Anda di halaman 1dari 4

RESUME

Aktivitas Antidiabetes dari Terfeziaclaveryi secara in vitro dan in vivo

Pendahuluan
Penatalaksanaan diabetes dianggap sebagai masalah global dan pencarian
terapi pasti masih terus dilakukan. Truffle adalah jamur yang tumbuh secara liar di
daerah gurun tergantung pada curah hujan air 8. Selain itu, banyak penelitian yang
menyebutkan bahwa truffle dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti
sumber energi, aktivasi hormon seks, dan sebagai antibiotik terhadap bakteri gram
positif termasuk Bacillus subtilis dan Staphylococcus aureus. Ekstrak etanol
Terfeziaclavery menunjukkan efek anti hiperglikemik pada tikus diabetes yang
diinduksi streptozotocin (STZ) 8 Saat ini, belum ada studi penelitian yang
dilakukan untuk menyelidiki in vitro dan in vivo potensi antidiabetes dari
Terfeziaclaveryiý.

Metode
In vitro model anti-diabetes
Aktivitas penghambatan α- amilase
Campuran pengujian : Disiapkan buffer natrium fosfat konsentrasi 0,02 M
(200 μl), α- amilase (20 μl, 2 unit/ml) bersama konsentrasi ekstrak tumbuhan
yang berbeda dengan rentang 20-100 μg / ml. Kemudian diinkubasi dalam waktu
10 menit pada suhu kamar dengan penambahan 200 μl suspensi pati 1 % kesemua
tabung yang mengandung campuran reaksi. kemudian diakhiri dengan
penambahan 400 μl reagen warna 3, 5 asam salisilat di-nitro (DNSA).
Kemudian tabung diletakkan di waterbath selama 5 menit, dan biarkan dingin di
suhu ruangan dan encerkan dengan 15 ml aqua dest. Ukur absorbansi pada
panjang gelombang 540 nm. Larutan kontrol disiapkan tanpa penambahan ekstrak
dalam DMSO. Hasilnya diindikasikan sebagai % penghambatan aktivitas dengan
rumus :
Dimana; Abs (kontrol) adalah absorbansi dari reaksi kontrol
(mengandung semua reagen kecuali sampel uji) dan Abs (sampel) adalah
absorbansi dari ekstrak tumbuhan yang berbeda. Nilai IC 50 (konsentrasi
penghambatan yang akan menghasilkan penghambatan 50% aktivitas enzim.
Acarbose digunakan sebagai kontrol positif dengan nilai rentang konsentrasi 20
hingga 100 μg / ml. Percobaan dilakukan sebnayak 3 kali pengulangan.

Glikosilasi Non enzimatik dari uji haemoglobin


Larutan glukosa (2%), hemoglobin (0,06%) dan gentamycin (0,02%),
disiapkan dalam buffer fosfat (0,01 M, pH 7,4). Satu ml dari masing-masing
larutan yang disebutkan di atas dicampur. Satu ml dari setiap konsentrasi ekstrak
tumbuhan yang berbeda (20-100μg / ml) ditambahkan ke dalam campuran yang
telah disiapkan. Kemudian tabung reaksi yang berisi campuran reaksi diinkubasi
di tempat gelap pada suhu kamar selama tiga hari. Setelah itu, derajat glikosilasi
hemoglobin diperoleh secara kolorimetri pada 520 nm dimana persentase
penghambatan dihitung dengan menggunakan rumus :

Abs (kontrol) adalah absorbansi reaksi kontrol (mengandung semua reagen


kecuali sampel uji) dan Abs (sampel) adalah absorbansi ekstrak tumbuhan yang
berbeda. Nilai IC 50 adalah konsentrasi penghambatan yang akan menghasilkan
penghambatan 50% aktivitas enzim. Alpha-Tocopherol digunakan sebagai obat
Standar. Eksperimen dilakukan 3 kali pengulangan.

In vivo antidiabetik
Uji toksisitas akut
Pengujian toksisitas akut dilakukan untuk T. claveryi ekstrak metanol
total, dipelajari di mana tikus mengambil dosis oral naik hingga 2000 mg / kg dari
setiap ekstrak, dan tanda dan gejala toksisitas diamati selama 48 jam berikutnya
Induksi diabetes
Diabetes diinduksi dengan injeksi intraperitoneal (ip) streptozotocin (STZ)
yang dilarutkan dalam buffer sitrat dingin 0,1 M (pH = 4,4) dengan dosis 60 mg /
kg berat badan. Pada hari ketiga setelah injeksi STZ, kadar glukosa darah puasa
diukur dengan alat monitor glukosa genggam (BAYER Contour). Hanya tikus
dengan kadar glukosa serum 190-200 mg / dl yang dipilih dan dianggap sebagai
hewan diabetes.
Desain eksperimental
Hewan tersebut dipisahkan menjadi lima kelompok yang masing-masing
terdiri dari lima tikus. Kelompok I bertugas sebagai tikus kontrol normal,
diberikan air minum dan 0.1 M buffer sitrat dingin (pH = 4.4) setiap hari selama
12 hari; Kelompok II tikus kontrol diabetes, diberikan air minum setiap hari
selama 12 hari; Tikus diabetes kelompok III diberikan T. claveryi ekstrak metanol
total (200mg / kg) selama 12 hari; dan tikus diabetes kelompok IV diberikan obat
standar glibenklamid (0,25 mg / kg) selama 12 hari. Kadar glukosa puasa
ditentukan pada hari ke 1, 5, dan 12 pemberian ekstrak
Pembahasan
In vitro antidiabetes dengan penghambatan alfa amilase dan
penghambatan glikolisasi HB, serta pengujian toksisitas akut. Penghambatan alfa
amilase mengungkapkan bahwa aktivitas penghambatan (IC 50) dari Ekstrak
metanol Terfeziaclaveryi (38,7μg / ml) lebih kuat jika dibandingkan dengan
kontrol positif (IC50 Acarbose nilai 45,3 μg / ml). Penghambatan glikosilasi
hemoglobin Ekstrak metanol Terfeziaclaveryi menunjukkan IC 50 yang hampir
sama ( 33.1μg / ml) jika dibandingkan dengan kontrol positif, alpha-tocopherol
(35.4μg / ml). Hasil uji toksisitas akut dimana, Tidak ada toksisitas atau kematian
yang diamati pada tikus percobaan. Oleh karena itu 200 mg / kg (1/10 dari 2000
mg / kg) dipilih sebagai dosis keamanan maksimum.
In vivo studi antidiabetik mengungkapkan Ekstrak metanol
Terfeziaclaveryi memiliki aktivitas yang baik dengan dosis 200 mg / kg melalui
penurunan kadar glukosa plasma puasa (122,1 ± 3,0 mg / dl) bila dibandingkan
dengan kontrol positif (Glibenklamid 79,4 ± 1,4 mg / dl) (p<0,001). Ekstrak
metanol T. claveryi diberikan pada tikus diabetes, ditemukan bahwa ekstrak
metanol T. claveryi secara signifikan mengontrol kadar glukosa darah pada tikus
diabetes yang diinduksi Streptozotocin dibandingkan dengan kelompok kontrol
diabetes.

Kesimpulan
Uji invitro menggambarkan penghambatan substansial alfa amilase dan
persentase penghambatan glikosilasi hemoglobin dari ekstrak metanol T. claveryi.
Yang selanjutnya dikonfirmasi oleh studi in vivo yang menunjukkan ekstrak
metanol T. claveryi secara signifikan mengontrol kadar glukosa darah tikus
diabetes. Oleh karena itu dapat disimpulkan dari penelitian ini bahwa T. claveryi
dapat berfungsi sebagai agen terapeutik dan dapat digunakan sebagai sumber
potensial produk antidiabetik baru.