Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR MEDIS


1. Anatomi dan fisiologi sistem kardiovaskuler
Jantung merupakan sebuah organ yang terdiri dari otot. Otot jantung
merupakan jaringan istimewa karena kalau dilihat dari bentuk dan susunannya
sama dengan otot serat lintang, tetapi cara bekerjanya menyerupai otot polos
yaitu di luar kemauan kita (dipengaruhi oleh susunan saraf otonom)
(Syarifudin 1996, hal 65).
Sistem kardiovaskuler terdiri dari arteri, vena, kapiler, saluran limfe,
jantung dan siklus jantung.
a. Arteri
Merupakan pembuluh darah yang keluar dari jantung yang membawa
darah ke seluruh bagian dan alat tubuh. Pembuluh darah arteri yang paling
besar yang keluar dari ventrikel sinistra disebut aorta. Arteri ini
mempunyai dinding yang kuat dan tebal tetapi sifatnya elastis dan terdiri
dari 3 lapisan yaitu :
1) Tunika intima/interna. Lapisan yang paling dalam sekali yang
berhubungan dengan darah dan terdiri dari jaringan endotel.
2) Tunika media. Lapisan yang terdiri dari jaringan otot yang sifatnya
elastis dan termasuk otot polos.
3) Tunika eksterna/adventisia. Lapisan yang paling luar sekali terdiri dari
jaringan ikat gembur yang berguna menguatkan dinding arteri.

b. Vena
Merupakan pembuluh darah yang membawa darah dari bagian atau alat-
alat tubuh masuk ke dalam jantung. Vena-vena yang ukurannya besar
diantaranya vena kava dan vena pulmonalis, vena-vena ini juga

4
mempunyai cabang-cabang yang lebih kecil yang disebut venolus yang
selanjutnya menjadi kapiler.

c. Kapiler
Merupakan pembuluh darah yang sangat halus. Diameternya kira-kira
0,008 mm. dindingnya terdiri dari suatu lapisan endotel.
Fungsi kapiler :
1) Alat penghubung antara arteri dan vena
2) Tempat terjadinya pertukaran zat-zat antara darah dan cairan jaringan
3) Mengambil hasil-hasil dari kelenjar
4) Menyerap zat makanan yang terdapat di usus
5) Menyaring darah yang terdapat di ginjal

d. Saluran limfe
Saluran limfe mengumpulkan, menyaring dan menyalurkan kembali
cairan limfe ke dalam darah yang keluar melalui dinding kapiler halus
untuk membersihkan jaringan.

e. Jantung
1) Bentuk
Menyerupai jantung pisang, bagian atasnya tumpul disebut basis
cordis, sebelah bawah agak runcing disebut apeks cordis.
2) Letak
Dalam rongga dada sebelah depan (cavum mediastinum anterior)
antara costa 5 dan 6, dua jari di sebelah papila mamae, pada tempat ini
teraba adanya pukulan jantung yang disebut iktus cordis.

5
3) Lapisan-lapisan jantung
a) Endokardium merupakan lapisan otot jantung sebelah dalam terdiri
dari jaringan endotel dan selaput lendir yang melapisi permukaan
rongga jantung
b) Miokardium merupakan lapisan tengah dari jantung terdiri dari
bundalan-bundalan otot-otot jantung, otot atria, otot ventrikuler
c) Perikardium merupakan pembungkus jantung selaput parietal dan
viseral di bagian paling luar dan selaput viseral yang berhubungan
dengan otot jantung

4) Gerakan-gerakan jantung
Jantung bergerak mengembang dan menguncup disebabkan adanya
rangsangan yang berasal dari susunan saraf otonom.
Dalam kerja jantung mempunyai tiga periode :
a) Periode kontraksi atau periode sistole
b) Periode dilatasi atau periode diastole
c) Periode istirahat

f. Siklus jantung
Merupakan kejadian yang terjadi dalam jantung selama
peredaran darah, gerakan jantung terdiri dari dua jenis yaitu : kontraksi
(sistole) dan peredaran (diastole). Kontraksi dari kedua atrium terjadi
secara serentak yang disebut sistole atrial dan pengendorannya disebut
diastole atrial. Lama kontriksi ventrikel kurang lebih 0,3 detik. Kontraksi
kedua atrium pendek, sedangkan kontriksi ventrikel lama dan lebih kuat,
karena harus mendorong darah ke seluruh tubuh. Untuk mempertahankan
tekanan darah sistemik, ventrikel kanan juga memompakan darah yang
sama, tapi tugasnya hanya mengalirkan darah ke sekitar paru-paru dimana
tekanannya lebih rendah.

6
g. Debaran jantung
Merupakan pukulan ventrikel kiri terhadap dinding anterior yang
terjadi selama kontriksi ventrikel dan debaran ini dapat diraba dan sering
terlihat pada ruang interkostalis kelima kira-kira 4 cm dari garis sternum.
Otot jantung mempunyai ciri-ciri yang khas, kemampuan berkontraksi
otot jantung sewaktu sistole maupun diastole tidak tergantung pada
rangsangan saraf. Konjungtivitas (daya hantar) kontraksi melalui setiap
serabut otot jantung secara halus sekali dan sangat jelas dalam berkas his,
ritme, karotis, arteri pulpliteal, dorsal plantaris. Yang merupakan
gelombang tekanan yang dialihkan dari aorta ke arteri yang merambat
lebih cepat, kecepatan denyut jantung dalam keadaan sehat dipengaruhi
oleh pekerjaan, makanan, emosi, cara hidup, dan umur.

h. Daya pompa jantung


Dalam keadaan istirahat jantung berdebar 70 kali per menit. Pada
waktu banyak pergerakan, kecepatan jantung bisa mencapai 150 kali per
menit dengan gaya pompa 20-25 liter per menit.

i. Katup-katup jantung
1) Katup trikuspidalis
2) Katup bikuspidalis
3) Katup seminalis arteri pulmonalis
4) Katup seminalis aorta

j. Sirkulasi darah
Pembuluh darah pada peredaran darah kecil, terdiri dari :
1) Arteri pulmonalis merupakan pembuluh darah yang keluar dari
ventrikel dextra menuju paru-paru yang berisi CO2.

7
2) Vena pulmonalis merupakan vena yang membawa darah dari paru-
paru masuk ke jantung bagian atrium sinistra berisi darah banyak
mengandung O2 yang akan dikeluarkan ke seluruh tubuh.

Pembuluh darah pada peredaran darah besar yaitu aorta,


merupakan pembuluh darah arteri yang besar : aorta asenden, arkus aorta,
aorta desenden.

2. Pengertian
a. Iskemik miokard adalah suatu keadaan terjadinya sumbatan aliran darah
yang berlangsung progresif, dan suplai darah yang tidak adekuat yang
ditimbulkannya akan membuat sel-sel otot kekurangan komponen darah
yang dibutuhkan untuk hidup (Smeltzer & Bare, 2001).
b. Iskemia myocardial merupakan peristiwa kejang koroner yang didasari
oleh mekanisme sliding myocontractile element di dalam sel-sel otot
pembuluh darah koroner dan mengakibatkan terganggunya keseimbangan
antara penyediaan dan kebutuhan oksigen miokardium (Ibnu Masud,
1996).
c. Iskemik miokard merupakan proses penurunan aliran darah arteri,
sehingga kebutuhan nutrien jaringan miokard bertambah (Hudak & Gallo,
1997).
d. Iskemia adalah suatu keadaan kekurangan oksigen yang bersifat sementara
dan reversibel (Price & Wilson,1995).

3. Etiologi
Penyebab yang paling sering pada iskemik miokard adalah terjadi gangguan
suplai darah dan terdapat penyumbatan aliran darah sehingga darah
kekurangan suplai oksigen, kebutuhan oksigen yang melebihi kapasitas suplai
oksigen oleh pembuluh yang terserang penyakit menyebabkan iskemia

8
miokardium lokal, selain faktor dari suplai darah lemah, masih banyak faktor
penyebab yang memperberat penyakit ini, diantaranya adalah :
a. Riwayat keluarga positif
b. Peningkatan usia
c. Jenis kelamin --- terjadi tiga kali lebih sering pada pria dibanding wanita
d. Kolesterol darah tinggi
e. Tekanan darah tinggi
f. Merokok
g. Gula darah tinggi (diabetes mellitus)
h. Obesitas
i. Inaktivitas fisik
j. Stress
k. Penggunaan kontrasepsi oral
l. Kepribadian, seperti sangat kompetitif, agresif atau ambisius
(Smeltzer & Bare, 2001)

4. Patofisiologi
Kebutuhan akan oksigen yang melebihi kapasitas suplai oksigen oleh
pembuluh yang terserang penyakit menyebabkan iskemik miokardium lokal.
Iskemia yang bersifat sementara akan menyebabkan perubahan reversibel
pada tingkat sel dan jaringan, dan menekan fungsi miokardium. Berkurangnya
kadar oksigen memaksa miokardium mengubah metabolisme yang bersifat
aerobik menjadi metabolisme anaerobik. Metabolisme anaerobik lewat
lintasan glikolitik jauh lebih tidak efisien apabila dibandingkan dengan
metabolisme aerobik melalui fosforilasi oksidatif dan siklus krebs. Hasil akhir
metabolisme anaerob, yaitu asam laktat akan tertimbun sehingga menurun pH
sel.
Gabungan efek hipoksia, berkurangnya energi yang tersedia, serta
asidosis dengan cepat mengganggu fungsi ventrikel kiri. Kekuatan kontraksi
daerah miokardium yang terserang berkurang. Serabut-serabutnya memendek,

9
dan daya serta kecepatannya berkurang. Selain itu gerakan dinding segmen
yang mengalami iskemia menjadi abnormal ; bagian tersebut akan menonjol
keluar setiap kali ventrikel berkontraksi.
Berkurangnya daya kontraksi dan gangguan gerakan jantung
mengubah hemodinamika. Perubahan hemodinamika bervariasi sesuai ukuran
segmen yang mengalami iskemia, dan derajat respon refleks kompensasi
sistem saraf otonom. Menurunnya fungsi ventrikel kiri dapat mengurangi
curah jantung dengan berkurangnya curah sekuncup (jumlah darah yang
dikeluarkan setiap kali jantung berdenyut). Berkurangnya pengosongan
ventrikel saat sistole akan memperbesar volume ventrikel. Akibatnya tekanan
jantung kiri akan meningkat, tekanan akhir diastolik ventrikel kiri dan tekanan
bagi dalam kapiler paru-paru akan meningkat. Peningkatan tekanan diperbesar
oleh perubahan daya kembang dinding jantung akibat iskemia. Dinding yang
kurang lentur semakin memperberat peningkatan tekanan pada volume
ventrikel tertentu.
Angina pektoris adalah nyeri dada yang menyertai iskemia miokard.
Reseptor saraf nyeri terangsang oleh metabolik yang tertimbun oleh suatu zat
kimia antara yang belum diketahui, atau oleh stress mekanik lokal akibat
kontraksi miokardium yang abnormal.
(Price & Wilson, 1995)

10
Patoplodiagram

Hipertensi Merokok Cholesterol

Kebutuhan Kadar CO Darah Asam Nikotinat Adhesi trombosit terikat dengan


O2 kardium lipoprotein yang
CO2 terikat Pelepasan Pembentukan larut dalam air
HB ketocolamin trombus
Diangkat dalam
Hipertrofi suplai O2 Konstriksi arteri sistem peredaran
ventrikel dan ke jantung darah
beban jantung
LDL pada dinding
Pembentukan flak dalam arteri arteri
koronaria
Mempercepat proses
arterosklerosis
Obesitas Penyempitan dinding arteri koronaria

kerja jantung Pembentukan trombus Diabetes Mellitus


dan kebutuhan O2
Sumbatan arteri koronaria Agregasi trombosit

Suplai arteri koronaria Pembentukan hambar

Riwayat keluarga penyakit Suplai O2 dalam darah


jantung
Iskemik jaringan otot jantung Gangguan perfusi jaringan

Perubahan metabolisme Hipoksia


aerob menjadi anaerob
Energi yang tersedia Intoleransi aktivitas
Metabolisme anaerob
Asidosis
Penimbunan asam laktat
Mengganggu fungsi daya kontraksi stimulus saraf
PH sel ventrikel kiri dan gangguan sistem simpatis
gerakan jantung
Tekanan jantung Curah jantung
kiri meningkat Mengubah Kebutuhan O2
Otak tidak mendapat hemodinamika
Nyeri Tekanan diastol O2 adekuat Sesak
ventrikel kiri dan
tekanan bagi paru-paru

Gangguan rasa nyaman

(Smeltzer & Bare, 2001 ; Price & Wilson, 1995)

11
5. Manifestasi klinik
a. Nyeri dada seperti diremas-remas, ditekan, ditusuk, ditindih atau tertimpa
barang berat (paling sering).
b. Perasaan mual, muntah, sesak dan pusing.
c. Keringat dingin dan berdebar-debar.
d. Kulit yang pucat dan dingin.
e. Peningkatan ringan tekanan darah dan denyut nadi.

6. Pemeriksaan Diagnostik
a. EKG (Elektrokardiogram) menunjukkan dua perubahan
elektrokardiogram akibat perubahan elektrofisiologi selular yaitu
gelombang T terbalik dan depresi segmen ST.
b. Enzim-enzim jantung ; kreatikinase (CK), laktat dehidrogenase (LDH),
dan transaminase oksaloasetat glutamik serum (SGOT)
c. Ekokardiogram ; menentukan dimensi serambi, gerakan katup/dinding
ventrikuler dan konfigurasi/fungsi katup.
d. Foto dada ; mungkin normal atau menunjukkan pembesaran jantung.

7. Penatalaksanaan Medis
a. Tirah baring, guna mengurangi kebutuhan oksigen, hilangnya nyeri
merupakan indikator bahwa kebutuhan dan suplai telah mencapai
keseimbangan.
b. Diet makanan lunak, serta rendah garam, rendah lemak
c. Pemberian oksigen 2-4 liter per menit
d. Sedatif sedang seperti diazepam 3-4 x 2-5 mg per oral
e. Atasi nyeri :
1) Morfin 2,5 – 5 mg IV atau pethidine 25-50 mg IM
2) Lain-lain : nitrat, antagonis kalsium, dan betablocker

12
f. Anti koagulan :
1) Heparin 20.000 – 40.000 u / 24 jam IV tiap 4-6 jam atau drip IV
dilakukan atas indikasi
2) Diteruskan asefakumarol atau warfarin.
3) Aspilet 81 mg QD.
g. Trombolitik (streptokinase) ; melarutkan setiap trombus yang telah
terbentuk di arteri koroner, memperkecil penyumbatan dan luasnya infark.

8. Komplikasi
a. Infark miokard
Terjadi nekrosis miokard akibat gangguan aliran darah ke otot jantung
infark merupakan kelanjutan dari iskemik yang berlangsung lama.
Jaringan miokard nekrotik tidak dapat hidup kembali. Area di sekitar
jaringan mati adalah zona jaringan iskemik yang mengalami sedikit
kerusakan, masih hidup pada aliran darah yang sangat terganggu.
b. Edema paru akut
Kongesti paru akut terjadi bila dasar vaskuler baru menerima darah yang
berlebihan dari ventrikel kanan, yang tidak mampu diakomodasi dan
diambil oleh jantung kiri. Sedikit ketidakseimbangan antara aliran masuk
pada sisi kanan dan aliran keluar pada sisi kiri jantung tersebut
mengakibatkan konsekwensi yang berat.
c. Gagal jantung kongestif
Mekanisme yang mendasari gagal jantung meliputi gangguan kemampuan
kontraktilitas jantung, yang menyebabkan curah jantung paling baik
dijelaskan dengan persamaan CO = HR x SV dimana curah jantung
(CO : Cardiac Output) adalah fungsi frekuensi jantung (HR : Heart Rate)
x volume sekuncup (SV : Stroke Volume). Frekuensi jantung adalah
fungsi sistem saraf otonom bila curah jantung berkurang, sistem saraf
simpatis akan mempercepat frekuensi jantung untuk mempertahankan
curah jantung. Bila mekanisme kompensasi ini gagal untuk

13
mempertahankan perfusi jaringan yang memadai, maka volume sekuncup
jantunglah yang harus menyesuaikan diri untuk mempertahankan curah
jantung.
d. Disritmia
Disritmia adalah kelainan denyut jantung yang meliputi gangguan
frekuensi atau irama atau keduanya. Disritmia adalah gangguan
mekanisme hantaran yang mungkin dapat terjadi meliputi bradikardi,
takikardi, flutter fibrilasi, denyut premature, dan penyakit jantung.

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam
praktik keperawatan. Hal ini bisa disebut sebagai pendekatan problem solving
(pemecahan masalah) yang memerlukan ilmu, tehnik, dan ketrampilan
interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien atau keluarga
dengan memberikan asuhan keperawatannya sesuai dengan lima tahap proses
keperawatan, yaitu : pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaaan,
pelaksanaaan, dan evaluasi (Nursalam, 2001).

1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan
merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari
berbagai sumber dan untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status
kesehatan klien (Nursalam, 2001).
Dalam tahap ini dilakukan pengumpulan data dengan cara anamnesa
yang diperoleh dengan wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
penunjang, serta mempelajari status klien.
Ada dua tipe data pada pengkajian yaitu ; data subjektif dan data
objektif. Data subjektif adalah data yang diperoleh dari keluhan yang
dirasakan pasien atau keluarga. Data objektif adalah data yang diperoleh dari
data pengukuran, pemeriksaan, dan pengamatan.

14
Setelah pengumpulan data langkah berikutnya dalam pengkajian adalah
pengelompokan data yang terdiri atas data fisiologis, psikologis, sosial, dan
spiritual (PPNI, 1994)
Untuk penyakit iskemik miokard, pengkajian yang dilakukan meliputi :
a. Identitas klien
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, tempat tanggal lahir, nama penanggung
jawab, pekerjaan dan pendidikan, status, agama, suku/bangsa.
Riwayat kesehatan :
1) Keluhan utama
Pada umumnya klien dengan iskemik miokard datang dengan keluhan
nyeri dada, sesak, berdebar-debar, keringat dingin dan pusing
2) Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan tentang riwayat penyakit yang pernah diderita oleh keluarga,
kemungkinan ada yang terkena penyakit yang sama.
3) Riwayat penyakit sekarang
Keluhan-keluhan yang dialami klien saat dilakukan pengkajian
4) Riwayat kesehatan masa lalu
Hal ini penting untuk memaparkan masalah klien yang mungkin dapat
menyebabkan bertambah beratnya penyakit seperti : merokok, hipertensi,
DM, alkohol atau penggunaan obat-obatan.
b. Pemeriksaan fisik
1) Tanda-tanda vital
Adanya peningkatan tekanan darah, denyut nadi, serta pernafasan.
2) Keadaan umum klien
Mula-mula nyeri dada sampai sesak berat yang disertai kelemahan fisik
3) Sistem pernafasan
Mengeluh sesak, dada berdebar-debar. Ada tidaknya nyeri dada, beratnya
nyeri dengan skala 0-10, dimana 0 tidak ada nyeri dan 10 terasa nyeri
paling berat.

15
4) Frekuensi dan irama jantung
Frekuensi jantung naik atau terjadi penurunan, adanya irama sinus, dan
timbulnya awitan disritmia.
5) Bunyi jantung
Adanya bunyi S3 dan S4 merupakan tanda awal gagal ventrikel kiri,
adanya bunyi murmur jantung menandakan adanya perubahan fungsi otot
miokard.
6) Warna kulit dan suhu
Kulit dingin, lembab atau berkeringat dingin merupakan tanda kesulitan
mempertahankan kebutuhan oksigen.
7) Fungsi gastrointestinal
Adanya mual dan muntah, perubahan bising usus dan nyeri tekan pada
keempat kuadran, ada tidaknya flatus dan BAB juga sebagai tanda tidak
adanya motoilitas usus.
8) Status volume cairan
Berkurangnya haluaran urine, cairan yang seimbang akan lebih baik,
karena klien dengan iskemik miokard harus menghindari kelebihan
volume cairan.
c. Pola koping
Bagaimana klien menghadapi masalah, khususnya bagaimana menghadapi
keadaan klien saat ini dengan penyakit yang dideritanya.
d. Pola persepsi dan konsep diri
Bagaimana pendapat klien tentang dirinya, lihat ekspresi klien apakah terlihat
cemas.
e. Pola peran dan hubungan dengan sesama
Bagaimana peran klien dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Lihat
apakah klien mau bekerja sama dalam tindakan keperawatan maupun tindakan
medis.

16
f. Pola interaksi sosial
Kaji stress, kesulitan istirahat dengan tenang, respon emosi (marah terus
menerus, takut).

2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon
manusia dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat
mengidentifikasi dan memberikan informasi secara pasti untuk menjaga status
kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah. (Nursalam dikutip
dari Carpenito, 2000 hal 35).
Diagnosa keperawatan adalah masalah aktual dan potensial dimana
berdasarkan pendidikan dan pengalaman dia mampu dan mempunyai
kewenangan, memberikan tindakan keperawatan. (Nursalam dikutip dari Gordon,
1976 hal 25)
Iskemik miokard mungkin menyebabkan interaksi fungsi normal dari sistem
tubuh yang dipengaruhi. Berdasarkan data pengkajian diagnosa keperawatan
pasien yang utama yang berhubungan dengan iskemik miokard meliputi ; sesuai
teori, bukan asuhan keperawatan.
a. Nyeri dada berhubungan dengan berkurangnya aliran darah koroner.
b. Potensial pola pernafasan tidak efektif berhubungan dengan cairan berlebihan.
c. Cemas berhubungan dengan takut akan kematian (Smeltzer & Bare, 2001).
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen miokard dan kebutuhan.
e. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan otot infark,
kerusakan struktural.
f. Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan
penurunan aliran darah.
g. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan kurang informasi tentang penyakit.

17
3. Perencanaan
Dalam menentukan perencanaan perlu menyusun suatu sistem untuk
menentukan diagnosa yang akan diambil tindakan pertama kali. Salah satu sistem
yang bisa digunakan adalah hirarki kebutuhan manusia “Iyer et al, 1996”
(Nursalam, 2001 hal 52). Perencanaan meliputi pengembangan strategi untuk
mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang akan
diidentifikasi pada diagnosa kutipan dari Fiyer ,Laptik, dan Bernocchi, 1996
(Nursalam, 2001 hal 51) dalam pengaturan prioritas, perencanaan ada dua hirarki
yang bisa digunakan :
a. Hirarki Maslow
Maslow menjelaskan kebutuhan manusia dibagi dalam lima tahap :
fisiologi, rasa aman, dan nyamana, sosial, harga diri dan aktualitas diri.
Maslow mengatakan bahwa klien memerlukan suatu tahapan kebutuhan, jika
klien menghendaki suatu tindakan yang memuaskan. Dengan kata lain
kebutuhan fisiologis biasanya sebagai prioritas utama bagi klien daripada
kebutuhan lain (Nursalam, 2001 hal 52).
Dimana Maslow menggambarkan dengan skema piramida yang
menunjukkan bagaimana seseorang bergerak dari pemenuhan kebutuhan dasar
dari tingkat kebutuhan yang lebih tinggi dengan tujuan akhir adalah fungsi
dan kesehatan manusia yang terintegrasi.

Aktualisasi
diri
Harga diri
Mencintai dan dicintai

Kebutuhan keselamatan dan keamanan


Kebutuhan fisiologis
(O2, CO2, elektrolit, makanan, dan sex )

Hirarki Abraham Maslow

18
Keterangan :
1) Kebutuhan fisiologis O2, CO2, elektrolit, makanan, dan sex.
2) Kebutuhan keselamatan dan keamanaan, terhindar dari penyakit, pencuri
dan perlindungan hukum.
3) Mencintai dan dicintai : kasih sayang, mencintai, dicintai, diterima
kelompok.
4) Harga diri ; dihargai dan menghargai (respek dan toleransi).
5) Aktualisasi diri ; ingin diakui, berhasil dan menonjol.

b. Hirarki “Kalish”
Kalish 1983 lebih menjelaskan kebutuhan Maslow dengan membagi
kebutuhan fisiologi menjadi kebutuhan untuk “bertahan dan stimulasi” Kalish
mengidentifikasi kebutuhan untuk mempertahankan hidup : udara, air,
temperatur, eliminasi, istirahat dan menghindari nyeri, jika terdapat
kekurangan kebutuhan tersebut, klien cenderung menggunakan prasarana
untuk memuaskan kebutuhan tertentu, hanya saja mereka akan
mempertimbangkan terlebih dahulu kebutuhan yang paling tinggi
prioritasnya, misalnya keamanan dan harga diri. Dikutip dari Iyer et at, 1996
(Nursalam, 2001 hal 53).

Berdasarkan diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien


dengan iskemik miokard maka rencana keperawatan yang dapat dirumuskan
adalah :
1. Nyeri dada berhubungan dengan berkurangnya aliran darah koroner.
Tujuan : nyeri berkurang sampai hilang
Kriteria hasil :
- Klien menyatakan nyeri dada hilang/terkontrol
- Klien dapat menggunakan tehnik relaksasi
- Klien mengatakan skala nyeri 1-2

19
Intervensi :
a. Kaji karakteristik nyeri, catat perubahan respon verbal dan non verbal
Rasional : Variasi penampilan dan perilaku pasien karena
nyeri terjadi sebagai temuan pengkajian
b. Kaji skala nyeri 0-10, lamanya, kualitas dan penyebaran
Rasional : Nyeri sebagai pengalaman subjektif dan harus
digambarkan oleh klien
c. Bantu klien melakukan tehnik relaksasi, misal ; nafas dalam
Rasional : Membantu dalam penurunan persepsi/respon nyeri
d. Berikan lingkungan tenang, aktivitas perlahan
Rasional : Menurunkan rangsangan eksternal dimana anxietas dan
regangan jantung membuat keputusan situasi saat ini.
e. Kolaborasi dokter tentang pemberian obat anti nyeri, contoh ; aspilet,
cedocard, betablock, dan lain-lain.
(Smeltzer & Bare, 2001 hal 796)

2. Potensial pola pernafasan tidak efektif berhubungan dengan cairan


berlebihan.
Tujuan : pola pernafasan tidak terganggu
Kriteria hasil :
- Keseimbangan cairan dibuktikan dengan tekanan darah DBN
- Pola nafas efektif

Intervensi :
a. Kaji pola pernafasan dan kedalamannya
Rasional : Kecepatan dan upaya mungkin meningkat karena nyeri,
takut, demam
b. Auskultasi bunyi nafas
Rasional : Bunyi nafas sering menurun pada dasar paru selama
periode nyeri

20
c. Lihat kulit dan membran mukosa untuk adanya sianosis
Rasional : Sianosis bibir, kuku, atau daun telinga atau
keabu-abuan umum menunjukkan kondisi hipoksia
sehubungan dengan gagal jantung atau komplikasi
paru.
d. Berikan posisi semi Fowler
Rasional : Merangsang fungsi pernafasan/ekspansi paru
e. Kolaborasi
Berikan tambahan oksigen dengan kanula sesuai indikasi
Rasional : Meningkatkan pengiriman oksigen ke paru untuk
kebutuhan sirkulasi
(Doenges, 2000 hal 124-125)

3. Cemas berhubungan dengan takut akan kematian


Tujuan : cemas berkurang sampai teratasi
Kriteria hasil : - klien mengatakan menerima keadaannya
- klien menyatakan cemas berkurang
Intervensi :
a. Identifikasi dan ketahui persepsi pasien terhadap ancaman atau situasi
Rasional : Koping terhadap nyeri dan trauma emosi karena
iskemik miokard sulit
b. Mempertahankan rasa percaya klien dengan perawat
Rasional : Penjelasan yang jujur dapat menghilangkan kecemasan
c. Berikan informasi konsisten ; ulangi sesuai indikasi
Rasional : Informasi yang tepat tentang situasi menurunkan takut
d. Berikan istirahat/tidur dengan lingkungan tenang
Rasional : Penyimpanan energi dan meningkatkan kemampuan
koping

21
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen miokard dan kebutuhan
Tujuan : dapat melakukan perawatan diri secara mandiri
Kriteria hasil : - dapat berjalan sendiri ke kamar mandi/WC
- tanda-tanda vital dalam batas normal
- saat beraktivitas tidak mengeluh sesak
Intervensi :
a. Kaji frekuensi jantung, irama, dan perubahan tekanan darah sebelum
dan sesudah aktivitas.
Rasional : Kecenderungan menentukan pasien terhadap
aktivitas dan dapat mengidentifikasi penurunan oksigen
miokard
b. Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas pada dasar nyeri
Rasional : Menurunkan kerja miokardium / konsumsi
oksigen,
menurunkan resiko komplikasi
c. Anjurkan klien menghindari peningkatan tekanan abdomen, contoh ;
mengejan saat defekasi
Rasional : Aktivitas yang perlu menahan nafas dan menunduk
dapat mengakibatkan bradikardi, juga menurunkan
curah jantung.
(Smeltzer & Bare, 2001 hal 796)

5. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan otot infark,


kerusakan struktural
Tujuan : penurunan curah jantung tidak terjadi
Kriteria hasil : - klien dapat istirahat dengan cukup
- nadi teraba kuat
- kulit teraba hangat

22
Intervensi :
a. Pantau dan auskultasi tekanan darah
Rasional : Hipotensi dapat terjadi berhubungan
dengan
disfungsi ventrikel.
b. Kaji perubahan sensori
Rasional : Dapat menunjukkan tidak adekuatnya perfusi
cerebral sekunder terhadap penurunan curah jantung
c. Atur posisi semi Fowler
Rasional : Memperbaiki efisiensi kontraksi jantung dan
memudahkan ekspansi paru
d. Menganjurkan klien makan makanan yang lunak, misal ; bubur, roti,
dan batasi asupan kafein ; kopi, coklat, cola
Rasional : Makanan keras dapat meningkatkan kerja miokard dan
menyebabkan bradikardi. Kafein adalah perangsang
langsung pada jantung yang dapat meningkatkan
frekuensi jantung
(Doenges, 2000, hal 91-92)
6. Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan
penurunan aliran darah.
Tujuan : mempertahankan perfusi jaringan adekuat
Kriteria hasil : - kulit hangat, kering, nadi perifer teraba kuat
- sadar penuh dan berorientasi
- keseimbangan masukan dan haluaran
Intervensi :
a. Kaji kekuatan nadi perifer dan observasi pucat, sianosis, kulit dingin,
lembab
Rasional : Vasokonstriksi sistemik diakibatkan oleh penurunan
curah jantung mungkin dibuktikan oleh penurunan

23
perfusi kulit dan penurunan nadi
b. Pantau pernafasan.
Rasional : Pompa jantung gagal dapat mencetuskan distres
Pernafasan.
c. Kaji fungsi gastrointestinal, penurunan / tidak ada bising usus,
konstipasi, mual muntah.
Rasional : Penurunan aliran darah ke mesentri dapat
mengakibatkan disfungsi gastrointestinal ; kehilangan
peristaltik.
(Doenges, 2000 hal 93)
7. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit.
Tujuan : kebutuhan pengetahuan teratasi.
Kriteria hasil :
- klien mampu menyebutkan tentang penyakit yang dideritanya
- klien memutuskan untuk mencoba mengubah pola hidup buruk
Intervensi :
a. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga.
Rasional : Belajar lebih mudah bila dimulai dari pengetahuan
peserta belajar.
b. Berikan penjelasan kepada klien tentang proses penyakit.
Rasional : Informasi menurunkan cemas dan rangsangan simpatis.
c. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang pengobatan serta
pencegahan supaya menurunkan kekambuhan, serta berikan waktu
untuk klien dan keluarga bertanya.
Rasional : Pertanyaan dan diskusi dapat menandakan
masalah
yang dapat diklarifikasi.
d. Dengarkan dengan cermat apa yang dikatakan klien dan keluarga
tentang penyakit yang diderita.

24
Rasional : Mendengar memungkinkan deteksi dan koreksi
terhadap kesalahpahaman dan kesalahan informasi.

4. Pelaksanaan
Iyer (1996) mengatakan bahwa pelaksanaan tindakan keperawatan adalah
inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik.
Pelaksanaan atau implementasi merupakan aplikasi dari perencanaan
keperawatan oleh perawat dan klien. Hal-hal yang harus kita perhatikan ketika
akan melakukan implementasi adalah intervensi yang dilakukan sesuai dengan
rencana. Setelah dilakukan validasi, pengasahan ketrampilan interpersonal,
intelektual, dan psikologi individu. Terakhir melakukan pendokumentasian
keperawatan berupa pencatatan dan pelaporan (Nursalam, 2001).
Dalam pelaksanaan tindakan ada tiga fase yang harus dilalui yaitu : persiapan,
perencanaan dan dokumentasi (Griffith, 1986), berikut penjelasannya :
a. Fase persiapan meliputi :
1) Review antisipasi tindakan keperawatan.
2) Menganalisa pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan.
3) Mengetahui komplikasi yang mungkin timbul.
4) Persiapan alat.
5) Persiapan lingkungan yang kondusif.
6) Mengidentifikasi aspek hukum dan etik.
b. Fase intervensi terdiri atas :
1) Independen : tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk atau
perintah dokter atau tim kesehatan lain.
2) Interdependen : tindakan perawat yang memerlukan kerja sama dengan
tim kesehatan lain (gizi, dokter, laboratorium, dan lain-lain).
3) Dependen : berhubungan dengan tindakan medis atau menandakan dimana
tindakan medis dilaksanakan.
c. Fase dokumentasi merupakan suatu catatan lengkap dan akurat dari tindakan
yang telah dilaksanakan. Dalam pelaksanaan tindakan asuhan keperawatan,

25
pemberi support, pendidik, advokasi, konselor dan pencatatan atau
penghimpun data.

5. Evaluasi
Evaluasi adalah suatu yang direncanakan dan dibandingkan yang sistematis
pada status kesehatan klien (Griffith dan Christensen, 1996). Sedangkan
Ignatavicius dan Bayne (1994) mengatakan evaluasi adalah tindakan intelektual
untuk melengkapi proses perawatan yag menandakan seberapa jauh diagnosa
keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai.
Evaluasi terdiri atas dua jenis yaitu : evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
Evaluasi formatif disebut juga evaluasi proses, evaluasi jangka pendek atau
evaluasi berjalan, dimana evaluasi dilakukan sampai tujuan tercapai, sedangkan
evaluasi sumatif bisa disebut juga evaluasi hasil, evaluasi akhir, evaluasi jangka
panjang. Evaluasi ini dilakukan pada akhir tindakan keperawatan paripurna dan
menjadi suatu metode memonitor kualitas dan efisiensi tindakan yang diberikan.
Bentuk evaluasi ini lazimnya menggunakan format SOAP (Nursalam, 2001).
Tujuan evaluasi adalah untuk mendapatkan umpan balik rencana keperawatan,
nilai serta meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui hasil perbandingan
standar yang telah ditentukan sebelumnya.
Dalam hal ini penilaian yang diharapkan pada klien dengan iskemik miokard
adalah :
a. Nyeri berkurang sampai hilang.
b. Pola pernafasan tidak terganggu.
c. Cemas berkurang sampai hilang.
d. Dapat melakukan aktivitas harian.
e. Penurunan curah jantung tidak terjadi.
f. Mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat.
g. Kebutuhan pengetahuan teratasi.

26
6. Perencanaan pulang
Penyuluhan yang diberikan pada klien untuk perawatan sendiri di rumah :
a. Pengertian dan proses penyakit agar klien tahu tentang penyakit yang
dideritanya dan cepat mendapatkan pertolongan bila timbul hal yang tiba-tiba
dan memperburuk keadaan.
b. Menganjurkan untuk istirahat yang cukup dan menghindari kemarahan
ataupun emosional dan mengurangi aktivitas yang melelahkan, misalnya :
mengangkat sesuatu yang berat.
c. Dianjurkan membatasi konsumsi makanan yang banyak mengandung
natrium/garam, dan makanan yang mengandung kolesterol karena akan
mempengaruhi kerja jantung.
d. Penyuluhan obat ; minum obat sesuai dosis dan aturannya.
e. Batasi masukan cairan, untuk mengurangi asites / edema.

27

Anda mungkin juga menyukai