Anda di halaman 1dari 16

BAB II

LANDASAN TEORI

A. KONSEP DASAR MEDIS


1. Anatomi dan fisiologi
a. Anatomi saluran pernafasan
Saluran penghantar hingga mencapai paru-paru adalah hidung, faring,
laring, trakea, bronkus dan bronkiolus. Struktur ini menyalurkan udara
yang di inspirasi menuju ke alveolis pada paru-paru untuk dibuang ke
atmosfer.
1) Hidung
Ketika udara masuk kedalam rongga hidung, udara tersebut disaring,
dihangatkan dan dilembabkan. (Sylvia A. Price dan Lorraine M Wilson
1994).
2) Faring
Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan
makanan. Terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung
dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. (Drs. Syarifudin B. Ac 1992).
3) Laring
Merupakan saluran udara sebagai pembentukan suara terletak didepan
bagian faring sampai ketinggian vertebralis ficalis dan masuk kedalam
trakea dibawahnya. (Drs. Syarifudin B. Ac 1992)
4) Trakea
Trakea disokong oleh cincin tulang rawan yang berbentuk sepatu kuda
yang panjangnya kurang lebih 5 inchi. (Sylvia A. Price dan Lorraine M
Wilson 1994).
5) Bronkus
Lanjutan dari trakea, bronkus kanan lebih pendek dan besar
dibandingkan kiri, terdiri dari 6-8 cincin mempunyai 3 cabang, bronkus

4
5

kiri lebih panjang dan ramping terdiri dari 9-12 cincin mempunyai 2
cabang. (Sylvia A. Price dan Lorraine M Wilson 1994).
6) Bronkiolus
Lanjutan dari bronkus yaitu saluran udara terkecil yang tidak
mengandung alveoli. (Sylvia A. Price dan Lorraine M Wilson 1994).
7) Alveoli
Area respirasi yaitu pada alveoli yang merupakan unit fungsional
dimana pada area ini terjadi pertukaran gas. (Sylvia A. Price dan Lorraine
M Wilson 1994).
2. Definisi
a. Bronkopneumonia adalah suatu peradangan pada paru-paru dan
bronkiolus, virus (influenza), jamur candida albican/aspirasi karena
makanan/benda asing. (Dra Suryana 1999)
b. Bronkopneumonia adalah merupakan suatu peradangan pada paru-paru
yang dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri,
virus, jamur dan benda asing. (kapita selekta edisi ke-2 1982)
c. Bronkopneumonia adalah suatu peradangan pada paru-paru yang lebih
menyebar sifatnya dan melibatkan cabang tengkorak dalam paru-paru itu
sendiri yang membawa udara ke sel-sel yang sangat halus (alveoli) dari
paru-paru itu sendiri. (Suddarths and brunner 2001)
3. Etiologi
Etiologi atau penyebab dari penyakit bronkopneumonia adalah :
a. Bakteri
1) Pneumokokus
2) Streptokokus
b. Virus
c. Aspirasi
d. Jamur
(Suddarths and brunner 2001)
6

4. Pathofisiologi
Bronkopneumonia terjadi pada bronkus dan dan cabang-cabangnya,
proses peradangan pada selaput mukosa dan bronkus menimbulkan edema dan
iritasi, hal ini terjadi sebagai akibat adanya infeksi dari agen infeksius atau
adanya kondisi yang mengganggu tahanan saluran trakea bronkialis, sehingga
flora endogen yang normal berubah menjadi pathogen ketika memasuki
saluran jalan pernapasan.Proses bronkopneumonia mempengaruhi ventilasi
setelah agen penyebab mencapai alveoli, reaksi inflamasi akan terjadi dan
mengakibatkan ekstra vasasi kedalam alveioli. Adanya eksudat tersebut
memberikan media bagi pertumbuhan bakteri.Membran kapiler alveioli
menjadi tersumbat sehingga menghambat aliran oksigen kedalam veri alveolar
kapiler dibagian paru yang terkena akhirnya terjadi hipoksemia.Terjadinya
edema pada saluran bronkus menimbulkan gangguan pengeluaran sekret atau
tidak lancarnya saluran napas, sehingga menimbulkan gejala baru berupa
sesak napas dan batuk sebagai upaya tubuh mengeluarkan sekret.Keadaan
selanjutnya bila bronkopneumonia ini tidak segera diatasi adalah abses paru,
efusi pleura, gagal nafas, emfisema, ateletaksis dan meningitis. (sumber
smeltzer and bare, 2002)
7

5. Patoflodiagram
Invasi agen infeksius

Alveoli tersumbat Akibat ekstravasasi


kedalam alveoli menyebabkan
timbulnya eksudat
O2 terhambat
Inflamasi parenkim paru
Hipoksemia
Masuk kesaluran nafas

Gangguan Masuk ke bronkus dan


pertukaran gas cabang-cabangnya

Proses peradangan
pada selaput mukosa
dan bronkus Kurang
pengetahuan
Edema dan iritasi

Nafsu makan Gangguan pengeluaran Batuk dengan


Kurang sekret atau tidak lancarnya sputum
saluran nafas

Perubahan bunyi nafas


Gangguan
pertukaran gas sesak nafas

Bersihan jalan
nafas tidak
efektif

sumber (Smeltzer and Bare 2002)


8

6. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis yang ditemukan pada klien pemderita
bronkopneumonia adalah :
a. Seringkali didahului ifeksi traktus respiratorus bagian atas.
b. Penyakit ini umumnya timbul mendadak, suhu naik sampai 39-40° C
disertai menggigil.
c. Nafas menjadisesak dan cepat.
d. Batuk-batuk yang mula-mula non produktif tetapi kemudian menjadi
produktif.
e. Nafas berbunyi pada anak-anak jelas tampak pernafasan cuping hidung.
Bila mengenai pleura, timbul nyeri dada yang tajam. (mansjoer Arif, edisi
ketiga 2000).
7. Pemeriksaan diagnostik
a. Sinar x mengidentifikasi distribusi struktural misalnya lobar, bronkial
dapat juga menyatakan abses luas, emfisema.
b. GDA/nadi oksimetri tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada gas
paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
c. Pemeriksaan kultur darah dan sputum, kultur sputum dapat tidaknya
mengidentifikasi semua organisme yang ada sedangkan kultur darah dapat
menunjukkan bakterimia sementara.
d. JDL: leukositosis biasanya ada, meskipun sel darah putih rendah, terjadi
pada infeksi virus.
e. Pemeriksaan serologi : membantu dalam membedakan diagnosis
organisme khusus.
f. Elektrolit: natrium dan klorida mungkin rendah.
g. Bilirubin: mungkin meningkat.
h. Pemeriksaan fungsi paru; volume mungkin menurun, tekanan jalan nafas
mungkin meningkat. (Doenges 2000)
9

8. Penatalaksanaan
a. Oksigen 1-2 liter/menit
b. IVFD dekstrose 10 % : Nacl 0,9 % : 3:1 + Kcl 10 ml cairan jumlah cairan
sesuai berat badan, kenaikan suhu, dan status dehidrasi.
c. Jika sesak tidak terlalu hebat dapat dimulai makanan enteral bertahap
melalui selang nasogastrik dengan feeding drip.
d. Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan saline
normal dan beta agonis untuk memperbaiki transpor mukosilier.
e. Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. (Mansjoer Arif
edisi ketiga 2000)
9. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain :
a. Efusi pleura terjadi dima cairan terkumpul dalam rongga pleural
b. Atelektasis terjadi akibat obstruksi bronkus oleh penumpukan sekresi.
c. Delirium terjadi mungkin disebabkan oleh hipoksia, atau sindroma putus
alkohol.
d. Superinfeksi dapat terjadi dengan pemberian dosis antibiotik yang sangat
besar, seperti penisislin. (Suddart and Brunner 2001)

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


Proses keperawatan adalah diamana suatu konsep diterapkan dalam
praktek keperawatan. Hal ini Disebutkan sebagai suatu pendekatanproblem
solving yang memerlukan ilmu, teknik dan keterampilan interpersonal dan
ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasien baik sebagai individu, keluarga
maupun masyarakat (Nursalam 2001), Iyer et all (1996) mengemukakan dalam
proses keperawatan terdiri dari 5 tahap yaitu : pengkajian, diagnosa keperawatan,
rencana keperawatan, pelaksanaan, dan evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan
merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari
10

berbagai sumber, untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan


klien (Nursalam, 2001).
a. Biodata klien meliputi : nama, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, anak
keberapa, agama/suku, pendidikan, alamat, dan penanggung jawab serta
hubungan dengan klien.
b. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang : kaji keluhan klien, kapan mulai tanda
dan gejala, faktor yang mempengaruhi, apakah berhubungan dengan
stres atau keluhan fisik, apakah ada upaya-upaya yang dilakukan.
2) Riwayat kesehatan masa lalu : berupa penyakit dahulu yang pernah
diderita, dan hubungannya dengan keluhan sekarang.
3) Riwayat alergi : apakah ada reaksi alergi terhadap suatu zat-zat
terutama seperti obat atau makanan.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan
klien.
d. Struktur keluarga/genogram
e. Pengkajian fisik dan pola kesehatan
1) Aktifitas atau istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan, insomnia.
Tanda : Letargi.
Penurunan toleransi terhadap aktifitas
2) Sirkulasi
Gejala : Riwayat adanya gejala kronis takikardi.
Tanda : Takikardia.
Penampilan kemerahan atau pucat.
3) Integritas ego
Gejala : Banyaknya stressor, masalah finansial.
11

4) Makanan atau cairan


Gejala : Kehilangan nafsu makan, mual/muntah.
Tanda : Distensi abdomen.
Hiperaktif bunyi usus.
Kulit kering dengan turgor buruk.
5) Neuro sensorik
Gejala : Sakit kepala daerah Frontal (influenza).
Tanda : Perubahan mental ( bingung, samnolen).
6) Nyeri atau kenyamanan
Gejala : Sakit kepala
Nyeri dada (pleuritik),meningkat oleh batuk
Tanda : Melindungi area yang sakit
7) Pernapasan
Gejala : Takipnea, Dispnea progresif, pernapasan dangkal
Tanda : Sputum : Merah muda, berkarat, atau purulen.
Perkusi : Pekak diatas area yang konsolidasi.
Fremitus : Taktil dan vocal bertahap meningkat
Bunyi napas : menurun atau tidak ada diatas area
yang terlibat
Warna : pucat atau sianosis bibir/kuku.
8) Keamanan
Gejala : Riwayat gangguan sistem imun, misalnya AIDS,
Demam (misal, 38,5-39,60 C).
Tanda : Berkeringat, menggigil berulang, gemetar. ( Doenges,
1999. hal.164).
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon
manusia dan individu atau kelompok dimana perawatan secara akuntabilitas
dapat mengidentifikasikan dan memberikan intervensi secara pasti untuk
12

menjaga status kesehatan, membatasi, mencegah dan merubah ( Carpenito,


2000 ).
Menurut Doenges 1999 diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah
sebagai berikut :
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d peningkatan produksi sputum.
b. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan peningkatan kebutuhan metabolik.
c. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi parenkim paru.
d. Gangguan pola istirahat tidur yang berhubungan dengan batuk berlebihan.
e. Kurang pengetahuan orang tua tentang masalah penyakit, pengobatan dan
perawatan klien berhubungan dengan kurang informasi.
3. Perencanaan keperawatan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, langkah berikut adalah
menetapkan perencanaan keperawatan. Perencanaan meliputi pengembangan
strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah yang di
identifikasi pada diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai setelah
menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi.
dikutif dari Iyer at all 1996, dalam (Nursalam 2001 Hal 51).
Tahap perencanaan keperawatan adalah penentuan prioritas diagnosa
keperawatan, penetapan tujuan, penetapan kriteria evaluasi dan merumuskan
intervensi keperawatan (Nursalam 2001 hal 51).
Terdapat tiga rencana tindakan dalam tahap perencanaan yaitu rencana
tindakan perawat, rencana tindakan pelimpahan (medis dan tim kesehatan
lain) dan program medis untuk klien yang dalam pelaksanaannya dibantu
perawat (Carpenito 2000) untuk menentukan prioritas ada dua hirarki yang
dapat digunakan yaitu
a. Hirarki Maslow (1968) dalam (Nursalam 2001 hal 52) membagi
kebutuhan dalam lima tahap yaitu: kebutuhan fisiologis, rasa aman dan
nyaman, sosial, harga diri dan aktualisasi diri.
13

A
ANANDIRI
LISASI
N UT RISI, SE K
D ICINT AI
ELE KTROL IT,
I D AN
FISIOLOG IS O 2, H2O,
HARGA
AKTUA
KEAMBIOLOG I S/
MENCINT
KEBU TU HA N

b. Hirarki Kalish (1983) menjelaskan kebutuhan maslow lebih mendalam


dengan membagi kebutuhan fisiologis menjadi kebutuhan untuk bertahan
hidup dan stimulasi (Nursalam 2001 hal 52) setelah penyusunan prioritas
perencanaan diatas maka langkah selanjutnya adalah penyusunan rencana
tindakan. Adapun rencana tindakan dari diagnosa keperawatan yang
muncul pada klien dengan bronkopneumonia (Doenges 1999) adalah
sebagai berikut:
1) Bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi
sputum.
Tujuan : pola pernafasan efektif
Kriteria hasil : menunjukkan jalan nafas paten dengan nafas bersih,
tidak ada dispnea, sianosis.
Intervensi :
a) Kaji frekuensi atau kedalaman pernafasan dan gerakan dada.
R/ : Takipnea, pernafasan dangkal, dan gerakan dada (Doenges
1999 hal 166)
14

b) Auskultasi area paru, catat area penurunan atau tidak ada aliran
udara dan bunyi nafas adventisius
R/ : Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi
(Doenges 1999 hal 167)
c) Pengisapan sesuai indikasi
R/ : Merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas secara
mekanik pada pasien yang tidak dapat melakukannya (Doenges
1999 hal 167)
d) Kolaborasi untuk memberikan obat sesuai indikasi, mukolitik,
ekspektoran, bronkodilator, analgesik.
R/ : Alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi
sekret. Analgesik diberikan untuk menurunkan ketidaknyamanan
(Doenges 1999 hal 167)
2) Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil :Berat badan meningkat
Intervensi :
a) Identifikasi faktor yang menimbulkan mual/muntah, misalnya
sputum banyak, pengobatan aerosol, nyeri..
R/ : Pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah
(Doenges 1999 hal 172)
b) Auskultasi bunyi usus, observasi/palpasi distensi abdomen.
R/ : Bunyi usus mungkin menurun atau tidak ada bila proses
infeksi berat atau memanjang (Doenges 1999 hal 172)
c) Berikan makanan porsi kecil tapi sering termasuk makanan
kering atau makan yang menarik untuk pasien.
R/ : Tindakan ini dapat meningkatkan mAsukan meskipun nafsu
makan mungkin lambat untuk kembali (Doenges 1999 hal 172)
15

d) Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar


R/ : Adanya kondisi kronis atau keterbatasan keuangan dapat
menimbulkan malnutrisi (Doenges 1999 hal 172)
3) Gangguan pola istirahat tidur yang berhubungan dengan batuk yang
berlebihan.
Tujuan : Nyeri berkurang sampai hilang
Kriteria hasil : Klien tenang, tidak rewel selama dirawat di rumah
sakit, sebelum pulang batuk berkurang sampai hilang.
Intrervensi :
a) Tentukan karakteristik nyeri misalnya : tajam, konstan.
R/ : nyeri dada biasanya ada dalam beberapa derajat pada
pneumonia dapat timbul komplikasi pneumonia seperti
perikarditis dan endokarditis (Doenges 1999 hal 171)
b) Pantau tanda vital
R/ : perubahan frekuensi jantung atau tekanan darah
menunjukkan bahwa pasien mengalami nyeri (Doenges 1999 hal
171)
c) Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama
episode batuk
R/ : alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara
meningkatkan keefektifan upaya batuk (Doenges 1999 hal 171)
d) Kolaborasi untuk memberikan analgesik dan anti tusif sesuai
indikasi
R/ : obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk non
produktif/paroksimal, meningkatkan kenyamanan (Doenges 1999
hal 171)
4) Gangguan pola istirahat tidur yang berhubungan dengan batuk yang
berlebihan
Tujuan : klien dapat istirahat tidur ± 7 jam pada malam hari.
16

Kriteria hasil : selama dirumah sakit klien tenang


Intervensi :
a) Evaluasi respon pasien terhadap aktifitas, catat laporan dispnea,
perubahan tanda vital selama dan sesudah aktifitas.
R/ : menetapkan kemampuan atau kebutuhan pasien selama dan
sesudah aktifitas (Doenges 1999 hal 170)
b) Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase
akut sesuai indikasi
R/ : menurunkan stres dan rangsangan berlebihan, meningkatkan
istirahat (Doenges 1999 hal 170)
c) Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat dan tidur
R/ : pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur dikursi,
atau menunduk kedepan meja atau bantal (Doenges 1999 hal 170)
5) Kurang pengetahuan orang tua tentang masalah penyakit, pengobatan
dan perawatan klien berhubungan dengan kurang informasi.
Tujuan : orang tua klien dapat mengerti dan memahami tentang
masalah penyakit anaknya.
Kriteria hasil : orang tua klien mengatakan mengerti penyakit yang
dialami oleh klien
Intervensi :
a) Diskusikan aspek ketidakmampuan dari penyakit, lamanya
penyembuhan, dan harapan kesembuahan.
R/ : informasi dapat meningkatkan koping dan membantu
menurunkan ansietas dan masalah berlebihan (Doenges 1999 hal
173)
b) Informasi dan bentuk tertulis dan verbal
R/ : kelemahan dan depresi dapat mempengaruhi kemampuan
untuk mengasimilasi informasi atau mengikuti program medik
(Doenges 1999 hal 173)
17

c) Tekankan perlunya melanjutkan terapi antibiotik selama periode


yang dianjurkan
R/ : penghentian dini antibiotik dapat mengakibatkan iritasi
mukosa bronkus, dan menghambat makrofag alveolar (Doenges
1999 hal 173)
4. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang spesifik (Nursalam 2001) tahap ini merupakan tahap keempat dalam
proses keperawatan oleh karena itu pelaksanaan dimulai setelah rencana
tindakan dirumuskan sesuai skala urgent dan non urgent.
Dalam pelaksanaan tindakan ada tiga yang harus dilalui yaitu : persiapan,
perencanaan, dan pendokumentasian ( Nursalam 2001)
a) Fase persiapan meliputi
1) Review antisipasi tindakan keperawatan
2) Menganalisa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan
3) Mengetahui komplikasi yang mungkin timbul
4) Persiapan alat
5) Persiapan lingkungan yang kondusif
6) Mengidentifikasi aspek hukum dan etik
b) Fase implementasi
1) Independen
2) Interdependen
3) Dependen
c) Fase dokumentasi
Merupakan suatu catatan lengkap dan akurat dari tindakan yang telah
dilaksanakan dalam pelaksanaan tindakan asuhan keperawatan pada klien
dengan bronkopneumonia perawat dapat berperan sebagai pelaksana
keperawatan, memberi support, pendidikan, advokasi dan pencatatan.
18

5. Evaluasi
Adalah salah satu yang direncanakan dan perbandingan yang sistematis
pada status kesehatan klien (Nursalam 2001) evaluasi terdiri dari dua jenis
yaitu evalusi formatif atau evaluasi jangka pendek dimana evaluasi ini
dilakukan secepatnya setelah tindakan keperawatan dilakukan sampai tujuan
akhir. Sedangkan evaluasi sumatif ini disebut evaluasi akhir atau jangka
panjang, dimana evaluasi dilakukan pada akhir tindakan keperawatan. Sistem
penulisan pada tahap evaluasi ini umumnya menggunakan sistem SOAP
(Nursalam 2001 hal 74)
Adapun tujuan evaluasi yang diharapkan dalam pemberian asuhan
keperawatan pada klien dengan bronkopneumonia adalah :
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif teratasi
b. Gangguan pemenuhan mutrisi kurang dari kebutuhan tubuh terpenuhi
c. Nyeri akut teratasi
d. Gangguan pola istirahat tidur teratasi
e. Kurang pengetahuan terpenuhi
6. Perencanaan pulang
a. Dorong klien latihan pernafasan untuk membersihkan paru-paru dan
meningkatkan ekspansi penuh paru
b. Anjurkan klien untuk menghindari faktor-faktor yang dapat menimbulkan
penyakit bronkopneumonia seperti : merokok, menghirup udara toksik
atau zat kimia
c. Dorong klien untuk minum obat secara teratur dan cek ulang secara teratur
(Suddarth’s and Brunner 2001)