Anda di halaman 1dari 7

Transmisi, Vol. 10, No.

2, Desember 2005 : 30 – 36

ANALISIS DAMPAK TERPUTUSNYA KAWAT NETRAL


TERHADAP JTM 20 kV

Juningtyastuti, Karnoto, Riyanto


Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Sudarto S.H Tembalang-Semarang

Abstrak: Menengah 20 kV dan mencari solusi terbaik yang


Pada sistem distribusi tenaga listrik yang mungkin bisa dikerjakan sehubungan adanya kendala
menggunakan sistem Bintang 4 kawat Multy Grounded yang dihadapi pada saat akan dilakukan kembali
Common Neutral (Y-4W-MCGN), jika kawat netral pemasangan kawat netral yang putus.
hilang maka tidak akan ada lagi sistem tersebut, karena
sistem MGCN akan terselenggara dengan baik hanya III. PEMBATASAN MASALAH
jika ada saluran netral, sehingga hilangnya kawat Analisa masalah yang akan dilakukan dalam
netral dibeberapa tempat pada saluran merupakan Penelitian ini dibatasi pada kasus terputusnya kawat
suatu kondisi tidak normal dan akan menyebabkan netral Jaringan Udara Tegangan Menengah 20 kV
resiko yang tidak baik terhadap performance operasi sistem radial 3 (tiga) phasa 4 (empat) kawat pada saat
sistem distribusi tenaga listrik dan kualitas pelayanan kondisi steady state. Untuk perhitungan digunakan
beban di sisi pelanggan. data-data dari feeder pertama yang keluar dari GI
Krapyak yang termasuk dalam wilayah kerja Area
I. PENDAHULUAN Pelayanan Jaringan I (APJ I).
Dalam operasi sistem tenaga listrik terjadinya
gangguan tidak dapat dihindarkan. Gangguan terjadi IV. TEORI D ASAR
dapat dikarenakan karenakan adanya kejadian secara 4.1. Sistem distribusi tenaga listrik
acak dalam sistem yang dapat berupa berkurangnya Sistem tenaga listrik terdiri atas tiga bagian
kemampuan peralatan, meningkatnya beban dan utama yaitu, sistem pembangkitan, sistem transmisi
lepasnya peralat an-peralatan yang tersambung ke dan sistem distribusi. Dari ketiga sistem tersebut
sistem. Gangguan yang sering terjadi pada saluran sistem distribusi merupakan bagian yang letaknya
distribusi adalah gangguan hubung singkat satu fasa ke paling dekat dengan konsumen, fungsinya adalah
tanah yang sifatnya temporer, sehingga untuk menyalurkan energi listrik dari suatu Gardu Induk
mengatasinya digunakan Ground Fault Relay (GFR) distribusi ke konsumen.
sebagai pendeteksi gangguan yang dikoordinasikan Adapun bagian-bagian dari sistem distribusi tenaga
dengan Recloser . Sehubungan dengan banyaknya listrik adalah:
kawat netral yang terputus dikhawatirkan akan 1. Gardu Induk Distribusi
berakibat pada mengecilnya arus gangguan sampai 2. Jaringan Primer (JTM)
dibawah nilai arus setting GFR sehingga, peralatan 3. Transformator Distribusi
proteksi tidak akan bekerja saat terjadi gangguan dan 4. Jaringan Sekunder (JTR)
ini sangat berbahaya bagi keselamatan manusia dan
lingkungan. 4.2. Klasifikasi Sistem Jaringan Distribusi
Berkaitan dengan permasalahan di atas PT. Jaringan distribusi dikategorikan kedalam
PLN (Persero) UBD Region Jateng & DIY melalui beberapa jenis, sebagai berikut:
APJ I sebagai kepanjangan tangan yang menguasai 1. Tegangan pengenalnya :
wilayah kerja kota Semarang, Salatiga dan Kudus a. JTM 20 kV.
bermaksud memasang kembali kawat netral yang b. JTR 380/220 Volt.
terputus namun, terbentur oleh anggaran biaya yang 2. Konfigurasi jaringan primer
tidak sedikit. a. Jaringan distribusi pola radial
Sehubungan dengan permasalahan dan kendala b. Jaringan distribusi pola loop
itulah, penulis melakukan analisis mengenai dampak c. Jaringan distribusi pola loop radial
putusnya kawat netral terhadap Jaringan Tegangan d. Jaringan distribusi pola grid
Menengah 20 kV di APJI, dengan tujuan ingin e. Jaringan distribusi pola spindel
mengetahui sejauh mana penurunan arus gangguan 3. Konfigurasi penghantar jaringan primer
hubung singkat satu fasa ke tanah dan dampaknya a. Konfigurasi penghantar segitiga.
terhadap tegangan pelayanan yang diakibatkan oleh b. Konfigurasi penghantar vertikal.
putusnya kawat netral dan selanjutnya memberikan c. Konfigurasi penghantar horisontal.
alternatif upaya tindakan yang mungkin bisa dilakukan 4. Sistem pengetanahan :
guna mengatasi permasalahan yang sedang di hadapi. a. Sistem distribusi tanpa pengetanahan
b. Sistem distribusi pengetanahan tak langsung
II. T UJUAN c. Sistem distribusi pengetanahan langsung
Penulisan penelitian ini bertujuan untuk
menganalisa dampak yang mungkin ditimbulkan,
4.3. Gangguan Sistem Distribusi
akibat terputusnya kawat netral Jaringan Tegangan

30
Analisis Dampak Terputusnya Kawat Netral Terhadap JTM 20 Kv (Juningtyastuti, Karnoto, Riyanto)

Jenis gangguan hubung singkat yang sering 4.6 Dampak Putusnya Kawat Netral Tehadap
terjadi: Keamanan Peralatan Pelanggan dari Pengaruh
1. Hubung singkat satu fasa ke tanah Sambaran Petir
3V f
Iaf = (1) Sambaran petir
Z 0 + Z 1 + Z 2 + 3Z f 25kA
Phasa
2. Hubung singkat dua fasa
± jV f 1000A LA

Iaf = -Ibf = (2)


Z1 + Z 2 + Z f Netral
1000A
3. Hubung singkat dua fasa ke tanah 225 Volt

E < 00 5 Ohm
225 Volt
I a1 = (3)
( Z 2 + Z f )( Z 0 + Z f + 3Z g )
( Z1 + Z f ) +
Z 0 + Z 2 + 2 Z f + 3Z g
 Z0 + Zf + 3 Zg  Gambar 4.1. Kawat netral sebagai pengaman
I a2 = − .Ia1 (4)
 ( Z0 + Zf + 3Zg ) + ( Z2 + Zf ) 
peralatan terhadap sambaran petir

 Z2 + Zf  (5)
Seperti ditunjukan pada gambar 4.1, sambaran
I a0 = −  .I a1 petir terhadap JTM bisa menimbulkan arus ga ngguan
 (Z 0 + Zf + 3Zg ) + (Z 2 + Zf )  yang sangat besar, untuk mengatasinya digunakan
lighting arrester (LA) sebagai alat pengaman yang
Ibf = Ia0 + a2Ia1 + aIa2 (6)
berfungsi untuk mengeliminir gangguan hubung
2
Icf = Ia0 + aIa1 + a Ia2 (7) singkat tersebut. Akan tetapi arus gangguan tersebut
tidak dapat sepenuhnya dieliminir oleh L A, sehingga
4. Hubung singkat tiga fasa
perlu adanya pengaman tambahan berupa sistem
pengetanahan netral yang baik yaitu, sistem
Iaf = Ia1 = E 〈0 0 (8)
pengetanahan dengan tahanan yang kecil mendekati
Z1 + Z f nol atau pengetanahan langsung. Tujuannya agar arus
E〈 240 0 gangguan akibat sambaran petir bisa diamankan ke
Ibf = a 2.Ia1 = (9)
Z1 + Zf tanah secara sempuran.

= E 〈120
0
Icf = a.I a1 (10) 4.7. Dampak Putusnya Kawat Netral terhadap
Z1 + Z f Tegangan Pelayanan
4.4. Peralatan proteksi pada sisitem distribusi JTM Dari gambar 4.2, jika titik A putus maka
20 kV kualitas tegangan pada sisi pelanggan akan terganggu.
Ø Kondisi Normal
Peralatan proteksi pada sisitem distribusi JTM 20
kV terdiri dari : E1 = E 2 = V1 = V2 = 0,5 x Vt (11)
a. Rele arus lebih (Over Current Relay/OCR) Ø Kondisi Gangguan
b. Rele gangguan ke tanah (Ground Fault Z1
Relay/GFR) V1 = Vt (12)
c. Recloser
Z1 + Z 2
(13)
Z2
4.5. Dampak Putusnya Kawat Netral terhadap V2 = Vt
Kerja GFR pada JTM 20 kV Z1 + Z2
Berhasilnya suatu pengamanan dengan rele Bila Z1 ≠ Z2, maka V1 ≠ V2. Sehingga semakin besar
gangguan ke-tanah sangat tergantung pada besarnya perbedaan nilai impedansi antara Z1 dan Z2 maka
arus gangguan ke-tanah. semakin besar pula beda tegangan pada Z 1 dan Z 2.
Di Jawa Tengah pada umumnya dan di APJ 1 pada Apabila kawat jamper hantaran netal ke
khususnya banyak dijumpai kawat netral putus. grounding putus (gambar 4.2 dengan titik B putus),
Putusnya kawat netral disepanjang jaringan ini bisa maka akibatnya besarnya nilai tahanan pengetanahan
menyebabkan arus ganguan ke tanah menjadi lebih bersama akan bertambah yang mengakibatkan
kecil dari arus seting peralatan proteksi yang terpasang tegangan sentuh menjadi lebih besar, sedangkan untuk
Karena impedansi urutan nol saluran akan menjadi tegangan pelayanan pada beban Z1 dan Z2 tidak
lebih besar dari pada jaringan saat kondisi normal. Hal tepengaruh oleh putusnya jamper hantaran netral ke
ini akan sangat membahayakan keselamatan manusia grounding.
dan juga bisa menyebabkan kerusakan pada peralatan
yang tersambung ke sistem akibat tidak bekerjanya Ø Kondisi Normal
rele proteksi. 3
Rtrafo*5 2 (14)
Rptotal= 3 2 2
(5 ) + (Rtrafo* 5 ) + ( Rtrafo*5 ) + (Rptrafo*5 )
Ø Kondisi Titik B Putus

31
Transmisi, Vol. 10, No. 2, Desember 2005 : 30 – 36

v Impedansi Sumber
Rtrafo * Rp1 * R P2 Ø Sisi tegangan tinggi (Xtt)
Rptotal=
(Rp1 * Rp2 ) + (Rtrafo * Rp2) + (Rptrafo * Rp1) (15) kV 2
=
Jika kawat netral JTM pada trafo distribusi sisi MVA hs
primer putus (titik C pada gambar 4.2 putus), tidak 22 2
= = j0.0239 (pu)
akan berpengaruh terhadap tegangan pelayanan di sisi 2500 * 8 .07
tegangan rendah tetapi berpengaruh terhadap nilai Ø Sisi tegangan rendah (Xtr)
tahanan pengetanahan secara parallel/bersama (nilai
tahanan pengetanahan menjadi besar) yang berakibat kV 2
= X(%) *
tegangan sentuh menjadi lebih besar. Persamaan MVA trafo
tahanan total saat kawat netral JTM trafo distribusi
22 2
putus untuk masing-masing kondisi sesuai dengan =0.1886 = 0.1885 (pu)
persamaan 13 dan 14 (dengan mengambil tahanan 60 * 8. 07
pengetanahan 5 Ohm).
Putusnya sambungan ujung kumparan primer v Impedansi Gangguan
trafo ke grounding yang ditunjukan pada gambar 4.2 Ø Gangguan maksimum , Zf = 0 pu
dengan titik D putus, akan berdampak terhadap Ø Gangguan minimum, Zf = 35 Ohm.
tegangan pelayanan sisi tegangan rendah, dimana Zf 35
tegangan pada sisi beban akan menjadi nol karena Zf = =
pada trafo sisi primer tidak ada tegangan induksi Z base 8.07
akibat terputusnya saluran suplai transformator. = 4,3371 (pu)

V. PERHITUNGAN dan ANALISA v Impedansi urutan saluran


Dalam perhitungan arus hubung singkat data- Tabel 5.1 Impedansi urutan saluran (pu/km)
data yang digunakan adalah sebagai berikut : Konf. Z1 = Z2 Zo
v Model Sistem ditunjukan pada gambar 5.1 sistem Nyata Imajiner Nyata Imajiner
v Impedansi dasar (Z base )
Ø MVAbase = 60 MVA ST1n 0.0167 0.0382 0.0512 0.1176
Ø Vbase = 22 kV ST1tn 0.0167 0.0382 0.0349 0.1973
22 2 ST2n 0.0167 0.0403 0.0523 0.1098
Ø Z base = = 8.07 Ω
60 ST2tn 0.0167 0.0403 0.0349 0.1931
22000 ST3 0.0167 0.0381 0.0349 0.1976
Ø Ibase = = 1573.1913 A ST4 0.0167 0.0387 0.0523 0.1131
3 * 8 .07
5.1. Perhitungan arus gangguan hubung singkat
Phasa maksimum
LA
Netral
Dengan menggunakan persamaan -persamaan 1-
8, maka akan diperoleh nilai arus gangguan hubung
singkat sebagai berikut :
Ø Gangguan tiga fasa
V1 Z1
C j0.2124 (pu)
A
Vt
B
V2 Z2

D 1 (pu)

Rp2 Rtrafo Rp Rp1

Gambar 5.2 Rangkaian ekivalen impedansi


gangguan tiga phasa
I3φ = 4,7081 ∠-90 pu
Gambar 4.2 Rangkaian transformator saat kondisi = 7406,7387 Ampere
normal Ø Gangguan dua fasa
MVA fault = 2500 MVA
150/22 kV CT = 600/5 A j0.2124 (pu)

60MVA
Bus 150 kV

Seting GFR = 1,5A


Xt = 18,86 % A B 1 (pu)

2 j0.2124 (pu)
JTM 20 kV 3 phasa, 240/120 mm
YY

Gambar 5.1 Diagram satu garis sistem

32
Analisis Dampak Terputusnya Kawat Netral Terhadap JTM 20 Kv (Juningtyastuti, Karnoto, Riyanto)

Gambar 5.3 Rangkaian ekivalen impedansi Ø Gangguan satu phasa ke tanah


gangguan dua phasa
I1φ = 0.1628 ∠-2.713 (pu)
= 256.40 Ampere
1∠0
I2φ = 3* = 4,0772 ∠-90 pu
2 * 0 .2124 ∠90 Dengan menggunakan metode yang sama, akan
= 6414,4239 Ampere diperoleh arus gangguan untuk berbagai sistem
konfigurasi penghantar pada saat kondisi normal
Ø Gangguan satu phasa ke tanah (kawat netral ada) dan pada saat kawat netral putus,
1∠ 0 seperti ditunjukan pada tabel 5.2.
I1φ = 3 * = 4,7082 ∠-90 pu
3 * 0.2124 ∠ 90
= 7406,7387 Ampere j0.2124 (pu) 0.6664 + j1.5295 (pu)
2.048 + j4.704 (pu)

1 (pu)

1 (pu) j0.2124 (pu) j0.2124 (pu) 0.6664 + j1.5295 (pu)


2.048 + j4.704 (pu)

j0.2124 (pu)

3(4.3371) (pu)
j0.2124 (pu)

Gambar 5.4 Rangkaian ekivalen impedansi


gangguan satu phasa ke tanah Gambar 5.7 Rangkaian ekivalen impedansi gangguan
satu phasa ke tanah minimum
5.2. Gangguan Hubung Singkat Minimum
(Gangguan terletak di Ujung Saluran = 40 km) Tabel 5.2 Hasil perhitungan arus gangguan
Ø Gangguan tiga phasa :
Konf. Arus Arus Arus gangguan
gangguan 3φ gangguan 2φ 1φ ketanah
j0.2124 (pu) 0.6664 + j1.5295 (pu)
Sistem Imax Imin Imax Imin Imax Imin
(ST) (A) (A) (A) (A) (A) (A)
1 (pu) ST-1n 7406.4 297.11 6414.1 409.72 7406.4 256.40

4.3371 (pu) ST-1tn 7406.4 297.11 6414.1 409.72 7406.4 241.55


ST-2an 7406.4 295.51 6414.1 404.23 7406.4 256.72
ST-2atn 7406.4 295.51 6414.1 404.23 7406.4 241.55
ST-2b 7406.4 257.55 6414.1 410.12 7406.4 241.55
Gambar 5.5 Rangkaian ekivalen impedansi ST-3 7406.4 256.28 6414.1 408.54 7406.4 256.72
gangguan tiga phasa minimum
Dari hasil perhitungan seperti ditunjukan pada
1∠0 tabel 5.2 dapat dilihat bahwa, putusnya kawat netral
I3φ = = 0.1887 ∠-19.19 pu
5. 2994 ∠19 .19 hanya berpengaruh pada gangguan fasa tanah,
= 297,11 Ampere sedangkan untuk gangguan fasa-fasa tidak akan
terpengaruh oleh putusnya kaw at netral.
Ø Gangguan dua phasa : Penurunan arus gangguan hubung singkat satu
I2φ = 0,2602 ∠-31.56 (pu) fasa ke tanah minimum sebesar 5,79% untuk
= 409,27 Ampere konfigurasi sistem segitiga dan 5,91% untuk
konfigurasi horisontal. Dari tabel 5.2 dapat dilihat pula
j0.2124 (pu) 0.6664 + j1.5295 (pu) ketika terjadi arus gangguan maksimum yaitu saat
terjadi gangguan di dekat trafo GI, besarnya nilai arus
gangguan untuk kondisi jaringan dengan dan tanpa
1 (pu)
kawat netral adalah sama. Sampai saat ini penurunan
j0.2124 (pu) 0.6664 + j1.5295 (pu) arus gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah
akibat putusnya kawat netral tidak akan berpengaruh
pad a kerja GFR, hal ini bisa dilihat dari setting GFR,
4.3371 (pu) yaitu :
v Ratio CT = 600/5 A
v Is GFR = 1,5 A
v I primer = Ratio CT * Is
= 120 * 1,5 = 180 A.
Gambar 5.6 Rangkaian ekivalen impedansi
gangguan dua phasa minimum

33
Transmisi, Vol. 10, No. 2, Desember 2005 : 30 – 36

Setting arus primer dari GFR = 180 A yang Pada saat jamper netal putus beban Z1 dan Z2
berarti, jika ada gangguan hubung singkat fasa ke pada rangkaian transformator akan bekerja secara seri
tanah dengan nilai arus gangguan minimum sama sehingga besarnya tegangan pada masing-masing
dengan atau lebih besar dari 180 A maka, rele akan beban akan tergantung pada perubahan dari besarnya
mendeteksinya dan kemudian memerintahkan Recloser nilai masing-masing beban pada saat itu, sedangkan
untuk bekerja. Tetapi jika arus gangguan kurang dari tegangan termianal menjadi 450 Volt. Dengan
180 A maka rele tidak akan mendeteksi gangguan menggunakan persamaan 13 dan 14, akan didapat
tersebut. tegangan pada masing-masing beban seperti
ditunjukan pada tabel 5.4
5.3. Dampak Putusnya Kawat Netral Terhadap
Keamanan Peralatan Pelanggan Dari Tabel 5.4 Hasil perhitungan V1 dan V2 saat jamper
Sambaran Petir netal putus
Beban( ) Tegangaan (Volt)
Ip = 25 kA Z1 Z2 V2 V1

544 48 414 36
RL
Trafo ILA = 1000 A 484 97 375 75
451 149 338 112
403 201 300 150
RN
363 242 270 180
RPtrafo RP
296 296 225 225
242 363 180 270
201 403 150 300
Gambar 5.8 Rangkaian ekivalen arus gangguan
149 451 112 338
sambaran petir
97 484 75 375

Dengan menggunakan persamaan 14 dan 15 maka 48 544 36 414


nilai tahanan total akan didapatkan, tahanan sentuh
diperoleh dengan mengalikan tahanan total dan arus Upaya yang dilakukan untuk mengatasi tegangan
gangguan, sehingga didapatkan tabel 5.3 lebih akibat jamper netral transformator putus dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Tabel 5.3 Tegangan sentuh akibat putusnya kawat 1. Memperbaiki sambungan
netral 2. Bushing netral transformator N1 dan N2 masing-
masing disambung langsung ke kawat netral.
Kondisi Tegangan (Volt)
Keterangan 3. Mengubah polaritas agar V1+ V2 = 0
Netral Rp VN VRP
(Ù/km) (Ù)
Ada 0 0 0 I = 1000 A 5.5. Kawat Jamper Hantaran Netral ke Grounding
~ 5 0 500 I = 1000 A Terputus (Gambar 4.2 saat titik B putus)
Rangkaian ekivalen saat kondisi tersebut
Ada ~ 301.8 0 I = 1000 A
ditunjukan pada gambar 4.9.
Ada 5 943.1 0.0569 I = 1000 A Apabila terjadi gangguan hubung singkat satu fasa ke
~ ~ 0 0 Bisa merusak tanah dengan data-data sebagai berikut :
Trafo Ø Arus hubung singkat minimum
Hasil perhitungan pada tabel 5.3 menunjukan If = 256, 4 A (tabel 5.2)
bahwa putusnya kawat netral akan menyebabkan Ø Tahanan RP = 5 Ohm
tegangan sentuh menjadi besar, sebaliknya jika kawat Ø Tahanan RP1 = 5 Ohm
pen etanahan putus maka, akan menyebabkan tegangan
pada tahanan RN menjadi lebih besar dan tegangan ini Maka, dengan menggunakan peramaan 12 dan 13
berpotensi merusak peralatan pelanggan. didapatkan besarnya tegangan sentuh pada tahanan RP2
Untuk mengatasi akibat-akibat tersebut di atas, pada saat sebelum dan sesudah kawat jamperan
maka ada beberapa alternatif upaya yang bisa hantaran netral RP putus adalah :
dilakukan, menggunakan sistem pengetanahan v Tegangan sentuh VRP2 saat normal :128.2 A
langsung, seperti yang telah dilakukan di APJ I atau v Tegangan sentuh VR P2 saat RP1 putus = 5 *
dengan menggunakan sistem pengetanahan Multi 256.4 = 1282
Grounded Common Neutral seperti juga
direkomendasikan pada standar Chas T Main terlihat bahwa dengan putusnya kawat jamper hantaran
netral ke grounding akan menyebabkan tegangan
5.4. Dampak Putusnya Kawat Netral Terhadap sentuh pada tahanan pengetahanan di tempat lain
Kualitas Tegangan Pelayanan (titik A pada menjadi lebih tinggi sedangkan, untuk tegangan
gambar 4.2 putus) pelayanan di sisi konsumen tidak akan akan
v Analisa Terhadap Dampak Putusnya Kawat mengalami gangguan. Untuk mengatasi permasalah
Jumper Bushing Netral Ke Kawat Netral tersebut upaya yang dilakukan adalah dengan cara

34
Analisis Dampak Terputusnya Kawat Netral Terhadap JTM 20 Kv (Juningtyastuti, Karnoto, Riyanto)

memperkecil tahanan pengetanahan salah satunya pengetanahan kawat netral jaringan dengan
dengan menggunakan metode Multi Grounded mengunakan metode Multi Grounded Common
Common Neutral Neutral. Upaya lain yang bisa digunakan yaitu dengan
cara memasang kawat netral di atas dengan
Phasa
IF konfigurasi jaringan sesuai gambar 3.5 tujuannya agar
N kawat netral yang dipasang terhindar dari tangan-
tangan yang tidak bertanggung jawab, sehingga
putusnya kawat netral dan akibatnya bisa
RL1 Z1
ditekan/dikurangi.
Z2
5.7. Jumper Grounding Trafo Distribusi sisi
RL2 RP RP1 Tegangan Menengah Putus
Gambar 4.2 dapat dibuat gambar ekivalennya
untuk kondisi titik D putus seperti ditunjukan pada
Gambar 5.9. Rangkaian ekivalen putusnya jamperan
gambar 5.12. Dari gambar 5.12 menunjukan bahwa
netral ke grounding
putusnya jumper grounding transformator distribusi
tegangan menengah, mengakibatkan tegangan
5.6. Kawat Netral JTM Pada Trafo Distribusi Sisi pelayanan pada sisi pelanggan menjadi hilang.
Primer Putus (titik C pada gambar 4.2 putus)
Rangkaian ekivalen saat kawat netral JTM trafo
distribusi sisi primer putus ditunjukan pada gambar
5.10.
Is I1 V1 Z1
RPhasa
Vs Vt
If
RN
I2 V2 Z2

Rtrafo RP RP1 RP2


Gambar 5.11 Rangkaian ekivalen saat jamper
grounding trafo distribusi sisi
tegangan menengah putus

VI. PENUTUP
Gambar 5.10 Rangkaian ekivalen saat kawat netral 6.1. Kesimpulan
JTM t rafo distribusi sisi primer putus
Dari hasil analisis dampak putusnya kawat netral
Dengan menggunakan data-data sebagai berikut : terhadap jaringan tegangan menengah 20 kV dan
sistem tegangan pelayanan dapat diperoleh beberapa
ISLG = 256,4 A, Rtrafo = 0,3 Ohm, Rp = Rp1 = Rp 2=5
kesimpulan, sebagai berikut :
Ohm maka, besarnya tahanan pengetanahan total
1. Arus gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah
sebelum dan setelah titik C pada gambar 2.19 putus
(Single Line to Ground Fault/SLG) minimum
dapat ditentukan masing-masing nilainya dengan
pada kondisi normal adalah 256,4 A sedangkan
menggunakan persamaan 14 dan 15, yaitu sebesar :
pada saat kawat netral hilang sebesar 241,55 A,
Ø Kondisi normal = 0,2542 Ohm
jadi sampai saat ini penurunan nilai arus
Vs = I SLG * Rptotal
gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah
= 256,4 * 0,2542= 65,18 Volt
minimum (gangguan di ujung saluran) masih
Ø Kondisi titik C putus = 1,66 Ohm
relatif cukup kecil yaitu sebesar 14,85 A (5,79%).
Vs = 256,4 * 1,66 = 425,62 Volt
2. Turunnya arus gangguan hubung singkat ke tanah
Putusnya kawat netral transformator pada sisi minimum, akibat putusnya kawat netral tidak
tegangan menengah akan menyebabkan meningkatnya akan berpengaruh terhadap kerja GFR, karena
nilai tahanan pengetanahan secara bersama, hal ini bisa nilai arus gangguan sebesar 241,55 A masih
dibuktikan dari hasil perhitungan yang didapat. berada di atas arus setting GFR (Is = 180 A).
Bertambah besranya nilai tahanan pengetanahan total 3. Kawat netral yang putus saat terjadi arus
maka jika terjadi gangguan hubung singkat ke tanah, gangguan yang sangat besar (akibat petir) bisa
tegangan sentuh yang dirasakan akan semakin besar. menyebabkan :
Dari hasil perhitungan tersebut tegangan sentuh Ø adanya tegangan pada penghantar netral
mengalami kenaikan sebesar 84,69%, jika kondisi yang berpotensi merusak peralatan
seperti ini terus dibiarkan akibatnya akan sangat pelanggan.
membahayakan bagi keselamatan manusia. Upaya Ø meningkatnya tegangan sentuh.
yang bisa dilakukan yaitu dengan cara memperkcil
tahanan bersama (total) yaitu melalui sistem

35
Transmisi, Vol. 10, No. 2, Desember 2005 : 30 – 36

Ø jika kawat netral dan kawat pengetanahan 1. Untuk mengatasi hilangnya kawat netral maka
putus maka arus gangguan tersebut bisa konfigurasi penghantar horisontal dengan kawat
merusak transformator. netral di atas (gambar 3.8) bisa digunakan.
Upaya yang dilakukan untuk mengatasi 2. Perlu dilakukan pengecekan besarnya tahanan
permasalahan tersebut adalah, memperkecil sistem pengetanahan netral dan kondisi sistem
tahanan pengetanahan dengan menggunakan secara berkala untuk memastikan bahwa sistem
metode pengetanahan langsung atau dengan pengetanahan dan kondisi sistem benar-benar
mengunakan sistem pengetanahan langsung yang dalam kondisi yang baik.
dipasang disepanjang kawat netral (Multi
Grounded Common Neutral / MGCN), DAFTAR P USTAKA
sebagaimana telah diterapkan di APJI
4. Putusnya sambungan jamperan kawat netral pada 1. ---, Evaluasi Terhadap Dampak Yang
bushing transformator menyebabkan tegangan Mungkin Timbul Akibat Kawat Netral Putus,
pada kondisi beban tidak setimbang akan Area Pelayanan Jaringan I, Semarang, 2001.
mengalami kenaikan atau penurunan tegangan 2. Chas T Main, Distribution System Protection
tergantung p ada besar kecilnya beban. Manual, McGraw-Edison Company Power
Upaya untuk mengatasi tegangan lebih akibat Systems Division
putusnya sambungan kawat jamper netral 3. Djiteng Marsudi, Ir., Operasi Sistem Tenaga
Bushing transformator dapat dilakukan dengan Listrik, Balai Penerbit & Humas ISTN, Jakarta,
menggunkan cara-cara, sebagai berikut : 1990.
v Memperbaiki sambungan pada jamperan 4. Hutauruk TS, Komari, Ir., Soekarto, Ir.,
netral Bushing dengan menggunakan sepatu Pengaman Tegangan Sentuh dan Pengaman
kabel Bimetal Cu-Al atau dengan Gangguan Tanah pada SUTR dan SUTM,
menggunakan konektor Bimetal Cu-Al. Prokerma PLN-ITB.
v Bushing netral transformator N1 dan N2 5. ---, Penentuan Setting OCR dan GFR, PT. PLN
masing-masing disambung langsung ke (Persero) Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban
kawat netral. Jawa Bali Sektor Ketenger.
v Mengubah polaritas agar V1 + V2 = 0. 6. ---, Buku Pedoman Standar Konstruksi
5. Putusnya kawat jamper hantaran netral ke Jaringan Distribusi PLN, PLN Distribusi Jawa
grounding akan menyebabkan meningkatnya nilai Tengah, Semarang, 1992.
tahanan total pengetanahan, akibatnya tegangan 7. Sulasno, Ir., Analisis Sistem Tenaga Listrik,
sentuh menjadi lebih besar. Upaya yang Jilid I, Satya Wacana, Semarang, Mei 1993.
dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan 8. Sulasno, Ir., Teknik dan Sistem Distribusi
menggunakan sistem pengetanahan MGCN. Tenaga Listrik, Jilid I, Badan Penerbit
6. Putusnya kawat netral JTM Transformator Universitas Diponegoro, Semarang.
Distribusi pada sisi primer tidak akan 9. Turan Gonen, Modern Power System Analysis,
mempengaruhi tegangan pelayanan di sisi Jhon Wiley & Sons, Inc., New York, 1988.
pelanggan, tetapi akan berakibat pada naiknya 10. Turan Gonen, Electric Power Distribution
tahanan pengetanahan total sehingga, tegangan System Engineering, McGraw-Hill,1986.
sentuh akan semakin besar. Upaya yang 11. ---, Uji Transformator Distribusi, PT PLN
dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan Ranting Tulung, 2001
menggunakan sistem pengetanahan MGCN.
7. Akibat yang paling berbahaya dari putusnya
kawat netral adalah meningkatnya tegangan
sentuh, sedangkan upaya yang telah dilakukan
yaitu dengan menggunakan sistem pengetanahan
kawat netral jaringan dengan sistem MGCN.
Akan tet api sistem ini tidak mampu mengatasi
putusnya kawat netral akibat perbuatan tangan-
tangan yang tidak bertanggung jawab, sehingga
sistem pengetanahan ini menjadi tidak berarti
sama sekali terutama jika peralatan rele
pengamannya mengalami kegagalan operasi dan
kawat netral yang ada putus seluruhnya.
8. Apabila jamper grounding Transformator
Distribusi sisi tegangan menengah putus,
akibatnya tegangan pada sisi pelanggan menjadi
nol (tidak ada tegangan di sisi pelanggan) .

6.2 Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan dari penulisan
penelitian ini, saran yang dapat penulis sampaikan
adalah :

36