Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa
karena dengan rahmat, karunia, penulis dapat menyelesaikan makalah tentang
“makalah brand equity ‘ Dunkin Donuts” tepat pada waktunya.
Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai hukum persaingan usaha. Penulis juga
menyadari bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu , penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan makalah penulis dimasa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu
yang sempurna tanpa adanya kritik dan saran yang membangun. Semoga makalah
sederhana ini apat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah
yang telah disusun ini dapat berguna bagi kelompok kami sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan, dan memohon kritik dan saran yang
membangun.

Denpasar, 21 Mei 2019

Penulis

1
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR...........................................................................................1
DAFTAR ISI ..........................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................3
A. Latar Belakang....................................................................................................3
B. Rumusan Makalah...............................................................................................4
C. Tujuan Masalah...................................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN .....................................................................................5
A.Sejarah Terbentuknya Dunkin Donuts ..............................................................5
B.Profil Dunkin Donuts ........................................................................................6
C.Kriteria Elemen Pilihan .....................................................................................7
D.Analisis Model BAV ........................................................................................8
E. Analisa Brand Menggunakan Prinsip Management.........................................10
BAB III PENUTUP............................................................................................13
A.Kesimpulan .....................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................14

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dunkin’ Donuts pertama kali didirikan oleh William Rosenberg tahun 1950.
Dia membuka sebuah gerai donut dengan nama Open Kettle di kota Boston,
Quincy – Massachusetts, Amerika Serikat. Tak disangka gerai donut miliknya
itu tumbuh dengan pesat. Hal ini terbukti dari makin bertambah banyaknya
jumlah pelanggan yang berkunjung ke gerai tersebut. Melihat perkembangan
usahanya yang terus berkembang, tahun 1950 Rosenberg pun memutuskan
mengubah nama Open Kettle menjadi nama lain. Setelah melalui proses yang
panjang, terpilihlah nama baru yaitu Dunkin’ Donuts. Bersamaan dengan
perubahan nama tersebut, dirintislah sistem franchise (waralaba) untuk
perusahaan ini.  Tahun demi tahun berlalu dengan kemajuan dan ketenaran
nama Dunkin’ Donuts yang makin tak terbendung. Bahkan pada tahun 1970
Dunkin’ Donuts telah menjadi merek internasional dengan reputasi yang luar
biasa dalam hal kualitas produk dan pelayanan. Reputasi dan ketenaran itulah
yang kemudian menarik minat Allied Domecq, sebuah perusahaan
internasional yang membawahi Togo’s dan Baskin Robins untuk membeli
Dunkin’ Donuts dari keluarga Rosenberg. Pembelian dan pengambilalihan
perusahaan dari keluarga Rosenberg akhirnya disepakati dan dilakukan dengan
penuh persahabatan pada tahun 1983.
Meski berganti kepemilikan, Allied Domecq tetap berusaha
mempertahankan sistem manajemen yang sudah berjalan di Dunkin’ Donuts.
Kalaupun ada yang harus dirubah, perubahan dilakukan dalam skala kecil.
Hanya satu yang menjadi ambisi seluruh manajemen Allied Domecq yaitu
membantu Dunkin’ Donuts memperluas pasar secara internasional. Untuk
mewujudkan ambisinya tersebut diberlakukanlah standarisasi di seluruh
counter Dunkin’ Donuts. Di samping itu, berbagai strategi marketing yang jitu
juga mulai dilancarkan, seperti selalu berusaha memperbaharui design sesuai

3
dengan trend, fokus terhadap kualitas produk serta berusaha memaksimalkan
kepuasan pelanggan.
Dengan didukung sumber daya manusia yang handal, dalam waktu singkat
ambisi Allied Domecq tercapai. Dunkin’ Donuts berhasil memperluas pasar
secara menakjubkan sehingga gerainya tidak hanya tersebar di benua Amerika,
tetapi juga di benua Eropa dan Asia termsuk ke Indonesia. Dunkin Donat
adalah salah satu perusahaan donat terbesar di dunia saat ini maka dari itu
sungguh sangat menarik untuk melakukan pembahasan menegenai penerapan
manajemen strategis dalam perusahaan tersebut.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah terbentuknya Dunkin Donuts?
2. Strategi pemasaran yang seperti apa yang dilakukan oleh Dunkin Donuts?
3. Apa saja prisip-prinsip yang ada dalam Organisasi Dunkin Donuts?
4. Perilaku organisasi yang seperti apa yang di terapkan di Dunkin Donuts?

C. Tujuan Makalah
Adapun tujuan makalah ini adalah untuk membentuk mahasiswa agar
menjadi wirausaha yang professional, sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen
pendidikan berdasarkan kompetensi pememimpinan, kompetensi kepribadian
maupun kompetensi professional selain itu juga, memberi pengetahuan kepada
pembaca khususnya para Mahasiswa tentang bagaimana menjadi
wirausahawan yang baik dan benar.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Terbentuknya Dunkin Donuts


Sejarah Dunkin’ Donuts dimulai pada tahun 1940, saat itu pengusaha yang
bernama Bill Rosenberg mendirikan gerai donatnya yang bernama Open Kettle
di kota Boston, Quincy Massachusetts, Amerika Serikat. Tanpa disangka gerai
donat miliknya tumbuh dengan pesat. Hal ini terbukti dari makin bertambah
jumlah pelanggannya.
Melihat perkembangan usahanya yang positif, tahun 1950 Rosenberg pun
memutuskan mengubah nama Open Kettle menjadi nama lain yang lebih
menjual. Setelah melalui proses yang panjang, terpilihlah nama baru yang lebih
menjanjikan yaitu Dunkin' Donuts. Selaras dengan perubahan nama tersebut,
dirintislah sistem waralaba (franchise). Tahun demi tahun berlalu. Kemajuan
dan ketenaran nama Dunkin' Donuts makin tak terbendung. Bahkan di tahun
1970, Dunkin' Donuts telah menjadi merek internasional dengan reputasi yang
luar biasa dalam hal kualitas produk dan pelayanan. Reputasi dan ketenaran itu
jugalah yang kemudian menarik minat Allied Domecq sebuah perusahaan
internasional yang membawahi Togo's dan Baskin Robins untuk membeli
Dunkin' Donuts dari keluarga Rosenberg. Pembelian dan pengambilalihan
Dunkin’ Donuts dilakukan pada tahun 1983. Meski berganti kepemilikan,
Allied Domecq tetap berusaha mempertahankan sistem manajemen yang sudah
berjalan di Dunkin’ Donuts. Kalaupun harus ada yang dirubah, perubahan
dilakukan dalam skala kecil. Hanya satu yang menjadi tujuan seluruh
manajemen Allied Domecq yaitu membantu Dunkin’ Donuts memperluas pasar
secara internasional. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, diberlakukanlah
standarisasi diseluruh counter Dunkin’ Donuts. Di samping itu, berbagai
strategi marketing yang jitu juga mulai dilancarkan, seperti selalu memperbarui
design sesuai dengan trend, fokus terhadap kualitas produk serta berusaha
memaksimalkan kepuasan pelanggan. Didukung sumber daya manusia yang
handal, dalam waktu singkat ambisi Allied Domecq tercapai.

5
Dunkin' Donuts berhasil memperluas pasar secara menakjubkan sehingga
gerainya tidak hanya tersebar di benua Amerika, tetapi juga di benua Eropa dan
Asia termasuk Indonesia pada tahun 1985. Gerai pertama Dunkin’ Donuts di
Indonesia dibuka di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta dengan sistem waralaba
(franchise). Untuk wilayah Indonesia master franchise di pegang oleh PT
Dunkindo Lestari. Sejak diberi kepercayaan memegang master waralaba
(franchise) tersebut, PT Dunkindo Lestari bercita-cita dan bertekad untuk terus
membesarkan serta memperkuat awareness dan positioning Dunkin’ Donuts di
Indonesia. Tidak hanya di ibu kota Indonesia, Jakarta, tetapi juga di berbagai
kota besar lainnya. Itu sebabnya, kegiatan memperluas pasar dengan jalan
membuka puluhan gerai permanen terus dilakukan secara berkala. Kini PT
Dunkindo Lestari telah berhasil membuka gerai Dunkin’ Donuts di Indonesia
lebih dari 200 gerai yang tersebar di berbagai kota besar seperti Jakarta,
Tangerang, Bogor, Bekasi, Depok, Surabaya, Bandung, Bali, Medan,
Yogyakarta, Makassar, dan lain sebagainya.

B. Profil Dunkin Donuts


CEO Dunkin Donuts, William Rosenberg, menganggap bahwa puncak
kesuksesan di Dunkin Donuts tetapi karyawan. Dengan menambah pengalaman
kerja karyawan dan memberikan kesempatan promosi bagi mitra kerja adalah
cara untuk meningkatkan keberlanjutan (Sustainibility) perusahaan. William
Rosenbreg bahwa semangat Dunkin Donuts adalah karyawan dan rasa
terhormat sebagai karyawan Dunkin Donuts adalah nilai (value) sebagai
seorang karyawan Dunkin Donuts. Karyawan perlu untuk memiliki
pengetahuan yang baik dan pelatihan untuk kinerja yang lebih baik dalam
sebuah perusahaan (Michelli, 2006). Dunkin Donuts membuat lingkungan kerja
yang aktif sehingga membuat karyawan menanamkan nilai-nilai Dunkin
Donuts dalam diri mereka, sehingga mereka dapat memotivasi para mitra untuk
kepuasan diri dan kemudian mencapai kinerja yang lebih baik.

6
C. KRITERIA ELEMEN PILIHAN STARBUCKS
1. Unik
Strategi pemasaran Dunkin Donuts bukan salah satu sering terlihat di
banyak bisnis saat ini. Akhir-akhir ini sangat jarang ditemukan iklan Dunkin
Donuts di papan reklame, ruang iklan, koran atau poster di tempat-tempat di
mana seseorang dapat melihat iklan untuk perusahaan lainnya. Saat ini,
Starbuck tidak hanya menggunakan strategi pemasaran yang tidak
konvensional untuk bersenang-senang. Nyatanya Mereka berpikir keras
tentang mempromosikan perusahaan mereka, dan telah memutuskan bahwa
Dunkin Donuts sangat dimungkinkan untuk menggunakan strategi yang
tidak konvensional yang mungkin unik dan  jarang dijalankan, tetapi
kebanyakan sangat cocok konsep bahwa perusahaan ingin menggambarkan.
Beberapa strategi pemasaran yang pernah dijalankan Dunkin Donuts.

2. Fokus Diferensiasi
Porter Diferensiasi Focus Strategi adalah strategi yang saat ini dijalankan
oleh Dunkin Donuts.Strategi ini menyediakan produk atau layanan tertentu
pada pasar dan membedakan dari kompetisi di daerah tertentu. Dalam kasus
Dunkin Donuts, perusahaan adalah  biaya tinggi, penyedia seleksi khusus,
menawarkan jalur khusus disesuaikan untuk yang menyukai donat dengan
harga premium.
Dunkin Donuts menggunakan strategi diferensiasi fokus secara
menyeluruh, dan mitra perusahaan  pemasaran dan arah iklan untuk strategi
ini. Merangkul posisi pemimpin dan pemimpin segmen industri sebagai
kualitas produk, Dunkin Donuts tidak agresif pasar perusahaan melalui cara-
cara tradisional tetapi hampir seluruhnya berfokus pada tinggi tingkat
pemasaran dan  branding dari perkataan mulut dan kunci aliansi serta
kemitraan. Hampir pendekatan Dunkin Donuts rendah hati untuk
menghindari promosi perusahaan tetapi memungkinkan untuk dipromosikan
dengan mendukung pelanggan dan melalui pekerjaan baik itu telah menjadi
sukses strategi bagi perusahaan.

7
3. Inisiatif pemasaran Dunkin Donuts
Inisiatif pemasaran Dunkin Donuts Corporation tidak agresif memasarkan
perusahaan atau  produk mereka. Sebaliknya, mereka mengarahkan
penjualan mereka melalui perusahaan gambar dan reputasi. Namun, itu hasil
kerja keras perusahaan, perhatian terhadap detail dan  pengalaman
pelanggan, membuat keputusan etis dan pelatihan karyawan adalah
peringkat sebagai "Salah satu merek global yang paling berharga". Sebagian
besar ini telah dicapai melalui pemasaran kata dari mulut dan melalui
kemitraan. Dengan keberhasilan Dunkin Donuts.
  Dunkin Donuts untuk menarik konsumennya mengadakan berbagai
inovasi atas produk yang beredar dipasar. Upaya ini dilakukan melalui
promosi yaitu dengan melakukan suatu periklanan melalui berbagai media,
publikasi, pameran dan brosur untuk mengenalkan produk yang dikeluarkan
oleh perusahaan. Periklanan tersebut dilakukan untuk menarik konsumen
agar konsumen berminat dan tertarik atas produk yang ditawarkan oleh
perusahaan. Sehingga jika hal itu terjadi, diharapkan konsumen memutuskan
untuk melakukan pembelian atas produk yang di iklankan tersebut.
D. ANALISA MENGGUNAKAN MODEL BAV
1. Model Ekuitas Merek
Penilai aset merek (BAV)
Penilai aset merek (Brand Asset Valuator-BAV) memberikan ukuran
komparatif ekuitas merek dari banyak merek di kategori berbeda. Ada lima
komponen atau pilar, menurut BAV:
a. Diferensiasi, mengukur tingkat sejauh di mana merek dianggap berbeda
dari merek lain.
b. Energi, mengukur arti momentum merek.
c. Relevansi, mengukur cakupan daya tarik merek.
d. Harga diri, mengukur seberapa baik merek dihargai dan dihormati.
e. Pengetahuan, mengukur kadar keakraban dan keintiman konsumen
dengan merek.

8
Diferensiasi, energi dan relevansi digabungkan untuk menentukan
kekuatan merek yang menggerakkan, yang menunjukkan nilai masa depan
merek. Harga diri dan pengetahuan menciptakan reputasi merek. Gabungan
kekuatan merek yang menggerakkan dan reputasi merek membentuk power
gird, yang menggambarkan tahap-tahap dalam siklus pengembangan merek.
· 2. Model Aaker
David Aaker memandang ekuitas merk sebagai kesadaran merek, loyalitas
merek, dan asosiasi merek yang bersama-sama menambah atau mengurangi
nilai yang diberikan sebuah produk atau jasa. Manajemen merek dimulai
dengan mengembangkan identitas merek, yang mewakili konsep seperti
lingkup produk, atribut produk, kualitas/nilai, kegunaan, pengguna, negara
asal, atribut organisasional, kepribadian merek, dan simbol.
3. Model Resonasi Merek
Pembangunan merek sebagai sederet langkah yang menampak naik, dari
bawah ke atas:
a. Memastikan teridentifikasinya merek oleh pelanggan dan memastikan
asosiasi merek dalam pikiran pelanggan dengan satu kelas produk atau
kebutuhan pelanggan tertentu.
b. Memastikan tertanamnya arti merek secara total dalam pikiran pelanggan
dengan mengaitkan sejumlah asosiasi merek yang nyata secara strategis.
c. Mendapatkan respons pelanggan yang tepat dalam hubungannya dengan
penilaian dan perasaan terkait dengan merek.
d. Mengubah respons merek untuk menciptakan hubungan loyalitas yang
intens dan aktif antara pelanggan dari merek.
Dengan menerapkan keempat langkah ini berarti membangun sebuah
piramid yang terdiri dari enam ”kotak pembangunan merek” dengan
pelanggan, seperti:
a. Keutamaan merek adalah seberapa sering dan seberapa mudah pelnggan
memikirkan merek dalam berbagai situasi pembelian atau konsumsi.
b. Kinerja merek adalah seberapa baik produk atau jasa memenuhi kebutuhan
fungsional pelanggan.

9
c. Pencitraan merek, menggambarkan sifat ekstrinsik produk atau jasa,
termasuk cara di mana merek berusaha memenuhi kebutuhan psikologis
atau sosial pelanggan.
d. Penilaian merek, berfokus pada pendapat dan evaluasi pribadi pelanggan
sendiri.

E. ANALISA BRAND MENGGUNAKAN PRINSIP MANAGEMENT


1. The Principles of Dunkin Donuts
a. Prinsip Pertama : Lakukan dengan Cara Anda (Make it Your Own)
Dunkin Donuts memberikan kebebasan kepada karyawannya (partnernya)
untuk melakukan apa saja untuk memastikan konsumen mendapatkan
pelayanan atau pengalaman yang baik.
b. Prinsip Kedua : Semuanya Penting (Everything Matters)
Karyawan Dunkin Donuts dilatih untuk selalu memperhatikan detail-detail
yang terkecil yang sangat penting bagi konsumennya. Aktivitas ini dibedakan
menjadi 2 aktivitas yaitu “above deck” (yang terlihat) maupun “below deck”
(yang tidak terlihat).
c. Prinsip Ketiga : Terbuka Terhadap Kritik (Embrace Resistance)
Karyawan Dunkin Donuts harus selalu menerima masukan, baik yang positif
maupun yang negatif dan menggunakan masukan negatif tersebut sebagai
pelajaran untuk melakukan pengembangan.
2. Teori Motivasi Hezberg
Dalam memahami sikap dan motivasi karyawan, Frederick Herzberg
melakukan penelitian untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi
kepuasan dan ketidakpuasan karyawan terhadap lingkungan kerja mereka.
Penelitian tersebut dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap
karyawan yang puas dan tidak puas terhadap pekerjaan mereka. Herzberg
menemukan bahwa faktor yang memberikan kepuasan kerja berbeda dengan
faktor yang tidak memberikan kepuasan kerja. Herzberg
menyebutnya motivators dan hygiene factors. 

10
Berikut  adalah faktor – faktor yang menyebabkan ketidakpuasan dan kepuasan
pekerjaan, serta diurutkan berdasarkan yang paling penting. Faktor intrinsik
tersebut sejalan dengan lima prinsip yang terdapat dalam buku Starbucks
experience yaitu :
1. Achievement Factor (faktor prestasi)
Dunkin Donuts dalam menjalankan bisnisnya berorintasi pada kepuasan
karyawan, sehingga dalam menjalankan bisnis karyawannya menjalankan
bisnis sesuai dengan cara mereka sendiri, dengan harapan konsumen puas dan
akan kembali. Karyawan juga mendapatkan keuntungan dengan mendapatkan
diskon pada saat membeli Dunkin Donuts. Pelayanan yang baik secara tidak
langsung perusahaan akan mendapatkan konsumen loyal yang akan
menghasilkan pendapatan bagi perusahaan.
2. Recognition (Pengakuan)
Karyawan diberikan kebebasan dalam memberikan saran dan kritik terhadap
perusahaan dan perusahaan menghargai kritikan dan saran lalu menyikapinya
untuk kemajuan perusahaan. Dunkin Donuts menghargai karyawan sebagai
mitra dan diberikan kebebasan dalam menyampaikan saran dan kritiknya.
3. Work Itself (Bekerja Sendiri)
Karyawan Dunkin Donuts dalam menjalankan rutinitas kerjanya
memunculkan kebersamaan sebagai tim. Manajer adalah pimpinan tetapi
karyawan bisa melakukan pengambilan keputusan sejauh itu menguntungkan
pelanggan dan berdampak pada kepuasan pelanggan.
4. Responsibility (Tanggung jawab)
Dunkin Donuts memberikan kebebasan kepada karyawan namun harus
disertai tanggung jawab atas apa yang telah dilakukan. Karyawan
mengemban tanggung jawab untuk harus menjaga kualitas dari pelayanannya
kepada konsumen. Manajer memberikan kesempatan kepada barista untuk
memberikan masukan dan jam kerja yang fleksibel namun menuntut
tanggung jawab agar memberikan yang terbaik untuk kepuasan konsumen
(Quality Service).

11
5. Advancement (Kemajuan)
Dunkin Donuts dalam pengembangan karyawan dengan memberikan
kemungkinan berkembang kepada karyawan hingga menjadi mitra suatu saat
nanti sehingga pengalaman bekerja di Dunkin Donuts adalah menyenangkan.
6. Growth (Pertumbuhan)
Karyawan termotivasi dengan Dunkin Donuts memberikan kompensasi
berupa pembagian keuntungan kepada karyawan. Motivasi karyawan tercipta
dengan mereka bekerja dengan lingkungan yang menciptakan kenyamanan
dan disertai dengan penambahan bonus berupa pendapatan atas hasil bagi
saham.

12
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Dunkin’ Donuts dimulai pada tahun 1940, saat itu pengusaha yang
bernama Bill Rosenberg mendirikan gerai donatnya yang bernama Open
Kettle di kota Boston, Quincy Massachusetts, Amerika Serikat. Tanpa
disangka gerai donat miliknya tumbuh dengan pesat. Hal ini terbukti dari
makin bertambah jumlah pelanggannya.
Melihat perkembangan usahanya yang positif, tahun 1950 Rosenberg pun
memutuskan mengubah nama Open Kettle menjadi nama lain yang lebih
menjual. Setelah melalui proses yang panjang, terpilihlah nama baru yang
lebih menjanjikan yaitu Dunkin' Donuts.
Dunkin Donuts memberikan 3 prinsip yang ditanamkan kepada karyawan
yaitu : Lakukan dengan Cara Anda (Make it Your Own), Semuanya Penting
(Everything Matters), dan, Terbuka Terhadap Kritik (Embrace Resistance).
Prinsip ini mendukung motivasi karyawan Dunkin Donuts untuk memberikan
pelayanan terbaik bagi konsumennya.
Teori motivasi Hezberg digunakan sebagai pendekatan bagaimana
Starbuck memotivasi karyawannya. Dalam teori motivasi Hezberg dijabarkan
faktor-faktor yang mempengaruhi faktor-faktor yang mempengaruhi
Satisfaction yaitu: Achievment (faktor prestasi), Recognition (pengakuan),
Work itself (bekerja sendiri), Responsibility (tanggung jawab), Advancement
(Kemajuan), dan Growth (pertumbuhan).

13
DAFTAR PUSTAKA

Eprints.uny.ac.id/8011/2/BAB%201-06408141028.pdf
https://Proposal_Komplit_Manajemen_Pemasaran.pdf
http://www.academia.edu
http://www.netmba.com/mgmt/06/motivation/herzberg/

14