Anda di halaman 1dari 17

TUGAS TERSTRUKTUR

KEMUHAMMADIYAHAN
“ MUHAMMADIYAH DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN “

Dosen Pengampu :
Dr. Ibnu Hasan, M.S.I

Disusun Oleh :
1. Rizky Manthovany A A 1902010081
2. Tresia Esan Vabella 1902010144
3. Hilal Wahyu Santoso 1902010262
4. Dewi Wijayanti 1902010298
5. Dinda Puspa Salsabilla 1902010363

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO


FAKULTAS EKONOMI & BISNIS
PRODI MANAJEMEN
2020

1
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan limpahan rahmatnya maka kami dapat menyelesaikan sebuah karya tulis dengan
tepat waktu. Berikut ini kami mempersembahkan makalah dengan judul “ Muhammadiyah
dan Pemberdayaan Perempuan“ yang menurut kami dapat memberikan manfaat yang
besar bagi kita semua.
Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada
penulisan maupun materi. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan
demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyampaikan ucapan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, dan
kepada bapak Ibnu Hasan, M.S.I selaku dosen pada mata kuliah Kemuhammadiyahan yang
telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
ini dengan baik.

2
DAFTAR ISI

TUGAS TERSTRUKTUR ...................................................................................................... 1


KATA PENGANTAR .............................................................................................................. 2
DAFTAR ISI............................................................................................................................. 3
BAB I (PENDAHULUAN) ...................................................................................................... 4
A. Latar Belakang .......................................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah ..................................................................................................... 5
C. Tujuan ........................................................................................................................ 5
BAB II (PEMBAHASAN) ....................................................................................................... 6
A. Cara K.H. Ahmad Dahlan Memberdayakan Perempuan ..................................... 6
1. Ahmad Dahlan dan Perempuan .............................................................................. 6
2. Pendirian ‘Aisyah ...................................................................................................... 6
3. Diskriminasi Perempuan .......................................................................................... 7
4. Pemberdayaan Perempuan ...................................................................................... 8
B. Kesetaraan Gender Dalam Muhammadiyah.......................................................... 9
1. Pandangan Kepemimpinan Perempuan Dalam Islam .......................................... 9
2. Perspektif Muhammadiyah Tentang Kepemimpinan Perempuan .................... 10
3. Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Politik Di Persyerikatan
Muhammadiyah .............................................................................................................. 11
C. Peran Perempuan Muhammadiyah Dalam Kehidupan Berbangsa dan
Bernegara ............................................................................................................................ 12
BAB III (KESIMPULAN) ..................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 17

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan organisasi gerakan Islam di Indonesia tumbuh dan berkembang sejak dari
negeri ini belum mencapai kemerdekaan secara fisik sampai pada masa reformasi sekarang
ini. Perkembangannya bahkan kian pesat dengan dilakukannya tajdid (pembaharuan) di
masing-masing gerakan Islam tersebut. Salah satu organisasi gerakan Islam itu adalah
Muhammadiyah. Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia.
Bahkan merupakan gerakan kemanusiaan terbesar di dunia di luar gerakan kemanusiaan yang
dilaksanakan oleh gereja, sebagaimana disinyalir oleh seorang James L. Peacock. Di
sebahagian negara di dunia, Muhammadiyah memiliki kantor cabang internasional (PCIM)
seperti PCIM Kairo-Mesir, PCIM Republik Islam Iran, PCIM Khartoum–Sudan, PCIM
Belanda, PCIM Jerman, PCIM Inggris, PCIM Libya, PCIM Kuala Lumpur, PCIM Perancis,
PCIM Amerika Serikat, dan PCIM Jepang. PCIM-PCIM tersebut didirikan dengan
berdasarkan pada SK PP Muhammadiyah. Di tanah air, Muhammadiyah tidak hanya berada
di kota-kota besar, tapi telah merambah sampai ke tingkat kecamatan di seluruh Indonesia,
dari mulai tingkat pusat sampai ke tingkat ranting. Nama organisasi ini diambil dari nama
Nabi Muhammad SAW, yang berarti bahwa warga Muhammadiyah menjadikan segala
bentuk tindakan, pemikiran, dan perilakunya didasarkan pada sosok seorang Rasulullah, Nabi
Muhammad SAW.
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam memiliki cita-cita ideal yang dengan sungguh-
sungguh ingin diraih, yaitu mewujudkan “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. Dengan
cita-cita yang ingin diwujudkan itu, Muhammadiyah memiliki arah yang jelas dalam
gerakannya, sebagaimana dikemukakan oleh Dr. Haedar Nashir dalam makalah
Muhammadiyah dan Pembentukan Masyarakat Islam (Bagian I, 2008). Organisasi Islam
Muhammadiyah tumbuh makin dewasa bersama organisasi Islam besar lainnya sekelas
Nahdlatul Ulama (NU), merambah ke segala bentuk kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi dengan tetap mengedepankan kepentingan umat dari segi sosial-budaya, ekonomi,
kesehatan, dan pendidikan. Namun demikian, Muhammadiyah tetap selalu melakukan tajdid
dalam aspek ruh al Islam (jiwa keislamannya).

4
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara K.H. Ahmad Dahlan memberdayakan perempuan?
2. Bagaimana kesetaraan gender dalam Muhammadiyah?
3. Apa saja peran perempuan Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana cara K.H. Ahmad Dahlan dalam memberdayakan
perempuan.
2. Untuk mengetahui bagaimana kesetaraan gender dalam Muhammadiyah.
3. Untuk mengetahui apa saja peran perempuan Muhammadiyah dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Cara K.H. Ahmad Dahlan Memberdayakan Perempuan


1. Ahmad Dahlan dan Perempuan
Pemberdayaan perempuan menjadi strategi penting dalam meningkatkan potensi dan
peran perempuan agar lebih mampu mandiri dan berkarya. Kesadaran mengenai peran
perempuan mulai berkembang yang diwujudkan dalam program pembangunan. Hal ini
didasarkan pada satu pemikiran mengenai perlunya kemandirian bagi kaum perempuan,
supaya pembangunan dapat dirasakan oleh semua pihak.
Ahmad Dahlan, sang pendiri Muhammadiyah, adalah salah satu dari sekian ulama terkemuka
di awal abad ke-20 yang sangat memperhatikan kepentingan perempuan. Jauh sebelum isu
kesetaraan gender atau feminisme berkembang di tanah air, beliau sudah bekerja untuk
menempatkan kaum perempuan dalam posisi yang setara dengan pria meskipun dengan tugas
yang berbeda. Salah satu bukti bahwa Ahmad Dahlan tidak menjadikan perbedaan jenis
kelamin terlihat dalam penempatan daftar pendakwah Muhammadiyah yang tidak selalu
didominasi oleh kaum adam. Bisa dibilang ini merupakan gebrakan baru pada dekade kedua
abad ke-20 itu dimana juru dakwah perempuan masih sangat sedikit sekali jumlahnya. Sejak
awal Muhammadiyah berdiri di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912, Ahmad Dahlan
memposisikan perempuan sebagai pilar penting untuk mendukung organisasinya itu. Itulah
kemudian, Ahmad Dahlan dan istrinya, Siti Walidah membentuk ‘Aisyiyah pada tahun 1914
yang bertujuan sebagai wadah pergerakan bagi perempuan Muhammadiyah.
2. Pendirian ‘Aisyah
‘Aisyiyah berawal dari sebuah pertemuan yang berlangsung di rumah K.H. Ahmad
Dahlan pada 1917. Hadir di sana, antara lain K.H. Fachrudin, K.H. Mochtar, Ki Bagus
Hadikusumo, dan enam orang gadis muslimah yang memang telah dikader sebelumnya
melalui Sopo Tresno, yakni Siti Bariyah, Siti Dawimah, Siti Dalalah, Siti Busjro, Siti
Wadingah, dan Siti Badilah. Hasil rapat memutuskan bahwa organisasi perempuan
Muhammadiyah akan segera terbentuk. Namanya, ‘Aisyiyah—sesuai dengan usulan K.H.
Fachrudin. ‘Aisyiyah didirikan bukan untuk membedakan posisi antara laki-laki dan
perempuan. Justru Ahmad Dahlan menyadari bahwa Muhammadiyah sangat memerlukan
peran dari kaum hawa. ‘Aisyiyah menjadi tangan kanan Muhammadiyah untuk merespons
isu-isu perempuan dan sekaligus memberdayakannya melalui jalur pendidikan dan pelayanan
sosial. Bersama ‘Aisyiyah, Ahmad Dahlan memobilisasi perempuan untuk memasuki

6
peradaban yang modern, termasuk menjadi pelopor bermunculannya juru dakwah perempuan
yang sebelumnya masih teramat langka. ‘Aisyiyah menjadi salah satu warisan Ahmad Dahlan
yang paling berharga, tentu saja juga dengan peran krusial sang istri, Siti Walidah atau Nyai
Ahmad Dahlan. Hingga tahun 1938, ‘Aisyiyah telah menghasilkan lebih dari 2.000 orang
muballighah dan mengelola banyak sekali sekolah perempuan.
3. Diskriminasi Perempuan
Persoalan sosial yang saat ini menjadi banyak perhatian masyarakat adalah tindak
kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak. Bermuculannya kriminalitas yang menjadikan
perempuan sebagai korban, telah cukup lama menjadi perhatian pemerintah maupun
organisasi sosial kemasyarakatan. Sampai saat ini, persoalan tersebut masih relevan untuk
terus dicarikan formula antisipasinya. Muhammadiyah merupakan salah satu dari sekian
elemen masyarakat yang cukup konsen dalam menyelesaikan persoalan perempuan akibat
diskriminasi yang melanda mereka. Diskriminasi terhadap perempuan menjadi perhatian
sejak awal berdirinya persyarikatan Muhammadiyah di era Kyai Dahlan.
Ajaran K.H. Ahmad Dahlan melalui Muhammadiyah memandang bahwa laki-laki dan
perempuan adalah setara. Kyai Dahlan sangat memperhatikan perempuan sebagai generasi
penerus umat islam. Karena itulah, Kyai Dahlan menyuruh agar perempuan juga harus belajar
dan bersekolah selayaknya para kaum laki-laki. Komitmen Muhammadiyah dalam hal
perlindungan hak perempuan salah satunya adalah dengan dibentuknya ortom 'Aisyiyah dan
Nasyiatul Aisyiyah. Gerakan ‘Aisyiyah sejak awal berdiri, dan dari waktu ke waktu terus
berkembang dan memberi manfaat bagi peningkatan dan kemajuan harkat dan martabat
perempuan Indonesia.
Pada tahun 1919 mendirikan Frobel, Sekolah Taman Kanak-Kanak pertama milik
pribumi di Indonesia. Bersama organisasi wanita lain pada tahun 1928 mempelopori dan
memprakarsai terbentuknya federasi organisasi wanita yang kemudian dan sampai sekarang
dinenal dengan nama KOWANI (Kongres Wanita Indonesia). Kepada para wanita, beliau
berpesan: “urusan dapur janganlah dijadikan halangan untuk menjalankan tugas dalam
menghadapi masyarakat”. Rupanya beliau mengetahui bahwa tak mungkin pekerjaan besar
akan berhasil tanpa bantuan kaum wanita. Dalam melaksanakan cita-cita beliau, bantuan dari
kaum hawa yang berbadan halus itu diperlukan, dan ini sebetulnya ikut menentukan berhasil
tidaknya usaha beliau. Oleh tidak hanya laki-laki yang memiliki peran penting dalam
kemuhammadiyahan.

7
4. Pemberdayaan Perempuan
Perbedaan gender sesunguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan
ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender termanifestasi dalam berbagai bentuk
ketidakadilan, yaitu marjinalisasi (peminggiran), subordinasi (penomorduaan atau anggapan
tidak penting), stereotipe (pelabelan negatif), violence (kekerasan), double burden (beban
kerja ganda atau lebih), dan sosialisasi ideologi peran gender.
Perbedaan gender ini hanya dapat mempersulit baik laki-laki maupun perempuan.
Masyarakat Islam yang hendak diwujudkan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah adalah
masyarakat yang rahmatan lil’alamin. ‘Aisyiyah sebagai komponen perempuan
Muhammadiyah dalam mewujudkan masyarakat yang berkeseteraan dan berkeadilan gender,
berkiprah dengan merespon isu-isu perempuan (seperti KDRT, kemiskinan, trafficking,
pornografi dan aksi, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan) dan sekaligus
memberdayakannya secara terorganisir, terprogram, dengan menggunakan dan
memanfaatkan seluruh potensi.
Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sampai sekarang tetap berkomitmen dalam
pemberdayaan perempuan untuk kesetaraan dan keadilan gender. Hal ini dapat dilihat dari
hasil Muktamar Muhammadiyah ke-46 tahun 2010 di Yogyakarta mengenai Program Bidang
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang terdiri dari Visi Pengembangan dan
Program Pengembangan. Aisyiyah memiliki garapan program kerja yang sangat khusus,
strategis, dan visioner, yaitu perempuan. Peran dan fungsi perempuan merupakan bagian
terpenting dalam gerak roda kehidupan. Sebab, pepatah mengatakan bahwa perempuan
adalah tiang negara, apabila perempuan baik maka akan makmur negaranya, tetapi kalau
wanita di negara tersebut hancur maka akan hancur pula derajat negara tersebut.
K.H. Ahmad Dahlan melakukan beberapa usaha atau cara dalam rangka mendidik dan
membina perempuan terutama yang berkaitan dengan aspek-aspek pendidikan perempuan.
Metode yang dipakai oleh K.H. Ahmad Dahlan berkaitan dengan aspek-aspek pendidikan
perempuan yaitu:
1) Metode Pendidikan Keimanan.
K.H. Ahmad Dahlan menggunakan cara kedisiplinan untuk mendidik keimanan bagi
kaum perempuan yaitu dengan memperkenalkan dan mengajarkan syariat Islam kepada
perempuan melalui pengajian-pengajian dan kursus yang beliau berikan kepada kaum
perempuan.

8
2) Metode Pendidikan Akhlak Dalam Mendidik Akhlak Kaum Perempuan.
K.H. Ahmad Dahlan melakukannya dengan meningkatkan pengetahuan tentang ajaran
agama dan ilmu pengetahuan melalui pengajian-pengajian yang beliau lakukan. Beliau
juga melatih dan mengajak kaum perempuan untuk berpartisipasi melakukan kebaikan
dan K.H. Ahmad Dahlan merupakan tauladan yang baik.
3) Metode Pendidikan Akal Dalam Upaya Mendidik Aspek Akal Untuk Kaum
Perempuan.
K.H. Ahmad Dahlan melakukannya dengan memberikan nasihat-nasihat yang
memotivasi perempuan untuk cerdas dan memiliki ilmu pengetahuan, baik ilmu agama
maupun ilmu umum. K.H. Ahmad Dahlan juga mendirikan sekolah khusus perempuan
sebagai upaya mencerdaskan perempuan.
4) Metode Pendidikan Estetika
K.H. Ahmad Dahlan juga memperhatikan pendidikan estetika bagi kaum perempuan.
Dalam upaya untuk mendidik dalam aspek estetika beliau membiasakan para perempuan
untuk berhias sesuai dengan ajaran Islam. Beliau mengajarkan perempuan untuk
membiasakan menutup aurat, memakai pakaian muslimah, dan menggunakan kerudung.
5) Metode Pendidikan Sosial
Aspek pendidikan sosial bagi kaum perempuan juga tak lepas dari perhatian K.H. Ahmad
Dahlan. Dalam upaya mendidik aspek pendidikan sosial beliau mengajak kaum
perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam hal sosial seperti memberi makan fakir
miskin, menyantuni anak yatim, dan membantu pendidikan anak-anak. Beliau juga
memberikan keteladanan yang baik dalam hal kegiatan sosial.
Berkat didikan K.H. Ahmad Dahlan, maka wanita Islam menjadi terangkat derajatnya.
Sebagai istri, ia mengerti hak dan kewajibannya terhadap suaminya. Sebagai seorang ibu, ia
memperhatikan pendidikan anak-anaknya dan keberesan rumah tangganya. Sebagai seorang
perempuan Islam, ia insyaf pada kewajibannya terhadap agama. Kalau dulu perempuan
dinilai hanya dari kecantikan dan kekayaannya, maka sejak itu kecakapan dan kecerdasannya
yang menjadi ukurannya.

B. Kesetaraan Gender Dalam Muhammadiyah


1. Pandangan Kepemimpinan Perempuan Dalam Islam
Pandangan suatu kelompok yang memiliki kecenderungan pendapat liberal progresif
yang membuka kesempatan bagi perempuan untuk terlibat secara luas dalam dunia
kepemimpinan khususnya politik. Perempuan diperkenankan untuk mengemban tugas-tugas
9
politik seberat yang dipangku oleh kaum laki-laki. Alasan yang dikemukannya adalah ayat
ayat Al-Qur’an yang membicarakan keadilan (al-‘adalah), persamaan (al-musawah), yang
selalu dijunjung tinggi oleh Islam. Di antara ayat yang dijadikan landasan argumentasi ini
adalah surat At-Taubah ayat 71 dan surat Al-Hujurat ayat 70. Ayat pertama menerangkan
bahwa laki-laki dan perempuan hak dan kesempatan yang sama dalam berpolitik. Karena itu
sebagaimana laki-laki, perempuan pun memiliki hak mengatur masyarakat umum yang
merupakan implementasi dari semangat amar ma’ruf dan nahi munkar. Sedangkan kedua
ayat terakhir secara substansial mendeklarasikan bahwa Islam memuliakan kedudukan laki-
laki dan perempuan dalam posisi yang seimbang. Islam tidak mengenal diskriminasi antara
anak manusia, baik laki-laki maupun perempuan.
Adapun kelompok lain menyatakan bahwa persoalan kepemimpinan perempuan bukan
merupakan persoalan agama melainkan persoalan sosial, politik, dan budaya. Karena itu,
lebih jauh kelompok ini berpendapat adalah tidak tepat jika mempersoalkan kepemimpinan
perempuan sebagai persoalan agama. Sejalan dengan asumsi yang dipegangnya bahwa porsi
emosional perempuan lebih besar dibandingkan dengan porsi rasionalnya karena itu wilayah
kepemimpinan perempuan adalah menjadi ibu bagi putra-putrinya.
2. Perspektif Muhammadiyah Tentang Kepemimpinan Perempuan
Majelis Tarjih dibentuk pada Kongres Muhammadiyah ke-16 pada tahun 1927 di
Pekalongan atas usulan K.H. Mas Mansyur yang disampaikan pada kongres setahun
sebelumnya di Surabaya. Kelahiran lembaga ini dipandang perlu karena dua pertimbangan.
Pertama, pesatnya perkembangan organisasi Muhammadiyah saat itu telah melahirkan
berbagai amal usaha yang pada gilirannya menimbulkan lemahnya kontrol untuk sinkronisasi
antara amal usaha dengan asas yang melandasi perjuangan organisasi. Kedua, munculnya
perselisihan paham di antara umat Islam yang dikhawatirkan mempengarui keutuhan anggota
Muhammadiyah. Seiring perjalanan zaman, munculnya Majelis Tarjih dipandang merupakan
perwujudan lebih nyata dari semangat tajdid yang diusung oleh Muhammadiyah. Sebab, jika
selama ini Muhammadiyah dikenal dan memperkenalkan dirinya sebagai gerakan tajdid maka
semangat tersebut sesungguhnya menjadi raison d etre kelahiran Majelis Tarjih.
Majelis Tarjih memiliki tiga klasifikasi produk hukum yang masing-masing memiliki
kekuatan yang berbeda. Pertama, putusan muktamar atau putusan musyawarah nasional yang
sudah ditanfiz. Kedua, fatwa yang biasa disajikan dalam Suara Muhammadiyah. Ketiga,
wacana yang dikembangkan dalam seminar dan simposium. Tema kepemimpinan perempuan
yang mencakup kepemimpinan di ranah publik dan kepemimpinan dalam ibadah, khususnya
shalat, ditemukan dalam tiga produk hukum tersebut.
10
Sejauh ini hanya ada satu putusan Majelis Tarjih yang berkaitan dengan kepemimpinan
perempuan. Keputusan tersebut terhimpun dalam satu kitab yang dinamai Adabul Mar’ah fiil
Islam. Risalah ini dihasilkan dalam Muktamar Tarjih ke-18 yang dilangsungkan di Garut.
Dalam keputusan ini topik kepemimpinan perempuan diketengahkan pada sajian bab “wanita
Islam dalam bidang politik” dan bab “bolehkah wanita menjadi hakim”.
Bab “wanita Islam dalam bidang politik” membuka pembahasannya dengan surat At-
Taubah ayat 71, yaitu:
Artinya: “Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan satu sama lain
menjadi penolong; mereka menyuruh kebajikan dan melarang kejahatan; mereka mendirikan
sholat, mereka mengeluarkan zakat dan mereka patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka
akan dianugerahi rahmat Allah, karena sesungguhnya Allah itu Maha Kuasa lagi Maha
Bijaksana.”
Ayat di atas dipahami oleh Majelis Tarjih sebagai ayat yang mendorong setiap Muslim
dan Muslimah untuk berkiprah secara intensif dalam kegiatan-kegiatan amar bil ma’ruf dan
nahi ‘anil-munkar yang mencakup berbagai bidang kehidupan. Karena itu, meskipun secara
faktual di lapangan laki-laki banyak mengisi berbagai lapangan kehidupan, namun
perempuan pun diberikan kesempatan yang sama. Sebab tidak ada satu teks pun yang
melarang perempuan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang selama ini lebih banyak diisi
oleh laki-laki, sepanjang tidak keluar dari bingkai kebaktian (amal sholeh) kepada Allah.
3. Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Politik Di Persyerikatan Muhammadiyah
Muhammadiyah tidak berpolitik praktis, namun Muhammadiyah selalu mendorong
anggotanya untuk ikut berpartisipasi dalam dunia politik, Muhammadiyah selalu memberi
ruang ataupun akses serta kontrol bagi kaum laki-laki bahkan perempuan untuk ikut
berpartisipasi dalam partai politik, karena Muhammadiyah tidak pernah mendiskriminasi
anggotanya jika ada yang ingin maju untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.
Organisasi Muhammadiyah sendiri dibagi menjadi beberapa organisasi otonom
khusus yang di dalamnya terdapat organisasi otonom khusus laki- laki dan organisasi
perempuan, kedua persyarikatan bersama- sama diberi manfaat mensosialisasikan kesetaraan
gender terutama dalam tubuh persyarikatan Muhammadiyah.
Keterwakilan perempuan dalam dunia politik secara umum masih sekedar diskursus,
harapan dari kenyataan sangat jauh di lapangan, karena masih banyak perempuan di
Indonesia yang memikirkan budaya patriarkhi, namun di dalam sosialisasi kesetaraan gender
ini dilakukan oleh ‘Aisyiyah dalam organisasi Muhammadiyah. Dengan adanya sosialisasi
kesetaraan gender ini sudah ada anggota ‘Aisyiyah yang ikut serta dalam berpolitik, bahkan
11
dengan adanya sosialisasi kesetaraan gender ini timbul peran kesetaraan gender dari
‘Aisyiyah itu sendiri dalam hal ini Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah.

C. Peran Perempuan Muhammadiyah Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara


Dengan tugas dan peran (fungsi) sederhana ini, ‘Aisyiyah telah banyak memiliki amal
usaha di berbagai bidang antara lain adalah pendidikan, kewanitaan, PKK, kesehatan, dan
organisasi wanita. Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah berusaha memberi pendidikan di kalangan
wanita Islam untuk berpakaian muslimat yang baik, bermoral dan bermental luhur,
memberikan bimbingan perkawinan dan kerumahtanggaan, tanggung jawab istri di dalam dan
di luar rumah tangga, memberikan motivasi keluarga sejahtera, keluarga bahagia,
memberikan bimbingan pemeliharaan bayi sehat, keluarga berencana, ber-Islam dan juga
bimbingan serta pendidikan lainnya.
Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) bergerak dalam bidang dan organisasi gerakan putri Islam,
bidang keagamaan, kemasyarakatan, dan keputrian. Nasyiatul ‘Aisyiyah meberikan torobosan
baru yang inovatif, yaitu mengadakan kegiatan SP (Siswa Praja) Wanita. NA melatih wanita
dalam kegiatan-kegiatan rumah tangga yang bersifat kontributif, membekali wanita dan putri-
putri Muhammadiyah dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan.
Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) juga mengadakan shalat Jum’at bersama, mengadakan tabligh
ke luar kota dan kampung-kampung, mengadaka kursus administrasi, dan ikut
memasyarakatkan organisasi Muhammadiyah. Kegiatan SP (Siswa Praja) wanita juga
memiliki banyak terobosan yang inovatif dalam melakukan emansipasi wanita di tengah
kultur masyarakat feodal saat itu dan saat ini. Kultur patriarkis saat itu benar-benar
mendomestifikasi wanita dalam kegiatan-kegiatan rumah tangga. Para orang tua seringkali
melarang anak perempuannya keluar rumah untuk aktivitas-aktivitas yang emansipatif.
Namun, dengan munculnya SP (Siswa Praja) Wanita, kultur patriarkis dan feodal tersebut
bisa didobrak. Hadirnya SP (Siswa Praja) Wanita sangat dirasakan manfaatnya karena SP
(Siswa Praja) Wanita membekali wanita dan putri-putri Muhammadiyah dengan berbagai
pengetahuan dan keterampilan.
Prinsip gerakan Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) sering juga disebut Nasyiah, adalah organisasi
otonom dan kader Muhammadiyah yang merupakan gerakan putri Islam di bidang
keagamaan, kemasyarakatan, dan keputrian. Tujuan organisasi ini ialah membentuk pribadi
putri Islam yang berarti bagi agama, keluarga, dan bangsa menuju terwujudnya masyarakat
utama, adil, dan makmur yang diridhai Allah SWT.

12
Muhammadiyah berpandangan bahwa perempuan dalam berkiprah dalam kehidupan
bangsa dan negara merupakan salah satu perwujudan dari misi dan fungsi melaksanakan
dakwah amar ma’ruf nahi munkar sebagaimana telah menjadi panggilan sejarahnya sejak
zaman pergerakan hingga masa awal dan setelah kemerdekaan Indonesia. Peran dalam
kehidupan bangsa dan negara tersebut diwujudkan dalam langkah-langkah strategis dan taktis
sesuai dengan kepribadian, keyakinan, dan cita-cita hidup, serta khittah perjuangannya
sebagai acuan gerakan. Langkah-langkah strategis tersebut adalah sebagai berikut:
Langkah strategi —————> Organisasi ————–> Manajemen (AD/ART: Anggaran
Dasar/Anggaran Rumah Tangga)
Di dalam AD/ART terdapat MKCH (Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup) yang
semuanya masuk dalam visi dan misi Muhammadiyah, yaitu: amar ma’ruf, mencerdaskan,
sejahtera, dan madani. Dengan demikian, jelas terdapat langkah-langkah kongkrit sebagai
bentuk perjuangan, antara lain: memperjuangkan politik, memperjuangkan pendidikan,
memperjuangkan ekonomi, dan memperjuangkan sosial dan budaya. Hal ini dilakukan
sebagai wujud komitmen dan tanggung jawab dalam mewujudkan “Baldatun Thoyyibatun
Wa Rabbun Ghafur”, negara yang makmur, sejahtera, dan adil.
Peran NA dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat dilakukan melalui dua
strategi dan lapangan perjuangan. Pertama, melalui kegiatan politik yang berorientasi pada
perjuangan kekuasaan/kenegaraan (real politics, politik praktis) sebagaimana dilakukan oleh
partai-partai politik atau kekuatan-kekuatan politik formal di tingkat kelembagaan Negara.
Kedua, melalui kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang bersifat pembinaan atau
pemberdayaan masyarakat maupun kegiatan-kegiatan politik tidak langsung (high politics)
yang bersifat mempengaruhi kebijakan negara dengan perjuangan moral (moral force) untuk
mewujudkan kehidupan yang lebih baik di tingkat masyarakat dan negara, sebagaimana
dilakukan oleh kelompok-kelompok kepentingan (interest groups).
Muammadiyah secara khusus mengambil peran dalam lapangan kemasyarakatan
dengan pandangan bahwa aspek kemasyarakatan yang mengarah kepada pemberdayaan
masyarakat tidak kalah penting dan strategis dari pada aspek perjuangan politik kekuasaan.
Perjuangan di lapangan kemasyarakatan diarahkan untuk membentuk masyarakat utama atau
masyarakat madani (civil society) sebagai pilar utama terbentuknya negara yang
berkedaulatan rakyat. Peran kemasyarakatan tersebut dilakukan oleh organisasi-organisasi
kemasyarakatan seperti halnya Muhammadiyah.
Perjuangan untuk meraih kekuasaan (power struggle) ditujukan untuk membentuk
pemerintahan dalam mewujudkan tujuan negara, yang peranannya secara formal dan
13
langsung dilakukan oleh partai politik dan institusi-institusi politik negara melalui sistem
politik yang berlaku. Kedua peranan tersebut dapat dijalankan secara obyektif dan saling
terkait melalui bekerjanya sistem politik yang sehat oleh seluruh kekuatan nasional menuju
terwujudnya tujuan negara.
Sejak awal, manusia diciptakan Tuhan Yang Maha Esa secara berpasangan (Adam
dan Hawa), laki-laki dan perempuan. Oleh karena berpasangan inilah, manusia menjadi
semakin bertambah jumlahnya seiring dengan kebutuhan biologisnya. Semakin berkembang
manusia di dunia ini, semakin berkembang pula kebutuhan untuk pemenuhan hidupnya
sehari-hari, mulai dari kebutuhan sandang, pangan, sampai papan. Untuk memenuhi
kebutuhan ini, manusia saling berinteraksi satu sama lain. Hubungan antarmanusia hanya
dapat dilakukan dalam suatu kelompok atau komunitas. Oleh karena itu, setiap manusia tidak
dapat hidup sendiri, dan setiap manusia selalu berhubungan dengan manusia lain untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagnsa adalah suatu kelompok manusia yang dianggap memiliki identitas bersama,
dan mempunyai kesamaan bahasa, agama, ideologi, budaya, dan/atau sejarah. Mereka
umumnya dianggap memiliki asal usul keturunan yang sama. Dalam kamus ilmu politik,
dijumpai istilah bangsa, yaitu “natie” dan “nation”, artinya masyarakat yang bentuknya
diwujudkan oleh sejarah yang memiliki unsur, antara lain: satu kesatuan bahasa, satu
kesatuan daerah, satu kesatuan ekonomi, satu kesatuan hubungan ekonomi, dan satu kesatuan
jiwa yang terlukis dalam kesatuan budaya.
Sebagian ahli berpendapat bahwa bangsa itu mirip dengan komunitas etnik, meskipun
tidak sama. Bangsa adalah suatu komunitas etnik yang cirri-cirinya adalah memiliki nama,
wilayah tertentu, mitos leluhur bersama, kenangan bersama, satu atau beberapa budaya yang
sama dan solidaritas tertentu. Istilah bangsa sering disebut sama dengan istilah rakyat.
Negara merupakan integrasi kekuasaan politik, agency (alat) masyarakat yang
memegang kekuasaan untuk mengatur hubungan antar manusia dalam masyarakat dan
menertibkan gejala kekuasaan di dalamnya. Dengan demikian, negara mengintegrasikan dan
membimbing berbagai kegiatan sosial penduduknya ke arah tujuan bersama. Istilah “negara”
merupakan terjemahan dari kata staat (bahasa Belanda), state (bahasa Inggris), etat (bahasa
Prancis), lo stato (bahasa Italia) dan der sataat (bahasa Belanda). Menurut bahasa Sanskerta,
negeri atau negara yang berarti kota, sedangkan menurut bahasa suku-suku di Indonesia
sering disebut negeri atau negara, yang berarti tempat tinggal. Istilah staat mula-mula
dipergunakan di Eropa Barat pada abad ke-15. Kata staat, state, etat itu dialihkan dari kata
status atau statum (bahasa latin) yang secara etimologis berarti sesuatu yang memiliki sifat-
14
sifat tegak dan tetap. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, “negara” adalah persekutuan
bangsa yang hidup dalam suatu daerah/wilayah dengan batas-batas tertentu yang diperintah
dan diurus oleh suatu badan pemerintahan dengan teratur.
Siapapun tentu tidak bisa meragukan peranan Muhammadiyah dalam keterlibatannya
untuk membangun bangsa. Muhammadiyah semenjak didirikan telah berkhidmat untuk
bangsa. Salah satu diantara peran-peran yang sangat menonjol berada dalam bidang
pendidikan. Salah satu kelebihan Muhammadiyah dalam pendidikan adalah visi dan misi
yang sama dalam membangun pendidikan. Keseragaman dalam nomenklatur nama lembaga
pendidikan ini juga menjadi kekuatan tersendiri di kalangan Muhammadiyah.

15
BAB III
KESIMPULAN

Ajaran K.H. Ahmad Dahlan melalui Muhammadiyah memandang bahwa laki-laki dan
perempuan adalah setara. Kyai Dahlan sangat memperhatikan perempuan sebagai generasi
penerus umat islam. Karena itulah, Kyai Dahlan menyuruh agar perempuan juga harus belajar
dan bersekolah selayaknya para kaum laki-laki. Komitmen Muhammadiyah dalam hal
perlindungan hak perempuan salah satunya adalah dengan dibentuknya organisasi otonom
(ortom) ‘Aisyiah dan Nasyiatul ‘Aisyiah.
‘Aisyiyah merupakan gerakan perempuan Muhammadiyah yang telah diakui dan
dirasakan perannya dalam masyarakat. Sebagai salah satu ortom perrtama yang dilahirkan
rahim Muhammadiyah, ia memiliki tujuan yang sama dengan Muhammadiyah. ‘Aisyiyah
memiliki garapan program kerja yang sangat khusus, strategis, dan visioner, yaitu
perempuan. Peran dan fungsi perempuan merupakan bagian terpenting dalam gerak roda
kehidupan, sebab pepatah mengatakan bahwa wanita adalah tiang negara, apabila wanitanya
baik maka akan makmur negaranya, tetapi jika wanita di negara tersebut hancur maka akan
hancur pula derajat negara tersebut.

16
DAFTAR PUSTAKA

Jurnal
• M. Amin, Tenriawaru septiananinda Amran, Nuryanti Mustari. 2019.
KESETARAAN GENDER DALAM PERSPEKTIF POLITIK DI PESYARIKATAN
MUHAMMADIYAH KABUPATEN BONE. JURNAL ANALISIS SOSIAL
POLITIK VOLUME 5, NO 1, Hal. 09-19.
• Wahid, Wawan Gunawan Abdul. 2012. “MEMBACA” KEPEMIMPINAN
PEREMPUAN DALAM RUU KESETARAAN DAN KEADILAN GENDER
DENGAN PERSPEKTIF MUHAMMADIYAH. Musãwa, Vol. 11, No. 2, Hal. 229-
246.

Buku
• M. Yusron Asrofie, Kyai Haji Ahmad Dahlan Pemikiran dan Kepemimpinannya,
Yogyakarta: MPKSDI PP Muhammadiyah, 2005 Mardalis, Metode Penelitian Suatu
Pendekatanproposal, Jakarta: Bina Aksara, 1996
• Marimba, Ahmad D., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif,
1989
• Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam,Bandung: Rosda Karya,2004

Internet
• https://ibtimes.id/kyai-ahmad-dahlan-dalam-pemberdayaan-perempuan/
• https://subair3.wordpress.com/2018/01/02/muhammadiyah-dan-pemberdayaan-
perempuan/

17

Anda mungkin juga menyukai