Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN SEPSIS

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Laporan Individu Praktek Profesi Ners


Departemen Keperawatan Anak di RSUD Sidoarjo

Disusun Oleh :

ARISTA JAWAMARA

NIM. 2007.14901.289

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

STIKES WIDYAGAMA HUSADA

MALANG

2021
LEMBAR PENGESAHAN

DISUSUN OLEH

Arista Jawamara

200714901289

Disetujui Oleh

Pembimbing Institusi Pembimbing lahan

( ) ( )
A. DEFINISI
Sepsis adalah kondisi dimana bakteri menyebar ke seluruh
tubuh melalui aliran darah dengan kondisi infeksi yang sangat berat,
bisa menyebabkan organ-organ tubuh gagal berfungsi dan berujung
pada kematian (Purnama, 2014). Sepsis adalah kumpulan gejala
sebagai manifestasi respons sistemik terhadap infeksi. Respon
inflamasi sistemik adalahkeadaan yang melatarbelakangi sindrom
sepsis. Respon ini tidak hanya disebabkan oleh adanya bakterimia,
tetapi juga oleh sebab-sebab lain. Oleh karena itu kerusakan dan
disfungsi organ bukanlah disebabkan oleh infeksinya, tetapi juga respon
tubuh terhadap infeksi dan beberapa kondisi lain yang mengakibatkan
kerusakan-kerudasakan pada sindrom sepsis tersebut. Pada keadaan
normal, respon ini dapat diadaptasi, tapi pada sepsis respon tersebut
menjadi berbahaya (Bakta & Suastika, 2012).
B. FAKTOR RESIKO
1. Faktor risiko mayor
a. ketuban pecah dini (KPD) >18 jam
b. ibu demam intrapartum >38 0C
c. korioamnionitis,
d. ketuban berbau
e. denyut jantung janin (DJJ) >160x/menit.
2. Faktor risiko minor
a. KPD >12jam,
b. demam intrapartum >37,5 0 C
c. skor APGAR rendah (menit 1 skor <5 dan menit 5 skor <7)
d. BBLSR (<1500 gram)
e. Kembar
f. usia kehamilan <37 minggu
g. keputihan yang tidak diobati
h. ibu yang dicurigai infeksi saluran kemih (ISK)
C. TANDA DAN GEJALA
Demam dan menggigil merupakan gejala yang sering ditemukan
pada kasus dengan sepsis. Gejala atau tanda yang terjadi juga
berhubungan dengan lokasi penyebab sepsis. Penilaian klinis perlu
mencakup pemeriksaan fungsi organ vital, termasuk (Davey, 2011):
1. Jantung dan sistem kardiovaskular, meliputi pemeriksaan suhu,
tekanan darah vena dan arteri.
2. Perfusi perifer, paseien terasa hangat dan mengalami
vasodilatasi pada awalnya, namun saat terjadi syok septic
refrakter yang sangat berat, pasien menjadi dingin dan
perfusinya buruk.
3. Status mental, confusion sering terjadi terutama pada manula.
4. Ginjal, seberapa baik laju filtrasi glomerulus (GFR), kateterisasi
saluran kemih harus dilakukan untuk mengukur output urin
tiap jam untuk mendapatkan gambaran fungsi ginjal.
5. Fungsi paru, diukur dari laju pernapasan, oksigenasi, dan
perbedaan O2 alveoli-arteri (dari analisis gas darah arteri).
Semuanya harus sering diperiksa, dan apabila terdapat
penurunan fungsi paru, maka pasien perlu mendapatkan bantuan
ventilasi mekanis.
6. Perfusi organ vital, yang terlihat dari hipoksia jaringan,
asidemia gas darah arteri dan kadar laktat. Fungsi hemostatik,
diperiksa secara klinis dengan mencari ada atau tidaknya
memar-memar, perdarahan spontan (misal pada tempat-tempat
7. Fungsi hemostatik, diperiksa secara klinis dengan mencari
ada atau tidaknya memar-memar, perdarahan spontan (misal
pada tempat-tempat pungsi vena, menimbulkan dugaan adanya
kegagalan sistem hemostatik, yang membutuhkan tambahan
produk darah.
D. ETIOLOGI
Bakteria seperti Escherichia coli, Listeria monocytogenes,
Neisseriameningitidis, Sterptococcus pneumoniae, Haemophilus
influenzae tipe B, Salmonella, dan Streptococcus grup B merupakan
penyebab paling sering terjadinya sepsis pada bayi berusia sampai
dengan 3 bulan. Streptococcus grup B merupakan penyebab sepsis
paling sering pada neonatus.
Pada berbagai kasus sepsis neonatorum, organisme memasuki
tubuh bayi melalui ibu selama kehamilan atau proses kelahiran. Beberapa
komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya sepsis
pada neonatus, antara lain:
1. Perdarahan
2. Demam yang terjadi pada ibu
3. Infeksi pada uterus atau plasenta
4. Ketuban pecah dini (sebelum 37 minggu kehamilan)
5. Ketuban pecah terlalu cepat saat melahirkan (18 jam atau lebih
sebelum melahirkan)
6. Proses kelahiran yang lama dan sulit.
7. Streptococcus grup B dapat masuk ke dalam tubuh bayi selama proses
kelahiran.
Menurut Centers for Diseases Control and Prevention (CDC)
Amerika, paling tidak terdapat bakteria pada vagina atau rektum pada
satu dari setiap lima wanita hamil, yang dapat mengkontaminasi bayi
selama melahirkan. Bayi prematur yang menjalani perawatan intensif
rentan terhadap sepsis karena sistem imun mereka yang belum
berkembang dan mereka biasanya menjalani prosedur-prosedur invasif
seperti infus jangka panjang, pemasangan sejumlah kateter, dan
bernafas melalui selang yang dihubungkan dengan ventilator.

E. MANIFESTASI KLINIS

Diagnosis dini sepsis ditegakkan berdasarkan gejala klinik dan


terapi diberikan tanpa menunggu hasil kultur. Tanda dan gejala sepsis
neonatal tidak spesifik dengan diagnosis banding yang sangat luas,
termasuk gangguan napas, penyakit metabolik, penyakit hematologik,
penyakit susunan syaraf pusat, penyakit jantung, dan proses penyakit
infeksi lainnya (misalnya infeksi TORCH = toksoplasma, rubela,
sitomegalo virus, herpes). Bayi yang diduga menderita sepsis bila
terdapat gejala(Sari Pediatri, 2009):
1. Letargi, iritabel,
2. Tampak sakit,
3. Kulit berubah warna keabu-abuan, gangguan perfusi, sianosis, pucat,
kulit bintik-bintik tidak rata, petekie, ruam, sklerema atau ikterik,
4. Suhu tidak stabil demam atau hipotermi,
5. Perubahan metabolik hipoglikemi atau hiperglikemi, asidosis metabolik,
6. Gejala gangguan kardiopulmonal gangguan pernapasan (merintih,
napas cuping hidung, retraksi, takipnu), apnu dalam 24 jam pertama
atau tiba-tiba, takikardi, atau hipotensi (biasanya timbul lambat),
7. Gejala gastrointestinal: toleransi minum yang buruk, muntah, diare,
kembung dengan atau tanpa adanya bowel loop.
Namun Menurut Arief, 2008, manifestasi klinis dari sepsis neonatorum
adalah sebagai berikut
1. Umum : panas (hipertermi), malas minum, letargi, sklerema
2. Saluran cerna: distensi abdomen, anoreksia, muntah, diare,
hepatomegali
3. Saluran nafas: apnoe, dispnue, takipnu, retraksi, nafas cuping hidung,
merintih, sianosis
4. Sistem kardiovaskuler: pucat, sianosis, kulit lembab, hipotensi,
takikardi, bradikardi
5. Sistem syaraf pusat: iritabilitas, tremor, kejang, hiporefleksi, malas
minum, pernapasan tidak teratur, ubun-ubun membonjol.
F. KLASIFIKASI
Berdasarkan waktu terjadinya, sepsis neonatus dapat dibagi menjadi dua
bentuk (Maryunani, 2009) yaitu:
1. Sepsis dini/Sepsis awitan dini
Merupakan infeksi perinatal yang terjadi segera dalam periode setelah
lahir (kurang dari 72 jam) dan biasanya diperoleh pada saat proses
kelahiran atau in utero, sumber organisme pada saluran genital ibu
dan atau cairan amnion, biasanya fulminan dengan angka mortalitas
tinggi.
2. Sepsis lanjutan/sepsis nasokomial atau sepsis awitan lambat (SAL)
Merupakan infeksi setelah lahir (lebih dari 72jam) dan didapat dari
lingkungan pasca lahir. Karakteristik : Didapat dari kontak langsung
atau tak langsung dengan organisme yang ditemukan dari lingkungan
tempat perawatan bayi, sering mengalami komplikasi.
G. KOMPLIKASI
Komplikasi bervariasi berdasarkan etiologi yang mendasari. Potensi
komplikasi yang mungkin terjadi meliputi (Sari, 2009):
1. Hipoglikemia, hiperglikemia, asidosis metabolik, dan jaundice
Bayi memiliki kebutuhan glukosa meningkat sebagai akibat dari
keadaan septik. Bayi mungkin juga kurang gizi sebagai akibat dari
asupan energi yang berkurang.

2. Dehidrasi
Kekuarangan cairan terjadi dikarenakan asupan cairan pada bayi yang
kurang, tidak mau menyusu, dan terjadinya hipertermia..

3. Hiperbilirubinemia dan anemia


Hiperbilirubinemia berhubungan dengan penumpukan bilirubin
yang berlebihan pada jaringan. Bilirubin dibuat ketika tubuh
melepaskan sel-sel darah merah yang sudah tua, ini merupakan
proses normal. Bilirubin merupakan zat hasil pemecahan hemoglobin
(protein sel darah merah yang memungkinkan darah mengakut
oksigen). Hemoglobin terdapat pada sel darah merah yang dalam
waktu tertentu selalu mengalami destruksi (pemecahan).

4. Meningitis
Infeksi sepsis dapat menyebar ke meningies (selaput-selaput
otak) melalui aliran darah.

5. Disseminated Intravaskuler Coagulation (DIC)


Kelainan perdarahan ini terjadi karena dipicu oleh bakteri gram
negatif yang mengeluarkan endotoksin ataupun bakteri gram postif
yang mengeluarkan mukopoliskarida pada sepsis.

H. PATOFISIOLOGI

Sepsis dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik.


Pelepasan endotoksin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi
miokardium, perubahan ambilan dan penggunaan oksigen, terhambatnya
fungsi mitokondria, dan kekacauan metabolik yang progresif. Pada sepsis
yang tiba-tiba dan berat, menimbulkan banyak kematian dan kerusakan
sel. Akibatnya adalah penurunan perfusi jaringan, asidosis metabolik, dan
syok, yang mengakibatkan disseminated intravaskuler coagulation (DIC)
dan kematian.
Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai
neonatus melalui beberapa cara (Surasmi, 2003), yaitu :
1. Pada masa antenatal atau sebelum lahir. Pada masa antenatal kuman
dari ibu setelah melewati plasenta dan umpilikus masuk kedalam tubuh
bayi melalui sirkulasi darah janin. Kuman penyebab infeksi adalah
kuman yang dapat menembus plasenta,antara lain virus rubella,
herpes, situmegalo, koksari, hepatitis, influenza, parotitis. Bakteri yang
dapat melalui jalur ini, antara lain malaria, sifilis, dan toksoplasma.
2. Pada masa intranatal atau saat pesalinan. Infeksi saat persalinan
terjadi karena kuman yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai
korion dan amnion. Akibatnya, terjadi amnionitis dan korionitis,
selanjutnya kuman melalui umbilikus masuk ke tubuh bayi. Cara lain,
yaitu saat persalinan, cairan amnion yang sudah terinfeksi dapat
terinhalasi oleh bayi dan masuk ke tyraktus digestivus dan trakus
respiratorius, kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut.
Selain melalui cara tersebut diaras infeksi pada janin dapat terjadi
melalui kulit bayi atau port de entre lain saat bayi melewati jalan lahir
yang terkontaminasi oleh kuman (misalnya herpes genitalis, candida
albika, dan n.gonnorea).
3. Infeksi pascanatal atau sesudah persalinan. Infeksi yang terjadi
sesudah kelahiran umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial dari
lingkungan di luar rahim (misalnya melalui alat-alat: penghisap lendir,
selang endotrakea, infus, selang nasogastrik, botol minuman atau dot).
Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi dapat
menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial.Infeksi juga dapat terjadi
melalui luka umbilikus.
Melalui tiga cara tersebut bayi dapat mengalami sepsis, dimana
infeksi sistemik terjadi melalui perederan darah yang menyebabkan
intstabilitas termoregulasi sehingga muncul masakah keperawatan
hipertermi. Sepsis juga dapat menggaanggu pada saluran pernapasan
dimana terjadi perubahan ambilan dan penggunaan oksigen sehingga
pasien sepsis mengalami dispneu, takipneu, apneu dan muncul
masalah keperawatan gangguan pola napas
Infeksi tersebut juga menyerag pada saluran pencernaan, yang
dapat mengakibatkan mual muntah dan anoreksia sehingga timbul
masalah keperawatan gangguan nutrisi. Bakteri pada sepsis yang
menyebar kesuluruh tubuh melalui aliran darah dapat mengganggu
sistem kardiovaskuler sehingga bisa menyebabkan hipotensi kulit
lembab, pucat dan sianosis.
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Hematologi
Darah rutin, termasuk kadar hemoglobin Hb, hematokrit Ht, leukosit
dan hitung jenis, trombosit. Pada umumnya terdapat neutropeni
PMN <1800/ml, trombositopeni <150.000/ml (spesifisitas tinggi,
sensitivitas rendah), neutrofil muda meningkat >1500/ml, rasio
neutrofil imatur : total >0,2. Adanya reaktan fase akut yaitu CRP
(konsentrasi tertinggi dilaporkan pada infeksi bakteri, kenaikan
sedang didapatkan pada kondisi infeksi kronik), LED, GCSF
(granulocyte colonystimulating factor), sitokin IL-1ß, IL-6 dan TNF
(tumour necrosis factor).
b. Biakan darah atau cairan tubuh lainnya (cairan serebrospinalis)
serta uji resistensi, pelaksanaan pungsi lumbal masih kontroversi,
dianjurkan dilakukan pada bayi yang menderita kejang, kesadaran
menurun, klinis sakit tampak makin berat dan kultur darah positif.
c. Bila ada indikasi, dapat dilakukan biakan tinja dan urin.
d. Pemeriksaan apusan Gram dari bahan darah maupun cairan liquor,
serta urin.
e. Lain-lain misalnya bilirubin, gula darah, dan elektrolit (natrium,
kalium).
2. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi yang diperlukan ialah foto dada, abdomen atas
indikasi, dan ginjal. Pemeriksaan USG ginjal, skaning ginjal,
sistouretrografi dilakukan atas indikasi.
3. Pemeriksaan Penunjang Lain
Pemeriksaan plasenta dan selaput janin dapat menunjukkan adanya
korioamnionitis, yang merupakan potensi terjadinya infeksi pada
neonates (Sari Pediatri, 2009).
J. PENCEGAHAN
Sepsis neonatorum adalah penyebab kematian utama pada
neonatus.tanpa pengobatan yang memadai, gangguan ion dapat
menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Oleh karena itu, tindakan
pencegahan mempunyai arti penting karena dapat mencegah terjadinya
kesakitan dan kematian (Surasmi, 2003). Tindakan yang dapat dilakukan
(Surasmi, 2003) adalah :
1. Pada masa antenatal. Pada masa antenatal meliputi pemeriksaan
kesehatan ibu secara bekala, imunisasi, pengobatan terhadap penyakit
infeksi yang diderita ibu,asupan gizi yang memadai, penanganan
segera terhadap keadaan yang dapat menurunkan kesehatan ibu dan
janin, rujukan segera ke tempat pelayanan yang memadai bila
diperlukan.
2. Pada saat persalinan. Perawatan ibu selama persdalinan dilakukan
secara aseptik, dalam arti persalinan piperlakukan sebagai tindakan
operasi. Tindakan intervensi pada ibu dan bayi seminimal mungkin
dilakukan (bila benar-benar diperlukan). Mengawasi keadaan ibu dan
janin yang baik selama proses persalinan, melakukan rujukan
secepatnya bila diperlukan, dan menghindari perlukaan kulit dan
selaput lendir.

3. Sesudah persalinan. Perawatan sesudah lahir meliputi menerapkan


rawat gabung bila bayi normal, pemberian ASI secepatnya,
mengupayakan lingkungan dan peralatan tetap bersih, setiap bayi
menggunakan peralatan sendiri. Perawatan luka umbilikus secara
steril. Tindakan infasif harus dilakukan dengan prinsip – prinsip aseptik.
Menghindari perlukaan selaput lendir dan kulit, mencuci tangan
dengan menggunakan larutan desinfektan sebelum dan sesudah
memegang setiap bayi.
K. PENATALAKSANAAN

1. Diberikan kombinasi antibiotika golongan Ampisilin dosis 200 mg/kg


BB/24 jam i.v (dibagi 2 dosis untuk neonatus umur <> 7 hari dibagi 3
dosis), dan Netylmycin (Amino glikosida) dosis 7 1/2 mg/kg BB/per hari
i.m/i.v dibagi 2 dosis (hati-hati penggunaan Netylmycin dan
Aminoglikosida yang lain bila diberikan i.v harus diencerkan dan waktu
pemberian ½ sampai 1 jam pelan-pelan).
2. Dilakukan septic work up sebelum antibiotika diberikan (darah lengkap,
urine, lengkap, feses lengkap, kultur darah, cairan serebrospinal, urine
dan feses (atas indikasi), pungsi lumbal dengan analisa cairan
serebrospinal (jumlah sel, kimia, pengecatan Gram), foto polos dada,
pemeriksaan CRP kuantitatif).
3. Pemeriksaan lain tergantung indikasi seperti pemeriksaan bilirubin,
gula darah, analisa gas darah, foto abdomen, USG kepala dan lain-
lain.
4. Apabila gejala klinik dan pemeriksaan ulang tidak menunjukkan infeksi,
pemeriksaan darah dan CRP normal, dan kultur darah negatif maka
antibiotika diberhentikan pada hari ke-7.
5. Apabila gejala klinik memburuk dan atau hasil laboratorium menyokong
infeksi, CRP tetap abnormal, maka diberikan Cefepim 100 mg/kg/hari
diberikan 2 dosis atau Meropenem dengan dosis 30-40 mg/kg BB/per
hari i.v dan Amikasin dengan dosis 15 mg/kg BB/per hari i.v i.m (atas
indikasi khusus).
6. Pemberian antibiotika diteruskan sesuai dengan tes kepekaannya.
Lama pemberian antibiotika 10-14 hari. Pada kasus meningitis
pemberian antibiotika minimal 21 hari.Pengobatan suportif meliputi :
Termoregulasi, terapi oksigen/ventilasi mekanik, terapi syok, koreksi
metabolik asidosis, terapi hipoglikemi/hiperglikemi, transfusi darah,
plasma, trombosit, terapi kejang, transfusi (Sari Pediatri, 2009).

L. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
Pengkajian dilakukan melalui anamnesis untuk
mendapatkan data, yang perlu dikaji adalah identitas, keluhan
utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat perawatan antenatal,
adanya/tidaknya ketuban pecah dini,partus lama atau sangat
cepat (partus presipitatus). Riwayat persalinan di kamar bersalin,
ruang operasi, atau tempat lain. Ada atau tidaknya riwayat
penyakit menular seksual (sifilis, herpes klamidia, gonorea, dll).
Apakah selama kehamilan dan saat persalinan pernah menderita
penyakit infeksi (mis. Toksoplasmosis,rubeola, toksemia
gravidarum, dan amnionitis). Mengkaji tatus sosial ekonomi
keluarga.
Pada pemeriksaan fisik data yang akan ditemukan meliputi
letargi (khususnya setelah 24 jam petama), tidak mau minum atau
refleks mengisap lemah, regurgitasi, peka rangsang, pucat, berat
badan berkurang melebihi penurunan berat badan secara
fisiologis, hipertermi/hipotermi, tampak ikterus. Data lain yang
mungkin ditemukan adalah hipertermia,pernapasan mendengkur,
takipnea, atau apnea, kulit lembab dan dingin, pucat, pengisian
kembali kapiler lambat, hipotensi, dehidrasi, sianosis. Gejala
traktus gastrointestinal meliputi muntah, distensi abdomen atau
diare.
2. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
a. Risiko Infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
b. Ketidak efektifan pola napas berhubungan dengan apnea
c. Hipertermia berhubungan dengan kerusakan control suhu
sekunder akibat infeksi atau inflamasi
d. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan
kehilangan sekunder akibat demam
e. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan
dengan hipovolemi
f. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
Intoleran terhaap makanan/minuman
3. Intervensi Keperawatan
Diagnosa keperawatan: Infeksi b.d prosedur invasif
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24
jam maka tingkat infeksi menurun (l. 14137)

Intervensi :

PENCEGAHAN INFEKSI (I.14539)

a. Observasi
1) Identifikasi riwayat kesehatan dan riwayat alergi
2) Identifikasi kontraindikasi pemberian imunisasi
3) Identifikasi status imunisasi setiap kunjungan ke
pelayanan kesehatan
b. Terapeutik
1) Berikan suntikan pada pada bayi dibagian paha
anterolateral
2) Dokumentasikan informasi vaksinasi
3) Jadwalkan imunisasi pada interval waktu yang
tepat
c. Edukasi
1) Jelaskan tujuan, manfaat, resiko yang terjadi,
jadwal dan efek samping
2) Informasikan imunisasi yang diwajibkan pemerintah
3) Informasikan imunisasi yang melindungiterhadap
penyakit namun saat ini tidak diwajibkan
pemerintah
4) Informasikan vaksinasi untuk kejadian khusus
5) Informasikan penundaan pemberian imunisasi tidak
berarti mengulang jadwal imunisasi kembali
6) Informasikan penyedia layanan pekan imunisasi
nasional yang menyediakan vaksin gratis
4. Implementasi keperawatan
Implementasi merupakan tindakan yang sudah

direncanakan dalam perencana perawatan. Tindakan

keperawatan mencakup tindakan mandiri yaitu aktivitas perawat

yang didasarkan pada kesimpulan atau keputusan sendiri dan

bukan merupakan petunjuk atau perintah dari petugas kesehatan

lain, dan tindakan kolaborasi merupakan tindakan yang

didasarkan hasil dari keputusan bersama, seperti dokter dan

petugas kesehatan yang lain (Tarwoto & Wartonah, 2015). Fase

implementasi memberikan tindakan keperawatan actual dan

respons klien yang dikaji pada fase akhir, fase evaluasi. Dengan

menggunakan data yang didapat selama pengkajian, perawat

dapat mengindividualisasikan asuhan yang diberikan dalam fase

implementasi, menyesuaikan intervensi dengan klien tertentu,

bukan menerapkan intervensi secara rutin untuk kategori klien

(Kozier et al., 2011). Maka perawat harus melakukan pengawasan


terhadap efektifitas intervensi yang dilakukan, bersamaan pula

penilai perkembangan pasien terhadap pencapaian tujuan atau

hasil yang diharapkan (Dinarti dkk., 2013).

5. Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap akhir dalam proses

keperawatan untuk dapat menentukan keberhasilan dalam asuhan

keperawatan. Evaluasi pada dasarnya adalah membandingkan

status kesehatan pasien dengan tujuan atau kriteria hasil yang

telah ditetapkan (Tarwoto & Wartonah, 2015). Yang dimana

evaluasi keperawatan ini dicatat dan disesuaikan dengan setiap

diagnose keperawatan. Evaluasi untuk setiap diagnose

keperawatan meliputi data subjektif (S) dan objektif (O), Analisa

permasalahan (A) klien berdasarkan S dan O, serta perencanaan

ulang (P) berdasarkan hasil Analisa data diatas. Evaluasi ini

disebut juga evaluasi proses. Semua dicatat pada formulir catatan

perkembangan (progress note) (Dinarti dkk., 2013).

Evaluasi ini berjalan secara kontinu. Dimana evaluasi

dilakukan ketika atau segera setelah mengimplementasikan

program keperawatan memungkinkan perawat untuk segera

memodifikasi intervensi, hal ini bertujuan meningkatkan kemajuan

kondisi klien untuk mencapai tujuan yang memungkinkan perawat

memperbaiki kekurangan dan memodifikasi rencana asuhan

sesuai kebutuhan sampai klien mencapai tujuan kesehatan atau

selesai mendapatkan asuhan keperawatan (Kozier et al., 2011).


DAFTAR PUSTAKA

Aminullah A (2008). Sepsis pada bayi baru lahir. Dalam: Kosim MS, Yunanto A,

Amir I, Rudjan L (2005). Patofisiologi sepsis neonatorum: Systemic


Inflammatory Response Syndrome (SIRS). Dalam: Update in Neonat
al Infection. Departement Ilmu Kesehatan anak FKUI-RSCM, 17-30.

Arief, M. 2008. Pengantar Metodologi Penelitian untuk Ilmu Kesehatan.

Surakarta: UNS press.

Dewi R, Sarosa GI, Usman A. Buku ajar neonatologi. Edisi ke 1. Jakarta:

Badan Penerbit IDAI, pp: 170-85.

Bakta, I.M., & Suastika, I.K. (2012). Gawat Darurat di Bidang Penyakit Dalam.

Jakarta: EGC.

Davey, P. (2011). At a Glance Medicine. Jakarta: Erlangga.

Nasution, D.A.. 2008. Faktor Risiko dan Kesamaan Jenis Kuman Jalan Lahir Ibu

Dengan Kultur Darah pada Sepsis Neonatal Awitan Dini. (Tesis).


Universitas Diponegoro.Semarang.

PPNI (2016). Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator


Diagnostik, Edisi I. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI (2018). Standart Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan


Keperawatan, Edisi I. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI (2018). Standart Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi I. Jakarta: DPP PPNI.

Putri, S.I., Djamal, A., Rahmatini, 2014. Sensitivitas Bakteri Penyebab


Sepsis Neonatorum terhadap Meropenem di Neonatal Intensive Care
Unit dan Perinatologi RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2012.
Jurnal Kesehatan Andalas.