Anda di halaman 1dari 19

AKUNTANSI BIAYA

METODE HARGA POKOK PROSES

Nama Kelompok :

 Fenny Wijaya ( 1807521191 )


 Komang Ayu Trishantika Dewi ( 1807521112 )

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2019
1.1 KARAKTERISTIK METODE HARGA POKOK PROSES

Metode pengumpulan biaya produksi ditentukan oleh karakteristik proses produk


perusahaan. Dalam perusahaan yang berproduksi massa, karakteristik produksinya adalah
sebagai berikut :

1. Produk yang dihasilkan merupakan produk standar


2. Produk yang dihasilkan dari bulan ke bulan adalah sama
3. Kegiatan produksi dimulai dengan diterbitkannya perintah produksi yang berisi
rencana produksi produk standar untuk jangka waktu tertentu

Sebagai contoh perusahaan yang berproduksi massa adalah perusahaan semen. Proses
produksi semen menghasilkan satu macam produk berupa semen Portland yang diukur
dengan satuan zak yang berat standarnya 50 kg. Produk yang dihasilkan dari bulan ke bulan
adalah sama. Perencanaan produksi dilakukan dengan diterbitkannya perintah produksi
(production order) setiap awal bulan yang berlaku untuk bulan tertentu. Atas dasar
karakteristik kegiatan produksi dalam perusahaan yang berproduksi massa, metode
pengumpulan biaya produksi dalam perusahaan tersebut memiliki karakteristik seperti berikut
:

Perbedaan Metode Harga Pokok Proses dengan Metode Harga Pokok Pesanan
Untuk memahami karakteristik metode harga pokok proses, berikut merupakan perbedaa
harga pokok proses dengan harga pokok pesanan. Perbedaan diantara dua metode
pengumpulan biaya produksi tersebut ialah :
1. Pengumpulan biaya produksi
Metode harga pokok pesanan mengumpulkan biaya produksi menurut
pesanan, sedangkan metode harga pokok proses mengumpulkan biaya produksi per
departemen produksi per periode akuntansi.
2. Perhitungan Harga Pokok Produksi per Satuan
Metode harga pokok pesanan menghitung harga pokok produksi per satuan
dengan cara membagi total biaya yang dikeluarkan untuk pesanan tertentu dengan
jumlah satuan produk yang dihasilkan dalam pesanan yang bersangkutan. Perhitungan
ini dilakukan pada saat pesanan telah selesai di produksi. Metode harga proses
menghitung biaya pokok produksi per satuan dengan cara membagi total biaya
produksi yang dikeluarkan selama periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang
dihasilkan selama periode yang bersangkutan.
3. Penggolongan Biaya Produksi
Dalam metode harga pokok pesanan, biaya produksi harus dipisahkan menjadi
biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung. Biaya produksi langsung
dibebankan kepada produk berdasar biaya yang sesungguhnya terjadi, sedangkan
biaya produksi tidak langsung dibebankan kepada produk berdasarkan tarif yang
ditentukan dimuka. Dalam metode harga pokok proses, pembedaan biaya produksi
langsung dan biaya produksi tidak langsung seringkali tidak diperlukan terutama jika
perusahaan hanya menghasilkan satu macam produk karena harga pokok per satuan
produk dihitung setiap akhir bulan, maka umumnya biaya overhead pabrik
dibebankan kepada produk atas dasar biaya yang sesungguhnya terjadi.
4. Unsur yang Digolongkan dalam Biaya Overhead Pabrik
Dalam metode harga pokok pesanan, biaya overhead pabrik terdiri dari biaya
bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung dan biaya produksi lain selain
biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Dalam metode ini biaya overhead
pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan dimuka. Dalam
metode harga pokok proses, biaya overhead pabrik terdiri dari biaya produksi selain
biaya bahan baku dan bahan penolong dan juga biaya tenaga kerja.

1.2 KONSEP DEPARTEMENTALISASI

Dalam memproduksi barang, perusahaan manukfaktur menggunakan lebih dari satu


departemen. Secara garis besar, departemen – departemen tersebut dikelompokkan menjadi
departemen produksi dan departemen jasa. Departemen produksi merupakan departemen
yang bertanggung jawab langsung menciptakan barang atau jasa yang dijual kepada
konsumen, sedangkan departemen jasa adalah departemen yang semata – mata melayani
kebutuhan departemen produksi. Departemen ini memiliki hubungan tidak langsung dengan
produk atau jasa yang diserahkan kepada konsumen.

Jika suatu departemen sudah di identifikasi sebagai departemen jasa, maka biaya
overhead pabrik yang terjadi pada departemen tersebut harus di identifikasi, selanjutnya
ditransfer ke departemen produksi. Alasan mengapa biaya overhead pabrik departemen jasa
harus dialokasikan ke departemen produksi adalah :
 Departemen jasa merupakan departemen yang mempunyai sumbangan dalam
memproduksi barang atau jasa.
 Biasanya tarif biaya overhead pabrik hanya dihitung di departemen produksi
saja, karena itu biaya overhead pabrik departemen jasa perlu dialokasikan.

Jika proses pengalokasian sudah dilakukan, dilanjutkan dengan pembebanan biaya


overhead pabrik ke masing – masing barang dan jasa yang dihasilkan. Pembebanan tersebut
sering menggunakan tarif yang telah ditetapkan dimuka. Oleh karena produk atau jasa yang
dihasilkan oleh departemen produksi banyak dan beragam. Ada 3 cara yang sering digunakan
dalam mengalokasikan biaya overhead pabrik departemen jasa ke departemen produksi
yaitu :

 Metode Langsung (Direct Method)


 Metode Alokasi Bertahap (Step Method)
 Metode Aljabar (Reciprocal Method)

1) Metode Langsung
Metode langsung ini bisa diterapkan jika semua biaya departemen pembantu
diserap oleh departemen produksi atau tidak ada silang antara departemen pembantu.
Biaya variabel departemen jasa langsung dialokasikan secara proposional ke
departemen produski yang menggunakan jasa tersebut, sedangkan biaya tetapnya
dialokasikan berdasarkan kapasitas normal atau kapasitas praktis.

Sebagai
ilustrasi
alokasi

berdasarkan metode langsung, berikut merupakan table biaya dari sebuah perusahaan
yang memiliki dua departemen, yaitu departemen jasa dan departemen produksi.
Sebelum proses pengalokasian dilakukan, beberapa data dan informasi yang terkait
dengan pabrik harus diperoleh, antara lain fasilitas pabrik, estimasi pemakaian listrik
per pabrik, jumlah karyawan pada setiap departemen, estimasi jumlah gaji, luas lantai
masing-masing pabrik, estimasi pemakaian bahan baku dan nilai asset. Data dan
informasi mengenai pabrik dari PT Budi Harapan Nusa dapat dilihat pada tabel
dibawah :

Setelah diketahui data mengenai kegiatan pabrik dan pemakaian fasilitas yang
ada, hal lain yang harus diketahui adalah anggaran biaya produski yang dibagi
berdasarkan masing-masing departemen yang dikelompokkan ke dalam departemen
produksi dan departemen layanan. Anggaran biaya produksi dari PT Budi Harapan
Nusa dapat dilihat pada tabel dibawah :
Setelah data mengenai fasilitas dan sumber daya yang dikonsumsi oleh pabrik
serta anggaran biaya overhead diketahui, proses pengalokasian biaya overhead pabrik
departemen pembantu dapat dikerjakan. Pengalokasian tersebut dimulai dari biaya
penanganan material. Dalam hal ini, dasar yang digunakan untuk pengalokasian
adalah jumlah biaya bahan baku yang dikonsumsi oleh masing-masing departemen
produksi. Seperti contohnya departemen pemotongan mengkonsumsi bahan baku
sebanyak 45% dari total bahan baku, maka biaya penanganan material yang
dialokasikan ke departemen pemotongan sebanyak Rp 14.150.000 (50% x
28.300.000) dan seterusnya. Biaya inspeksi dialokasikan sesuai dengan jumlah listrik
yang dikonsumsi oleh masing-masing departemen. Hal ini didasarkan atas pengertian
bahwa semakin banyak listrik yang dikonsumsi, maka proses insfeksi semakin banyak
karena itu biaya insfeksi yang dialokasikan ke departemen pemotongan adalah
sebanyak Rp 3.696.000 (22% x 16.800.000). Biaya fasilitas pabrik dialokasikan
berdasarkan luas lantai yang ditempati oleh masing-masing departemen produksi.
Departemen pemotongan menempati lantai sebanyak 31,25% dari seluruh luas lantai,
biaya fasilitas yang dialokasikan ke departemen pemotongan adalah sebanyak Rp
20.437.500 (31,25% x 65.400.000), sedangkan biaya administrasi pabrik dialokasikan
berdasarkan jumlah tenaga kerja pada masing-masing departemen. Departemen
pemotongan memperkerjakan 30 orang atau sebanyak 24% dari seluruh tenaga kerja,
maka biaya administrasi pabrik yang dialokasikan ke departemen pemotongan
sebanyak Rp 8.856.00,00 (24% x 36.900.000) dan seterusnya. Sesuai dengan cara
tersebut, distribusi biaya departemen pembantu dengan metode langsung dapat di lihat
pada tabel di bawah :
2) Metode Bertahap (Step Method)
Metode ini digunakan jika manfaat yang dihasilkan oleh departemen
pembantu, tidak hanya dinikmati oleh departemen produksi, akan tetapi juga
dinikmati sesame departemen pembantu. Karena itu sebelum dialokasikan ke
departemen produksi, terlebih dahulu dialokasikan antardepartemen pembantu.
Dalam pengalokasian biaya ke sesame departemen pembantu ini perlu
dipertimbangkan keterkaitan dan ketergantungan antara masing-masing departemen.
Jika masing-masing departemen pembantu saling terkait dan saling membutuhkan,
maka perlu dialokasikan antar-departemen pembantu, tetapi jika antar departemen
pembantu sama sekali tidak ada hubungan dan tidak saling membutuhkan,
pengalokasian antar departemen pembantu tidak perlu dilakukan. Proses
pengalokasian ini biasanya dimulai dari biaya overhead pabrik departemen pembantu
yang paling besar dan diikuti oleh jumlah yang lebih kecil. Alasannya adalah
departemen yang biayanya besar juga menghasilkan manfaat besar yang bias
dinikmati oleh departemen lainnya. Walaupun demikian, mengenai pengalokasian
jumlah biaya yang paling besar ini juga perlu dipertimbangkan, apakah departemen
jasa yang lainnya memang benar menerima manfaat dari departemen sebelumnya.
Dalam alokasi secara bertahap ini diasumsikan bahwa departemen yang sudah
dialokasikan biayanya tidak lagi menerima alokasi biaya dari departemen yang
lainnya.
Gambar diatas menjelaskan, mula-mula departemen pembantu A dialokasikan
ke departemen pembantu yang lainnya dan ke departemen produksi. Selanjutnya
departemen B dialokasikan ke departemen pembantu C dan departemen produksi X
dan Y tanpa harus dialokasikan lagi ke departemen A demikian juga seterusnya.
Setelah semua biaya departemen pembantu dialokasikan, diperoleh total biaya
overhead pabrik departemen produksi dan total tersebut dibagi sebagai dasar
pembebanan, sehingga diperoleh tarif biaya overhead pabrik per departemen.
Untuk memahami proses pengalokasian secara bertahap, perlu diketahui
hubungan antara masing-masing departemen pembantu. Selain dikonsumsi oleh
departemen produksi, konsumsi di antara departemen pembantu dapat diuraikan
sebagai berikut :
 Biaya fasilitas pabrik dialokasikan ke bagian penanganan material sebesar 6%,
bagian inspeksi 2% dan administrasi pabrik 2%, sedangkan sisanya 90%
dialokasikan ke departemen produksi berdasarkan luas lantai.
 Biaya administrasi pabrik dialokasikan ke bagian penanganan material 6% dan
bagian inspeksi 4% sedangkan sisanya 90% dialokasikan ke departemen
produksi berdasarkan jumlah karyawan.
 Biaya penanganan material dialokasikan ke bagian inspeksi sebanyak 5% dan
sisanya 95% dialokasikan ke departemen produksi berdasarkan pemakaian
bahan baku.
 Biaya inspeksi langsung dialokasikan ke departemen produksi berdasarkan
pemakaian listrik per departemen.

Dalam proses pengalokasian antar departemen pembantu perlu diperhatikan


bahwa departemen pembanty sudah menerima alokasi dari departemen pembantu
lainnya tidak perlu dialokasikan kembali ke departemen pembantu sebelumnya.
Proses pengalokasian secara bertahap dapat di lihat pada tabel dibawah
Tabel di atas menjelaskan bahwa biaya departemen pembantu yang
dialokasikan untuk pertama kalinya adalah biaya fasilitas, karena biaya tersebut
jumlahnya paling besar. Berdasarkan pengamatan biaya fasilitas, digunakan oleh
bagian penanganan persediaan sebanyak 6%, bagian inspeksi 2%, bagian administrasi
pabrik 2%, dan sisanya 90% dialokasikan ke departemen produksi. Pengalokasian ke
departemen produksi menggunakan cara yang sama dengan pengalokasian dengan
metode langsung yaitu memakai luas lantai.

Setelah bagian fasilitasm berturut-turut dialokasikan bagian administrasi


pabrik, biaya penanganan persediaan dan terakhir biaya inspeksi. Pengalokasian
berdasarkan metode bertahap perbedaannya tidak terlalu jauh dari pengalokasian
berdasarkan metode langsung.

3) Metode Aljabar
Pengalokasian biaya overhead pabrik berdasarkan metode aljabar
mengasumsikan bahwa pemakaian biaya oleh departemen yang lainnya, baik
departemen produksi maupun sesama departemen pembantu, secara rill dapat
ditentukan pemakaiannya. Metode aljabar digunakan terutama untuk menyelesaikan
masalah keterkaitan antar departemen. Metode ini mencoba menyempurnakan
metode-metode sebelumnya karena ada beberapa kelemahan dari metode-metode
tersebut, yaitu dalam metode langsung tida ada silang konsumsi antara sesama
departemen pembantu, dan dalam metode bertahap biaya departemen pembantu yang

sudah dialokasikan tidak lagi menerima alokasi dari departemen yang lainnya.
Dua departemen produksi dan dua departemen pembantu pada tabel dibawah
digunakan untuk mempermudah pemahaman metode aljabar :

Total biaya = biaya langsung departemen + biaya dialokasikan


C = 36.300.000 + 0.3D
D = 20.000.000 + 0.2C
Sehingga
C = 36.300.000 + 0,3 (20.000.000 + 0,2C)
C = 36.300.000
Berdasarkan + 6.000.000
perhitungan + 0,06C
tersebut, distribusi biaya departemen pembantu ke
C = 42.300.000 + 0,06C
departemen produksi dapat dilanjutkan seperti tabel di bawah :
0,94C = 42.300.000
C = 45.000.000
Dengan demikian
D = 20.000.000 + 0,2C
D = 20.000.000 + 0,2 (45.000.000)
D = 29.000.000
Setelah dilakukan distribusi antar departemen pembantu, besarnya biaya overhead
pabrik pada departemen pembantu C dan D adalah Rp 45.000.000 dan Rp 29.000.000. Angka
ini dapat diketahui berdasarkan perhitungan secara aljabar seperti yang sudah dilakukan
sebelumnya. Selanjutnya, departemen C di distribusikan ke departemen A 40%, departemen
B 40%, dan departemen D 20%. Departemen D di distribusikan ke departemen A 20%,
departemen B 50% dan departemen C 30%.

1.3 CARA PENYUSUNAN LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI

Dalam process costing seluruh biaya-biaya dibebankan ke suatu departemen,


selanjutnya biaya tersebut diringkas dalam laporan harga pokok produksi per departemen.
Laporan ini digunakan untuk menyajikan total biaya yang di kumpulkan dan terjadi selama
periode tertentu sampai menjadi produk jadi. Jika suatu produk dikerjakan melalui satu
departemen, maka laporan harga pokok produksinya hanya di buat oleh departemen yang
bersangkutan, sedangkan jika suatu produk dikerjakan melalui beberapa departemen, maka
perlu dibuat laporan harga pokok produksi per departemen walaupun pada akhirnya semua
biaya terkumpul di departemen terakhir (departemen penyelesaian).

Secara umum informasi yang dihasilkan dari laporan harga pokok produksi
mencakup:

1. Biaya total dan biaya per unit yang di transfer dari departemen sebelumnya
2. Bahan baku, upah langsung dan biaya overhead pabrik yang ditambahkan pada
departemen yang bersangkutan
3. Biaya per unit yang ditambahkan di departemen
4. Biaya total dan biaya per unit yang dikumpulkan pada akhir operasi
5. Nilai persediaan barang dalam proses pada akhir dan awal periode berdasarkan
berbagai macam tingkat penyelesaian
6. Biaya yang ditransfer ke departemen berikutnya atau ke Gudang

Contoh perhitungan harga pokok produksi perusahaan yang memproduksi roti


kaleng dengan lebih dari satu departemen. Adapun departemen yang digunakan
adalah departemen I (departemen penggilingan), dan departemen II (departemen
penyelesaian). Seperti halnya dengan perusahaan yang bekerja berdasarkan pesanan,
biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi adalah : bahan baku, upah
langsung, dan biaya overhead pabrik. Hanya saja bahan baku sebagian besar telah
diserap di departemen I. berikut perhitungan harga produk produksi pada masing-
masing departemen.

Departemen Penggilingan

PT Modern Bakery adalah sebuah perusahaan yang memproduksi roti dalam


kaleng dengan kapasitas produksi 150.000 kaleng per tahun. Dalam tahun pertama
akan di produksi 50.000 kaleng dengan total bahan baku 50.000 kg tepung terigu.
Diperkirakan bahwa 1 kg tepung terigu bias menjadi 1 kaleng roti. Dari jumlah
tersebut telah diselesaikan dan di transfer ke departemen II (penyelesaian) sebanyak
45.000 kaleng, sedangkan 4.000 kaleng masih dalam proses pengerjaan dan 1.000
kaleng hilang selama proses produksi. Biaya bahan baku yang dikeluarkan di
departemen I Rp 24.500.000, upah langsung Rp 29.140.000 dan biaya overhead
pabrik Rp 28.200.000. Laporan harga pokok produksi di departemen I adalah sebagai
berikut
Produk

Equivalen

Pada contoh perhitungan harga pokok produksi departemen I (penggilingan),


yang menjadi pusat perhatian adalah menentukan besarnya produksi equivalen.
Persediaan akhir barang dalam proses di departemen I menunjukkan jumlah 4.000
kaleng dengan tingkat penyelesaian bahan baku 100% dan upah langsung dah biaya
overhead pabrik 50%. Hal ini berarti di departemen I barang dalam proses tersebut
sudah menghabiskan 100% bahan baku dan di departemen berikut tidak perlu
ditambahkan bahan baku lagi. Upah langsung dan biaya overhead pabrik dengan
tingkat penyelesaian 50%, artinya barang dalam proses sebanyak 4.000 kaleng telah
menyerap upah langsung dan biaya overhead 50%, sehingga di departemen
berikutnya hanya perlu ditambah sebanyak 50% upah langsung dan biaya overhead
pabrik.

Produk equivalen untuk bahan baku berarti seluruh produk yang telah di
transfer ke departemen berikutnya ditambah seluruh barang dalam proses. Sedangkan
untuk upah langsung dan biaya overhead pabrik produksi equivalennya adalah seluruh
produk yang di transfer ke departemen berikutnya ditambah dengan 50% dari barang
dalam proses.

Departemen II (Penyelesaian)

Departemen II (penyelesaian) menerima 45.000 kaleng roti yang belum selesai


dari departemen I. Untuk penyelesaian roti tersebut, di departemen II ditambahkan
biaya sebagai berikut : biaya tenaga kerja langsung (BTL) sebanyak Rp 37.310.000,
biaya overhead pabrik Rp 32.800.000. tidak ada penambahan biaya bahan baku di
departemen II. Dari 45.000 kaleng roti yang diterima dari departemen I ternyata
sebanyak 40.000 berhasil diselesaikan dan di transfer ke Gudang barang jadi, dan
3.000 masih dalam penyelesaian dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut : biaya
tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik 25%, sedangkan sebanyak 2.000
dinyatakan hilang selama proses produksi. Laporan harga pokok produksi departemen
II adalah sebagai berikut
Produksi Equivalen

Seperti halnya dengan departemen I, di departemen II juga terdapat persediaan


akhir barang dalam proses dengan tingkat penyelesaian 25% untuk upah langsung dan
biaya overhead pabrik. Hal itu berarti di departemen II tidak perlu lagi ditambah
bahan baku, sedangkan barang dalam proses tersebut sudah menghabiskan 25% upah
langsung dan overhead pabrik. Dalam perhitungan produksi equivalen, bahan baku
tidak perlu di hitung lagi. Yang diperhatikan adalah upah langsung dan biaya
overhead pabrik saja. Dengan demikian, produksi equivalen upah langsung dan biaya
overhead pabrik adalah seluruh produk yang di transfer ke Gudang ditambah dengan
25% dari persediaan barang dalam proses.

Oleh karena ada produk yang hilang di departemen II pada awal proses,
jumlah biaya yang di transfer dari departemen I perlu di sesuaikan dengan produk
yang hilang. Dengan demikian, harga perunit yang ditransfer dari departemen I
menjadi naik yang disebabkan oleh unit yang hilang sudah menyerap biaya produksi.

1.4 PENERAPAN PENCATATAN TRANSAKSI DALAM METODE PROSES

1. Pengolahan Produk Dalam Satu tahap/departemen (tanpa ada produk hilang dalam
Proses)
2. Pengolahan Produk lebih dari Satu tahap/departemen (ada produk hilang dalam
Proses)
Ada dua metode perlakuan produk hilang didalam proses, yaitu:
- Produk hilang dianggap terjadi awal proses
Apabila produk hilang dianggap terjadi pada awal proses karakteristik
pengaruhnya terhadap perhitungan harga pokok sebagai berikut:
1. Produk hilang awal proses dianggap tidak menikmati biaya produksi pada
departemen atau tahap dimana produk hilang.
2. Dalam perhitungan produksi ekuivalen, produk hilang awal proses tidak
dimasukkan ekuivalen produksi.
3. Produk hilang awal proses tidak dibebani harga pokok.
4. Produk hilang awal proses yang terjadi pada departemen lanjutan
mengakibatkan harus dilakukan penyesuaian harga pokoksatuan yang diterima
dari departemen sebelumnya, oleh karena pemikul biaya jumlahnya berkurang
dan jumlah total biaya sama maka harga pokok satuan dari departemen
sebelumnya menjadi lebih besar.

- Produk hilang dianggap terjadi akhir proses


Apabila produk hilang dianggap terjadi pada akhir proses, karakteristik
pengaruhnya terhadap perhitungan harga pokok sebagai berikut:
(1)   Produk hilang awal proses dianggap telah menikmati biaya produksi pada
departemen atau tahap dimana produk hilang.
(2)   Dalam perhitungan produksi ekuivalen, produk hilang awal proses dimasukkan
ekuivalen produksi.
(3)   Produk hilang akhir proses diperhitungkan harga pokok, harga pokok pokok
produk hilang tersebut dibebankan kepada produk selesai yang dipindahkan ke
departemen berikutnya atau ke gudang produk selesai.
(4)   Dengan pembebanan harga pokok produk hilang akhir proses kepada harga pokok
produk selesai, mengakibatkan jumlah total harga pokok prodk selesai menjadi lebih
besar, oleh karena pemikul harga pokok jumlahnya tidak bertambah yaitu sebesar
produk selesai maka harga pokok satuan yang dipindahkan ke gudang produk selesai
atau ke departemen berikutnya ikut bertambah.

3. Pengolahan Produk lebih dari Satu tahap/departemen (ada produk  dalam Proses
dalam awal periode)
Produk dalam proses pada awal periode berasal dari produk dalam proses pada
akhir periode sebelumnya dan telah menikmati harga pokok pada periode sebelumnya
sesuai dengan departemen di mana produk masih dalam proses. Apabila produk dalam
proses awal berada dalam departemen pertama harga pokok yang telah dinikmati
meliputi biaya bahan, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik departemen
pertama. Sedangkan barang dalam proses pada departemen lanjutan telah menikmati
harga pokok dari departemen sebelumnya ditambah harga pokok yang telah dinikmati
pada departemen lanjutan tersebut.

Untuk menentukan besarnya harga pokok, perlakuan harga pokok produk


dalam proses awal periode dapat dipakai tiga metode, yaitu:
(a)    Metode harga pokok rata-rata
Perlakuan produk dalam proses awal dengan metode harga pokok rata-rata
memiliki karakteristik sebagai berikut:
(1)   Setiap elemen harga pokok produk dalamproses awal digabungkan dengan
elemen biaya yang terjadi dalam periode yang bersangkutan.
(2)   Oleh karena setiap elemen haraga pokok produk dalam proses digabungkan
dengan biaya periode yang bersangkutan, harga pokok produk dalam proses awal
harus dipecah kembali ke dalam setiap elemen biaya.
(3)   Besarnya produksi ekuivalen dapat dihitung sebesar jumlah produk selesai
ditambah jumlah produk dalam proses akhir.
(4)   Besarnya harag pokok satuan untuk setiap elemen biaya dihitung dengan cara
membagi jumlah total elemen biaya yang bersangkutan setelah digabung jumlah
produksi ekuivalen dari elemen biaya yang bersangkutan.
(5)   Tidak dibedakan asal dari produk selesai dan produk dalam proses akhir apakah
dari produk dalamproses awal atau dari produk yang baru dimasukkan dalam proses.

(b)   Metode harga pokok pertama masuk pertama keluar


Perlakuan produk dalam proses awal dengan metode harga pokok pertama
masuk pertama keluar memiliki karakteristik sebagai berikut:
(1)   Proses produksi dianggap untuk menyelesaikan produk dalam proses awal
menjadi produk selesai, baru kemudian untuk mengolah produk yang baru masuk
proses yang sebagian akan menjadi bagian produk selesai yang disebut current
production dan sisanya merupakan produk dalam proses akhir periode.
(2)   Setiap elemen harga pokok produk dalam proses awal tidak digabungkan degan
elemen biaya yang terjadi dalam periode yang bersangkutan.
(3)   Harga pokok produk dalam proses pada awal periode tidak perlu dipecah kebali
menurut elemennya ke dalam setiap elemen biaya.
(4)   Besarnya produksi ekuivalen adalah sebesar jumlah produk dalam proses awal
dikalikan tingkat penyelesaian yang masih diperlukan untuk menyelesaikan menjadi
produk selesai, ditambah produksi current atau produk yang baru masuk proses
produksi tersebut dan dapat diselesaikan pada periode itu juga, ditambah produk
dalam proses akhir dikalikan tingkat penyelesaian yang sudah dinikmati.
(5)   Besarnya harga pokok persatuan setiap elemen biaya dihitung sebesar elemen
biaya yang terjadi pada periode yang bersangkutan dibagi jumlah produksi ekuivalen
dari elemen biaya yang bersangkutan.
(6)   Harga pokok produk selesai dipisahkan menjadi dau golongan, pertama,produk
selesai yang berasal dari produk dalam proses awal, kedua, produk selesai yang
berasal dari produksi current.

(c)    Metode harga pokok terakhir masuk pertama keluar


Perlakuan produk dalam proses awal dengan metode harga pokok tearakhir
masuk pertama keluar memiliki karakteristik sebagai berikut:
(1)   Proses produksi dianggap untuk menyelesaikan produk yang baru masuk pada
periode yang bersangkutan, apabila semua produk yang baru masuk proses sudah
dapat diselesaikan kemudian untuk mengolah produk dalam proses awal. Apabila
produk yang baru masuk belum dapat diselesaikan secara keseluruhan berarti terdapat
kenaikan jumlah produk dalam proses pada akhir periode, maka harga pokok produk
awal periode akan diserap oleh harga pokok produk dalam proses akhir periode.
(2)   Setiap elemen harga pokok produk dalam proses awal periode tidak perlu
digabungkan dengan setiap elemen biaya yang terjadi pada periode bersangkutan.
(3)   Besarnya harga pokok persatuan setiap elemen biaya dihitung dengan cara
membagi elemen biaya tertentu yang terjadi pada periode yang bersangkutan dengan
produksi ekuivalen biaya yang bersangkutan.
(4)   Dibedakan asal darri produk selesai atau produk dalam proses akhir dari produk
yang baru masuk proses dengan yang berasal dari produk dalam proses awal.