Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN TUTORIAL

BLOK 11 : KESEHATAN KOMUNITAS


MODUL 1
Sistem Kesehatan Nasional
OLEH:
KELOMPOK TUTORIAL 3
TUTOR : drg. Susi, MKM
KETUA : Wira Putri Winata (1311412016)
SEKRETARIS : Tamia Akhira (1311412008)
Resti Khairani (1311412013)
ANGGOTA : An Nisaa Amelia (1311411001)
Atika (1311412030)
Enda Markus Aginta (1311412023)
Fitri Anggini (1311419001)
Muhammad Setyo A.(1311412020)
Rahmat Hadi Indra (1311411004)
Karina Nabilla (1311412027)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS ANDALAS
TAHUN AJARAN 2014/ 2015
MODUL 1
SISTEM KESEHATAN NASIONAL

Skenario 1
Gratis....?
Melita (24 tahun) dibawa keluarga ke Puskesmas Baru karena ada
pembengkakan diwajahnya. Meskipun tidak sakit tetapi membuatnya
merasa rendah diri. Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan, drg.
Monita diketahui pembengkakan sudah terjadi sejak lima tahun yang
lalu. Gigi 16 dan 17 gangren radiks. Drg. Monita mengatakan bahwa
ada kemungkinan Melita menderita kista pada region posterior atas
kanan dan menyarankan untuk dibawa ke dokter spesialis bedah
mulut. Ibu Melita menanyakan apakah tidak dapat diobati di RSUD
yang ada di kabupaten karena mereka mempunyai kartu Jamkesda.
Akhirnya drg. Monita merujuk Melita ke RSUD dan RSUD merujuk
lagi ke RSUP yang ada di provinsi.
Di rumah sakit Melita dioperasi dan dirawat selama 10 hari dan
tidak dipungut biaya apapun. Suami Melita menceritakan kepada
tetangganya yang datang ke rumah sakit bahwa petugas yang
melayani mereka di puskesmas dan rumah sakit sangat baik dan
ramah. Puskesmas dan rumah sakitnya bersih dan nyaman.
Dapatkah saudara menjelaskan sistem pelayanan kesehatan
nasional?

2
Langkah 1: Mengklarifikasikan dan Mendefinisikan
Terminologi
1. Sistem kesehatan nasional
Sistem kesehatan nasional adalah suatu tatanan yang
menghimpun berbagai upaya bangsa Indonesia secara
terpadu dan saling mendukung guna menjamin
tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan umum
seperti dimaksud dalam pembukaan UUD 1945.
2. Jamkesda:dokumen sebagai penyelanggraan pelayanan
kesehatan acuan pembangunan kesehatan masyarakat
selenggaranya
3. Kista :tumor jinak kadang berisi cairan ,udara ,dll spt jaringan

Langkah 2: Menentukan Masalah


1.Apa fungsi sistem kesehatan nasional ?
2.Apa saja faktor SKN?
3.Apa prinsip dasar SKN?
4.Apa tujuan SKN?
5.Apa syarat pokok dari pelayanan kesehatan?
6.Apa saja ruang lingkup pelayanan kesehatan?
7. Apa tingkat pelayan kesehatan ?
8 Apa faktor yang mempengaruhi pelayanan kesehatan?
9. Apa metode pembayaran dalam pelayanan kesehatan?
10.Apa keunggulan Jamkesda?
11.Dari mana Sumber dana Jamkesda?
12.Hal yang dapat di asuransikan apa saja?
13.jenis asuransi kesehatan selain jamkesda?
14.apakah yang sudah terdaftar asuransi kesehatan sebelum nya
angsung terdaftar bpjs?
15.Apa Perbedaan Memahami Pebedaan JKN, KIS, KJS, BPJS
Jamkesmas dan Jamkesda?

16.Hubungan antara JKN, KIS, KJS, BPJS Jamkesmas dan


Jamkesda?

17. kenapa pasien harus di rujuk ke RSUD dahulu baru RSUP?

3
Langkah 3: Menganalisa Masalah
1.Apa fungsi sistem kesehatan nasional ?
 Mengatur pembiayaan sumber daya
 Aturan yang umum dan tidak jauh berbeda akibat
perbedaan masyarakat di masing-masing daerah
 Paket manfaat
 Sasaran pembentukan iuran
 Pola manajemen kesehatan pola kemampuan
fisikal

2.faktor SKN
 Masyarakat (kurang sadar)
 Pemerintah(kurang sadar)
 Politik
 IPTEK terbaru

3 prinsip dasar SKN


 Perikemanusiaan
 Asas manfaat
 Keadilan
 Perlindungan
 Legalitas
 Non driskiminatif
 Kemandirian masyarakat
 Kemitraan
4. Tujuan SKN

Adalah terselenggaranya upaya kesehatan yg tercapai


(accessible), terjangkau (affordable), dan bermutu (quality)
untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna
meningkatkan derajat kesmas yg setingginya.

5. syarat pokok dari pelayanan kesehatan?


1. Tersedia dan berkesinambungan (Available and
Continous)
2. Dapat diterima dan wajar (Acceptable and Apropriate)
3. Mudah dicapai (Accesible)
4. Mudah dijangkau (Affordable ).
5. Bermutu (Quality)

4
6. ruang lingkup pelayanan kesehatan?
pelayanan dokter, pelayanan keperawatan, pelayanan
kesehatan masyarakat. Subsistem pelayanan kesehatan tersebut
memiliki tujuan masing-masing dengan tidak meninggalkan
tujuan umum dari pelayanan kesehatan. Dalam pelayanan
kesehatan terdapat 3 bentuk, yaitu :
1.      Primary Health Care (pelayanan kesehatan tingkat pertama)
Ini dilakukan pada masyarakat yang memiliki masalaha
kesehatan  yang ringan atau masyarakat yang sehat tetapi ingin
mendapatkan peningkatan kesehatan agar sejahtera.
2.      Secondary Health Care (pelayanan kesehatan tingkat kedua)
Ini dilakukan bagi klien yang membutuhkan perawatan dirumah
sakit atau rawat inap. Ini dilaksanakan di rumah sakit yang
tersedia tenaga spesialis atau sejenisnya.
3.      Tertiary Health Services (pelayanan kesehatan tingkat tiga)
Ini merupakan tingkat pelayanan tertinggi, biasanya pelayanan
ini membutuhkan tenaga-tenaga yang ahli atau subspesialis dan
sebagai rujukan utama seperti rumah sakit yang tipe A atau B.

7.Apa tingkat pelayan kesehatan ?


Menurut Leavel dan Clark tingkat pelayanan kesehatan
dalam sistem pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut :
1.      Healt promotion (promosi kesehatan)
2.      Specific protection (perlindungan khusus)
3.      Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis dini dan
pengobatan segera)
4.      Disability limitation (pembatasan cacat)
5.      Rehabilitation (rehabilitasi)

8.Apa faktor yang mempengaruhi pelayanan kesehatan?


1.  Ilmu pengetahuan dan teknologi baru
2.      Pergeseran nilai masyarakat
3.      Aspek legal dan etik
4.       Ekonomi

5
5.      Politik

9. Apa metode pembayaran dalam pelayanan kesehatan?


Pemerintah:
 Dana Pemerintah Pusat
 Dana Pemerintah Propinsi
 Dana Pemerintah Kabupaten Kota
 Saham Pemerintah dalan BUMN
 Premi bagi jaminan kesehatan masyarakat miskin, yang
dibayarkan oleh pemerintah.
Swasta dan Masyarakat
 CSR (Corporate Social Responsibility)
 Pengeluaran Rumah Tangga, baik yang dibayarkan tunai
atau melalui sistem Asuransi
 Bantuan dari Luar Negeri
 Hibah dan Donor dari LSM
Slain yang diatas ada sistem secara INA CBG’S sebelum nya
DRG
10. Apa keunggulan Jamkesda?
JAMKESDA adalah program jaminan bantuan pembayaran
biaya pelayanan kesehatan yang diberikan Pemerintah Daerah
Kabupaten atau provinsi, untuk menyasar warga fakir miskin
yang belum memililiki jamkesmas, sedangkan JAMKESMAS
adalah program yang ruang lingkupnya lebih luas yang
diperuntukan untuk warga miskin di seluruh indonesia.

Adanya Jamkesda karena tidak semua warga miskin terutama


yang tinggal di daerah terjaring program JAMKESMAS oleh
karena itu untuk mengatasi masalah tersebut diluncurkan
program JAMKEDA yang diselenggarakan pemerintah daerah
sehingga seluruh warga miskin indonesia bisa mendapatkan
jaminan kesehatan dari pemerintah.
11.Dari mana Sumber dana Jamkesda?
diberikan Pemerintah Daerah Kabupaten atau provinsi

12.Hal yang dapat di asuransikan apa saja?


 Resiko murni (penyakit mendadak)
 Resiko yang dapat ditentukan kejadiannya
 Resiko yang berdampak fiancial(cacat/kematian)

6
13. jenis asuransi kesehatan selain jamkesda?
 JKN (adSa pada zaman sby)
 KIS (ada pada zaman Jokowi)
 JAMKESNAS
 KJS

14.apakah yang sudah terdaftar asuransi kesehatan sebelum nya


angsung terdaftar bpjs?
 KIS,JAMKESDAKJAMKESNAS=BPJS PBI
 SKN&ASKES=BPJS PPU

15.Apa Perbedaan Memahami Pebedaan JKN, KIS, KJS,


BPJS Jamkesmas dan Jamkesda
Perbedaan:

1.KIS, Jamkesmas dan Jamkesda diberikan kepada penduduk


miskin dan tidak mampu yang mendapatkan bantuan iuran dari
pemerintah (PBI) untuk menjadi peserta BPJS kesehatan.
2.KIS diberikan kepada PMKS yang mendapatkan bantuan
iuran dari pemerintah  untuk menjadi peserta BPJS keseahtan.
3.JKN untuk orang yang mampu (pekerja dan bukan pekerja)
dan non PBI.
4.JKN mendapatkan pelayanan kesehatan perorangan dengan
indikasi medis, baik promotif, preventf, kuratif dan rehabilitatif
kecuali penyakit tertentu karena terkait dengan prilaku
(HIV/AIDS, pecandu narkoba).

16.Hubungan antara JKN, KIS, KJS, BPJS Jamkesmas dan


Jamkesda

JKN adalah program Jaminan kesehatan dan penyelenggaranya


adalah BPJS kesehatan dan BPJS ketenagakerjaan yang
memberikan jaminan kesehatan, sosial dan ekonomi.

7
sedangkan KIS, KJS, Jamkesmas dan Jamkesda, adalah warga
kurang mampu yang sudah mendapatkan jaminan kesehatan
yang dapat dikategorikan sebagai Peserta BPJS Penerima
bantuan iuran) PBI yang diperuntukan untuk fakir miskin dan
warga tidak mampu.
pemegang Kartu KIS, KJS, Jamkesda ataupun Jamkesmas,
sudah secara otomatis terdaftar sebagai peserta BPJS PBI dan
masih bisa menggunakan kartu anda untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan sama halnya seperti Peserta BPJS PBI
kelas III yang iuran bulannaya dibayarkan oleh pemerintah.
17. kenapa pasien harus di rujuk ke RSUD dahulu baru RSUP?
Rujukan berjenjang dari
 Pelayanan kesehatan tingakat 1
 Pelayanan kesehatan tingakat 2
 Pelayanan kesehatan tingakat 3

8
Langkah 5. Menentukan Tujuan Pembelajaran
1. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan
tentang konsep dasar SKN
2. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan
tentang Pelayanan kesehatan
3. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan
tentang Asuransi kesehatan
4. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan
tentang metode pembiayaan kesehatan

Langkah 6. Mengumpulkan Informasi


Langkah 7. Sintesa dan Uji Informasi
1. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan
tentang konsep dasar SKN

SISTEM KESEHATAN
Pengertian Sistem Kesehatan menurut WHO, 2000 ialah semua
kegiatan yang secara bersama-sama diarahkan untuk mencapai
tujuan utama berupa peningkatan & pemeliharaan kesehatan.
Adapun tujuan yang dimaksud adalah untuk meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat, merespon harapan-harapan/
kebutuhan-kebutuhan masyarakat sesuai harga diri & hak azasi
manusia (kepedulian) serta memberikan perlindungan finansial

9
bagi masyarakat terhadap kemungkinan biaya kesehatan
(keadilan dalam pembiayaan).

Oleh karenanya pengertian SKN adalah suatu tatanan


yang menghimpun berbagai upaya bangsa Indonesia secara
terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai
perwujudan kesejahteraan umum seperti dimaksud dalam
Pembukaan UUD 1945.

LANDASAN
SKN merupakan wujud dan metode penyelenggaraan
pembangunan kesehatan. Sedangkan pembangunan kesehatan
merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Oleh
karenanya landasan SKN adalah sama dengan landasan
pembangunan nasional yaitu :
  Landasan idiil yaitu Pancasila
  Landasan konstitusional yaitu Undang-undang Dasar 1945
  Pasal 28 a
  Pasal 28 b ayat (2)
  Pasal 28 c ayat (1)
  Pasal 28 h ayat (1) dan (3)
  Pasal 34 ayat (2) dan (3)
Pasal 28 A; setiap orang berhak untuk hidup serta berhak
mempertahankan hidup dan kehidupannya
Pasal 28 B ayat (2); setiap anak berhak atas kelangsungan
hidup, tumbuh dan berkembang
Pasal 28 C ayat (1); setiap orang berhak mengembangkan diri
melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat
pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan
teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas
hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia

1
0
Pasal 28 H ayat (1); setiap orang berhak hidup sejahtera lahir
dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan
hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan
kesehatan, dan ayat (3); setiap orang berhak atas jaminan sosial
yg memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai
manusia yg bermartabat

Pasal 34 ayat (2); negara mengembangkan sistem jaminan sosial


bagi seluruh rakyat dan memperdayakan masyarakat yg lemah
dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan, dan
ayat (3); negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas
pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak

1
1
Dua hal penting yang perlu ditekankan adalah: Kesehatan sebagai hak azasi manusia dan
negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan.

PRINSIP DASAR SKN

Prinsip dasar adalah norma, nilai, dan aturan pokok yang bermakna dari falsafah dan budaya
Bangsa Indonesia, yang dipergunakan sebagai acuan berfikir dan bertindak.

Terdapat 7 (tujuh) Prinsip Dasar SKN, dengan penekanan pada masing-masing uraian sebagai berikut:

1.       Perikemanusiaan;

Terabaikannya pemenuhan kebutuhan kesehatan adalah bertentangan dengan prinsip kemanusiaan.

2.       Hak Azasi Manusia;

Diperolehnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi setiap orang adalah hak azasi manusia,
tanpa membedakan antara golongan, suku, agama, dan status sosial ekonomi.

3.       Adil dan merata;

Pelayanan kesehatan harus merata, bermutu, dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat secara
ekonomi dan geografi.

4.       Pemberdayaan dan kemandirian masyarakat;

Kesehatan merupakan tanggung jawab bersama, baik pemerintah maupun masyarakat dan perorangan
(individu).

5.       Kemitraan;

Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan menggalang kemitran yang dinamis dan harmonis
antara pemerintah dan masyarakat termasuk swasta.

6.       Pengutamaan dan manfaat;

Dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan lebih mengutamakan kepentingan umum daripada


kepentingan golongan dan perorangan. Pemanfaatan iptek dalam pembangunan kesehatan.

7.       Tata kepemerintahan yang baik;

Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis, berkepastian hukum, terbuka,


rasional/profesional, bertanggung jawab dan bertanggung gugat.
1. Perikemanusiaan

Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip perikemanusiaan yg dijiwai, digerakkan,


dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME. Terabaikannya
pemenuhan kebutuhan kesehatan adalah bertentangan dengan prinsip kemanusiaan.
Tenaga kes dituntut untuk tidak diskriminatif serta selalu menerapkan prinsip-prinsip
perikemanusiaan dalam menyelenggarakan upaya kesehatan

2. HakAsasi Manusia
Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip hak asasi manusia. Diperolehnya derajat
kesehatan yg setinggi-tingginya bagi setiap orang adalah salah satu hak asasi manusia
tanpa membedakan suku, golongan, agama, dan status sosial ekonomi. Setiap anak
berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi

3. Adil dan merata

Penyelenggaraan SKN berdasarkan prinsip adil dan merata. Dalam upaya mewujudkan derajat
kesehatan yg setinggi- tingginya, perlu diselenggarakan upaya kesehatan yg bermutu dan terjangkau
oleh seluruh lapisan masyarakat secara adil dan merata baik grafis maupun ekonomis

4. Pemberdayaan dan Kemandirian Masyarakat


Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip pemberdayaan dan kemandirian
masyrakat. Setiap orang dan masyarakat bersama dengan pemerintah berkewajiban dan
bertanggungjawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan,
keluarga, masyarakat beserta lingkungannya. Penyelenggaraan pembangunan kesehatan
harus berdasarkan pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri, kepribadian
bangsa, semangat solidaritas sosial, dan gotong royong

5. Kemitraan
Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip kemitraan.

Pembangunan kesehatan harus diselenggarakan dengan menggafang kemitraan yg dinamis dan


narmonis antara pemerintah dan masyarakat termasuk swasta, dengan mendayagunakan potensi yg
dimiliki. Kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta serta kerjasama lintas
sektor dalam pembangunan kesehatan diwujudkan dalam suatu jejaring yg berhasil guna, agar
diperoleh sinergisme yg lebih mnatap dalam rangka mencapai derajat kesmas yg setinggi-tingginya

6. Pengutamaan dan Manfaat

Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip pengutamaan dan manfaat. Pembangunan kesehatan
diselenggarakan dengan lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan perorangan
maupun golongan. Upaya kesehatan yg bermutu dilaksanakan dengan memanfaatkan ilmu
pengetahuan dan pendekatan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pembangunan
kesehatan diselenggarakan secara berhasil guna dan berdaya guna, dengan mengutamakan upaya
kesehatan yg mempunyai daya ungkit tinggi agar memberikan manfaat yg sebesar- besarnya bagi
peningkatan derajat kesmas beserta lingkungannya
7. Tata kepemerintahan yang baik
Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis, berkepastian hukum, terbuka
(transparent), rasional/profesional, serta bertanggungjawab dan bertanggung gugat
(accountable)

TUJUAN SKN

SKN merupakan pedoman dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. SKN bukan pedoman
penyelenggaraan kesehatan bagi Departemen Kesehatan saja, tapi bagi semua potensi bangsa baik
pemerintah (pusat, provinsi, kab/kota), masyarakat, maupun swasta.

Dengan demikian tujuan SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi
bangsa, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah secara sinergis, berhasil-guna dan berdaya-
guna, sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

KEDUDUKAN SKN

SKN merupakan subsistem dari sistem penyelenggaraan negara dan bersama subsistem
lainnya, (misal: pendidikan) diarahkan untuk mencapai tujuan Bangsa Indonesia.

Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak hanya tanggung
jawab sektor kesehatan, tetapi tanggung jawab berbagai sektor terkait lainnya. Sebagai subsistem-
subsistem dari Sistem Penyelenggaran Negara, maka SKN berinteraksi dengan berbagai sistem
nasional lainnya (seperti: pendidikan, perekonomian, ketahanan pangan, hankamnas, dan lain-lain).
Di daerah perlu dikembangkan Sistem Kesehatan Daerah (SKD). SKD merupakan subsistem dari
SKN dalam wilayah NKRI.

SKN juga merupakan bagian dari sistem kemasyarakatan, yang dipergunakan sebagai acuan
utama dalam mengembangkan perilaku dan lingkungan sehat serta peran aktif masyarakat dalam
pembangunan kesehatan.

SUBSISTEM SKN
Banyak buku referensi maupun pengalaman di beberapa negara yang menguraikan tentang
subsistem – subsistem dari suatu sistem kesehatan.

Ada yang mengemukakan bahwa dalam sistem kesehatan hanya ada 2 (dua) subsistem,
yaitu subsistem upaya/pelayanan kesehatan dan subsistempembiayaan kesehatan. Dalam hal ini
sumberdaya kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan manajemen kesehatan sudah termasuk
dalam subsistem upaya kesehatan.

Dengan memperhatikan kondisi dan situasi di Indonesia serta kebutuhan dewasa ini maka
diputuskan terdapat 6 (enam) subsistem dari SKN, yaitu:

1.       Subsistem upaya kesehatan

2.       Subsistem pembiayaan kesehatan

3.       Subsistem sumberdaya manusia kesehatan

4.       Subsistem obat dan perbekalan kesehatan

5.       Subsistem pemberdayaan masyarakat

6.       Subsistem manajemen kesehatan

PERKEMBANGAN POKOK-POKOK SUBSTANSI SKN & KAITANNYA DENGAN PEMBANGUNAN


KESEHATAN

SKN 1982 yan ditetapkan dengan SK Menkes No. 999/1982 berisikan lengkap tata nilai,
proses, dan struktur & wujud pembangunan kesehatan. Lengkapnya substansi SKN 1982 ini telah
dimanfaatkan dalam penyusunan UU No.23 tahun 1992 tentang kesehatan.

Sesuai amanat Tap MPR X/1998 tentang Reformasi, tata nilai pembangunan kesehatan ini
juga telah direformasi, yaitu dengan ditetapkannya Visi Indonesia sehat 2010 yang termuat dalam
Rencana Pembangunan Kesehatan menuju indonesia 2010. Dalam dokumen rencana kebijakan ini
memuat pula proses pembangunan kesehatan yang meliputi kebijakan dan program-program
pembangunan kesehatan sampai dengan tahun 2010.

Sesuai Tap MPR No. VII/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan, yang menetapkan pula
visi antaranya yaitu Indonesia 2020, maka prosespembangunan kesehatan juga sedang
diperbaharui,  dimana dewasa ini kita sedang menyusun RPJPK 2005-2020.

SKN yang ditetapkan tahun 2004 ini menyampaikan secara rinci struktur dan wujud
pembangunan kesehatan. Bila RPJPK 2005-2020 telah selesai disusun, maka diharapkan materi
yang meliputi tata nilai, proses, dan struktur & wujud pembangunan kesehatan menjadi lengkap
guna merevisi UU No. 23/1992 tentang Kesehatan.

2.Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang Pelayanan kesehatan


• Pelayanan Kesehatan adalah:
Setiap upaya yang dilaksanakan sendiri atau secara bersama2 dalam suatu organisasi untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta
memulihkan dan meningkatkan kesehatan perorangan , keluarga, kelompok maupun masyarakat

SYARAT POKOK PELAYANAN KESEHATAN

Syarat pokok pelayanan kesehatan yang dimaksud (Azwar, 1996) adalah :

1. Tersedia dan berkesinambungan

Syarat pokok pertama pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan tersebut harus tersedia di
masyarakat (available) serta bersifat berkesinambungan (continuous). Artinya semua jenis pelayanan
kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan mudah dicapai oleh masyarakat.

2. Dapat diterima dan wajar

Syarat pokok kedua pelayanan kesehatan yang baik adalah apa yang dapat diterima (acceptable) oleh
masyarakat serta bersifat wajar (appropriate). Artinya pelayanan kesehatan tersebut tidak
bertentangan dengan adat istiadat, kebudayaan, keyakinan, kepercayaan masyarakat dan bersifat
wajar.

3. Mudah dicapai

Syarat pokok ketiga pelayanan kesehatan yang baik adalah yang mudah dicapai (accessible) oleh
masyarakat. Pengertian ketercapaian yang dimaksud disini terutama dari sudut lokasi. Dengan
demikian untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang baik, maka pengaturan sarana kesehatan
menjadi sangat penting.

4. Mudah dijangkau

Syarat pokok pelayanan kesehatan yang ke empat adalah mudah dijangkau (affordable) oleh masyarakat.
Pengertian keterjangkauan di sini terutama dari sudut biaya. Pengertian keterjangkauan di sini
terutama dari sudut jarak dan biaya. Untuk mewujudkan keadaan seperti ini harus dapat diupayakan
pendekatan sarana pelayanan kesehatan dan biaya kesehatan diharapkan sesuai dengan
kemampuan ekonomi masyarakat.

5. Bermutu

Syarat pokok pelayanan kesehatan yang kelima adalah yang bermutu (quality). Pengertian mutu yang
dimaksud adalah yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang
diselenggarakan, yang disatu pihak dapat memuaskan para pemakai jasa pelayanan, dan pihak lain
tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik serta standar yang telah ditetapkan.

5 tingkat pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan lima tingkat
pencegahan (five levels of prevention) menurut (leavel & clark)

1. Promosi Kesehatan
2. Perlindungan Khusus
3. Diagnosis dini & pengobatan segera
4. Pembatasan cacat
5. Rehabilitasi

Peningkatan kesehatan dan perlindungan khusus usaha2 prepatogenesis – pencegahan primer


Diagnosis dini & pengobatan segera dengan cara yg tepat – patogenesis – pencegahan secondary
Pembatasan cacat & pemulihan – pencegahan tersier

Kegiatan masing2

1. Promosi Kesehatan / peningkatan kesehatan


a. Peningkatan gizi
b. Peningkatan dan perbaikan kesehatan individu
c. Perbaikan hygine dan sanitasi lingkungan
d. Olahraga teratur
e. Edukasi kesehatan
f. Perkawinan yang tepat
2. Perlindungan khusus
a. Pemberian imunisasi
b. Isolasi penderita penyakit
c. Perlindungan kecelakaan kerja dll
d. Pengendalian tempat2 tercemar
3. Diagnosis dini
a. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin
b. Pengawasan terhadap penyakit2 tertentu
c. Pemberian pelayanan kesehatan yg tepat
d. Meningkatan keteraturan pengobatan terhadap penderita
4. Pembatasan cacat
a. Pencegahan terhadap komplikasi kecacatan
b. Perbaikan fasilitas kesehatan yg dapat menunjang dan mengurangi faktor
resiko
c. Penyempurnaan pengobatan sehingga tidak menimbulkan komplikasi
5. Pemulihan
a. Mengembangkan lembaga2 rehabilitasi dengan mengikutsertakan masyarakat
b. Penyuluhan dan usaha2 kelanjutan yang harus dilakukan stelah sembuh dari
penyakit
c. Mengusahakan tempat rehabilitasi khusus, sehingga penderita yg telah cacat
mampu mempertahankan diri
d. Pendidikan kesehatan serta pemberian motivasi hidups

Mutu pelayanan kesehatan


Definisi Mutu

Menurut Ali Gufran, 2007; Istilah mutu memiliki banyak penafsiran yang mungkin berbeda-beda,
ketika ia digunakan untuk menggambarkan sebuah produk atau pelayanan tertentu. Bisa saja
beberapa orang mengatakan bahwa sesuatu dikatakan bermutu tinggi ketika sesuatu tersebut
dianggap lebih baik, lebih cepat, lebih cemerlang, lux, lebih wah dan biasanya lebih mahal
dibandingkan produk atau layanan yang mutunya dianggap lebih rendah. Hal ini tentu tidak
sepenuhnya benar. Beberapa orang mengartikan layanan kesehatan bermutu adalah layanan yang
memuaskan pelanggan. Padahal layanan yang diberikan tidak memenuhi standar pelayanan medis
profesional. Bahkan bisa terjadi di sebuah institusi layanan kesehatan seperti rumah sakit jika pasien
datang di Unit Gawat Darurat langsung ditangani “diinfus”. Pasien puas karena mereka merasa
langsung “ditangani” padahal infus tidak selalu diperlukan. Bahkan jika tidak terkontrol dapat
menimbulkan efek samping seperti oedem pulmo1,2.

Lebih lanjut dalam uraian Ali Gufran, 2007; Layanan bermutu dalam pengertian yang luas diartikan
sejauh mana realitas layanan kesehatan yang diberikan sesuai dengan kriteria dan standar
profesional medis terkini dan baik yang sekaligus telah memenuhi atau bahkan melebihi kebutuhan
dan keinginan pelanggan dengan tingkat efisiensi yang optimal. Abstrak mutu dapat dinilai dan diukur
dengan berbagai pendekatan. Pendekatan maupun metode pengukuran yang digunakan dalam
upaya meningkatkan mutu tersebut telah tersedia baik dari dimensi input, proses dan output. Mutu
memiliki kharakteristik melakukan pelayanan yang benar dengan cara yang benar, pertama benar
dan selanjutnya diharapkan benar1,2.

PRINSIP PENTING DALAM PERBAIKAN MUTU

Dua hal yang perlu dipantau dalam upaya perbaikan mutu adalah Kepuasan Pelanggan dan Standar
Pelayanan Kesehatan. Kedua aspek ini haruslah seimbang.

Kesetiaan dan Kepuasan Pelanggan

Dari berbagai sumber disebutkan bahwa, Prinsip utama perbaikan mutu dan kinerja pelayanan
kesehatan adalah kepedulian terhadap pelanggan. Pasien sebagai pelanggan eksternal tidak hanya
menginginkan kesembuhan dari sakit yang diderita yang merupakan luaran (outcome) pelayan, tetapi
juga merasakan dan menilai bagaimana ia diperlakukan dalam proses pelayanan 3,4.
Hasil pelayanan kesehatan adalah luaran klinis, manfaat yang diperoleh pelanggan, dan
pengalaman pelanggan yang berupa kepuasan atau kekecewaan. Pengalaman pelanggan tersebut
sangat tergantung pada proses pelayanan pada lini depan atau sistem mikro pelayanan, suatu sistem
pelayanan yang bersentuhan langsung dengan pelanggan 3.

Standar Pelayanan Kesehatan

Keberadaan standar dalam pelayanan kesehatan akan memberikan manfaat, antara lain mengurangi
variasi proses, merupakan persyaratan profesi, dan dasar untuk mengukur mutu. Ditetapkannya
standar juga akan menjamin keselamatan pasien dan petugas penyedia pelayanan kesehatan.
Dikuranginya variasi dalam pelayanan akan meningkatkan konsistensi pelayanan kesehatan,
mengurangi morbiditas dan mortalitas pasien, meningkatkan efisiensi dalam pelayanan, dan
memudahkan petugas dalam pelayanan.

PERBAIKAN MUTU

Menurut Tjahyono Koentjoro 2004, Untuk melakukan perbaikan mutu pelayanan kesehatan, perlu
diperhatikan empat tingkat perubahan, yaitu :

1. Pengalaman pasien dan masyarakat

2. Sistem mikro pelayanan

3. Sistem organisasi pelayanan kesehatan

4. Lingkungan pelayan kesehatan

Berikut pendekatan-pendekatan yang dilakukan dalam upaya mewujudkan pelayanan kesehatan


yang harus berfokus pada pelanggan seperti Total Quality Management (TQM), Layanan Prima.
Tabel 1. Perbandingan pemikiran tradisional dan Total Quality
Management

Pemikiran Tradisional TQM


 Peningkatan mutu merupakan tanggung  Peningkatan mutu merupakan tanggung
jawab pihak manajemen jawab setiap anggota dalam organisasi
 Pelanggan merupakan pihak luar dan kita  Pelanggan (internal dan eksternal)
menjual kepada mereka merupakan bagian vital organisasi
 Cukup baik adalah cukup baik  Tidak ada yang kurang dari 100% usaha
yang dilakukan
 Kita telah memiliki orang-orang terbaik
 Kita membutuhkan orang-orang yang lebih untuk yang mereka kerjakan
baik untuk meningkatkan mutu
 Vendor dan pemasok adalah anggota
 Vendor dan pemasok adalah bukan bagian penting dari tim kita
dari kita, melainkan relasi
 Mutu dibangun dalam pelayanan dan
 Mutu diperoleh dari inspeksi, rejeksi, dan produk mulai dari awal input dan proses
kerja ulang
 “Jika tidak rusak, tingkatkankah”
 Jika tidak ada yang rusak, tidak perlu Peningkatan yang terus-menerus
diperbaiki merupakan satu-satunya jalan
 Peningkatan kualitas akan menurunkan
biaya dan meningkatkan produktivitas
 Peningkatan kualitas adalah suatu hal yang
mahal

Sumber : Ali Ghufron Mukti, Strategi Terkini Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan: Konsep dan
Implementasi, Pusat Pengembangan Sistem Pembiayaan dan Manajemen Asuransi/ Jaminan
Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, 2007.

Lebih lanjut Ali Gufran, 2007 mengulas, mengapa kita menggunakan Total Quality
management? Hal ini disebabkan karena keempat prinsip yang dimiliki oleh TQM akan
sangat membantu dalam upaya peningkatan mutu layanan kesehatan. Keempat prinsip itu
adalah2,4:

1) Mengukur mutu sehingga dapat mengelolanya;

2) Melakukan perncanaan secara strategis sehingga dapat berpikir jangka panjang, tetapi tetap
melakukan aksi-aksi jangka pendek;

3) Menghimpun kekuatan otak dan gagasan dari setiap orang di organisasi sehingga diperoleh
manfaat dari sinergi yang sedang dan telah dibangun, serta

4) Berfokus kepada pasien (customer focused) sehingga dapat memberi mereka kepuasan

Pelayanan prima

Istilah pelayanan prima i merupakan terjemahan dari excellent service, yang secara harfiah berarti
pelayanan yang sangat baik atau pelayanan yang terbaik. Dalam usaha untuk mencapai usaha
Indonesia sehat 2010, Departemen Kesehatan menjelaskan bahwa pelayanan prima seharusnya
meliputi aspek-aspek berikut:

 Kemudahan akses informasi (aspek kepuasan pengguna)

 Pelaksanaan peraturan secara tepat, konsisten, dan konsekuen (aspek proses pelayanan)

 Pelaksanaan hak dan kewajiban pemberi dan penerima pelayanan (aspek SDM dan kepuasan
pelanggan)

 Penanganan dan pendokumentasian kegiatan pelayanan dilakukan oleh tenaga yang


berwenang/kompeten (aspek proses dan SDM)

 Penciptaan pola pelayanan yang sesuai dengan sifat dan jenisnya sebagai efisiensi dan
efektivitas (aspek SDM, dan proses pelayanan)

 Penetapan tarif sesuai dengan kemampuan masyarakat dengan mekanisme pungutan yang
transparan serta adanya pengendalian dan pengawasan yang cermat (aspek finansial dan
kepuasan pelanggan)

 Tidak ada pembedaan dalam memberikan pelayanan serta pemerataan distribusi cakupan (aspek
kepuasan pelanggan)

 Kebersihan fasilitas pelayanan dan lingkungan (aspek proses pelayanan)

 Sikap ramah dan sopan petugas serta meningkatkan kinerja secara kualitatif dan kuantitatif
dengan kapasitas optimal (aspek kepuasan pelanggan dan aspek SDM)

AGAR MUTU TETAP TERUS TERJAGA

Perbaikan Proses Berkesinambungan (Continuous Process Improvement)

Pada dasarnya, langkah perbaikan sistem mikro pelayanan model Nolan terdiri dari tujuh langkah,
yaitu:

1. Bentuk tim

2. Tetapkan sasaran perbaikan

3. Tentukan pengukuran

4. Pilih perubahan yang perlu dilakukan

5. Uji coba beberapa perubahan dalam skala kecil

6. Implementasikan perubahan

7. Sebarkan ke unit yang lebih luas


ALAT-ALAT PENINGKATAN MUTU (QUALITY TOOLS)

Untuk menganalisis masalah, menetapkan sasaran mutu, menganalisis masalah, dan


menyusun rencana perbaikan digunakan berbagai alat perbaikan mutu, baik menggunakan
maupun tidak menggunakan metode statistik. Alat-alat tersebut adalah:

a. Alat-alat mutu bukan statistik (Non-statistical tools) merupakan alat untuk mengembangkan ide,
mengelompokkan, memprioritaskan, dan memberikan arah dalam pengambilan keputusan. Alat-
alat tersebut meliputi:

- curah pendapat

- multivoting

- matriks prioritas masalah

- fishbone

- bagan alir

- failure mode and effect analysis

- bagan gantt

b. Alat-alat mutu statistik (Statistical tools), yang meliputi:

- lembar periksa (check sheet)

- diagram kecendrungan (run chart)

- diagram pencar

- histogram

- diagram Pareto

- diagram kendali

3.Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang Asuransi kesehatan

Pengertian Asuransi Kesehatan

Pada dasarnya yang dimaksud dengan asuransi kesehatan adalah asuransi yang secara khusus
mengatasi resiko atas kesehatan, asuransi kesehatan akan menanggung seluruh biaya yang
diperlukan jika anda jatuh sakit, termasuk juga jika sakit disebabkan oleh suatu kecelakaan.

Namun tentunya keuntungan yang anda dapatkan dari asuransi kesehatan ini tidak gratis, jika tidak
ada bantuan dari pemerintah atau dari tempat anda bekerja maka anda diwajibkan untuk membayar
premi. Besarnya premi ini dapat bervariasi tergantung banyak hal seperti tingkat risiko yang
ditanggung dan administratif, dan tentunya berapa premi yang harus anda bayarkan ini juga akan
ditentukan oleh perusahaan asuransi.
Asuransi kesehatan ini dapat anda peroleh di berbagai jenis perusahaan asuransi, tepatnya di
perusahaan asuransi sosial, perusahaan asuransi jiwa, atau juga dapat anda peroleh di perusahaan
asuransi umum.

Jika kesulitan untuk mendapatkan asuransi, pemerintah pusat dan juga beberapa pemerintah daerah
juga menyediakan bantuan, bantuan asuransi kesehatan dari pemerintah atau sering disebut
Jamkesmas (jaminan kesehatan masyarakat), dan juga jamkesda serta jamkesos untuk bantuan
asuransi kesehatan di level pemerintah daerah tingkat provinsi dan kabupaten/kota, namun bantuan
ini hanya diberikan kepada mereka yang berpenghasilan rendah saja.

Mulai 1 Januari 2014 sistem Jaminan Sosial terbaru atau JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) resmi
diberlakukan. Namun masih banyak warga yang belum tahu apa itu BPJS (Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial) Kesehatan dan JKN. 

JKN dan BPJS Kesehatan dan bedanya

JKN merupakan program pelayanan kesehatan terbaru yang merupakan kepanjangan dari Jaminan
Kesehatan Nasional yang sistemnya menggunakan sistem asuransi. Artinya, seluruh warga Indonesia
nantinya wajib menyisihkan sebagian kecil uangnya untuk jaminan kesehatan di masa depan.

semua rakyat miskin atau PBI (Penerima Bantuan Iuran) ditanggung kesehatannya oleh pemerintah.
Sehingga tidak ada alasan lagi bagi rakyat miskin untuk memeriksakan penyakitnya ke fasilitas
kesehatan.

Sementara BPJS adalah singkatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. BPJS ini adalah
perusahaan asuransi yang kita kenal sebelumnya sebagai PT Askes. Begitupun juga BPJS
Ketenagakerjaan merupakan transformasi dari Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja). 

Antara JKN dan BPJS tentu berbeda. JKN merupakan nama programnya, sedangkan BPJS merupakan
badan penyelenggaranya yang kinerjanya nanti diawasi oleh DJSN (Dewan Jaminan Sosial
Nasional).

peserta JKN

Sesuai Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), dengan
adanya JKN, maka seluruh masyarakat Indonesia akan dijamin kesehatannya. Dan juga
kepesertaanya bersifat wajib tidak terkecuali juga masyarakat tidak mampu karena metode
pembiayaan kesehatan individu yang ditanggung pemerintah.

Fasilitas yang didapat jika ikut JKN

A. Untuk peserta PBI (Penerima Bantuan Iuran)

- Pekerja penerima upah ( PNS, Anggota TNI/POLRI, Pejabat Negara, Pegawai Pemerintah non Pegawai
Negeri dan Pegawai Swasta, akan mendapatkan pelayanan kelas I dan II

- Pekerja bukan penerima upah (Pekerja di luar hubungan kerja atau pekerja mandiri, karyawan swasta)
akan mendapatkan pelayanan kelas I, II dan III sesuai dengan premi dan kelas perawatan yang
dipilih.

- Bukan pekerja (investor, pemberi kerja, penerima pensiun, veteran, perintis kemerdekaan serta janda,
duda, anak yatim piatu dari veteran atau perintis kemerdekaan. Termasuk juga wirausahawan, petani,
nelayan, pembantu rumah tangga, pedagang keliling dan sebagainya) bisa mendapatkan kelas
layanan kesehatan I, II, dan III sesuai dengan premi dan kelas perawatan yang dipilih.

B. Penerima Bantuan Iuran (PBI)

Orang yang tergolong fakir miskin dan tidak mampu yang dibayarkan preminya oleh pemerintah
mendapatkan layanan kesehatan kelas III

Manfaat dan layanan yang didapat peserta JKN

Manfaat JKN mencakup pelayanan pencegahan dan pengobatan termasuk pelayanan obat dan bahan
medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis. Seperti misalnya untuk pelayanan pencegahan
(promotif dan preventif), peserta JKN akan mendapatkan pelayanan:

- Penyuluhan kesehatan, meliputi paling sedikit penyuluhan mengenai pengelolaan faktor risiko penyakit
dan perilaku hidup bersih dan sehat.

- Imunisasi dasar, meliputi Baccile Calmett Guerin (BCG), Difteri pertusis tetanus dan Hepatitis B (DPT-
HB), Polio dan Campak.

- Keluarga Berencana, meliputi konseling, kontrasepsi dasar, vasektomi dan tubektomi

- Skrining kesehatan diberikan secara selektif yang ditujukan untuk mendeteksi risiko penyakit dan
mencegah dampak lanjutan dari risiko penyakit tertentu.

- Jenis penyakit kanker, bedah jantung, hingga dialisis (gagal ginjal).

Alur pembuatan kartu BPJS Kesehatan

Direktur Pelayanan PT Askes Fadjriadinur mengatakan bahwa Anda bisa datang ke kantor BPJS (Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial) kemudian melakukan hal berikut:

1. Mengisi formulir pendaftaran

2. Pembayaran premi

Anda akan diberikan virtual account atau kode bank untuk pembayaran premi pertama yang bisa
dilakukan melalui ATM atau bank terdekat yang saat ini sudah bekerjasama yaitu bank BRI, BNI dan
Mandiri.
 

Untuk biaya premi peserta mandiri dengan perawatan kelas 3, sebulan hanya Rp 25.500 per orang, untuk
perawatan kelas II sebulan Rp 42.500 per orang dan perawatan kelas I sebesar Rp 50.000 per orang.

Adapun besaran premi pada kelompok pekerja sebesar 5 persen dari gaji pokoknya, 2 persen dibayarkan
oleh yang bersangkutan dan 3 persen dibayarkan oleh perusahaan tempat pekerja bekerja.

3. Mendapat kartu BPJS Kesehatan yang berlaku di seluruh Indonesia

Setelah membayar premi, nantinya Anda akan mendapat kartu BPJS Kesehatan yang menjadi bukti
bahwa Anda merupakan peserta JKN. Saat ini fasilitas kesehatan yang dimiliki pemerintah otomatis
melayani JKN. Sementara fasilitas kesehatan milik swasta yang dapat melayani JKN jumlahnya terus
bertambah. Hanya tinggal sekitar 30 persen saja yang belum bergabung.

Alur pelayanan kesehatan

- Untuk pertama kali setiap peserta terdaftar pada satu fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas)
yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan setelah mendapat rekomendasi dinas kesehatan
kabupaten/kota setempat.

- Dalam jangka waktu paling sedikit 3 (tiga) bulan selanjutnya peserta berhak memilih fasilitas kesehatan
tingkat pertama yang diinginkan.

- Peserta harus memperoleh pelayanan kesehatan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama tempat
peserta terdaftar, kecuali berada di luar wilayah fasilitas kesehatan tingkat pertama tempat peserta
terdaftar atau dalam keadaan kegawatdaruratan medis.

 
Perbedaan Fasilitas Kesehatan (Faskes) tingkat 1, 2 dan 3

Perbedaan fasilitas kesehatan tingkat 1, 2 dan 3 bpjs terletak pada jenis dan jumlah layanan medik juga
spesialis dan kelengkapan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh fasilitas kesehatan tersebut,
sebagai berikut:

1. Fasilitas Kesehatan tingkat pertama (FKTP 1)


Fasilitas kesehatan tingkat 1 terdiri dari puskesmas, klinik, praktek dokter, praktek dokter gigi dan rumah
sakit tipe D.

2. Fasilitas Kesehatan tingkat dua 


Tingkat 2 menurut Sistem Rujukan Berjenjang diisi oleh dua tipe 2 rumah sakit yaitu C, B. Di lapangan,
BPJSK akan mengarahkan bahwa jika dari PPK 1 pasien tidak bisa ditangani maka akan dirujuk
secara berjenjang ke tipe D atau C lebih dulu, baru ke tipe B. Bila diperlukan baru ke tipe A.
3. Fasilitas Kesehatan tingkat 3
Fasilitas keseahtan tingkat  3 diisi oleh rumah sakit tipe A, rumah sakit ini adalah rumah sakit yang paling
lengkap dengan sarana dan prasarana ini adalah rujukan terakhir pasien BPJS jika pasien tdak bsa
ditangai di PPK1 dan juga PPK2.

Perbedaan fasilitas keseahatan terutama rumah sakit A, B, C dan D tersebut juga ikut menentukan tarif
rawat inap bpjs di tiap-tiap rumah sakit, meskipun satu tindakan yang sama. Sangat jelas bahwa itu
sebenarnya berkaitan erat dengan kemampuan layanan dan kualifikasi Dokter Spesialis di tiap-tiap
tipe RS.

Pengawasan program JKN

Pengawasan terhadap BPJS dilakukan secara eksternal dan internal. Secara eksternal, pengawasan
akan dilakukan oleh DJSN (Dewan Jaminan Sosial Nasional) dan Lembaga pengawas independen.
Dan secara internal, BPJS akan diawasi oleh dewan pengawas satuan pengawas internal.

Asuransi dibedakan menjadi 2 jenis

Sosial dan komersial berikut perbedaannya

Sosial
 kepersertaan wajib bagi seluruh penduduk
 non profit
 manfaat komperenshif

komersial
 kepersertaan suka rela
 profit
 manfaat sesuai yang dibayarakan

Beberapa yang tidak di tanggung asuransi


 tidak sesuai prosedur
 pelayanan di luar faskes yang bekerja sama
 pelayanan bertujuan losmetik
 general chek up, pengobatan alternatif
 yankes pada saat bencana
 pasien bunuh diri , menyiksa diri sengaja

5. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang metode pembiayaan


kesehatan

A. Definisi Pembiyaan Kesehatan

Biaya Kesehatan ialah besarnya dana yang harus di sediakan untuk menyelenggarakan
dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang diperlukan oleh perorangan,
keluarga, kelompok dan masyarakat. (Azrul Azwar : 1996) Sistem pembiayaan kesehatan
didefinisikan sebagai suatu sistem yang mengatur tentang besarnya alokasi dana yang harus
disediakan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan
yang diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat. (Helda : 2011)
Sedangkan, Subsistem Pembiayaan Kesehatan adalah tatanan yang menghimpun berbagai
upaya penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan sumber daya keuangan secara terpadu
dan saling mendukung untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pembangunan kesehatan
guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. (Ana Faiza :
2013)

B.     Macam-macam Sistem Pembiayaan Kesehatan Nasional


Sistem pembiayaan kesehatan Indonesia secara umum terbagi dalam 2 sistem yaitu:
1. Fee for Service ( Out of Pocket ) Sistem ini secara singkat diartikan sebagai
sistem pembayaran  berdasarkan layanan, dimana pencari layanan kesehatan
berobat lalu membayar kepada pemberi pelayanan kesehatan (PPK). PPK
(dokter atau rumah sakit) mendapatkan pendapatan berdasarkan atas
pelayanan yang diberikan, semakin banyak yang dilayani, semakin banyak
pula pendapatan yang diterima.
Kelemahan sistem Fee for Service adalah terbukanya peluang bagi pihak
pemberi  pelayanan kesehatan (PPK) untuk memanfaatkan hubungan
Agency  Relationship, dimana PPK mendapat imbalan berupa uang jasa
medik untuk  pelayanan yang diberikannya kepada pasien yang besar-
kecilnya ditentukan dari negosiasi. Semakin banyak jumlah pasien yang
ditangani, semakin besar  pula imbalan yang akan didapat dari jasa medik
yang ditagihkan ke pasien. Dengan demikian, secara tidak langsung PPK
didorong untuk meningkatkan volume pelayanannya pada pasien untuk
mendapatkan imbalan jasa yang lebih banyak.
2. Health Insurance
Sistem ini diartikan sebagai sistem pembayaran yang dilakukan oleh  pihak ketiga
atau pihak asuransi setelah pencari layanan kesehatan berobat. Sistem health
insurance ini dapat berupa system kapitasi dan system Diagnose Related
Group (DRG system).
Sistem kapitasi merupakan metode pembayaran untuk jasa pelayanan kesehatan
dimana PPK menerima sejumlah tetap penghasilan per peserta untuk
pelayanan yang telah ditentukkan per periode waktu. Pembayaran bagi PPK
dengan system kapitasi adalah pembayaran yang dilakukan oleh suatu
lembaga kepada PPK atas jasa pelayanan kesehatan dengan pembayaran di
muka sejumlah dana sebesar perkalian anggota dengan satuan biaya (unicost)
tertentu.

Salah satu lembaga di Indonesia adalah Badan Penyelenggara JPKM (Jaminan


Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat).
Sistem kedua yaitu DRG (Diagnose Related Group) tidak berbeda jauh dengan
system kapitasi di atas. Pada system ini, pembayaran dilakukan dengan
melihat diagnosis penyakit yang dialami pasien.
PPK telah mendapat dana dalam penanganan pasien dengan diagnosis tertentu
dengan jumlah dana yang berbeda pula tiap diagnosis penyakit. Jumlah dana
yang diberikan ini, jika dapat dioptimalkan penggunaannya demi kesehatan
pasien, sisa dana akan menjadi pemasukan bagi PPK.

Kelemahan dari system Health Insurance adalah dapat terjadinya


underutilization dimana dapat terjadi penurunan kualitas dan fasilitas yang
diberikan kepada pasien untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.
Selain itu, jika peserta tidak banyak bergabung dalam system ini, maka
resiko kerugian tidak dapat terhindarkan. Namun dibalik kelemahan,
terdapat kelebihan system ini berupa PPK mendapat jaminan adanya
pasien (captive market), mendapat kepastian dana di tiap awal periode
waktu tertentu, PPK taat prosedur sehingga mengurangi terjadinya
multidrug dan multidiagnose. Dan system ini akan membuat PPK lebih
kearah preventif dan promotif kesehatan.
INA-CBG merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Groups yaitu sebuah aplikasi yang
digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. Menurut kepala Dinas kesehatan
DKI Jakarta, Dien Emmawati, INA-CBG merupakan sistem pembayaran dengan sistem "paket",
berdasarkan penyakit yang diderita pasien. KJS menerapkan sistem pembayaran ini untuk pelayanan
baru kesehatan bagi warga Jakarta. Arti dari Case Base Groups (CBG) itu sendiri, adalah cara
pembayaran perawatan pasien berdasarkan diagnosis-diagnosis atau kasus-kasus yang relatif sama.

perbedaan sistem INA DRG VS INA CBG’s:


1. INA DRG menggunakan CGS Grouper IR-DRG oleh PT. 3M sedangkan INA CBG’s
Menggunakan UNU Grouper dari UNU-IIGH.
2.  INA DRG memerlukan Kode Lisensi / Kode security pada instalasi di setiap Komputer
sedangkan INA CBG’s tidak memerlukan kode Lisensi dan dapat langsung digunakan lebih dari
satu PC.
3. INA DRG terdapat 23 MDC (Major Diagnostic Category), label menggunakan numerik 01 s/d
23 dan mengacu pada ICD-10. Sedangkan INA CBG’s terdapat 31 CMG’s (Casemix Main
Groups), label menggunakan abjad A s/d Z serta mengacu pada ICD-10  dan ICD-9CM.
4. Kode pada INA DRG menggunakan 6 digit. Sedangkan INA CBG’s menggunakan 5 digit
kode alfanumerik.
C.    Sumber Pembiayaan Kesehatan Nasional

Secara umum sumber biaya kesehatan dapat dibedakan sebagai berikut :

1.            Bersumber dari anggaran pemerintah Pada sistem ini, biaya dan penyelenggaraan
pelayanan kesehatan sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Pelayanannya diberikan
secara cuma-cuma oleh pemerintah sehingga sangat jarang penyelenggaraan  pelayanan
kesehatan disediakan oleh pihak swasta. Untuk negara yang kondisi keuangannya belum
baik, sistem ini sulit dilaksanakan karena memerlukan dana yang sangat besar.
Anggaran yang bersumber dari pemerintah ini dibagi juga menjadi :
a.       Pemerintahan pusat dan dana dekonsentrasi, dana program kompensasi BBM dan ABT
b.      Pemerintah provinsi melalui skema dana provinsi (PAD ditambah dana desentralisasi DAU
provinsi dan DAK provinsi)
c.       Pemerintah kabupaten atau kota melalui skema dana kabupaten atau kota (PAD ditambah
dana desentralisasi DAU kabupaten atau kota dan DAK kabupaten atau kota
d.      Keuntungan badan usaha milik daerah
e.       Penjualan aset dan obligasi daerah
f.        Hutang pemerintah daerah

2. Bersumber dari anggaran masyarakat Dapat berasal dari individual ataupun perusahaan.
Sistem ini mengharapkan agar masyarakat (swasta) berperan aktif secara mandiri dalam
penyelenggaraan maupun pemanfaatannya. Hal ini memberikan dampak adanya pelayanan-
pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh pihak swasta, dengan fasilitas dan penggunaan
alat-alat berteknologi tinggi disertai peningkatan biaya pemanfaatan atau penggunaannya
oleh pihak  pemakai jasa layanan kesehatan tersebut. Contohnya CSR atau (Corporate
Social Reponsibility) dan pengeluaran rumah tangga baik yang dibayarkan tunai atau melalui
sistem asuransi.

Dana yang bersumber dari swasta anatara lain :


a.       Perusahaan swasta
b.      Lembaga swadaya masyarakat
c.       Dana kemanusiaan (charity)

3.  Bantuan biaya dari dalam dan luar negeri Sumber pembiayaan kesehatan, khususnya untuk
penatalaksanaan  penyakit-penyakit tertentu cukup sering diperoleh dari bantuan biaya pihak
lain, misalnya oleh organisasi sosial ataupun pemerintah negara lain. Misalnya bantuan dana
dari luar negeri untuk penanganan HIV dan virus H5N1 yang diberikan oleh WHO kepada
negara-negara berkembang (termasuk Indonesia).
4. Gabungan anggaran pemerintah dan masyarakat Sistem ini banyak diadopsi oleh negara-
negara di dunia karena dapat mengakomodasi kelemahan-kelemahan yang timbul pada
sumber  pembiayaan kesehatan sebelumnya. Tingginya biaya kesehatan yang dibutuhkan
ditanggung sebagian oleh pemerintah dengan menyediakan layanan kesehatan bersubsidi.
Sistem ini juga menuntut peran serta masyarakat dalam memenuhi biaya kesehatan yang
dibutuhkan dengan mengeluarkan biaya tambahan.
D. Syarat Pokok Pembiayaan Kesehatan
Suatu biaya kesehatan yang baik haruslah memenuhi beberapa syarat  pokok yakni :

1.Jumlah

Syarat utama dari biaya kesehatan haruslah tersedia dalam jumlah yang cukup. Yang
dimaksud cukup adalah dapat membiayai penyelenggaraan semua upaya kesehatan yang
dibutuhkan serta tidak menyulitkan masyarakat yang ingin memanfaatkannya.
1.   Penyebaran
           Berupa penyebaran dana yang harus sesuai dengan kebutuhan. Jika dana yang tersedia
tidak dapat dialokasikan dengan baik, niscaya akan menyulitkan penyelenggaraan setiap
upaya kesehatan.
2.Pemanfaatan
 Sekalipun jumlah dan penyebaran dana baik, tetapi jika  pemanfaatannya tidak mendapat pengaturan
yang optimal, niscaya akan  banyak menimbulkan masalah, yang jika berkelanjutan akan menyulitkan
masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Untuk dapat melaksanakan syarat-syarat pokok tersebut maka perlu dilakukan beberapa hal, yakni :

1)               Peningkatan Efektifitas Peningkatan efektifitas dilakukan dengan mengubah penyebaran


atau alokasi penggunaan sumber dana. Berdasarkan pengalaman yang dimiliki, maka alokasi
tersebut lebih diutamakan pada upaya kesehatan yang menghasilkan dampak yang lebih
besar, misalnya mengutamakan upaya pencegahan, bukan pengobatan penyakit.
2)               Peningkatan Efisiensi Peningkatan efisiensi dilakukan dengan
memperkenalkan  berbagai mekanisme pengawasan dan pengendalian. Mekanisme yang
dimaksud untuk peningkatan efisiensi antara lain:
 a. Standar minimal pelayanan. Tujuannya adalah menghindari  pemborosan. Pada dasarnya ada dua
macam standar minimal yang sering dipergunakan yakni:

  Standar minimal sarana, misalnya standar minimal rumah sakit dan standar minimal
laboratorium.
  Standar minimal tindakan, misalnya tata cara pengobatan dan  perawatan penderita, dan
daftar obat-obat esensial.
b. Kerjasama. Bentuk lain yang diperkenalkan untuk meningkatkan efisiensi ialah memperkenalkan
konsep kerjasama antar berbagai sarana pelayanan kesehatan. Terdapat dua bentuk kerjasama yang
dapat dilakukan yakni:
  Kerjasama institusi, misalnya sepakat secara bersama-sama membeli peralatan kedokteran
yang mahal dan jarang dipergunakan. Dengan pembelian dan pemakaian bersama ini dapat
dihematkan dana yang tersedia serta dapat pula dihindari  penggunaan peralatan yang
rendah. Dengan demikian efisiensi  juga akan meningkat.
  Kerjasama sistem, misalnya sistem rujukan, yakni adanya hubungan kerjasama timbal balik
antara satu sarana kesehatan dengan sarana kesehatan lainnya

E. Fungsi Pembiayaan Kesehatan


Fungsi pembiayaan kesehatan antara lain :

 1.Penggalian dana

 a.  Penggalian dana untuk Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM). Sumber dana untuk UKM
terutama berasal dari pemerintah baik pusat maupun daerah, melalui pajak umum, pajak
khusus, bantuan dan pinjaman serta  berbagai sumber lainnya. Sumber dana lain untuk
upaya kesehatan masyarakat adalah swasta serta masyarakat. Sumber dari swasta dihimpun
dengan menerapkan prinsip public-private patnership yang didukung dengan pemberian
insentif, misalnya keringanan pajak untuk setiap dana yang disumbangkan. Sumber dana dari
masyarakat dihimpun secara aktif oleh masyarakat sendiri guna membiayai upaya kesehatan
masyarakat, misalnya dalam bentuk dana sehat atau dilakukan secara  pasif yakni
menambahkan aspek kesehatan dalam rencana pengeluaran dari dana yang sudah
terkumpul di masyarakat, contohnya dana sosial keagamaan.
b Penggalian dana untuk Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) berasal dari masing-masing
individu dalam satu kesatuan keluarga. Bagi masyarakat rentan dan keluarga miskin, sumber
dananya berasal dari pemerintah melalui mekanisme jaminan pemeliharaan kesehatan wajib.

2. Pengalokasian dana

a. Alokasi dana dari pemerintah yakni alokasi dana yang berasal dari  pemerintah untuk UKM
dan UKP dilakukan melalui penyusunan anggaran pendapatan dan belanja baik pusat
maupun daerah sekurang-kurangnya 5% dari PDB atau 15% dari total anggaran pendapatan
dan  belanja setiap tahunnya.
b. Alokasi dana dari masyarakat yakni alokasi dana dari masyarakat untuk UKM dilaksanakan
berdasarkan asas gotong royong sesuai dengan kemampuan. Sedangkan untuk UKP
dilakukan melalui kepesertaan dalam program jaminan pemeliharaan kesehatan wajib dan
atau sukarela.

3. Pembelanjaan
a. Pembiayaan kesehatan dari pemerintah dan public-private patnership digunakan untuk
membiayai UKM.
 b. Pembiayaan kesehatan yang terkumpul dari Dana Sehat dan Dana Sosial
Keagamaan  digunakan untuk membiayai UKM dan UKP.
c.  Pembelajaan untuk pemeliharaan kesehatan masyarakat rentan dan kesehatan keluarga
miskin dilaksanakan melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan wajib.

Langkah 5: Memformulasikan Tujuan Pembelajaran


Langkah 6: Mengumpulkan informasi

Langkah 7: Sintesa dan Uji Informasi