Anda di halaman 1dari 5

“Konsep Civilization dibawa oleh orang Eropa (Khususnya) ke Indonesia melalui

kolonialisme, sebuah konsep yang erat kaitannya dengan budaya”.

Kemajuan Pendidikan, kesenian, perdagangan, dan persenjataan bangsa Eropa


dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain mengilhami pemikiran mereka untuk melakukan
ekspansinya lebih jauh ke benua Afrika dan Asia, termasuk dalam ini adalah Nusantara
pada abad ke 14 dengan tujuan pencarian rempah-rempah.
Jatuhnnya Malaka oleh Portugis pada 1511 sebagai bentuk represinya dalam
dominasi perdangan rempah-rempah dunia menyebabkan kolonialisasi terhadap
penguasaan sumber daya dan masyarakatnya tidak terelakan, yang pada praktiknya tidak
mentiadakan hubungan dengan negara jajahannya. Konsep peradaban seperti ini juga bisa
disebut sebagai bentuk promosi legitimasi sistem yang ditanamkan kepada rakyat
jajahannya. Sistem yang hadir pada nantinya juga akan membawa unsur-unsur kebudayaan
berdasarkan dasar alam pemikiran bangsa Eropa.
Nusantara jika dilihat dalam kebudayaannya sangat beragam. Beberapa ragam
kebudayaan tersebut dalam mata bangsa Eropa terkadang tidak memiliki rasionalitas,
karena mereka menganggap seperti ritual, berkesenian, atau cara berpakaian dan hidup
tidak sejalan dengan konsep rasionalitas orang Eropa.
Adanya pengkaburan makna kebudayaan oleh bangsa Eropa karena bertolak
belakang dari apa yang mereka pahami menyebabkan pemahaman materialisme mereka
bekerja untuk memberadapkan masyarakatnya, sebagai wujud konsep rasionalitas yang
masuk akal bagi bangsa Eropa.
Konsep Civilization juga mensyaratkan kebudayaan berdasarkan persepsi bangsa
Eropa hadir dalam unsur politik, pendidikan, pergaulan sosial, cara pengendalian sumber
daya alam, dan berkesenian. Beberapa syarat yang telah disebutkan sangat erat dengan
kebudayaan, apakah adanya resistensi nantinya tergantung bangsa Indonesia menyikapinya
baik itu secara positif ataupun negatif, menerima dan tetap mempertahankan kebudayaan
yang ada atau menolak secara tegas hadirnya kebudayaan yang tidak sesuai dalam alam
pemikiran masyarakat Indonesia. Dalam hal ini akan ditinjau pengaruhnya pada contoh
kasus pendidikan dan politik.
Pendidikan.
Pendidikan bangsa Eropa sangat bergitu maju baik itu dalam kesusatraan maupun
dalam kesenian. Bangsa Eropa sangat mengedepankan pendidikan dan kesenian sebagai
wujud kesempurnaan individu dalam kemampauan intelektualnya yang sesuai pranata-
pranata sosial masyarakat Eropa. Dan, kemajuan zaman dalam taraf penyetaraan bisa kita
katakan sebagai residu pemikiran bangsa Eropa yang egaliter. Sadar atau tidak sadar
gagasan manusia sebagai individu yang bebas, dan mandiri masuk dalam tataran
masyarakat Indonesia juga.
Dari gagasan kesamaan hak manusia maka bisa kita katakan bahwa pendidikan
seharusnya tidak memandang gender pria atau wanita, sedangkan dalam masyarakat
Indonesia masih sangat tabu bahwa wanita harus bersekolah pada abad ke 19. Pada tahun
1912 narasi itu hadir sebagai salah satu bagian sejarah dalam bidang pendidikan
masyarakat Indonesia, dimana kartini mendirikan sekolah bagi para perempuan pribumi.
Pada tahun sebelum Kartini mendirikan sekolah bagi perempuan, di pulau sumatera
tepatnya di kota Gadang-sumatera barat pada tahun 1911. Seorang yang bernama Rohana
Kudus telah mendirikan Kerajinan Amai Setia. Ia dilatih oleh ibu angkatnya untuk
mengenal aksara dan keterampilan lainnya sejak diadopsi oleh keluarga belanda, dan apa
yang dilakukannya mengilhami perempuan lain untuk mengekspresikan pendapatnya
diluar dari batas dan stigma yang ada.
pada tahun 1928 juga muncul gerakan yang menjadi tonggak sejarah bagi
pergerakan perempuan Indonesia, sebagaimana diketahui adanya kongres perempuan yang
dilaksanakan di yogyakarta. Di koto Gadang sendiri penolakan itu sendiri dari kalangan
kaum ulama dan adat. Akan tetapi, banyak pihak baik dari kalangan nasionalis dan pejabat
kolonial mengapresiasi kongres yang dilaksanakan tersebut (Blackburn, 2007: xviii).
Dalam narasi sejarah yang terjadi kita bisa melihat bahwa bangsa Eropa sangat
mengapresiasi hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan pendidikan, kontras dengan
masyarakat dengan stigma masyarakat tentang konsep pendidikan.
Pemenuhan kesempuarnaan intelektual, dalam hal ini adalah kesetaraan gender
dimaksudkan agar kemampuan itu juga bermanfaat bagi dirinya secara maksimal
memanglah diperlukan. Akan tetapi, tahap ini juga tidak lepas dari wajah bangsa Eropa.
Tahap peradaban yang hendak dicapai adalah yang sesuai dengan penampilan ciri pranata
yang telah berkembang di dalam masyarakat Barat Akhir abad ke 19 (Masinambow : 15).
Pada dasarnya keliru bahwa masyarakat kita tidak mengedepankan pendidikan.
Dalam naskah kitab Cermin karangan Abdul karim Amrullah, ulama awal abad 19, tidak
melarang seorang wanita untuk memperoleh pendidikan, jikalau dia tidak mendapat
pendidikan agama dan adat-istiadat yang cukup dari lingkungan keluargannya.
Kebudayaan dalam ranah pendidikan yang hadir pada era kolonialisasi telah
menghegemoni dalam bentuk narasi-narasi kebahruan yang secara budaya sangat bertolak
belaka dari masyarakat Indonesia, yang secara budaya dan agama masih sangat kental.
Narasi dalam era kolonial yang lebih ngedepankan rasionalitas telah mentiadakan konsep
pendidikan kebudayaan yang telah ada pada masyarakat. Dalam sejarah di atas kita bisa
memberi gambaran bahwa apa yang dilakukan dalam pergerakan yang dilakukan baik
Kartini maupun Rohana Kudus merupakan wujud cerminan pandangan bangsa-bangsa
Eropa tentang kemajuan zaman, yang kebahruan tersebut juga membawa nilai positif bagi
kaum wanita di Indonesia hingga sekarang.
Politik.
Mengutip Pidato dari Seno Gumirah Ajidarma, dalam Pindato tahunan di Dewan
Kesenian Jakarta dengan judul Kebudayaan dalam Bungkus Tusuk Gigi. “bahwa narasi
industri 4.0 adalah sebuah kepanikan moral yang khawatir terhadap perubahan zaman
bahwa Indonesia akan ketinggalan dan gagal.” Asumsi-asumsi, dan abstraksi-abstraksi
yang selalu hadir nyatanya tidak terlepas dari tujuan superioritas agar mampu menjadi
kebudayaan yang lebih tinggi dan bergerak cepat dengan yang lain.
Kenyataannya pada tataran masyarakat tujuan dan cita-cita dari sebuah pranata
sosial baik ditingkat nasional, suku bangsa, dan lokal masih belum memuaskan. Hadirnya
narasi politis Industri 4.0 sebagai perangkat mengimbangi industrilisasi dan globalisasi
tidak ubahnya sebuah sisi bangsa Eropa pada abad ke 19 yang tidak terlepas dari konsep
pergerakan intelektual evolusionisme yang menilai kebudayaan dari luar kebudayaan itu
sendiri. Demikian pula halnya dengan sistem berpikir dari pendukung kebudayaan itu,
yang harus dijelaskan dan dipahami bukan atas dasar rasionalitas yang berasal dari luar
kebudayaan itu sebagaimana dilakukan penganut evolusionisme (Masinambow :15).
Jauh kebelakang kita juga bisa melihat konsep kolonialisme juga mengalami
perubahan ke konservatif yang dijalankan dalam sifat yang hagemonic. Bangsa Eropa,
dalam hal ini belanda menjalankan praktik politiknya sangat konsevatif, tampa mentiadakn
hubungan dengan masyarakat jajahannya seperti yang telah disimpulkan pada awal
pembahasan.
Berdasarkan sumber literatur sejarah. Muhammad (2004:71-76) mengatakan bahwa
pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, Belanda mengalami berbagai peristiwa
merugikan, seperti perdagangan VOC merosot, perebutan daerah kekuasaan oleh Inggris,
muncul revolusi di Prancis, korupsi dalm tubuh VOC, hutang hingga 1347 gulden, dan
lain-lain. Hal ini membuat pemerintahan Hindia Belanda mengubah kebijakan politiknya
di Nusantara, dari kolonial ke konservatif. Politik ini bermakasud untuk menjajah suatu
daerah dengan mendekati penguasa daerah tersebut dan menempatkan agenya ditengah
kekuasaan.
Balik ke masa sekarang, praktik kolonial dalam represinya yang konservatif masih
kita temui hingga sekarang dalam ruang-ruang politik dimasyarakat. Jika belanda
menempatkan agenya dalam sebuah daerah jajahan untuk mengontrol pengolahan dan
penerimaan hasil bumi. Fenomena program Pemberdayaan Masyarakat bisa kita asumsikan
serupa dengan konsep tersebut. Di satu sisi kita bisa melihat bahwa pentinya dihadirkan
program tersebut agar masyarakatnya, terutama masyarakat pendesaan maju, akan tetapi di
lain pihak hasil dari kerja masyarakat dalam program tersebut terkadang dipegang dan
dikontrol oleh beberapa pihak yang lebih dominan dalam masyarakat saja. Dibeberapa
kasus alih kontrol kekayaan desa juga terjadi dimana itu muncul saat perusahaan hadir
dalam kelembagaan desa.

Kesimpulan.
Persepsi bangsa Eropa terhadap bangsa-bangsa lain bahwa mereka merupakan
sebuah cerminan kebudayaan yang tinggi juga meninggalkan residunya bagi Indonesia
dalam konsep kebudayaannya yang ada. Kebudayaan yang hadir di Indonesia dalam
perjalanan ruang dan waktunya tidak memang tidak terlepas dari ruang historis dimana
hadirnya penjajahan oleh bangsa Eropa sehingga konsep Civilization yang sampai
sekarang masih tercerminan dalam wujud narasi-narasi dan ide-ide peradaban yang maju.
Dimana adanya pengendalian oleh masyarakat dari dorongan-dorongan elementer manusia
dibandingkan dengan keadaan tidak terkendalinya atau pelampiasan dari dorongan-
dorongan itu (Masinambow :8).
Bibliografi.
Masinambow, E.K.M . Teori Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Budaya. [PDF file].
Rakhadiyati, Ayu M. (2018). Surat Perjanjian Ternate : Edisi Teks Disertai Analisis
Sejarah dan Kebahasaan . Jakarta: PERPUSNAS.
Yulfira Riza, Titin Nurhayati Ma'mun. (2019). Berdamai dengan Perempuan: Komparasi
Teks antara Naskah Al-Muāshirah dan Kitab Cermin Terus. Jakarta : Journal Manassa-
Manuscripta Vol. 9, No. 1.

contohnya dari kasusnya di Indonesia :


pendidikan :