Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

A. Konsep Lanjut Usia


1. Definisi Lanjut Usia
Lansia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia tidak secara tiba-
tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa, dan akhirnya
menjadi tua. Seseorang dengan usia kronologis 70 tahun mungkin dapat memiliki usia
fisiologis seperti orang usia 50 tahun. Atau sebaliknya, seseorang dengan usia 50
tahun mungkin memiliki banyak penyakit kronis sehingga usia fisiologisnya 90 tahun
(Pudjiastuti & Utomo, 2003).
Lanjut usia tidak saja ditandai dengan kemunduran fisik, tetapi dapat pula
mengalami pengaruh kondisi mental. Semakin lanjut usia seseorang, kesibukan
sosialnya akan semakin berkurang. Hal ini akan dapat mengakibatkan berkurangnya
integrasi dengan lingkungan. Kondisi ini dapat berdampak pada kebahagiaan
seseorang (Nugroho, 2008).
2. Batasan Lansia
Mengenai kapankah orang disebut lanjut usia, sulit dijawab secara memuaskan.
Di bawah ini dikemukakan beberapa pendapat mengenai batasan umur.
1. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia
Lanjut usia meliputi:
a. Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
b. Lanjut usia (elderly) = antara 60 dan 74 tahun.
c. Lanjut usia tua (old) = antara 76 dan 90 tahun.
d. Usia sangat tua (very old) = di atas 90 tahun.
2. Menurut Prof. Dr. Ny Sumiati Ahmad Mohamad
Prof Dr. Ny Sumiati Ahmad Mohamad (Alm) Guru besar Universitas Gajah
Mada pada Fakultas Kedokteran, membagi periodisasi biologi perkembangan
manusia sebagai berikut:
a. 0-1 tahun = masa bayi
b. 0-6 tahun = masa prasekolah
c. 6-10 tahun = masa sekolah
d. 40-65 tahun = masa setengah umur (prasenium)
e. 65 tahun ke atas = masa lanjut usia (senium)
3. Proses Menua
Tahap dewasa merupakan tahap tubuh mencapai titik perkembangan yang
maksimal. Setelah itu tubuh mulai menyusut dikarenakan berkurangnya jumlah sel-sel
yang ada di dalam tubuh. Sebagai akibatnya, tubuh juga akan mengalami penurunan
fungsi secara perlahan-lahan. Itulah yang dikatakan proses penuaan (Maryam, 2008).
Menua bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan proses berkurangnya daya
tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh. Walaupun
demikian, memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang sering
menghinggapi kaum lanjut usia. Proses menua sudah mulai berlangsung sejak
seseorang mencapai usia dewasa, misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan
pada otot, susunan syaraf, dan jaringan lain sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit
(Azizah, 2011).
Proses menua merupakan proses yang terus menerus (berkanjut) secara alamiah.
Menua bukanlah suatu penyakit melainkan proses berkurangnya daya tahan tubuh
dalam menghadapi stressor dari dalam maupun luar tubuh. Menuanya manusia seperti
ausnya suku cadang suatu mesin yang bekerjanya sangat kompleks yang bagian-
bagiannya saling mempengaruhi secara fisik atau somatik dan psikologik. Proses
menua setiap individu pada organ tubuh juga tidak sama cepatnya dan sangat
individual. Adakalanya seseorang yang masih muda umurnya, namun terlihat sudah
tua dan begitu juga sebaliknya. Banyak faktor yang mempengaruhi penuaan seseorang
seperti genetik (keturunan), asupan gizi, kondisi mental, pola hidup, lingkungan, dan
pekerjaan sehari-hari (Darmojo dan Martono, 2004; dikutip oleh Azizah, 2011).
Ada beberapa teori yang berkaitan dengan proses penuaan, yaitu teori biologi,
teori psikologis, teori sosial dan teori spiritual.
1. Teori biologi
Teori Biologi mencakup teori genetik dan mutasi, immunology slow theory,
teori stres, teori radikal bebas, dan teori rantai silang.
a. Teori genetik dan mutasi
Menurut teori genetik dan mutasi, menua terprogram secara genetik untuk
spesies-spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia
yang diprogram oleh molekul-molekul DNA dan setiap sel pada saatnya akan
mengalami mutasi, sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel-sel
kelamin (terjadi penurunan kemampuan fungsi sel).
Terjadi pengumpulan pigmen atau lemak dalam tubuh yang disebut teori
akumulasi dari produk sisa, sebagai contoh adalah adanya pigmen lipofusin di
sel otot jantung dan sel susunan saraf pusat pada lansia yang mengakibatkan
terganggunya fungsi sel itu sendiri.
b. Immunologi slow theory
Menurut Immunologi slow theory, sistem imun menjadi efektif dengan
bertambahnya usia dan masuknya virus ke dalam tubuh yang dapat
menyebabkan kerusakan organ tubuh.
c. Teori stres
Teori stres mengungkapkan menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang
biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan
kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan stres yang menyebabkan
sel-sel tubuh lelah terpakai.
d. Teori radikal bebas
Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya radikal bebas
(kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organik seperti
karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat
melakukan regenerasi.
e. Teori rantai silang
Teori rantai silang diungkapkan bahwa reaksi kimia sel-sel yang tua atau
usang menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini
menyebabkan kurangnya elastisitas, kekacauan, dan hilangnya fungsi sel.
2. Teori psikologi
Pada usia lanjut, proses penuaan terjadi secara alamiah seiring dengan
penambahan usia. Perubahan psikologis yang terjadi dapat dihubungkan pula
dengan keakuratan mental dan keadaan fungsional yang efektif.
Kepribadian individu yang terdiri atas motivasi dan inteligensi dapat menjadi
karakteristik konsep diri dari seorang lansia. Konsep diri yang positif dapat
menjadikan seorang lansia mampu berinteraksi dengan mudah terhadap nilai-nilai
yang ada ditunjang dengan status sosialnya.
Memori adalah kemampuan daya ingat lansia terhadap suatu
kejadian/peristiwa baik jangka pendek maupun jangka panjang. Memori terdiri atas
tiga komponen sebagai berikut.
a. Ingatan yang paling singkat dan segera. Contohnya pengulangan angka.
b. Ingatan jangka pendek. Contohnya peristiwa beberapa menit hingga beberapa
hari yang lalu.
c. Ingatan jangka panjang.
Kemampuan belajar yang menurun dapat terjadi karena banyak hal. Selain
keadaan fungsional organ otak, kuranganya motivasi pada lansia juga berperan.
Motivasi akan semakin menurun dengan menganggap bahwa lansia sendiri
merupakan beban bagi orang lain dan keluarga.
3. Teori sosial
Ada beberapa teori sosial yang berkaitan dengan proses penuaan, yaitu teori
interaksi sosial, teori penarikan diri, teori aktivitas, teori kesinambungan, teori
perkembangan, dan teori stratifikasi usia.
a. Teori interaksi sosial
Teori ini mencoba menjelaskan mengapa lansia bertindak pada suatu
situasi tertentu, yaitu atas dasar hal-hal yang dihargai masyarakat.
Pada lansia, kekuasaan dan prestisenya berkurang, sehingga menyebabkan
interaksi sosial mereka juga berkurang, yang tersisa hanyalah harga diri dan
kemampuan mereka untuk mengikuti perintah.
b. Teori penarikan diri
Kemiskinan yang diderita lansia dan menurunnya derajat kesehatan
mengakibatkan seorang lansia secara perlahan-lahan menarik diri dari pergaulan
di sekitarnya.
Menurut teori ini seorang lansia dinyatakan mengalami proses penuaan
yang berhasil apabila ia menarik diri dari kegiatan terdahulu dan dapat
memusatkan diri pada persoalan pribadi serta mempersiapkan diri dalam
menghadapi kematiannya.
c. Teori aktivitas
Teori aktivitas dikembangkan oleh Palmore (1965) dan Lemon et al.
(1972) yang menyatakan bahwa penuaaan yang sukses bergantung dari
bagaimana seorang lansia merasakan kepuasan dalam melakukan aktivitas serta
mempertahankan aktivitas tersebut lebih penting dibandingkan kualitas dan
aktivitas yang dilakukan.
d. Teori kesinambungan
Teori ini dianut oleh banyak pakar sosial. Teori ini mengemukakan
adanya kesinambungan dalam siklus kehidupan lansia. Pengalaman hidup
seseorang pada suatu saat merupakan gambarannya kelak pada saat ia menjadi
lansia. Hal ini dapat terlihat bahwa gaya hidup, perilaku, dan harapan seseorang
ternyata tidak berubah meskipun ia telah menjadi lansia.
e. Teori perkembangan
Teori perkembangan menjelaskan bagaimana proses menjadi tua
merupakan suatu tantangan dan bagaimana jawaban lansia terhadap berbagai
tantangan tersebut yang dapat bernilai positif ataupun negatif. Akan tetapi, teori
ini tidak menggariskan bagaimana cara menjadi tua yang diinginkan atau yang
seharusnya diterapkan oleh lansia tersebut.
f. Teori stratifikasi usia
Keunggulan teori stratifikasi usia adalah bahwa pendekatan yang
dilakukan bersifat deterministik dan dapat dipergunakan untuk mempelajari sifat
lansia secara kelompok dan bersifat makro. Setiap kelompok dapat ditinjau dari
sudut pandang demografi dan keterkaitannya dengan kelompok usia lainnya.
Kelemahannya adalah teori ini tidak dapat dipergunakan untuk menilai
lansia secara perorangan, mengingat bahwa stratifikasi sangat kompleks dan
dinamis serta terkait dengan klasifikasi kelas dan kelompok etnik.
4. Teori spiritual
Komponen spiritual dan tumbuh kembang merujuk pada pengertian
hubungan individu dengan alam semesta dan persepsi individu tentang arti
kehidupan.
James Fowler mengungkapkan tujuh tahap perkembangan kepercayaan
(Wong, et. al, 1999). Fowler juga meyakini bahwa kepercayaan/demensia spiritual
adalah suatu kekuatan yang memberi arti bagi kehidupan seseorang.
Fowler menggunakan istilah kepercayaan sebagai suatu bentuk pengetahuan
dan cara berhubungan dengan kehidupan akhir. Menurutnya, kepercayaan adalah
suatu fenomena timbal balik, yaitu suatu hubungan aktif antar seseorang dengan
orang lain dalam menanamkan suatu keyakinan, cinta kasih, dan harapan.
4. Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Pada Lanjut Usia
Perubahan yang terjadi pada lansia meliputi perubahan fisik, sosial, dan
psikologis.
1. Perubahan fisik
a. Sel. Jumlah berkurang, ukuran membesar, cairan tubuh menurun, dan cairan
intraseluler menurun.
b. Kardiovaskuler. Katup jantung menebal dan kaku, kemampuan memompa
darah menurun (menurunnya kontraksi dan volume), elastisitas pembuluh darah
menurun, serta meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer sehingga
tekanan darah meningkat.
c. Respirasi. Otot-otot pernapasan kekuatannya menurun dan kaku, elastisitas paru
menurun, kapasitas residu meningkat sehingga menarik nafas lebih berat,
alveoli melebar dan jumlahnya menurun, kemampuan batuk menurun, serta
terjadi penyempitan pada bronkus.
d. Persarafan. Saraf pancaindra mengecil sehingga fungsinya menurun serta
lambat dalam merespons dan waktu bereaksi khusunya yang berhubungan
dengan stres. Berkurang atau hilangnya lapisan mielin akson, sehingga
menyebabkan berkurangnya respons motorik dan refleks.
e. Muskuloskeletal. Cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh (osteoporosis),
bungkuk (kifosis), persendian membesar dan menjadi kaku (atrofi otot), kram,
tremor, tendon mengerut, dan mengalami sklerosis.
f. Gastrointestinal. Esofagus melebar, asam lambung menurun, lapar menurun,
dan peristaltik menurun sehingga daya absorpsi juga ikut menurun. Ukuran
lambung mengecil serta fungsi organ aksesori menurun sehingga menyebabkan
berkurangnya produksi hormon dan enzim pencernaaan.
g. Genitourinaria. Ginjal: mengecil, aliran darah ke ginjal menurun, penyaringan
di glomerulus menurun, dan fungsi tubulus menurun sehingga kemampuan
mengonsentrasi urine ikut menurun.
h. Vesika urinaria. Otot-otot melemah, kapasitasnya menurun, dan retensi urine.
Prostat: hipertrofi pada 75% lansia.
i. Vagina. Selaput lendir mengering dan sekresi menurun.
j. Pendengaran. Membran timpani atrofi sehingga terjadi gangguan pendengaran.
Tulang-tulang pendengaran mengalami kekakuan.
k. Penglihatan. Respons terhadap sinar menurun, adaptasi terhadap gelap
menurun, akomodasi menurun, dan katarak.
l. Endokrin. Produksi hormon menurun.
m. Kulit. Keriput serta kulit kepala dan rambut menipis. Rambut dalam hidung dan
telinga menebal. Elastisitas menurun, vaskularisasi menurun, rambut memutih
(uban), kelenjar keringat menurun, kuku keras dan rapuh, serta kuku kaki
tumbuh berlebihan seperti tanduk.
n. Belajar dan memori. Kemampuan belajar masih ada tetapi relatif menurun.
2. Perubahan sosial
a. Peran. Post power syndrome, single woman, dan single parent.
b. Keluarga, emptiness. Kesendirian, kehampaan.
c. Teman. Ketika lansia lainnya meninggal, maka muncul perasaan kapan akan
meninggal. Berada di rumah terus-menerus akan cepat pikun (tidak
berkembang).
d. Abuse. Kekerasan berbentuk verbal (dibentak) dan nonverbal (dicubit, tidak
diberi makan).
e. Masalah hukum. Berkaitan dengan perlindungan aset dan kekayaan pribadi
yang dikumpulin sejak masih muda.
f. Pensiun. Kalau menjadi PNS akan ada tabungan (dana pensiun). Kalau tidak,
anak dan cucu yang akan memberi uang.
g. Ekonomi. Kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok bagi lansia
dan income security.
h. Transportasi. Kebutuhan akan transportasi yang cocok bagi lansia.
i. Politik. Kesempatan yang sama untuk terlibat dan memberikan masukan dalam
sistem politik yang berlaku.
j. Pendidikan. Berkaitan dengan pengentasan buta aksara dan kesempatan untuk
tetap belajar sesuai dengan hak asasi manusia.
k. Agama. Melaksanakan ibadah.
3. Perubahan psikologis
Perubahan psikologis pada lansia meliputi short term memory, frustasi,
kesepian, takut kehilangan kebebasan, takut menghadapi kematian, perubahan
keinginan, depresi, dan kecemasan.
5. Pendekatan Perawatan Lanjut Usia
1. Pendekatan fisik
Perawatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia ada 2 bagian yaitu:
a. Klien lanjut usia yang masih aktif, yang masih mampu bergerak tanpa bantuan
orang lain.
b. Klien lanjut usia pasif atau tidak dapat bangun yang mengalami kelumpuhan
atau sakit.
2. Pendekatan psikis
Perawatan mempunyai peranan yang panjang untuk mengadakan pendekatan
edukatif pada klien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter,
interpreter terhadap segala sesuatu yang asing, sebagai penampung rahasia pribadi
dan sebagai sahabat yang akrab.
3. Pendekatan sosial
Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan upaya
perawatan dalam pendekatan sosial. Memberi kesempatan berkumpul bersama
dengan sesama klien lanjut usia untuk menciptakan sosialisasi mereka.
4. Pendekatan Spiritual
Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam
hubungannya dengan tuhan atau agama yang dianutnya. terutama jika klien dalam
keadaan sakit atau mendekati kematian.
6. Tindakan Keperawatan
Perawat memberikan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang telah
dibuat. Perawat memberikan pelayanan fungsional lansia dan mencegah komplikasi
serta meningkatkan ketidakmampuan.
Tindakan keperawatan yang dilakukan pada lansia.
1. Menumbuhkan dan membina hubungan saling percaya dengan cara memanggil
nama klien.
2. Menyediakan penerangan yang cukup: cahaya matahari, ventilasi rumah, hindarkan
dari cahaya yang silau, penerangan di kamar mandi, dapur, dan ruangan lain
sepanjang waktu.
3. Meningkatkan rangsangan pancaindra melalui buku-buku yang dicetak besar dan
berikan warna yang dapat dilihat.
4. Mempertahankan dan melatih daya orientasi realita: kalender, jam, foto-foto, serta
banyaknya jumlah kunjungan.
5. Memberikan perawatam sirkulasi: hindari pakaian yang sempit, mengikat/menekan,
mengubah posisi, dukung untuk melakukan aktivitas, serta melakukan penggosokan
pelan-pelan waktu mandi.
6. Memberikan perawatan pernapasan dengan membersihkan hidung, melindungi dari
angin, dan meningkatkan aktivitas pernapasan dengan latihan napas dalam (latian
batuk). Hati-hati dengan terapi oksigen, perhatikan tanda-tanda gelisah, keringat
berlebihan, gangguan penglihatan, kejang otot, dan hipotensi.
7. Memberikan perawatan pada organ pencernaan: beri makan porsi kecil tapi sering,
beri makan yang menarik dan dalam keadaan hangat, sediakan makanan yang
disukai, makanan yang cukup cairan, banyak sayur dan buah, berikan makanan
yang tidak membentuk gas, serta sikap fowler waktu makan.
8. Memberikan perawatan genitourinaria dengan mencegah inkontinensia dengan
menjelaskan dan memotivasi klien untuk BAK tiap 2 jam serta observasi jumlah
urin pada saat akan tidur. Untuk seksualitas, sediakan waktu untuk konsultasi.
9. Memberikan perawatan kulit. Mandi: gunakan sabun yang mengandung lemak,
hindari menggosok kulit dengan keras, potong kuku tangan dan kaki, hindari
menggaruk dengan keras, serta berikan pelembap (lotion) untuk kulit.
10. Memberikan perawatan muskuloskeletal: bergerak dengan keterbatasan, ubah
posisi 2 jam, cegah osteoporosis dengan latihan, lakukan latihan aktif/pasif, serta
anjurkan keluarga untuk membuat klien mandiri.
11. Memberikan perawatan psikososial: jelaskan dan motivasi untuk sosialisasi, bantu
dalam memilih dan mengikuti aktivitas, fasilitasi pembicaraan, sentuhan pada
tangan untuk memelihara rasa percaya, berikan penghargaan, serta bersikap
empati.
12. Memelihara keselamatan: usahakan agar pagar tempat tidur (pengaman) tetap
dipasang, posisi tempat tidur yang rendah, kamar dan lantai tidak berantakan dan
licin, cukup penerangan, bantu untuk berdiri, serta berikan penyangga pada waktu
berdiri bila diperlukan.
B. Konsep Teori Hipertensi
1. Pengertian
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal
tekanan darah dalam pembuluh darah arteri secara terus menerus lebih dari satu
periode (Udjianti, W.J, 2010) sedangkan menurut Nurarif, H.A, 2013) hipertensi
adalah meningkatnya tekanan darah arteri yang persisten (Nurarif.H.A, 2013)
Hipertensi juga disefinisikan sebagai tekanan darah sistolik ≥ 140 mmhg dan
tekanan darah diastolik ≥ 90 mmhg.
2. Klasifikasi hipertensi (Nurarif, H.A, 2013)
Kategori Tekanan sistolik (mmHg) Tekanan Diastolik (mmHg)
Optimal <120 <80
Normal 120-129 80-84
Normal tinggi 130-139 85-89
Hipertensi :
Stage 1 ( ringan ) 140-159 90-99
Stage 2 ( sedang ) 160-179 100-109
Stage 3 ( berat ) 180-209 100-119
Stage 4 (sangat >210 >120
berat

3. Faktor Pencetus Hipertensi


a. Obesitas / kegemukan
b. Kebiasaan merokok
c. Minuman beralkohol
d. Penyakit kencing manis dan jantung
e. Wanita yang tidak menstruasi
f. Stress
g. Kurang olah raga
h. Diet yang tidak seimbang, makanan berlemak dan tinggi kolesterol
4. Etiologi
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar
yaitu : ( Gunawan, 2001 )
a. Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui
penyebabnya
b. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain
Hipertensi primer terdapat pada lebih dari 90 % penderita hipertensi, sedangkan 10
% sisanya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Meskipun hipertensi primer belum
diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa
factor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai
berikut :
a. Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih
besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita
hipertensi
b. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah umur (jika
umur bertambah maka TD meningkat), jenis kelamin (laki-laki lebih tinggi dari
perempuan) dan ras (ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih)
c. Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah
konsumsi garam yang tinggi (melebihi dari 30 gr), kegemukan atau makan
berlebihan, stress dan pengaruh lain misalnya merokok, minum alcohol, minum
obat-obatan
( ephedrine, prednison, epineprin )
Pada Usia lanjut, penyebab perubahan tekanan darah adalah karena adanya
ateroslerosis, hilangnya elastisitas pembuluh darah, menurunnya distensi dan
daya regang pembuluh darah.
5. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula
jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari
kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat
vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system
saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan
asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah,
dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh
darah. Berbagai factor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon
pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat
sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal
tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh
darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi
epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol
dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh
darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan
pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian
diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya
merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan
retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra
vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer
bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut.
Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan
penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya
menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah.
Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam
mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup,
mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Brunner
& Suddarth, 2002).
6. Pathway

Obesitas
Umur Jenis kelamin Gaya hidup
Jenis kelamin

HYPERTENSI
Otak
Retina
Pembuluh darah
Ginjal
Resistensi pemb. drh Suplay O2 Ginjal
otak meningkat Sistemik Koroner jntung Spasmus
Sinkope Vasokontriksi arteriole
pemb drh ginjal vasokontriksi Iskhemi
miokard
Tek..Pemb. drh
Blood flow Diplopia
otak meningkat menurun

Resti
injuri Nyeri dada
Gangguan
Nyeri kepala perfusi After load
Respon RAA Resti injuri
jaringan meningkat Penurunan
Rangsang COP
Nyeri akut CVA
Vasokontriksi Aldosteron Fatique
Gangguan Odem Retensi Na
keseimbangan

Gambar 2.3 Patway Hipertensi (Sylvia Anderson, 2000)


7. Tanda Dan Gejala
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi:(Edward K Chung, 1995 )
a. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan
tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal
ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri
tidak terukur.
b. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri
kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang
mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. Menderita
hipertensi yaitu:
 Mengeluh sakit kepala
 Pusing
 Sesak nafas
 Gelisah
 Mual
 Muntah
 Epistaksis
 Kesadaran menurun (Nurarif.H.A, 2013)
8. Pemeriksaan Penunjang
a. Riwayat dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh
b. Pemeriksaan retina
c. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kerusakan organ seperti ginjal dan
jantung
d. EKG untuk mengetahui hipertropi ventrikel kiri
e. Urinalisa untuk mengetahui protein dalam urin, darah, glukosa
f. Pemeriksaan : renogram, pielogram intravena arteriogram renal, pemeriksaan
fungsi ginjal terpisah dan penentuan kadar urine.
g. Foto dada dan CT scan
9. Penatalaksanaan
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat
komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan
tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi
meliputi :
a. Terapi tanpa Obat
Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai
tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa obat ini meliputi :
1) Diet
Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
a) Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
b) Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
c) Penurunan berat badan
d) Penurunan asupan etanol
e) Menghentikan merokok
f) Diet tinggi kalium
2) Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk
penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu :
a) Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda,
berenang dan lain-lain
b) Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau
72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Denyut nadi
maksimal dapat ditentukan dengan rumus 220 – umur
c) Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona latihan
d) Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu
3) Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :
a) Tehnik Biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada
subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek
dianggap tidak normal.
Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi
gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan
psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.
b) Tehnik relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk
mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk
dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks
4) Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien
tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat
mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
b. Terapi dengan Obat
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja
tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita
dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur
hidup penderita. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli
Hipertensi ( JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION
AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988 ) menyimpulkan
bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE
dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan
penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.
Pengobatannya meliputi :
a. Step 1 : Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca
antagonis, ACE inhibitor
b. Step 2 : Alternatif yang bisa diberikan
1) Dosis obat pertama dinaikkan
2) Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama
3) Ditambah obat ke –2 jenis lain, dapat berupa diuretika ,
beta blocker, Ca antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator
c. Step 3 : Alternatif yang bisa ditempuh
1) Obat ke-2 diganti
2) Ditambah obat ke-3 jenis lain
d. Step 4 : Alternatif pemberian obatnya
1) Ditambah obat ke-3 dan ke-4
2) Re-evaluasi dan konsultasi
c. Follow Up untuk mempertahankan terapi
Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan
komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan
(perawat, dokter ) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan. Hal-hal yang
harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas kesehatan adalah sebagai
berikut :
a. Setiap kali penderita periksa, penderita diberitahu hasil pengukuran tekanan
darahnya
b. Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai mengenai tekanan
darahnya
c. Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat sembuh, namun bisa
dikendalikan untuk dapat menurunkan morbiditas dan mortilitas
d. Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan tingginya tekanan
darah atas dasar apa yang dirasakannya, tekanan darah hanya dapat diketahui
dengan mengukur memakai alat tensimeter
e. Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan lebih dahulu
f. Sedapat mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup penderita
g. Ikutsertakan keluarga penderita dalam proses terapi
h. Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan bila penderita atau keluarga
dapat mengukur tekanan darahnya di rumah
i. Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal 1 x sehari
atau 2 x sehari
j. Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi, efek samping
dan masalah-masalah yang mungkin terjadi
k. Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis atau mengganti
obat untuk mencapai efek samping minimal dan efektifitas maksimal
l. Usahakan biaya terapi seminimal mungkin
m. Untuk penderita yang kurang patuh, usahakan kunjungan lebih sering
n. Hubungi segera penderita, bila tidak datang pada waktu yang ditentukan.
Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka sangat diperlukan
sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang pemahaman dan pelaksanaan
pengobatan hipertensi.
10. Cara Penanganan dan Perawatan Hipertensi
a. Cara penanganan hipertensi
1) Berobat/memeriksa diri secara teratur
2) Minum obat secara teratur
3) Jangan menghentika, mengubah dan menambah dosis dan jenis obat tanpa
petunjuk dokter
4) Konsultasikan dengan petugas kesehatan jika menggunakan obat untuk
penyakit lain karena ada jenis obat yang dapat meningkatkan dan
memperbutuk hipertensi.
b. Cara perawatan dan pencegahan hipertensi
1) Usahakan untuk memeprtahankan berat badan yang seimbang dengan
mencegah kegemukan
2) Batasi pemakaian garam (Sodium)
3) Tidak merokok
4) Memperhatikan diet dengan memperbanyak makan buah dan sayuran dan
membatasi minuman beralkohol
5) Hindari minum kopi berlebihan
6) Periksa tekanan darah secara teratur terutama jika usi sudah mencapai 40
tahun
11. Komplikasi Hipertensi
a. Pada otak
 Pelebaran pembuluh darah
 Perdarahan pada otak
 Kematian sel otak Stroke
b. Pada ginjal
 Malam banyak kencing
 Kerusakan sel-sel ginjal
 Gagal ginjal
c. Jantung
 Pembesaran jantung
 Nafas sesak
 Cepat lelah
d. Gagal jantung

C. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan komputeratik untuk mengumpulkan data dan
menganalisanya sehingga dapat diketahui kebutuhan pasien terserbut berhasil
atau tidaknya suatu asuhan keperawatan sangat tergantung dari data atau hasil
pengkajian (Suzanne C. Smeltzer dan Brenda G. Bare, 2001). Adapun data yang
dikumpulkan pada klien dengan hipertensi adalah :
a. Biodata klien dan Penanggung jawab
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan ,tanggal atau jam masuk rumah
sakit, nomor register, diagnosa,nama orang tua,alamat,umur, pendidikan,
pekerjaan,pekerjaan orang tua,agama dan suku bangsa.
b. Riwayat penyakit
1) Keluhan Utama
Keluhan yang dirasakan paling berat oleh pasien.
2) Riwayat penyakit sekarang
Kapan mulai ada keluhan, sudah berapa lama, bagaimana kejadiannya dan apa
saja upaya untuk mengatasi penyakitnya.
3) Riwayat penyakit dahulu
Bagaimana kesehatan klien sebelumnya, apakah pernah mengalami penyakit atau
ada riwayat penyakit yang lain dan jika ada, biasanya pergi berobat kemana

4) Riwayat penyakit keluarga


Bagaimana kesehatan keluarganya, apakah ada diantara anggota keluarganya ada
yang mengalami penyakit yang sama
5) Riwayat kesehatan lingkungan
c. Riwayat bio-psiko-sosial-spiritual
Dalam pengkajian kebiasaan sehari-hari/kebutuhan dasar, penulis
menggunakan konsep dasar menurut Virginia handerson yaitu
1) Aktivitas/ Istirahat.
Gejala: kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton. Tatida yaitu
Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.
2) Sirkulasi
Gejala: Riwayat Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung Koroner/katup
dan penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi. Tanda: kenaikan TD, Nadi
denyutan jelas dari karotis, jugularis, radialis, tikikardi, murmur stenosis
valvular, distensi vena jugularis, kulit pucat, sianosis, suhu dingin
(vasokontriksi perifer) pengisian kapiler mungkin lambat/ bertunda.
3) Integritas Ego
Gejala: riwayat perubahan kepribadian, ansietas, faktor stress multiple
(hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan).
Tanda: Letupan suasana hati gelisah, penyempitan continue perhatian,
tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola
bicara.
4) Eliminasi
Gejala: gangguan ginjal saat. ini atau (seperti obstruksi atau riwayat penyakit
ginjal pada masa yang lalu.)
5) Makanan atau cairan
Gejala: Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak
serta kolesterol, miial, muntah dan perubahan BB akhir-akhir ini (meningkat
atau turun) Riwayat penggunaan diuretic Tanda: Berat badan normal atau
obesitas, adanya edema, glikosuria.
6) Neurosensori
Gejala: Keluhan pening pening atau pusing, berdenyut, sakit kepala,
subojksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara spontan setelah
beberapa jam) Gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur, epistakis).
Tanda: Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, efek,
proses pikir, penurunan keuatan genggaman tangan.
7) Nyeri/ ketidaknyamanan
Gejala: Angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan jantung), sakit kepala.
8) Pernafasan
Gejala: Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea, ortopnea,
dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.
Tanda: distress pernafasan atau penggunaan otot aksesori pernafasan bunyi
nafas tambahan (krakties/mengi), sianosis.
9) Keamanan
Gejala: Gangguan koordinasi dan cara berjalan, hipotensi postural.
10) Pembelajaran atau Penyuluhan
Gejala: faktor resiko keluarga: hipertensi, aterosporosis, penyakit jantung,
DM. Faktor faktor etnik seperti: orang Afrika, Amerika, Asia Tenggara,
penggunaan pil KB atau hormon lain, penggunaan alkohol/obat. Rencana
pemulangan : bantuan dengan pemantau diri TD atau perubahan dalam terapi
obat.
d. Pemeriksaan fisik
1) Kepala dan rambut
a) Inspeksi: Untuk mengetahui warna, tekstur dan distribusi rambut,
apakah bentuk kepala simetris atau tidak, apakah ada ketombean, kutu atau
tidak,apakah rambut mudah rontok atau tidak.
b) Palpasi: Untuk mengetahui ada atau tidak pembengkakan pada kepala
, ada atau tidak ada nyeri tekan.
2) Wajah
a) Inspeksi: Untuk mengetahui bentuk wajah klien simetris atau tidak,
gerakan otot wajah dan ekspresi wajah klien pada saat melakukan pengkajian
b) Palpasi: Untuk mengetahui ada atau tidak odema pada wajah
3) Mata
Inspeksi: Untuk mengetahui apakah ada sianosis atau tidak, terdapat
konjungtivitis atau tidak, kelopak mata bersih atau tidak

4) Hidung
Inspeksi: Untuk mengetahui bentuk hidung apakah simetris atau tidak, apakah
terdapat skret atau polipnasi atau tidak dan untuk mengetahui sejauh mana
ketajaman penciuman klien.
5) Telinga
Inspeksi: untuk mengetahui bentuk telinga simetris atau tidak, apakah terdapat
serumen atau tidak, apakah pendengaran kedua telinga baik atau tidak.
6) Mulut
Inspeksi: Untuk mengetahui apakah ada kelainan pada mulut dan gigi klien, bibir
kering atau lembab, ada tidaknya caries gigi.
7) Leher
a) Inspeksi: Untuk mengetahui bentuk leher, apakah ada atau tidak
pembesaran kelenjar tiroid maupun vena jugularis
b) Palpasi: Untuk mengetahui ada atau tidak pembesaran kelenjar tiroid
maupun vena jugularis.
8) Dada
a) Inspeksi: Untuk mengetahui bentuk dada simetris atau tidak, apakah
menggunakan oto bantu pernafasan atau tidak.
b) Palpasi: Untuk mengetahui apakah ada atau tidak pembengkakan di
daerah dada, kelengkapan tulang iga, apakah ada atau tidak nyeri tekan pada
dinding dada, apakah ada tarikan dinding dada.
c) Auskultasi: Untuk mengetahui suara jantung dan nafas klien( suara
nafas tambahan) apakah ada kelainan atau tidak.
d) Perkusi: untuk mengetahui bunyi ketuk pada daerah dada klien,
apakah ada bunyi atau tidak.
9) Abdomen
a) Inspeksi: Untuk melihat apakah ada striae atau tidak, apakah turgor
kulit klien baik atau tidak
b) Auskultasi: Untuk mendengar apakah ada bising usus atau tidak,
apakah ada kelainan pada daerah abdomen, apakah ada nyeri tekan.
c) Perkusi: Untuk mengetahui apakah ada bunyi timpani pada abdomen.
d) Palpasi: Untuk mengetahui apakah terdapat nyeri tekan abdomen atau
kelainan lainnya pada saat dilakukan palpasi.

10) Ekstremitas bawah dan atas


a) Inspeksi: untuk melihat apakah ada odema atau tidak, kekuatan otot
dan capillary refill time dan apakah terdapat infuse atau tidak.
b) Perkusi: Untuk mengetahui bagaimana refleks patella.
11) Integument
a) Inspeksi: untuk mengetahui apakah kulit bersih atau tidak, apakah
ada luka ataupun penyakit kulit lainnya.
b) Palpasi: untuk mengetahui turgor kulit klien baik atau tidak.
2. Analisa Data
No Symptom Etiologi Problem
1 Ds :Klien biasanya mengeluh Obesitas Nyeri( akut)
nyeri kepala
 Paliative Pengumoulan lemak
:
Nyeri kepala secara tiba - tiba Penyempitan pembuluh
 Quality/Quantity : darah
Klien mengatakan sakitnya
seperti nyut - nyut Aliran darah ke jantung
 Region menurun
:
terasa sakitdikepala bagian peningkatan tekanan
belakang vaskuler serebral
 Severity scale :
merasa tidak nyaman jika nyeri kepala bagian
sakitnya datang skala 3 belakang
 Timming : sakitnya
kambuh diwaktu tertentu,pada Nyeri ( akut )
siang dan malam hari
Do : K/u baik
 Biasanya TTV dalam batas
tidak normal
2 Ds : Aliran darah ke jantung Resiko
 Klien mengatakan menurun tinggi
capek,lemah pada saat Penurunan
beraktifitas Ketidakseimbangan suplai curah
Do : k/u lemah, pucat darah dan kebutuhan jantung
kelayan tampak letih saat oksigen
beraktifitas
 Biasanya TTV dalam batas Kelemahan umum
tidak normal
Intoleransi aktifitas

3 Ds : Obesitas Intoleransi
 Klien mengeluh sering pusing aktivitas
 Klien mengeluh tidak bisa Pengumpulan lemak
melakukan aktivitas
Do : biasanya keadaan umum Penyumbatan pembuluh
tampak lemah dan sedikit pucat darah
 TD : 140 / 80 mmHg
 RR : 17x / menit Aliran darah
 N : 72x / menit
 S : 35,2 ”C Kejantung akan menurun
 ADL Klien selalu dibantu
oleh keluarganya Peningkatan vaskuler
 Klien tampak lemah serebral
 ADL klien di bantu oleh
keluarga atau saudara Nyer ( akut )
Gangguan pola istirahat
tidur

3. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan
peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertrofi atau rigiditas
(kekakuan) ventrikuler
2. Nyeri (akut atau kronis) sakit kepala berhubungan dengan peningkatan
tekanan vaskuler.
3. Resiko Injuri berhubungan dengan sensori atau perubahan penglihatan.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum,
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake nutrisi in adekuat, mual muntah.
4. Rencana Keperawatan
a. Diagnosa 1
Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi
pembuluh darah.
Kriteria Hasi1 : Klien berpartisifasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan
darah/ beban kerja jantung, mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapat
diterima, memperlihatkan norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentang
normal pasien.
Intervensi :
1. Observasi tekanan darah
Rasional: perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap
tentang keterlibatan / bidang masalah vaskuler).
2. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer
Rasional: Denyutan karotisjugularis, radialis dan femoralis mungkin teramati/
palpasi.
3. Denyut pada tungkai mungkin menurun, mencerminkan efek dari vasokontriksi
Rasional: Peningkatan SVR dan kongesti vena.
4. Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler.
Rasional: adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat
mencerminkan dekompensasi atau penurunan curah jantung.
5. Catat adanya demarn umum/ tertentu.
Rasional: dapat mengindikasikan gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskuler.
6. Berikan lingkungan yang nyaman, tenang, kurangi aktivitas/ keributan
lingkungan, batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal.
Rasional: membantu untuk menurunkan rangsangan simpatis, meningkatkan
relaksasi.
7. Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi dan distraksi.
Rasional: dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress, membuat
efektenang, sehingga akan menurunkan tekanan darah.
8. Kolaborasi dengan dokter dalam pembrian terafi anti hipertensi, deuritik.
Rasional: menurunkan tekanan darah.
b. Diagnosa 2
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan O 2.
Kriteria Hasil: Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan atau
diperlukan, melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.
Intervensi :
1. Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunkan parameter
Rasional: Frekuensi nadi 20 per menit diatas frekwensi istirahat, catat
peningkatan
2. TD, dipsnea, atau nyeri dada, kelelahan berat dan kelemahan, berkeringat,
pusing atau pingsan.
Rasional: Parameter menunjukan respon fisiologis pasien terhadap stress,
aktivitas dan indicator derajat pengaruh kelebihan kerja jantung).
3. Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan kelemahan
atau kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi, peningkatan perhatian pada aktivitas
dan perawatan diri.
Rasional: Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat
aktivitas individual.
4. Dorong memajukan aktivitas/ toleransi perawatan diri.
Rasional: Konsumsi oksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat
menir.gkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan aktivitas bertahap
mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung.
5. Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi,
menyikat gigi/ rambut dengan duduk dan sebagainya
Rasional: Teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan
sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen).
6. Dorong pasien untuk partisifasi dalam memilih periode aktivitas. Rasional:
Seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas dan
mencegah kelemahan).
c. Diagnosa 3
Gangguan rasa nyaman nyeri: sakit kepala berhubungan dengan peningkatan
tekanan vaskuler cerebral.
Kriteria Hasil: Melaporkan nyeri/ ketidaknyamanan tulang/ terkontrol,
mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan, mengikuti regiment
farmakologi yang diresepkan.
Intervensi :
1. Pertahankan tirah baring selama fase akut.
Rasional: Meminimalkan stimulasi/ meningkatkan relaksasi.
2. Beri tindakan non farmakologi untuk menghilangkan sakit kepala, misalnya
: kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher serta teknik relaksasi.
Rasional: Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dengan
menghambat/ memblok respon simpatik, efektif dalam menghilangkan sakit
kepala dan komplikasinya.
3. Hilangkan atau minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan
sakit kepala: mengejan saat BAB, batuk panjang,dan membungkuk.
Rasional: aktivitasyang meningkatkan vasokontriksimenyebabkan sakit kepala
pada adanya peningkatkan tekanan vaskuler serebral.
4. Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan.
Rasional: Meminimalkan penggunaan oksigen dan aktivitas yang berlebihan
yang memperberat kondisi klien.
5. Beri cairan, makanan lunak. Biarkan klien istirahat selama 1 jam setelah
makan.
Rasional: Menurunkan kerja miocard sehubungan dengan kerja pencernaan.
6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik, anti ansietas, dan
diazepam.
Rasional: Analgetik menurunkan nyeri dan menurunkan rangsangan saraf
simpatis).
d. Diagnosa 4
Resiko Injuri berhubungan dengan sensori/ perubahan penglihatan
Kriteria Hasil:
1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya
cidera.
2. Menyebutkan tujuan menggunakan tindakan keamanan untuk mencegah
cedera misalnya menyingkirkan perabot yang tidak teratur atau
membiarkannya.
3. Meningkatkan kegiatan sehari-hari jika memungkinkan.
Intervensi:
1) Kaji adanya faktor-faktor penyebab atau pendukung
2) Kurangi atau hilangkan faktor-faktor penyebab atau pendukung
3) Gunakan penerangan pada malam hari
4) Dorong untuk minta bantuan pada malam hari.
5) Atur tempat tidur lebih rendah pada malam hari.
6) Memberi penerangan yang cukup di semua ruangan.
e. Diagnosa 5
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi
in adekuat, keyakinan budaya, pola hidup monoton. Kriteria Hasil: klien dapat
mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dengan kegemukan, menunjukan
perubahan pola makan, melakukan/ memprogram olah raga yang tepat secara
individu.
Intervensi :
1. Kaji pemahaman klien tentang hubungan langsung antara hipertensi dengan
kegemukan.
Rasional: Kegemukan adalah resiko tambahan pada darah tinggi, kerena
disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan
dengan masa tumbuh).
2. Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak,
garam dan gula sesuai indikasi.
Rasional: Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya aterosklerosis dan
kegemukan yang merupakan predisposisi untuk hipertensi dan
komplikasinya, misalnya, stroke, penyakit ginjal, gagal jantung, kelebihan
masukan garam memperbanyak volume cairan intra vaskuler dan dapat
merusak ginjal yang lebih memperburuk hipertensi.
3. Tetapkan keinginan klien menurunkan berat badan.
Rasional: motivasi untuk penurunan berat badan adalah internal. Individu harus
berkeinginan untuk menurunkan berat badan, bila tidak maka program sama
sekali tidak berhasil.
4. Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet.
Rasional: mengidentifikasi kekuatan/ kelemahan dalam program diet terakhir.
Membantu dalam menentukan kebutuhan inividu untuk menyesuaikan/
penyuluhan.
5. Tetapkan rencana penurunan BB yang realistic dengan klien, Misalnya:
penurunan berat badan 0,5 kg per minggu.
Rasional: Penurunan masukan kalori scscorang sebanyak 500 kalori per hari
secara teori dapat menurunkan berat badan 0,5 kg/ minggu. Penurunan berat
badan yang ambat mengindikasikan kehilangan lemak melalui kerja otot dan
umumnya dengan cara mengubah kebiasaan makan.
6. Dorong klien untuk mempertahankan masukan makanan harian termasuk
kapan dan dimana makan dilakukan dan lingkungan dan perasaan sekitar saat
makanan dimakan.
Rasional: memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang
dimakan dan kondisi emosi saat makan, membantu untuk memfokuskan
perhatian pada faktor mana pasien telah / dapat mengontrol perubahan.
7. Intruksikan dan bantu memilih makanan yang tepat , hindari makanan dengan
kejenuhan lemak tinggi (mentega, keju, telur, es krim, daging dll) dan
kolesterol (daging berlemak, kuning telur, produk kalengan, jeroan).
Rasional: Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting
dalam mencegah perkembangan aterogenesis.
8. Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai indikasi.
Rasional: Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan
diet individual) (Doenges, 2000).
DAFTAR PUSTAKA

Azizah, L.M. 2011. Keperawatan Lanjut Usia. Graha Ilmu : Yogyakarta

Bandiyah, Siti. 2009. Lanjut Usia dan Keperawatan Gerontik. Nuha Medika : Yogyakarta

Maryam, R.S.dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Salemba Medika :
Jakarta

Nugroho, W. 2008. Keperawatan Gerontik dan Geriatrik. EGC : Jakarta

Nurarif.H.A, 2013.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnose Medis & Nanda Nic
Noc Jilid . Jakarta: Media Action

Pujiastuti, S.S. 2003. Fisioterapi Pada Lansia. EGC : Jakarta

Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth
Edisi 8 vol.3. EGC : Jakarta

Udjianti.J.W.2010. Keperawatan Kardiovaskuler. Jakarta: Selemba Medika