Anda di halaman 1dari 5

Roland Barthes: The World of Wrestling.

Pada awal kemunculannnya Gulat merupakan yang merupakan sebuah


pertunjukan pada zaman dahulunya. Secara olah raga, gulat merupakan
pertunjukan dua orang yang secara bebas saling menekan, mencengkram dan
membanting lawannya.
Ada yang mengganggap bahwa gulat bukanlah merupakan olah raga,
karena pada pertunjukkannya, pemain gulat sering menampilkan sebuah
pertunjukkan melayang di udara sebelum menyerang lawannya sehingga
pertunjukkan yang ditampilkan sangat spektakuler. Dan, di lain tempat yang
merupakan gulat sesungguhnya, dianggap merupaka pertunjukkan yang
amatir, hal ini disebabkan karena penonton yang tidak tertarik dengan
pertunjukkan biasa, dan meninggalkannya karena dianggap tidak terlalu
menghibur. What metter is not what it thinks but what I see (Rolanda Barthes :
87)
Fungsi dari pegulat tersebut bukanklah mendapatkan kemenangan, akan
tetapi gerak yang diharapkan saat penampilannya, ini sama halnya dengan
judo yang juga menampilkan seni gerak sebagai symbol. Akan tetapi, gulat
cenderung berlebihan dalam menampilkan gerak saat bertarung, sedangkan
judo secara tegas ingin mengalahkan lawannya baik itu dengan bantingan atau
yang lainnya. Gulat juga menunjukkan bahwa dia diasumsikan oleh penonton
adalah simbol pertujukkan bukan pertarungan itu sendiri.
Dalam pertujukkan gulat, pegulat juga berbicara lewat gesture dan sering
berkomunikasi dengan penonton, sama halnya dalam pertujukkan sebuah
tetater musik di mana ekspresi ini digunkan sebagai bentuk dari symbol saat
kontes berlangsung.
Bahasa tubuh yang juga ditampilkan, seperti halnya gesture tempramen
saat perlombaan berlangsung, dan ini adalah inti dari gulat tersebut. Gulat juga
diibaratkan sebuah tulisan yang ber-episode dimana setiap ceritanya ada
simbol dan arti, sedangkan dalam gulat-pegulat biasanya akan menampilkan
perilaku, mimikri yang menarik penonton selama pertandingan berlangsung..
Gulat juga menampilkan adegan seperti halnya komedian, sama halnya
seorang yang bermain pantomim, mereka menggunkan anekdot dll. Gulat juga
menampilkan bentuk penderiataan dari kekerasan dalam pertandingan yang
tampa aturan dan penuh kebrutalan. Dan, semua tanda dan simbol yang
dimunculkan mengindikasikan ini adalah sebuah hal yang natural di mata
penontonnya.
Roland Barthes:“There are people who think wrestling is ignoble sport,
wrestling is not sport, it is a spectacle, and it is no more ignoble to attend
wrestled performance of suffering than a performance of the sorrows of
anorlophe or adromaque.”

Marshall Sahlins : Food as symbolic code.


Sejarah materialisme merupakan wujud kesadaran dari kelompok Borjuis.
Bentuk kesadaran itu tidak tampak kepermukaan, Akan tetapi muncul dalam
perilakunya, dalam hal ini adalah perilaku kebutuhan yang dimunculkan
sebagai bentuk pemuasaan semata yang hanya menitiberatkan pada nilai tukar.
Pemaknaan secara simbol yang dihadirkan masyarakat, yakni kalangan
Borjuis melalui hubungan simbol-simbol yang mereka miliki dalam hal
meterial telah menjadi objek yang melahirkan struktur dalam masyarakat.
Orang Amerika juga dalam masyarakatnya memberikan penilaian dan
kategori terhadap daging. Yang bisa dikonsumsi (edible) dan tidak bisa
dikonsumsi (inedible), Sapi, domba, babi. Akan tetapi, kuda diperilihara
karena bagi kalangan Borjuis itu adalah tunggangan dan merupakan hewan
peliharaan sehingga bukan daging yang boleh dikonsumsi.
Sama halnya dengan kuda, anjing juga merupakan hewan yang tidak bisa
dikonsumsi karena mereka telah menganggap anjing adalah merupakan
bagaian dari hewan yang berada dalam simbol keluarga, karena mereka hidup
dan berdampingan, bahkan tidur dalam satu naungan bersama manusia
sehingga tabboo untuk dikonsumsi “bagian dari keluarga”. Bentuk-bentuk
simbol keluarga itu hadir dalam hewan peliharaan adalah salah satunya
mereka memberikan nama seperti yang dilakukan oleh Francis dan Amerika
dalam penelitian Levi-Strauss’s.
Dalam hal katergori daging mereka membedakan daging “outer” dan
“Inner. Daging yang disebut steak umumnya dikonsumsi oleh kalangan
tertentu, dan jeroan yang harganya lebih murah dikonsumsi oleh kalangan
bawah. Dari pemaparan tersebut Sahlins menjelaskan bahwa adanya nilai
sosial yang dilihat dalam mengklasifikasikan daging sebagai bentuk perbedaan
kelas ekonomi di dalam masyarakat.
“as Marx taught, “while men reproduce the whole nature.” Dalam konsep
masyrakat Borjius adanya hasrat dimana akan kebutuhan dan gaya hidup tidak
bisa dibedakan lagi. Kebutuhan sebagai symbol telah dihadirkan oleh
masyarakat dari kalangan Borjuis yang mendefiniskan sesuatu berdasarkan
hasrat mereka, yang dimana tidak bisa membedakan kebutuhan sebagai objek,
akan tetapi sebagai nilai yang memiliki arti, sehingga materi dan sosial tidak
kontras lagi dan tidak bisa dibedakan.

Shuya Yoshimi : 9 Consuming ‘America’ : From Symbol to System.


Tokyo Disneyland (TDL) dibuka di pinggiran kota Tokyo pada 1983 dan
1980-an. TDL telah menjadi contoh yang dirancang dengan sangat baik dari
konsumerisme Jepang yang terorganisir sebagai bentuk ‘Amerika’ di Jepang
sebagai kulminasi dari ‘Amerikanisasi’ Jepang pascaperang.
Amerikanisasi budaya di Jepang tidak dimulai di bawah tekanan militer
dan ekonomi Amerika setelah Perang Dunia II, tetapi dimulai jauh
sebelumnya pada akhir 1920-an. Film-film Hollywood, barang-barang
konsumsi, gaya hidup Amerika hadir dan menarik masyarakat, seperti Tokyo
dan Osaka.
Menurut Takanobu Murobuse, yang dibantah Yoshimi bahwa
Amerikanisasi sudah ada dan sudah dibahas secara luas pada dekade 1920-an.
Pada akhir 1920-an hingga 1930-an, dimana gaya hidup Amerika juga
menyerupai gaya hidup urban Jepang pada masa itu.
Sedangkan Soichi Oya Amerikanisasi menyebar di kota-kota besar seperti
Osaka dan memebrikan gelar bahwa‘Osaka adalah Amerika-nya Jepang’.
Setelah 1930-an, Ginza di Tokyo menjadi pusat dari perkembangan baru dari
Amerikanisasi di Jepang pada periode pascaperang. Kosei Ando dalam
bukunya Giza Saiken (1931) bependapat gaya hidup masyarakat Ginza
diimitasi dari film-film Amerika.
Pada 1943, Ikutaro Shimizu menunjukkan Amerikanisasi hadir dalam
bentuk kontemporer, berbeda dari Amerika Serikat semakin terkait dengan
kehidupan privat dari konsumsi massal dan sangat bertolak belakang dari
Jepang. Sejak akhir 1940-an, juga hadir dalam ranah media, surat kabar Asahi
shinbun, juga banyak menampilkan simbol-simbol Amerika. Sejak 1970-an,
Amerika bukan lagi hanya simbol ‘kekayaan’ dan‘kebaruan’, tapi terjadi
transformasi budaya yang menjadikan Amerika sebagai sistem yang
beroperasi pada keseharian orang Jepang.
Tokyo Disneyland menghadirkan sebuah hiburan yang sangat berbeda dari
aslinya, TDL menampilkan yang tadinya bersifat natural dengan nuasa alam
menjadi ke nuasan yang lebih realis dengan menhadirkan tokoh-tokoh film
yang seolah menjadi nyata dalam kehidupan mereka. Dalam pertunjukkannya
TDL merupakan suatu bentuk yang baru dari TDL ada yang dibuat oleh
Walter Disneyland di Jepang, mereka mengadopsi bentuk TDL itu sendiri,
akan tetapi hadir sesuai dengan budaya Jepang. Simbol kosumerisme sebagai
mana dijelakan hadir dalam bentuk “kakkoii’(Stylish) dan “kawai” menjadi
bentuk dari bentuk ekspresi yang dihadirkan oleh kreator TDL, yang secara
tidak langsung mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dari budaya
kosumerisme di jepang yang dirancang oleh sistem kapitalisme.