Anda di halaman 1dari 12

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

EKSPLORASI MANGAN DI SUMBAWA BESAR, KABUPATEN SUMBAWA, PROVINSI NUSATENGGARA BARAT

Oleh :

Moe’tamar

Kelompok Program Penelitian Mineral

Sari

Eksplorasi mangan di Sumbawa Besar tepatnya dilaksanakan di daerah Olat Maja Kecamatan Lape dan Kecamatan Marongge, Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusatenggara Barat mencakup daerah seluas (11 km x 6 km) yang dilakukan dengan metoda penyelidikan:

pemetaan geologi dan mineralisasi skala 1 : 25.000. Dari penyelidikan ini telah didapat 2 daerah mineralisasi yaitu mineralisasi mangan di Olat Baramayung dan Mineralisasi berupa endapan deluvial yang mengandung oksida besi manganese ? di S.Pasar, lereng barat bukit Olat maja. Potensi Sumberdaya Hipotetik bijih mangan di daerah Olat Baramayung sebanyak 735.553,00 ton dan endapan deluvial tipe gossan oksida besi manganese ? sebesar 37.500 ton. Hingga ditulisnya proseding ini hasil analisis laboratorium baik fisika mineral maupun kimia belum selesai

PENDAHULUAN

Secara

Administratif

daerah

kegiatan

Dalam tahun anggaran 2006, salah satu

eksplorasi

Mangan

terletak

di

Sumbawa

kegiatan yang dilakukan adalah Eksplorasi

Besar

tepatnya

daerah

Olat

Maja

Kab.

Endapan Mangan di daerah Sumbawa Besar

Sumbawa (Gambar1)

Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara geologi, daerah ini masih mempunyai potensi terdapatnya mineral

Metoda penyelidikan yang di lakukan dalam eksplorasi endapan mangan ini meliputi :

logam dan mineral-mineral lainnya. Batuan Vulkanik dan batuan terobosan sebagai pembawa mineral logam yang merupakan batuan utama di daerah ini mempunyai prospek terdapatnya endapan Mineral

1.Kegiatan Penyelidikan Lapangan 2.Analisis Laboratorium Penyelidik terdahulu yang melakukan penyelidikan di daerah Kab. Sumbawa antara lain :

logam. Maksud dilakukannya eksplorasi mangan di Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah mengidentifikasi indikasi cebakan bijih mangan secara akurat dan mempelajari kondisi geologi serta tipe cebakan tersebut. Tujuannya untuk mengetahui sebaran bijih secara horizontal maupun vertikal sehingga bisa diketahui potensi sumber daya hipotetiknya.

Bemmelen (1949) mendeskripsi dan menyusun geologi dan sumberdaya mineral Pulau Sumbawa termasuk daerah penyelidikan. Yang dipublikasikan dalam “The Geology of Indonesia Vol II Economic Geology. A. Sudrajat, S. Andi Mangga dan N. Suwarna melakukan pemetaan Geologi lembar Sumbawa yang dipublikasikan oleh P3G tahun 1998 skala1:250.000

1

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

Ir. Amir Faizal Suud, Ir. Nono Suratno dan Ir. Gagarin Sembiring menyusun buku mengenai Lokasi dan Potensi Sumberdaya Mineral (Bahan Galian Gol. B dan C) PT. Newmont Nusa Tenggara melakukan penyelidikan tentang Porphyry copper gold deposit di Batu hijau, Jereweh oleh Simon J J Meldrum et al 1993 PT. Mitra Sumbawa Minerals, th 1997 melakukan penyelidikan logam dasar. GEOLOGI UMUM Ditinjau dari tatanan Tektonik terbentuknya P. Sumbawa erat kaitannya dengan penunjaman Lempeng Hindia yang berarah utara–timurlaut di bawah Daratan Sunda yang menerus mulai dari P. Sumatera – Jawa terus ke arah timur membentuk Busur Kepulauan Banda yang terbentuk pada masa Kenozoikum, yang dilandasi oleh batuan gunung api kalk alkalin dari busur dalam Banda yang masih aktif hingga sekarang.oleh batuan sedimen pinggiran benua yang beralaskan batuan malihan Geologi daerah Sumbawa disusun oleh terbentuknya batuan gunung api Tersier (Miosen Awal) breksi-tuf (Tmv) bersifat andesit dengan sisipan tuf pasiran, tuf batuapung dan batupasir tufan. Satuan breksi tuf ini menjemari dengan batuan sedimen yaitu satuan batu pasir tufan (Tms) dan juga satuan batugamping (Tml).Kemudian diterobos oleh batuan terobosan (Tmi) yang terdiri dari andesit, basal, dasit, dan batuan yang tak teruraikan, diperkirakan berumur Miosen Tengah. Diatasnya diendapkan Batu gamping koral (Tmcl) pada Miosen Akhir dilanjutkan pada pliosen diendapkan batulempung tufan (Tpc) dengan sisipan batupasir dan kerikil hasil rombakan gunungapi, menindih tidak selaras batuan yang lebih tua (Tmv danTms), kemudian diendapkan batuan gunungapi kuarter yang diendapkan dimulai dari satuan breksi Tanah Merah (Qot), Batuan Breksi Andesit- Basal (Qv) dan satuan Lava-Breksi (Qhv), juga diendapkan batuan sedimen kuarter yaitu terumbu koral yang terangkat (Ql), terakhir pada Holosen

diendapkan aluvium dan endapan pantai (Qal). (Gambar 2)

HASIL PENYELIDIKAN Penyelidikan di daerah Olat Maja Kecamatan Lape dan Kecamatan Marongge, Kabupaten Sumbawa dilakukan pada daerah seluas (11 km x 6 km) yang dilakukan dengan metoda penyelidikan:

pemetaan geologi dan mineralisasi skala 1 :

25.000, pengambilan conto ‘channel’ pada singkapan bijih mangan, pembuatan paritan sebanyak 1 lokasi, lintasan terukur 1 lokasi dan sumur uji 4 lokasi. Dalam penyelidikan ini telah diperoleh conto terpilih sebanyak 40 conto untuk dianalisis kimia, 17 conto analisis petrografi dan 11 conto analisis

bijih serta 9 conto untuk analisis berat jenis.

Dari hasil penyelidikan lapangan akan

diketahui pola penyebaran litologi batuan, mineralisasi mangan serta hubungan dari keduanya

Geologi Dan Mineralisasi Daerah Eksplorasi Mangan di Sumbawa Besar Daerah olat Maja Batuan yang terdapat di daerah

penyelidikan terdiri dari Satuan Batuan Breksi gunungapi, Satuan Batuan Tufa dan Breksi tufa, Satuan Batuan Tufa gampingan, Satuan Batuan Batugamping, Satuan Batuan Andesit, Satuan Batuan Diorit dan Aluvial. (Gambar 2). Sebagian

dari batuan tersebut terbreksikan dan

mengalami ubahan silisifikasi hingga argilik Dari pengamatan di lapangan batuan

ini dipengaruhi oleh struktur patahan geser menganan (dextral)maupun mengiri (Sinistral) Batuan lainnya yang terdapat di daerah penyelidikan berupa endapan aluvial rawa dan sungai . Struktur geologi yang berkembang di daerah penyelidikan adalah berupa struktur

kekar dan sesar. Struktur kekar berkembang

pada batuan intrusi sedangkan struktur sesar

di daerah penyelidikan diketahui

berdasarkan indikasi adanya gawir sesar yang terdapat di daerah penyelidikan

diantaranya lereng terjal di daerah Bukit

Olat Maja dari pola aliran sungai dan

2

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

kelurusan topografi serta adanya mata air yang mengandung sulfur dan besi yang tinggi. Pola dan kelurusan di daerah penyelidikan, baratdaya-timurlaut, baratlaut-tenggara. Sedangkan pola aliran sungai yang diperkirakan mendukung adanya pola sesar adalah aliran S Lenteh yang bermuara pada teluk Ailepok. Mineralisasi Mangan di Olat Baramayung Mineralisasi mangan di Olat Baramayung terdapat pada punggungan bukit olat Baramayung pada ketinggian 175 m dpl, luas singkapan mineralisasi kurang lebih (25 x 100)m2. Endapan mangan dijumpai dilapisan satuan batuan sedimen tufa gampingan diduga terdiri dari mineral manganit (?). Secara megaskopis sifat mangan di lokasi ini berwarna abu-abu metalik hingga hitam, berbutir halus hingga kasar, tekstur masif hingga laminasi kadang-kadang membentuk kristal dengan kilap logam. Mineralisasi ini mempunyai arah dan kemiringan yang relatif sama dengan batuan tufa gampingan U335°T/24° (foto 1,2 dan gambar 4, 5). Secara stratigrafi kedudukan mangan berada dilapisan satuan batuan tufa gampingan sedangka tufa gampingan menindih diatas satuan batuan breksi gunungapi. Singkapan mangan ini menunjukkan adanya ubahan silisifikasi dan struktur foliasi yang diduga diakibatkan adanya terobosan diorit. Untuk perhitungan sumberdaya hipotetik dibuat Paritan Lintasan terukur (LT-1) guna pengambilan conto alur (Channel sampling) setiap 2m dan setiap adanya perubahan komposisi fisik, dan terkumpul

conto sebanyak 18 conto (gambar 4)

Endapan mangan sekunder Baramayung Proses pembentukan endapan sekunder sangat didominasi oleh media air, sehingga jejak-jejak pembentukannya dicirikan oleh ciri fisik dan bentuk struktur yang spesifik, seperti diantaranya adanya struktur perlapisan. Endapan mangan Baramayung dijumpai dilapisan satuan batuan sedimen tufa

3

gampingan diduga terdiri dari mineral manganit (?). Secara megaskopis sifat mangan di lokasi ini yang telah disebutkan diatas diantaranya tekstur masif hingga laminasi kadang-kadang membentuk kristal dengan kilap logam. Mineralisasi ini mempunyai arah dan kemiringan yang relatif sama dengan batuan tufa gampingan. Berdasarkan ciri tersebut diatas maka mineralisasi mangan di daerah penyelidikan termasuk kedalam tipe endapan mangan sekunder (foto 1 dan 2).

Mineralisasi gosan (oksida besi manganese ?) di S. Pasar, lereng barat bukit Olat Maja. Secara umum geologi daerah hulu sungai A. Pasar (skala 1:2.500) tersusun oleh 2 macam batuan yaitu Tufa pasiran dan Batulempung tufaan yang berlapis baik dengan kedudukan U220T/25. Batuan tufa pasiran mengalami ubahan silisifikasi hingga Argilik, batuan ini termasuk satuan batuan tufa dan breksi tufa dalam (peta geologi 1:25.000) yang diperkirakan berumur Oligosen hingga Miosen Bawah ( Peta geologi dan potensi bahan galian Nusatenggara Barat oleh N. Suratno) sedangkan batuan lempung tufaan berlapis baik dan tidak mengalami ubahan di duga diendapkan diatas batuan tufa pasiran (gambar 6). Diatas singkapan tersebut tersebar endapan deluvial batuan breksi yang termineralisasi pada fragmennya tersebar bintik-bintik coklat kehitaman dan coklat kemerahan berupa oksida besi manganese ? dan diduga mineral pirit yang sudah terubah ?. Sedangkan pada fragmen batuan yang halus berupa pasir hingga kerikil serta pada semen (matrik) terlihat mineralisasi oksida besi/limonitik lebih dominan dan diduga gosan. Pada beberapa tempat kadang kadang terlihatadanya bintik bintik berwarna kebiruan dan kehijauan yang diduga azurit dan malakit yang terlihat pada conto SB-92-R Endapan deluvial tersebut berukuran diameter 0,5m hingga 4m (foto 3), umumnya berwarna merah kecoklatan hingga coklat kehitaman. Penyebarannya

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

dihulu S. Pasar seluas kurang lebih

V

=

Volume. (M 3 )

(100x250) m2 tersingkap pada ketinggan

SG

=

Berat Jenis Rata-rata.

200 m hingga 280m

dpl.

.Pada daerah

mineralisasi ini dibuat satu buah paritan sepanjang 25 m dan 4 buah sumur uji (foto 4) Model Endapan Mineralisasi yang terdapat di S. Pasar kemungkinan berupa gossan yang mengandung oksida besi manganese, pada daerah ini terindikasi adanya dua sesar yang diduga sangat berperan dalam pembentukan mineralisasi gossan pada daerah ini. Selain itu juga adanya intrusi diorit maupun andesit yang bekerja didaerah penyelidikan diduga berpengaruh terjadinya pembentukan mineral ini. Oksida besi manganese yang berupa bongkah-bongkah ini diduga terbentuk akibat proses pelapukan/oksidasi residual dari mineral mineral mafik yang terkandung dalam tufa andesitik-dasitik (host rock) yang berkomposisi besi- magnesium - aluminium silika. Pada proses pelapukan ini terjadi akibat fluktuasi permukaan air tanah naik, proses ini garam-garam besi yang larut dalam air tanah diubah menjadi besi fero hidroksida. Kemudian saat musim kemarau terjadi penurunan air tanah, sehingga besi feri hidroksida tertinggal dipermukaan, kemudian bereaksi dengan oksigen dari udara dan air permukaan, pada saat tersebut fero hidroksida dirubah menjadi feri hidroksida yang lebih stabil, yaitu limonit yang umumnya berwarna coklat kekuningan dan mengendap di permukaan.

Potensi Endapan Mangan di daerah Olat Maja Untuk menghitung potensi Endapan Mangan dilakukan dengan cara menghitung volume bijih dikalikan dengan berat jenis mangan. Maka rumus yang digunakan adalah :

Mineralisasi Mangan di Olat Baramayung Berdasarkan pengamatan penyebaran lapisan mangan kearah strike atau jurus(Utara-selatan) yang terlihat kurang lebih 100 m, sedangkan penyebaran lapisan mangan kearah kemiringan (dip =24 o ) jika diasumsikan penambangan dilakukan mencapai kedalaman 50 m maka didapat luas lapisan mangan adalah L=(100 x (50 :

sin 24 o )) m 2 = ( 100 x 122,9296677) m 2 = 12.292,96677 m 2. Berdasarkan Parit Lintasan Terukur LT-1 maka didapat ketebalan lapisan mangan yang berkadar tinggi diperkirakan setebal 12,50m . Untuk menghitung Volume adalah V= luas x tebal = (10.292,96677 x 12,50)m 3 = 147.510,60124 m 3 . Untuk menghitung tonase maka diperlukan data analisis SG atau berat jenis rata-rata yang masih dikerjakan di Laboratorium Fisika Mineral, sementara belum selesai hasil labortaorium maka diasumsikan dengan berat jenis mangan yang standar dengan nilai SG mangan = 5. Untuk Potensi endapan Mangan C = (volume x SG) ton = (147.510,60124 x 5) ton = 735.553,00 ton.

Mineralisasi tipe gossan besi manganese ? di hulu S. Pasar Penyebaran deluvial gossan yang mengndung oksida besi manganese berdasarkan pengamatan dilapangan seluas 25.000 m2 Pada daerah mineralisasi gossan dibuat 1 buah Parit uji dan 4 buah Sumur uji. Untuk mendapatkan ketebalan atau kedalaman bongkah deluvial maka kedalaman bongkah deluvial pada sumuruji rata-rata adalah 1,925 m. Pada pengamatan di lapangan menunjukkan kerapatan bongkah deluvial gossan adalah 20%. Jadi Volume deluvial

C

=

(L X T ) X

S.G

gossan adalah V= luasx ketebalanx kerapatan = (25000 x 1,925 x 20%)m3 =

dimana :

 

C

=

Potensi endapan

Luas daerah (M 2 )

9.625 m3. Berhubung analisis berat jenis (SG) belum selesai maka perhitungan

L

=

potensi (tonase) diasumsikan dengan berat

T

=

Tebal Endapan (M)

 

4

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

jenis mangan yang terendah yaitu nilai SG = 4. Untuk Potensi endapan deluvial gossan C = (volume x SG) ton = (9.625 x 4) ton= 37.500 ton.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Berdasarkan hasil penyelidikan mineralisasi bijih mangan di kabupaten Sumbawa ( daerah Olat Maja) maka dapat

ditarik beberapa kesimpulan sebaga berikut

:

Mineralisasi logam di daerah Olat Maja, Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa, ditemukan 2 lokasi yaitu Mineralisasi Mangan tipe Sedimenter yang terletak di bukit Olat Baramayung dan Mineralisasi berupa endapan deluvial yang mengandung oksida besi manganese ? yang terletak dihulu S. Pasar, lereng bukit Olat Maja , ditafsirkan sebagai endapan oksidasi residual.

Potensi Sumberdaya Hipotetik bijih mangan di daerah Olat Maja terdiri dari :

Bijih Mangan Tipe Sedimenter di bukit Olat Baramayung dengan Sumberdaya Hipotetik sebesar 147.510,60 m 3 , bila diasumsikan SG (berat jenis) mangan = 5 maka menjadi sebesar 735.553,00 ton. Endapan deluvial tipe gossan besi manganese ? yang terletak di hulu S. Pasar mempunyai Sumberdaya Hipotetik sebesar = 9.625 m3 bila diasumsikan SG (berat jenis) mangan=4 maka menjadi sebesar 37.500 ton Potensi deluvial gssan (oksida besi) ini tidak ekonomis ditambang.

Saran-saran

5

Berdasarkan hasil penyelidikan dan kesimpulan diatas disarankan khususnya mineralisasi mangan tipe sedimenter olat Baramayung perlu dilakukan penyelidikan lanjutan dengan metoda pemetaan geologi detail untuk mengetahui penyebaran mangan dipermukaan dan metoda geofisika untuk mengetahui penyebara mangan kearah vertikal di bawah permukaan (sub surface).

DAFTAR PUSTAKA

Bemmelen, R.W. van 1949, The Geology of Indonesia Vol.II, Martinus Nijhoff, The Hague.

Dhamari A., Bijih Mangan dalam arti ekonomi,Balai Pengolahan Djawatan Pertambangan.

Djumsari A., 2003, Penyelidikan Geokimia Regional, Bersistem Lembar Sumbawa, Kab. Sumbawa dan Dompu Prov. Nusatenggara Barat Direktorat Inventarisasi Sumberdaya Mineral, Bandung.

Gurniwa A., Sumartono, 2003, Penyelidikan Geokimia Regional, Bersistem Lembar Bima, Kab. Bima dan Dompu Prov. Nusatenggara Barat Direktorat Inventarisasi Sumberdaya Mineral, Bandung.

Sismin, Data Digital Potensi Bahan Galian Indonesia, Direktorat Sumberdaya Mineral, Bandung

Sudrajat A., S.Andi Mangga., dan N. Suwarna, 1998, Peta Geologi Lembar Sumbawa, Nusatenggara Barat sekala 1 : 250.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Widhiyatna D., 2001, Penyelidikan Geokimia Regional, Bersistem Lembar Lombok, Kab. Lombok Barat, Lombok Tengah Lombok Timur dan Sumbawa Prov. Nusatenggara Barat Direktorat

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

Inventarisasi Sumberdaya Mineral,

6

Bandung.

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI Gambar 1. Peta Lokasi Eksplorasi Endapan Mangan

Gambar 1. Peta Lokasi Eksplorasi Endapan Mangan di Kab. Sumbawa, Provinsi NusaTenggara Barat

Endapan Mangan di Kab. Sumbawa, Provinsi NusaTenggara Barat Gambar 2. Geologi Regional Daerah Kab. Sumb awa,

Gambar 2. Geologi Regional Daerah Kab. Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (Sudrajat A., S. Andi Mangga., dan N. Suwarna, 1998)

7

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI Gambar 3. Peta Geologi, Ubahan dan Mineralisasi

Gambar 3. Peta Geologi, Ubahan dan Mineralisasi daerah Olat Maja,Kecamatan Lape dan

Kecamatan Marongge, Kabupaten Sumbawa.

Lape dan Kecamatan Marongge, Kabupaten Sumbawa. Foto 1 Singkapan bijih Mangan tipe Sedimenter, d ijumpai

Foto 1 Singkapan bijih Mangan tipe Sedimenter, dijumpai dilapisan satuan batuan sedimen tufa gampingan lokasi LT-1 Olat Baramayung

8

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI Foto 2 Salah satu lokasi conto paritan

Foto 2 Salah satu lokasi conto paritan lintasan terukur, bijih mangan warna abu-kehitaman metalik mungkin manganit dan warna coklat kemerahan diduga hematit LT-1(segmen 6,00- 8,00m) di Olat Baramayung.

9

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI Gambar 4 Peta penyebaran bijih mangan arah

Gambar 4 Peta penyebaran bijih mangan arah jurus 335 o dan kemiringan 24 o lokasi di bukit Olat Baramayung, Desa Labuhan Kuris kecamatan Lape

10

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI Gambar 5 Peta Sketsa Penampang lintasan terukur

Gambar 5 Peta Sketsa Penampang lintasan terukur LT-1 serta lokasi conto mangan daerah bukit Baramayung, desa Labuhan Kuris, Kecamatan Lape.

bukit Baramayung, desa Labuhan Kuris, Kecamatan Lape. Foto 3 Memperlihatkan endapan deluvial gossan b esi

Foto 3 Memperlihatkan endapan deluvial gossan besi manganese yang tersebar di hulu S. Pasar lokasi dekat SU-1

manganese yang tersebar di hulu S. Pasar lokasi dekat SU-1 Foto 4. Parit Uji SU-1 menunjukan

Foto 4. Parit Uji SU-1 menunjukan penyebaran deluvial gossan secara vertikal .

11

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI Gambar 6. Peta Geologi dan Penyeb aran

Gambar 6. Peta Geologi dan Penyebaran endapan deluvial gossan Fe Oksida Hulu S. Pasar, daerah Olat Maja kecamatan Lape dan kecamatan Marongge, Kabupaten Sumbawa

12