Anda di halaman 1dari 13

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Mitigasi/Pencegahan Bencana


Pengertian Mitigasi Bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana,
baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi
ancaman bencana (Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana). Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam
dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor
alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya
korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Bencana berdasarkan sumbernya dibagi menjadi tiga, yaitu :
a. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa/serangkaian peristiwa oleh
alam.
b. Bencana nonalam, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa/serangkaian peristiwa
non alam.
c. Bencana sosial, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa/serangkaian peristiwa
oleh manusia
Bencana alam juga dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. Bencana alam meteorologi (hidrometeorologi). Berhubungan dengan iklim umumnya
tidak terjadi pada suatu tempat yang khusus
b. Bencana alam geologi. Adalah bencana alam yang terjadi di permukaan bumi seperti
gempa bumi,tsunami,dan longsor
Penyebab bencana alam di Indonesia :
 Posisi geografis Indonesia yang diapit oleh dua samudera besar
 Posisi geologis Indonesia pada pertemuan tiga lempeng utama dunia (Indo-Australia,
Eurasia, Pasifik)Kondisi permukaan wilayah Indonesia (relief) yang sangat beragam
Tujuan Mitigasi Bencana adalah mengurangi dampak yang ditimbulkan, khususnya bagi
penduduk. Sebagai landasan (pedoman) untuk perencanaan pembangunan dan juga untuk
meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi serta mengurangi dampak/resiko
bencana, sehingga masyarakat dapat hidup dan bekerja dengan aman.
Beberapa kegiatan mitigasi bencana di antaranya:
1. Pengenalan dan pemantauan risiko bencana
2. Perencanaan partisipatif penanggulangan bencana
3. Pengembangan budaya sadar bencana;penerapan upaya fisik, nonfisik dan pengaturan
penanggulangan bencana
4. Identifikasi dan pengenalan terhadap sumber bahaya atau ancaman bencana
5. Pemantauan terhadap pengelolaan sumber daya alam
6. Pemantauan terhadap penggunaan teknologi tinggi
7. Pengawasan terhadap pelaksanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan hidup
Adapun robot sebagai perangkat bantu manusia, dapat dikembangkan untuk turut melakukan
mitigasi bencana. Robot mitigasi bencana bekerja untuk mengurangi resiko terjadinya bencana.
Contoh robot mitigasi bencana diantaranya :
 Robot pencegah kebakaran
 Robot pendeteksi tsunami
 Robot patroli/pemantau rumah atau gedung
Berdasarkan siklus waktunya, kegiatan penanganan bencana dapat dibagi 4 kategori :
 Kegiatan sebelum bencana terjadi (mitigasi)
 Kegiatan saat bencana terjadi (perlindungan dan evakuasi)
 Kegiatan tepat setelah bencana terjadi (pencarian dan penyelamatan)
 Kegiatan pasca bencana (pemulihan/penyembuhan dan perbaikan/rehabilitasi)
Contoh Upaya Dalam Mitigasi Bencana
1. Mitigasi Bencana Tsunami
Adalah sistem untuk mendeteksi tsunami dan memberi peringatan untuk mencegah
jatuhnya korban.
Ada dua jenis sistem peringatan dini tsunami yaitu :
 Sistem peringatan tsunami internasional
 Sistem peringatan tsunami regional
2. Mitigasi Bencana Gunung Berapi
Hal – Hal Yang dilakukan untuk Mitigsi Bencana Gunung Berapi yaitu :
 Pemantauan aktivitas gunung api. Data hasil pemantauan dikirim ke Direktorat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) di Bandung dengan radio
komunikasi SSB.
 Tanggap darurat
 Pemetaan, peta kawasan rawan bencana gunung berapi dapat menjelaskan jenis
dan sifat bahaya, daerah rawan bencana, arah penyelamatan diri, pengungsian,
dan pos penanggulangan bencana gunung berapi.
 Penyelidikan gunung berapi menggukanan metode geologi, geofisika, dan
geokimia
 Sosialisasi, yang dilakukan pada pemerintah daerah dan masyarakat
3. Mitigasi Bencana Gempa Bumi
Hal yang dilakukan sebelum terjadinya Gempa Bumi :
 Mendirikan bangunan sesuai aturan baku (tahan gempa)
 Kenali lokasi bangunan tempat Anda tinggal
 Tempatkan perabotan pada tempat yang proporsional
 Siapkan peralatan seperti senter, P3K, makanan instan, dll
 Periksa penggunaan listrik dan gas
 Catat nomor telepon penting
 Kenali jalur evakuasi
 Ikuti kegiatan simulasi mitigasi bencana gempa
Hal yang dilakukan ketika terjadi gempa
 Tetap tenang
 Hindari sesuatu yang kemungkinan akan roboh, kalau bisa ke tanah lapang
 Perhatikan tempat Anda berdiri, kemungkinan ada retakan tanah
 Turun dari kendaraan dan jauhi pantai.
Hal yang dilakukan setelah gempa :
 Cepat keluar dari bangunan. Gunakan tangga biasa
 Periksa sekitar Anda. Jika ada yang terluka, lakukan pertolongan pertama.
 Hindari banugnan yang berpotensi roboh
4. Mitigasi Tanah Longsor
Hal yang dilakukan saat Tanah Longsor
 Hindari daerah rawan bencana untuk membangun pemukiman
 Mengurangi tingkat keterjalan lereng
 Terasering dengan sistem drainase yang tepat
 Penghijauan dengan tanaman berakar dalam
 Mendirikan bangunan berpondasi kuat
 Penutupan rekahan di atas lereng untuk mencegah air cepat masuk
 Relokasi (dalam beberapa kasus)
5. Mitigasi Banjir
Hal yang dilakukan sebelum banjir
 Penataan daerah aliran sungai
 Pembangunan sistem pemantauan dan peringatan banjir
 Tidak membangun bangunan di bantaran sungai
 Buang sampah di tempat sampahPengerukan sungai
 Penghijauan hulu sungai
Hal yang dilakukan saat banjir
 Matikan listrik
 Mengungsi ke daerah aman
 Jangan berjalan dekat saluran air
 Hubungi instansi yang berhubungan dengan penanggulangan bencana
Hal yang dilakukan setelah banjir
 Bersihkan rumah
 Siapkan air bersih untuk menghindari diare
 Waspada terhadap binatang berbisa atau penyebar penyakit yang mungkin ada
 Selalu waspada terhadap banjir susulan
Contoh Siklus Manajemen Bencana

Tahap prabencana dapat dibagi menjadi kegiatan mitigasi dan preparedness


(kesiapsiagaan). Selanjutnya, pada tahap tanggap darurat adalah respon sesaat setelah terjadi
bencana. Pada tahap pascabencana, manajemen yang digunakan adalah rehabilitasi dan
rekonstruksi.
Tahap prabencana meliputi mitigasi dan kesiapsiagaan. Upaya tersebut sangat penting bagi
masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana sebagai persiapan menghadapi bencana.
Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana
melalui pengorganisasian.
Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada
saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan.
Tahap pasca bencana meliputi usaha rehabilitasi dan rekonstruksi sebagai upaya
mengembalikan keadaan masyarakat pada situasi yang kondusif, sehat, dan layak sehingga
masyarakat dapat hidup seperti sedia kala sebelum bencana terjadi, baik secara fisik dan
psikologis
2.2 Mengidentifikasi Hazard
Berbagai sumber mendefinisikan pengertian Hazard, antara lain :
1. Suatu kondisi, secara alamiah maupun karena ulah manusia, yang berpotensi
menimbulkan kerusakan atau kerugian dan kehilangan jiwa manusia. ( BNPB,2008)
2. Bahaya berpotensi menimbulkan bencana, tetapi tidak semua bahaya selalu menjadi
bencana.
3. Sumber bahaya, suatu peristiwa yang hebat, atau kemungkinan menimbulkan kerugian
atau korban manusia (Dirjen Yanmedik, 2007)
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Hazard adalah sesuai yang
dapat menjadi ancaman bagi manusia saat terjadi bencana. Hazards dapat mengganggu
kehidupan manusia khususnya penduduk yang mudah terserang bencana dan bahaya tersebut
dapat menyebabkan bahaya bagi harta benda seseorang kehidupan dan juga kesehatan. Hazard
menjadi penyebab terjadinya bencana. Namun bukan berarti jika ada hazard maka akan terjadi
bencana. Contohnya, jika badai angin ataupun angin topan dengan kekuatan yang sama melanda
wilayah yang tidak ada penghuninya, hal itu tidak dapat dianggap sebagai bencana karena tidak
berdampak pada nyawa atau kehidupan penduduk
Bencana dapat terjadi, karena ada dua kondisi yaitu adanya peristiwa atau gangguan yang
mengancam dan merusak (hazard) dan kerentanan (vulnerability) masyarakat. Bila terjadi
hazard, tetapi masyarakat tidak rentan, maka berarti masyarakat dapat mengatasi sendiri
peristiwa yang mengganggu, sementara bila kondisi masyarakat rentan, tetapi tidak terjadi
peristiwa yang mengancam maka tidak akan terjadi bencana. Suatu bencana dapat dirumuskan
sebagai berikut :
Bencana = Bahaya x Kerentanan
 Bencana ( Disasters ) adalah kerusakan yang serius akibat fenomena alam luar biasa
dan/atau disebabkan oleh ulah manusia yang menyebabkan timbulnya korban jiwa,
kerugian material dan kerusakan lingkungan yang dampaknya melampaui kemampuan
masyarakat setempat untuk mengatasinya dan membutuhkan bantuan dari luar. Disaster
terdiri dari 2(dua) komponen yaitu Hazard dan Vulnerability
 Bahaya ( Hazards ) merupakan peristiwa atau kondisi fisik yang berpotensi
menyebabkan kerusakan pada manusia seperti luka-luka, kerusakan properti dan
infrastruktur, kerusakan lingkungan, gangguan terhadap kegiatan ekonomi atau segala
kerugian dan kehilangan yang dapat terjadi (FEMA, 1997). Bahaya terjadi karena adanya
interaksi antara alam, manusia, sistem teknologi, serta karakteristik wilayah asal yang
mengalami bahaya (Pine, 2009). Misal : tanah longsor, banjir, gempa-bumi, letusan
gunung api, kebakaran
 Kerentanan (Vulnerability) adalah keadaan atau kondisi yang dapat mengurangi
kemampuan masyarakat untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi bahaya atau
ancaman bencana
 Risiko (Kerentanan) adalah kemungkinan dampak yang merugikan yang diakibatkan
oleh hazard dan/atau vulnerability
2.3 Sistem Surveilence
Surveilans adalah kegiatan “analisis” yang sistematis dan berkesinambungan melalui
kegiatan pengumpulan dan pengolahan data serta penyebar luasan informasi untuk pengambilan
keputusan dan tindakan segera.
Surveilans adalah proses pengamatan secara teratur dan terus menerus terhadap semua
aspek penyakit tertentu, baik keadaan maupun penyebarannya dalam suatu masyarakat tertentu
untuk kepentingan pencegahan dan penanggulangan.
Tujuan surveilence :
 Memprediksi dan mendeteksi dini epidemic
 (outbreak/wabah)
 Memonitor, mengevaluasi dan memperbaiki program pencegahan dan
pengendalian penyakit
 Memasok informasi untuk penentuan prioritas,pengambilan
kebijakan,perencanaan,implementasi dan alokasi sumber daya kesehatan
 Monitoring kecenderungan penyakit endemis dan mengestimasi dampak
penyakit di masa mendatang.
 Mengidentifikasi kebutuhan riset dan investigasi lebih lanjut
Peran Surveilans
 Pengendalian penyakit menular KLB
 Mempelajari riwayat alamiah penyakit, gambaran klinis, dan epidemiologi sehingga
dapat disusun program pencegahan dan penanggulangannya
 Mendapatkan data dasar penyakit dan faktor risiko, sehingga dapat diteliti kemungkinan
pencegahan dan penanggulangan, dan program nantinya dapat dikembangkan
Cara Membangun Sistem Surveilans Situasi Bencana
1. Sistem sangat tergantung situasi bencana yang mana
2. Substansi sangat tergantung situasi bencana yang mana
3. Proses surveilans berlaku umum (pengumpulan, pengolahan, analisis, interpretasi,
penyebar luasan informasi untuk respon secara dini)
Langkah‐langkah surveilans penyakit di daerah bencana meliputi:
A. Pengumpulan Data
a) Data kesakitan dan kematian
b) Sumber data
c) Jenis data
Form BA‐3: register harian penyakit pada korban bencana
Form BA‐4: rekapitulasi harian penyakit korban bencana
Form BA‐5: laporan mingguan penyakit korban bencana
Form BA‐6: register harian kematian korban bencana
B. Pengolahan dan Penyajian Data
C. Analisis dan Interpretasi
D. Penyebarluasan Informasi
2.4 Kelompok beresiko/Rentan
Kerentanan didefinisikan sebagai sekumpulan kondisi dan atau suatu akibat keadaan
(faktor fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan) yang berpengaruh buruk terhadap upayaupaya
pencegahan dan penanggulangan bencana.
Kerentanan (vulnerability) adalah keadaan atau sifat/perilaku manusia atau masyarakat
yang menyebabkan ketidakmampuan menghadapi bahaya atau ancaman (BNPB, 2008).
Kerentanan ini dapat berupa:
1. Kerentanan Fisik
Secara fisik bentuk kerentanan yang dimiliki masyarakat berupa daya tahan menghadapi
bahaya tertentu, misalnya: kekuatan struktur bangunan rumah, jalan,jembatan bagi
masyarakat yang berada di daerah rawan gempa, adanya tanggul pengaman banjir bagi
masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan sebagainya.
2. Kerentanan Ekonomi
Kemampuan ekonomi suatu individu atau masyarakat sangat menentukan tingkat kerenta
nan terhadap ancaman bahaya. Pada umumnya masyarakat atau daerah yang miskin atau
kurang mampu lebih rentan terhadap bahaya, karena tidak mempunyai
3. Kerentanan Sosial
Kondisi sosial masyarakat juga mempengaruhi tingkat kerentanan terhadap ancaman
bahaya, kondisi demografi (jenis kelamin, usia, kesehatan, gizi, perilaku masyarakat,
pendidikan) kekurangan pengetahuan tentang risiko bahaya dan bencana akan
mempertinggi tingkat kerentanan, demikian pula tingkat kesehatan masyarakat yang
rendah juga mengakibatkan rentan terhadap ancaman bencana
4. Kerentanan Lingkungan
Lingkungan hidup suatu masyarakat sangat mempengaruhi kerentanan. Masyarakat yang
tinggal di daerah yang kering dan sulit air akan selalu terancam bahaya kekeringan,
Penduduk yang tinggal di lereng bukit atau pegunungan rentan terhadap ancaman
bencana tanah longsor dan sebagainya. Kerentanan masyarakat berkaitan dengan
seberapa besar kemampuan (capacity) kekuatan tingkat persiapan masyarakat terhadap
kejadian yang menjadi penyebab bencana.

2.5 Koordinasi Dalam Bencana


Fayol (dalam Arsyad, 2002) menjelaskan bahwa koordinasi adalah suatu usaha untuk
mengharmoniskan dalam rangkaian struktur yang ada. Fayol (dalam Moekijat : 1989) juga
menambahkan bahwa koordinasi merupakan suatu unsur manajemen yang diartikan sebagai
penggabungan usaha dan peraturan semua kegiatan perusahaan agar sesuai dengan
kebijaksanaan-kebijaksanaan.
Adapun Brech (dalam Hasibuan, 2011) memberikan pengertian koordinasi adalah
mengimbangi dan menggerakkan tim dengan memberikan lokasi kegiatan pekerjaan yang cocok
kepada masing-masing dan menjaga agar kegiatan itu dilaksanakan dengan keselarasan yang
semestinya di antara para anggota itu sendiri.
Hal di atas dapat dipahami bahwa dalam melaksanakan koordinasi harus ada kesesuaian
antara peraturan dan tindakan serta kerja sama antar anggota yang pada akhirnya menimbulkan
keharmonisan kerja sehingga tidak adanya pekerjaan yang tumpang tindih dan semua usaha atau
kegiatan yang dilaksanakan berjalan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan.
Hasibuan (2011) menyatakan bahwa koordinasi adalah kegiatan mengarahkan,
mengintegrasikan, dan mengkoordinasikan unsur-unsur manajemen dan pekerjaan-pekerjaan
para bawahan dalam mencapai tujuan organisasi. Koordinasi mengimplikasikan bahwa elemen-
elemen sebuah organisasi saling berhubungan dan mereka menunjukkan keterkaitan sedemikian
rupa, sehingga semua orang melaksanakan tindakan-tindakan tepat, pada waktu tepat dalam
rangka upaya mencapai tujuan-tujuan.
Dari beberapa pengertian koordinasi di atas dapat disimpulkan bahwa koordinasi adalah
kerjasama antar bagian atau sektor yang menciptakan keharmonisan kerja dalam melaksanakan
suatu kegiatan untuk mencapai tujuan bersama yang sesuai dengan peraturan yang telah
ditetapkan.

 Jenis-Jenis Koordinasi
Menurut Sugandha (1991), jenis-jenis koordinasi menurut lingkupnya terdiri dari
koordinasi intern yaitu koordinasi antar pejabat atau antar unit di dalam suatu organisasi dan
koordinasi ekstern yaitu koordinasi antar pejabat dari berbagai organisasi atau antar organisasi.
Umumnya organisasi memiliki tipe koordinasi yang dipilih dan disesuaikan dengan kebutuhan
atau kondisi-kondisi tertentu yang diperlukan untuk melaksanakan tugas agar pencapaian tujuan
tercapai dengan baik.
Adapun menurut Hasibuan (2011) jenis-jenis koordinasi dibagi menjadi dua bagian besar
yaitu koordinasi vertikal dan koordinasi horizontal. Makna dari kedua jenis koordinasi ini yaitu
sebagai berikut :
a. Koordinasi Vertikal
Koordinasi vertikal adalah kegiatan-kegiatan penyatuan, pengarahan yang
dilakukan oleh atasan terhadap kegiatan unit-unit, kesatuan-kesatuan kerja yang ada di
bawah wewenang dan tanggung jawabnya. Tegasnya, atasan mengkoordinasikan semua
aparat yang ada di bawah tanggung jawabnya secara langsung. Koordinasi vertikal ini
secara relatif mudah dilakukan, karena atasan dapat memberikan sanksi kepada aparat
yang sulit diatur.
b. Koordinasi Horizontal
Koordinasi horizontal adalah mengkoordinasikan tindakan-tindakan atau
kegiatan-kegiatan penyatuan, pengarahan yang dilakukan terhadap kegiatankegiatan
dalam tingkat organisasi (aparat) yang setingkat. Koordinasi horizontal ini dibagi atas
interdisciplinary dan interrelated.
Interdisciplinary adalah suatu koordinasi dalam rangka mengarahkan, menyatukan
tindakan-tindakan, mewujudkan, dan menciptakan disiplin antara unit yang satu dengan unit
yang lain secara intern maupun secara ekstern pada unit-unit yang sama tugasnya.
Interrelated adalah koordinasi antarbadan (instansi); unit-unit yang fungsinya berbeda,
tetapi instansi yang satu dengan yang lain saling bergantung atau mempunyai kaitan, baik secara
intern maupun secara ekstern yang levelnya setaraf. Koordinasi horizontal ini relatif sulit
dilakukan karena koordinator tidak dapat memberikan sanksi kepada pejabat yang sulit diatur
sebab kedudukannya yang setingkat.
Selanjutnya Sugandha (1991) dua jenis koordinasi yang lain yaitu koordinasi diagonal
dan koordinasi fungsional. Kordinasi diagonal yaitu koordinasi antara pejabat atau unit yang
berbeda fungsi dan tingkatan hierarkinya sedangkan koordinasi fungsional adalah koordinasi
antar pejabat, antar unit atau antar organisasi yang didasarkan atas kesamaan fungsi atau karena
koordinatornya mempunyai fungsi tertentu.
Berdasarkan uraian tersebut di atas tampak bahwa terdapat beberapa jenis koordinasi
dalam suatu organisasi yang ditinjau dari lingkupnya meliputi koordinasi intern dan ekstern.
Sedangkan koordinasi ditinjau dari arahnya meliputi koordinasi vertikal, koordinasi horizontal,
koordinasi diagonal dan koordinasi fungsional.

 Prinsip-Prinsip Koordinasi
Sugandha (1991) menyatakan ada beberapa prinsip yang perlu diterapkan dalam
menciptakan koordinasi antara lain adanya kesepakatan dan kesatuan pengertian mengenai
sasaran yang harus dicapai sebagai arah kegiatan bersama, adanya kesepakatan mengenai
kegiatan atau tindakan yang harus dilakukan oleh masing-masing pihak, termasuk target dan
jadwalnya, setelah itu adanya kataatan atau loyalitas dari setiap pihak terhadap bagian tugas
masing-masing serta jadwal yang telah diterapkan.
Kemudian adanya saling tukar informasi dari semua pihak yang bekerja sama mengenai
kegiatan dan hasilnya pada suatu saat tertentu, termasuk masalahmasalah yang dihadapi masing-
masing, didukung dengan adanya koordinator yang dapat memimpin dan menggerakkan serta
memonitor kerjasama tersebut, serta memimpin pemecahan masalah bersama, dan adanya
informasi dari berbagai pihak yang mengalir kepada koordinator sehingga koordinator dapat
memonitor seluruh pelaksanaan kerjasama dan mengerti masalah-masalah yang sedang dihadapi
oleh semua pihak, serta dilengkapi denagn adanya saling hormati terhadap wewenang fungsional
masing-masing pihak sehingga tercipta semangat untk saling bantu.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa prinsip-prinsip koordinasi adalah suatu usaha
dalam menyatukan informasi yang disertai dengan kepatuhan terhadap pemimpin dan peraturan.

 Mekanisme dan Proses Koordinasi


Mekanisme koordinasi yaitu adanya kesadaran dan kesediaan sukarela dari semua
anggota organisasi atau pemimpin-pemimpin organisasi untuk kerjasama antarinstansi, adanya
komunikasi yang efektif, tujuan kerjasamanya, dan peranan dari tiap pihak yang terlibat, harus
dapat menciptakan organisasinya sendiri sedemikian rupa sehingga menjadi suatu organisasi
yang mampu memipin organisasi-organisasi lainnya, meminta ketaatan, kesetiaan, dan displin
kerja tiap pihak yang terlibat, terciptanya koordinasi di dalam suatu organnisasi
akanmenunjukkan bahwa organisasi tersebut benar-benar bergerak sebagai suatu sistem, dan
pemimpin akan bertindak sebagai fasilitator dan tenaga pendorong (Sugandha, 1991).
Siagian (1991)berpendapat mengenai cara-cara yang dapat dilakukan dalam
mengkoordinasi, yaitu dengan melakukan briefing staf untuk memberitahukan kebijaksanaan
pimpinan organisasi kepada staf yang dalam waktu sesingkat mungkin harus diketahui dan
mendapat perumusan. Setelah itu diadakan rapat staf untuk mengadakan pengecekan terhadap
kegiatan yang telah dan sedang dilakukan oleh staf serta mengadakan integrasi daripada pkok-
pokok hasil pekerjaan staf. Lalu mengumpulkan laporan-laporan mengenai pelaksanaan
keputusan pimpinan organisasi. Selanjutnya mengadakan kunjungan serta inspeksi mengenai
pelaksanaan keputusan pimpinan organisasi serta memberikan petunjuk-petunjuk sesuai dengan
pedoman atau ketentuan yang telah ditetapkan oleh pimpinan organisasi.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa mekanisme dan proses koordinasi
bertujuan untuk menjaga keharmonisan komunikasi dan hubungan antara pimpinan dan
bawahannya pada kegiatan koordinasi.
 Hambatan Koordinasi
Dalam pelaksanaan koordinasi sering mengalami beberapa hambatan. Menurut
Handayaningrat (1986), hambatan-hambatan tersebut adalah :
a. Hambatan-hambatan dalam koordinasi vertikal (struktural)
Dalam koordinasi vertikal (struktural) sering terjadi hambatan-hambatan, disebabkan
perumusan tugas, wewenang dan tanggung jawab tiap-tiap satuan kerja (unit) yang
kurang jelas. Di samping itu adanya hubungan dan tata kerja yang kurang dipahami oleh
pihak-pihak yang bersangkutan dan kadang-kadang timbul keragu-raguan di antara yang
mengkoordinasi dan yang dikoordinasi ada hubungan dalam susunan organisasi yang
bersifat hierarki.
b. Hambatan-hambatan dalam koordinasi fungsional
Hambatan-hambatan yang timbul pada koordinasi fungsional, baik yang horizontal
maupun diagonal, disebabkan karena antara yang mengkoordinasikan keduanya tidak
terdapat hubungan hierarki (garis komando). Menurut Sugandha (1991) hambatan-
hambatan yang terjadi dalam koordinasi akan menimbulkan beberapa kesalahan yang
sering dilakukan seseorang dalam melakukan usaha pengkoordinasian, yaitu kesalahan
anggapan orang mengenai organisasinya sendiri, kesalahan anggapan orang mengenai
instansi induknya, kesalahan pandangan mengenai arti koordinasi sendiri, dan kesalahan
pandangan mengenai kedudukan departemennya di pusat.