Anda di halaman 1dari 6

PENGAWASAN

Penilaian Kinerja

1. Bagaimana bentuk pengawasan kinerja kedisiplinan perawat di ruangan?\

Jawab : Dengan cara melakukan finger print pada saat mau masuk kerja

dan pada saat mau pulang kerja, dari sistem ini pihak RS bisa

melihat seberapa sering karyawan terlambat bekerja, untuk

melihat laporannya bisa ke bagian HRD dengan memasukan no

NIK / PUK. Kalaupun karyawan telat atau tidak bisa masuk harus

ada surat keterangan dengan izin atasan langsung. Rekapitulasi

dari hasil kehadiran akan menjadi salah satu penilaian perfomen

kinerja tahunan, dan untuk penilaiannya secara berjenjang dalam

artian perawat pelaksana akan dinilai oleh kepala ruangan, kepala

ruangan oleh kepala instalasi, intinya penilaian dilakukan oleh

atasannya secara langsung maupun tidak langsung dari karyawan

tersebut.

2. Bagaimana bentuk pengawasan sarana dan prasarana di ruangan dilihat

dari standar departemen kesehatan?

Jawab : Untuk sarana dan prasarana yaitu harus memastikan apa saja yang

dibutuhkan baik secara kuantitas mencukupi dan secara kualitas

bisa digunakan atau berfungsi dengan normal. Oleh karena itu

diperlukan adanya pengawasan secara berkala, bukan hanya untuk

alat kesehatan saja, tetapi sarana prasarana bangunan juga.


Sedangkan yang melakukannya di santosa sendiri ada yang

bertugas, untuk alat kesehatan dilakukan oleh maintenace medic,

dan untuk bangunan dilakukan oleh maintenance building.

Walaupun dilakukan pengawasan secara berkala tetapi yang

memiliki kewenangan / bertanggung jawab atas semuanya tetap

unitnya sendiri. Di sentosa sendiri untuk tiap alat memiliki

barcode masing-masing ruangan, jadi kalau misalkan ada alat di

suatu ruangan yang dipinjam dan belum dikembalikan bisa cek

melalui barcode itu sendiri.

3. Bagaimana bentuk pengawasan peraturan dan standar operasional prosedur

di ruangan?

Jawab : Dilakukan dengan beberapa tahap, yang pertama fungsi dari

pengendalian di audit terlebih dahulu oleh komite keperawatan,

lalu ke disposisi direktorat, setelah itu dicari penyebabnya, misal

dalam tindakan ada yang tidak mau, maka diberikan motivasi,

lalu kalo misalkan perawatnya meresa tidak tahu, maka

diberikan intervensi sosialisasi, dan kalau tidak mampu dibeikan

sosialisasi dan pelatihan, setelah itu dievaluasi dilakukan atau

tidak, dan yang terakhir diaudit kembali dilakukan bukan hanya

oleh komite keperawatan saja tetapi oleh direktorat keperawatan

juga.
Mutu Pelayanan Keperawatan:

1. Bagaimana hasil penilaian mutu kepuasan pasien di ruangan?

Jawab : Dengan cara membuat form kepuasan pasien yang diberikan

kepada pasien, dan pasien harus mengisinya. Untuk rawat inap

sendiri presentase rata-rata dari kepuasan pasien yaitu sekitar

98%, sedangkan untuk rawat jalan presentase rata-ratanya

sekitar 75%. Karena rawat jalan sangat komplek mulai dari

pendaftaran rawat jalan, istilahnya mulai ngantri untuk bertemu

dokternya, jadi pasien merasa lama sehingga mungkin membuat

kesal dan menjadi berefek kurang baik ke penilaian kepuasan.

2. Bagaimana bentuk kegiatan pengawasan mutu di ruangan terkait (BOR,

LOS, TOI, dan BTO)?

Jawab : Untuk mutu kepuasan pasien berdasarkan BOR, karena pasien dari

ruangan safir timur khusus untuk Covid, oleh karena itu maka

permintaan menjadi tinggi, dan untuk hasilnya 71,51 % pada

tahun 2020, dan pada bulan januari meningkat menjadi 83,74%.

Sedangkan untuk LOS di Safir Timur sendiri lama perawatannya

yaitu 3-5 hari. Lalu untuk TOI 1,91 hari, dan untuk BTO 5-10

hari, sedangkan untuk NDR 15,17 hari, dan untuk GNR 20,27

hari.
3. Bagaimana bentuk pengawasan manajemen resiko terhadap ketepanan

identifikasi pasien di ruangan?

Jawab : Karena identifikasi pasien merupakan sasaran keselamatan pasien

RS yang pertama pelaksanaannya itu di ukur oleh masing-masing

unit, jadi mulai dari kapan unit akan melakukan pengukuran itu

mulai dari pintu masuk RS dari IGD masuk ke ruang rawat inap

itu apakah sudah menggunakan gelang atau belum, kalau

misalkan sudah di ruangan memakai gelang maka akan dilihat

kepatuhan petugas pada saat melakukan tindakan-tindakan yang

beresiko, lalu obserbasi secara langsung maupun tidak langsung.

Apabila tidak dilakukan identifikasi maka tuliskan tidak, karena

ini akan direkap setiap bulannya untuk dilaporkan kepada PMKC

atau Komite Mutu Rumah Sakit.

4. Bagaimana bentuk pengawasan manajemen resiko terhadap peningkatan

komunikasi yang efektif dengan pasien, teman sejawat, dan kolabolator di

ruangan?

Jawab: Untuk pengawasan ini sebenarnya sama saja dengan yang atas,

karena kita disetiap ruangan memiliki seseorang yang

bertanggung jawab mengumpulkan sasaran keselamatan pasien

yang 6 ini, istilahnya mereka akan melaporkanya by sistem

langsung ke PMKP, nanti data rekapan dari masing-masing unit


akan di rekap dan akan muncul akhirnya, misal tingkat kepatuhan

SKP 1, SKP 2, SKP 3, berdasarkan hal tersebut PMKP atau

Komite akan menindak lanjuti dengan membuat laporan tertulis

kepada Direktur, dan direktur akan memberikan disposisi kepada

unit terkait. Misalnya melakukan sosialisasi kembali sehingga

temuan-temuan kemarin yang dilaporkan kepada PMKP tidak

terulang kembali.

5. Bagaimana bentuk pengawasan manajemen resiko terhadap peningkatan

keamanan obat di ruangan?

Jawab : Untuk bentuk pengawasan terhadap peningkatan keamanan obat

sendiri yang pasti harus pastikan dengan cara 6 benar, (benar

pasien, benar obat, benar dosis, benar waktu, benar cara, dan

benar dokumentasi). Setelah itu pelaksanaan suatu tindakan harus

ada yang mendampingi untuk pemberian jenis obat nerkotika,

insulin, heparin, supaya tidak timbul kerugian baik untuk pasien

maupun bagi petugasnya. Dan harus dilakukan sesuai SOP.

6. Bagaimana bentuk pengawasan manajemen resiko terhadap pengurangan

resiko infeksi terkait dengan pelayanan kesehatan di ruangan?

Jawab : Dengan mengolektif data infeksi OP, ISK, Plebitis yang

disebabkan karena pemasangan infus, yang nantinya akan

dilaporkan beserta gradenya ke IVCLN, dan Komite Mutu. Untuk


sasaran keselamatan pasien ke 5 ini bukan hanya diukur oleh

Komite Mutu saja, tetapi diukur juga oleh KPPI (Komite

Pengendalian dan Pencegahan Infeksi) RS. Data-data tersebut

harus ditindak lanjuti yang nantinya akan dilihat unit mana yang

kejadian angka infeksinya tinggi. Bukan dicari siapa yang salah

tetapi kenapa bisa jadi pengukuran atau misal di suatu unit data

plebitisnya tinggi, lalu dilihat pengumpul datanya sudah paham

belum definisi dari plebitis sendiri, jangan sampe setiap infus

macet atau bengkak di masukan datanya.