Anda di halaman 1dari 4

The nature and growth of material culture studies

Penelitian tentang material culture merupakan sebuah sejarah dari berbagai


multidisiplin yang bisa dilacak berdasarkan pembacaan beberapa teori dan kebiasaan dalam
penelitian kita. Beberapa fokus material culture membicarakan evolusi dari antropologi,
sosiologi dan teori sosial, pasar dan pendekatan kebiasaan komsumsi masyarakat, komsumsi
dalam sosiologi, dan kebahruan dalam antropoligi komsumsi dan perilaku pasar.

Evolusi dari antropologi dan kemunculan dari berbagai perbedaan budaya.


Pemahaman dan fokus pembahasaan tentang material culture berada dalam ruang
lingkup mendokumentasikan dan mengelompokkan berbagai dari keragaman budaya
masyarakat, di mana material culture berada pada posisi penggambaran objek penelitian.
Hasil utama yang diharapkan dalam penelitian adalah bagaimana menjadikan benda-benda
atau jejak peradaban untuk mengerti kebiadaan dan budaya masyarakat berdasarkan jejak-
jejak perdabannya dari masa lampau; benda-benda, dokumen, atau peristiwa sejarah.
Dari material culture kita bisa melihat bahwa pemahaman tentang hubungan benda
lebih dikaitkan sebagai hubungan penanda dan kehadiran manusia. Disiplin ini seharusnya
bisa berkembang, akan tetapi menjadi bagian dari pemahaman atropologi ketimbang material
culture itu sendiri.

Sociological theories of modernity: commodities and the values of modern society.


fokus dalam pembahasan ini adalah dimana adanya kecendrungan dari pengaruh
produksi kapitalisme terhadap perilaku dan kapasitas masyarakat borjuis dalam politik
ekonomi, sosiologi dan budaya dari abad ke-20. Pada pemahannya tidak hanya berpaku pada
hubungan produksi dan pengaruh komsumsi sebagai objek, akan tetapi lebih jauh lagi melihat
etika dan ideologi yang dibangun dalam perilaku konsumsi.
Untuk melihat dan membedakan konsep dari analisis dalam material culture pada
bacaan Marx dan Simmel. Marx- manusia mengenal nilai dari objek-objek disekitarnya untuk
memproduksi dan mengerti posisinya di dunia. Simbol produksi berasal dari politik sistem
ekonomi kapitalisme di mana kemewahan merupakan simbol dari kekayaan dan privasi baik
kaum pekerja dan kaum borjuis, yang pada akhirnya dilihat Marx sebagai perwujudan dari
eksploitasi kapitalisme dalam membangun ruang-ruang bagi komsumennya dalam hubungan
yang. Sedangkan, Simmel beranggapan bahwa objektifikasi terhadap benda akan
menciptakan ruang untuk tumbuhnya reifikasi dan alienasi terhadap manusia dan benda.
Marketing and psychological approaches to consumer behaviour
Dengan mengenal kebiasaan komsumsi dan budaya dari materialisme dalam konteks
kebudayaan. Benda-benda yang dipahami dalam masyarakat diintentifikasikan sebagai
bentuk hubungan relasi indentitas yang dibangun oleh pembeli. Material culture menggap
penomena ini sebagai bentuk proses keterikatan individu dalam budaya yang ada pada
masyarakatnya baik itu, cara berpakaian, ataupun benda-benda yang di luar dari inti
kebutuhan individu tersebut.

The new anthropologies of consumption and economic behaviour.


Kebahruan dalam pendekatan ini adalah mulai mempertimbangkan praktik manusia
dan benda-benda disekitarnya, seperti kebiasaan berbelanja, berpakaian, dan tempat tinggal
yang semua hal tersebut merupakan lingkaran material culture di dalam masyarakat dengan
yang ditelaah menggunakan antropologi, philosopi, dan sosiologi.

Basic premises of the material culture approach


Dalam perkembangan material culture bahwa posisinya menyatakan bahwa konteka
pembahasan tidak terlepas dari multidisiplin pendekatan seperti sosiologi, sejarah,
antropologi, dan psikologi yang merupakan element penunjang yang mampu menjelaskan
penomena dari manusia dan benda dalam pengertian material culture.
Secara lebih jauh kerangka berpikir seperti strukturalisme dan semiotik juga
berperang dalam mengobservasi pemahaman yang ada dalam hubungan manusia dan benda-
benda sekitarnya. Analisis juga berlanjut pada pemahaman fundamental tentang mengenal
material culture sebagai objek yang berperan dalam budaya dan masyarakat itu bekerja.
Dalam tataran akademik pemahaman secara spesifik dalam pembahasan material
culture terus berkembang, perlu ditambahkan bahwa rekam jejak benda-benda yang berada
pada masyarakat perlu diikutsertakan sebagai bukti kemunculan produksi dan perdistribusi
benda-benda yang hadir dalam ruang lingkup kebudayaan.
Objek mengambil peranan penting dalam simbol atau representasi budaya yang ada.
Fungsinya berperan mengilustrasikan sehingga kita bisa mengenalo bentuk dari kebudayaan.
Dalam praktiknya kita bisa mengenal kelompok masyarakat tertentu dengan mengenali objek
dari benda yang berada dalam ruang lingkup mereka.
Dan, tidak hanya pada tataran objek secara langsung pemahan dalam material culture,
secara lebih lanjut kita memahami bahwa objek direpresentasikan sebagai sebuah cerminan
dari kehidupan sosial yang kita pahami bersama. Untuk memahami gejala ini kita
mengembangkan pemahasan terhadap bentuk politik ekonomi dan relasi objek yang beralaku
dalam masyrakat.

Objects have social lives


Objek dari material culture, juga berkaitan dengan manusianya sendiri dalam praktiknya di
kehidupan sosial manusia sering dijadikan objek yang menyajikan bentuk deskriminasi dan
pengelompokan. As Kopytoff states (1986: 78–9):
...the public culture offers discriminating classifications here no less than it
does in small scale societies.
Kehidupan sosial yang ada pun tidak luput dari pengaruh kapitalisme untuk
menciptakan kebutuhan yang menyuguhkan mobilitas di luar dari kebutuhan primer, dan
sebuah narasi pun tercipta dari asosiasi yang dibangun oleh kapitalisme (Hebdige’s (1988)
essay on the networks of production and consumption).

Kesimpulan.
Meterial culture secara luas telah tumbuh bersamaan dengan hadirnya sumber-
sumber literasi dan disiplin ilmu penunjang yang mampu menciptakan kebahruan
pemahaman dalam penomena masyarakat dan budayanya. Awal dari tumbuhnya penelitian
material culture juga membatu dalam melacak sejarah dari peradaban manusia terhadap
benda yang ada disekitarnya, seperti kecendrungan masyarakat mengoleksi senjata yang
dalam strukturnya kita bisa melihat ada kecendrungan pendidikan, sejarah kemiliteran, atau
ketertarikan akan pahlawan. Model dari gagasan ini adalah berkaitan dengan sosial konteks
dan secara khas disampaikan dalam hubungan beberapa aspek dari seni produksi (Franz Boaz
material culture, selanjutnya diterapkan oleh Jacknis 1985).
Material culture juga menjadi kritik terhadap aspek psikologi, kebiasaan, perilaku
konsumsi, dan kehidupan sosial. Dari aspek-aspek tersebut kita bisa melihat bagaimana
bahwa perlaku konsumsi tidak hanya selalu diasosiakan dengan kapitalisme saja, akan tetapi
kita bisa melihat pergerakannya manusia juga didasari berbagai aspek pola pikir, kebiasaan
dan kebudayaan yang berada pada dirinya yang semua tersebut membuka kemungkinan
pengaruh kapitalisme dan budaya komsumerisme tubuh subur karena masyarakat tidak
menyediakan ruang untuk berpikir kritis atas arus penomena kebudayaan yang ada.