Anda di halaman 1dari 9

MODUL 2

ARUS BOLAK - BALIK

Nama Praktikan : Ivan Widyasmoro


NIM : 102120016
Kelas : EE 2 B
Tanggal Praktikum : 22 Februari 2021
Asisten Praktikum : Rendy Elminanto
I. INTISARI
Praktikum modul 2 yang berjudul Arus bolak-balik adalah arus yang arahnya
berubah-ubah secara bergantian. Arus bolak - balik memiliki beberapa tujuan yaitu untuk
menentukan perbedaan arus searah dan bolak balik, mengukur besaran dalam rangkaian arus
bolak-balik, menentukan konsep dari reaktansi induktif maupun reaktansi deduktif.
Praktikum kali ini dilakukan dengan 3 percobaan. Pada percobaan 1 adalah mengarahkan
kutub utara magnet ke dalam kumparan. Pada percobaan 2 dan 3 adalah mengukur tegangan
yang berada pada rangkaian listrik Arus searah (DC) dan Arus bolak-balik (AC). Pada
percobaan 2, yaitu reaktansi kapasitif menggunakan sumber daya DC didapatkan hasil yang
sama secara teori maupun percobaan yaitu VR sebesar 0 Volt dan VC sebesar 2,42 Volt. Lalu
menggunakan sumber daya AC didapatkan hasil yang sedikit berbeda antara teori dan
percobaaan yaitu VR sebesar 0.345 Volt dan VC sebesar 2.254 Volt. VR yang didapat dengan
menggunakan sumber daya DC adalah 0, hal ini karna tidak ada arus yang mengalir pada
resistor dan arus tersebut sudah tersimpan di kapasitor, sedangkan pada sumber daya AC
arus tetap mengalir pada resistor diakarenakan arus pada AC dua arah atau bolak balik. Data
hasil yang didapatkan dari perhitungan berbeda dengan data hasil percobaan yang diberikan
karna adanya Human Error, yang diakibatkan mungkin pada saat menghitung menggunakan
rumus yang salah atau pembulatan angka yang salah.
Kata kunci : Arus Bolak-Balik, Arus Searah, Reaktansi Kapasitif.

II. PENDAHULUAN
2.1. Tujuan Percobaan
1. Menentukan perbedaan arus searah dan bolak balik
2. Mengukur besaran dalam rangkaian arus bolak-balik
3. Menentukan konsep reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif

2.2. Dasar Teori

Listrik adalah rangkaian fenomena fisika yang berhubungan dengan kehadiran dan
aliran muatan listrik. Listrik menimbulkan berbagai macam efek yang telah umum
diketahui, seperti petir, listrik statis, induksi elektromagnetik dan arus listrik. Fenomena
listrik telah dipelajari sejak zaman purba, meskipun pemahaman secara teoritisnya
berkembang lamban hingga abad ke-17 dan 18. Meski begitu, aplikasi praktisnya saat itu
masih sedikit, hingga di akhir abad ke-19 para insinyur dapat memanfaatkannya pada
industri dan rumah tangga. Perkembangan yang luar biasa cepat pada teknologi listrik
mengubah industri dan masyarakat. [1]

Arus listrik tebentuk adanya aliran-aliran muatan listrik yang mengalir


padamedium tertentu, pembagian arus litrik dibagi menjadi 2 bagian : arus listrik
searah(Direct Curent) dan arus listrik bolak-balik (Alternathing Current). Satuan dari
aruslistrik adalah Amper. Begitu juga sama halnya dengan tegangan, tegangan adalah
hasilperkalian antara arus dengan hambatan listrik. Tegangan listrik terbentuk
adanyaaliran-aliran arus listrik dengan hambatan listrik. Tegangan listrik terbagi
menjadi 2bagian : tegangan listrik searah (Direct Voltage) dan tegangan listrik
bolak-balik(Alternathing Voltage). Satuan dari tegangan adalah Voltage. [2]
Arus bolak - balik merupakan aliran muatan listrik positif di konduktor yang
arah alirannya berubah terhadap waktu. Sumber dari arus bolak balik ini biasanya
disebut tenaga gerak listrik (tgl) da nada pula yang menyebutnya (ggl). Tgl ini
berlambang, dan memiliki satuan volt (V). tegangan AC tidak mengenal kutub positif
dan negative karena polaritas kutub-kutubnya berubah terhadap waktu.[3]

Listrik dapat tercipta oleh induksi elektromagnetik dari kumparan dan perubahan
medan magnet. Perubahan medan magnet yang searah dan terus-menerus tidak dapat
direalisasikan. Perubahan medan magnet hanya bisa direalisasikan dengan cara mengubah
kutub (positive negative) magnet. Akibatnya, arus yang tercipta dari induksi
elektromagnetik tidak akan searah atau berubah arah secara periodik. Arus ini dinamakan
arus bolak balik (Alternating Current). [4]

Gambar 2.1 menunjukkan 2 arus bolak balik berbentuk sinusoidal yang memiliki
periode dan phasa tertentu. Kedua sinyal tersebut dapat ditulis dengan persamaan
matematika sebagai berikut:

I1 = Imax sin(wt) ; I2 = Imaxsin(wt-𝜑) (2.1)

Dalam konsep phasor, dapat juga ditulis sebagai berikut:


I1 = Imax <-90 ° ; I2 = Imax < -𝜑 ° -90 ° (2.2)

Gambar 2.1. Contoh arus bolak-balik

Nilai tersebut didapat dengan cara:

Acos(wt + Ø°) = A<Ø° (2.3)

Maka,

I1 = Imax sin(wt) = Imax cos(wt - 90 °) = Imax < - 90 ° (2.4)

Pada pengukuran menggunakan multimeter digital yang sudah dalam mode pengaturan
AC, arus yang akan terbaca adalah hanya nilai efektifnya saja, biasa
ditulis dengan 𝐼𝑟𝑚𝑠

Imax = Irms √2 (2.5)


Dalam rangkaian dengan arus bolak balik, ukuran resistansi (hal yang dapat menghambat
arus) yang digunakan adalah impedansi (𝑍(Ω)). Berbeda dengan resistansi pada konsep
arus searah (DC), impedansi memiliki nilai fase relatif yang diakibatkan oleh komponen
induktor dan kapasitor.

𝑗
ZR = R; ZL = jwL; ZC = − 𝑤𝐶 (2.6)

Z = ZL + Z C + ZR (2.7)

Untuk mendapatkan nilai 𝑍 total tersebut digunakan konsep phasor. Hal ini juga berlaku
untuk besaran yang mengandung vektor lainnya. Contohnya jumlah tegangan induktor dan
resistor. Tegangan induktor akan berbeda fasa 90° dengan tegangan resistor. Maka,
tegangan total dari kedua komponen ini adalah:

Vtotal = VL + VR (2.8)

|𝑉𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙| < ϕtotal = |𝑉𝐿| < ϕL + |𝑉𝑅| < ϕR (2.9)

Perbedaan fasa 90° inilah yang menyebabkan |𝑉𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙| ≠ |𝑉𝐿| + |𝑉𝑅|,

Vtotal = √|𝑉𝐿 |2 + |𝑉𝑅|2 (2.10)

Dalam rangkaian listrik arus bolak - balik atau AC sudut fase dan beda fase
akan memberikan informasi mengenai tegangan dan arus yang mengalir. Sednagkan,
beda fase antara tegangan dan arus pada listrik arus bolak - balik memberikan
informasi tentang sifat beban dan penyerapan daya atau energi listrik. Dengan melihat
beda fase anatara tegangan dan arus dapat diketahui sifat dari beban apakah resistif,
kapasitif atau indukti. [5]

2.3. Alat Percobaan


Tabel 2.1. Daftar alat-alat percobaan
Nama Alat Jumlah
Kumparan 1000 lilitan 1
Magnet batang 1
Galvanometer 1
Poros jarum 1
Multimeter digital 1
Kabel probe 10
Catu daya 1
Saklar SPST 1
Resistor 100 Ω 1
Kapasitor 5µF 1
2.3. Prosedur Percobaan

Percobaan 1 : Pembangkit arus bolak – balik sederhana


1. Alat dan bahan disiapkan
2. Galvanometer dihubungkan pada kumparan 1000 lilitan.
3. Siapkan magnet bagian warna merah (kutub utara), masukan perlahan kedalam
kumparan lalu amati jarum pada galvanometer. Akan terlihat jarum galvanometer
menyimpang ke arah kanan.
4. Magnet dikeluarkan dari kumparan secara perlahan lalu amati jarum pada
galvanometer. Akan terlihat jarum galvanometer kea rah kiri.

Gambar 2.2. Pembangkit arus bolak – balik sederhana

Percobaan 2 : Reaktansi Kapasitif


Pada DC
1. Catu daya (sebagai sumber tegangan AC dan DC) disiapkan.
2. Catu daya DC dihubungkan pada saklar, lalu saklar dihubungkan dengan kapasitor dan
membentuk seri dengan hambatan 100 Ω.
3. Catu daya dihubungkan dengan kutub negative DC.
4. Catu daya dan saklar dinyalakan.
5. Lalu setiap titik Vsumber diukur, kemudian amati dan hasil data dicatat
6. Kemudian, VC (tegangan kapasitor) dan VR (tegangan resistor) diukur dan data yang
telah didapat dicatat.
7. Pengukuran dilakukan kembali dengan langkah yang sama tetapi membalik kabel probe
pada multimeter dan ukur pada VS, VC dan VR.
8. Arus yang mengalir pada rangkaian diukur, lalu multimeter diubah menjadi Ampemeter
(DC) 25mA.
9. Hubungkan secara seri pada rangkaian. Pada saat dihubungkan kapasitor dengan
resistor, rangkaian dinyalakan terlebih dahulu dengan sumber tegangan catu daya
sebesar 2 V (DC) dan nilai yg didapat dicatat kembali.

Gambar 2.3. Rangkaian RC 1


Pada AC
1. Percobaan pada rangkaian AC pada dasarnya sama dengan DC. Hanya saja catu daya
diubah menjadi AC.
2. Multimeter diubah menjadi voltmeter dengan selector 20 AC dan percobaan dilakukan
pada VS, VC, dan VR.
3. Arus yang mengalir pada rangkaian diukur, lalu multimeter diubah menjadi Ampemeter
(AC) 25mA.
4. Hubungkan secara seri pada rangkaian. Pada saat dihubungkan kapasitor dengan
resistor, rangkaian dinyalakan terlebih dahulu dengan sumber tegangan catu daya
sebesar 2 V (AC) dan nilai yg didapat dicatat kembali.

Gambar 2.4. Rangkaian RC 2

Percobaan 3 : Reaktansi Induktif


1. Menggunakan rangkaian yang sama percobaan 2, tetapi kapasitor digantikan dengan
induktor (kumparan 1000 lilitan).
2. Catu daya digunakan sebagai sumber tegangan AC dan DC.
3. Tegangan DC 2 V digunakan untuk mengukur tegangan dan arus.
4. Multimeter diubah menjadi voltmeter (DC), lalu dihubungkan pada titik VS, VL,
induktor dan VR.
5. Kemudian kabel probe multimeter dibalik dan ukur kembali pada titik VS, VL, dan VR.
6. Langkah yang sama dilakukan pada tegangan AC, kemudian amati dan hasilnya dicatat.

Gambar 2.5. Rangkaian RL 1

Gambar 2.6. Rangkaian RL 2


III. DATA DAN PENGOLAHAN DATA
Percobaan 1
Pada percobaan 1, dilakukan percobaan dengan dimasukkan magnet secara
perlahan kedalam kumparan. Ketika magnet dimasukan jarum menyebabkan panah
galvanometer mengarah kearah kanan. Lalu ketika kutub utara magnet dikeluarkan, maka
panah galvanometernya akan menyimpang kearah kiri. Lalu ketika magnet didiamkan di
dalam kumparan maka tidak akan terjadi apa apa pada jarum galvanometer. Apabila
magnet dikeluar masukkan maka akan menyebabkan arus induksi, arus ini mengalir dari
kumparan ke selektor positif dan arah medan magnet induksi yang ditimbulkan dapat kita
lihat menggunakan kaidah tangan kanan. Hal tersebut dapat diketahui dari arah panah
galvanometer yang saat dimasukkan oleh utara medan magnet maka akan mengarah ke
kanan yang artinya medan magnet induksi adalah kanan.

Percobaan 2 : Reaktansi Kapasitif


Tabel 2.1. Data percobaan reaktansi kapasitif.

VS(V) VR(V) VC(V) I(mA)


Vsumber
P1 P2 P1 P2 P1 P2 P1 P2
2V DC 2.42 -2.42 0 0 2.42 -2.42 0 0
2V AC 2.28 2.28 0.342 0.342 2.36 2.36 3.45 3.45
Diketahui : R = 100 Ω

Sampel pada DC (Polar 1) :

VRteori = I x R = 0 x 100 = 0 Volt

VCteori = √𝑉𝑠 2 − 𝑉𝑟 2 = √2.422 − 02 = 2.42 Volt


𝑉𝑐 2.42
XC = = = Tidak terdefinisi
𝐼 0

2.422
Impedansi Z = √𝑅 2 + 𝑋𝑐 2 = √1002 + = Tidak terdefinisi
0

Sampel pada AC (Polar 1) :


VRteori = I x R = (3.45 x 10-3) x 100 = 0.345 Volt

VCteori = √𝑉𝑠 2 − 𝑉𝑟 2 = √2.282 − 0.3422 = 2.25 V


𝑉𝑐 2.25
XC = = 3.45𝑥10−3 = 653.3 A
𝐼

Impedansi Z = √𝑅 2 + 𝑋𝑐 2 = √1002 + 684.062 = 660.909 Ω


Percobaan 3 : Reaktansi Induktif
Tabel 2.2. Data percobaan reaktansi induktif.

VS(V) VL(V) VR(V) I(mA)


Vsumber
P1 P2 P1 P2 P1 P2 P1 P2
2V DC 2.31 -.2.31 0.26 -0.26 2 -2 20.31 20.31
2V AC 2.88 2.88 0.299 0.299 2 2 20.67 20.67

IV. PEMBAHASAN
Pada percobaan yang dilakukan, arus bolak balik sederhana magnet di gerakan bolak
balik keluar masuk terhadap kumparan, maka akan menghasilkan arus induksi. Arus
induksi mengalir dari kumparan menuju selektor positif dan arah medan magnet induksi
yang ditimbulkan yaitu kearah kanan. Arah medan magnet dapat diketahui dengan
menggunakan kaidah tangan kanan yaitu kutub utara itu searah dengan arah medan magnet
induksi. Ketika magnet dimasukan kedalam kumparan, jarum galvanometer akan kearah
kanan. Sehingga diketahui jarum galvanometer menunjuk kearah medan magnet induksi.
Maka dari itu arus induksi benar terjadi, dengan pembuktian jarum galvanometer.

Peristiwa fisis yang terjadi pada magnet dan kumparan adalah ketika kutub utara
magnet di masukan ke dalam kumparan peristiwa fisis yang terjadi adalah jarum pada
galvanometer akan menyimpang ke arah kanan. Lalu ketika magnet di keluarkan dari
kumparan maka yang terjadi adalah jarum pada galvanometer akan menyimpang ke arah
kiri. Penympangan yang terjadi menunjukan bahwa terdapat arus listrik pada kedua ujung
kumparan. Faktor yang mempengaruhi adalah kecepatan gerak magnet atau kecepatan
perubahan jumlah garis – garis gaya magnet, jumlah lilitan dan medan magnet.

Pada percobaan 2, yaitu reaksi kapasitif menggunakan sumber daya DC didapatkan


hasil yang sama secara teori maupun percobaan yaitu VR sebesar 0 Volt dan VC sebesar
2,42 Volt. Lalu menggunakan sumber daya AC didapatkan hasil yang sedikit berbeda
antara teori dan percobaaan yaitu VR sebesar 0.345 Volt dan VC sebesar 2.254 Volt. VR
yang didapat dengan menggunakan sumber daya DC adalah 0, hal ini karna tidak ada arus
yang mengalir pada resistor dan arus tersebut sudah tersimpan di kapasitor, sedangkan
pada sumber daya AC arus tetap mengalir pada resistor diakarenakan arus pada AC dua
arah atau bolak balik. Jika dibandingkan antara teori dan percobaan, maka VR teorti
dibanding VR percobaan sebesar 1.009 :1 sedangkan VC teorti dibanding VC percobaan sebesar 0.96
:1. Jika tegangan AC dan DC secara perhitungan dibandingkan, maka VR DC dibanding VR
AC memiliki selisih 0.345 atau 0:0.345. Sedangkan VC DC dibanding VC AC sebesar 1:1.07.

Pada percobaan ini, fungsi induktor diantaranya adalah dapat menyimpan arus listrik
dalam medan magnet, menahan arus bolak-balik (AC), meneruskan arus searah (DC) dan
pembangkit getaran serta melipat gandakan tegangan. Fungsi tersebut menunjukkan dapat
memberi pengaruh terhadap rangkaian arus searah. Pada percobaan reaktansi induktif, dari
data percobaan dapat membuktikan fungsi induktor yang telah disebutkan, ialah dapat
menyimpan arus listrik.
Dapat kita ketahui bahwa fungsi kapasitor adalah menyimpan muatan atau energi.
Arus DC kapasitor bersifat menahan arus dan ketika arus DC diberikan pada induktor
maka yang melewati induktor besarnya akan konstan. Sedangkan fungsi dari induktor
adalah mengalirkan arus listrik sehingga Arus tidak mengalir pada rangkaian DC yang
memiliki kapasitor.

V. KESIMPULAN
1. Arus searah adalah arus mengalir hanya dalam satu arah, hal ini disebut arus searah
(DC) atau tegangan listrik yang mempunyai nilai tetap dan waktu yang tidak berubah.
Sedangkan arus bolak balik adalah arus yang arah dan besarnya setiap saat berubah-
ubah.
2. Alat yang digunakan untuk mengukur besaran rangkaian bolak-balik pada percobaan
kali ini adalah mutimeter dan galvanometer. Besaran yang dihitung pada percobaan
ini yaitu menentukan VRteori, VCteori, XC, Impedansi Z pada arus AC dan DC.
3. Reaktansi kapastif (kapasitor) adalah sebuah kapasitor yang diberikan tegangan AC
yang polaritas tegangannya berubah-ubah dari polaritas positif ke polaritas negatif
kemudian dari polaritas negatif ke polaritas positif dengan tingkat frekuensi tertentu
seperti pada gelombang sinus tegangan. Pada pembuangan dan pengisian muatan
kapasitor yang diberikan tegangan arus bolak balik, arus listrik yang mengalir melewati
kapasitor tersebut dibatasi oleh resistansi pada kapasitor itu sendiri. Reaktansi induktif
(induktor) adalah komponen elektronika pasif yang dapat menimbulkan medan magnet
saat dialiri arus listrik dan menyimpan arus listrik dalam waktu yang relatif singkat.
Sifat Induktor yang menghambat arus listrik AC inilah yang disebut dengan Reaktansi
Induktif. Jadi, pada dasarnya yang dimaksud dengan Reaktansi Induktif adalah
hambatan atau tahanan Induktor terhadap arus listrik AC. Pada saat dialiri arus yang
bertegangan DC, arus induktor akan terus meningkat seiring dengan waktu hingga
mencapai kondisi stabil pada arus maksimumnya. Namun pada saat dialiri arus listrik
yang bertegangan AC, karakteristik arus listrik yang melewati Induktor akan sangat
berbeda dengan saat Induktor yang dilewati oleh arus listrik tegangan DC. Efek dari
gelombang sinus arus listrik AC yang diberikan ke Induktor akan mengakibatkan
perbedaan fasa pada bentuk gelombang tegangan dan arus listrik.

VI. REFERENSI
[1] Jones,D.A. .1991.Electrical engineering: the backbone of society. New York :
Proceedings of the IEE Science, Measurment and Technology.
[2] Syahrina, Ani. 2017. Modul Praktikum SMKN 02 Kota Bekasi. Bekasi.
[3] Jati, Bambang Murdaka Eka, Tri Kuntoro Priyambodo. 2010. Fisika Dasar.
Yogyakarta. Penerbit Andi.
[4] Modul praktikum Fisika Dasar 2 Universitas Pertamina 2020/2021

[5] Tim Fakultas Teknik UNY. 2001. Rangkaian Listrik Arus Bolak - Balik. Yogyakarta.
UNY