Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

PENGELOLAAN PIUTANG

Oleh
I Made Agus Suadiatmika 1902612010360
Ida Bagus Galang Ngurah Landep 1902612010384
I Kadek Suardiyana 1902612010386
Jurizal Wibowo 1902612010391

UNIVERSITAS MAHASARASWATI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
DENPASAR
2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
kehendak dan karuniaNYA-lah kami dapat manyelesaikan makalah ini dengan
judul “Pengelolaan Piutang”. Dalam menyusun makalah ini, kami membuatnya
sesuai dengan semua yang telah kami dapat dari mencari dan membaca berbagai
buku dan web. Dalam menyusun tugas ini pastinya kami mengalami berbagai
kesulitan karena terbatasnya kemampuan dan pengetahuan yang kami miliki.
Namun semua kesulitan tersebut dapat kami atasi berkat adanya bantuan dari
berbagai pihak. Untuk itu kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam menyusun tugas
ini, yaitu dosen manajemen keuangan Dr. Gregorius Paulus Tahu, Amd, SE,
SKM.,MM dan keluarga serta teman-teman yang telah membantu kami dalam
mengerjakan makalah ini. Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan atau data yang
kurang tepat di dalam makalah yang kami buat. kami mohon kritik dan sarannya
agar kami dapat memperbaiki dan menyempurnakan makalah ini, sehingga
nantinya makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi orang lain.

Denpasar, 15 Oktober 2020


Penulis

Kelompok 2

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................... 2
1.3 Tujuan Pembahasan .................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 3
2.1 Pengertian Piutang .................................................................... 3
2.2 Jenis-jenis Piutang ..................................................................... 3
2.4 Pengelolaan Piutang .................................................................. 4
2.4 Perputaran Piutang..................................................................... 6
2.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Investasi Pada Piutang..... 7
2.6 Analisis Kebijakan Piutang ...................................................... 8
2.7 Analisis Calon Pembeli ............................................................. 15
BAB III KESIMPULAN .............................................................................. 19
3.1 Kseimpulan ............................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 20

iii
BAB I

PENDAHUUAN

1.1 Latar Bekalang

Piutang adalah tagihan kepada pihak lain dimasa yang akan datang karena

terjadinya transaksi dimasa lalu. Walaupun pada dasarnya semua perusahaan

dagang/industri menginginkan penjualan cash, tetapi karena adanya keterbatasan

daya beli masyarakat, atau alasan lainnya dilakukan penjualan secara kredit.

Penjualan secara kredit akan dapat meningkatkan omset penjualan, akan tetapi

memiliki resiko tertundanya penerimaan kas, sehingga membutuhkan investasi

yang lebih besar. Selain itu dapat juga mengakibatkan kerugian karena menunggak

atau bahkan tidak tertagih. Semakin lama piutang tertunggak akan semakin besar

investasi yang dibutuhkan.

Piutang, salah satu jenis transaksi akutansi yang mengurusi penagihan

konsumen yang berhutang pada seseorang, suatu perusahaan, atau suatu organisasi

untuk barang dan layanan yang telah diberikan pada konsumen tersebut. Pada

sebagian besar entitas bisnis, hal ini biasanya dilakukan dengan membuat tagihan

dan mengirimkan tagihan tersebut kepada konsumen yang akan dibayar dalam

suatu tenggat waktu yang disebut termin kredit atau pembayaran.

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan pengelolaan piutang ?

2. Faktor apa saja yang mempengaruhi investasi pada piutang ?

3. Bagaimanakah analisis kebijakan piutang ?

4. Bagaimanakah analisis calon pembeli ?

1.3 Tujuan Pembahasan

1. Untuk mengetahui bagaimana manajemen pengelolaan piutang.

2. Supaya kita mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi investasi pada

piutang.

3. Agar kita mengerti bagaimana cara analisis kebijakan piutang dan analisis

calon pembeli.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Piutang

Pada umumnya, perusahaan-perusahaan lebih menyukai penjualan secara

tunai, karena dengan demikian perusahaan akan dapat menghemat sejumlah biaya

dan dapat menghindarkan diri dari sejumlah risiko yang sangat mungkin timbul jika

penjualan dilakukan secara kredit. Namun, untuk meningkatkan penjualan, di

samping melakukan penjualan tunai, perusahaan juga melayani pembelian secara

kredit kepada pelanggan. Penjualan secara kredit ini kemudian akan menimbulkan

piutang dagang yang muncul sebagai salah satu akun dalam neraca perusahaan,

khususnya dalam kelompok aktiva lancar karena normalnya piutang dagang

berjangka waktu pendek.

2.2 Jenis-jenis Piutang

a. Piutang Usaha (account receivable)

Piutang usaha adalah suatu jumlah pembelian kredit dari pelanggan.

Piutang timbul sebagai akibat dari penjualan barang atau jasa. Piutang ini

biasanya diperkirakan akan tertagih dalam waktu 30 sampai 60 hari. Secara

umum, jenis piutang ini merupakan piutang terbesar yang dimiliki perusahaan.

b. Wesel Tagih (notes receivable)

Wesel Tagih adalah surat formal yang diterbitkan sebagai bentuk

pengukuran utang. Wesel tagih biasanya memiliki waktu tagih antara 60 – 90

hari atau lebih lama serta mewajibkan pihak yang berhutang untuk membayar

3
bunga. Wesel tagih dan piutang usaha yang disebabkan karena transaksi

penjualan biasa disebut dengan piutang dagang (trade account).

c. Piutang lain-lain (other receivable)

Piutang lain-lain adalah mencakup selain piutang dagang. Contoh:

piutang bunga, piutang gaji, uang muka karyawan, dan restitusi pajak. Secara

umum bukan berasal dari kegiatan operasional perusahaan. Oleh karena itu,

piutang jenis ini diklasifikasikan dan dilaporkan pada bagian yang secara

terpisah di neraca.

2.3 Pengelolaan Piutang

Piutang merupakan asset yang cukup material. Oleh karena itu diperlukan

manajemen pengelolaan piutang yang efektif dan efisien agar jumlah dana yang

diinvestasikan dalam piutang sesuai dengan tingkat kemampuan perusahaan

sehingga tidak mengganggu aliran kas.

Kebijakan pengelolaan piutang meliputi pengambilan keputusan-keputusan

sebagai berikut :

1. Standar kredit

Standar kredit adalah kualitas minimal kelayakan kredit seorang

pemohon kredit yang dapat diterima oleh perusahaan. Dengan adanya standar

tersebut, perusahaan dapat meningkatkan penjualannya melalui penjualan

secara kredit namun tidak menimbulkan resiko piutang tak tertagih yang

berlebihan. Perusahaan harus menentukan standar kredit yang tepat, yang lebih

besar manfaat yang akan diperoleh bagi perusahaan daripada biaya akan

dikeluarkan perusahaan dengan adanya standar tersebut.

4
2. Syarat kredit

Suatu syarat kredit menetapkan adanya periode di mana kredit diberikan

dan potongan tunai (bila ada) untuk pembayaran yang lebih awal. Faktor yang

mempengaruhi syarat kredit adalah:

a. Sifat ekonomik produk

b. Kondisi penjual

c. Kondisi pembeli

d. Periode kredit

e. Potongan tunai

f. Tingkat bunga bebas risiko (tingkat bunga bank).

3. Kebijakan kredit dan pengumpulan piutang

Kebijakan kredit dan pengumpulan piutang mencakup beberapa

keputusan yaitu:

a. Kualitas jumlah yang diterima

b. Periode kredit

c. Potongan tunai

d. Persyaratan khusus

e. Tingkat pengeluaran untuk pengumpulan piutang.

Banyaknya piutang yang tak tertagih akan membuat biaya penagihan

meningkat. Akan tetapi, usaha pengumpulan piutang juga tidak dianjurkan

terlalu agresif, karena dapat mengurangi penjualan dan keuntungan perusahaan

di masa mendatang karena pelanggan akan beralih ke perusahaan lain, dalam

hal ini pesaing.

5
2.4 Perputaran piutang

Perputaran piutang (receivable turnover) dipengaruhi oleh syarat

pembayaran dan kecenderungan debitur untuk menepati janji pembayarannya.

Apabila rata-rata hari pengumpulan piutang lebih lama dari batas pembayaran,

maka cara pengumpulan piutang kurang efisien. Penjualan secara kredit akan

berdampak positif (kenaikan omset penjualan) dan negatif, seperti kerugian karena

piutang tak tertagih dan atau biaya kesempatan (opportunity cost). Pertimbangan

untuk memperketat atau mempermudah pemberian kredit, dapat dilakukan dengan

memperhatikan cost dan benefit bila akan mengambil keputusan seperti contoh

berikut ini.

Selama ini perusahaan menjual secara tunai, omset penjualannya sebesar Rp

800 juta, keuntungan 15% dari penjualan. Jika perusahaan berencana untuk menjual

secara kredit dengan syarat pembayaran n/60. hal ini ditaksir akan meningkatkan

omset penjualan menjadi 1.050 juta pertahun. Dana yang dibutuhkan untuk

membiayai piutang tersebut ditaksir sebesar Rp 148,75 juta pertahun. Apakah

manejemen menerima alternatif penjualan kredit tersebut?

Manfaat : tambahan keuntungan = (1.050 jt – 800 jt) x 15% = Rp 37,5 jt

Pengorbanan :

perputaran piutang = 360/60 = 6 kali

rata-rata piutang = 1.050/6 = 175 jt

dana untuk membiayai piutang = 148,75jt

biaya dana yang ditanggung = 148,75 x 15% = 22,31 jt

manfaat bersih = Rp 15,19 jt

Benefit > cost, layak untuk diterapkan

6
Perusahaan menawarkan syarat penjualan 2/20;n/60. Ditaksir 50% pelanggan akan

membayar pada hari ke 20, dan sisanya pada hari ke 60. maka :

Rata-rata periode pembayaran piutang = 0,5(20) + 0,5(60) = 40 hari

Perputaran piutang = 360/40 = 9 kali

Rata-rata piutang = 1.050/9 = 116,67 juta

Rata-rata dana yang diperlukan untuk membiayai piutang

= 116,67 juta x 85% = 99,17 juta

Penurunan biaya dana = 116,67 jt – 99,17 jt = 17,5 juta

Manfaat : penurunan biaya dana = 17,50 jt

Pengorbanan: diskon = 2% x 50% x 1.050 jt = 10,50 jt

manfaat bersih 7,00 jt

Benefit > cost, layak untuk diterapkan.

Aging schedule (daftar analisis umur piutang) diperlukan untuk mengetahui sejarah

pelanggan, dan atas dasar hal tersebut, bagi yang menunggak perlu dilakukan

langkah sbb:

a. Mengirimkan surat teguran,

b. menelpon atau menghubungi secara langsung,

c. menggunakan debt collector,

d. menempuh prosedur hukum.

2.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Investasi Pada Piutang

1. Volume penjualan kredit, semakin besar volume penjualan kredit, makin besar

investasi yang tertanam dalam Piutang

7
2. Syarat pembayaran (termin), semakin lama masa kredit,semakin besar

invesatasinya.

3. Ketentuan tentang pembatasan kredit, batasan kredit dapat berupa kuantitatif

(plafon kredit, semakin besar plafon kredit perpelanggan makin besar investasi

yang diperlukan) dan kualitatif (selektif terhadap pelanggan kredit, makin ketat

seleksi akan semakin memperkecil investasi dalam piutang).

4. Kebijakan pengumpulan piutang, pengumpulan piutang dapat bersifat aktif

(menggunakan debt collector)pengumpulan piutang lebih tepat waktu tetapi

perlu tambahan biaya pengumpulan piutang, atau pasif yaitu keyakinan bahwa

debitur menepati janji, maka resiko tertunggaknya piutang lebih besar.

5. Kebiasaan membayar dari para langganan, apabila sebagian besar pelanggan

membayar pada masa diskon (termin 2/10;n/30), maka membutuhkan investasi

lebih kecil, tetapi jika pelanggan membayar pada hari ke 30 atau bahkan

menunggak, perlu invstasi yg besar.

2.6 Analisis Kebijakan Piutang

Tujuan analisis ekonomi tentang piutang ini adalah untuk menilai apakah

manfaat memiliki piutang lebih besar ataukah lebih kecil dari biayanya. Bila

diperkirakan bahwa manfaatnya lebih besar, maka secara ekonomi pemilikan

piutang atau penjualan kredit tersebut dibenarkan. Analisis tersebut adalah salah

satu bagian dari manajemen piutang. Masalah lainnya adalah pengendalian piutang.

Setiap analisis ekonomi menyangkut perbandingan antara manfaat dan

pengorbannya.

8
Sejauh manfaat diharapkan lebih besar dari pengorbanan, suatu keputusan

dibenarkan secara ekonomi. Oleh karena itu dalam merencanakan dasar-dasar

kebijakan piutang yang mempengaruhi piutang, perlu didentifikasi manfaat dan

pengorban karena keputusan tersebut. Termasuk keputusan perusahaan mengenai

penghapusan piutang tak tertagih. Berikut ini diberikan berbagai contoh untuk

mengidentifikasi manfaat dan pengorbanan tersebut.

1. Penjualan Kredit Tanpa Diskon

Untuk memudahkan dalam memahami topik ini, saya sajikan contoh

manajemen piutang dagang berikut ini:

Misalkan suatu perusahaan dagang semula melakukan penjualan secara

tunai. Penjualan yang tercapai setiap tahun rata-rata sebesar Rp 800 juta.

Perusahaan kemudian merencanakan akan menawarkan syarat penjualan n/60.

Ini berarti bahwa pembeli bila membayar pembelian mereka pada hari ke-60.

Diperkirakan dengan syarat penjualan yang baru tersebut perusahaan akan bisa

meningkatkan penjualan sampai dengan Rp 1.050.000.000. Profit margin yang

diperoleh sekitar 15%. Apakah perusahaan perlu beralih ke penjualan kredit,

jika biaya dana sebesar 16%?

Analisis penjualan kredit tanpa diskon dengan penjualan tunai berikut ini:

A. Manfaat:

Tambahan keuntungan karena tambahan penjualan:

= (1.050 – 800) x 15% = Rp 37,5 juta

B. Pengorbanan:

Perputaran piutang:

= 360 hari/60 hari = 6 x dalam setahun

9
Rata-rata piutang:

= Rp 1.050/6 = Rp 175 juta

Dana yang diperlukan untuk membiayai piutang tersebut:

= 85% x Rp 175 juta = Rp 148,75 juta

Biaya dana yang harus ditanggung karena memiliki tambahan piutang:

= Rp 148,75 juta x 0,16 = Rp 23,80 juta

Jadi, tambahan manfaat bersih adalah:

= Rp 37,50 juta – Rp 23,80 juta = Rp 13,70

Manfaat yang diperoleh karena menjual secara kredit adalah tambahan

laba. Sedangkan pengorbannya adalah tambahan biaya dana. Tambahan biaya

tersebut timbul karena perusahaan akan memerlukan dana yang lebih banyak

bila menjual secara kredit. Tambahan dana tersebut diperlukan untuk

membiayai piutang, yaitu pada waktu perusahaan menjual secara tunai, dan

tentu saja piutang tidak ada.

Perhatikan bahwa biaya dana bisa jadi bersifat eksplist, artinya benar-

benar dikeluarkan, seperti kalau kita membayar bunga karena menggunakan

hutang. Tapi mungkin juga bersifat implisit, artinya adalah tidak benar-benar

dikeluarkan, tapi dana tersebut mempunyai opportunity cost. Opportunity cost

menunjukkan manfaat yang hilang karena kita memilih suatu alternatif. Analisis

tersebut menunjukkan bahwa manfaat lebih besar dari pengorbanan, sehingga

diperoleh manfaat bersih yang positif. Ini berarti bahwa rencana untuk menjual

secara kredit diharapkan memberikan hasil yang menguntungkan.

10
2. Menjual Secara Kredit Dengan Diskon

Sering perusahaan meng-introdusir diskon dengan maksud agar para

pembeli mempercepat pembayaran mereka. Dengan demikian bisa ditekan

keperluan dana akan tambahan piutang, meskipun biaya karena diberikannya

diskon perlu diperhatikan. Misalkan perusahaan menawarkan syarat penjualan,

2/20 net 60. Ini berarti bahwa kalau pembeli melunasi pembeliannya pada hari

ke-20, mereka akan memperoleh diskon 2%. Tapi jika melunasi pada hari ke-

60 harus membayar dengan harga penuh. Diperkirakan 50% akan

memanfaatkan diskon, dan sisanya membayar pada hari ke-60. Apakah

perusahaan sebaiknya meng-introdusir diskon atau menjual kredit tanpa

diskon?

Perhatikan nilai perhitungan manfaat dan pengorbanannya berikut ini:

A. Manfaat:

Rata-rata periode pembayaran piutang:

= 0,5 (20) + 0,5 (60) = 40 hari

Perputaran piutang:

= 360/40 = 8X

Rata-rata piutang:

= 1.050 /8 = Rp 131,25 juta

Rata-rata dana yang diperlukan untuk membiayai piutang:

= Rp 131,25 juta x 85% = Rp 111,56 juta

Penurunan biaya dana:

= (Rp 148,75 – Rp 111,56) x 16% = Rp 5,95 juta

11
B. Pengorbanan:

Diskon yang diberikan:

= 2% x 50% x Rp 1.050 = Rp 10,50 juta

Jadi, manfaat bersihnya adalah:

= Rp 5,95 juta – Rp 10,50 juta = (Rp 4,55 juta)

Dari perhitungan di atas menunjukkan bahwa diskon yang diberikan

ternyata lebih besar dari pada penghematan biaya. Dengan demikian maka

perusahaan tidak perlu memberikan diskon, karena dengan syarat penjualan

20/20 net 60 diperkirakan akan memberikan manfaat bersih yang negatif.

3. Penjualan kredit dengan kemungkinan piutang tidak terkumpul

Contoh-contoh di atas menggunakan asumsi bahwa semua pembeli akan

melunasi pembelian mereka. Padahal jika perusahaan menjual secara kredit,

selalu terdapat kemungkinan bahwa sebagian piutang tak tertagih. Sekarang kita

bandingkan seandainya penjualan dilakukan secara kredit tetapi dengan

mempertimbangkan kemungkinan adanya piutang yang tidak tertagih. Misalkan

dari penjualan dengan syarat n/60 tersebut diperkirakan 1% tidak terbayar.

Apakah perusahaan sebaiknya menjual secara kredit ataukah tetap tunai?

Perhatikan Analisis penjualan kredit tanpa diskon dengan penjualan tunai

(memperhatikan kemungkinan piutang tidak tertagih) berikut ini:

A. Manfaat:

Tambahan keuntungan karena tambahan penjualan:

= (1.050 – 800) x 15% = Rp 37,5 juta

B. Pengorbanan:

Perputaran piutang:

12
= 360 hari/60 hari = 6 x dalam setahun

Rata-rata piutang:

= Rp 1.050/6 = Rp 175 juta

Dana yang diperlukan untuk membiayai piutang tersebut:

= 85% x Rp 175 juta = Rp 148,75 juta

Biaya dana yang harus ditanggung karena memiliki tambahan piutang:

= Rp 148,75 juta x 0,16 = Rp 23,80 juta

Kerugian karena penjualan tidak terbayar:

=1% x Rp 1.050 juta = Rp 10,50 juta

Total tambahan biaya:

= Rp 23,80 juta + Rp 10,50 juta = Rp 34.30 juta

Tambahan manfaat bersih adalah:

= Rp 37,50 juta – Rp 34,30 juta = Rp 3,20

Analisis di atas menunjukkan bahwa dengan mempertimbangkan

kemungkinan penjualan tidak terbayar. Penjualan kredit diharapkan masih

menguntungkan apabila dibandingkan dengan penjualan secara tunai.

4. Faktor-faktor Lain yang Mempengaruhi Penjualan

Penjualan yang bersifat musiman bisa diberikan potongan khusus pada

waktu penjualan sedang off, agar bisa meningkatkan penjualan. Perusahaan

juga bisa membentuk bagian penagihan kredit agar jumlah kredit macet

berkurang, dan/atau periode pengumpulan piutang menjadi makin cepat.

Apakah cara-cara tersebut bisa dibenarkan secara ekonomi, analisis yang perlu

dilakukan tetap dengan membandingkan antara manfaat dan pengorbanan.

13
Sebagai contoh:

Misalkan perputaran piutang ternyata mencapai hanya 4X dalam satu tahun,

padahal persyaratan penjualan adalah n/60.

Hal tersebut dapat terjadi karena beberapa sebab, antara lain:

a) Pemberian kredit tidak dilakukan secara ketat sesuai dengan standar kredit

Dengan demikian, di samping menentukan syarat penjualan.

Misalnya: n/60 ataupun 2/10/net60, perusahaan perlu menentukan standar

kreditnya. Standar kredit menunjukkan siapa yang diijinkan membeli secara

kredit. Mungkin standar kredit ditentukan sangat ketat (misalnya hanya

untuk mereka yang berpenghasilan tetap. Dan angsuran kredit mencapai

hanya 10% dari total penghasilan) atau agak longgar. Semakin ketat standar

kredit, semakin kecil kemungkinan piutang tidak tertagih, dan sebaliknya.

Hanya saja bila standar kredit semakin ketat, calon pembeli yang memenuhi

persyaratan mungkin tidak banyak sehingga penjualan tidak setinggi yang

diharapkan.

b) Aktivitas bagian kredit tidak baik

Sering terjadi kasus-kasus macetnya piutang menunjukkan bahwa

kemacetan tersebut disebabkan perusahaan tidak menagih piutangnya.

Terlambatnya penagihan dapat disebabkan karena pelaksanaan manajemen

keuangan yang tidak baik. Seperti sistem pencatatn piutang yang tidak

segera menunjukkan mana piutang yang harus ditagih. Walaupun dapat juga

disebabkan oleh pembeli yang ‘nakal’.

14
Perhatikan contoh soal manajemen piutang berikut:

Misalkan sekarang bahwa penjualan kredit setiap tahun mencapai Rp 12

M. Maka piutang mencapai Rp 3 M dan bukannya Rp 2 M sebagaimana standar

penjualan. Bila profit margin adalah sebesar 10%, maka perusahaan

memerlukan tambahan dana karena keterlambahan pengumpulan piutang

sebesar : = 0,90 ( Rp 3 M – Rp 2 M ) = Rp 900 juta

Bila biaya dana adalah sebesar 15%, maka kerugian kerugian karena

tertundanya pengumpulan piutang adalah: = 0,15 ( Rp 900 juta ) = Rp 135 juta

Karena itu, bila perusahaan dapat mempercepat pengumpulan piutang.

Misalnya dengan menambah jumlah karyawan bagian penagihan kembali ke 6X

dalam satu tahun. Tapi memerlukan biaya kurang dari Rp 135 juta dalam satu

tahun. Maka penambahan biaya tersebut dapat dibenarkan secara ekonomis.

2.7 Analisis Calon Pembeli

Sewaktu perusahaan memutuskan untuk memperkenankan seorang (calon)

pembeli membeli secara kredit. Perusahaan dihadapkan pada kemungkinan bahwa

(calon) pembeli tersebut tidak membayar pembeliannya. Meskipun jalur hukum

terbuka untuk menyelesaikan masalah tersebut. Tetapi kalau nilai pembelian

tidaklah terlalu besar perusahaan bisa jadi enggan menempuh jalur hukum. Dengan

demikian masalah yang dihadapi perusahaan adalah secara individual hutang para

pembeli tersebut relatif kecil, tapi secara keseluruhan menjadi cukup besar.

Sayangnya perusahaan tidak mungkin menempuh jalur hukum secara kolektif untuk

pembeli-pembeli yang kurang baik. Untuk itu dapat dilakukan analisis dengan

menggunakan asumsi bahwa seandainya pembeli tidak melunasi pembelian

15
mereka. Maka jumlah yang dibeli tersebut dianggap hilang sebagai kerugian. Dan

analisis ini memerlukan penerapan teori manajemen piutang dan konsep statistik.

Perhatikan contoh analisis pengaruh manajemen piutang terhadap

profitabilitas perusahaan berikut ini: Misalkan seorang pembeli akan membeli

dengan kredit suatu barang denga harga Rp 100. Harga Pokok Penjualan (HPP)

barang tersebut adalah Rp 60, dan diperkirakan probabilitas pembeli tersebut akan

melunasi pembeliannya adalah 0,95. Apakah permohonan tersebut sebaiknya

dikabulkan?

Bila permohonan tersebut ditolak, maka kerugian perusahaan sama dengan

nol. Dengan demikian permohonan tersebut dapat dikabulkan hanya bila

diharapkan akan memberikan laba yang lebih besar dari nol (expected profit > 0).

Perhatikan perhitungan dan analisis expected profit berikut ini: expected

profit = Prob. akan membayar (harga-biaya) – prob. tidak membayar (biaya) = 0,95

(100 – 80 ) – 0,05 (80) = 19 – 4 = 15

Karena expected profit positif, maka permohonan tersebut sebaiknya

dikabulkan. Dengan demikian sejauh probabilitas pembeli akan membayar masih

di atas 80%, maka permohonan tersebut sebaiknya dikabulkan. Cut-off probabilitas

sebesar 80% tersebut diperoleh dari persamaan berikut ini : Pada expected profit

sama dengan nol, maka kita berada dalam posisi indifference. Dengan demikian bila

probabilitas akan membayar diberi notasi p, maka: 0 = p(100-80) – (1-p)(80) = 20p

– 80 + 80p p= 0,80

Tentu saja semakin besar p semakin besar dorongan agar permohonan

tersebut dikabulkan. Trade-off antara mengabulkan (memperoleh laba tapi mungkin

juga tidak terbayar) dan menolak ( tidak akan terjadi kerugian karena tidak terbayar.

16
Tapi kehilangan penjualan) selalu muncul dalam analisis. Dasar pemikiran yang

sama dapat diterapkan untuk persoalan berikut ini:

Misalkan data historis menunjukkan bahwa kelompok pembeli yang

“baik”mempunyai rata-rata periode pengumpulan piutang 30 hari. Rata-rata biaya

pengumpulan Rp 100 dan probabilitas piutang tidak terbayar hanya 0,02 (atau 2%0.

Permohonan pembelian kredit dikabulkan kalau biaya penerimaan lebih besar dari

biaya penolakan. Biaya yang paling diharapkan dari masing-masing alternatif dapat

dirumuskan sebagai berikut:

A. Biaya Penerimaan = Probabilitas tidak membayar (biaya variabel per unit) unit

yang dibeli + (tingkat keuntungan yang disyaratkan) (Periode

pengumpulan/360) (biaya variabel per unit) unit yang dibeli + Biaya

pengumpulan

B. Biaya Penolakan = (1 – Probabilitas tidak terbayar) (laba marginal per unit)

unit yang dibeli. Perhatikan contoh perhitungan berikut ini: Misalkan biaya

variabel (disebut juga biaya marginal) sebesar Rp 1.800 per unit dan laba

marginal (artinya tambahan laba yang diperoleh dari setiap tambahan satu unit

penjualan) Rp 1.200. Dan tingkat keuntungan yang disyaratkan sebesar Rp

18%.

Dengan demikian bila X adalah unit yang dibeli, maka untuk kelompok

‘baik’ biaya penerimaan dan penolakan yang diharapkan adalah:

A. Biaya penerimaan:

= 0,02(1.800X) + 0,18(30/360)1.800X + 100 = 36X + 27X + 100 = 63X + 100

B. Biaya penolakan:

= (1 – 0,02) 1.200X = 1.176X

17
Apa arti persamaan-persamaan tersebut, apabila (calon) pembeli yang

dikelompokan ‘baik’ bermaksud membeli 3.000 unit, maka:

A. Biaya penerimaan:

= 63(3.000) + 100 = 189.100

B. Biaya penolakan:

= 1.176(3.000) = 3.528.000

Dengan demikian bila pembelian tesebut ditolak, maka biaya penolakannya

lebih besar daripada biaya penerimaannya. Karena itu seharusnya permohonan

pembelian tersebut dikabulkan.

18
BAB III

KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Analisis ekonomi tentang piutang pada dasarnya mencoba membandingkan

manfaat dan pengorbanan yang timbul karena memiliki piutang. Karena itulah

diperlukan identifikasi manfaat dan pengorbanan tersebut. Jumlah piutang yang

dimiliki perusahaan, di samping ditentukan oleh penjualan, persyaratan penjualan.

Dan standar kredit, juga dipengaruhi oleh manajemen (pengumpulan) piutangnya.

Pencatatan piutang yang tidak baik, karyawan yang kurang, merupakan faktor-

faktor yang menyebabkan mengapa rata-rata piutang meningkat. Membuat

perputaran piutang lebih rendah dari standar persyaratan penjualan. Analisis untuk

mengenali calon pembeli yang baik dan yang buruk dapat dilakukan dengan

berbagai cara. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan menggunakan

analisis diskriminan. Dalam setiap analisis untuk pengambilan keputusan muncul

trade-off antara menolak atau mengabulkan permohonan.

19
DAFTAR PUSTAKA

http://ais-zakiyudin.blogspot.com/2012/03/faktor-faktor-yang-

mempengaruhi26.html?m=1

https://manajemenkeuangan.net/manajemen-piutang-

usaha/#03_Analisis_Terhadap_Calon_Pembeli_dalam_Manajemen_Piutang

https://www.kajianpustaka.com/2013/09/pengertian-jenis-dan-pengelolaan-

piutang.html

20

Anda mungkin juga menyukai