Anda di halaman 1dari 14

1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi sistem pernapasan

Sistem pernapasan termasuk hidung , rongga hidung dan sinus , faring ,

laring (kotak suara),trakea (tenggorokan ) , dan saluran-saluran yang lebih kecil

yang mengarah ke pertukaran gas di permukaan paru-paru . Saluran pernapasan

terdiri dari saluran udara yang membawa udara dari dan ke permukaan tersebut .

Saluran pernapasan dapat dibagi menjadi bagian konduksi dan bagian pernapasan

. Bagian konduksi terdapat dari jalan masuk udara dihidung ke rongga hidung ke

bronkiolus terkecil dari paru-paru . Bagian pernapasan termasuk saluran

bronkiolus pernapasan dan kantung udara halus , atau alveoli ( al - VE ) , di mana

terjadi pertukaran gas . Sistem pernapasan termasuk saluran pernapasan dan

jaringan terkait , organ , dan struktur pendukung . Saluran-saluran kecil ini

menyesuaikan kondisi udara dengan menyaring , pemanasan , dan melembabkan

itu , sehingga melindungi bagian konduksi yang peka dan melindungi pertukaran

sistem pernapasan bawah dari partikel-partikel , patogen , dan lingkungan ekstrem

.( Martini et al 2012)
Nose

Nasal Cavity
Pharynx
Oral Cavity

Right Primary
Bronchus
Larynx

Lungs Trakhea

Gambar 2.1 Anatomi Sistem Pernapasan (Gerard & Bryan,2009)

Saluran pernafasan dari atas kebawah dapat dirinci sebagai berikut, rongga

hidung, faring, laring, trakea, percabangan bronkus, paru- paru

(bronkiolus,alveolus). Rongga hidung dilapisi selaput lender yang sangat kaya

akan pembuluh darah, dan bersambung dengan lapisan faring dan selaput lender.

Faring adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai

persambungannya dengan oesofagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. Faring

terbagi menjadi 3 bagian yaitu nasofaring, orofaring dan laringofaring kemudian

Laring, laring berperan untuk pembentukan suara dan untuk melindungi jalan

nafas terhadap masuknya makanan dan cairan. Trakea, merupakan lanjutan dari

laring yang dibentuk oleh 16 sampai 20 cincin kartilago yang terdiri dari tulang-

tulang rawan yang terbentuk seperti C.

Bronkus merupakan percabangan trachea. Setiap bronkus primer

bercabang 9 sampai 12 kali untuk membentuk bronki sekunder dan tersier dengan

diameter yang semakin kecil. Struktur mendasar dari paru-paru adalah

percabangan bronchial yang selanjutnya secara berurutan adalah

bronki,bronkiolus,bronkiolus terminalis, bronkiolus respiratorik, duktus alveolar,


dan alveoli. Dibagian bronkus masih disebut pernafasan extrapulmonar dan

sampai memasuki paru-paru disebut intrapulmonary. Terakhir adalah Paru-paru

yang berada dalam rongga torak,yang terkandung dalam susunan tulang-tulang iga

dan letaknya disisi kiri dan kanan mediastinum yaitu struktur blok padat yang

berada dibelakang tulang dada. Paru-paru berbentuk seperti spins dan berisi udara

dengan pembagian udara Antara Paru kanan, yang memiliki tiga lobus Dan paru

kiri dua lobus (Setiadi, 2007)

2.2 Fisiologi Sistem Pernapasan

Respirasi adalah suatu peristiwa ketika tubuh kekurangan oksigen (o2) dan

o2 yang berada di luar tubuh dihirup (inspirasi) melalui organ pernapasan. Pada
keadaan tertentu tubuh kelebihan karbon diksida (CO2), maka tubuh berusaha

untuk mengeluarkan kelebihan tersebut dengan menghembuskan napas (ekspirasi)

sehingga terjadi suatu keseimbangan antara O2 dan CO2 di dalam tubuh.

Sistem respirasi berperan untuk menukar udara ke permukaan dalam paru.

Udara masuk dan menetap dalam sistem pernapasan dan masuk dalam pernapasan

oto. Trakea dapat melakukan penyaringan, penghangatan, dan melembapakan

udara yang masuk, melindungi permukaan organ yang lembut. Hantaran tekanan

menghasilkan udara ke paru melalui saluran pernapasan atas. Tekanan ini berguna

untuk menyaring,mengatur udara, dan mengubah permukaan saluran napas

bawah. (Syaifuddin,2012)

Proses pernapasan berlangsung melalui beberapa tahapan, yaitu :

1) Ventilasi paru, yang berarti pertukaran udara antara atmosfer dan alveolus

paru
2) Difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan darah

3) Pengangkutan oksigen dan karbondioksida dalam darah dan cairan tubuh ke

dan dari sel jaringan tubuh (Guyton, 2006).

Udara bergerak masuk dan keluar paru karena adanya selisih tekanan yang

terdapat antara atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik otot-otot. Diantaranya

itu perubahan tekanan intrapulmonar, tekanan intrapleural, dan perubahan volume

paru (Guyton, 2006). Keluar masuknya udara pernapasan terjadi melalui 2 proses

mekanik, yaitu :

1) Inspirasi : proses aktif dengan kontraksi otot-otot inspirasi untuk menaikkan

volume intratoraks, paru-paru ditarik dengan posisi yang lebih

mengembang, tekanan dalam saluran pernapasan menjadi negatif dan udara

mengalir ke dalam paru-paru.

2) Ekspirasi : proses pasif dimana elastisitas paru (elastic recoil) menarik dada

kembali ke posisi ekspirasi, tekanan recoil paru-paru dan dinding dada

seimbang, tekanan dalam saluran pernapasan menjadi sedikit positif

sehingga udara mengalir keluar dari paru-paru, dalam hal ini otot-otot

pernapasan berperan ( Sherwood,2012)

Fungsi dari sistem pernapasan adalah:

1) - Menyediakan area yang memadai untuk pertukaran gas antara udara dan

sirkulasi darah

2) - transport udara dari dan ke pertukaran permukaan di paru-paru;

3) - Melindungi permukaan pernafasan dari dehidrasi, perubahan suhu, dan

variasi lingkungan lainnya;


4) - Mempertahankan sistem pernapasan, dan jaringan lain dari invasi oleh

pathogen mikroorganisme;

5) - Memproduksi suara yang terlibat dalam berbicara, bernyanyi, atau

komunikasi nonverbal;

6) - Membantu dalam regulasi volume darah, tekanan darah, dan control pH

cairan tubuh (Martini et al 2012)

2.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kapasitas Fungsi Paru

Penurunan fungsi paru dapat terjadi secara bertahap dan bersifat kronis

sebagai frekuensi lama seseorang bekerja pada lingkungan yang berdebu dan

faktor-faktor internal yang terdapat pada diri pekerja yang antara lain adalah

1) Jenis kelamin. Kapasitas vital rata-rata pria dewasa muda lebih kurang 4,6

liter dan perempuan muda kurang lebih 3,1 liter. Volume paru pria dan

wanita berbeda dimana kapasitas paru total pria 6,0 liter dan wanita 4,2 liter.

2) Posisi tubuh. Nilai kapasitas fungsi paru lebih rendah pada posisi tidur

dibandingkan posisi berdiri. Pada posisi tegak, ventilasi persatuan volume

paru di bagian basis paru lebih besar dibandingkan dengan bagian apeks.

Hal ini terjadi karena pada awal inspirasi, tekanan intrapleura di bagian basis

paru kurang negatif dibandingkan bagian apeks, sehingga perbedaan tekanan

intrapulmonal-intrapleura di bagian basis lebih kecil dan jaringan paru

kurang teregang. Keadaan tersebut menyebabkan persentase volume paru

maksimal posisi berdiri lebih besar nilainya.


3) Kekuatan otot-otot pernapasan. Pengukuran kapasitas fungsi paru

bermanfaat dalam memberikan informasi mengenai kekuatan otot-otot

pernapasan. Apabila nilai kapasitas normal tetapi nilai FEV1 menurun, maka

dapat mengakibatkan rasa nyeri, contohnya pada penderita asma.

4) Ukuran dan bentuk anatomi tubuh. Obesitas meningkatkan resiko penurunan

kapasitas residu ekspirasi dan volume cadangan ekspirasi dengan semakin

beratnya tubuh. Pada pasien obesitas, volume cadangan ekspirasi lebih kecil

daripada kapasitas vital sehingga dapat mengakibatkan sumbatan saluran

napas.

5) Proses penuaan atau bertambahnya umur. Umur meningkatkan resiko

mortalitas dan morbiditas. Selain itu juga dapat terjadi penurunan volume

paru statis, arus puncak ekspirasi maksimal, daya regang paru, dan tekanan

O2 paru. Aktivitas refleks saluran napas berkurang pada orang yang lanjut

usia, akibatnya kemampuan daya pembersih saluran napas juga berkurang.

Insiden tertinggi gangguan pernapasan biasanya pada usia dewasa muda.

Pada wanita frekuensi mencapai maksimal pada usia 40-50 tahun,

sedangkan pada pria frekuensi terus meningkat sampai sekurang-kurangnya

mencapai usia 60 tahun.

6) Daya pengembangan paru (compliance). Peningkatan volume dalam paru

menghasilkan tekanan positif, sedangkan penurunan volume dalam paru

menimbulkan tekanan negatif. Perbandingan antara perubahan volume paru

dengan satuan perubahan tekanan saluran udara menggambarkan

compliance jaringan paru dan dinding dada. Compliance paru sedikit lebih
besar apabila diukur selama pengempisan paru dibandingkan diukur selama

pengembangan paru.

7) Masa kerja dan riwayat pekerjaan. Semakin lama tenaga kerja bekerja pada

lingkungan yang menyebabkan gangguan kesehatan, maka penurunan fungsi

paru pada orang tersebut akan bertambah dari waktu ke waktu.

8) Riwayat penyakit paru. Banyak para pekerja yang terkena gangguan

pernapasan bukan karena keturunan, melainkan akibat tertular oleh kuman

atau basilnya. Biasanya kuman tersebut berasal dari lingkungan rumah,

pasar, terminal, stasiun, lingkungan kerja, ataupun tempat-tempat umum

lainnya.

9) Olahraga rutin. Kebiasaan olah raga akan meningkatkan denyut jantung,

fungsi paru, dan metabolisme saat istirahat.

10) Kebiasaan merokok. Tembakau merupakan penyebab penyakit gangguan

fungsi paru-paru yang bersifat kronis dan obstruktif, yang pada akhirnya

dapat menurunkan daya tahan tubuh (Yulaekah, 2007).

2.4 Gangguan Fungsi Paru

Pada individu normal terjadi perubahan (nilai) fungsi paru secara fisiologis

sesuai dengan perkembangan umur dan pertumbuhan parunya (lung growth).

Mulai dari fase anak sampai kira- kira umur 22-24 tahun terjadi pertumbuhan paru

sehingga pada waktu itu nilai fungsi paru semakin besar bersamaan dengan

pertambahan umur. Beberapa waktu nilai fungsi paru menetap (stasioner)

kemudian menurun secara gradual, biasanya pada usia 30 tahun mulai mengalami

penurunan, selanjutnya nilai fungsi paru mengalami penurunan rata-rata sekitar 20

ml tiap pertambahan satu tahun usia seseorang ( Sherwood,2012).


Gangguan fungsi ventilasi paru menyebabkan jumlah udara yang masuk ke

dalam paru-paru akan berkurang dari normal. Gangguan fungsi ventilasi paru

yang utama adalah :

1) Restriksi, yaitu penyempitan saluran paru-paru yang diakibatkan oleh bahan

yang bersifat alergen seperti debu, spora jamur, dan sebagainya, yang

mengganggu saluran pernapasan.

2) Obstruksi, yaitu penurunan kapasitas fungsi paru yang diakibatkan oleh

penimbunan debu-debu sehingga menyebabkan penurunan kapasitas fungsi

paru.

3) Kombinasi obstruksi dan restriksi (mixed), yaitu terjadi juga karena proses

patologi yang mengurangi volume paru, kapasitas vital dan aliran udara,

yang juga melibatkan saluran napas. Rendahnya FEVl/FVC (%) merupakan

suatu indikasi obstruktif saluran napas dan kecilnya volume paru merupakan

suatu restriktif (Edward,2012).

2.5 Penurunan Fungsi paru oleh kualitas udara

2.5.1 Mekanisme terjadinya penurunan fungsi paru akibat terpapar debu

Untuk mendapatkan energy, manusia memerlukan oksigen yang

digunakan untuk pembakaran zat makanan dalam tubuh. Pemenuhan kebutuhan

oksigen tersebut diperoleh dari udara melalui proses respirasi. Paru merupakan

salah satu organ sistem respirasi yang berfungsi sebagai tempat penampungan

udara, sekaligus merupakan tempat berlansungnya peningkatan oksigen oleh

hemoglobin. Interaksi udara dengan paru berlansung setiap saat, oleh karena itu

kualitas yang terinhalasi sangat berpengaruh terhadap faal paru. Udara dalam

keadaan tercemar, partikel polutan mengendap di alveoli. Adanya pengendapan


partikel dalam alveoli, ada kemungkinan fungsi paru akan mengalami penurunan.

Terdapat debu di alveolus akan menyebabkan terjadinya statis partikel debu dan

dapat menyebabkan kerusakan dinding alveolus, selanjutnya merupakan salah

satu faktor predisposisi penurunan fungsi paru

2.5.2 Mekanisme Penimbunan debu dalam jaringan paru

Faktor yang dapat berpengaruh pada inhasi bahan pencemar ke dalam paru

adalah factor komponen fisik, factor komponen kimiawi dan factor penderita itu

sendiri. Aspek komponen fisik yang pertama adalah keadaan dari bahan yang

diinhalasi (gas,debu,uap). Ukuran dan bentuk akan berpengaruh dalam proses

penimbunan di par, demikian pula kelarutan dan nilai higroskopinya. Komponen

kimia yang berpengaruh antara lain kecenderungan untuk bereaksi dengan

jaringan disekitarnya, keasaman tingkat alkalinitas ( dapat merusak silia dan

sistem enzim). Bahan-bahan tersebut dapat menimbulkan fibrosis yang luas di

paru dan dapat bersifat antigen yang masuk ke paru. Faktor manusia sangat perlu

diperhatikan terutama yang berkaitan dengan sistem pertahanan paru,baik secara

anatomis maupun fisiologis, lamanya paparan dan kerentanan individu.

Mekanisme penimbunan debu dalam paru tergantung dari ukuran debu yang

masuk kedalam paru

2.5.4 Faktor yang mempengaruhi terjadinya pengendapan partikel debu di

paru

Tidak semua partikel yang terinhalasi akan mengalami pengendapan di

paru. Faktor pengendapan debu di paru dipengaruhi oleh pertahan tubuh dan

karakteristik itu sendiri. Karakteristik dimaksud meliputi jenis debu,ukuran


partikel debu,konsentrasi partikel dan lama paparan,pertahanan tubuh (Yulaekah,

2007)

2.6 Pemeriksaan Kapasitas Fungsi Paru

1. Pengertian Kapasitas Fungsi Paru

Dalam penguraian peristiwa-peristiwa dalam sirkulasi paru, kadang-

kadang di perlukan untuk menyatukan dua volume atau lebih. Kombinasi seperti

itu di sebut sebagai kapasitas paru.

Kapasitas paru dapat di bedakan sebagai berikut:

a. Kapasitas total yaitu jumlah udara yang dapat mengisi paru-paru pada

inspirasi sedalam-dalamnya. Dalam hal ini angka yang di dapat

tergantung dari beberapa hal yaitu kondisi paru, umur, sikap, dan

bentuk seseorang.

b. Kapasitas vital yaitu jumlah udara yang dapat di keluarkan setelah

ekspirasi maksimal (Syaifuddin,2012)

Kapasitas paru adalah suatu kombinasi peristiwa-peristiwa sirkulasi paru

atau menyatakan dua atau lebih volume paru yaitu volume alun nafas, volume

cadangan ekspirasi dan volume residu

Kapasitas paru dapat di bedakan empat yaitu:

a. Kapasitas inspirasi

Kapasitas inspirasi sama dengan tidal volume di tambah dengan

volume cadangan inspirasi yaitu jumlah udara (kurang lebih 3500 mll)
yang dapat di hirup oleh seseorang di mulai pada tiap ekspirasi normal

dan pengembangan paru sampai jumlah maksimal.

b. Kapasitas residu fungsional

Kapasitas residu fungsional yaitu jumlah udara yang tersisa dalam

paru pada akhir ekspirasi normal (kurang lebih 2300 mll)

c. Kapasitas vital

Kapasitas vital sama dengan volume cadangan inspirasi dan

volume cadangan ekspirasi, yaitu jumlah udar maksimum yang dapat di

keluarkan seseorang dari paru, setelah terlebih dahulu mengisi paru

secaramaksimum dan kemudian mengeluarkan sebanyak-banyaknya

(kurang lebih 4600 mll)

d. Kapasitas paru total

Kapasitas paru total merupakan volume makasimum

pengemgangan paru-paru dengan usaha inspirasi yang sebesar mungkin

dengan inspirasi paksa (kuranglebih 5800 ml)

Dari klasifikasi atau penggolongan kapasitas paru di atas, maka yang dapat

digunakan untuk pengukuran kapasitas vital paru merupakan pengukuran

kemampuan menghirup udara sekuat-kuatnya hingga menghembuskannya dengan

maksimal.

Semua volume dan kapasitas paru wanita kira-kira 20 sampai 25 persen di

bawah pria. Dimana kapasitas vital rata-rata pria dewasa kira-kira 4,8 liter dan

wanita dewasa 3,1 liter (Guyton, 2006).


2.7 Spirometer

Spirometri adalah tes fisiologis yang mengukur bagaimana seseorang

menghirup atau menghembuskan volume udara dalam suatu waktu. Hal utama

diukur dalam spirometri mungkin volume atau aliran. Spirometri sangat berharga

sebagai tes skrining kesehatan pernapasan umum dengan cara yang sama seperti

halnya pengukuran tekanan darah dengan memberikan informasi penting tentang

kesehatan jantung secara umum. Aspek yang paling penting dari spirometri adalah

kapasitas vital paksa (FVC), yang merupakan volume udara yang dihembuskan

selama ekspirasi secaran tegas dan selengkap mungkin mulai dari inspirasi penuh,

yang merupakan volume hembusan pada detik pertama manuver FVC. Variabel

spirometri lain yang berasal dari manuver FVC juga dibahas.

Spirometri dapat dilakukan dengan berbagai jenis peralatan, dan

membutuhkan kerjasama antara subjek dan pemeriksa, dan hasil yang diperoleh

akan tergantung pada teknis pemeriksaan serta faktor personal. (Miller et al,2012)

Pemeriksaan faal paru sangat dianjurkan bagi tenaga kerja, yaitu

menggunakan spirometer, karena pertimbangan biaya yang murah, ringan, praktis

dibawa kemana-mana, akurasinya tinggi, cukup sensitif, tidak invasif dan dapat

memberi sejumlah informasi yang handal. Dari berbagai pemeriksaan faal paru,

yang sering dilakukan adalah :

1) Kapasitas Vital (VC) adalah volume udara maksimal yang dapat

dihembuskan setelah inspirasi maksimal. Ada dua macam kapasitas vital

paru berdasarkan cara pengukurannya, yaitu vital capacity (VC) dengan

subjek tidak perlu melakukan aktivitas pernapasan dengan kekuatan penuh


dan forced vital capacity (FVC), subjek melakukan aktivitas pernapasan

dengan kekuatan maksimal. Pada orang normal tidak ada perbedaan antara

FVC dan VC, sedangkan pada kelainan obstruksi terdapat perbedaan antara

VC dan FVC. VC merupakan refleksi dari kemampuan elastisitas jaringan

paru atau kekakuan pergerakan dinding toraks. VC yang menurun

menunjukkan kekakuan jaringan paru atau dinding toraks, sehingga dapat

dikatakan pemenuhan (compliance) paru atau dinding toraks mempunyai

korelasi dengan penurunan VC. Pada kelainan obstruksi ringan, VC hanya

mengalami penurunan sedikit atau mungkin normal.

2) Forced Expiratory Volume in 1 Second (FEV1) merupakan besarnya volume

udara yang dikeluarkan dalam satu detik pertama. Lama ekspirasi pertama

pada orang normal berkisar antara 4-5 detik dan pada detik pertama orang

normal dapat mengeluarkan udara pernapasan sebesar 80% dari nilai VC.

Fase detik pertama ini dikatakan lebih penting dari fase-fase selanjutnya.

Adanya obstruksi pernapasan didasarkan atas besarnya volume pada detik

pertama tersebut. Interpretasi tidak didasarkan pada nilai absolutnya tetapi

pada perbandingan nilai FEV1 dengan FVC. Bila FEV1/FVC kurang dari 75

% berarti abnormal. Pada penyakit obstruktif seperti bronkitis kronik atau

emfisema terjadi pengurangan FEV1 yang lebih besar dibandingkan

kapasitas vital (kapasitas vital mungkin normal) sehingga rasio FEV1/FVC

kurang dari 75%. (Rob & Pierce, 2012)


Tabel 2.1 Klasifikasi Penilaian Fungsi Paru (Rob & Pierce, 2012)