Anda di halaman 1dari 6

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


Pada penelitian ini didapatkan hasil pembuatan silika dari abu jerami padi
menggunakan pelarut NaOH dengan variasi konsentrasi 2 M, 4 M, 6 M, 8 M dan
10 M. Analisis pada silika dilakukan berdasarkan Standar Nasional Indonesia
(SNI) 06-3730-1995 tentang persyaratan mutu adsorben. Untuk standar adsorben
yang dihasilkan berdasarkan dari analisis kadar air, analisis kadar abu, dan
analisis penyerapan metilen biru.
Tabel 4.1 Hasil Karakterisasi Adsorpsi Berdasarkan Standar SNI 06-3730-1995
Daya Serap
Jenis Sampel Kadar Air % Kadar abu % Metilen Biru
(mg/g)
Silika 2 M 8,3 3,6 44,983
Silika 4 M 7,7 3,4 45,629
Silika 6 M 7,1 2,8 46,384
Silika 8 M 6,8 2,2 47,085
Silika 10 M 6,5 1,5 47,787
Standar SNI 06-3730-1995 Maks 15 % Maks 10 % Min 60 mg/g

Dari lima jenis silika yang dihasilkan diaplikasikan ke logam berat timbal
(Pb) dan zink (Zn). Pada setiap 1 gram silika diaplikasikan ke larutan artifisial
timbal (Pb) dan zink (Zn) sebanyak 50 ml. Limbah yang dikontakkan dengan
silika dianalisa dengan menggunakan alat spektrofotometer serapan atom (SSA)
untuk mengetahui konsentrasi logam timbal (Pb) dan zink (Zn) yang tersisa.
Tabel 4.2 Hasil Efisiensi Adsorpsi Silika Terhadap Logam Pb

Konsentrasi Konsentrasi Efisiensi


Jenis
No Awal Larutan Akhir Larutan Adsorpsi
Silika
Pb (ppm) Pb (ppm) (%)
1 2M 72,306 40,876 43,47
2 4M 72,306 19,142 73,53
3 6M 72,306 14,051 80,57
4 8M 72,306 22,765 68,52
5 10 M 72,306 39,397 45,51

31
32

Tabel 4.3 Hasil Efisiensi Adsorpsi Silika Terhadap Logam Zn

Efisiensi
Konsentrasi Awal Konsentrasi Akhir
Jenis Silika Adsorpsi
Larutan Zn (mg/l) Larutan Zn (mg/l)
(%)
NaOH 2M 43,765 23,945 45,29
NaOH 4 M 43,765 13,935 68,16
NaOH 6 M 43,765 10,121 76,87
NaOH 8 M 43,765 14,813 66,15
NaOH 10 M 43,765 21,798 50,19

4.2 Pembahasan
Proses pembuatan silika dari jerami padi dilakukan sesuai dengan syarat
mutu adsorben SNI 06-3730-1995 yang meliputi analisis kadar air, kadar abu,
dan daya serap metilen blue.
Silika yang dihasilkan dikontakkan terhadap larutan artifisial logam timbal
dan Zn. Setiap 1 gram silika dikontakkan dengan 50 ml larutan artifisial timbal
dengan variasi penambahan pelarut NaOH selama 10 menit.
4.2.1 Pengaruh Variasi Konsentrasi NaOH Terhadap Kadar Air
Kadar air merupakan salah satu sifat kimia dari bahan yang menunjukkan
banyaknya air yang terkandung di dalam bahan. Menurut Leviana dkk (2017)
Pengujian kadar air bertujun untuk mengetahui sifat hidroskopis dari silika. Hasil
pengujian kadar air dapat dilihat pada gambar 4.1.

Konsentrasi NaOH

Gambar 4.1 Grafik Hubungan Antara Konsentrasi NaOH dengan Kadar Air
33

Gambar 4.1 memperlihatkan bahwa penelitian ini dapat menghasilkan


hubungan antara kadar air dan konsentrasi pelarut NaOH yang saling
berpengaruh. Kadar air terendah terdapat pada sampel silika dengan konsentrasi
NaOH 10 M sebesar 6,5% dan kadar air tertinggi didapatkan pada sampel silika
dengan konsentrasi NaOH 2 M sebesar 8,3%. Menurunnya nilai kadar air ini terus
berlangsung dengan besarnya konsentrasi pelarut NaOH yang digunakan,
dikarenakan terikatnya molekul air yang ada pada silika oleh pelarut NaOH yang
mengakibatkan pori-pori silika semakin besar. Semakin besar konsentrasi NaOH
maka semakin kecil nilai kadar air, karena kadar air mempengaruhi kemampuan
adsorpsi, dengan begitu semakin kecil nilai kadar air semakin bagus kemampuan
penyerapan silika tersebut. Sesuai dengan penelitan yang telah dilakukan oleh
Meilianti (2017).
Berdasarkan gambar 4.1 dapat dilihat bahwa ke lima sampel tersebut
memenuhi syarat baku adsorpsi SNI 06-3730-1995 yaitu maksimal sebesar 15%.
Hasil kadar air yang didapat berkisar antara 6-8%.
4.2.2 Pengaruh Variasi Konsentrasi NaOH Terhadap Kadar Abu
Kadar abu pada silika merupakan persentase kandungan abu yang
terkandung pada silika. Kadar abu akan menunjukkan kandungan kandungan
mineral yang terkandung dalam silika (Janskowska,1991).
Penentuan kadar abu bertujuan untuk mengetahui kandungan abu pada
silika dikarenakan apabila kandungan abu semakin tinggi maka akan
mengakibatkan daya serap yang dihasilkan semakin rendah (Meilianti,2017)
Kadar abu yang dihasilkan pada penelitian ini berkisaran 1,5-36%. Kadar
abu tertinggi di hasilkan oleh nanosilika dengan konsentrasi NaOH 10 M yaitu
sebesar 1,5% dan kadar abu terendah dihasilkan oleh silika dengan konsentrasi
NaOH 2 M yaitu sebesar 3,6 %. Sehingga nilai kadar abu tersebut masih
memenuhi syarat baku adsorpsi SNI 06-3730-1995 yaitu maksimal sebesar 15%.
Hasil pengujian kadar abu dapat dilihat pada gambar 4.2
34

Konsentrasi NaOH

Gambar 4.2 Grafik Hubungan Antara Konsentrasi NaOH dengan Kadar Abu
Hal ini menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi NaOH berpengaruh
dengan hasil kadar abu yang didapatkan. Besarnya konsentrasi NaOH yang
diberikan maka semakin besar nilai kadar abu yang didapatkan. Tingginya kadar
abu dapat mengurangi kemampuan penyerapan silika. Karena dapat menyumbat
pori-pori pada silika sehingga luas permukaan silika dapat berkurang.
4.2.3 Daya Serap Metilen biru

konsentrasi NaOH

Gambar 4.3 Grafik Hubungan Antara Konsentrasi NaOH dengan Daya Serap
Metilen Biru
35

Uji daya serap dengan larutan metilen biru dilakukan untuk melihat
parameter kualitas dari silika. Oleh karena itu dilakukan uji daya serap dengan
larutan metilen biru untuk dapat mengetahui silika yang dibuat dapat menyerap
zat warna. Pengujian uji daya serap dengan metilen biru menggunakan alat
spekfotometri UV-VIS melalui panjang gelombang sehingga dapat diketahui nilai
absorbansinya. Karakteristik uji serap dengan larutan metilen biru pada silika,
dapat diamati berdasarkan Gambar 4.3
Daya serap metilen biru tertinggi didapatkan pada silika dengan konsentrasi
10 M sebesar 47,787 mg/g dan yang terendah pada silika 2 M sebesar 44,983
mg/g .
Terlihat bahwa hasil nilai daya serap metilen biru ini tidak memenuhi
karakteristik syarat baku mutu adsorpsi SNI 06-3730-1995 yakni minimal
60mg/g.
4.2.4 Efisiensi Adsorpsi
Efisiensi adsorpsi adalah tingkat kemampuan suatu adsorben dalam
mengikat suatu adsorbat dan akhirnya membentuk suatu film (lapisan tipis) pada
permukaan adsorben tersebut. Hasil efisiensi adsorpsi ini dapat dilihat pada
gambar 4.4.
Konsentrasi NaOH dibutuhkan untuk menyerap logam timbal dan zink
pada proses difusi dan penempelan molekul adsorben berlangsung lebih baik.
Gambar 4.4 menunjukkan bahwa kapasitas adsorpsi silika dengan konsentrasi
NaOH 2 M, 4 M, 6 M, 8 M, dan 10 M dihasilkan efisiensi adsorpsi yang paling
tinggi yaitu pada konsentrasi NaOH 6 M yaitu 80,57 % pada penyerapan logam
timbal (Pb) dan 76,87 % pada penyerapan logam zink (Zn).

Sedangkan efisiensi adsorpsi yang paling tinggi yaitu pada konsentrasi


NaOH 6 M. Menurut (Alfiany, 2013) semakin besar konsentrasi aktivator
adsorben yang ditambahkan, maka penyerapannya terhadap logam semakin besar.
Hal tersebut mengakibatkan nilai adsorpsi terhadap ion logam semakin tinggi dan
sebanding dengan bertambahnya jumlah dan luas permukaan adsorben. Tetapi
pada hasil yang ditunjukkan pada Gambar 4.4 tidak demikian. Pada konsentrasi
NaOH 8 M dan 10 M terjadi penurunan yang diakibatkan karena konsentrasi
NaOH 8 M dan 10 M telah jenuh (kandungan aktivator berlebih di permukaan
36

adsorben) sehingga menghalangi proses penyerapan). Menurut (Sang, 2008),


Konsentrasi NaOH yang menyebabkan NaOH sulit keluar dari pori silika
sehingga akan mempersempit volume pori silika.

Jenis Konsentrasi NaOH


NaOH NaOH
Gambar 4.4 Grafik Efisiensi Adsorpsi Nanosilika Terhadap Konsentrasi Akhir
Larutan Artifisial logam Pb dan Zn

Pada keadaan jenuh, terjadi proses desorpsi yang merupakan kebalikan


dari proses adsorpsi yaitu proses pelepasan kembali komponen atau zat pengotor
yang telah berikatan dengan sisi aktif di permukaan adsorben (Pakiding, 2014).
Menurut (Diantariani, 2008) desorpsi terjadi karena ketidakstabilan ikatan antara
ion logam dengan adsorben sehingga logam dapat terlepas kembali dari
permukaan adsorben. Adsorpsi bersifat reversible dimana reaksinya dapat
berbalik, sehingga saat ion logam telah terjerap di permukaan adsorben akan
terjadi keadaan jenuh dimana ion logam dapat lepas dari permukaan adsorben
sebagai kesetimbangan kearah kiri (Susiantini, 2012).
Dari proses ini, adapun reaksi yang terbentuk yaitu :
SiO2 + Pb(NO3)2 PbSiO3 + NO2 + O2
SiO2 + Zn(NO3)2 ZnSiO3 + NO2 + O2