangnya dari kasta yang di miliki, yang awalnya

memiliki kasta tinggi lalu turun ke kasta yang lebih rendah. Turun kasta ini terjadi ketika adanya

pernikahan beda kasta, di mana perempuan yang memiliki kasta yang lebih tinggi (Waisya)

menjalani pernikahan dengan laki-laki yang memiliki kasta yang lebih rendah (Sudra).
Dalam ajaran agama Hindu masyarakat bali tidak bisa hidup dalam satu keluarga

dengan dua kasta, jika pun pernikahan tersebut di lakukan pasti akan ada yang turun mengikuti

salah satunya. Sama halnya pernikahan ini otomatis perempuan yang kasta lebih tinggi akan

mengikuti kasta laki-lakinya, di sini lah perempuan tersebut keluar dari kastanya yang disebut

dengan turun kasta “Nyerod”.

Sumber gagasan atau ide penciptaan karya tari ini berawal dari pemikiran sendiri,

melihat bagaimana menariknya tradisi turun kasta yang masih berjalan di masyarakat bali.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Rangsangan Tari

Tahapan ang di lakukan mulai dari penetapan ide dalam penciptaan karya tari Mecebor

kinestetik, yaitu melihat dan menirukan perilaku orang saat melakukan tradisi lalu dituangkan

dalam gerakan.

Adegan I : Memunculkan dua adegan, satu kasta Waisya (perempuan), dan kedua kasta

Sudra (laki-laki).

Adegan II : Serangkaian proses untuk menurunkan kasta perempuan yang memiliki kasta

leih tinggi agar sederajat dengan kasta rendah.

Adegan Tiga : Tidak di izinkan untuk melakukan serangkaian proses secara formal.

Adegan Empat: Turunnya kasta perempuan menjadi sederajat dengan kasta laki-laki.
B. Tema Tari

Tema tari ini di ambil dari tradisi yang ada pada kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.

Turun kasta dijadikan panduan, di mana ada tingakatan hidup umat berdasarkan kelahiran, terdiri

dari empat kasta, yaitu kata Brahmana, Kesatrya, Waisya, dan Sudra. Dalam pengambilan ide di

garap sesuai apa yang terjadi yaitu turunnya kastra Waisya menjadi kasta Sudra, di karenakan

adanya pernikahan antara Perempuan Waisya dengan laki-laki Sudra.

Tradisi Bali menuntun bahwa dalam pernikahan perempuanlah yang wajib mengikuti

laki-laki, jadi ketika perempuan yang menikah beda kasta akan mngikuti kasta laki-lakinya.

Begitu juga dengan silsilah kasta ini dalam perempuan kasta tinggi harus di turunkan agar

menjadi satu kasta dengna laki-lakinya.

C. Judul Tari

Judul tari adalah Mecebor, karena dalam istilah turun kasta/Wangsa di ambil dari tradisi

bali yang masih di jalani sampai saat ini. kata Mecebor berasal dari turun kasta yang artinya

“Terpeleset”, untuk membuat karakter tarian lebih terlihat menarik maka penentuan judul di

ambil dari bahasa Bali yang di gunakan sehari- hari.

D. Tipe Tari

Tipe karya yaitu Erotik yang menyesuaikan dengan kisah pasangan beda kasta.

Perempuan yang berkasta tinggi menikah dengan laki-laki yang berkasta lebih rendah, menikah

menjadi satu kasta. Di sini pengorbanan seorang perempuan yang ingin hidup bersama laki-

lakinya rela menurun/keluar dari kastanya untuk menjadi kasta lebih rendah.

E. Mode Penyajian Tari


Simbolis yang tidak terlalu menekankan objek secara nyata karena untuk menyamaikan

isi tema tari melalui simbol gerak, hanya menggunakan esensi yang lebih menawarkan suatu

kedalaman makna gerak tersebut.

F. Penari

Dua penari menyesuaikan dengan tema tari, menceritakan sepasang kekasih yang ingin

melakukan pernikahan dengan perbedaan kasta. Satu penari perempuan memiliki kasta tinggi

(Waisya) dan satu penari laki-laki kasta lebih rendah (Sudra).

G. Gerak Tari

Berdasarkan hasil penemuan dengan melihat bermacam ragam gerak tari Bali, maka

gerak dasar dalam pencitaan tari yang menggunaka adalah beberapa motif gerak tari Bali antara

lain Mentang Laras, Ulap-Ulap, Ngepik, Mungkah Lawang, Luk ngelimat, Tapak Sirang Pade,

Ngangget. Adapun perpaduan dengan macam-macam gerak Bali lainnya: Ngumbang, Nyalud,

Jeriring, Seleag-Seleog, Nyeledet. Hasil penemuan kembangan dari beberapa ragam gerak:

1. Ragam Mentang Kanan Kiri

Sikap awal posisi siap dengan berdiri tegak dengan kedua telapak tanga menutup

depan paha, kepala menghadap ke depan.

Hit : 1 – 8 : Tangan kanan lurus membentang kekanan, tangan kiri tekuk di dada,

berjalan lambat.

1 – 8 : Tangan kiri lurus membentang kekiri, tangan kanan tekuk di dada. Ngegol

berjalan di tempat.

1 – 2 : Telapak tangan kiri menyatu pada telapak tangan kanan dengan posisi jalan

di tempat.
3 – 4 : Kedua tangan lurus kedepan, dengan telapak tangan membuka.

5 – 8 : Telapak tangan ukel ke arah dalam.

2. Ragam Mungkah Lawang

Sikap posisi berdiri, sikap seorang penari.

Hit : 1 : kaki kanan di depan

2 – 4 : tangan tangan di atas dengan pergelangan sejajar muka membuka jari.

5 : Kaki kanan ke belakang

6 – 8 : Tangan membuka

1 : Kaki kanan kebelakang

2 – 4 : Tangan membuka

5 : Kaki Kanan di depan

6 – 8 : tangan membuka.

3. Gerak Luk Ngelimat, gerak tangan kanan dan kiri berayun dengan haluan yang

berlawanan, badan mengikuti ayunan tangan arah atas bawah.

4. Gerak Ngepik, kedua tangan di atas lurus pergelangan tangan bolak – balik secara

bergantian sambil berjalan.

5. Gerak Seleag-Seleog, badan condong kanan condong kiri.

6. Ragam Ulap-Ulap

Posisi siap menari Bali

Hit : 1 : Tangan kanan di tekuk dan ayun ke arah kiri


2 – 4 : kedua tangan tarik ke samping kanan kiri

5 – 8 : Tangan kanan kiri di letakan samping kiri sedikit ke bawah.

7. Gerak Mentang Laras, posisi satu tangan lurus ke depan.

8. Gerak Ngangget, tangan kanan memanjang kekanan sedikit menekuk, tangan kiiri

menekuk dan telapak tangan menenpel pada dada.

9. Gerak Ngumbang, berjalan.

10. Gerak Nyeledet, gerak mata ke kanan kiri

11. Gerak Nyeriring, jari bergetar halus.

H. Tata Rias dan Busana Tari

Perempuan

1. Make up yang di gunakan untuk mempertegas karakter perempuan mengunakan cantik.

2. Busana yang di gunakan: Baju kebaya khas Bali, kamen jadi, kain lembaran khas penari

bali, selendang, bebet.

3. Aksesoreis yang di gunakan: Sanggul, bunga kambja, gelang Tri Datu, gelang emas

pegelangan tangan, gelang emas lingkaran lengan, anting, bros Bali, mahkota khas Bali.

Laki-Laki

1. Make Up yang di gunakan untuk mempertegas karakter laki-laki.

2. Busana yang di gnakan: Baju modifikas sapari Bali, Udeng, celana pendek, Saput, tali

pinggang.

3. Aksesorie : Bunga kamboja dan gelang Tri Datu.

I. Area Pentas
J. Pola Lantai

K. Musik Iringan Tari

Alat musik yang di gunakan sebagai iringan tari adalah Reong, Gangseng, Cang-Ceng,

Petukdan Kendang.

L. Properti

Dalam Tarian ini tidak menggunakan properti, untuk membantu cerita agar terlihat sesuai

dengan karaker dan cerita dari tema dalam tarian lebih fokus pada penggunaan kostum.

M. Tata Cahaya

Tata cahaya yang di perlukan adalah Lighting sebagai penerang dan pencahayaan sebagai

unsur pendukung suasana pada saat pertunjukan tari di lakukan. Tata letak dan tata fokus berada

pada penempatan lampu yang di arahkan di depan panggung, dan di atas agar titik pokus terdapat

pada daerah pementasan atau panggung.

N. Tata Suara

Tata suara untuk mempertegas menambah daya imaginasi sehingga iringan tari

menghasilkan suara yang lebih baik. Memerlukan sumber suara untuk mendapatkan bunyi secara

langsung melalui alat musik yang di gunakan, bantuan sound system atau loud speaker.

BAB III

PEROSE GARAPAN

A. Tahap Awal

Awal munculnya ide garapan tari Mecebor ini berinspirasi ketikah melihat sepasang

kekasih melakukan pernikahan dengan cara unik, karena tidak seperti orang-orang biasanya
melakukan serangkaian proses secara formal. Ketika mendengar serta mencari tahu lebih lanjut

soal pernikahan beda kasta, pada saat itulah muncul ide dan tertarik untuk menjadikan sebuah ide

garapan tari.

B. Tahap Improvisasi dan Eksplorasi

Gerak dasar tari yang di gunakan berawal dari, Agem merupakan sikap pokok, Tandang

untuk mempermudahkan perpindahan suatu gerek pokok ke gerak pokok lainnya agar

berkesinambungan, Tangkep merupakan ekspresi yang timbul pada muka.

Gerak yang di ambil dari gerak tari Bali, yaitu Ulap-Ulap, Ngepik, Mungkah Lawang,

Luk Melimut, ngetep, Metayungan, Malpal, Tapak Sirang Pade. Dapat di pergunakan untuk

menyesuaikan adegan-adegan yang sudah tersusun.

C. Tahap Pengorganisasian Bentuk

D. Tahap Latihan

Menggarap sebuah tari di perlukan tahap latihan, agar mendapatkan evaluasi dalam setiap

gerak, dapat memperbaiki serta memperhalus gerakan tari. Tahap latihan mandiri dalam

pencarian gerak tari awal dari maret tanggal 31, jadwal 3 kali dalam 1 minggu dilakuka dalam

jangka waktu 2 bulan.

Jadwal Latihan

No Latihan Hari Tanggal


1 Mandiri Sabtu Maret: 7, 14, 21,28. April: 4, 11, 18, 25
2 Bersama Penari Selasa Maret: 10, 17, 24,31. April: 7, 14, 21, 28

Minggu Maret: 15, 22, 29. April: 5, 12,19,26


3 Pemusik Selasa Maret: 10, 17, 24,31. April: 7, 14, 21, 28

Rabu

E. Evaluasi Proses Penggarapan


1. Evaluasi Penari dan Penata Tari

2. Evaluasi Penata Tari dan Pemusik

3. Evaluasi Penata Tari dan Pembimbing

4. Evaluasi Penata Tari dan Karya Seni

BAB IV

PENUTUP

Kesmpulan