Anda di halaman 1dari 5

Nama : Adinda Sabelia

NIM : 20191211045

Mata kuliah : Manajemen Perkreditan

Tugas Pertemuan 7 16 Oktober 2020

1. Dalam memberikan kredit , Bank Umum wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisis
yang mendalam atas iktikad dan kemampuan serta kesanggupan Nasabah Debitur untuk
melunasi utangnya sesuai dengan yang Diperjanjikan. Jelaskan dengan lengkap
bagaimanakah cara yang dilakukan oleh bank dalam menilai hal-hal tersebut ?
Jawab :

1) Character : Prinsip ini dilihat dari segi kepribadian atau watak nasabah.
Tujuannya :
- Untuk menilai calon nasabah apakah bisa dipercaya dalam menjalani kerjasama dengan
bank.
- Untuk mengetahui sejauh mana kemauan nasabah untuk memenuhi kewajibannya
(willing to pay) sesuai perjanjian yang ditetapkan.
Cara penilaian :
- Melalui hasil wawancara antara Customer Service kepada nasabah yang hendak
mengajukan kredit, mengenai latar belakang, kebiasaan hidup, pola hidup nasabah.
- Daftar Riwayat Hidup.
- Bank to bank information.
- Informasi informasi dari organisasi atau asosiasi usaha calon debitur.
- Reputasi calon debitur dari lingkungan usaha.

2) Capacity : Prinsip ini adalah yang menilai nasabah dari kemampuan nasabah dalam
menjalankan usahanya untuk memperoleh laba yang diharapkan. Apakah nasabah
tersebut pernah mengalami sebuah permasalahan keuangan sebelumnya atau tidak.
Tujuannya :
- Untuk mengetahui kemampuan mengembalikan atau melunasi kreditnya secara tepat
waktu dari usaha yang dilakukannya.
Cara penilaian :
- Pendekatan historis, yaitu penilaian dengan menunjukkan perkembangan usaha
yang dimilikinya minimal umur usaha lebih dari 2 tahun.
- Pendekatan profesi, yaitu penilaian latar belakang pendidikan para pengurus
perusahaan. Hal ini dilakukan untuk perusahaan yang menghendaki keahlian
teknologi tinggi dan profesionalisme tinggi.
- Pendekatan yuridis, yaitu apakah calon nasabah mampu dan memiliki kapasitas
untuk mewakili badan usaha yang diwakilinya untuk mengadakan perjanjian
pembiayaan dengan bank.
- Pendekatan manajerial, yaitu menilai kemampuan dan ketrampilan nasabah
dalam melaksanakan tugas dan kewajiban nya memimpin perusahaan.
- Pendekatan teknis, yaitu penilaian kemampuan nasabah dalam hal mengelola
faktor-faktor produksi sehingga mampu menguasai pangsa pasar yang
ditargetkan oleh perusahaan.
3) Capital : Prinsip yang terkait akan kemampuan dana atau aset dan kekayaan yang
dimiliki, calon nasabah dalam bentuk self financing.
Tujuannya :
- Untuk mengetahui kesungguhan dan tanggung jawab calon debitur dalam menjalankan
usaha.
Cara penilaian :
- Self financing (kredit yang diajukan)
Bentuk self financing berupa kas,tanah,dan bangunan (likuid)
- Dinilai dari laporan tahunan perusahaan yang dikelola oleh nasabah, sehingga dari
penilaian tersebut, pihak bank dapat menentukan layak atau tidaknya nasabah tersebut
mendapat pinjaman, lalu seberapa besar bantuan kredit yang akan diberikan.

4) Collateral : Penyerahan barang-barang sebagai jaminan atas kredit yang


diterimanya.
Tujuan :
- Untuk mengetaui sejauh mana resiko kewajiban finansial atau keuangan calon debitur
kepada bank.
Cara penilaian :
- Sudut ekonomis
- Sudut Yuridis : Kewenangan dalam kegiatan usaha yang dijalani
- Bentuk jaminan non kebendaan : Jaminan pribadi dan garansi

5) Condition
Prinsip ini dipengaruhi oleh faktor di luar dari pihak bank maupun nasabah yang
bersangkutan. Kondisi perekonomian suatu daerah atau negara memang sangat
berpengaruh kepada kedua belah pihak, di mana usaha yang dijalankan oleh nasabah sangat
tergantung pada kondisi perekonomian baik mikro maupun makro, sedangkan pihak bank
menghadapi permasalahan yang sama. Untuk memperlancar kerjasama dari kedua belah
pihak, maka penting adanya untuk memperlancar komunikasi antara nasabah dengan bank.
Tujuan :
- Memperoleh gambaran akan jalannya kegiatan usaha yang dijalankan terutama setelah
kredit diterima.

Cara penilaian :

- Kebijakan dan peraturan pemerintah


Kebijakan moneter, kebijakan fiscal dan lain-lain.
- Situasi politik,ekonomi,social, dan budaya.
- Keadaan lain yang memperngaruhi jalannya pemasaran.
- Perkiraan permintaan konsumen (daya beli masyarakat), luas pasar, persaingan usaha,
dan tersedianya barang subsidi. 19
- Proses produksi perusahaan yang berkaitan dengan perkembangan teknologi dan
ketersediaan bahan baku. Keadaan pasar modal dan pasar uang, kredit penjual, kredit
pembeli, dan perusahaan suku bunga.

2. Jelaskan dengan lengkap apa saja yang diatur dalam Pedoman Kebijaksanaan Perkreditan
Bank ?
Jawab :
Bank harus memiliki serta menerapkan pedoman perkreditan atau pembiayaan sesuai
dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan, dengan pokok-pokok
pengaturan perkreditan atau pembiayaan yang memuat antara lain:
1. pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah dibuat dalam bentuk
perjanjian tertulis;

2. bank harus memiliki keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan Nasabah Debitur
yang antara lain diperoleh dari penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan,
modal, agunan, dan prospek usaha dari Nasabah Debitur;

3. kewajiban bank untuk menyusun dan menerapkan prosedur pemberian kredit atau
pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah;

4. kewajiban bank untuk memberikan informasi yang jelas mengenai prosedur dan
persyaratan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah;

5. larangan bank untuk memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah
dengan persyaratan yang berbeda kepada Nasabah Debitur dan atau pihak-pihak
terafiliasi;

6. penyelesaian sengketa

Pedoman Kebijakan Perkreditan Bank (KPB) sekurang-kurangnya mengatur hal-hal pokok


sebagai berikut: prinsip kehati-hatian dalam perkreditan, organisasi dan manajemen
perkreditan, kebijaksanaan persetujuan kredit, dokumentasi dan administrasi kredit,
pengawasan kredit, dan penyelesaian kredit bermasalah. Disamping itu, KPB harus juga
menyebutkan mengenai kredit yang perlu dihindari, antara lain:

1) Kredit untuk tujuan spekulasi.


2) Kredit yang diberikan tanpa informasi keuangan yang cukup, dengan catatan
bahwa informasi untuk kredit-kredit kecil dapat disesuaikan seperlunya oleh
bank.
3) Kredit yang memerlukan keahlian khusus yang tidak dimiliki oleh bank.
4) Kredit kepada debitur bermasalah dan atau macet pada bank lain.

A. Mengenai kebijaksanaan persetujuan kredit,


- KPB menyebutkan bahwa analisa kredit harus berdasarkan pada total relationship
concept. Ini artinya setiap analisa dan pemberian persetujuan suatu kredit harus
dilihat secara keseluruhan pemberian kredit, yang telah atau akan diberikan kepada
pemohon kredit.
- Analisa kredit harus menggambarkan semua informasi yang berkaitan dengan usaha
dan data pemohon termasuk hasil penelitian pada daftar kredit macet. Tambahan
pula, analisa kredit harus meneliti kelayakan jumlah permohonan kredit yang
dikaitkan dengan proyek atau kegiatan usaha yang akan dibiayai, sehingga dapat
menghindari adanya praktek mark up yang merugikan bank.
- Penilaian kredit harus mencakup penilaian 5 C’s, dan penilaian terhadap - sumber
pelunasan kredit yang dititikberatkan pada hasil usaha yang dilakukan pemohon,
serta menyajikan evaluasi aspek yuridis perkreditan dengan tujuan untuk melindungi
bank atas resiko yang mungkin timbul.

B. Mengenai tanggung jawab dari pemutus kredit, KPB menyebutkan antara lain sebagai
berikut: memastikan setiap pemberian kredit telah sesuai dengan asas-asas perkreditan
yang sehat, telah sesuai dengan KPB dan Pedoman Pelaksanaan Kredit (PPK), didasarkan
pada penilaian yang jujur, objektif, cermat dan seksama serta terlepas dari pengaruh pihak-
pihak yang berkepentingan dengan pemohon kredit; dan telah meyakini bahwa kredit yang
diberikan akan dapat dilunasi kembali pada waktunya dan tidak akan berkembang menjadi
kredit bermasalah.

3. Jelaskan sedikitnya 3 (tiga) batasan dan larangan dalam pemberian kredit yang berlaku bagi
perbankan di Indonesia. Mengapa diperlukan batasan & larangan tersebut?
Jawab :
 Bank tidak diperkenankan memberikan kredit untuk pembelian saham dan/atau
memiliki saham yang tidak dimaksudkan sebagai penyertaan dan modal kerja dalam
rangka kegiatan jual beli saham
 Bank tidak diperkenankan untuk memberikan kredit kepada perorangan atau
perusahaan yang tidak berdomisili di Indonesia
 Bank dilarang menerima pelunasan kredit dari Surat Berharga Komersial
 Bank dilarang memberikan kredit lebih dari Rp50 juta kepada satu debitur tanpa
mencatumkan NPWP
 Bank dilarang memberikan kredit tanpa jaminan
 Bank dibatasi dalam memberikan kredit untuk pembelian atau pengadaan tanah
kepada developer atau pengembang.
 Bank dibatasi dalam memberikan kredit kepada perusahaan sekuritas
 Bank tidak diperbolehkan melanggar Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK)
 Bank harus mematuhi PPKB
 Bank tidak diperkenankan memberikan untuk Setoran Margin Deposit Transaksi
Derivatif
Batasan larangan di atas bertujuan untuk menjaga kepentingan dan nilai kepercayaan
nasabah serta menicptakan alur kesehatan dan daya tahan bank yang baik.

4. Jelaskan perbedaan penting (sekurang-kurangnya 4 perbedaan) antara Perkreditan (Bank


Konvensional) dengan Pembiayaan (Bank Syariah).
Jawab :

1. Bunga :
 Pinjaman konvensional, pinjaman atau kredit diberikan atas akad pinjaman dan
dengan begitu debitur atau peminjam diwajibkan untuk mengembalikannya
bersama dengan bunga.
- Besaran bunga sudah ditentukan oleh pihak bank sesuai dengan besaran pinjaman.
Kemudian untuk nasabah yang menyimpan uangnya pada bank konvensional,
presentase bunganya tidak akan bertambah walaupun bank mendapatkan laba yang
besar. Begitu juga saat bank merugi, maka presentase bunganya tidak akan
berkurang, atau tetap. .
 Prinsip syariah : bunga sama sekali tidak diperbolehkan karena dianggap sebagai
riba. Oleh sebab itu, di dalam pinjaman dana tunai syariah tidak mengenal prinsip
akad bunga, namun memakai akad murabahah atau jual beli, ijarah wa iqtina atau
sewa dengan perubahan kepemilikan serta musyarakah mutanaqishah atau capital
sharing
 Di dalam akad murabahah, pihak bank bertindak sebagai pembeli benda yang
diinginkan oleh debitur atau nasabah. Kemudian, bank akan menjual benda tersebut
kepada pihak nasabah dengan margin harga tertentu.

2. Berbagi Resiko
 pembiayaan konvensional, pihak nasabah sepenuhnya menanggung resiko apabila
tidak dapat mengembalikan pinjaman. Di dalam prinsip syariah, pihak bank sebagai
kreditur juga ikut menanggung sebagian resiko tersebut.
 Ada yang dinamakan penalti atau biaya tambahan jika debitur tidak bisa membayar
cicilan tepat waktu. Hal ini karena presentase bunga yang diberikan pada investor
dan penyimpan dana di bank tidak berubah. Baik di saat kredit macet maupun tidak
Contoh: seorang nasabah meminjam Rp 100 juta dengan kredit konvensional
untuk modal usaha. Di sini, nasabah sebagai kreditur diwajibkan untuk
membayar kembali pokok pinjaman dengan bunga yang ditentukan meskipun
usaha tersebut hanya menghasilkan Rp 75 juta.

 Pinjaman dana tunai syariah, jika nasabah meminjam Rp 100 juta untuk modal
usaha, maka bank akan turut menanggung sebagian kerugian apabila ternyata usaha
tersebut hanya menghasilkan Rp 75 juta.
 Jika bank mendapat laba yang besar, maka jumlah bagi hasil yang diterima investor
dan nasabah juga ikut bertambah. Sebaliknya, jika laba atau keuntungan bank
berkurang, maka bagi hasil yang diterima investor dan nasabah pun ikut berkurang.

3. Halal
Di dalam pembiayaan syariah, dana haruslah disalurkan untuk kepentingan yang halal. Oleh
sebab itu, nasabah wajib menyertakan tujuan penggunaan dana dan pemakaiannya pun juga
tidak boleh melenceng dari hal tersebut.

4. Ketersediaan Pinjaman
Dalam hal dokumen, baik pinjaman dana tunai syariah maupun kredit konvensional tidaklah
jauh berbeda. Satu hal yang menjadi perbedaan adalah bahwa pinjaman syariah
menawarkan produk yang dapat digunakan untuk kepentingan tertentu yang tidak terdapat
di dalam pinjaman konvensional, misalnya untuk pendidikan, pembiayaan haji dan umroh
dan lain sebagainya.