Anda di halaman 1dari 14

GARAM MOHR

A. Tujuan

Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui teknik dan cara pembuatan garam

rangkap atau garam Mohr.

B. Landasan Teori

Garam Kristal stabil dari ion-ion NH4+ tetrahedral kebanyakan larut dalam air.

Garam ammonium umumnya mirip dengan garam-garam kalium dan rubidium dalam

hal kelarutan dan struktur karena ketiga ion tersebut jari-jarinya sebanding = 1,48 A.

garam dari asam kuatnya terionisasi seluruhnya dan kelarutannya sedikit (Cotton dan

Willkinson, 1989).

Garam-garam besi (III) (atau feri) diturunkan dari oksida besi (III), Fe2O3 mereka

lebih stabil dari pada garam besi (II). Dalam larutannya terdapat kation-kation Fe 3+ yang

berwarna kuning muda, jika larutan mengandung klorida, warna menjadi semakin kuat.

Zat-zat pereduksi mengubah ion besi (III) menjadi besi (II) (Vogel, 1985).

Menurut Werner, orang yang pertama kali berhasil mengkaji senyawa kompleks,

beberapa ion logam cenderung beikatan koordinasi dengan zat-zat tertentu membentuk

senyawa kompleks yang mantap. Zat-zat tersebut disebut ligan. Meskipun Warner belum

dapat memberikan penafsiran yang masuk akal tentang variasi koordinasi senyawa

kompleks, namun Lewis kemudian dapat menjelaskan bahwa valensi koordinasi itu
sebagai tingkat kecenderungan ion-ion logam mancapai susunan elektron gas mulia

berikutnya. Akibatnya, ion-ion logam itu cenderung menerima elektron (pasangan

elektron). Pemberi pasangan elektron itu adalah ligan. Karena itu, ligan adalah zat yang

memiliki satu atau lebih pasangan elektron bebas (Rivai, 1995).

Garam besi (II) yang terpenting adalah garam besi (II) sulfat. Garam ini dapat

diperoleh dengan cara melarutkan besi atau besi (II) sulfida dalam asam sulfat encer.

Setelah larut disaring dan diuapkan akan menghasilkan Kristal FeSO4.7H2O yang

berwarna hijau. Dalam skala besar, garam ini dibuat dengan cara mengoksidasi

perlahan-lahan FeS2 oleh udara yang mengandung air. Bentuk umum garam ini adalah

vitriol hijau FeSO4.7H2O yang mengkristal dalam bentuk monoklin. Garam ini isomorf

dengan garam Epson MgSO4.7H2O (Azis,2007).

Vitriol adalah nama yang diberikan kepada asam sulfat oleh para alkimiawan.

Nama ini dulu juga digunakan untuk beberapa garam-garam sulfat, seperti

tembaga(II)silfat (vitriol biru, atau vitriol romawi), seng sulfat (vitriol putih), besi(II)

sulfate (vitriol hijau), besi(III) sulfate (vitriol dari Mars), juga kobalt(II) sulfat (vitriol

merah). Untuk asam sulfat pekat, sering disebut dengan minyak vitriol karena

penampakannya yang serupa minyak/berminyak (http://id.wikipedia.org/wiki/Vitriol).

Senyawa Fe dalam bentuk Garam Mohr atau K4Fe(CN)6 berpotensi sebagai

reduktor dalam reaksi reduksi iodat dalam garam (http://www.gizi.net). Contoh garam

Mohr atau garam rangkap adalah Dolomite yang berasal calcium dan magnesium

carbonat, dipakai sebagai sumber MgO. Oksida ini memberikan sumbangan sifat yang

hampir bersamaan dengan yang diberikan oleh CaO, fungsinya yang terpenting ialah

untuk menghambat proses pengkristalan dan memungkinkan waktu pengerjaan dapat


diperpanjang. Tetapi MgO dapat menyukarkan peleburan (jika komposisi terlalu banyak

MgO) dan memberikan leburan gelas yang lebih kental, maka dari itu MgO yang dapat

ditambahkan dalam komposisi adalah sangat terbatas (http://members.bumn.go.id).

C. Alat dan Bahan

1. Alat

- Gelas kimia 100 mL 2 buah

- Filler

- Corong

- Batang pengaduk

- Pipet volume 25 mL dan 10 mL

- Hot Plate

- Neraca analitik

- Alominium foil

2. Bahan

- Serbuk besi

- Asam sulfat 10 %

- Asam sulfat pekat


- Amonia pekat

- Kertas saring

D. Prosedur Kerja

- Dilarutan dalam 75 mL H2SO4 10 %


- Dipanaskan
- Disaring dalam keadaan panas

Filtrat Residu

- Ditambahkan H2SO4 pekat 2,5 mL


-Dipanaskan

Larutan A 75 mL H2SO4 10 %
- Ditambahkan ammonia pekat 25 mL
- Dimasukkan dalam gelas kimia
- Diuapkan sampai jenuh

Larutan B

- Dicampur dalam keadaan panas


- Didinginkan sampai terbentuk kristal
- Disaring

E.
Tidak terbentuk kristal

F.

G.

H.

I.

J.

- Dilarutan dalam 75 mL H2SO4 10 %


K.
- Dipanaskan

L. - Disaring dalam keadaan panas

M.

N.
Filtrat Residu
O.
- Ditambahkan H2SO4 pekat 2,5 mL
P. -Dipanaskan

Q.
Larutan A 75 mL H2SO4 10 %

R.
- Ditambahkan ammonia pekat 25 mL

S. - Dimasukkan dalam gelas kimia


- Diuapkan sampai jenuh
T.

Larutan B
U.

V.

- Dicampur dalam keadaan panas


W.
- Didinginkan sampai terbentuk kristal
- Disaring
X.

Y.
Tidak terbentuk kristal

Z.

AA.
5 gram serbuk Fe

- Dilarutan dalam 75 mL H2SO4 10 %


- Dipanaskan
- Disaring dalam keadaan panas

Filtrat Residu

- Ditambahkan H2SO4 pekat 2,5 mL


-Dipanaskan

Larutan A 75 mL H2SO4 10 %

- Ditambahkan ammonia pekat 25 mL


- Dimasukkan dalam gelas kimia
- Diuapkan sampai jenuh

Larutan B

- Dicampur dalam keadaan panas


- Didinginkan sampai terbentuk kristal
- Disaring
Tidak terbentuk kristal

BB. Hasil Pengamatan

Dari hasil percobaan diperoleh data-data sebagai berikut :

- Berat serbuk besi =5g

- Garam mohr yang dihasilkan :

Berat = - gram

Warna =-

Bentuk Kristal =-

- Rendamen =-%

CC. Pembahasan
Senyawa kompleks adalah penggabungan antara dua atau lebih senyawa

sederhana yakni logam dan ligan. Pada proses pembentukan senyawa kompleks, maka

terjadi perpindahan satu atau lebih pasangan elektron dari ligan ke ion logam. Dimana

ligan bertindak sebagai pemberi elektron dan ion logam sebagai penerima elektron.

Garam banyak digunakan dalam bidang kimia analitik yaitu sebagai pereaksi

untuk membuat larutan kalium permanganat atau kalium dikromat dalam analisis

volumetri. Salah satu bentuk garam yang digunakan adalah garam Mohr. Garam Mohr

adalah garam yang dibuat dengan cara mencampurkan kedua garam, yakni garam besi

(II) sulfat dengan garam ammonium sulfat, dimana masing-masing garam dilarutkan

sampai jenuh dan pada besi (II) sulfat ditambahkan sedikit asam.

Salah satu senyawa Ferro yang penting adalah garam besi (II) sulfat (Ferro

sulfat). Garam ini dikenal dengan warna hijau vitriol dan mempunyai rumus molekul

terhidrat FeSO4.7H2O. Garam besi (II) sulfat dapat diperoleh dengan cara melarutkan

serbuk besi atau senyawa besi (II) sulfat dalam bentuk encer. Setelah larutan disaring

dan diuapkan, maka akan terbentuk kristal yang berwarna hijau dari besi (II) sulfat. Lalu

garam besi (II) sulfat bergabung dengan garam-garam sulfat dari garam alkali

membentuk suatu garam rangkap. Jika garam rangkapnya adalah NH4, maka mol besi

(II) sulfat dan ammonium sulfat dibuat dalam jumlah yang sama (tertentu) dan hasilnya

dikenal dengan garam Mohr. Garam Mohr dibuat dengan mencampurkan kedua garam

sulfat dari besi (II) dan ammonium, dimana masing-masing garam dilarutkan sampai

jenuh pada besi (II) dan ditambahkan sedikit asam. Pada saat pendinginan hasil

campuran pada kedua garam tersebut akan diperoleh kristal yang berwarna hijau kebiru-
biruan dengan bentuk monoklin. Garam Mohr tidak lain adalah garam rangkap besi (II)

ammonium sulfat dengan rumus molekul (NH4)2SO4FeSO4.

Dasar pembuatan garam rangkap adalah kristalisasi, dimana kristal garamnya

diperoleh melalui pemanasan. Langkah awal pembuatan garam Mohr adalah melarutkan

serbuk besi dalam H2SO4 10% yang dibantu dengan dipanaskan agar kelarutan besi

dalam H2SO4 lebih optimal. Pemanasan ini dilakukan secara perlahan untuk menjaga agar

besi (II) tidak teroksidasi menjadi besi (III). Setelah tahap pemanasan, dilakukan proses

penyaringan untuk memisahkan serbuk besi yang tidak larut. Filtrat yang diperoleh

kembali ditambahkan H2SO4 tetapi dengan konsentrasi yang lebih pekat lalu dipanaskan

secara perlahan untuk menjaga kestabilan Fe, larutan yang terbentuk hasil pemanasan ini

disebut larutan A.

Pada wadah yang berbeda, dibuat larutan B yang merupakan pencampuran

H2SO4 10% dan ammonia pekat. Amoniak dalam H2SO4 10% memiliki kelarutan yang

cukup tinggi karena adanya kehadiran ion senama, amoniak bertindak sebagai garam

dalam larutan sehingga kelarutan cenderung meningkat. Campuran keduanya diuapkan

sampai jenuh. Dalam keadaan panas, larutan A dan B dicampurkan untuk mencegah

masuknya zat-zat lain dalam atmosfer, mengingat kedua pereaksi dalam bentuk padatan

bersifat hidroskopis (mudah bereaksi dengan uap air). Campuran larutan A dan B lalu

didinginkan sampai terbentuk kristal berwarna hijau kebiru-biruan berbentuk monoklin.

Tetapi pada percobaan yang dilakukan, tidak terbentuk kristal yang dimaksud. Hal ini

dipengaruhi oleh tingkat ketelitian yang belum optimal dalam hal proses pengerjaan,
pengukuran volume zat yang digunakan, atau kerusakan bahan-bahan yang digunakan

pada percobaan ini.

DD. Kesimpulan

Garam Mohr dapat dibuat dengan mencampurkan keduagaram sulfat dari besi

(II) dan amonimum yang dilarutkan sampai jenuh kemudian besi (II) ditambahkan

sedikit asam. Pada saat didinginkan maka hasil campuran tersebut akan membentuk

Kristal yang berwarna hijau sedikit kebiru-biruan yang berbentuk monoklin.

DAFTAR PUSTAKA

Azis, Thamrin, 2007, Penuntun Praktikum Kimia Anorganik, F-MIPA Universitas


Haluoleo, Kendari.
Cotton, F., A., dan Willkinson, G., 1989. Kimia Anorganik Dasar. Universitas
Indonesia, Jakarta.

http://id.wikipedia.org/wiki/Vitriol (diakses 15 September 2008).

http://members.bumn.go.id (diakses 15 September 2008).

http://www.gizi.net (diakses 15 September 2008).

Rivai, Harrizul, 1995, Asas Pemeriksaan Kimia, UI-Press, Jakarta.

Vogel, 1985, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro, Kalman
Media Pustaka, Jakarta.
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

PERCOBAAN I

“KALIUM NITRAT”

OLEH:

NAMA : SUSANTI
NIM : F1C1 09 008
KELOMPOK : II (DUA)
ASISTEN : ZUL ARHAM
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2010