Anda di halaman 1dari 6

HASIL PENELITIAN

Pengaruh Tempe terhadap Kadar Gula Darah


dan Kesembuhan Luka pada Tikus Diabetik
Dian S. Ghozali1, Ekowati Handharyani2, Rimbawan 3
1
Instalasi Gizi, RSU Daerah Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur
2
Dept. Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor
3
Dept. Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor

PENDAHULUAN mengetahui apakah kesembuhan luka


Tempe merupakan makanan tradis- pada tikus diabetes dipengaruhi oleh
ional Indonesia yang dijuluki “super- aktivitas pengendalian gula darah dari Kedelai
food”. Predikat tersebut diberikan tempe.
oleh karena pengaruh manfaat dan
nilai gizi tempe terhadap kesehatan. PROSEDUR PENELITIAN
Meskipun demikian popularitasnya Pembuatan Tempe Dicuci dan direbus (½ jam, 99,50C)
menurun seiring citra buruk tempe Pembuatan tempe dilakukan di indus-
(dibuat dengan cara dan teknologi tri tempe tradisional di Bogor den-
tidak higienis) yang masih melekat 1. gan metode yang umum digunakan
Tempe telah hampir 7 tahun digu- masyarakat4. Kedelai (Glycine max) va- Direndam 28 jam
nakan oleh tenaga medis dan gizi di rietas Americana diperoleh dari Balai
Kutai Timur sebagai menu utama un- Besar Penelitian dan Pengembangan
tuk mengatasi luka yang sukar sem- Bioteknologi dan Sumberdaya Gene-
buh pada penderita kaki diabetik. tik Pertanian, Departemen Pertanian, Pembersihan kedelai dari kulit (pen-
Dalam menu tersebut semua lauk Cimanggu, Bogor dan R. oligosporus cucian 2 kali)
hewani diganti dengan lauk tempe. strain-ITBCC L-46 diperoleh dari Lab-
Tempe diduga berperan dalam pen- oratorium Mikro dan Teknologi Bio-
geringan luka dan penurunan jumlah proses, Fakultas Teknik Kimia, Institut
nanah pada luka melalui efek hipog- Teknologi Bandung. Ditiriskan
likemiknya.
Secara turun-temurun tempe telah Prosedur pembuatan tempe diawali
dipercaya masyarakat sebagai salah dengan pencucian kedelai kemudian
satu alternatif pengendalian gula direbus selama ½ jam pada suhu Pemberian inokulum Rhizopus oli-
darah meskipun masih sedikit pub- 99,50C. Setelah masak kedelai lang- gosporus (strain- ITBCC L-46)
likasi ilmiah mekanisme tempe seba- sung direndam dengan bekas cucian 0,3g / 100g berat kedelai godok
gai antihiperglikemik. Kandungan iso- kedelai selama 28 jam. Kemudian di-
flavon dalam tempe diduga berperan lakukan dua kali pembersihan kedelai
penting dalam proses pengendalian dari kulit. Pencucian pertama meng-
gula darah; beberapa penelitian telah gunakan air bekas rendaman dan yang Fermentasi (48 jam)
menghubungkan konsumsi isoflavon kedua menggunakan air bersih. Set-
dengan rendahnya risiko diabetes dan elah bersih kemudian ditiriskan dan
pencegahan komplikasinya2-3. selanjutnya kedelai diberi inokulum
Tujuan penelitian ini adalah untuk Rhizopus oligosporus (strain ITBCC Tempe
mengetahui efek hipoglikemik tempe, L-46) 0,3g / 100g berat kedelai yang
menggunakan tikus sebagai model telah direbus1. Setelah kedelai dibung-
hewan percobaan. Data efek hipo- kus (packing) kemudian dilakukan fer-
glikemik tersebut digunakan untuk mentasi selama 48 jam (Gambar 1). Gambar 1. Prosedur pembuatan tempe

| APRIL 2010 167

CDK Edisi 176 ok.indd 167 3/22/2010 4:44:00 PM


HASIL PENELITIAN

Pembuatan Diabetes pada Hewan


Percobaan (Tikus)
Tikus Sprague Dawley (jumlah 50
ekor, berusia 8 minggu, jantan, berat
200±10g, berasal dari BPOM-RI) di-
adaptasikan terlebih dahulu selama 10
hari di kandang metabolik dan diberi-
kan diet standar (kasein) dengan kom-
posisi sesuai dengan AIN-93M5.

Diabetes diinduksi pada tikus dengan


cara diinjeksi i.p. (intraperitoneal) den-
gan 40mg/kg bb STZ (Streptozotocin,
Sigma Chemical Co., St. Louis, MO),
sedangkan sebagai kontrol (non dia-
betes) tikus diinjeksi i.p. menggunakan
Phosphate Buffer Saline (PBS) pH 7,4.
Dosis PBS disesuaikan dengan volume
STZ yang diberikan pada kelompok
diabetes. Selama periode pembuatan
diabetes (7 hari), semua tikus menda-
patkan diet standar (kasein).

Pada hari ke-7 pasca induksi STZ kadar Gambar 2. Pembuatan luka pada tikus
gula darah diukur. Tikus dinyatakan
diabetes apabila konsentrasi glukosa
plasma yang berasal dari pembu- Prosedur Pembuatan Diet
luh darah vena ekor tikus >250mg/ Tempe hasil fermentasi kedelai diker- % ditentukan untuk memberi kompo-
dL 6. Pengukuran menggunakan ing-bekukan (freeze dried) selama 48 sisi diet yang cukup berbeda dengan
strip glukosa-oksidasi (OneTouch® hingga 50 jam. Selanjutnya dianalisis kelompok Kontrol, Kontrol+Diabetes,
Ultra TM, Lifescan). Tikus yang telah kandungan gizinya meliputi protein, Tempe1 dan Tempe1+Diabetes baik
diabetes, diacak dan dikelompok- lemak, asam lemak, mineral, asam sumbangan energi, protein, dan le-
kan menjadi kelompok perlakuan amino dan isoflavon. Hasil analisis maknya. Sumbangan asam amino
Kontrol+Diabetes, Tempe1+Diabetes, tersebut diperlukan untuk menentu- arginin yang berasal dari diet kasein
dan Tempe2+Diabetes. Pengelompo- kan jumlah tempe yang akan diguna- sebesar 0,5 % digunakan sebagai kon-
kan yang sama juga dilakukan pada kan sebagai diet percobaan hewan trol.
perlakuan non diabetes yang meliputi (tikus).
kelompok Kontrol, Tempe1 dan Tem- Diet didasarkan pada American In-
pe2. Jumlah ulangan untuk masing- Selama perlakuan (dimulai 7 hari pas- stitute of Nutrition / AIN-93M5 (Ta-
masing kelompok adalah 3 ekor tikus ca induksi STZ hingga akhir penelitian) bel 1). Diet dibuat mendekati isoka-
dengan simpangan berdasarkan berat tikus mendapat diet masing-masing lori dengan kasein sebagai sumber
badan awal ± 10g. sesuai dengan kelompok perlakuan. protein pada kelompok Kontrol dan
Diet kasein diberikan pada kelompok Kontrol+Diabetes, sedangkan tempe
Pembuatan Luka pada Hewan Per- Kontrol dan Kontrol+Diabetes. Tempe digunakan sebagai pengganti kasein
cobaan (Tikus) dengan jumlah yang sesuai dengan (sumber protein) pada kelompok Tem-
Setelah tikus memenuhi kriteria diabe- kandungan asam amino arginin 1,4% pe1, Tempe2, Tempe1+Diabetes, dan
tes dan non diabetes, dilakukan pro- diberikan pada kelompok Tempe1 Tempe2+Diabetes. Kasein dan tempe
sedur pembuatan luka. Tikus terlebih dan Tempe1+Diabetes, sedangkan yang telah dikering-bekukan (freeze
dahulu dianestesi intraperitoneal den- jumlah tempe yang sesuai dengan dried) dianalisis kandungan gizi pro-
gan ketamin (15mg/100g.bb tikus) dan kandungan asam amino arginin 1,6 % tein, lemak, dan asam aminonya untuk
xylazin (1mg/100g.bb tikus), kemudian diberikan pada kelompok Tempe2 dan perhitungan komposisi diet. Tidak
kulit di daerah punggung dicukur dan Tempe2+Diabetes. Dosis asam amino ada penambahan minyak jagung pada
dibersihkan. Kulit tikus pada daerah arginin sebesar 1,4 %, mengacu pada kelompok tempe karena sumbangan
punggung dilukai dengan menggu- literatur bahwa dosis tersebut ber- lemak dari tempe sudah berlebih (me-
nakan skalpel dan gunting dengan peran dalam proses kesembuhan luka lebihi formulasi komposisi diet sebe-
ukuran 0.8 x 0.8cm. diabetik pada tikus7-8. Dosis arginin 1,6 sar 100 %).

168 | APRIL 2010

CDK Edisi 176 ok.indd 168 3/22/2010 4:44:01 PM


HASIL PENELITIAN

Tabel 1. Komposisi diet berdasarkan AIN-93M


Tempe 1 & Tempe 1 &
No. Bahan Kontrol Tempe1+Diabetes Tempe1+Diabetes
(Arginin 1,4 %) (Arginin 1,6 %)
1 Tempe Freeze - 28,81 33,43
2 Kasein 14,0 0,00 0,00
3 Minyak Jagung 6,00 0,00 0,00
4 Mineral-AIN 93M-MX1 3,50 2,71 2,58
5 Vitamin-AIN 93M-V 2
1,00 1,00 1,00
6 Selulosa (Alphacel Nutrive Bulk) 3
5,00 5,00 5,00
7 Pati Jagung 43,67 35,65 31,16
8 Dyetros 4 (dextrin cornstarch) 15,50 15,50 15,50
9 Sukrosa 10,90 10,90 10,90
10 L-Cystin 5
0,18 0,18 0,18
11 Choline Bitartrat 6
0,25 0,25 0,25
12 TBHQ7 0,0008 0,0008 0,0008
Jumlah 100 100 100
Energi (Kal) 371,35 372,00 377,27
Protein 12,53 13,47 15,63
Lemak 6,01 7,14 8,29
Keterangan : AIN-93M: American Institute of Nutrition, 7TBHQ : Tetra butyl hydroquinone, 1,2,3(MP-Bio, OHIO-USA), 4Dy-
etrose (Dyets, Bethlehem, PA, USA), 5Merck, 6Sigma Chemical,

Kandungan gizi kasein dalam 100 g


Hari ke-0
sampel (%w/w) : lemak : 0,04, protein :
89,50, karbohidrat : 0,20, asam amino Pembuatan 14 hari Hari ke-21
Tempe 10 hari sebelum
arginin : 3,69, isoleusin : 5,47, valin : induksi diabetes
6,57, dan leusin : 9,08.
Kandungan gizi tempe dalam 100 g.
sampel (%w/w) : lemak : 24,80, protein
Analisis 10 hari adaptasi
: 46,77, karbohidrat : 20,99, asam ami- kandungan
gizi kedelai &
no arginin : 4,96, isoleusin : 2,41, valin tempe Hari ke-7
: 2,43, dan leusin : 3,59.

Tempe hasil freeze drying yang te-


Penentuan
lah kering, diayak dalam saringan 100 jumlah Kelompok non
Kelompok
tempe yang diabetes
diabetes
mesh agar tempe mudah bercampur digunakan
i.p. Phosphate
dengan bahan lain dalam formulasi untuk diet
tikus Buffer Saline
i.p. 40 mg/kg bb

diet. Akses air minum (merk Aqua)


diberikan ad libitum. Diet diberikan
setiap pk. 17.00-18.00 dan diambil se- Pembuatan luka

tiap pk. 10.00-11.00, sedangkan air mi-


num diganti tiap hari setiap pk. 09.00.
Kontrol (n=3) Kontrol+Diabetes (n=3)
Berat badan ditimbang 2 hari sekali
sedangkan intake makanan ditimbang Tempe1 (n=3) Tempe1+Diabetes (n=3)
tiap hari.
Tempe2 (n=3) Tempe2+Diabetes (n=3)

Pengambilan Sampel dan Pelaksan-


aan Nekropsi Gambar 3. Desain penelitian, dari tahap pembuatan tempe hingga pem-
Pada akhir penelitian (hari ke-21 pasca bedahan tikus

| APRIL 2010 169

CDK Edisi 176 ok.indd 169 3/22/2010 4:44:01 PM


HASIL PENELITIAN

induksi STZ) tikus dianestesi dengan Tabel 2. Efek tempe terhadap perubahan berat badan dan intake makanan
15 mg ketamin - 1mg xylazin /100gbb tikus
tikus; gula darah diukur secara lang-
Perubahan berat badan tikus Intake makanan
sung. Darah (sekitar 3 ml) diambil Kelompok
langsung dari jantung dan dimasuk- gram gram
kan ke dalam conical tube yang berisi Kontrol 20,43±1,57 ab
463,94±15,96 a
100μL heparin (6g/L) dan didinginkan Kontrol +Diabetes 18,04±3,58bc 440.74±21,77a
dalam es . Sampel darah disentrifuse
Tempe1 22,09±1,50ab 383.60±17,69b
pada 1800 G selama 15 menit pada
suhu 40C untuk memperoleh serum Tempe1+Diabetes 24,82±2,67a 402.81±5,78b
darah, yang selanjutnya digunakan Tempe2 14,71±0,13 c
379.63±22,16b
untuk analisis asam amino mengguna- Tempe2+Diabetes 14,43±1,70c 379.10±26,28b
kan metode HPLC (High Performance
Liquid Chromatography). Setelah ti- Rata-rata dengan huruf sama dalam kolom tidak berbeda secara signifikan pada
kus mati segera dinekropsi. Pankreas p<0,05
diambil dan segera disimpan dalam
larutan Buffered Neutral Forma-
lin (BNF) 10 persen, yang selanjutnya Tabel 3. Kadar gula darah tikus induksi STZ dan PBS pada hari ke-7 dan hari ke-
diproses menjadi preparat histologi 21 pasca induksi
dengan pewarnaan hematoxylin-eosin
7 hari pasca induksi STZ 21 hari pasca induksi
(H&E) Kelompok
(mg/dL) STZ (mg/dL)
Pengolahan dan Analisis Data Kontrol 126,50±31,81c 143,35±25,10c
Semua data ditampilkan dalam ben- Kontrol+Diabetes 557,66±64,03a 489,33±148,28a
tuk rata-rata ± standar deviasi. Data Tempe1 194,67±35,44bc 147,33±41,63c
persentase perubahan berat badan
Tempe1+Diabetes 281,50±43,13b 187,66±46,30cb
tikus diperoleh dengan rumus:
Tempe2 191,00±43,84 cb
127,67±8,96c
Berat badan akhir-
Tempe2+Diabetes 496,50±38,89a 149,00±46,67c
berat awal
Persen Δ BB = X 100%
Berat awal Rata-rata dengan huruf sama dalam kolom tidak berbeda signifikan pada
p<0,001

Food Conversion Efficiency (FCE)


diperoleh dengan rumus: intake makanan disajikan pada Ta- dikarakteristikkan dengan peningka-
bel 2. Diet tempe pada kelompok tan stres oksidatif yang sangat ber-
Berat badan akhir-berat awal Tempe1+Diabetes secara signifikan hubungan dengan kejadian komplika-
FCE = X 100% (p<0,05) memberikan perubahan be- si diabetes3. Keadaan diabetes pada
Total Intake
rat badan yang lebih besar dibanding penelitian ini, terlihat pada tikus yang
kelompok lainnya, meskipun intake diinduksi 40mg/kg bb STZ pada hari
makanan tikus kelompok kontrol (Kon- ke-7 pasca induksi (Tabel 3). Pada tikus
Total intake makanan diperoleh den- trol dan Kontrol+Diabetes) secara sig- yang diinduksi 40mg/kgBB STZ kadar
gan menjumlahkan intake makanan nifikan lebih besar. Perubahan berat gula darahnya >281,50±43.13 mg/dL,
tikus setiap hari selama perlakuan badan terkecil terlihat pada kelompok sedangkan yang diinduksi dengan PBS
luka. Data dianalisis dengan General yang mendapat diet tempe 2 (kelom- kadar gula darahnya <194,67±35,44
Linear Model (GLM) dan perbedaan di pok Tempe2 dan Tempe2+Diabetes) mg/dL.
antara nilai rata-rata dianalisis dengan meskipun tidak berbeda nyata (p<0,05)
uji Duncan. Data histopatologi dianali- dengan kelompok Kontrol+Diabetes. Efek Tempe terhadap Kadar Gula
sis dengan uji nonparametrik Kruskal- Darah Tikus
Wallis. Pada semua uji, perbedaan Efek Streptozotocin terhadap Kadar Konsumsi tempe pada tikus induksi
signifikan dinyatakan dalam p<0,05. Gula Darah Tikus STZ secara signifikan (p<0,001) mem-
Induksi 24-100mg/kgbb Streptozo- pengaruhi penurunan gula darah pada
HASIL dan DISKUSI tocin atau STZ (2-deoksi-2-(3-metil- tikus kelompok Tempe1+Diabetes
Efek Tempe terhadap Perubahan (nitrosoureido)-D-glukopiranosa) da- dan Tempe2+Diabetes dibanding
Berat Badan dan Makanan Tikus pat menimbulkan efek diabetogenik9. kelompok Kontrol+Diabetes (Tabel
Perubahan berat badan tikus dan Tikus diabetes induksi STZ sering 2). Demikian juga kelompok Tempe1

170 | APRIL 2010

CDK Edisi 176 ok.indd 170 3/22/2010 4:44:01 PM


HASIL PENELITIAN

dan Tempe2 memiliki kadar gula uli daya tahan sel beta pankreas17 dan darah. Hal tersebut senada dengan
darah yang lebih rendah diband- menurunkan gula darah dengan cara penelitian J.-S. Lee2, yang menyatakan
ing kadar gula darah awalnya. Hal ini mengaktifkan reseptor PPAR (perox- bahwa baik diet genestein maupun
memperlihatkan bahwa tempe secara isome-proliferator activated receptor), isolat protein kedelai, secara signifikan
signifikan memiliki efek hipoglikemik. suatu reseptor inti yang berpartisipasi telah meningkatkan aktivitas enzim
Efek penurunan gula darah tersebut dalam pengaturan gula darah dan ker- glukokinase dan menurunkan aktivitas
mungkin karena tempe merupakan ja insulin18. enzim glukosa-6-fosfatase. Meskipun
sumber isoflavon. Komponen bioaktif demikian isolat protein kedelai lebih
isoflavon yang berupa genistein dan Pemberian diet genistein dan iso- potensial dibanding genistein dalam
daidzein telah dihubungkan dengan lat protein kedelai masing-masing menurunkan gula darah diduga kare-
aktivitas penurunan gula darah9. 0,06g/100g diet dan 20g/100g diet na isolat protein kedelai mengandung
pada tikus diabetes diinduksi STZ, komponen aktif lain yang dapat men-
Genistein dilaporkan dapat meng- menunjukkan adanya substansi insuli- ingkatkan bioavailabilitas genistein.
hambat α-glukosida yang berperan notropik di dalam fraksi2, yang meng- Efek glikemik tempe mungkin berbe-
dalam beberapa kelainan metabolik indikasikan bahwa fungsi sel beta da, mengingat jumlah isoflavon dalam
seperti diabetes mellitus10. M.-P. Lu et pulau Langerhans secara utuh mem- tempe berbeda tergantung dari jenis
al.9 menyatakan pemberian isoflavon produksi insulin atau melindungi sel varietas kedelai, preparasi pembuatan
kedelai (genistein ekuivalen 0,22g/kg beta yang masih berfungsi dari keru- tempe21 dan jenis kapang yang digu-
diet) secara signifikan meningkatkan sakan lebih lanjut. Selain itu, aktivitas nakan19.
serum insulin dan menurunkan glukosa enzim glukokinase meningkat disertai
serum pada tikus diabetes. Diet tinggi penurunan aktivitas enzim glukosa- Pengaruh tempe terhadap kesem-
isoflavon meningkatkan serum insulin, 6-fosfatase dalam hati. Mekanisme buhan luka diabetik jangka panjang
serum gluthatione (GSH), menurunkan tersebut memberi dampak penurunan terlihat pada dosis 1,4 persen arginin
glukosa darah dan serum methylg- gula darah pada tikus yang diinduksi tempe; ditunjukkan dengan jumlah
lyoxal (MG) melalui mekanisme per- diabetes. kolagen, folikel rambut dan kelenjar
lindungan sisa-sisa sel beta pankreas keringat yang terbentuk lebih banyak
dari efek toksik STZ dan meningkatkan Analisis pendahuluan atas isoflavon dibanding kelompok Kontrol+Diabetes
fungsi sel beta pankreas3. Genistein di- tempe yang digunakan pada eks- ataupun Tempe2+Diabetes (data tidak
laporkan juga dapat mencegah apop- perimen ini, menunjukkan kandungan ditunjukkan)25. Meskipun demikian
tosis sel akibat peningkatan MG11. MG genistein dan daidzein dalam tempe efek hipoglikemik tempe terlihat tidak
sering ditemukan tinggi kadarnya da- berkisar 0,44 - 1,5 mg/100 g sampel berperan dalam proses kesembuhan
lam darah pasien diabetik12, bisa 3-6 (berat kering); meningkat dibanding- luka diabetik, sebab pada kelompok
kali lebih tinggi dibanding keadaan kan sebelum fermentasi dengan kand- Tempe2+Diabetes meskipun gula
normal13. ungan genistein dan daidzein berkisar darahnya turun tetapi secara histopa-
0,0011 dan 0,093mg/100g sampel (be- tologi (jumlah kolagen, folikel rambut
Secara in vitro genistein menghambat rat kering). Peningkatan setelah fer- dan kelenjar keringat) luka diabetiknya
aldose reductase14 yang merupakan mentasi tersebut akibat aktivitas enzim terlihat sukar sembuh.
enzim kunci dalam jalur polyol (jalur kapang yang menghidrolisis isoflavon
sorbitol-aldose reductase). Enzim glukosida pada kedelai menjadi isofla- Hingga saat ini, belum ada laporan
tersebut mengkatalisis kelebihan glu- von aglycon; walaupun proses peren- ilmiah adanya efek merugikan setelah
kosa menjadi sorbitol yang berimp- daman dan perebusan pada tahapan mengkonsumsi tempe. Peningkatan
likasi terhadap komplikasi diabetes, pembuatan tempe secara signifikan berat badan tikus yang lebih kecil
terutama kerusakan mikrovaskuler (p<0.05) telah menghilangkan kand- dibanding kelompok lain pada pene-
seperti retina diabetik dan kaki diabe- ungan isoflavon total sebesar 49 pers- litian ini terjadi hanya pada perlakuan
tik. Genistein dan daidzein berperan en19. Ikeda et al,20 juga menyatakan Tempe2 dan Tempe2+Diabetes. Hal
sebagai antihiperglikemik melalui adanya perubahan isoflavon glukosida ini bertolak belakang dengan kenaikan
mekanisme aktivasi glukokinase (GK), (daidzin, genistin dan glycitin) menjadi berat badan pada perlakuan Tempe1
penghambatan glukosa-6-fosfatase isoflavon aglycon (daidzein, genistein dan Tempe1+Diabetes yang bahkan
(G6pase), phosphoenol pyruvate car- dan glycitein) pada saat fermentasi lebih besar dibandingkan dengan kel-
boxykinase (PEPCK), fatty acid syn- tempe. ompok Kontrol dan Kontrol+Diabetes;
thase (FAS), ß-oxidation dan carnitine diduga akibat pemberian komposisi
palmitoyltransferase (CPT) di hati15. Efek antihiperglikemik tempe bukan diet tempe yang berbeda (Tabel 1).
Isoflavon dalam kedelai memproteksi hanya oleh aktivitas isoflavon yang Dampak perubahan berat badan set-
sel dari prainflamasi sitokinin, keru- terkandung dalam tempe. Komponen elah mengkonsumsi tempe pada ma-
sakan induksi lemak dan apoptosis16. lain dalam tempe diduga turut mem- nusia belum banyak dipublikasikan
Isoflavon juga diduga dapat menstim- berikan andil dalam penurunan gula secara ilmiah. Penelitian pada wanita

| APRIL 2010 171

CDK Edisi 176 ok.indd 171 3/22/2010 4:44:02 PM


HASIL PENELITIAN

yang mendapat suplemen protein hoc writing committee on the reformulation of 18. Mezei O, Banz WJ, Steger RW, Peluso MR,
kedelai 18 g/hari tidak menunjukkan the AIN-76A rodent diet, Committee Report. Winters TA, Shay N. Soy isoflavones ex-
dampak penurunan berat badan yang J. Nutrition 1993;123: 1939- 51. ert antidiabetic and hypolipidemic effect
berlebihan22. Selain itu tempe meru- 6. Gutierrez RM, Perez R, Vargas S. Evaluation of through the PPAR pathways in obese zucker
pakan sumber protein berkualitas the wound healing properties of Acalyphalangi- rats and murine raw 264.7 cells. J. Nutrition
tinggi23 yang dibuktikan pada nilai PER ana in diabetic rats. Fitoterapia 2006;77: 286– 9. 2003;133:1238-43.
(Protein Efficiency Ratio) tempe sebe- 7. Kohli R, Meininger CJ, Haynes TE, Wene Y, Self 19. Wang H-J, Murphy PA. Mass balance study
sar 2,79 yang seimbang dengan nilai JT, Wu G. Dietary l-arginine supplementation of isoflavones during soybean processing.
PER kasein yang sebesar 2,81 dan leb- enhances endothelial nitric oxide synthesis in J.Agric. Food Chem. 1994;44:2377-88.
ih besar dibanding kedelai (sebelum streptozotocin-induced diabetic rats. J. Nutri- 20. Ikeda R, Ohta N, Watanabe T. Changes of iso-
difermentasi) dengan nilai PER 2,4124. tion 2004;134: 600–8. flavones at various stages of fermentation in
8. Witte MB, Thornton FJ, Udaya Tantry, Adrian deffated soybeans. J. Jap. Soc. Food Sci. Tech.
SIMPULAN Barbul. L-arginine supplementation enhances 1995;42(3):322-27.
Pemberian tempe berpengaruh positif diabetic wound healing: involvement of the 21. Coward L, Barnes NC, Setchell KDR, Barnes
terhadap penurunan gula darah dan nitric oxide synthase and arginase pathways. S. Genistein, daidzein, and their β-glycoside
kecepatan kesembuhan luka pada ti- Metabolism 2002; 51(10): 1269- 73 conjugates: antitumor isoflavones in soybean
kus diabetes. 9. Lu M-P, Wang R, Song X., Wang X, Qing H, Wu foods from American and Asian diets. J.Agric.
ML. Modulation of methylglyoxal and gluta- Food Chem.1993;41:1961-67.
UCAPAN TERIMA KASIH thione by soybean isoflavones in mild strep- 22. St-Onge M-P, Nancy C, Carlawolper, Steven-
Kami berterima kasih kepada Dr Tan tozotocin-induced diabetic rats. J. Numecd. BH. Supplementation with soy-protein rich
Chuan Cheng, Dr. Ir Endang S Su- 2007:1-7. foods does not enhance weight loss. J Am
naryo, MSc., Mashudi (Laboratorium 10. Lee DS, Lee SH. Genistein, a soy isoflavone, Diet Assoc. 2007;107:500-505.
Gizi Masyarakat-IPB), Drh. Adi Winar- is a potent α-glucosidase. FEBS Letters 23. Zamora RG, Veum TL. The nutritive value of
to PhD.(Dosen Fakultas Kedokteran 2001;501:84-6. dehulled soybeans fermented with aspergillus
Hewan-IPB), Drh. IGN Sudisma MSi., 11. Wu H.-J,Chan W–H. Genistein protects meth- oryzae or rhizopus oligosporus as evaluated
(Dosen Fakultas Kedokteran Hewan ylglyoxal-induced oxidative DNA damage and by rats. J. Nutr.1994;109:1333-39.
– Universitas Udayana Bali), Widawati cell injury in human mononuclear cells. Toxi- 24. Wang HL, Ruttle DI, Hesseltine CW. Protein
Suherman (Mahasiswa S2 Psikologi cology in Vitro 2007;21:335-42. quality of wheat and soybeans after Rhizopus
Kaunseling- Universitas Kebangsaan 12. Atkins TW, Thornally PJ. Erythrocyte glyox- oligosporus fermentation. J. Nutr. 1969;96:109-
Malaysia) alase activity in genetically obese (ob/ob) 114.
and streptozotocin diabetic mice. Diabetes 25. Ghozali DS. Pengaruh Tempe terhadap Kes-
Res.1989;11:125–9. embuhan Luka pada Tikus Diabetes yang
DAFTAR PUSTAKA 13. McLellan AC, Thornalley PJ, Benn J, Sonksen Diinduksi Streptozotocin (STZ). Skripsi tidak
1. Karyadi D. Prospek Pengembangan Tempe PH. Glyoxalase system in clinical diabetes mel- dipublikasikan. Departemen Gizi Masyarakat
dalam Upaya Peningkatan Status Gizi dan Kes- litus and correlation with diabetic complica- dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian
ehatan Masyarakat. Simposium Pemanfaatan tions. Clinical Sci. 1994;87:21–9. IPB. 2008.
Tempe dalam Peningkatan Upaya Kesehatan 14. Kim Y-S, Kim N-H, Jung D-H et al. Genistein
dan Gizi. Puslitbang Gizi. 1985. inhibits aldose reductase activity and high
2. Lee J-S. Effects of soy protein and genistein on glucose-induced TGF-ß2 expression in hu-
blood glucose, antioxidant enzyme activities, man lens epithelial cells. Europ. J. Pharmacol.
and lipid profile in streptozotocin-induced dia- 2008;594:18–25.
betic rats. Life Sciences 2006;79:1578-84. 15. Park SA,. Choi M.-S,.Cho S-Y et al. Genistein
3. Lu.M-P, Wang Rui, Song X et al. Dietray soy and daidzein modulate hepatic glucose and
isoflavones increase insulin secretion and pre- lipid regulating enzyme activities in C57BL/
vent the development of diabetic cataracts in KsJ-db/db mice. Life Sciences 2006;79:1207–
streptozotocin-induced diabetic rats . Nutri- 13.
tion Res. 2008; 28:464-71 16. Kwon G, Pappan KL, Marshall CA, Schaffer JE,
4. Saono S, Hull RR, Dhamcharee B. A Concise McDaniel ML. CAMP dose-dependently pre-
Handbook of Indigenous Fermented Foods in vents palmitate-induced apoptosis by both
The Asia Countries. In: The Complete Hand- protein kinase A- and CAMP – guanine nucle-
book of Tempe, J. Agranoff. (ed.), pp.14. His- otide exchange factor-dependent pathways in
tory of The Development of Tempe, American beta-cells. J. Biol. Chem.2004;279: 8938e45.
Soybean Association. 1986. 17. Jhala US, Canettieri G, Screaton RA, Kulkarni
5. Reeves PG, Nielsen FH, Fahey GC Jr. AIN-93 RN, Krajewski S, Reed J. CAMP promotes
Purified diets for laboratory Rodents: final re- pancreatic beta-cell survival via CREB-mediate
port of the American Institute of Nutrition ad dinduction of IRS2. Genes 2003;17:1575.

172 | APRIL 2010

CDK Edisi 176 ok.indd 172 3/22/2010 4:44:02 PM