Anda di halaman 1dari 72

PENGHITUNGAN,

PENYETORAN DAN
PELAPORAN PPN UNTUK
KEGIATAN TERTENTU

Ely Kartika
PENGHITUNGAN PPN
PEDAGANG ECERAN

Ely Kartika
Dasar Hukum
 UU Nomor 18 Tahun 2000 tentang PPN
 UU Nomor 42 Tahun 2009 tentang PPN
 KMK Nomor 252/KMK.03/2002 tentang Perubahan atas KMK Nomor 553/KMK.04/2000
 KMK Nomor 402/KMK.03/2002 tentang Perubahan atas KMK Nomor 253/KMK.03/2002 PPN atas
Penyerahan Barang Dagangan oleh Pedagang Eceran Selain Menggunakan Norma Penghitungan
Penghasilan Neto
 PMK Nomor 01/PMK.03/2007 tentang Penyesuaian Besarnya Peredaran Bruto bagi WP OP
yang boleh Menghitung Penghasilan Neto dengan Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan
Neto
 PMK Nomor 45/PMK.03/2008 tentang Penyesuaian Besarnya Peredaran Bruto bagi WP OP
yang boleh Menghitung Penghasilan Neto dengan Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan
Neto
 Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-102/PJ.52/2003 tentang Pelaksanaan KMK Nomor
402/KMK.03/2002 tentang PPN atas Penyerahan Barang Dagangan oleh Pedagang Eceran Selain
Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto
Definisi
Pedagang Eceran adalah Pengusaha yang dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya
melakukan usaha perdagangan dengan cara sebagai berikut :
1) Tidak bertindak sebagai penyalur kepada pedagang lainnya;
2) Menyerahkan Barang Kena Pajak (BKP) melalui tempat penjualan eceran seperti toko,
kios, atau dengan cara penjualan yang dilakukan langsung kepada konsumen akhir, atau
dari rumah ke rumah;

3) Menyediakan BKP yang diserahkan di tempat penjualan secara eceran tersebut;

4) Melakukan transaksi jual beli secara spontan tanpa didahului dengan penawaran
tertulis, pemesanan, kontrak, atau lelang, dan pada umumnya bersifat tunai dan pembeli
pada umumnya datang ke tempat penjualan tersebut langsung membawa sendiri Barang
Kena Pajak yang dibelinya.

Dasar hukum terkait adalah Pasal 1 UU PPN dengan perbedaan pada definisi PKP menurut UU 42/2009
dimana tidak disebutkan tentang pengecualian atas status PKP pengusaha kecil (pasal 1 angka 15)
Kewajiban
1.Melaporkan usahanya kepada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) setempat untuk
dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak dan kepadanya diberi Nomor
Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (NP PKP) selambat-lambatnya pada akhir
bulan berikutnya setelah bulan dilampauinya batas nilai peredaran BKP tersebut.
2.Dalam hal pengusaha tersebut tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan
menjadi PKP, maka KPP yang bersangkutan dapat menerbitkan Keputusan
Pengukuhan menjadi PKP dan memberi NP PKP secara jabatan.
3.Form yang digunakan adalah SPT Masa PPN formulir 1111 DM
Mekanisme
 Menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan dimana
penghasilan netonya untuk PPh menggunakan Norma Penghitungan
Penghasilan Neto
(Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 252/KMK.03/2002 Jo. KMK Nomor
553/KMK.04/2000 tentang Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan Bagi Pengusaha Kena
Pajak Memilih dikenakan Pajak dengan Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto, Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 01/PMK.03/2007, dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 45/PMK.03/2008)

 Menggunakan Mekanisme Umum


(Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 402/KMK.03/2002 Jo. Nomor 253/KMK.03/2002
dan Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP – 102/PJ.52/2003 jo.KEP – 342/PJ./2002)

Setiap PKP PE bebas untuk menggunakan salah satu dari mekanisme yang ada, sepanjang
memenuhi syarat dan dilakukan secara konsisten
Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan
Pedagang Eceran yang menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto adalah Pengusaha Orang
Pribadi dengan jumlah peredaran bruto dan atau penerimaan bruto selama 1 (satu) tahun buku tidak lebih
dari Rp. 4.800.000.000,00 (satu miliar delapan ratus juta rupiah) yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaan
utamanya adalah melakukan usaha perdagangan.

a. Pajak Keluaran dihitung dengan cara mengalikan nilai peredaran bruto dan atau penerimaan bruto
yang terutang Pajak Pertambahan Nilai pada Masa Pajak yang bersangkutan dengan tarif Pajak
Pertambahan Nilai.
b. Nilai peredaran bruto dan atau penerimaan bruto sebagaimana dimaksud dalam huruf a, tidak termasuk
Pajak Pertambahan Nilai.
c. Besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan ditetapkan sebagai berikut:
1. Untuk penyerahan Barang Kena Pajak oleh Pedagang Eceran dengan Norma Penghitungan Penghasilan
Neto, sebesar 80% (delapan puluh persen) dikalikan dengan Pajak Keluaran sebagaimana dimaksud
dalam huruf a;
2. Untuk penyerahan Barang Kena Pajak yang dilakukan Pengusaha Kena Pajak selain Pedagang Eceran,
sebesar 70% (tujuh puluh persen) dikalikan dengan Pajak Keluaran sebagaimana dimaksud dalam huruf a;
3. Untuk penyerahan Jasa Kena Pajak, sebesar 40% (empat puluh persen) dikalikan dengan Pajak Keluaran
sebagaimana dimaksud dalam huruf a.”
Pedoman Penghitungan Pengkreditan PM (lanjutan)

Kewajiban Membuat Pencatatan


Pengusaha Kena Pajak wajib membuat catatan nilai peredaran bruto dan atau penerimaan bruto yang menjadi
DPP, dan dalam hal Pengusaha Kena Pajak di samping melakukan penyerahan yang terutang pajak juga
melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak, catatan wajib dipisah antara penyerahan yang terutang pajak
dan penyerahan yang tidak terutang pajak.

Penghentian menggunakan pedoman pengkreditan Pajak Masukan


Apabila dalam suatu Masa Pajak Pengusaha Kena Pajak tidak lagi memenuhi syarat untuk dikenakan Pajak
Penghasilan dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto, maka mulai permulaan tahun buku
berikutnya Pengusaha Kena Pajak tidak lagi diperkenankan menggunakan pedoman pengkreditan Pajak
Masukan.

Menurut UU 36 Tahun 2008 tentang PPh pasal 14 ayat (2), WP OP yang menggunakan Norma Penghitungan
Penghasilan Neto adalah WP OP yang memiliki peredaran bruto kurang dari Rp 4.800.000.000,00, namun hal ini
belum diatur secara khusus dalam aturan pelaksanaannya (menurut PMK nomor 01/KMK.03/2008 batasannya
adalah Rp 4.800.000.000,00). Dengan demikian selain WP/ PKP tersebut harus menggunakan mekanisme
umum.
Mekanisme Umum
Pajak Keluaran
Atas penyerahan barang dagangan oleh Pedagang Eceran Selain Yang Menggunakan Norma
Penghitungan Penghasilan Neto, terutang Pajak Pertambahan Nilai sebesar 10% (sepuluh persen)
dari harga jual.

Pajak Masukan
Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran adalah:
a. Pajak Masukan atas perolehan Barang selain Barang dagangan;
b. Pajak Masukan atas perolehan Jasa Kena Pajak.

Kewajiban Membuat Faktur Pajak


Pedagang Eceran Selain Yang Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto yang
melakukan penyerahan Barang Kena Pajak, wajib membuat Faktur Pajak, memungut dan
menyetor pajak yang terutang, serta melaporkannya pada Surat Pemberitahuan Masa Pajak
Pertambahan Nilai.
Contoh pembagian industri ritel
 Discount Stores / Toko Diskon
Discount store adalah toko pengecer yang menjual berbagai barang dengan harga yang
murah dan memberikan pelayanan yang minimum. Contohnya adalah Makro dan Alfa
 Specialty Stores / Toko Produk Spesifik
 Specialty store adalah merupakan toko eceran yang menjual barang-barang jenis lini produk
tertentu saja yang bersifat spesifik. Contoh specialty stores yaitu toko buku gramedia, toko
musik disctarra, toko obat guardian, dan banyak lagi contoh lainnya.
 Department Stores
 Department store adalah suatu toko eceran yang berskala besar yang pengeloaannya
dipisah dan dibagi menjadi bagian departemen-departemen yang menjual macam barang
yang berbeda-beda. Contohnya seperti ramayana, robinson, rimo, dan sebagainya
 Convenience Stores
 Convenience store adalah toko pengecer yang menjual jenis item produk yang terbatas,
bertempat di tempat yang nyaman dan jam buka panjang. Contoh minimarket alfa dan
indomaret.
Ketentuan UU PPN tentang Pedagang
Eceran Menggunakan Norma
 Besarnya PM dapat dikreditkan sbb:
Untuk penyerahan BKP oleh pedagang eceran dengan norma
penghitungan penghasilan neto, sebesar 80% dikalikan
dengan PK
PK = 100 jt ---> 10% x 100 jt = 10 jt
PM = 80 % x 10 jt = 8 jt -
PPN = 2 jt
Untuk penyerahan BKP yang dilakukan PKP selain pedagang
eceran, sebesar 70% dikalikan PK
Untuk penyerahan JKP, sebesar 40% dikalikan dengan PK
Bagaimanakah penghitungan PPN
atas pengusaha pedagang eceran?
Pedagang Eceran Yang Menggunakan Norma
Penghitungan Penghasilan Netto
 PK = 10% x jml peredaran dan atau penerimaan
bruto
 PM yg dpt dikreditkan= 80% x PK
 PPN disetor = 20% x PK
 Pedagang Eceran Selain Yang Menggunakan
Norma Penghitungan Penghasilan Netto
 PK menggunakan DPP sebesar harga jual
 PPN terutang sebesar 10% x harga jual
 PPN disetor = PK - PM
 PM dapat dikreditkan
 PK 10 % x DPP = xx
 PM 10 % x DPP = xx
 PPN kurang/lebih bayar = xx
Jenis Pedagang Eceran
 Pedagang Eceran yang menggunakan norma
penghitungan penghasilan (pedagang eceran OP
omzet di bawah Rp4.800.000.000, memilih
menggunakan norma penghitungan penghasilan,
dan mendaftar sebagai PKP)
Jenis Pedagang Eceran
 Pedagang eceran yang tidak menggunakan norma
penghitungan penghasilan neto
- OP dengan omzet dibawah Rp4.800.000.000
memilih menggunakan pembukuan, dan
mendaftarkan diri sebagai PKP
- OP dengan omzet diatas Rp4.800.000.000, wajib
menggunakan pembukuan dan mendaftar sebagai
PKP Badan, wajib menggunakan pembukuan
Penyerahan Antar Cabang PKP
Pedagang Eceran
 PKP pedagang eceran yang memilih menggunakan
nilai lain sebagai dasar pengenaan pajak yang
memiliki lebih dari satu tempat penjualan, atas
penyerahan BKP antar tempat penjualan tersebut
tidak terutang PPN
 PKP pedagang eceran yang tidak memilih
menggunakan nilai lain sebagai DPP yang memiliki
lebih dari satu tempat penjualan, maka penyerahan
BKP antar tempat penjualan tersebut terutang PPN
Contoh
 Toko “Nona” menjual pakaian untuk konsumen di Pasar Induk
dengan omzet penjualan setahun Rp 800 juta. Penghitungan
penghasilan neto untuk Pajak Penghasilan Nona selaku pemilik
Toko memutuskan untuk menggunakan Norma Penghitungan
Penghasilan Neto.
 Selama bulan September 2014 omzet penjualannya adalah
Rp 150 juta dan membeli bahan dagangannya sebesar Rp 80
juta. Penghitungan PPN atas Toko “Nona” untuk bulan
September 2014 adalah sebagai berikut:
I. Menggunakan Pedoman Penghitungan
Pengkreditan Pajak Masukan

Peredaran Usaha Rp 150.000.000


 Pajak Keluaran 10% x Rp 150.000.000 = Rp 15.000.000
 Pajak Masukan 80% x Rp 15.000.000 = Rp 12.000.000 –
 PPN Kurang Bayar = Rp 3.000.000
 Atau dengan cara :
 Pajak Keluaran 10% x Rp 150.000.000 = Rp 15.000.000 x 20%
 PPN Kurang Bayar = Rp 3.000.000
II. Bandingkan jika Nona menggunakan Mekanisme
Umum untuk kewajiban PPN-nya

 Peredaran Usaha Rp 150.000.000


 Pajak Keluaran 10% x Rp 150.000.000 = Rp 15.000.000
 Pembelian Rp 80.000.000
 Pajak Masukan 10% x Rp 80.000.000 = Rp 8.000.000 -
 PPN Kurang Bayar = Rp 7.000.000

Dari 2 metoda di atas sudah tentu metoda yang I adalah metode yang
lebih menguntungkan bagi Onah karena bisa hemat hingga 100%,
sehingga “beban” usaha semakin ringan.
Soal
 PT Abadi merupakan perusahaan ritel besar yang
menjual berbagai macam peralatan rumah tangga
secara eceran dan merupakan PKP.
Diketahui penjualan bruto Pada bulan April 2014
sebesar Rp 400 jt, pembelian barang dagangan
sebesar Rp 320jt.
Hitung PPN kurang atau lebih bayar?
PENGHITUNGAN PPN
KEGIATAN MEMBANGUN
SENDIRI (KMS)
Dasar Hukum
 Pasal 16C Undang-undang PPN 1984, 2000, 2009
 Peraturan Menteri Keuangan Nomor
39/PMK.03/2010
 Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-27/PJ/2010
 PMK no. 163/PMK.03/2012 tentang : batasan dan
tata cara pengenaan pajak pertambahan nilai atas
kegiatan membangun sendiri
Ruang Lingkup
 KMS terutang PPN
 PPN terutang bagi orang pribadi atau badan yang melakukan KMS
 Kegiatan membangun adalah kegiatan membangun bangunan yang
dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang
pribadi atau badan yang hasilnya digunakan sendiri atau pihak lain
 Bangunan berupa satu atau lebih konstruksi teknik yang ditanam atau
dilekatkan secara tetap pada satu kesatuan tanah dan/atau perairan
dengan kriteria:
 konstruksi utamanya terdiri dari kayu, beton, pasangan batu bata atau
bahan sejenis, dan/atau baja;
 diperuntukkan bagi tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha; dan
 luas keseluruhan paling sedikit 200 m2 (dua ratus meter persegi).
Dasar Hukum
Pasal 16C UU PPN:
Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas
kegiatan membangun sendiri yang dilakukan
tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh
orang pribadi atau badan yang hasilnya
digunakan sendiri atau digunakan pihak lain
yang batasan dan tata caranya diatur dengan
Keputusan Menteri Keuangan.

24
PPN Terutang
 PPN terutang dihitung dengan cara mengalikan
tarif 10% dengan Dasar Pengenaan Pajak
 Dasar Pengenaan Pajak adalah 20% dari jumlah
biaya yang dikeluarkan dan/atau yang
dibayarkan untuk membangun bangunan, tidak
termasuk harga perolehan tanah
 PM yang dibayar sehubungan dengan kegiatan
membangun sendiri tidak dapat dikreditkan
Penghitungan PPN
 Formula:

PPN = 10% x (20% x biaya yang


dikeluarkan untuk membangun)
Tempat Pajak Terutang
 Tempat pajak terutang atas kegiatan membangun
sendiri adalah di tempat bangunan tersebut
didirikan
Saat dan Tempat PPN Terutang
 Saat terutangnya PPN Atas KMS terjadi pada saat
mulai dibangunnya bangunan
 KMS yang dilakukan secara bertahap dianggap
merupakan satu kesatuan kegiatan sepanjang
tenggang waktu antara tahapan-tahapan tersebut
tidak lebih dari 2 tahun
 Tempat PPN terutang atas kegiatan membangun
sendiri adalah di tempat bangunan tersebut didirikan
 PPN terutang oleh OP maupun badan yang
melakukan kegiatan membangun sendiri
Penyetoran
 Pembayaran PPN terutang dilakukan setiap bulan
sebesar 10% dikalikan dengan 20% dikalikan dengan
jumlah biaya yang dikeluarkan dan/atau yang
dibayarkan pada setiap bulannya
 PPN terutang wajib disetor ke Kas Negara melalui Kantor
Pos atau Bank Persepsi paling lama tanggal 15 bulan
berikutnya
 Penyetoran PPN terutang atas KMS dilakukan dengan
menggunakan SSP yang harus diisi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
Penyetoran
 Dalam hal tempat bangunan didirikan berada di
wilayah kerja KPP Pratama tempat orang pribadi
atau badan yang melakukan KMS terdaftar, kolom
NPWP diisi dengan NPWP orang pribadi atau
badan tersebut
Penyetoran
 Dalam hal tempat bangunan didirikan berada di wilayah
kerja KPP Pratama yang berbeda dengan KPP tempat
orang pribadi atau badan yang melakukan KMS
terdaftar, kolom NPWP pada SSP diisi dengan :
 angka 01 pada 2 digit pertama, untuk badan usaha;
 angka 04 pada 2 digit pertama, untuk orang pribadi;
 angka 0 pada 7 digit berikutnya;
 angka kode KPP Pratama yang wilayah kerjanya meliputi tempat
bangunan tersebut didirikan pada 3 digit berikutnya; dan
 angka 0 pada 3 digit terakhir
Penyetoran
 Dalam hal orang pribadi atau badan usaha yang
melakukan KMS belum memiliki NPWP, kolom NPWP
pada SSP diisi dengan :
 angka 01 pada 2 digit pertama, untuk badan usaha;
 angka 04 pada 2 digit pertama, untuk orang pribadi;
 angka 0 pada 7 digit berikutnya;
 angka kode KPP Pratama yang wilayah kerjanya meliputi tempat
bangunan tersebut didirikan pada 3 digit berikutnya; dan
 angka 0 pada 3 digit terakhir
Pelaporan
 Orang pribadi atau badan yang melakukan KMS wajib
melaporkan penyetoran kepada KPP yang wilayahnya
meliputi tempat bangunan tersebut dengan
mempergunakan lembar ketiga SSP paling lama akhir
bulan berikutnya
 Dalam hal yang melakukan KMS telah dikukuhkan
sebagai PKP dan tempat bangunan didirikan berada di
wilayah kerja KPP Pratama tempat orang pribadi atau
badan tersebut terdaftar, orang pribadi atau badan
yang melakukan KMS wajib melaporkan kegiatan
membangun sendiri dalam SPTMasa PPN dengan
melampirkan lembar ketiga SSP
Pelaporan
 Dalam hal yang melakukan KMS telah dikukuhkan
sebagai PKP dan tempat bangunan didirikan berada di
wilayah kerja KPP Pratama yang berbeda dengan KPP
terdaftar, orang pribadi atau badan yang melakukan
KMS :
 melaporkan penyetoran kepada KPP yang wilayahnya meliputi
tempat bangunan tersebut dengan mempergunakan lembar
ketiga SSP paling lama akhir bulan berikutnya
 wajib melaporkan KMS dalam SPT Masa PPN dengan
melampirkan foto kopi lembar ketiga SSP
Pelaporan
 Dalam hal PKP terdaftar di KPP Madya, KPP di
lingkungan Kanwil DJP Wajib Pajak Besar atau KPP
di lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus, PKP
tersebut wajib :
 melaporkan penyetoran kepada KPP yang wilayahnya
meliputi tempat bangunan tersebut dengan
mempergunakan lembar ketiga SSP paling lama akhir
bulan berikutnya
 wajib melaporkan KMS dalam SPT Masa PPN dengan
melampirkan foto copy lembar ketiga SSP
Pengkreditan Pajak Masukan
 Pajak Masukan yang dibayar sehubungan dengan
kegiatan membangun sendiri tidak dapat
dikreditkan
Surat Teguran dan Pemeriksaan
 Dalam hal orang pribadi atau badan yang melakukan KMS
tidak melakukan kewajiban penyetoran dan pelaporan ke KPP
tempat bangunan didirikan, Kepala KPP Pratama tempat
bangunan didirikan dapat mengeluarkan surat teguran
 Jika dalam waktu 14 hari sejak diterbitkannya surat teguran,
orang pribadi atau badan belum menyetor dan melaporkan
PPN terutang, Kepala KPP Pratama tempat bangunan
didirikan dapat melakukan pemeriksaan pajak untuk
menetapkan besarnya PPN terutang
 Berdasarkan hasil pemeriksaan Kepala KPP menerbitkan SKP
atas besarnya PPN terutang
Penerbitan NPWP Jabatan
 Dalam hal orang pribadi atau badan belum
memiliki NPWP, Kepala KPP Pratama menerbitkan
NPWP secara jabatan sesuai ketentuan yang
berlaku
 Dalam hal orang pribadi atau badan yang telah
memiliki NPWP namun berbeda dengan tempat
bangunan didirikan, Kepala KPP Pratama secara
jabatan menerbitkan NPWP sebagai cabang sesuai
ketentuan yang berlaku
Pihak yang Bertanggung Jawab
 Dalam hal OP atau badan membangun sendiri
bangunan untuk digunakan pihak lain sebagai
tempat tinggal atau tempat usaha, maka OP atau
badan tersebut wajib menyerahkan bukti setoran
asli PPN atas kegiatan membangun sendiri kepada
pihak lain yang menggunakan bangunan tersebut
Bangunan Digunakan Fihak Lain
 Jika bangunan sebagai hasil KMS digunakan oleh pihak lain
sebagai tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha, orang
pribadi atau badan yang melakukan KMS wajib menyerahkan
bukti SSP asli kepada pihak lain yang menggunakan
bangunan tersebut
 Jika orang pribadi atau badan yang membangun sendiri
bangunan untuk digunakan pihak lain tidak dapat
menunjukkan bukti SSP asli, pihak lain yang menggunakan
bangunan tersebut bertanggung jawab secara renteng atas
pembayaran PPN yang terutang
 Pihak lain yang bertanggung jawab secara renteng atas
pembayaran PPN terutang wajib menyetor PPN terutang dan
melaporkan penyetoran tersebut ke KPP Pratama tempat
bangunan didirikan
Pengertian-Pengertian
 Kegiatan membangun sendiri adalah kegiatan
membangun sendiri bangunan yang diperuntukkan
bagi tempat tinggal atau tempat usaha dengan
luas bangunan 200 m2 atau lebih dan bersifat
permanen
 Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan
secara bertahap dianggap merupakan satu
kesatuan kegiatan sepanjang tenggang waktu
antar tahapan-tahapan tersebut tidak lebih dari
dua tahun
Pengertian-Pengertian
 Kegiatan mendirikan bangunan yang dilakukan
melalui kontraktor atau pemborong bukan
merupakan kegiatan membangun sendiri sepanjang
dapat dibuktikan bahwa atas kegiatan membangun
tersebut telah dipungut PPN
 Bangunan adalah bangunan permanen yang
konstruksi utamanya terdiri dari tembok, kayu tahan
lama, atau bahan lain yang mempunyai kekuatan
sampai 20 tahun
Pengertian-Pengertian
 Tanah kaveling adalah sebidang tanah di dalam
kawasan realestat yang telah dipersiapkan sesuai
dengan persyaratan pembukuan dalam
penggunaan, penguasaan, pemilikan tanah dan
rencana tata ruang lingkungan tempat tinggal atau
lingkungan hunian untuk membangun bangunan
Tanah Kaveling Kawasan Realestat
 Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan di
dalam kawasan realestat oleh pemilik kaveling
berlaku ketentuan kegiatan membangun sendiri
 Pada saat ditandatanganinya surat pemesanan
tanah/surat perjanjian pra jual beli/perjanjian pra
jual beli/akte jual beli atas transaksi penjualan tanah
kaveling, pembeli tanah kaveling wajib mengisi dan
menandatangani surat pernyataan kesanggupan
membayar PPN atas kegiatan membangun sendiri
yang diberikan oleh pihak realestat
Tanah Kaveling Kawasan Realestat
 Pengusaha realestate wajib melaporkan transaksi
penjualan tanah kaveling kepada kepala KPP yang
wilayah kerjanya meliputi tempat tanah kaveling
berada paling lambat satu bulan sejak tanggal
penandatanganan formulir
 Apabila pengusaha realestate tidak melakukan
kewajiban tersebut, maka kegiatan pendirian
bangunan di atas tanah kaveling tersebut dianggap
dilakukan oleh pengusaha realestat
Contoh
 Pada Bulan November 2017 Bapak Setiawan membangun
sebuah toko untuk kegiatan usahanya, kegiatan membangun
tersebut dimulai pada bulan April 2017 dan selesai pada
bulan November 2017.
 Luas keseluruhan dari toko tersebut adalah sebesar 300 m2,
total biaya yang dikeluarkan oleh Bapak Setiawan dalam
kegiatan membangun sendiri tersebut sampai dengan
selesainya bangunan tersebut adalah sebesar
Rp.500.000.000.
 Berapakah Pajak Pertambahan Nilai atas Kegiatan
Membangun Sendiri tersebut terhutang?
Jawab
 Sesuai dengan PMK No. 163/PMK.03/2012 tarif
PPN atas Kegiatan Membangun Sendiri yang
terhutang adalah:
 = 10% X 20% X DPP
 Sehingga PPN atas Kegiatan Membangun Sendiri
yang terhutang adalah:
 = 10% X 20% X 500.000.000
 = 10.000.000
Contoh
 Nada mendirikan rumah masing-masing di Jl. Ijen
No.1 seluas 400m2 dan Jl. Wilis No.8 Malang
seluas 300m2
 Pembangunan rumah di Jl Ijen No.1 dilaksanakan
oleh CV Nabila dan telah dikukuhkan sebagai PKP
 Pembangunaan rumah di Jl Wilis dilaksanakan oleh
tukang atau pemborong yang belum dikukuhkan
sebagai PKP
Contoh
 Biaya pembangunan rumah di Jl Ijen sebesar
Rp150jt untuk pemborong dan 250jt untuk material
 Biaya pembangunan rumah di Jl Wilis sebesar
Rp100jt untuk pemborong dan Rp200jt untuk
material
Hitung PPN?
Jawab
Jl Ijen = 10 % x 400 jt = 40 jt
Jl wilis =
DPP : 20% x 300jt = 60 jt
PPN : 10 % x 60 jt = 6 jt
 Pembangunan rumah di Jl Ijen tidak terutang PPN atas

kegiatan membangun sendiri sepanjang dapat dibuktikan


bahwa PPN atas jasa pembangunan rumah tersebut telah
kenakan PPN oleh CV Nabila
 Nada harus membayar PPN atas kegiatan membangun sendiri

atas pembangunan rumah di Jl Wilis sebesar 10% x (20% x


300jt) = 6jt.
Jawab
 Pembayaran tersebut dilakukan secara bertahap
tiap-tiap bulan sesuai dengan jumlah pengeluaran
biaya
 Penyetoran PPN tersebut dengan menggunakan SSP
ke kantor pos atau bank persepsi, dan selanjutnya
SSP lembar ke-3 dilaporkan ke KPP.
PENGHITUNGAN PPN
PABRIKAN/PRODUSEN HASIL
TEMBAKAU/ROKOK

Ely Kartika
Dasar hukum
 Pasal 9 ayat (1) dan (2), serta Pasal 1 angka 17 UU No 8 tahun 1983 sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan UU No 42 tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan
Nilan dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
 PPN Hasil Tembakau. (PMK-207/PMK.010/2016)tentang Pengenaan Pajak Pertambahan
Nilai Atas Penyerahan Hasil Tembakau.
 PER PJ 49 tahun 2015 tentang tarif cukai tembakau
 207/PMK.010/2016 Tentang Perubahan Atas peraturan Menteri Keuangan
Nomor174/PMK.03/2016 tentang Tata Cara Penghitungan dan Pemungutan Pajak
Pertambahan Nilai Atas Penyerahan Hasil Tembakau
1. Hasil tembakau adalah hasil tembakau sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang
Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai, yang meliputi sigaret, cerutu, rokok daun,
tembakau iris, dan hasil pengolahan tembakau lainnya, dengan tidak mengindahkan
digunakan atau tidak bahan pengganti atau bahan pembantu dalam pembuatannya.

2. Pengusaha Pabrik hasil tembakau adalah badan hukum atau orang pribadi yang
mengusahakan pabrik hasil tembakau dan memenuhi ketentuan sebagai Pengusaha
Pabrik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang
Cukai.

3. Importir hasil tembakau adalah orang pribadi atau badan hukum yang melakukan
kegiatan memasukkan hasil tembakau yang dibuat di luar negeri ke dalam daerah
pabean.

4. Harga Jual Eceran adalah harga penyerahan kepada konsumen akhir yang
didalamnya sudah termasuk Cukai dan Pajak Pertambahan Nilai
5. Pemberian cuma-cuma adalah penyerahan hasil tembakau kepada pihak ketiga secara
cuma-cuma.

6. Pemakaian sendiri adalah penyerahan hasil tembakau kepada pengusaha sendiri,


pengurus atau karyawan sendiri secara cuma-cuma.

7. Mitra Produksi adalah orang perorangan atau badan yang menghasilkan hasil tembakau
karena pesanan atau permintaan baik dengan bahan dan atas petunjuk dari Pengusaha
Pabrik hasil tembakau maupun tidak.

8. Jasa Makloon produksi hasil tembakau adalah kegiatan pemberian jasa dalam rangka
menghasilkan hasil tembakau karena pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas
petunjuk dari Pengusaha Pabrik hasil tembakau.

9. Pengusaha Kecil adalah Pengusaha yang selama satu tahun baku melakukan
penyerahan BKP atau JKP dengan jumlah peredaran bruto atau penerimaan bruto tidak
melebihi batas tertentu sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 552/KMK.04/2000.
1. Sigaret Kretek Mesin (SKM) adalah sigaret yang dalam pembuatannya dicampur dengan
cengkih, atau bagiannya, baik asli maupun tiruan tanpa memperhatikan jumlahnya yang dalam
pembuatannya mulai dari pelintingan, pemasangan filter, pengemasannya dalam kemasan untuk
penjualan eceran, sampai dengan pelekatan pita cukai, seluruhnya, atau sebagian menggunakan
mesin.

2. Sigaret Putih Mesin (SPM) adalah sigaret yang dalam pembuatannya tanpa dicampuri dengan
cengkih, kelembak, atau kemenyan yang dalam pembuatannya mulai dari pelintingan,
pemasangan filter, pengemasannya dalam kemasan untuk penjualan eceran, sampai dengan
pelekatan pita cukai, seluruhnya, atau sebagian menggunakan mesin.

3. Sigaret Kretek Tangan (SKT) adalah sigaret yang dalam pembuatannya dicampur dengan
cengkih, atau bagiannya, baik asli maupun tiruan tanpa memperhatikan jumlahnya yang dalam
proses pembuatannya mulai dari pelintingan, pengemasan dalam kemasan untuk penjualan
eceran, sampai dengan pelekatan pita cukai, tanpa menggunakan mesin.
4. Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF) adalah sigaret yang dalam pembuatannya dicampur dengan
cengkih, atau bagiannya, baik asli maupun tiruan tanpa memperhatikan jumlahnya yang dalam
proses pembuatannya mulai dari pelintingan, pemasangan filter, pengemasan dalam kemasan
untuk penjualan eceran, sampai dengan pelekatan pita cukai, tanpa menggunakan mesin.

5. Sigaret Putih Tangan (SPT) adalah sigaret yang dalam pembuatannya tanpa dicampuri dengan
cengkih, kelembak, atau kemenyan yang dalam proses pembuatannya mulai dari pelintingan,
pengemasan dalam kemasan untuk penjualan eceran, sampai dengan pelekatan pita cukai,
tanpa menggunakan mesin.

6. Sigaret Putih Tangan Filter (SPTF) adalah sigaret yang dalam pembuatannya tanpa dicampuri
dengan cengkih, kelembak, atau kemenyan yang dalam proses pembuatannya mulai dari
pelintingan, pemasangan filter, pengemasan dalam kemasan untuk penjualan eceran, sampai
dengan pelekatan pita cukai, tanpa menggunakan mesin.
7. Sigaret Kelembak Menyan (KLM) adalah sigaret yang dalam pembuatannya dicampur dengan
kelembak dan/atau kemenyan asli maupun tiruan tanpa memperhatikan jumlahnya.

8. Cerutu (CRT) adalah hasil tembakau yang dibuat dari lembaran-lembaran daun tembakau diiris
atau tidak, dengan cara digulung demikian rupa dengan daun tembakau untuk dipakai, tanpa
mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu yang digunakan dalam pembuatannya.

9. Rokok Daun atau Klobot (KLB) adalah hasil tembakau yang dibuat dengan daun nipah, daun
jagung (klobot), atau sejenisnya, dengan cara dilinting, untuk dipakai, tanpa mengindahkan
bahan pengganti atau bahan pembantu yang digunakan dalam pembuatannya
10. Tembakau Iris (TIS) adalah hasil tembakau yang dibuat dari daun tembakau yang dirajang,
untuk dipakai, tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu yang digunakan
dalam pembuatannya.

11. Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) adalah hasil tembakau yang dibuat dari daun
tembakau yang dibuat secara lain sesuai dengan perkembangan teknologi dan selera
konsumen, tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu yang digunakan
dalam pembuatannya.
Atas penyerahan hasil tembakau yang dibuat di dalam
negeri oleh Pengusaha Pabrik hasil tembakau atau hasil
tembakau yang dibuat di luar negeri oleh importir hasil
tembakau, dikenakan Pajak Pertambahan Nilai

Besarnya Harga Jual Eceran hasil tembakau tersebut adalah :


a. Harga Jual Eceran; atau
b. 75% (tujuh puluh lima persen) dari Harga Jual Eceran, dalam hal pemberian
cuma-cuma; atau
c. 50% (lima puluh persen) dari Harga Jual Eceran, dalam hal Pemakaian Sendiri.
Mengingat harga jual kepada konsumen
terakhir termasuk Pajak Pertambahan Nilai
dan sebagian besar dari Pedagang Eceran
tergolong sebagai bukan Pengusaha Kena
Pajak, maka Tarif Efektif Pajak
Pertambahan Nilai atas penyerahan hasil
tembakau buatan dalam negeri atau impor
dan penyerahan hasil tembakau buatan
luar negeri adalah sebesar 9,1% dari
Harga Jual Eceran yang merupakan Dasar
Pengenaan Pajak.

PMK 207 tahun 2017 Penyerahan hasil tembakau = 9,1% x HJE


(1) Pajak Pertambahan Nilai yang terutang atas penyerahan hasil tembakau yang dibuat di dalam
negeri atau hasil tembakau yang dibuat di luar negeri dipungut dan disetor oleh Pengusaha
Pabrik hasil tembakau atau Importir hasil tembakau, termasuk sebagai Pengusaha Kecil yang
memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, bersamaan pada saat pembayaran
Cukai atas penebusan pita cukai dengan cara penyetoran tunai kepada Bank Persepsi dengan
Surat Setoran Pajak.

(2) Pajak Pertambahan Nilai atas impor dan atau perolehan Barang Kena Pajak dan atau Jasa
Kena Pajak yang mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha dapat diperhitungkan
dengan Pajak Pertambahan Nilai yang harus disetor pada saat pembayaran Cukai atas
penebusan pita cukai pada Masa Pajak berikutnya.

(3) Atas impor hasil tembakau yang dibuat di luar negeri yang telah dilunasi PPNnya sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) tidak lagi dipungut Pajak Pertambahan Nilai Impor.

(4) Untuk menetapkan jumlah yang disetor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Pengusaha
Pabrik hasil tembakau dan Importir hasil tembakau dapat memperhitungkan :
a. Kelebihan Pajak Masukan yang diperhitungkan dalam SPT Masa PPN MasaPajak sebelum
masa dilakukan penebusan;
b. Nilai Pajak Pertambahan Nilai atas pita cukai yang dikembalikan.
(1) Kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai akibat adanya pengembalian pita
cukai dapat diperhitungkan dengan Pajak Pertambahan Nilai yang harus disetor
pada saat pembayaran Cukai atas penebusan pita cukai.

(2) Dalam hal Pengusaha Pabrik hasil tembakau atau Importir hasil tembakau
menghentikan kegiatan usahanya dan tidak lagi melakukan penebusan pita cukai,
maka kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai dapat diajukan permohonan
pengembalian.

(3) Permohonan pengembalian Pajak Pertambahan Nilai diajukan kepada Kepala Kantor
Pelayanan Pajak tempat Pengusaha Pabrik hasil tembakau atau Importir hasil
tembakau terdaftar dan diproses sesuai dengan tatacara pengembalian pajak yang
seharusnya tidak terutang.
(1) Pengusaha Pabrik Hasil Tembakau yang tergolong sebagai Pengusaha Kecil
yang tidak memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak adalah
bukan Pengusaha Kena Pajak.

(2) Pedagang Besar, Agen, Penyalur Utama, dan Pedagang Eceran, yang semata-
mata melakukan penyerahan hasil tembakau, tidak perlu dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak.

(3) Apabila dalam suatu bulan tahun Takwim berjalan, Pengusaha Pabrik Hasil
Tembakau jumlah peredaran brutonya melebihi batasan Pengusaha Kecil, Maka
Pengusaha Pabrik Hasil Tembakau tersebut harus dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak paling lambat akhir bulan berikutnya setelah bulan saat
batasan Pengusaha Kecil telah terlampaui.

(4) Dalam hal terjadi kekurangan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai akibat
dilampauinya batasan Pengusaha Kecil, kepada Pengusaha Pabrik Hasil
Tembakau yang bersangkutan dapat diterbitkan surat ketetapan pajak sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
Contoh :
 PT Gudang Gula akan menebus cukai rokok
dengan harga jual kepada konsumen akhir (harga
bandrol) sebesar Rp 1.000.000.000,00. Hasil
tembakau tersebut akan dijual dari pabrik ke
distributor seharga Rp 750.000.000,00.
 DPP PPN Rp 1.000.000.000,00.
Pembayaran/Penyetoran PPN
 Untuk menetapkan jumlah yang disetor tersebut,
Pengusaha Pabrik hasil tembakau dan importir hasil
tembakau dapat memperhitungkan:
- Kelebihan PM yang diperhitungkan dalam SPT
masa PPN masa pajak sebelum masa dilakukan
penebusan
- Nilai PPN atas pita cukai yang dikembalikan
Dikecualikan Dikenakan PPN
 Pengusaha pabrik hasil tembakau yang tergolong
sebagai pengusaha kecil yang tidak memilih untuk
dikukuhkan sebagai PKP adalah bukan PKP
 Pedagang besar, agen, penyalur utama, dan
pedangang eceran, yang semata-mata melakukan
penyerahan hasil tembakau tidak perlu dikukuhkan
sebagai PKP
Mitra Produksi
 Jasa maklon produksi hasil tembakau yang diserahkan oleh
Mitra Produksi kepada Pengusaha Pabrik hasil tembakau
merupakan jasa kena pajak
 Mitra produksi harus dikukuhkan sebagai PKP sepanjang tidak
tergolong sebagai pengusaha kecil
 PPN yang terutang atas penyerahan jasa maklon produksi
hasil tembakau adalah 10% X Imbalan Jasa Maklon produksi
hasil tembakau, yaitu nilai berupa uang, termasuk semua
biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh Mitra
Produksi karena penyerahan jasa maklon produksi hasil
tembakau
Mitra Produksi
 Apabila mitra produksi menghasilkan hasil tembakau karena
pesanan atau permintaan, dengan bahan baku dari mitra
produksi yang bersangkutan, dan pengerjaannya atas
petunjuk pengusaha pabrik hasil tembakau
 Maka : atas penyerahan hasil tembakau kepada pengusaha
pabrik hasil tembakau terutang PPN sebesar 10% dari harga
jual yaitu nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang
diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena
penyerahan BKP, tidak termasuk PPN yang dipungut dan
potongan harga yang dicantumkan dalam faktur pajak.
Pengusaha Pabrik Hasil Tembakau Dalam Negeri "A" dalam Masa Pajak April
2017 melakukan kegiatan sebagai berikut :

• Tanggal 27 April 2017 menebus pita cukai pada Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai dengan nilai penyerahan (total HJE) sebesar Rp 12 Milyar, sehingga
nilai PPN yang terutang sebesar Rp. 1.092.000.000 (9,1% x Rp 12 Milyar).
• Kelebihan PPN Masa Pajak Maret 2017 berdasarkan SPT Masa Pajak Maret
2017 yang telah dilaporkan pada tanggal 20 April 2017 sebesar Rp 100 juta.
• Setoran tunai pada saat penebusan pita cukai sebesar Rp 992 juta dengan
Surat Setoran Pajak.
• Membeli bahan-bahan baku/pembantu produksi dalam negeri dengan
membayar Pajak Masukannya sebesar Rp 450 juta selama Masa Pajak April
2017.
• Melakukan impor mesin produksi dari luar negeri dengan membayar PPN
Impor sebesar Rp 150 juta.
• Tidak ada pita cukai yang dikembalikan.
Penghitungan PPN Masa Pajak April 2017:

- Pajak Keluaran Masa Pajak April 2017 = Rp 1.092.000.000,-


- Kompensasi PPN Masa Pajak Maret 2017 = (Rp 100.000.000,-) _
- PPN disetor dimuka dalam Masa Pajak April 2017 = Rp 992.000.000,- (SSP)
- Pajak Masukan Dalam Negeri pada Masa Pajak April = Rp 450.000.000,-
2017
- Pajak Masukan Impor pada Masa Pajak April 2017 = Rp 150.000.000,-
= Rp 600.000.000,-
- Diperhitungkan dalam penebusan pita cukai pada = Rp ,-
Masa Pajak April 2017
- Lebih bayar April 2017 = Rp 600.000.000,-
Pengisian SPT Massa PPN Masa Pajak April 2017 sebagai berikut :
Penyerahan dengan tarif efektif = Rp 12.000.000.000,-
Pajak Keluaran = Rp 1.092.000.000,-
Pajak yang disetor dimuka dalam Masa Pajak yang sama = Rp 992.000.000,-
Pajak Keluaran yang harus dipungut sendiri = Rp 100.000.000,-
Pajak Masukan Impor = Rp 150.000.000,-
Pajak Masukan Dalam Negeri = Rp 450.000.000,-
Kompensasi Kelebihan PPN bulan lalu = Rp 100.000.000,-
Jumlah Pajak yang dapat diperhitungkan = Rp 700.000.000,-
Pajak yang Lebih bayar = Rp 392.000.000,-

Anda mungkin juga menyukai