Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DIABETES


MELLITUS TIPE 2

OLEH

NI PUTU AMY JUNIASARI


209012493

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA BALI
DENPASAR
2020
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DIABETES MELLITUS TIPE 2
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi
Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau
kedua-duanya (Setiati S, 2014). Diabetes milletus tipe 2 adalah penyakit gangguan
metabolik yang di tandai oleh kenaikan gula darah akibat penurunan sekresi insulin oleh
sel beta pankreas dan atau ganguan fungsi insulin (resistensi insulin) (Fatimah, 2015).
2. Klasifikasi
Klasifikasi DM secara etiologi menurut Perkeni, (2019) antara lain :
Klasifikasi DM Etiologi
Diabetes melitus tipe 1 Diabetes melitus tipe 1 terjadi karena destruktif sel beta yang
(Diabetes mengakibatkan defisiensi insulin absolut yang disebabkan autoimun dan
Insulin Dependent) idiopatik (Perkeni, 2019).
Diabetes melitus tipe 2 Diabetes melitus tipe 2 terjasi karena bermacam- macam penyebab, dari
(Diabetes mulai dominasi resitensi yang disertai defiensi insulin relatif sampai yang
Non Insulin Dependent) dominan defek sekresi insulin yang disertai resistensi insulin (Perkeni,
2019).
Diabetes melitus gestasional Diabetes yang didiagnosis pada trimester kedua atau ketiga kehamilan
dimana sebelum kehamilan tidak didapatkan diabetes. Faktor-faktor
penyebab terjadinya DM gestasional diantaranya adalah adanya riwayat
DM dari keluarga, obesitas atau kenaikan berat badan pada saat
kehamilan, faktor usia ibu pada saat hamil, riwayat
melahirkan bayi besar (>4000 gram) dan riwayat penyakit lain (hipertensi,
abortus).
Diabetes melitus tipe spesifik Diabetes melitus tipe lain, banyak faktor yang mungkin dapat
yang bekaitan dengan menimbulkan DM diantaranya:
penyebab lain Sindroma diabetes monogenik (diabetes neonatal, maturity-onset
diabetes ofthe young (MODY)).
Penyakit eksokrin pankreas (fibrosis kistik, pankreatitis).
Disebabkan oleh obat atau zat kimia (misalnya penggunaan
glukokortikoid pada terapi HIV/AIDS atau setelah transplantasi organ
(Perkeni, 2019).

3. Epidemiologi
Diabetes Melitus yang paling banyak di temukan dan prevalensi terus meningkat
adalah diabetes melitus tipe 2 yang lebih dari 90% kasus diabetes melitus di dunia (WHO,
2017). Data statistik yang dirilis oleh IDF (2011) menunjukkan bahwa pada tahun 2010
India merupakan negara dengan prevalensi diabetes tertinggi di dunia dengan jumlah
penderita mencapai 50,8 juta jiwa diikuti dengan China sebanyak 43,2 juta jiwa, Amerika
Serikat 26,8 juta jiwa. Indonesia berada di urutan ke-7 di antara sepuluh negara di dunia
dengan penderita DM terbesar dibawah Cina, India, Amerika Serikat, Brazil, Rusia dan
Mexico. Indonesia di perkirakan akan mengalami kenaikan jumblah penyandang diabetes
melitus dari 9,1 menjadi 14,1 juta pada tahun 2035 (IDF, 2015).
4. Pathogenesis Diabetes Mellitus tipe 2
Diabetes milletus tipe 2 merupakan gangguan yang disebabkan kombinasi gangguan
sekresi insulin dan resistensi insulin. Kerusakan sentral DM tipe 2 akibat kegagalan sel
beta pankreas dalam produksi insulin. Insulin tidak bisa membawa glukosa masuk ke
dalam jaringan, pada keadaan ini insulin tetap dapat diproduksi oleh sel beta pankreas
namun reseptor insulin tidak mampu berikatan dengan insulin sehingga terjadi gangguan
transportasi masuknya glukosa ke dalam sel untuk digunakan oleh sel. Oleh karena
terjadinya resistensi insulin (reseptor insulin sudah tidak aktif karena dianggap kadarnya
masih tinggi dalam darah) akan mengakibatkan defisiensi relatif insulin. Defisiesi insulin
menyebabkan penyerapan glukosa kedalam sel terhambat dan metabolisme menjadi
terganggu. Keadaan ini menyebabkan sebagian besar glukosa tetap berada dalam sirkulasi
darah sehingga terjadi hiperglikemia (kadar glukosa dalam darah meningkat melebihi
batas normal). Kondisi hiperglikemia diduga memperburuk resistensi insulin maupun
kelainan sekresi insulin, sehingga mengakibatkan perubahan dari kondisi gangguan
toleransi glukosa menjadi diabetes milletus (Trinovita, 2020).
(Pathway terlampir)
5. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis DM tipe 2 yaitu:
a. Poliuria (sering kencing)
Kadar gula darah yang meningkat atau lebih dari 180 mg/dl akan mengakibatkan
peningkatan osmolalitas cairan ekstra selular. Peningkatan osmolalitas yang melebihi
ambang batas ginjal akan menyebabkan glukosa dikeluarkan melalui urin. Glukosa
yang ada akan menarik air dan elektrolit lain sehingga pasien mengeluh sering kencing
atau poliuria.
b. Polidipsia (banyak minum)
Keluhan ini merupakan reaksi tubuh akan adanya poliuria yang menyebabkan
kekurangan cadangan air tubuh. Banyaknya urine yang keluar menyebabkan badan
akan kekurangan air atau dehidrasi. Untuk mengatasi hal tersebut, timbullah rasa
haus sehingga orang ingin selalu minum.
c. Polifagia (banyak makan).
Polifagia disebabkan glukosa di dalam darah tidak dapat digunakan pada jaringan-
jaringan perifer sehingga tubuh akan kekurangan glukosa yang menyebabkan pasien
banyak makan.
d. Keletihan (rasa cepat lelah) dan kelemahan yang disebabkan penggunaan glukosa
oleh sel menurun.
e. Gangguan penglihatan seperti pemandangan kabur yang disebabkan karena
pembengkakan akibat glukosa
f. Sensasi kesemutan atau kebas di tangan dan kaki disebabkan kerusakan jaringan saraf
g. Kulit kering, lesi kulit atau luka yang lambat sembuhnya, dan rasa gatal pada kulit.
(Delliana, Aditiawati dan Azhar, 2018).
6. Pemeriksaan Penunjang
Pedoman dalam mendiagnosa penyakit Diabetes Melitus menurut Perkeni, 2019:
1) Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥126 mg/dl. Puasa adalah kondisi tidak ada
asupan kalori minimal 8 jam.
2) Pemeriksaan glukosa plasma ≥200 mg/dl 2-jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral
(TTGO) dengan beban glukosa 75 gram.
3) Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dl dengan keluhan klasik.
4) Pemeriksaan HbA1c ≥6,5% dengan menggunakan metode yang terstandarisasi
oleh National Glycohaemoglobin Standarization Program (NGSP). Tes hemoglobin
terglikasi (HbA1c) adalah pengukuran persentase gula darah yang terikat dengan
hemoglobin. Hemoglobin adalah protein yang ada dalam sel darah merah.
Semakin tinggi hemoglogin A1c, semakin tinggi pula tingkat gula darah.
7. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Tipe 2
Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Tipe 2 menurut PERKENI, 2019 yaitu:
1) Edukasi, Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu dilakukan
sebagai bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang sangat
penting dari pengelolaan DM secara holistik.
Elemen edukasi perawatan kaki (Terlampir)
2) Terapi Nutrisi Metabolik (TNM), merupakan bagian penting dari penatalaksanaan
DM secara komprehensif.
a. Komposisi makanan yang dianjurkan (terlampir)
b. Kebutuhan Kalori, terdapat beberapa cara untuk menentukan jumlah
kalori yang dibutuhkan penyandang DM, antara lain dengan
memperhitungkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25 – 30
kal/kgBB ideal. Jumlah kebutuhan tersebut ditambah atau dikurangi
bergantung pada beberapa faktor yaitu: jenis kelamin, umur, aktivitas,
berat badan, dan lain-lain. Berdasarkan berat badan Penyandang DM
yang gemuk, kebutuhan kalori dikurangi sekitar 20 – 30% tergantung
kepada tingkat kegemukan. Penyandang DM kurus, kebutuhan kalori
ditambah sekitar 20 – 30% sesuai dengan kebutuhan untuk
meningkatkan BB. Jumlahkalori yangdiberikanpaling sedikit 1000 –
1200 kal perhari untuk wanita dan 1200 – 1600 kal perhari untuk pria.
3) Latihan Fisik, Latihan fisik merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe
2. Program latihan fisik secara teratur dilakukan 3-5 hari seminggu selama sekitar
30-45 menit, dengan total 150 menit per minggu, dengan jeda antar latihan tidak
lebih dari 2 hari berturut-turut. Pemeriksaan glukosa darah dianjurkan sebelum
latihan fisik. Pasien dengan kadar glukosa darah <100mg/dL harus mengkonsumsi
karbohidrat terlebih dahulu dan bila >250 mg/dL dianjurkan untuk menunda
latihan fisik.
4) Terapi farmakologi, Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan
(terlampir).
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Diabetes Mellitus Tipe 2
1. Pengkajian
a. DS: Poliuria (banyak kencing), Polidipsia (banyak minum), Polifagia (banyak
makan), penurunan berat badan, lemah, kesemutan, gatal, mata kabur.
b. DO: Pemeriksaan Fisik Sistem Integumen: hiperpigmentasi, adanya luka yang tak
kunjung sembuh. Evaluasi Laboratorium yaitu pemeriksaan kadar glukosa darah
puasa (normal 70-99 mg/dL) dan 2 jam setelah TTOG (70-139 mg/dL),
pemeriksaan kadar HbA1c (<5,7%).
2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan hiperglikemia
b. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan hiperglikemia, penurunan aliran
arteri dan/atau vena, peningkatan tekanan darah, kekurangan volume cairan,
penurunan konsentrasi hemoglobin, kurang aktivitas fisik
c. Gangguan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan perubahan sirkulasi,
neuropati perifer
d. Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan aktif, kegagalan mekanisme
regulasi, kekurangan intake cairan
e. Resiko infeksi berhubungan dengan penyakit kronis (mis. diabetes mellitus),
peningkatan paparan organisme patogen lingkungan, ketidakadekuatan
pertahanan tubuh primer (kerusakan integritas kulit, perubahan sekresi pH, status
cairan tubuh), efek prosedur invasif.
f. Resiko defisit nutrisi berhubungan dengan Berat badan menurun
3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan kreteria hasil Intervensi Rasional
1 Ketidakseim Setelah dilakukan tindakan Manajemen Hiperglikemia
bangan keperawatan selama …x... Observasi Observasi
kadar menit/jam diharapkan kadar 1. Monitor tanda dan gejala ‐ Tanda awal hiperglikemia pada diabetes
glukosa glukosa darah stabil dengan hiperglikemia (peningkatan pengeluaran urin, rasa haus,
darah criteria hasil: rasa lapar, kelelahan, sakit kepala)
1. Koordinasi meningkat Terapeutik Terapeutik
dengan skala 5 (1-5) 1. Berikan asupan cairan oral ‐ Mempertahankan cairan dalam tubuh
2. Mengantuk menurun Edukasi Edukasi
dengan skala 5 (1-5) 1. Anjurkan monitor kadar glukosa ‐ Membantu dalam melakukan tindakan secara
3. Pusing menurun dengan darah secara mandiri mandiri serta deteksi dini hiperglikemia
skala 5 (1-5) 2. Anjurkan kepatuhan terhadap ‐ Diet dan olahraga bermanfaat dalam
4. Lelah/lesu menurun diet dan olahraga mengontrol gula darah dan tekanan darah
dengan skala 5 (1-5)
Kolaborasi
5. Kadar glukosa dalam Kolaborasi
‐ Pemberian insulin berfungsi dalam
darah membaik dengan 1. Kolaborasi pemberian insulin, mempertahankan jumlah glukosa dalam
skala 5 (1-5) jika perlu darah tetap normal
2 Perfusi Setelah dilakukan tindakan Perawatan sirkulasi
perifer keperawatan selama …x... Observasi
tidak efektif menit/jam diharapkan 1. Identifikasi faktor risiko Observasi
perfusi perifer kembali gangguan sirkulasi (mis. ‐ Meminimalisir tejadinya gangguan sirkulasi
adekuat dengan criteria diabetes, perokok, orang tua, yang dapat mengakibatkan masalah
hasil: hipertensi dan kadar kolesterol kesehatan
1. Denyut perifer tinggi
meningkat dengan skala Terapeutik Terapeutik
5 (1-5) 1. Hindari pengukuran tekanan ‐ Menjaga sirkulasi perifer tetap adekuat
2. Warna kulit pucat darah pada ekstremitas dengan
menurun dengan skala keterbatasan perfusi
5 (1-5) Edukasi Edukasi
1. Anjurkan berolahraga rutin ‐ Aktivitas fisik membantu memperlancar
3. Pengisian kapiler 2. Ajarkan program diet untuk sistem peredaran darah
membaik dengan skala memperbaiki sirkulasi (mis. ‐ Kolestrol tinggi dapat mempercepat
5 (1-5) rendah lemak jenuh, minyak terjadinya arterosklerosis
ikan omega 3)
3 Gangguan Setelah dilakukan tindakan Perawatan Luka
Integritas keperawatan selama … x Observasi Observasi
Kuit/Jaringa menit/jam diharapkan 1. Monitor karakteristik luka (mis: ‐ Mengidentifikasi kondisi luka dalam
n integritas kulit dan jaringan drainase, warna, ukuran, bau pemberian intervensi yang sesuai
meingkat dengan criteria 2. Monitor tanda-tanda infeksi ‐ Identifikasi dini tanda-tanda infeksi
hasil: Terapeutik Terapeutik
1. Kerusakan jaringan 1. Bersihkan dengan cairan NACL ‐ Membersihkan luka dengan maksimal
meningkat dengan skala atau pembersih non toksik
5 (1-5) 2. Pasang balutan sesuai jenis luka ‐ Balutan yang tidak sesuai dapat menghambat
2. Kerusakan lapisan kulit 3. Pertahankan teknik steril saat proses penyembuhan luka
membaik dengan skala 5 ‐ Kontaminasi bakteri yang terjadi pada luka
perawatan luka
(1-5) dapat menimbulkan infeksi
4. Jadwalkan perubahan posisi
‐ Membantu mencegah terjadinya dekubitus
setiap dua jam atau sesuai
dan menjaga sirkulasi jaringan perifer
kondisi pasien
Edukasi
Edukasi
1. Jelaskan tanda dan gejala
‐ Pengetahuan tentang dan gejala
infeksi tanda
2. Anjurkan mengonsumsi makan membantu deteksi dini terjadinya infeksi
Ajarkan prosedur perawatan ‐ Orientasi dalam perawatan lanjutan dirumah
luka secara mandiri
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian Kolaborasi
antibiotik, jika perlu ‐ Membanru mencegah terjadinya infeksi
4 Hipovolemia Setelah dilakukan tindakan Manajemen Hipovolemia
keperawatan selama … x Observasi Observasi
menit/jam diharapkan 1. Periksa tanda dan gejala ‐ Mengidentifikasi terjadinya kehilangan volume
status cairan membaik hipovolemia cairan dalam tubuh
dengan criteria hasil: Terapeutik Terapeutik
1. Turgor kulit meningkat 1. Hitung kebutuhan cairan ‐ Menganalisa keseimbangan cairan dan derajat
dengan skala 5 (1-5) kekurangan cairan
2. Output urine meningkat 2. Berikan asupan cairan oral ‐ Mempertahankan cairan dalam tubuh
dengan skala 5 (1-5) Edukasi Edukasi
3. Frekuensi nadi membaik 1. Anjurkan memperbanyak ‐ Asupan cairan yang cukup berperan dalam
dengan skala 5 (1-5) asupan cairan oral menyeimbangkan elektrolit tubuh serta
4. Membran mukosaKolaborasi mengganti energi yang hilang
membaik dengan skala 5 1. Kolaborasi pemberian cairan IV Kolaborasi
(1-5) isotonis (mis, NaCl, RL) ‐ Larutan isotonik memperluas ruang cairan
intraseluler dan cairan ekstraseluler secara
merata.
5 Resiko Setelah dilakukan tindakan Pencegahan Infeksi
Infeksi keperawatan selama … x Observasi Observasi
menit/jam diharapkan 1. Monitor tanda dan gejala ‐ Mengidentifikasi intervensi yang akan
tingkat infeksi menurun infeksi lokal dan sistemik dilakukan
dengan criteria hasil: Terapeutik Terapeutik
1. Demam menurun 1. Berikan perawatan kulit pada ‐ Jaringan edema lebih cenderung rusak dan
dengan skala 5 (1-5) area edema robek
2. Kemerahan menurun 2. Cuci tangan sebelum dan ‐ Mengurangi transmisi kuman sebelum dan
dengan skala 5 (1-5) sesudah kontak dengan pasien sesudah kontak dengan pasien
3. Nyeri menurun dengan dan lingkungan pasien ‐ Kontaminasi bakteri yang terjadi pada luka
skala 5 (1-5) 3. Pertahankan teknik aseptik dapat menimbulkan infeksi
4. Bengkak menurun pada pasien beresiko tinggi
dengan skala 5 (1-5) Edukasi Edukasi
1. Jelaskan tanda dan gejala ‐ Pengetahuan tentang tanda dan gejala
infeksi membantu deteksi dini terjadinya infeksi
Kolaborasi Kolaborasi
1. Kolaborasi pemebrian ‐ Imunitas yang baik dapat menurunkan resiko
imunisasi, jika perlu infeksi
6 Resiko Setelah dilakukan asuhan Observasi
Defisit keperawatan selama 3x24 1. Identifikasi status nutrisi ‐ Mengetahui status nutrisi pasien dapat
Nutrisi jam diharapkan defisit membantu dalam pengkajian
nutrisi teratasi dengan 2. Monitor asupan makanan ‐ Memantau asupan makanan pada pasien
kriteria hasil: 3. Monitor berat badan ‐ Mengetahui berat badan pasien
1. Berat badan Terapeutik
membaik dengan 4. Fasilitasi menentukan ‐ Membantu pasien untuk menentukan
skala 5 (1-5) pedoman diet program diet dengan gizi seimbang
2. Indeks massa tubuh Edukasi
(IMT) membaik 5. Anjurkan diet yang
dengan skala 5 (1-5) diprogramkan ‐ Membantu pasien memahami diet yang
3. Pengetahuan Kolaborasi akan diberikan
tentang standar 6. Kolaborasi dengan ahli gizi ‐ Menentukan diet dan jenis nutrien yang
asupan nutrisi yang untuk menentukan jumlah akan diberikan secara tepat kepada pasien
tepat membaik kalori dan jenis nutiren yang
dengan skala 5 (1-5) dibutuhkan
4. Implementasi Keperawatan
Implementasi dilaksanakan sesuai dengan apa yang direncanakan di intervensi
keperawatan.
5. Evaluasi keperawatan
Evaluasi merupakan tahap akhir dari suatu proses keperawatan, terdiri dari data SOAP
(Subjektif: data dari pasien/keluarga, Objektif: outcome yang diharapkan,
Assessment: kriteria hasil tercapai, sebagian, tidak tercapai, Planning: Rencana tindak
lanjut).
DAFTAR PUSTAKA
Delliana, H., Aditiawati, A. and Azhar, M. B. 2018. Karakteristik Demografi, Klinis Dan Laboratoris
Demografi, Pasien Diabetes Melitus Tipe 1 Pada Anak Di Rsup Dr. M. Hoesin Palembang
Tahun 2010-2017. Majalah Kedokteran Sriwijaya, 50(1). Available at:
https://ejournal.unsri.ac.id/index.php/mks/article/view/8541
Fatimah, Restyana Noor. 2015. Diabetes Melitus Tipe 2. J Majority vol 4 no 5.9 (93-101). Available
at: https://juke.kedokteran.unila.ac.id
IDF. 2015. idf Diabetes Atlas Seventh Edition 2015.From
http://www.diabetesatlas.org/resources/2015 -atlas.html.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan:
Dewan Pusat Pengurus Pusat PPNI
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan: Dewan
Pusat Pengurus Pusat PPNI
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2019 . Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan: Dewan
Pusat Pengurus Pusat PPNI
Trinovita, Elsa. 2020. Bahan Ajar Farmakoterapi Gangguan Patomekanisme dan Metabolik
Endokrin (Pendekatan Farmakologi Diabetes Mellitus). Jawa Timur: CV Penerbit Qiara
Medika.
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia.2019.Pedoman Pengelolaan Dan Pencegahan Diabetes
Melitus Tipe 2 Dewasa Di Indonesia. Jakarta: PB PERKENI
World Health Organization. (2016). Global Report on Diabetes. France: World Health
Organization.\ http://www.who.int/diabetes/global-report/en/.
Lampiran
Penatalaksanaan Diabetes Mellitus tipe 2
Komposisi makanan yang dianjurkan
Karbohidrat - Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45 – 65% total asupan energi.
Terutama karbohidrat yang berserat tinggi.
- Pembatasan karbohidrat total < 130 g/hari tidak dianjurkan
Lemak - Asupan lemak dianjurkan sekitar 20 – 25% kebutuhan kalori, dan tidak
diperkenankanmelebihi 30% total asupan energy
- Komposisi yang dianjurkan:
lemak jenuh (SAFA) < 7 % kebutuhan kalori.
lemak tidak jenuh ganda (PUFA) < 10 %.
selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal (MUFA) sebanyak 12-15%
Rekomendasi perbandingan lemak jenuh: lemak tak jenuh tunggal: lemak
tak jenuh ganda = 0.8 : 1.2: 1.
Protein - Pada pasien dengan nefropati diabetik perlu penurunan asupan protein
menjadi 0,8 g/kg BB perhari atau 10% dari kebutuhan energi, dengan
65% diantaranya bernilai biologik tinggi.
- Penyandang DM yang sudah menjalani hemodialisis asupan protein
menjadi 1 – 1,2 g/kg BBperhari.
Natrium - Anjuran asupan natrium untuk penyandang DM sama dengan orang
sehat yaitu < 1500 mg perhari

Serat - Penyandang DM dianjurkan mengonsumsi serat dari kacang-kacangan,


buah dan sayuran serta sumber karbohidrat yang tinggi serat.
- Jumlah konsumsi serat yang disarankan adalah 14 gram/1000 kal atau
20 – 35 gram per hari, karena efektif
Pemanis - Pemanis alternatif aman digunakan sepanjang tidak melebihi batas aman
(Accepted Daily Intake/ADI). Pemanis alternatif dikelompokkan menjadi
Alternatif
pemanis berkalori dan pemanis tak berkalori.
- Pemanis berkalori perlu diperhitungkan kandungan kalorinya sebagai
bagian dari kebutuhan kalori, seperti glukosa alkohol dan fruktosa.

Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan menurut PERKENI, 2019 yaitu:
1) Antihiperglikemia Oral yang tersedia di Indonesia
Golongan obat Cara Kerja Utama Efek Samping Utama Penurunan
HbA1c
Metformin Menurunkan produksi glukosa hati Dyspepsia, diare, asidosis 1,0-1,3%
dan meningkatkan sensitifitas laktat
terhadap insulin
Thiazolidinedione Meningkatkan sensitifitas terhadap Edema 0,5-1,4%
insulin
Sulfonilurea Meningkatkan sekresi insulin BB naik dan hipoglikemia 0,4-1,2%
hipoglikemia
Glinid Meningkatkan sekresi insulin BB naik dan hipoglikemia 0,5-1,0%
Penghambat Alfa-Glukosidase Menghambat absorpsi glukosa Flatulen dan tinja lembek 0,5-0,8%
Penghambat Dipeptidyl Meningkatkan sekresi insulin dan Sebah dan muntah 0,5-0,9%
Peptidase-4 (DPP-4) menghambat sekresi glukagon
Penghambat enzim Menghambat reabsorbsi glukosa di Infeksi saluran kemih dan 0,5-0,9%
Sodium Glucose co- tubulus distal genital
Transporter 2
(SGLT-2)

2) Obat Anti Hiperglikemia Suntik


Jenis Awitan Puncak Lama Kemasan
Insulin (onset) Efek Kerja
Insulin analog Kerja Cepat ( Rapid Acting)
- Insulin Lispro (Humalog®) 5-15 1-2 jam 4-6 jam Pen
- Insulin Aspart (Novorapid®) menit /cartridge
- Insulin Glulisin (Apidra®) Pen, vial
- Insulin Faster Aspart (Flasp®) < 5 menit Flexpen
Insulin manusia kerja pendek = Insulin Reguler (Short-Acting)
- Humulin® R 30-60 2-4 jam 6-8 jam Vial,
- Actrapid® menit pen/cartridg
e
Insulin manusia kerja menengah = NPH (Intermediate-Acting)
- Humulin N® 1,5–4 jam 4-10 jam 8-12 jam Vial, pen /
- Insulatard® cartridge
- Insuman Basal®
Insulin analog kerja panjang (Long-Acting)
- Insulin Glargine (Lantus®) 1–3 jam Hampir 12-24 jam Pen
- Insulin Detemir (Levemir®) tanpa
puncak
Lampiran
Pathway

Obesitas, usia, riwayat


penyakit

Resistensi insulin

Diabetas Mellitus
tipe 2

Defisiensi insulin

Glukosuria Batas melebihi ambang ginjal Hiperglikemia Anabolisme protein menurun

Kerusakan pada antibodi


Dieresis osmotik Vikositas darah meningkat Ketidakstabilan kadar glukosa darah
Kekebalan tubuh menurun
Poliuri Aliran darah lambat

Kehilangan elektrolit dalam Iskemik jaringan Neuropati sensori perifer


sel Resiko infeksi

Dehidrasi Perfusi perifer tidak efektif Nekrosis luka Klien tidak merasa sakit

Hipovolemia Kehilangan kalori Gangguan integritas


Gangrene
kulit/jaringan
Sel kekurangan bahan untuk Protein dan lemak dibakar
Merangsang hipotalamus metabolisme Berat badan menurun

Pusat lapar dan haus Resiko Defisit Nutrisi


Katabolisme lemak Pemecahan protein
Polidipsia
polipagia
Asam lemak
Keton Ureum

Ketoasidosis