Anda di halaman 1dari 3

Summary Culture as Text : Reading and Interpreting Cultures

Written by Doris Bachmann-Medick

From the Anthropological Turn to culture Turn. Pendekatan analisis


budaya dari etnologi begitu diminati sehingga banyak diadopsi oleh beberapa
dispilin ilmu pada era awal abad ke 20. Perluasannya pemahaman itu juga
berkaitan dengan studi budaya, sastra, dan ilmu sosial. Adanya peralihan dari
landasan dalam hal ini menimbulkan konsep yang maju dimana budaya muncul
sebagai “budaya sebagai teks”. Pengertian budaya sebagai teks adalah dimana
tanda-tanda dan simbol dihasilkan dari representasi dan Interpretasi individu
masing-masing. Perspektif tekstual yang komprehensif ini menciptakan
persimpangan baru yang signifikan antara ilmu-ilmu sosial dan studi sastra dan
tekstual. Praktik penelitiannya adalah menyoroti pengetahuan simbolik dalam
mediasinya melalui hubungan globalisasi budaya di luar batas budaya atau teks
‘Culture as Text’ Revisted : ‘Reading” of a Key Metaphor in Cultural
Analysis. Konsep “budaya sebagai teks” dalam implikasinya teks masuk kedalam
studi seperti, teknologi, genetik, gender, mental sistem dll. Travelling concept
menciptakan perluasan makna, 'budaya sebagai teks' dalam pengertian ini,
'budaya sebagai teks'. Solusinya adalah mulai memahami budaya yang
berkembang di 'teks budaya' tanpa menyamakan 'budaya' dengan 'teks. 'Budaya
sebagai teks' didasarkan pada pemahaman tentang budaya sebagai struktur makna
yang dikonversi ke dalam tanda-tanda secara terus- menerus. Pemahaman yang
berbeda tentang budaya, yang “tidak mereduksi [budaya] menjadi teks atau
'simbol', tetapi memahaminya sebagai sistem heterogen dan sistem terbuka dari
opsi-opsi praktis” (Algazi 113).
A Performative Reading of ‘Cultural as Text’. Sampai sekarang, batas
konsep 'budaya sebagai teks' telah dibahas dalam antropologi, sejarah, dan ilmu
sosial dengan semakin kuat (lihat Lindner 79). Studi sastra juga mengarahkan
perhatian baru pada korporealitas dan pada bentuk materialitas lainnya seperti
membaca dan menulis.
Dalam studi sastra pergeseran ini tidak hanya menyangkut hubungan
antara pembaca dan teks tetapi juga faktor-faktor material dan sosial seperti. Akan
tetapi, aspek performativitas saat ini tampaknya melampaui aspek representasi.
Perhatian yang lebih besar diberikan pada metode produksi, pola persepsi dan
praktik tekstualisasi. “Budaya sebagai teks' ternyata telah menjadi Travelling
concept, konsep yang tidak berjalan dalam garis lurus akan mengubah level
pemaknaan dan dengan demikian membuat proses penerjemahan dan pemahaman
yang mendalam. Teks-teks sastra menawarkan celah yang bermanfaat untuk ini:
melalui pengembangan kode budaya mereka sendiri seperti praktik, teknik
budaya, bentuk simbolisasi dan pola persepsi.
The Limit of Interpretive Categories : Pattern of Perception Instead of
Thematic References. Dominasi yang panjang dari pemahaman teks dan makna
yang berat terhadap budaya telah menyebabkan fokus yang berlebihan pada
pendekatan tematis dalam studi sastra. Studi sastra dimungkinkan pada tahap
bahwa objeknya tidak hanya mewakili teks budaya, tetapi juga memiliki nilai
estetika intrinsik.
Terlepas dari semua upaya kontekstualisasi budaya karena tidak hanya
konten budaya, tercermin melalui literatur, objek interpretasi yang diinformasikan
secara budaya, tetapi juga struktur dan pola representasi estetika. Dari perspektif
studi budaya, apa yang tampaknya penting di sini adalah surplus performatif, yang
diambil oleh istilah 'pelanggaran'. Hal ini digunakan untuk menunjukkan apa yang
mungkin muncul di luar pengetahuan budaya tekstualisasi dan digunakan untuk
mementaskan sendiri sebagai istilah yang berlawanan dengan 'ritual'. Karena
ritual adalah strategi disiplin budaya untuk mengelola proses transisi, transformasi
cenderung lebih mendasar ke arah 'restyling' kode dominan yang subversif.
Komentar :kebudayaan sebagai teks telah membuka ruang baru dalam
telaah lanjutan mengenai teks dalam beberapa disiplin ilmu, pemaknaan yang
melebar dan bias terhadap studi-studi lain mengharuskan dilakukan revisi
pemaknaan sebagai bentuk pemisahan makna yang konkret antara teks dan
budaya, dengan kata lain budaya sebagai teks mencerminkan sebuah fenomena
teks yang memiliki otonominya sendiri untuk bergerak, berubah, dan bersimultan
dengan makna dalam masyrakat, dengan demikian menyikapi gejala dalam
kebudayaan sebagai teks perlunya memahami teks secara mendalam dengan
tujuan mengembalikan pemaknaan sebagai bentuk pemurnian terhadap budaya
dan teks secara menyeluruh.