Anda di halaman 1dari 15

ANALISIS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DALAM

PEMBELAJARAN MENULIS TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI KELAS X IIS.1 SMAN 1


MENDOYO

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) penerapan metode pembelajaran problem based
learning dalam pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi kelas X IIS.1 SMAN 1
Mendoyo dan (2) respons siswa X IIS.1 SMAN 1 Mendoyo terhadap penerapan metode
pembelajaran problem based learning dalam pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi.
Subjek penelitian ini adalah satu orang guru kelas 1 SMAN I Mendoyo dan siswa X IIS. 1
berjumlah 36 orang. Objek penelitian adalah penerapan dan respons terhadap metode problem
based learning dalam pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi. Metode pengumpulan
data yang digunakan adalah metode observasi, dokumentasi, dan wawancara. Data dianalisis
dengan teknik analisis data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan (1) penerapan
metode problem based learning pada siswa kelas X. IIS 1 SMAN 1 Mendoyo tergolong baik dan
berhasil dilihat dari pemenuhan kriteria keterlaksanaan langkah pembelajaran dan skor yang
dihasilkan siswa. Kunci keberhasilan keterlaksanaan metode problem based learning adalah
guru mampu merangsang keingintahuan siswa dengan permasalahan di sekitar siswa, mampu
dalam mengarahkan siswa untuk bertanya, memberikan semacam penugasan dengan penggunaan
waktu yang efisien, pembentukan kelompok heterogen. (2) Respon siswa terhadap penerapan
metode problem based learning dikatakan positif. Hal ini disebabkan oleh adanya situasi yang
memungkinkan terjadinya kegiatan belajar optimal, pembelajaran dibangun dengan suasana
dialogis dan proses tanya jawab terus menerus, pembelajaran dialog interaktif, metode
pembelajaran tidak monoton serta pemilihan materi yang otentik. Berdasarkan hasil penelitian
ini, peneliti lain disarankan untuk meneliti lebih mendalam lagi tentang metode problem based
learning dan guru disarankan mampu menerapkannya sebagai salah satu alternatif dalam
pembelajaran.

Kata kunci: problem based learning, menulis, teks, laporan hasil observasi
PENDAHULUAN

Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini
dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan
budaya bangsa Indonesia yang beragam, diarahkan untuk membangun kehidupan masa kini, dan
untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan. Mempersiapkan
peserta didik untuk kehidupan masa depan selalu menjadi kepedulian kurikulum. Hal ini
mengandung makna bahwa kurikulum adalah rancangan pendidikan untuk mempersiapkan
kehidupan generasi muda bangsa.

Salah satu perubahan mendasar dalam Kurikulum 2013 adalah model pembelajaran.
Model pembelajaran dalam Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik dengan lima
langkah pembelajaran, yakni mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan
mengomunikasikan/membuat jejaring. Adapun model-model pembelajaran yang dirumuskan
dalam kurikulum baru meliputi discovery/inquiry learning, project based learning, dan problem
based learning.

Pembelajaran berbasis masalah (Problem based learning) merupakan sebuah pendekatan


pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk
belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja
dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world). Pembelajaran berbasis masalah
merupakan suatu model pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana
belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata.
Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada
pembelajaran yang dimaksud. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik
mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan.

Model pembelajaran dengan problem based learning, menawarkan kebebasan siswa


dalam proses pembelajaran. Panen (2001: 85) mengatakan bahwa dalam pembelajaran dengan
problem based learning, siswa diharapkan terlibat dalam proses penelitian yang
mengharuskannya mengidentifikasi permasalahan, mengumpulkan data, dan menggunakan data
tersebut untuk pemecahan masalah. Sama halnya dengan mencari sumber untuk menulis teks
hasil laporan observasi, dan menggunakan sumber tersebut menjadi suatu permasalahan,
sehingga bisa jadi suatu teks hasil laporan observasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Terkait perbedaan antara satu jenis teks tertentu dan jenis teks lain, perbedaan dapat
terjadi misalnya, pada struktur teks itu sendiri. Sebagai contoh, teks deskripsi dengan teks
prosedural berbeda strukturnya meskipun kedua teks tersebut termasuk ke dalam kategori jenis
teks faktual. Apabila teks deskripsi memiliki ciri tidak terstruktur dan tidak bersifat generalisasi,
teks prosedural justru bersifat terstruktur dan dapat digeneralisasi.

Dalam kurikukum 2013, terdapat banyak jenis teks. Secara garis besar dapat dipilah atas
teks sastra dan teks nonsastra. Teks sastra dikelompokkan ke dalam teks naratif dan nonnaratif.
Adapun teks nonsastra dikelompokkan ke dalam teks jenis faktual yang di dalamnya terdapat
subkelompok teks laporan dan prosedural serta teks tanggapan yang dikelompokkan ke dalam
subkelompok teks traksaksional dan ekspositori. Salah satu teks yang menjadi perhatian dalam
kurikulum 2013 adalah teks laporan.

Teks laporan adalah teks yang berisi penjabaran umum / melaporkan sesuatu berupa hasil
dari pengamatan (observasi). Teks laporan (report) ini juga disebut teks klasifikasi karena
memuat klasifikasi mengenai jenis-jenis teks berdasarkan kriteria tertentu. Jenis teks ini
mendeskripsikan atau menggambarkan bentuk, ciri, atau sifat umum (general) seperti benda,
hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, atau peristiwa yang terjadi di alam semesta kita. Teks ini
menjadi perhatian dalam pembelajaran dalam kurikulum 2013 karena kemiripannya dengan teks
deskriptif, yang berfungsi menggambarkan sebuah objek sehingga mampu dibayangkan oleh
pembaca. Meski memiliki struktur yang berbeda, pemilihan topik untuk dikembangkan menjadi
teks menjadi sangat urgen. Jika topik terlalu khusus, teks akan tergolong teks deskriftif, bukan
teks laporan. Atas alasan itulah, teks laporan hasil observasi memiliki tingkat urgensi yang lebih
tinggi dibandingkan beberapa jenis teks lainnya.

Sebagai salah satu sekolah proyek, SMAN 1 Mendoyo telah terlebih dahulu
menggunakan Kurikulum 2013 dalam pembelajaran. Sekolah ini telah menggunakan Kurikulum
2013 pada tahun 2013 lalu. Dengan demikian, tahun ini SMAN 1 Mendoyo melaksanakan
Kurikulum 2013 untuk tahun kedua. Mengingat kurikulum ini pernah digunakan sebelumnya,
penyempurnaan seharusnya telah dilakukan guna meningkatkan hasil pembelajaran siswa,
terutama dalam menulis teks laporan hasil observasi.

Peneliti memperoleh gambaran dari hasil wawancara dari beberapa siswa kelas X IIS.1.
Dalam hasil wawancara tersebut ditemukan kesulitan-kesulitan dalam keterampilan menulis teks
hasil laporan observasi, yakni siswa kurang kreatif dalam menuangkan ide atau gagasannya serta
mencari sumber data atau informasi, dalam penulisannya masih kurang baik dan siswa
mendapatkan informasi yang sedikit karena kurang membaca serta penggunaan bahasa dalam
teks hasil laporan observasi masih sederhana.

Permasalahan tersebut menjadi sebuah tantangan bagi pengajar atau guru bahasa
Indonesia untuk memberikan pengajaran yang lebih baik khusunya dalam pembelajaran menulis
teks hasil laporan observasi yang mampu merangsang motivasi siswa dan dapat mengatasi
kesulitan siswa dalam menulis teks hasil laporan observasi. Dalam menulis teks hasil laporan
observasi, tentunya harus dibutuhkan kesabaran, keuletan, dan kejelian. Dalam hal ini, guru
harus mencari alternatif pembelajaran dalam memilih dan menentukan metode atau model yang
sesuai sebagai salah satu cara untuk mengajar sekaligus sebagai cara untuk menarik perhatian
siswa dalam pembelajaran menulis teks hasil laporan observasi.

Pada pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi di kelas X saat ini, pendidik
SMAN 1 Mendoyo menggunakan model problem based learning, sebagai penyempurnaan
pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi sebelumnya. Dengan demikian, peneliti ingin
mengetahui penerapan model pembelajaran problem based learning dalam pembelajaran menulis
teks laporan hasil observasi kelas X IIS. 1 SMAN 1 Mendoyo dan respons siswa X IIS.1 SMAN
1 Mendoyo terhadap penerapan metode pembelajaran problem based learning dalam
pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi.

Sebelumnya penelitian model problem based learning sudah pernah dilakukan oleh
beberapa orang, di antaranya Anik Kurniawati dengan skripsi berjudul “Efektivitas Metode
Problem Based Learning dalam Pembelajaran Menulis Cerpen pada Siswa Kelas X SMA
NEGERI 1 BATANGAN Tahun Ajaran 2012/2013”. Dari penelitian Anik diperoleh kesimpulan
model problem based learning dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa dalam
memahami materi. Hal tersebut dapat dilihat dari rata-rata nilai post- test yang lebih tinggi dari
pre-test. Pada hasil post-test nilai rata-rata yang diperoleh adalah 78,8 sedangkan pada hasil pre-
test nilai rata-rata yang diperoleh adalah 65,5. Melalui metode problem based learning siswa
dapat mengkonstruk dalam produk nyata, siswa lebih kreatif dan lebih tertarik untuk mengikuti
pelajaran yang disampaikan. Pembelajaran yang mengkonstruk dengan produk nyata dapat
merangsang siswa menjadi aktif untuk menulis sebuah karangan yang berupa cerpen. Hal ini
yang menjadikan siswa lebih mudah dalam menulis cerpen.

Selanjutnya penelitian tentang model problem based learning dalam penerapan menulis
dilakukan oleh Neng Defi Setyorini berjudul “Keefektifan Metode Problem Based Learning
dalam Pembelajaran Menulis Persuasif pada Siswa Kelas X MA Al-Wakhidiyah Karangawen
Demak Tahun Ajaran 2012/2013”. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Neng, dapat
ditarik kesimpulan penggunaan model pembelajaran problem based learning efektif dalam
pembelajaran menulis persuasif. Model pembelajaran sangat berperan penting terhadap proses
kegiatan belajar-mengajar peserta didik. Oleh sebab itu, guru harus memilih model pembelajaran
yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan oleh guru. Sehingga peserta didik lebih mudah
menerima.

Kedua penelitian tersebut memiliki kesamaan sebagai penelitian kuantitatif dengan fokus
penelitian adalah keefektifan problem based learning terhadap pembelajaran menulis. Hanya saja
pada kedua penelitian tersebut terdapat beberapa kelemahan yakni tidak terdapat penjelasan
secara mendalam keefektifan PBL dalam pembelajaran menulis dan hanya berdasarkan angka
dari penelitian kuantitatif. Di samping itu, kurangnya penjelasan tentang keefektifan PBL secara
deskriptif kualitatif. Penelitian yang dilaksanakan peneliti berbeda dengan penelitian yang telah
dilakukan oleh peneliti- peneliti sejenis di atas. Dari segi permasalahan yang dimunculkan juga
sudah terlihat berbeda. Penelitian yang peneliti lakukan difokuskan pada pembelajaran menulis
teks hasil laporan observasi dengan model problem based learning. Selain itu, jenis penelitian
yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Jadi, peneliti hanya melihat penerapan model
problem based learning pada pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi baik dari segi
penerapan dan kendala yang dihadapi. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk
mengangkat penelitian dengan judul “Analisis Penerapan Model Pembelajaran Problem Based
Learning dalam Pembelajaran Menulis Teks Laporan Hasil Observasi Kelas X IIS.1 SMAN 1
Mendoyo”. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini membahas tentang (1) bagaimanakah
penerapan model pembelajaran problem based learning dalam pembelajaran menulis teks laporan
hasil observasi kelas X IIS.1 SMAN 1 Mendoyo, (2) bagaimanakah respons siswa X IIS.1
SMAN 1 Mendoyo terhadap penerapan model pembelajaran problem based learning dalam
pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi. Sejalan dengan masalah itu, penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui (1) untuk mengetahui penerapan model pembelajaran problem based
learning dalam pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi kelas X IIS.1 SMAN 1
Mendoyo, (2) untuk mengetahui respons siswa X IIS.1 SMAN 1 Mendoyo terhadap penerapan
model pembelajaran problem based learning dalam pembelajaran menulis teks laporan hasil
observasi. Penelitian ini dapat memberikan dua manfaat, yaitu manfaat teoretis dan manfaat
praktis. Secara teoretis, penelitian ini bermanfaat untuk menjadikan bahan informasi bagi peneliti
selanjutnya mengenai penerapan model pembelajaran problem based learning yang secara
khusus dipergunakan dalam pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi. Secara praktis
penelitian ini memberikan manfaat bagi dunia pendidikan dan bagi peneliti. Bagi dunia
pendidikan, hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan untuk memilih model pembelajaran
yang sesuai agar mampu menarik minat siswa dan dapat menjadi masukan dalam menyusun
perencanaan pembelajaran yang lebih bervariasi. Bagi peneliti, hasil penelitian ini bermanfaat,
untuk menambah pengalaman dan pengetahuan mengenai pembelajaran keterampilan menulis,
serta model pembelajaran bahasa Indonesia yang menarik minat siswa dalam meningkatkan
prestasi belajar.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif, yaitu yang mengungkapkan gambaran


masalah yang terjadi pada saat penelitian ini berlangsung. Hal ini dimaksudkan untuk
menganalisis penerapan model pembelajaran problem based leraning dalam pembelajaran
menulis teks laporan hasil observasi di SMAN 1 Mendoyo. Penggunaan rancangan penelitian
deskriptif kualitatif adalah memberikan suatu gambaran secara sistematis, akurat, dan lebih
menekankan pada data faktual. Jadi, peneliti memutuskan untuk menggunakan rancangan
deskriptif kualitatif untuk menganalisa tentang kualitas yang akan dihasilkan dalam penelitian
ini. Subyek penelitian dalam tulisan ini, adalah guru Bahasa Indonesia kelas X dan siswa kelas
X IIS.1 SMAN 1 Mendoyo dan objek penelitian yang penulis teliti adalah analisis penerapan
model pembelajaran problem based leraning dalam pembelajaran menulis teks laporan hasil
observasi siswa kelas X IIS.1 SMAN 1 Mendoyo. Metode pengumpulan data yang peneliti
gunakan adalah metode observasi, dokumentasi, dan wawancara. Jenis metode observasi yang
peneliti gunakan adalah observasi tanpa partisipasi atau nonpartisipan. Metode observasi tanpa
partisipasi atau nonpartisipasi artinya peneliti memang hadir dalam kegiatan, tetapi peneliti tidak
aktif dalam kegiatan yang dilakukan oleh subjek penelitian. Singkatnya, peneliti hanya
mengamati dan menganalisis penerapan model pembelajaran problem based leraning dalam
pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi di SMAN 1 Mendoyo pada kelas X IIS. 1.
Dalam penelitian ini, metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data dari RPP. Dari
RPP tersebut, peneliti dapat mengetahui perencanaan guru dalam mengajar. Perlu peneliti
pertegas bahwa metode dokumentasi ini tidak peneliti gunakan untuk menjawab rumusan
masalah yang telah dirumuskan. Akan tetapi metode dokumentasi ini peneliti gunakan untuk
mengumpulkan data berupa RPP yang digunakan oleh guru di dalam melakukan pembelajaran
menulis teks laporan hasil observasi.

Adapun jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tidak
berstruktur, karena dengan jenis wawancara ini peneliti bebas menanyakan apa saja namun tetap
berpedoman pada data yang akan dikumpulkan. Penggunaan jenis wawancara ini, dimaksudkan
untuk memperoleh data yang lebih akurat dan mendalam dari subjek penelitian sehingga subjek
tidak terikat dengan jawaban “Ya” atau “Tidak”. Kebaikan wawancara tidak berstruktur adalah
responden tidak menyadari sepenuhnya bahwa ia sedang diwawancarai (Riduwan, 2007:
30).Wawancara ini akan peneliti lakukan terhadap guru Bahasa Indonesia kelas X IIS. 1, guru
tersebut yang akan diwawancarai oleh peneliti terkait rumusan masalah yang telah diuraikan.
Sesuai dengan metode yang digunakan, dalam penelitian ini akan digunakan instrumen lembar
observasi dan alat perekam (handycam atau HP) untuk metode observasi. Guna mendapatkan
data yang relevan, peneliti mengamati teknik guru dalam pembelajaran menulis dari awal sampai
dengan akhir pembelajaran dan merekamnya. Perekaman dilakukan dengan merekam kegiatan
pembelajaran dengan memanfaatkan alat perekam (handycam dan HP). Untuk metode
dokumentasi, peneliti mengumpulkan RPP yang digunakan oleh guru pada saat mengajarkan
pembelajaran menulis guna mengetahui perencanaan yang telah disusun guru. Pada penelitian
ini, selain metode observasi dan dokumentasi dipergunakan pula metode wawancara. Adapun
langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap pemerosesan ini, yakni, reduksi data (data
reduction), penyajian data (data display), dan kesimpulan (conclusion drawing/verification).
Dalam penelitian ini, aspek- aspek yang direduksi adalah hasil observasi maupun wawancara
menyangkut penerapan model pembelajaran problem bades learning dan pembelajaran menulis
teks hasil observasi pada kelas X IIS.1 SMAN 1 Mendoyo. Pemenuhan aspek-apek dimaksud
memudahkan peneliti dalam melakukan penyajian data dan berujung pada penarikan kesimpulan
dari hasil penelitin ini. Sebagaimana dengan proses reduksi data, penyajian data dalam penelitian
ini tidaklah terpisah dari analisis data. Hal yang penulis lakukan dalam proses penyajian data
pada penelitian ini adalah peneliti menggambar secara umum hasil penelitian dimulai dari lokasi
penelitian yaitu SMAN 1 Mendoyo baik dari aspek siswa, guru maupun berbagai fasilitas berupa
sarana dan prasarana guna menunjang proses pembelajaran di kelas terutama dalam penerapan
analisis model PBL. Kesimpulan-kesimpulan yang ada, kemudian diverifikasi selama penelitian
ini berlangsung. Verifikasi ini berupa pemikiran kembali yang melintas dalam pikiran peneliti
selama masa penulisan (penyusunan dan pengolahan data), tinjauan ulang pada catatan-catatan
selama masa penelitian (di lapangan), tinjauan kembali dengan seksama berupa tukar pikiran
dengan para ahli (pembimbing) untuk mengembangkan kesepakatan intersubjektif, serta
membandingkan dengan temuan-temuan data lain yang berkaitan dengan penerapan model PBL
dalam pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Peneliti telah mengamati pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan rencana yang sudah disiapkan
oleh guru sebelumnya.

Penelitian ini dilaksanakan di kelas X IIS 1 SMAN 1 Mendoyo. Siswa kelas X. IIS 1 sebanyak
36 orang dengan siswa laki-laki 12 orang dan siswa perempuan 24 orang. Seluruh siswa terlibat
dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil observasi di atas, langkah utama pembelajaran sesuai
dengan model pembelajaran problem based learning yang dilakukan guru secara berurutan
dimulai dari menyampaikan salam dan mengecek kehadiran siswa, memberikan apersepsi terkait
dengan pengalaman nyata yang dialami guru, menyampaikan indikator dan tujuan pembelajaran,
menyampaikan rencana kegiatan pembelajaran, memberikan konsep dasar yang diperlukan
dalam pembelajaran, memancing siswa untuk menggunakan buku pelajaran atau sumber lain,
memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai konsep dasar, petunjuk,
referensi, atau link dan skill yang belum dipahami, membagi siswa ke dalam beberapa kelompok,
menyampaikan skenario atau permasalahan, membimbing siswa dalam mencari informasi dan
mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan, membimbing siswa dalam
menuliskan laporan sesuai dengan permasalahan dan data pendukung yang ada, membimbing
siswa untuk berdiskusi dalam kelompoknya, melakukan penilaian terhadap aktivitas
pembelajaran berbicara dalam diskusi siswa, memberikan umpan balik terhadap kegiatan
pembelajaran, menyimpulkan hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan serta mengevaluasi
pembelajaran, memberikan penghargaan terhadap usaha yang dilakukan siswa dalam belajar
berbicara, mengakhiri pembelajaran dengan mengucapkan salam Berdasarkan langkah-langkah
pembelajaran yang diterapkan oleh guru dapat dikomentari sebagai berikut.Yang pertama,
pembelajaran dengan model pembelajaran problem based learning yang telah diterapkan guru
telah memenuhi standard pelaksanaan. Sintak untuk penerapan model problem based learning
telah terpenuhi, seperti langkah-langkah penerapannya. Dalam problem basedl, standard
pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan sintak sebagaimana tabel di atas. Standardnya, model
problem based learning terdiri atas empat fase, yang dimulai dari fase orientasi dan organisasi,
investigasi, pengembangan dan presentasi, sampai dengan analisis dan evaluasi. Keseluruhan
sintak standard ini memiliki langkah- langkahnya tersendiri. Jika dikaitkan dengan penerapan
problem based learning oleh guru dalam pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi
terhadap siswa kelas X. IIS 1 SMAN 1 Mendoyo, seluruh sintak pembelajaran telah terpenuhi.
Pemenuhan sintak standard tersebut tercermin dalam seluruh langkah pembelajaran yang
dilakukan guru selama pembelajaran berlangsung. Dalam 17 langkah pembelajaran tersebut,
guru telah memeuhi fase- fase pembelajaran dengan metode Problem Based Learning, yakni
dengan memulai pembelajaran dengan fase orientasi dan organisasi, dilanjutkan dengan
investigasi, disusul dengan fase pengembangan dan presentasi, dan diakhiri dengan fase analisis
dan evaluasi. Bertolak dari fase-fase standard tersebut, bisa disimpulkan bahwa guru telah
mampu menerapkan model problem based learning sesuai dengan sintaknya serta mampu
menerapkan langkah- langkah pembelajarannya secara tepat dan efisien. Penerapan model
problem based learning pada siswa kelas X. IIS 1 SMAN 1 Mendoyo tergolong baik dan berhasil
jika dilihat dari pemenuhan kriteria keterlaksanaan

langkah pembelajaran dan juga skor yang dihasilkan siswa selama pembelajaran berlangsung.
Pada pembelajaran di kelas X. IIS 1 SMAN 1 Mendoyo, ada beberapa hal yang menjadi kunci
keberhasilan keterlaksanaan model problem based learning dalam rangka menulis teks laporan
hasil observasi sehingga metode problem based learning bisa diterapkan dengan baik. Hal-hal
yang dimaksud akan dirinci sebagai berikut. Yang pertama, guru mampu merangsang rasa ingin
tahu siswa dengan permasalahan yang dekat dan ada di sekitar siswa. Dalam model problem
based learning, rangsangan awal terhadap fenomena yang akan dibahas sangatlah penting. Tanpa
adanya rangsangan yang menarik, model problem based learning akan menjadi model
pembelajaran yang membosankan bagi siswa, bahkan cenderung menimbulkan ketakutan akan
materi yang dipelajari. Menurut Gino, dkk. (2000: 36-39) faktor yang memengaruhi keberhasilan
pencapaian tujuan pembelajaran salah satunya adalah pemberian ransangan dan motivasi belajar.
Menggunakan fenomena yang sering dilihat atau umum diketahui akan memudahkan siswa
untuk menuliskannya dalam bentuk laporan hasil observasi. Mulyasa (2013: 1) mengatakan teks
adalah ungkapan pikiran manusia yang di dalamnya ada situasi dan konteks yang dapat
ditemukan oleh siswa di sekitar mereka terlebih ketika guru mampu mengarahkan dengan tepat.
Dalam penerapannya, ketika memberikan apersepsi, misalnya, guru mampu memancing siswa
dengan menggunakan alam sekitar siswa sebagai ilustrasinya. Faktor keberhasilan yang kedua
adalah kemampuan guru dalam mengarahkan perserta didik untuk bertanya. Sebagian besar
siswa yang sebelumnya terdiam karena tidak mengetahui materi, berani bertanya bahkan
memberikan pernyataan mengenai permasalahan yang diberikan. Selain itu, guru juga mampu
mengarahkan siswa untuk membuktikan asumsi dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari
mereka. Jika ada perbedaan pendapat, guru melemparkan kembali kesempatan kepada siswa.
Kunci keberhasilan penerapan model problem based learning selanjutnya oleh guru adalah
keputusan untuk memberikan semacam penugasan kepada siswa dengan penggunaan alokasi
waktu selama dua kali pertemuan. Dengan demikian, siswa mendapatkan kesempatan untuk
belajar seluas- luasnya dengan pemahaman materi yang lebih dalam dengan memberikan
kesempatan bagi peserta didik untuk belajar di luar kelas. Peserta didik dapat memperoleh
pengalaman langsung tentang apa yang sedang dipelajari. Dengan demikian, model problem
based learning terpenuhi bukan hanya hasilnya laporannya, namun juga tujuannya, yakni
membuat siswa belajar.

Kunci keberhasilan penerapan model problem based learning oleh guru yang terakhir
dalam pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi adalah pembentukan kelompok yang
heterogen. Dalam penerapan model problem based learning, kelompok yang heterogen
memegang peranan yang signifikan. Dengan kelompok belajar yang heterogen, peserta didik
melakukan berbagai kegiatan brainstorming dan semua anggota kelompok mengungkapkan
pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul
berbagai macam alternatif pendapat. Proses inilah inti dari pendefinisian masalah atau defining
the problem dalam model problem based learning. Guru membuat keputusan yang baik dengan
membentukkan kelompok-kelompok kerja. Kelompok terdiri atas beragam gender dengan
kemampuan yang bervariasi. Dengan demikian, setiap kelompok memiliki situasi belajar yang
sama dengan kemampuan beradaptasi yang baik dalam setiap situasi sosial.

Model problem based learning memang memiliki kelebihan tersendiri bila dibandingkan
dengan model pembelajaran selama dilaksanakan. Kelebihan yang pertama adalah ketertarikan
dan motivasi siswa yang lebih tinggi ketika dihadapkan dengan suatu permasalahan yang
dianggap menantang. Siswa menjadi lebih giat berusaha dalam mencari penyelesaian terbaik.
Kelebihan kedua adalah model problem based learning memaksa setiap siswa untuk bisa
menjelaskan pendapatnya dalam menyelesaikan masalah di depan kelas. Kelebihan yang ketiga
adalah siswa bisa mengeksplorasi pengetahuan yang telah didapatnya dalam menyelesaikan
masalah yang didapat. Kelebihan yang keempat adalah siswa menjadi lebih aktif dalam proses
pembelajaran.

Namun, dalam pelaksanaan dan penerapannya secara langsung kepada siswa kelas X. IIS
1 SMAN 1 Mendoyo, ternyata problem based learning masih memiliki kekurangan, terlebih
dalam penerapannya pada materi penulisan teks laporan hasil observasi. Kekurangan-kekurangan
tersebut antara lain pembelajaran dengan model problem based learning membutuhkan waktu
yang cukup lama. Waktu yang tersedia dalam satu kali tatap muka adalah 2 x 45 menit dan 180
menit per minggu dalam dua kali pertemuan. Dengan waktu yang demikian singkat, proses
pemecahan masalah yang dilakukan siswa menjadi kurang efektif dengan hasil yang kurang
maksimal. Belum lagi siswa harus mempelajari materi lainnya yang juga membutuhkan waktu
yang tidak sedikit dalam satu semester. Dengan demikian, efisiensi pemanfaatan dan pengaturan
waktu dalam penerapan problem based learning sangatlah rentan dan perlu diperhatikan.

Selain kekurangan waktu untuk pembahasan materi secara maksimal, kekurangan lainnya
adalah kurangnya buku penunjang yang dapat dijadikan pemahaman dalam kegiatan belajar.
Dalam mempelajari materi laporan hasil observasi dengan model problem based learning,
bahkan dengan model lainpun, buku penunjang masih sangat terbatas. Hal ini menyebabkan
munculnya kendala dalam mengumpulkan informasi sebanyak mungkin untuk memecahkan
masalah. Hal ini jugalah yang sedikit tidaknya memengaruhi kualitas pemecahan masalah yang
dilakukan siswa.

Kekurangan lain yang dihadapi dalam penerapan model problem based learning di kelas
X IIS.1 SMAN 1 Mendoyo adalah kurangnya pemahaman siswa terhadap materi yang
diperlukan untuk memecahkan masalah. Beberapa siswa masih menunjukkan kekurangpahaman
terhadap materi yang dibahas dan masalah yang harus dipecahkan sehingga sebagian besar lebih
banyak bergantung kepada rekan kelompoknya. Sebagian besar lainnya lebih memilih
melakukan hal lain yang bisa mereka lakukan dibandingkan berusaha menyelesaikan masalah
yang tidak mereka pahami pangkal ujungnya.

Berdasarkan kuesioner respons siswa, dapat diperhatikan bahwa dari pertanyaan butir
satu hingga sepuluh, siswa yang memberikan respon setuju (sangat setuju (ss) dan setuju (s))
lebih besar daripada siswa yang memberikan respon tidak (kurang setuju (ks), tidak setuju (ts),
dan sangat tidak setuju (sts)). Didasarkan pada kuesioner yang disebarkan kepada siswa kelas
X.IIS 1 SMAN 1 Mendoyo, dapat disimpulkan bahwa respon siswa terhadap penerapan model
pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) adalah positif dan mendukung
pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi Sikap positif yang diutarakan siswa melalui
kuesioner tersebut didasarkan oleh beberapa faktor.

Pertama, adanya situasi yang memungkinkan terjadinya kegiatan belajar yang optimal,
situasi yang memberi kesempatan pada siswa untuk dapat berinteraksi dengan guru dan atau
bahan pengajaran di tempat tertentu yang telah diatur dalam rangka tercapainya tujuan.

Kedua, pembelajaran dibangun dengan suasana dialogis dan proses tanya jawab terus
menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa, yang
pada gilirannya kemampuan berpikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan
yang mereka konstruksi sendiri. Suasana dialogis itu juga mampu memunculkan berbagai
alternative pemecahan masalah yang dihadapi untuk kemudian dibahas bersama guna
mendapatkan suatu kesimpulan utuh.

Ketiga, proses pembelajaran yang dilakukan dan diterapkan adalah proses pembelajaran
dialog interaktif. Pembelajaran yang telah dilakukan guru dan siswa dipenuhi interaksi antara
guru dan siswa yang bertujuan mendapatkan respon yang tepat yang melibatkan media dan
metode untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dengan demikian, pembelajaran yang terjalin
memungkinkan untuk menumbulkan rasa nyaman dan aman bagi siswa untuk mempelajari
materi secara lebih baik dan fokus.

Selanjutnya, respons positif siswa juga timbul karena metode pembelajaran yang tidak
monoton. Guru melibatkan penyodoran berbagai situasi dimana anak bisa bereksprimen, yang
dalam artinya, yang paling luas-menguji cobakan berbagai hal untuk melihat apa yang terjadi,
memanipulasi benda, memanipulasi simbol-simbol, melontarkan pertanyaan dan mencari
jawabannya sendiri, merekonsiliasikan apa yang ditemukannya pada suatu waktu dengan apa
yang ditemukannya pada waktu yang lain, membandingkan temuannya dengan temuaan anak-
anak lain. Siswa memiliki rasa kepercayaan diri dan rasa bertanggung jawab atas segala hal yang
dikerjakan dalam pemecahan masalah yang dihadapi. Kepercayaan diri tumbuh dalam proses
diskusi, baik antaranggota kelompok maupun antarkelompok. Di samping itu, rasa tanggung
jawab bisa dipupuk dari proses mencari jawaban atas permasalahan dan tanggung jawab dalam
segala yang telah dilontarkan dalam proses pembelajaran.

Respons positif siswa tidak terlepas dari pemilihan materi yang otentik. Pembelajaran
berdasarkan permasalahan yang otentik mampu membantu dan mengarahkan siswa mengerjakan
dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan
keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan kepercayaan diri.
Pengalaman belajar secara langsung di lapangan tempat fenomena terjadi akan membantu siswa
untuk mempelajari segala materi secara nyata, bukan sekadar mengkhayalkan sesuatu yang tidak
ada di depan mata. Meski menghabiskan waktu yang relatif lama, pangalaman yang dihasilkan
dipastikan dapat membantu tahapan belajar siswa selanjutnya.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian mengenai Analisis Penerapan Model Pembelajaran Problem


Based Learning Dalam Pembelajaran Menulis Teks Laporan Hasil Observasi Kelas X IIS.1
SMAN 1 Mendoyo dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. Pertama, guru telah melaksanakan
17 langkah pembelajaran yang terbagi ke dalam 4 fase sesuai dengan sintak model problem
based learning. Penerapan metode problem based learning pada siswa kelas X. IIS 1 SMAN 1
Mendoyo tergolong baik dan berhasil jika dilihat dari pemenuhan kriteria keterlaksanaan langkah
pembelajaran dan juga skor yang dihasilkan siswa selama pembelajaran berlangsung. Beberapa
hal yang menjadi kunci keberhasilan keterlaksanaan model problem based learning adalah guru
mampu merangsang rasa ingin tahu siswa dengan permasalahan yang dekat dan ada di sekitar
siswa, kemampuan guru dalam mengarahkan perserta didik untuk bertanya, keputusan untuk
memberikan semacam penugasan kepada siswa dengan penggunaan alokasi waktu selama dua
kali pertemuan, pembentukan kelompok yang heterogen.

Kedua, respon siswa terhadap penerapan model problem based learning dikatakan
positif. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan atau faktor. Pertama, adanya situasi yang
memungkinkan terjadinya kegiatan belajar yang optimal, situasi yang memberi kesempatan pada
siswa untuk dapat berinteraksi dengan guru dan atau bahan pengajaran di tempat tertentu yang
telah diatur dalam rangka tercapainya tujuan. Kedua, pembelajaran dibangun dengan suasana
dialogis dan proses tanya jawab terus menerus Ketiga, proses pembelajaran yang dilakukan dan
diterapkan adalah proses Pembelajaran dialog interaktif. Respons positif siswa juga timbul
karena model pembelajaran yang tidak monoton. Respons positif siswa tidak terlepas dari
pemilihan materi yang otentik.

Berdasarkan kesimpulan yang dikemukakan di atas, dapat disarankan beberapa hal, yakni
pertama, model problem based learning dapat mengembangkan aktivitas berkarakter dan
meningkatkan pemahaman konsep siswa, maka sebaiknya guru dapat menerapkannya sebagai
salah satu alternatif dalam pembelajaran. Guru juga harus mengetahui pengetahuan siswa tentang
materi pembelajaran yang akan digunakan sebagai bekal siswa dalam memecahkan masalah
sebelum proses pembelajaran agar masalah yang akan dipecahkan tidak terlalu membebani siswa
atau terlalu sukar untuk dipecahkan.

Ketiga, bagi guru yang akan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah (problem
based learning) ini sebaiknya memperhatikan dan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan
dengan pelaksanaan pembelajaran dengan sebaik-baiknya. Guru juga hendaknya benar-benar
mempersiapkan waktu dengan baik, menguasai materi, bisa mengelola kelas dengan baik, dan
mampu bertindak cepat untuk bisa menyiasati kondisi di luar kegiatan yang sudah direncanakan.

Terakhir, kepada peneliti lain, paparan yang terdapat dalam penelitian ini dapat dijadikan
bahan dalam meneliti masalah lain yang sejenis dengan penelitian ini lebih lanjut. Peneliti
meyakini bahwa dalam penelitian ini masih ada hal yang belum dibahas dan belum diselesaikan.
Oleh sebab itu, peneliti lain bisa menemukan tindakan lebih lanjut untuk mengatasi
permasalahan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Gino, Suwarni dkk. 2000. Belajar dan Pembelajaran I. Surakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Republik IndonesiaUniversitas Sebelas Maret.

Kurniawati Anik. 2013. Efektivitas Model Problem Based Learning Dalam Pembelajaran
Menulis Cerpen Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Batangan Tahun Ajaran 2012/2013.
Semarang: IKIP PGRI Semarang.

Mulyasa. 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja


Rosdikarya.

Pannen, Paulina, dkk. 2001. Cakrawala Pendidikan. Jakarta. Universitas Terbuka.

Riduwan. 2007 . Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Cetakan ke- 4. Bandung: Alfabeta.

Setyorini, Neng Dafi. 2013. Keefektifan Metode Problem Based Learning dalam Pembelajaran
Menulis Persuasif pada Siswa Kelas X MA Al- Wakhidiyah Karangawen Demak Tahun
Ajaran 2012/2013. Semarang: IKIP PGRI Semarang.

Anda mungkin juga menyukai