Anda di halaman 1dari 5

Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Kemelimpahan

Herpetofauna di Petak 13, Wanagama I, Gunung Kidul, Yogyakarta

Oleh :
Drajat Dwi Hartono

INTISARI

Herpetofauna merupakan hewan berdarah dingin yang artinya suhu dalam tubuhnya

tergantung dengan suhu lingkungan disekitar untuk bertahan hidup sehingga keberadaannya sangat

terpengaruh kondisi habitatnya. Studi ini dilakukan untuk mengetahui kondisi Petak 13 Wanagama

I memiliki kondisi khas berupa batuan karst serta merupakan kawasan hutan rehabilitasi. Kondisi

Petak 13 yang diteliti adalah penutupan tajuk, suhu, persentase batang rebah, persentase penutupan

seresah.

Metode pengambilan data dengan menggunakan petak ukur line transek 250x20 meter

sebanyak tiga buah dan dilakukan pengambilan data jumlah dan jenis herpetofauna, data lingkungan

baik analisis vegetasi, serta kondisi lingkungan fisik di masing-masing line transek. Hubungan

antara faktor lingkungan terhadap kemelimpahan herpetofauna dianalisis nilai signifikansinya

secara statistik. Kemelimpahan indivudu dihitung dengan membandingkan jumlah individu yang

dijumpai dengan luas petak ukur.

Berdasarkan hasil analisis statistik diperoleh bahwa keempat faktor yang diteliti yaitu

penutupan tajuk, suhu, persentase batang rebah, persentase penutupan seresah tadi tidak

berpengaruh signifikan terhadap kemelimpahan herpetofauna di petak 13. Jenis herpetofauna yang

dijumpai di petak 13 adalah Kadal Kebun (Eutropis multifasciata) sebanyak satu ekor dan Cicak

Pohon (Sphenomorphus sanctus) sejumlah empat ekor.

Kata Kunci : Line transek, Habitat, Karst, Herpetofauna, Wanagama I.


PENDAHULUAN

Indonesia merupakan kawasan dengan iklim tropis dimana hanya terdiri dari dua musim

saja sepanjang tahun. Iklim yang tropis ini mengakibatkan kesempatan berbagai spesies untuk hidup

bersamaan semakin besar dimana sumber daya tersedia secara berlimpah. Keanekaragaman yang

dimiliki oleh Indonesia 16 % jenis reptil dan amphibi di dunia. Indonesia memiliki tidak kurang dari

16% keanekaragaman Herpetofauna di dunia. Jumlah amphibi dan reptil di Indonesia sekitar 13000

jenis.

Herpetofauna merupakan organisme berdarah dingin yang sangat peka terhadap perubahan

lingkungan yang ada. Herpetofauna memiliki kontrol yang kecil terhadap suhu tubuhnya, sehingga

harus berada pada lingkungan yang optimal untuk dapat bertahan hidup. Kerentanan herpetofauna

terhadap kondisi lingkungan dapat mempengaruhi kehidupan, aktivitas, dan perilakunya (Alikodra,

1990).

Amfibi merupakan suatu kelas hewan bertulang belakang yang mencakup hewan Salamander,

Salamander Cacing, Kodok, dan Bangkong. Istilah Amfibia berarti “Kehidupan rangkap” yaitu

kehidupan yang menyangkut cara hidup hewan ini di air maupun di darat. Kelas hewan ini memiliki

ciri berdarah dingin yang mampu menyesuaikan suhu tubuhnya dengan lingkungan (Hoeve, 1988).

Reptilia tersebar hampir di seluruh kawasan bumi, bahkan sampai daerah kutub utara, tetapi

jenis terbanyak tetap masih terdapat di daerah tropis dan subtropis. Reptil terdapat pada daerah yang

sangat tandus seperti gurun seperti ular derik, kadal gurun dll, selain itu banyak reptil hidup pada

lingkungan yang sangat basah seperti daerah rawa dan hutan hujan tropis.

Kelimpahan herpetofauna merupakan parameter kualitatif yang mencerminkan distribusi

relative spesies herpetofauna dalam komunitas. Kelimpahan adalah perbandingan besarnya populasi

herpetofauna dalam suatu unit, umumnya dinyatakan sebagai jumlah individu per satuan volume.
Petak 13 Wanagama I merupakan salah satu habitat bagi herpetofauna, dengan kondisi yang

khas di daerah tersebut, maka perlu diketahui pengaruh faktor-faktor seperti suhu penutupan tajuk,

batang rebah, dan seresah terhadap kemelimpahan herpetofauna di kawasan tersebut. Petak 13

dengan karakteristik lingkungan berupa hutan rehabilitasi pada suatu pegunungan karst dengan

kondisi vegetasi yang bervariasi sehingga mulai membentuk iklim mikro dan terjadi penutupan

lapisan tanah oleh seresah yang mulai terbentuk dan memiliki keempat faktor yang diperlukan

herpetofauna dalam mendukung kehidupannya. Kawasan berbatu pada petak ini berpotensi sebagai

tempat berlindung herpetofauna. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai

faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kemelimpahan herpetofauna di hutan Wanagama I,

sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan, seberapa pentingnya peranan faktor-

faktor tersebut terhadap kemelimpahan individu herpetofauna di petak 13 Wanagama I.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 28 November 2010 di Petak 13, Wanagama I,

Gunungkidul, Yogyakarta. Petak ini memiliki luas 88,1 hektar dengan topografi landai yaitu antara

0-12,5 %. Metode yang digunakan untuk mengambil data informasi herpetofauna adalah Line

transek berukuran 250x20 meter sebanyak tiga buah yang dibuat berjarak 10 meter dari sumber air

yaitu sugai Oyo. Jarak antar line transek adalah 50 meter. Di setiap line transek dibagi menjadi lima

segmen dan dilakukan pengambilan data jumlah dan jenis herpetofauna. Data lingkungan seperti

analisis vegetasi diambil menggunakan metode nested sampling serta protokol plot untuk

pengambilan data penutupan tajuk serta tumbuhan bawah.

Kondisi lingkungan fisik di masing-masing line transek juga diambil menggunakan

thermohygrometer, klinometer untuk mengambil data kelerengan. Kemelimpahan indivudu dihitung

dengan membandingkan jumlah individu yang dijumpai dengan luas kawasan petak 13. Hubungan
antara faktor lingkungan baik biotik maupun abiotik terhadap kemelimpahan herpetofauna

dianalisis nilai signifikansinya secara statistik menggunakan software R.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengamatan di petak 13 ditemukan dua jenis herpetofauna yakni Kadal Kebun

(Eutropis multifasciata) sebanyak satu ekor dan Cicak Pohon (Sphenomorphus sanctus) sejumlah

empat ekor. Kadal kebun merupakan hewan edafik yang menyukai tempat yang bersemak dan

rerumputan baik tempat terbuka ataupun tertutupi oleh tajuk pepohonan. Cicak Pohon dijumpai

pada tegakan Eucalyptus sp. di bagian kulit batang pohon. Cicak ini di balik kulit pohon Eucalyptus

sp. untuk berlindung dan tempat tinggal.

Berdasakan hasil analisis statistik diperoleh bahwa keempat faktor yang diteliti yaitu

penutupan tajuk, suhu, persentase batang rebah, persentase penutupan seresah tadi tidak

berpengaruh signifikan terhadap kemelimpahan herpetofauna di petak 13.

Kemelimpahan herpetofauna dari tiap plot yakni pada plot 1 hanya ditemukan 1 individu

saja maka kemelimpahannya adalah 1:1000=0.001 individu/m2 dan pada plot 12 ditemukan 4

individu, maka kemelimpahannya adalah 4:1000=0.004 individu/m2. Dapat diketahui bahwa

kemelimpahan herpetofauna pada petak 13 sangat kecil dan penyebarannya tidak merata di setiap

plotnya.

Kemelimpahan herpetofauna yang kecil tersebut terkait dengan kondisi petak 13 yang masih

berupa lahan terbuka dengan jumlah pohon yang masih jarang. Kondisi batang rebah yang sangat

sedikit menyebabkan dugaan awal bahwa batang rebah berpotensi untuk tempat tinggal

herpetofauna tidak ditemukan disini. Jumlah batang rebah yang sedikit dikawasan ini dikarenakan

aktivitas masyarakat yang tinggi pada kawasan petak 13 sehingga apabila ada pohon yang mati atau

tumbang maka masyarakat akan memanfaatkannya sebagai kayu bakar atau dibawa pulang.
Penutupan tajuk juga tidak berpengaruh terhadap kemelimpahan herpetofauna di petak 13.

Hal tersebut dikarenakan masih belum terbentuknya struktur vegetasi yang baik di petak ini

sehingga iklim mikro yang seharusnnya ditimbulkan oleh penutupan tajuk belum terbentuk pada

kawasan ini. Suhu memiliki nilai kesignifikanan yang hampir mendekati signifikan terhadap

kemelimpahan herpetofauna di petak 13. Hal ini sesuai dengan kebutuhan herpetofauna akan suhu

lingkungan yang berubah-ubah dari waktu-kewaktu sehingga pada petak 13 masih jarang ditemui

herpetofauna karena suhu udara di kawasan ini masih belum stabil tergantung cuaca.

Penutupan seresah pada petak 13 masih tergolong tipis antara 2-4 cm. Kondisi ini seharusnya

mampu menjadi tempat tinggal herpetofauna di petak ini akan tetapi kondisi lingkungan sekitar

yang belum stabil terkait dengan suhu maka masih jarang ditemui herpetofauna dikawasan ini.

KESIMPULAN

Faktor yang diteliti yaitu penutupan tajuk, suhu, persentase batang rebah, persentase

penutupan seresah tadi tidak berpengaruh signifikan terhadap kemelimpahan herpetofauna di petak

13. Jenis herpetofauna yang dijumpai di petak 13 adalah Kadal Kebun (Eutropis multifasciata)

sebanyak satu ekor dan Cicak Pohon (Sphenomorphus sanctus) sejumlah empat ekor.

DAFTAR PUSTAKA

Alikodra, H.S. 1990. Pengelolaan Satwa Liar Jilid I. Departemen Pendidikan & Kebudayaan

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat Institut Pertanian

Bogor. Bogor.

Hoeve B.V., Uitgeverij W. 1988. Ensiklopedi Indonesia Seri Fauna. PT. Dai Nippon Printing

Indonesia. Jakarta.