Anda di halaman 1dari 18

SEMINAR KASUS PROFESI KEPERAWATAN MATERNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA “An. D” DENGAN


DIAGNOSA MEDIS SINDROME DOWN
DI RUANG POLI ANAK
RSUD Dr. SOETOMO
SURABAYA

Disusun oleh :

Kathleen Evina Hasibuan 131523143043


Triyana Puspa Dewi 131523143044
Hasanah Eka Wahyu Ningsih 131523143045
Titis Eka Apriliyanti 131523143046
Nur Maziyya 131523143047

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATANUNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Down Sindrom (mongoloid) adalah suatu kondisi di mana materi genetik
tambahan menyebabkan keterlambatan perkembangan anak, dan kadang mengacu pada
retardasi mental. Anak dengan down sindrom memiliki kelainan pada kromosom nomor
21 yang tidak terdiri dari 2 kromosom sebagaimana mestinya, melainkan tiga kromosom
(trisomi 21) sehingga informasi genetika menjadi terganggu dan anak juga mengalami
penyimpangan fisik. Dahulu orang-orang dengan down sindrom ini disebut sebagai
penderita mongolisme atau mongol. Istilah ini muncul karena penderita ini mirip dengan
orang-orang Asia (oriental). Istilah sindrom ini seperti sudah usang, sehingga saat ini kita
menggunakan istilah down sindrom (Fadhli, 2010).
Dahulu penyakit ini diberi nama Mongoloid atau Mongolism karena penderita
penyakit ini mempunyai gejala klinik yang khas yaitu wajah seperti bangsa Mongol
dengan mata yang sipit membujur keatas. Tetapi setelah diketahui bahwa penyakit ini
terdapat pada seluruh bangsa di dunia, dan sekitar 30 tahun yang lalu pemerintah
Republik Mongolia mengajukan keberatan kepada Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang
menganggap nama tersebut dengan sindrom down, angka kejadian sindrom down rata-
rata di seluruh dunia adalah 1 per 700 kelahiran. Kejadian ini akan bertambah tinggi
dengan bertambah usia ibu hamil. Pada wanita muda (<< 25 tahun) insideni sangat
renpdah, tetapi mungkin meningkat pada wanita yang sangat muda (<< 15 tahun). Resiko
melahirkan bayi sindrom down akan meningkat pada wanita berusia >30 tahun dan
meningkat tajam pada usia >40 tahun sekitar 60% janin sindrom down cendrung akan
gugur dan 20% akan lahir mati (Faradz, 2004). Kejadian sindrom Down diperkirakan 1
per 733 kelahiran, meskipun secara statistik lebih umum dengan orang tua lebih tua (baik
ibu dan ayah) akibat peningkatan eksposur mutagenik pada sel reproduksi beberapa
orang tua tua (Namun, orangtua yang lebih tua banyak menghasilkan anak-anak tanpa
kondisi). Faktor lain juga mungkin memainkan peran. Rata-rata IQ anak-anak dengan
sindrom Down adalah sekitar 50, dibandingkan dengan anak normal dengan IQ 100.
Sejumlah kecil memiliki parah pada tingkat tinggi cacat intelektual (Medical, 2012).
Perkembangan yang lambat merupakan ciri utama pada anak down sindrom. Baik
perkembangan fisik maupun mental. Hal ini yang menyebabkan keluarga sulit untuk
menerima keadaan anak dengan down sindrom.setiap keluarga menunjukkan reaksi yang
berbeda-beda terhadap berita bahwa anggota keluarga mereka menderita down sindrom,
sebagian besar memiliki perasaan yang hampir sama yaitu: sedih, rasa tak percaya,
menolak, marah, perasaan tidak mampu dan juga perasaan bersalah (selikowitz, 2001).
Untuk dapat membantu mengoptimalkan perkembangan anak dengan down sindrom,
peran dan sikap keluarga sangat diharapkan anak down sindrom.
Secara fisik dan psikologis anak-anak dengan sindrom ini mempunyai
keistimewaan yang bisa dikembangkan. Secara fisik anak-anak ini memiliki ligamen-
ligamen elastis penyambung tulang lebih fleksibel, sehingga tubuh mereka lebih lentur
dibandingkan anak normal. Apabila dilatih menari, gerakan mereka terlihat indah.
Mendidik anak down sindrom yang paling penting adalah fokus. Bila fokus pada satu
bidang tertentu, mereka akan mengerjakannya dengan sepenuh hati. Hanya saja dalam
menangani anak yang menderita down sindrom perlu kesabaran ekstra. Untuk itu dalam
hal ini sangat dibutuhkan dukungan sosial keluarga untuk membantu mengoptimalkan
perkembangan anak down sindrom (Ramelan, 2008).

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Memahami asuhan keperawatan pada An. “D” dengan Sindrom Down di Ruang Poli
Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Memahami konsep teori sindrom down
2. Memahami konsep asuhan keperawatan dengan sindrom down
3. Memahami asuhan keperawatan pada An. “D” dengan Sindrom Down di Ruang
Poli Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya

1.3 Manfaat
1.3.1 Bagi Mahasiswa
Mahasiswa mampu memahami konsep dan asuhan keperawatan dengan
sindrom down sehingga menunjang pembelajaran praktik lapangan stase anak pada
program profesi ners.
1.3.2 Bagi Institusi
Makalah ini dapat dijadikan refrensi atau kajian pustaka di ruang Poli Anak,
jika akan dilakukan kegiatan ilmiah lainnya.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Teori Sindrom Down


2.1.1 Pengertian Sindrom Down
Sindrom Down merupakan kelainan genetik yang dikenal sebagai trisomi, karena
individu yang mendapat sindrom Down memiliki kelebihan satu kromosom. Mereka
mempunyai tiga kromosom 21 dimana orang normal hanya mempunyai dua saja. Kelebihan
kromosom ini akan mengubah keseimbangan genetik tubuh dan mengakibatkan perubahan
karakteristik fisik dan kemampuan intelektual, serta gangguan dalam fungsi fisiologi tubuh
(Wong, 2008).
Terdapat tiga tipe sindrom down yaitu trisomi 21 reguler, translokasi dan mosaik.
Tipe pertama adalah trisomi 21 reguler. Kesemua sel dalam tubuh akan mempunyai tiga
kromosom 21. Sembilan puluh empat persen dari semua kasus sindrom down adalah dari tipe
ini. Tipe yang kedua adalah translokasi. Pada tipe ini, kromosom 21 akan berkombinasi
dengan kromosom yang lain. Seringnya salah satu orang tua yang menjadi karier kromosom
yang ditranslokasi ini tidak menunjukkan karakter penderita sindrom down. Tipe ini
merupakan 4% dari total kasus. Tipe ketiga adalah mosaik. Bagi tipe ini, hanya sel yang
tertentu saja yang mempunyai kelebihan kromosom 21. Dua persen adalah penderita tipe
mosaik ini dan biasanya kondisi si penderita lebih ringan (Lancet, 2003).

2.1.2 Penyebab Sindrom Down


Sindrom down biasanya disebabkan karena kegagalan dalam pembelahan sel atau
disebut nondisjunction. Tidak diketahui mengapa hal ini dapat terjadi. Namun, diketahui
bahwa kegagalan dalam pembelahan sel ini terjadi pada saat pembuahan dan tidak berkaitan
dengan apa yang dilakukan ibu selama kehamilan.
Pada sindrom down, trisomi 21 dapat terjadi tidak hanya pada saat meiosis pada
waktu pembentukan gamet, tetapi juga dapat terjadi saat mitosis awal dalam perkembangan
zigot. Oosit primer yang perkembangannya terhenti pada saat profase meiosis I tidak berubah
pada tahap tersebut sampai terjadi ovulasi. Diantara waktu tersebut, oosit mengalami
nondisjunction. Pada sindrom Down, pada meiosis I menghasilkan ovum yang mengandung
21 autosom dan apabila dibuahi oleh spermatozoa normal, yang membawa autosom 21, maka
terbentuk zigot trisomi 21. Nondisjunction ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:
1. Adanya virus/infeksi
2. Radiasi
3. Penuaan sel telur.
Dimana peningkatan usia ibu berpengaruh terhadap kualitas sel telur. Sel telur akan
menjadi kurang baik dan pada saat terjadi pembuahan oleh spermatozoa, sel telur akan
mengalami kesalahan dalam pembelahan.
4. Gangguan fungsi tiroid.
Dibeberapa penelitian ditemukan adanya hipotiroid pada anak dengan sindrom Down
termasuk hipotiroid primer dan transien, pituitary-hypothalamic hypothyroidism,
defisiensi thyroxinbinding globulin (TBG) dan kronik limfositik tiroiditis. Selain itu,
ditemukan pula adanya autoimun tiroid pada anak dengan usia lebih dari 8 tahun yang
menderita sindrom Down.
5. Umur ibu.
Wanita dengan usia lebih dari 35 tahun lebih berisiko melahirkan bayi dengan sindrom
Down dibandingkan dengan ibu usia muda (kurang dari 35 tahun). Angka kejadian
sindrom Down dengan usia ibu 35 tahun, sebesar 1 dalam 400 kelahiran. Sedangkan ibu
dengan umur kurang dari 30 tahun, sebesar kurang dari 1 dalam 1000 kelahiran.
Perubahan endokrin, seperti meningkatnya sekresi androgen, menurunnya kadar
hidroepiandrosteron, menurunnya konsentrasi estradiol sistemik, perubahan konsentrasi
reseptor hormon, dan hormon LH (Luteinizing Hormone) dan FSH (Follicular
Stimulating Hormone) yang secara tibatiba meningkat pada saat sebelum dan selama
menopause, dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya nondisjunction)
Gambar 1.1 Nondisjunction

Terlihat adanya kesalahan dalam pembelahan sel atau disebut nondisjunction yang
terjadinya pada saat meiosis, sehingga terjadi kelebihan jumlah kromosom didalam tubuh
manusia, yaitu menjadi 47 kromosom. Selain nondisjunction, penyebab lain dari sindrom
Down adalah anaphase lag. Yaitu, kegagalan dari kromosom atau kromatid untuk
bergabung ke salah satu nukleus anak yang terbentuk pada pembelahan sel, sebagai
akibat dari terlambatnya perpindahan/pergerakan selama anafase. Kromosom yang tidak
masuk ke nukleus sel anak akan menghilang. Ini dapat terjadi pada saat meiosis ataupun
mitosis.

Gambar 1.2 Translokasi Kromosom 21 Gambar 1.3 Kromosom Penderita Down


Sindrome
2.1.3 Tanda dan Gejala Sindrom Down
Tanda yang paling khas pada anak yang menderita down syndrome adalah adanya
keterbelakangan perkembangan fisik dan mental pada anak. Penderita down syndrome sangat
mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol berupa bentuk kepala yang
relatif kecil dari normal (microchephaly) dengan bagian (anteroposterior) kepala mendatar.
Pada bagian wajah biasanya tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah
yang menonjol keluar (macroglossia). Seringkali mata menjadi sipit dengan sudut bagian
tengah membentuk lipatan (epicanthal folds).
Tanda klinis pada bagian tubuh lainnya berupa tangan yang pendek termasuk ruas
jari-jarinya serta jarak antara jari pertama dan kedua baik pada tangan maupun kaki melebar.
Sementara itu lapisan kulit biasanya tampak keriput (dermatoglyphics). Kelainan kromosom
ini juga bisa menyebakan gangguan atau bahkan kerusakan pada sistem organ yang lain.
Menurut Blackman dalam Gunarhadi (2005) penyimpangan kromosom trisomi 21
menyebabkan ciri-ciri fisik perkembangan anak down syndrome sebagai berikut:
1. Penyakit jantung bawaan
2. Gangguan mental
3. Tubuh kecil
4. Kekuatan otot lemah
5. Kelenturan yang tinggi pada persendian
6. Bercak pada iris mata
7. Posisi mata miring keatas
8. Adanya lipitan ekstra pada sudut mata
9. Lubang mulut kecil sehingga lidah cenderung menekuk
10. Tangan pendek tetapi lebar dengan lipatan tunggal pada telapak tangan.
Tanda klinis sindroma down lainnya yaitu terbagi atas 2:
1. Karakteristik Fisik
1) Penurunan laju pertumbuhan dan perkembangan fisik. Kebanyakan orang dengan
sindroma down tidak mencapai tinggi dewasa rata-rata
2) Mempunyai bentuk kepala atipikal. Kepala mungkin lebih kecil dari rata-rata

(Microcephaly), dengan daerah datar di bagian belakang (tengkuk)

3) Mata yang miring ke atas, menuju tepi wajah (upslanting palpebral fisura) dan

kelebihan lipatan kulit di atas sudut dalam mata (Lipatan Epicanthal)


4) Bintik-bintik putih (Brushfield) di bagian berwarna dari mata

5) Telinga kecil atau berlipat, hidung datar, dan mulut kecil dengan tonus otot mulut

yang rendah dan lidah yang menonjol

6) Tangan pendek dan lebar dengan jari pendek dan sebuah garis selebar telapak tangan

(single palmar crease).

7) Penurunan tonus otot.

2. Karakteristik Perkembangan

1) Keterlambatan perkembangan kognitif, biasanya dengan retardasi mental kategori

ringan hingga sedang. Pada individu tertentu, dengan genotip mosaik mungkin

memiliki IQ di kisaran rata-rata.

2) Keterlambatan berbicara dan berbahasa

3) Keterlambatan perkembangan keterampilan sosial.

4) Keterlambatan keterampilan motorik

5) Kemungkinan adanya gangguan perkembangan lain, kesehatan mental atau kondisi

perilaku.

2.1.4 Patofisiologi Sindrom Down


Kromosom 21 yang lebih akan memberi efek ke semua sistem organ dan
menyebabkan perubahan sekuensi spektrum fenotip. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi
yang mengancam nyawa, dan perubahan proses hidup yang signifikan secara klinis. Sindrom
Down akan menurunkan survival prenatal dan meningkatkan morbiditas prenatal dan
postnatal. Anak – anak yang terkena biasanya mengalami keterlambatan pertumbuhan fisik,
maturasi, pertumbuhan tulang dan pertumbuhan gigi yang lambat.
Lokus 21q22.3 pada proksimal lebihan kromosom 21 memberikan tampilan fisik yang
tipikal seperti retardasi mental, struktur fasial yang khas, anomali pada ekstremitas atas, dan
penyakit jantung kongenital. Hasil analisis molekular menunjukkan regio 21q.22.1-q22.3
pada kromosom 21 bertanggungjawab menimbulkan penyakit jantung kongenital pada
penderita sindrom down. Sementara gen yang baru dikenal, yaitu DSCR1 yang diidentifikasi
pada regio 21q22.1-q22.2, adalah sangat terekspresi pada otak dan jantung dan menjadi
penyebab utama retardasi mental dan defek jantung (Mayo Clinic Internal Medicine Review,
2008).
Abnormalitas fungsi fisiologis dapat mempengaruhi metabolisme thiroid dan
malabsorpsi intestinal. Infeksi yang sering terjadi dikatakan akibat dari respons sistem imun
yang lemah, dan meningkatnya insidensi terjadi kondisi aotuimun, termasuk hipothiroidism
dan juga penyakit Hashimoto.
Penderita dengan sindrom Down sering kali menderita hipersensitivitas terhadap
proses fisiologis tubuh, seperti hipersensitivitas terhadap pilocarpine dan respons lain yang
abnormal. Sebagai contoh, anak – anak dengan sindrom down yang menderita leukemia
sangat sensitif terhadap methotrexate. Menurunnya buffer proses metabolik menjadi faktor
predisposisi terjadinya hiperurisemia dan meningkatnya resistensi terhadap insulin. Ini adalah
penyebab peningkatan kasus Diabetes Mellitus pada penderita Sindrom Down (Cincinnati
Children's Hospital Medical Center, 2006).
Anak – anak yang menderita sindrom down lebih rentan menderita leukemia, seperti
Transient Myeloproliferative Disorder dan Acute Megakaryocytic Leukemia. Hampir
keseluruhan anak yang menderita sindrom down yang mendapat leukemia terjadi akibat
mutasi hematopoietic transcription factor gene yaitu GATA1. Leukemia pada anak – anak
dengan sindrom down terjadi akibat mutasi yaitu trisomi 21, mutasi GATA1, dan mutasi
ketiga yang berupa proses perubahan genetik yang belum diketahui pasti.

2.1.5 Penatalaksanaan Sindrom Down


Sampai saat ini belum ditemukan metode pengobatan yang paling efektif untuk
mengatasi kelainan ini. Pada tahap perkembangannya penderita Down syndrom juga dapat
mengalami kemunduran dari sistim penglihatan, pendengaran maupun kemampuan fisiknya
mengingat tonus otot-otot yang lemah. Dengan demikian penderita harus mendapatkan
dukungan maupun informasi yang cukup serta kemudahan dalam menggunakan sarana atau
fasilitas yang sesuai berkaitan dengan kemunduran perkembangan baik fisik maupun
mentalnya. Hal yang dapat dilakukan antara lain
1. Penanganan Secara Medis
1) Pendengarannya : sekitar 70-80 % anak syndrom down terdapat gangguan
pendengaran dilakukan tes pendengaran oleh THT sejak dini.
2) Penyakit jantung bawaan
3) Penglihatan : perlu evaluasi sejak dini.
4) Nutrisi : akan terjadi gangguan pertumbuhan pada masa bayi /
prasekolah.
5) Kelainan tulang : dislokasi patela, subluksasio pangkal paha / ketidakstabilan
atlantoaksial. Bila keadaan terakhir ini sampai menimbulkan
medula spinalis atau bila anak memegang kepalanya dalam
posisi seperti tortikolit, maka perlu pemeriksaan radiologis
untuk memeriksa spina servikalis dan diperlukan konsultasi
neurolugis.
2. Pendidikan
1) Intervensi Dini
Program ini dapat dipakai sebagai pedoman bagi orang tua untuk memberi lingkunga
yang memeadai bagi anak dengan syndrom down, bertujuan untuk latihan motorik
kasar dan halus serta petunjuk agar anak mampu berbahasa. Selain itu agar ankak
mampu mandiri seperti berpakaian, makan, belajar, BAB/BAK, mandi, yang akan
memberi anak kesempatan.
2) Taman Bermain
Misal dengan peningkatan ketrampilan motorik kasar dan halus melalui bermain
dengan temannya, karena anak dapat melakukan interaksi sosial dengan temannya.
3) Pendidikan Khusus (SLB-C)
Anak akan mendapat perasaan tentang identitas personal, harga diri dan kesenangan.
Selain itu mengasah perkembangan fisik, akademis dan dan kemampuan sosial,
bekerja dengan baik dan menjali hubungan baik.
3. Penyuluhan Pada Orang Tua
4. Pemberian terapi:
1) Terapi Fisik (Physio Theraphy)
Terapi ini biasanya diperlukan pertama kali bagi anak down syndrome. Dikarenakan
mereka mempunyai otot tubuh yang lemas, terapi ini diberikan agar anak dapat
berjalan dengan cara yang benar.
2) Terapi Wicara
Terapi ini perlukan untuk anak down syndrome yang mengalami keterlambatan bicara
dan pemahaman kosakata.
3) Terapi Okupasi
Terapi ini diberikan untuk melatih anak dalam hal kemandirian, kognitif/ pemahaman,
kemampuan sensorik dan motoriknya. Kemandirian diberikan kerena pada dasarnya
anak down syndrome tergantung pada orang lain atau bahkan terlalu acuh sehingga
beraktifitas tanpa ada komunikasi dan tidak memperdulikan orang lain. Terapi ini
membantu anak mengembangkan kekuatan dan koordinasi dengan atau tanpa
menggunakan alat.
4) Terapi Remedial
Terapi ini diberikan bagi anak yang mengalami gangguan kemampuan akademis dan
yang dijadikan acuan terapi ini adalah bahan-bahan pelajaran dari sekolah biasa.

2.1.6 Pemeriksaan Diagnostik


Diagnosa down syndrome dapat ditegakan ketika masih berada dalam kandungan dan
tes pentaringan biasanya di lakukan pada wanita hamil yang berusia diatas 35
tahun.kadar alfa-fetoprotein yang rendahdi dalam darah ibu menunjukkan resiko tinggi
terjadinyadown syndrome pada janin yang dikandungnya. Dengan pemeriksaan USG bisa
diketahui adanya kelainan fisik pada janin. Diagnosa ditegakkan berdasarkan diagnosa dan
pemeriksaan fisik. Dengan stetoskop akan terdengar murmur (bunyi jantung tambahan).
Untuk mendeteksi adanya kelainan pada kromosom, ada beberapa pemeriksaan yang
dapat membantu menegakkan diagnosa ini, antara lain:
1. Pemeriksaan fisik penderita
2. Pemeriksaan kromosom
3. Ultrasonograpgy
4. ECG, Echocardiogram
5. Pemeriksaan darah (Percutaneus Umbilical Blood Sampling)

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan


2.2.1 Pengkajian
1. Lakukan pengkajian fisik.
2. Lakukan pengkajian perkembangan.
3. Dapatkan riwayat keluarga, terutama yang berkaitan dengan usia ibu atau anak
lain dalam keluarga yang mengalami keadaan serupa.
4. Obsevasi adanya manifestasi sindrom down:
1) Karakteristik fisik (paling sering dilihat)
a. Tengkorak bulat kecil dengan oksiput datar
b. Lipatan epikantus bagian dalam dan fisura palpebraserong (mata miring
keatas, ke luar)
c. Hidung kecil dengan batang hidung tertekan ke bawah (hidung sadel)
d. Lidah menjulur kadang berfisura
e. Mandibula hipoplastik (membuat lidah tampak besar)
f. Palatum berlengkung tinggi
g. Leher pendek tebal
h. Muskulatur hipotonik (abdomen buncit, hernia umbilikus)
i. Sendi hiperfleksibel dan lemas
j. Garis simian (puncak transversal pada sisi telapak tangan)
k. Tangan dan kaki lebar, pendek dan tumpul
2) Intelegensia
a. Bervariasi dari retardasi hebat sampai intelegensia normal rendaH.
b. Umumnya dalam rentang riang sampai sedang
c. Kelambatan bahasa lebih berat daripada kelambatan kognitif
3) Anomali kongenital (peningkatan insidens)
Penyakit jantung kongenital (paling umum)
4) Defek lain menimbulkan :
a. Agenesis renal
b. Atresia duodenum
c. Penyakit hirscprung
d. Fistula trakeoesofagus
e. Subluksasi pinggul
f. Ketidakstabilan vertebra servikal pertama dan kedua (ketidakstabilan
atlantoaksial)
5) Masalah sensori (seringkali berhubungan)
Dapat mencakup hal-hal berikut:
a. Kehilangan pendengaran konduktif (sangan umum)
b. Strabismus
c. Miopia
d. Nistagmus
e. Katarak
f. Konjungtivitas
6) Pertumbuhan dan perkembangan seksual
a. Pertumbuhan tinggi badan dan berat badan menurun; umumnya obesitas
b. Perkembangan seksual terlambat, tidak lengkap atau keduanya
c. Infertil pada pria; dapat fertil
d. Penuaan prematur umum terjadi; harapan hidup rendah
e. Bantu dengan tes diagnostik mis., analisa kromosom.

2.2.2 Diagnosis Keperawatan dan Intervensi

No Diagnosa Tujuan Intervensi

1 Risiko tinggi Setelah dilakukan - Ajarkan keluarga tentang


. infeksi intervensi, Pasien tidak pegunaan teknik mencuci
berhubungan menunjukan bukti-bukti tangan yang baik
dengan infeksi pernapasan dengan
hipotonia, kriteria hasil: - Tekankan pentingnya
peningkatan mengganti posisi anak
kerentanan - anak tidak dengan sering, terutama
menunjukkan bukti penggunaan postur
terhadap infeksi atau distres
infeksi duduk
pernapasan (respirasi
pernapasan meningkat, sianosis). - Dorong penggunaan
vaporizer uap dingin

- Ajarkan pada
keluarga pengisapan
hidung dengan spuit
tipe-bulp

- Tekankan pentingnya
perawatan mulut yang
baik seperti sikat gigi

- Dorong kepatuhan
terhadap imunisasi
yang dianjurkan

- kolaborasi pemberian
antibiotik

2 Kerus Setelah dilakukan - Hisap hidung bayi


. akan intervensi, setip kali sebelum
menel kesulitan pemberian makan, bila
an pemberian makan perlu
berhu pada masa bayi
bunga menjadi minimal - Jadwalkan pemberian
n dengan kriteria makan sedikit tapi
denga hasil: sering;
n
hipoto - bayi - Jelaskan pada
nia, mengkomsumsi keluarga bahwa
lidah makanan dengan menarik lidah
besar, jumlah yang merupakan respons
kerus adekuat yang normal pada anak
akan sesuai dengan
usia dan - Hitung kebutuhan
kognit kalori untuk memenuhi
if ukurannya
kebutuhan energi
- keluarga hitung asupan
melaporkan berdasarkan tinggi dan
kepuasan dalam berat badan,
pemberian makan
- Pantau tinggi badan
- bayi menambah dan berat badan dengan
berat badannya interval yang teratur
sesuai tabel – kolaborasi dengan
standar berat ahli gizi
badan

3 Perub Setelah dilakukan - Tunjukkan


. ahan intervensi, penerimaan terhadap
proses Pasien (keluarga) anak melalui perilaku
keluar menunjukan anda sendiri
ga perilaku
berhu kedekatan - Jelaskan pada
bunga orangtua dan bayi keluarga bahwa
n dengan kriteria kurangnya molding
denga hasil: atau clinging pada bayi
n adalah karakteristik
memp - Keluarga siap fisik dari sindrom
unyai untuk Down karena hal ini
anak menghadapi mungkin
yang perawatan anak diinterpretasikan
mend dengan mudah sebagai
- Orang tua dan tanda ketidakdekatan
erita anak
Sindr atau penolakan.
menunjukkan
om perilaku - Anjurkan orangtua
Down kedekatan untuk membendung
. atau menyelimuti bayi
- Keluarga dengan ketat dalam
mampu
menghadapi selimut
perawatan yang
dibutuhkan untuk
mengatasi
masalah
kesehatan khusus
BAB 4
PENUTUP

5.1 Simpulan

5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Behrman (2000). Nelson ilmu kesehatan anak. Jakarta: EGC

Cheon MS, Shim KS, Kim SH, Hara A, Lubec G. Protein levels of genes encoded on chromosome 21 in
fetal Down syndrome brain: Challenging the gene dosage effect hypothesis (Part IV). Amino Acids. Jul
2003

Lejeune J, Gautier M, Turpin R. [Study of somatic chromosomes from 9 mongoloid children.] Article
in French. C R Hebd Seances Acad Sci. Mar 16 1959;248(11):1721-2.

Downs: The History of a Disability. Wright, D. New York, NY: Oxford University Press. (2011)

Ford D. Children with down syndrome Paediatric Dentistry 2009: 1-6.

Meadow, S. Roy and Simon Newell. 2005. Lecture Notes : Pediatrika, Ed.EMS :Jakarta.

Sabri, L., Hastono, SP. Statistik Kesehatan.Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers. 2008

Suryo. 2005. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Supratiknya A. Mengenal perilaku abnormal. Kanisius, 2012 : 77-78.


Pathways Sindrom Down

Ovum dan Zigot

(mengandung asam deosiribosa


nukleat dan protein)

Membentuk
kromosom

KROMOSOM

(terdiri dari sentromer dan


lengan)
Gangguan Proses
Pembelahan sel/ Genetik
metafase

Gangguan
Terjadi
pembentukan
kelainan

Translokasi Kromosom M Autoi


Non
14, 21, 22 os mun
Disjunc

T Resiko
r infeksi
Sindrom
Down

Perubahan sekuensi
spektrum fenotip dan

Terjadi kelebihan pada

Ko Kelainan fisik Cemas


gn pada anak Orang Tua

Kecerdasan
menurun Pertumbuh Lidah Hipotonus
an tulang pendek dan pada otot
lambat besar nafas
Interak
si sosial Gangguan Ganggua Akumulasi
pada tulang n fungsi sekret di jalan
Kebutuhan menelan
Nutrisi
akan Resiko tinggi kurang dari Obstruksi jalan
Aspirasi