Anda di halaman 1dari 10

Kelompok :1

Anggota : Dian Hanif Muslimah (1810305053)


Rio Perdana (1810305080)
Salwaa Fauziyyah (1810305002)

EVOLUSI IMUNOLOGI DAN KOMPARATIF

A. Evolusi Imunologi
Keberadaan organisme baik tumbuhan maupun hewan dan manusia selalu
dihadapkan dengan bahaya yang mengancam dari dunia luar, yang mungkin hanya
dapat dipertahankan untuk berbagai tujuan sebagai berikut ini:
 Kompetisi untuk hidup. seperti halnya dengan manusia beberapa spesies juga
berkompetisi untuk mendapatkan ruang/tempat tingal dan makanan yang
terbatas dilingkungan sendiri.
 Melindungi diri dari asimilasi. Organisme sederhana dapat berdifusi menjadi
saru dengan mudah. Spesies yang lebih agresif dapat mengasimilasi populasi
yang kurang agresif atau lemah. Pada manusia hal tersebut dapat dilihat pada
kembar siam yang merupakan hasil dari fusi parsial embrio. Sering terjadi
bahwa satu bayi menjadi dominan terhadap yang lain. Tanpa disadari, kembar
yang dominan akan berusaha mengasimilasi yang lain dan menghalaunya,
sedangkan yang lain akan menjadi lemah.
 Melindungi kerusakan organ dan membantu perbaikan, misalnya luka karena
benda tajam.
 Melindungi diri dari invasi bakteri dan parasit yang mungkin merupakan
ancaman terbesar untuk manusia.
 Regulasi integritas. Varian atau mutan dapat terjadi kontaminasi virus dan
modifikasi oleh bahan kimia. Sel membagi diri tidak sempurna sehingga
terjadi duplikasi DNA. Sel varian mungkin hanya mengambil ruang dan
makanan, tetapi sel tersebut dapat berproliferasi tanpa kontrol, mejadi
neoplasma dan mengancam integritas pejamu. Ancaman punah merupakan
tekanan evolusi yang berperan utama dalam perkembangan sistem imun.
Evolusi-Filogenetik imunitas terdiri atas 3 tahap utama, yaitu sebagai berikut:

1. Tahap quasiimmunorecognition, merupakan ciri invertebrata dan vertebrata


yang dapat ditemukan khas pada coleenterater (enidarian), tunicate dan
mamalia dalam arti luas sebagai inkompatibilitas alogeneik.
2. Tahap imunitas seluler premordial yang terjadi melalui sel primodial
(misalnya invertebrata yang berkembang) sebagai inkompatibilitas alograft.
Imunitas spesifik dengan komponen memori untuk waktu pendek dapar
ditemukan pada tahapan ini.
3. Tahap imunitas humoral dan humoral terintegrasi yang ditemukan hanya pada
vertebrata seperti ikan, amfibi, reptil, burung dan mamalia. Gambaran evolusi
vertebrata dan invertebrata terlihat pada gambar 2.2
Pada gambar diatas terdapat jaringn limfoid di beberapa lokasi utama pada
vertebrata. Meskipun tidak terlihat pada gambar, ikan dengan tulang rawan dan ikan
pari memiliki Gut associated lymphoid tissue (GALT), timus dan limpa. Reptil juga
memiliki GALT, timus dan limpa dan juga kelenjar limfoid yang berperan dalam
reaksi imun. Tempat dan sifat kelenjar limfoid primer pada reptil masih sedang dalam
penelitian.

B. Imunologi Tumbuhan
Imunologi tumbuhan terdiri atas Systemic Acquired Resistence (SAR) akibat infeksi
lokal oleh patogen yang menimbulkan cedera dan kematian sel. SAR meliputi
spektrum bakteri yang laus, virus dan jamur. Berbagai gen SAR menyandi berbagai
protein mikrobisidal, yang dapat diinduksi bahan kimia endogen seperti asam salisilat,
yang berkaitan dengan katalase untuk meningkatkan H2O2 yang merupakan
pertahanan.
a. Fitoimunitas
Fitoimunitas meliputi fenomena serup imunitas, baik aktif maupun pasif. Bahan
tumbuhan yang aktif dalam fitoimunitas terdiri antara lain atas fitonisida dan
fitoaleksin. Fotonisida adalah bahan yng diproduksi tumbuhan yang mengalami
trauma atau nontrauma yang merupakan salah satu faktor aktif dalam imunitas
tumbuhan. Fitonisida menunjukan efek bakterisidal, fungsidal dan parasidal.
Sedangkan fitoaleksin adalah bahan tumbuhan yang aktif dalam fitoimunitas.
Tanaman resisten terhadap banyak penyakit yang disebabkan bahan seperti
antibiotik yang ada dalam jaringannya. Hal itu diturunkan dan merupakan
inhibitor konstitusional yang ada dalam tumbuhan. Contoh reaksi pertahanan
tunbuhan yang berhubungan dengan pembentukan dan konhersi bahan antibiotik
adalah reaksi terhadap cedera dan reaksi nekrotik.
Resistensi tumbuhan terhadap penyakit tertentu ditentukan berbagai bahan yang
berperan dalam fitoimunitas. Varietas tumbuhan berbeda dalam jumlah antibiotik
yang dikandung dalan jaringannya dan intensitas generasinya terhadap infeksi.
b. Fitohemaglutinin
PHA adalah lektin yang dapat mengikat karbohidrat pada permukaan mikroba
yang dapat mengaktifkan sel T. Oleh karena itu PHA dapat memacu aktivitas
poliklonal sel T atau aglutinitas. PHA sering digunakan dalam studi aktivitas sel
T. Dalam laboratorium PHA digunakan untuk menentukan fungsi sel T pada
penderita atau untuk menginduksi mitosis sel T dalam mengumpulkan data
kariotipik. Ekstrak kacang merah mengandung PHA dengan sifat poten. PHA
adalah mitigen poliklonal yang pertama kali diketahui.

C. Imunologi Invertebrata
Imunologi modern yang berkembang pada pertengahan Renaiscance.
Merekapitulasi kejadian-kejadian menjelang akhir abad ke 19. Metchnikoff membagi
imunologi monolitik menjadi selular dan humoral. Minat teori dalam imunitas
nonspesifik diperoleh dari data-data invertebrate. Pada taraf molecular, sinyal akhir
timbul bila respon imun terjadi tanpa intervensi sel T dan B yang dogmatik.
Ada sejumlah alasan untuk menganalisa imunitas non spesifik pada
invertebrata
a. Lebih banyak hal yang dapat dipelajari dari invertebrata mengenai
ekspansi evolusi imunitas yang telah melindungi jutaan metazoa.
b. Oleh karena produk humoral asal organisme tersebut biasanya merupakan
bahan anti bacterial poten, mekanisme imunitas alamiah akan lebih banyak
dipahami tidak hanya pada invertebrata namun juga yang menguntungkan
sebagai sumber makanan dan obat.
Salah satu analisa dini sistem imun invertebrata diperoleh dari imunitas
transplantasi pada cacing tanah. Mengingat invertebrata telah hidup berjuta-juta
tahun, diduga bahwa sistem imun berfungsi sebagai strategi untuk hidup efektif,
alamiah, non adaptif, nonspesifik, non antisipasi, non klonal dan non kombinatorial
hal itu merupakan hal yang sebaliknya dari imunitas spesifik yang didapat yang
diinduksi secara spesifik dan dapat diantisipasi. Sistem imun spesifik menggunakan
sel B dan T yang tergantung dari penyusunan ulang gen yang pada invertebrata belum
dapat dibuktikan.
Invertebrata memiliki berbagai mekanisme untuk mengenal dan memberikan
respon terhadap bahan non self meskipun tidak memiliki sistem imun limfoid, baik
komponen selular maupun humoral lirik respon imun internal invertebrata terdiri atas
fagositosis, enkapsulasi dan pembentukan nodul.
Pengenalan molekul pada berbagai spesies berbeda. Beberapa faktor yang
berperan antara lain CRV, peptida antibacterial, proteinase Serin, inhibitor proteinase
lektin tipe C, komplemen, protein yang mengikat glikan dan beberapa peptida
antibacterial titik juga ditemukan ban serupa sitokin yang ekuivalen dengan IL-1 dan
IL-6 dan reseptor pada sel fagositik. Peptida opioid, alkaloid opioid dan neuro peptide
lainnya dapat memodulasi kemotaksis dan adhesi sel.
Sel-sel invertebrate memiliki reseptor namun sifatnya belum banyak diketahui
seperti halnya reseptor pada vertebrata yang berupa antibody pada sel B dan reseptor
sel T. Molekul permukaan sel-sel kompeten imun invertebrate tidak banyak
jumlahnya dan tidak mampu memberikan respon terhadap berbagai jenis antigen.
Reseptor imunosit invertebrate dapat berhubungan dengan agglutinin umum
dan lektin dalam cairan rongga badan. Cairan rongga badan dengan sel-sel
didalamnya merupakan jenis darah vertebrata yang membawa sel-sel imun tertentu.
Invertebrata dibagi menjadi dua golongan, dengan dan tanpa rongga badan. Keulosit
invertebrate diduga merupakan prekusor evolusi dari semua limunosit vertebrata.
a. Prokariosit-Bakteri
Berbagai bahan antimicrobial yang diproduksi dan dilepas bakteri keluar sel
menunjukkan efek spesifik. Contohnya antibiotik yang disintesis secara
enzimatik, antibiotik peptide yang dimodifikasi, protein seperti bakterisin,
eksotoksin dan enzim bakteriolitik. Galur yang memproduksi antibiotic dapat
melindungi diri dari produknya sendiri dengan membentuk protein imun. Kolisin
dan bakteriofag Bersama bahan lain memudahkan berbagai galur untuk
berkompetisi. Mekanisme imunitas sangat spesifik dan tergantung dari interaksi
protein-protein, protein-DNA, atau RNA-DNA.
b. Spons
Spons merupakan invertebrate paling primitif. Spons laut dapat membedakan
self dari nonself dan dapat menolak koloni parabiosed fingers yang berbeda
dalam 7-9 hari. Glikoprotein sel spons yang spesies spesifik dapat digunakan
dalam identifikasi self dan mencegah pembentukan koloni hibrid. Koloni spons
non-identik akan menjadi nekrotik ditempat kontak. Kontak kedua akan lebih
cepat ditolak.
c. Cacing
Terdapat 4 Jenis sel yang ditemukan pada rongga badan cacing tanah dan
semuanya fagositik. Beberapa sel berperan dalam penolakan allograft., sedangkan
lainnya memproduksi bahan bacterial. Keulosit merupakan leukosit fagositik
yang bersirkulasi atau menetap yang berpartisipasi dalam pertahanan invertebrate
nyang memiliki rongga badan melalui fagositosis dan enkapsulasi.
d. Serangga
Imunitas serangga pada virus lrido terdiri atas resppon selular seperti fagositosis,
enkapsulasi, pembentukan nodul atau koagulasi. Atasin, sekropin lisozim
danoksidase fenol ditemukan pada beberapa spesies. Enkapsilasi merupakan
reaksi leukosit terhadap bahan asing yang tidak dapat dimakan karena ukurannya
yang besar. Beberapa lapisan leukosit yang menjadi datar membentuk dinding
pada sekitar benda asing dan mengisolasinya pada jaringan.

D. Imunologi Vertebrata

Berbeda dari sisten imun invertebrata yang sangat sederhana, sistem imun
hewan vertebrata sudah sangat berkembang. Perbedaan signifikan tersebut bahkan
terlihat antara invertebrata dengan vertebrata yang memiliki mekanisme imun paling
sederhana. Mekanisme imun pada umumnya masih berupa fagositosis bakteri atau
penggunaan enzim dalam sekresi.

1. Ikan
Jaringan limfoid primer dan sekunder ikan ditemukan dalam timus, ginjal dan
limpa. Sel sistem imun juga ditemukan pada permukaan kulit dan membran
mukosa. Ikan memiliki sel sejenis sel T dan B. Monosit, makrofag dan granulosit
yang berperan dalam respon inflamasi ditemukan juga pada ikan. Selain itu
adapula IFN-α, IL-1, IL-2, CSD, TGF-β, dan TNF namun tidak ada sel mast.
Dewasa ini sudah ada vaksin yang dapat melindungi ikan dari inveksi bakteri dan
virus. IgW adalah isotipe Ig pada ikan hiu.
a. Siklostoma
Siklostoma atau ikan tanpa rahang adalah vertebrata terendah yang pernah
diteliti hagfish (California) yang tidak memiliki limfosit sejati, sel T adaptif
dan respon sel B. Spesies ini tidak memiliki timus, limpa eritropoetik atau sel
serupa limpa dalam sirkulasi. Lamprey mempunyai timus primitif, limpa
limfopoetik, famili limfodit dan gama globulin. Siklostoma merupakan
vertebrata paling primitif yang masih hidup yang memiliki agregat sel limfoid
di faring dan lokasi lain.
b. Ikan bertulang rawan
Ikan bertulang rawan seperti ikan hiu memiliki timus, respon antibodi
anamnestik (sekunder), dan sel plasma yang membentuk antibodi (IgM)
c. Ikan bertulang (teleost)
Ikan bertulang memiliki sel T dan B dengan fungsi yang berbeda, sel NK dan
sitokinin seperti IL-2 dan IFN. Molekul MHC yang ditemukan pada ikan
Zebra.

2. Reptil
Kondisi lingkungan dapat mempengaruhi struktur dan fungsi organ berbagai reptil
termasuk pada mekanisme imunnya. Timus berkembang baik dengan molekul
permukaan prekursor reseptor sel T, IgG, dan IgM. Limpa merupakan organ
limfoid perifer terpenting. GALT berkembang baik pada kadal dan ular. Reptil
tidak memiliki tonsil. Reptil juga memiliki molekul MHC dan memproduksi
sedikitnya 2 jenis Ig yang berupa IgM.

3. Burung dan Ayam


Burung dan ayam memproduksi sel B pada organ yang disebut Bursa Fabricus
yang terletak di saluran verna dekat kloaka. Ditemukan IgM, IgG dan IgA. Timus
terdiri atas 6-7 lobus. Meskipun kalkun, bebek, dan burung dara telah diteliti,
ayam domestik dapat dijadikan sebagai spesies yang mewakili golonan burung
dan ayam.
Aves dan mamalia memiliki banyak kesamaan pada mekanisme imun mereka.
Kesamaan tersebut terletak pada struktur organ limfoid, pembentukan berbagai
antibodi, susunan Ig dan gen MHC. Ayam adalah spesies dengan pembentuk
antibodi yang sangat baik, dengan membentuk IgM sebelum IgG. Sel T
berkembang dari sel perkursor melalui timus. Sel T ayam mirip dengan mamalia.
Sel hematopoetik nonlimfoid sudah berkembang dengan baik, juga kelas Ig
(IgM, IgA dan IgG yang disebut IgY). Permukaan sel T telah diidentifikasi sama
dengan yang ditemukan pada sel T mamalia mislanya TCR, CD3, CD4, CD5,
CD6, CD8, CD28, dan CD45, IL-2-R. Sistem imun aves rentan terhadap leukosis
aves, penyakit Marck dan IBD dan telah ditemukan vaksinnya.

4. Mamalia
Mamalia membentuk IgD, IgG dan subkelasnya di samping Ig lainnya dan
menunjukkan MHC yang berbeda. Diversitas sudah lebih berkembang. Antibodi
pada sel B reseptor sel T dan spektrum sel (MHC), semuanya berkembang dari
leluhur yang sama. Ada kesamaan antara sistem imun manusia dengan tikus,
sehingga tikus transgenik banyak digunakan dalam penelitian. Tikus sendiri
memiliki imunitas alami yang kuat. Mamalia lain seperti ikan paus dan hamster
hanya memiliki sedikit MHC.
a. Kelinci
Imunitas kelinci hampir sama dengan manusia. Bedanya hanya variasinya
yang berbentuk minor. GALT pada kelinci terdiri atas apendiks, plak peyer
dan nosul limfatik difus, Kelinci memiliki limpa dan timus yang berkembang
baik. Umfopoiesis terjadi di sumsum tulang belakang dan sel matang
menempati jaringan-jaringan dan organ. Sitokin yang telah diidentifikasi
adalah MIF, faktor kemotaktik, MSF, IL-1, IL-2 dan TNF-α, Sel T, Sel B,
mikrofag, sel polimorfo nuklear, IgG, IgE, IgA, regio MHC-I dan MHC-II
telah banyak digambarkan.
b. Anjing
Struktur imun pada anjing serupa dengan tikus dan manusia. Anjing memiliki
mekanisme resistensi untuk mencegah penyakit. Kulit, membran mukosa, dan
Ig sama dengan manusia. Namun, imunitas selulernya berbeda dengan
manusia. MHC pada anjing dikenal sebagai DLA yang terbagi menjadi DLA-I
dan DLA-II. Sel NK, sel K, sel Ts telah diketahui. Juga ditemukan beberapa
penyakit defisiensi imun herediter yang dapat berhubungan dengan defisiensi
vitamin, mineral, Lupus Eritematosus Sistemik, dan MHC DLA-A7.
c. Kucing
Jaringan limfoid perifer dan timus pada kucing sama dengan mamalia lain.
Namun pada kucing ditemukan populasi makrofag intravaskular pulmoner
yang membuat kucing rentan terhadap renjatan septik atas peran TNF asal
makrofag. Sekitar 40-45% limfosit darah perifer adalah sel B, sedangkan 32-
41% adalah sel T. Drai sel darah perifer, 20% adalah sel null yang dianggap
sebagai sel NK. Aktivitas sel Th dan Ts, IL-1, IL-2, IL-6 dan IgA telah
diketahui. Pada kucing, IgE dan IgD belum diidentifikasi secara formal.
Respon lambat kurang kuat dibanding spesies lain, Reaksi granuloma
terhadap tuberkulin adalah reaksi esensial seperti halnya pada mamalia lain.
MHC pada kucing disebut FLA yang tidal polimorfik. Kurangnya Polimorfi
MHC memudahkan keberhasilan transplantasi sumsum tulang belakang.
Kucing memiliki semua komponen utama komplemen yang kadarnya
sama dengan mamalia lain. Organ sasaran utama anafilaksis pada kucing
adalah paru yang ditumbulkan oleh pelepasan serotonin dari sel mast sebagai
mediator utama. Deramtis akibat gigitan kutu adalah penyakit alergi kulit yang
paling sering terjadi pada kucing. Golongan darah kucing diketahui A dan B.
Di Amerika Serikat, 99% kucing berdarah A dan 1% B.
Penyakit autoimun spontan seperti anemia hemolitik, hipertiroidisme,
purpura trombositopenia, pemfigus vulgaris, pemfigus foliaseus, miastenia
gravis. LES dan AR dapat ditemukan pada kucing. Defideinsi imun jarang
terjadi. Imunodefiseinsi sekunder dapat disebabkan oleh FIV yang merupakan
virus lenti yang menurunkan CD4 yang menyerupai AIDS dan berakih serupa
dengan AIDS.
d. Kuda
Timus dan sumsum tulang merupakan sumber pembentukan sel T dan B.
Perkembangan sel B terjadi di plak peyer yang merupakan struktur tunggal di
ileum terminal. Ig terdiri atas IgG1, IgG2, IgM, IgA (serum dan sekretori) dan
IgE. Kolostrum mengandung kadar IgG1 yang sangat tinggi dan sedikit IgA.
IgA dalam susu berasal dari plasma. Anak kuda yang dilahirkan tidak
membawa Ig dari induknya dan dilahirkan denga agamaglobulinema. Namun
IgG dalam junlah besar asal induknya banyak ditemukan pada air susu
sebelum kuda dilahirkan. Tglobulin adalah protein serum yang diperoleh
setelah hipermunisasi yang merupakan subtipe IgG.
e. Babi
Imunitas babi berbeda dari tikus dan manusia yang memiliki 4 jenis plak Peyer
dan papila tonsil kecil yang mengeluarkan limfosit dari kelenjar limfoid
langsung ke sirkulasi darah. Babi memiliki IgG, IgA, IgE, IgM dan leukosit
perifer seperti pada manusia. Babi juga memiliki sel NK, mengekspresikan
molekul adhesi berupa E selektin, memproduksi sitokin (IL-2, IL-4, IL5, IL-
10, 1L-12, GM-CSF, dan G-CSF) dan faktor kemotaktik.
f. Kambing/domba
Terdapat gen molekul MHC-I dan MHC-II, imunoglobin dan sitokin. IgG
serum lebih tinggi dibanding dengan manusia. Tiga subset sel T utama adalah
CD4+ dan CD8+ yang mengekspresikan abTR bersama Th3 dan molekul
adhesi lainnya.
g. Primata selain manusia
Imunitas primata selain manusia merupakan model terbaik untuk banyak
penelitian penyakit manusia berdasarkan sistem imunnya yang sama dengan
manusia. Subset limfosit sama dengan yang ada pada manusia. Selain itu,
terdapat kesamaan dalam MHC dan gen TCR. Berbagai studi menunjukkan
adanya pertanda seluler dan molekuler dari populasi limfosit, subset dan
reseptornya, gen protein MHC-I dan MHC-II, imunoglobin dan sitokin. Plak
Peyer pada ileum merupakan organ limfoid primer untuk limfpoiesis sel B.
Kadar IgG dalam serum lebih tinggi pada domba dibanding manusia. Tiga
subset sel T utama adalah sel CD4+, CD8+, dan sel T3.

Referensi :

Bratawidjaya K G. Imunologi Dasar Edisi ke-12. Jakarta: Badan Penerbit

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2012.

Anda mungkin juga menyukai