Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Medis


1. Anatomi-Fisiologi
Jantung merupakan sebuah organ yang terdiri dari otot. Otot jantung
merupakan jaringan istimewa karena kalau dilihat dari bentuk dan susunannya
sama dengan otot serat lintang, tetapi cara bekerjanya menyerupai otot polos
yaitu di luar kemauan kita (dipengaruhi oleh susunan saraf otonom).
a. Bentuk
Menyerupai jantung pisang, bagian atasnya tumpul (pangkal jantung)
dan disebut juga basis kordis. Di sebelah bawah agak runcing yang disebut
apeks kordis.
b. Letak
Di dalam rongga dada sebelah depan (kavum mediastinum anterior),
seblah kiri bawah dari pertengahan rongga dada, di atas diafragma dan
pangkalnya terdapat di belakang kiri antara kosta V dan VI dua jari di bawah
papila mamae. Pada tempat ini teraba adanya pukulan jantung yang disebut
iktus kordis.

c. Ukuran
Lebih kurang sebesar genggaman tangan dan beratnya kira-kira 250-
300 gram.

d. Lapisan-lapisannya
1) Endokardium
Merupakan lapisan jantung yang terdapat di sebelah dalam sekali
yang terdiri dari jaringan endotel atau selaput lendir yang melapisi
permukaan rongga jantung.

1
2

2) Miokardium
Merupakan apisan inti dari jantung yang terdiri dari otot jantung,
otot jantung ini membentuk bundalan-bundalan otot yaitu :
a) Bundalan otot atria, yang terdapat di bagian kiri/kanan dan basis
kordis yang membentuk serambi atau aurikula kordis.
b) Bundalan otot ventrikuler, yang membentuk bilik janung yang
dimulai dari cincin atrioventrikuler sampai di apeks jantung.
c) Bundalan otot atrioventrikuler, yang merupakan dinding pemisah
antara serambi dan bilik jantung.

3) Perikardium
Lapisan jantung sebelah luar yang merupakan selaput
pembungkus, terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan parietal dan viseral
yang bertemu di pangkal jantung yang membentuk kantung jantung.
Diantara kedua lapisan jantung ini terdapat terdapat lendir sebagi
pelicin untuk menjaga agar pergesekan antara perikardum pleura tidak
menimbulkan gangguan terhadap jantung.
Jantung bekerja selama kita masih hidup, karena itu
membutuhkan makanan yang dibawa oleh darah, pembuluh darah yang
terpenting dan memberikan darah untuk jantung dari aorta asendens
dinamakan arteri koronaria.
Jantung dipesarafi oleh nervus simpatikus/nervus akselerantis,
untuk menggiatkan kerja jantung dan Nervus parasimpatikus, khususnya
cabang dari nervus vagus yang bekerja memperlambat kerja jantung.

e. Pergerakan Jantung
Jantung dapat bergerak yaitu mengembang dan menguncup yang
disebabkan oleh karena adanya rangsangan yang berasal dari susunan saraf
otonom.
3

Rangsangan ini diterima oleh jantung pada simpul saraf yang terletak
pada atrium dekstra dekat masuknya vena cava yang disebut Nodus Sino
Atrial.
Dari sisi rangsangan akan diteruskan ke dinding atrium dan juga ke
bagian septum kordis oleh nodus atrio ventrikular atau simpul tawara melalui
berkas wenkebach.
Dari simpul tawara rangsangan akan melalui bundel atrio ventrikuler
(berkas his) dan pada bagian cincin yang terdapat antara atrium dan ventrikel
yang disebut anulus fibrosus, rangsangan akan terhenti kira-kira 1/10 detik.
Seterusnya rangsangan tersebut akan diteruskan ke dalam apeks
kordis dan melalui berkas purkinye disebarkan ke seluuh dinding ventrikel
dengan demikian jantung berkontraksi.
Dalam kerjanya jantung mempunyai tiga periode yaitu:
1) Periode kontraksi (periode sistole)
Suatu keadaan di mana jantung bagian ventrikel dalam keadaan
menguncup. Katup bikus dan trikuspidalis dalam keadaan tertutup valvula
semilunaris aorta dan valvula semilunaris arteri pulmonaris terbuka,
sehingga darah dari ventrikel dextra mengalir ke arteri pulmonalis masuk
ke paru-paru kiri dan kanan, sedangkan darah dari ventrikel sinistra
mengalir ke aorta kemudian diedarkan ke seluruh tubuh.
2) Periode dilatasi (periode diastole)
Suatu keadaan di mana jantung mengembang. Katup bikus dan
trikuspidalis terbuka, sehingga darah dari atrium sinistra masuk ventrikel
sinistra dan darah dari atrium dekstra masuk ke ventrikel dekstra.
Selanjutnya darah yang ada di paru-paru kiri dan kanan melalui vena
pulmoalis masuk ke atrium sinistra dan darah dari seluruh tubuh melalui
vena kava masuk ke atrium dekstra.
3) Periode istirahat
Yaitu waktu antara periode kontraksi dan dilatasi di mana jantung
berhenti kira-kira 1/10 detik. Pada waktu kita beristirahat jantung akan
menguncup sebanyak 70-80 kali/menit. Pada tiap-tiap kontriksi jantung
4

akan memindahkan darah ke aorta sebanyak 60-70 cc. Kalau kita bekerja
maka jantung maka akan lebih cepat berkontraksi sehingga darah lebih
banyak dialirkan ke seluruh tubuh.
Kerja jantung dapat diketahui dengan jalan memeriksa perjalanan
darah dalam arteri, oleh karena dinding arteri dan mengembang jika ke
dalamnya mengalir gelombang darah. Gelombang darah ini menimbulkan
denyutan pada arteri. Sesuai dengan kuncupnya jantung yang disebut
denyut nadi atau pulse. Baik buruknya dan teratur tidaknya denyut nadi
tergantung dari kembang kempisnya jantung.

2. Definisi
a. VSD adalah kelainan jantung berupa tidak sempurnanya penutupan dinding
pemisah antara kedua ventrikel sehingga darah dari ventrikel kiri ke kanan,
dan sebaliknya, umumnya kongenital dan merupakan kelainan jantung
bawaan yang paling sering ditemukan. (Kapita Selekta Kedokteran, 1982)
b. VSD adalah penyakit jantung kongenital atau penyakit jantung bawaan yang
merupakan sekumpulan malformasi struktur atau pembuluh darah besar yang
telah ada sejak lahir.(Price, A.S, 1995)

3. Etiologi
Pada sebagian besar kasus penyakit jantung kongenital penyebabnya
tidak diketahui. Lebih dari 90% kasus penyakit jantung kongenital adalah
multifaktorial. Faktor yang berpengaruh adalah :
a. Eksogen : berbagai jenis obat, penyakit ibu, pajanan
terhadap sinar X.
b. Endogen : penyakit genetik dan sindrom tertentu.
Sedangkan penyebab penyakit jantung didapat akan dipaparkan pada
masing-masing topik.
5

4. Patofisiologi
Ukuran fisik defeck adalah besar, tetapi bukan satu-satunya yang
menentukan besar shunt dari kiri ke kanan. Besar shunt juga ditentukan oleh
tingkat tahanan vaskuler pulmonal dibanding dengan tahanan vaskuler sistemik.
Bila ada komunikasi kecil (biasanya <0,5 cm2), defek disebut restriktif
(membatasi) dan tekanan ventrikel kanan normal. Tekanan yang lebih tinggi di
ventrikel kiri mendorong shunt dari kiri ke kanan; namun ukuran defek
membatasi besarnya shunt. Pada defek besar nonrestriktif (biasanya >1,0 cm2),
tekanan ventrikel kanan dan kiri seimbang. Pada defek ini, arah dan besar shnt
ditentukan oleh rasio tahanan vaskuler pulmonal terhadap sistemik.
Sesudah lahir, bila ada VSD besar, tahanan vaskuler pulmonal dapat lebih
tinggi dari pada normal dan dengan normal dan dengan demikian besar shunt dari
kiri ke kanan mungin terbatas. Karena tahanan vaskuler pulmonal menurun pada
beberapa minggu pertama sesudah lahir akibat penurunan normal media arteria
dan arteriol pulmonalis kecil, besar shunt dari kiri ke kanan bertambah. Akhirnya
menjadi shunt besar dari kiri ke kanan, dan gejala-gejala klinis menjadi tampak.
Pada kebanyakan kasus selama masa bayi awal tahanan vaskuler awal hanya
sedikit naik, dan sumbangan utama terhadap hipertensi pulmonal adalah aliran
darah pulmonal yang sangat besar. Pada beberapa penderita dengan VSD besar,
ketebalan medial arteriola pulmonal tetap bertambah. Dengan pemajanan terus
menerus bantalan vaskuler pulmonal pada tekanan sistolik yang tinggi dan aliran
yang tinggi, penyakit obstruktif vaskuler pulmonal mulai terjadi. Bila rasio
tahanan pulmonal terhadap sistemik mendekati 1:1, shunt menjadi dua arah,
tanda-tanda gagal jantung mereda, dan penderita menjadi sianosis. Penambahan
progresif tekanan pulmonal ini jarang ditemukan masa sekarang karena
hipertensi pulmonal yang berlangsung lama dicegah dengan intervensi bedah
awal pada penderita dengan VSD besar.
Besar shunt intrakardial biasanya biasanya digambarkan dengan rasio
aliran darah pulmonal terhadap sistemik. Jika shunt dari kiri ke kanan kecil (rasio
aliran pulmonal terhadap sistemik <1,75:1), ruangan-ruangan jantung tidak akan
6

menjadi cukup besar dan bantalan vaskuler pulmonal agaknya akan normal. Jika
shunt besar (rasio aliran >2,5:1), terjadi kelebihan beban volume atrium dan
ventrikel kiri, juga hipertensi ventrikel kanan dan arteria pulmonalis. Batang
arteria pulmonalis, atrium kiri dan ventrikel kiri membesar karena volume aliran
darah pulmonal besar.
(Nelson, 1999)
7

Patoflodiagram

Kelainan kongenital/multi faktor

Defeck pada septum interventrikuler Kurang pengetahuan

Shunt dari kiri ke kanan Shunt dari kanan ke kiri

Volume ventrikel kanan


meningkat Darah kaya CO2 dan O2
tercampur

Hipertensi ventrikel kanan dan


arteri pulmonal
Intoleransi Kebutuhan O2 jaringan
aktifitas tidak terpenuhi Resti dispnea

Volume aliran darah


pulmonal meningkat

Beban atrium dan Hipoksia jaringan :


ventrikel kiri meningkat sianosis, dispnea

Otot jantung bekerja


keras

Otot jantung mengalami


kelelahan

Payah jantung

CO menurun Resti penurunan curah


jantung
8

5. Manifestasi klinis
a. VSD kecil
Biasanya asimtomatik. Jantung normal atau sedikit membesar dan
tidak ada gangguan tumbuh kembang. Bunyi jantung biasanya normal.
b. VSD sedang
Gejala timbul pada bayi berupa sesak nafas saat minum atau
memerlukan waktu lebih lama/tidak mampu menyelesaikan makan dan
minum, kenaikan berat badan tidak memuaskan, dan sering menderita infeksi
paru yang lama sembuhnya. Infeksi paru ini dapat mendahului terjadinya
gagal jantung yang mungkin terjadi pada umur 3 bulan. Bayi tampak kurus
dengan dispnea, takipnu, serta retraksi.
c. VSD besar
Gejala dapat timbul pada masa neonatus. Bayi sesak nafas saat
banyak beraktifitas, kadang tampak sianosis karena kekurngan oksigen akibat
gangguan pernafasan. Gangguan pertumbuhan sangat nyata.

6. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan foto dada pasien dengan VSD kecil biasanya
memperlihatkan bentuk dan ukuran jantung yang normal dengan vaskularisasi
jantung yang normal atau hanya sedikit meningkat. Pada defek sedang terdapat
kardiomegali sedang dengan konus pulmonalis yang menonjol, peningkatan
vaskularisasi paru, serta pembesaran pembuluh darah di sekitar hilus. Pada defek
besar tampak kelainan yang lebih berat, dan defek besar dengan hipertensi
pulmonal atau sindrom Eisenmenger gambaran vaskularisasi paru meningkat di
daerah hilus namun berkurang di perifer.
Penilaian EKG pada bayi dan anak pada penyakit apapun harus dilakukan
dengan hati-hati karena nilai normal sangat bergantung pada umur pasien. Pada
bayi dan anak dengan defek kecil gambaran EKG sama sekali normal atau sedikit
tampak peningkatan aktifitas ventrikel kiri. Gambaran EKG pada neonatus
9

dengan defek sedang dan besar juga normal, namun pada bayii yang lebih besar
serta anak pada umurnya menunjukkan kelainan.
Pemeriksaan ekokardiografi, yang pada saat ini hanya dapat dilakukan di
tempat-tempat tertentu dengan tenaga ahli yang masih sangat terbatas, perlu
untuk menentukan letak serta letak ukuran defek septum ventrikel di samping
untuk menentuka kelainan penyerta.
Kateterisasi jantung dilakukan pada kasus VSD sedang atau besar untuk
menilai besarnya pirau yaitu perbandingan antara sirkulasi pulmonal dan sirkulasi
sistemik. Operasi harus dilakukan bila rasio tersebut sama dengan atau lebih
besar dari dua.

7. Penatalaksanaan
Pasien dengan defek kecil tidak memerlukan pengobatan apapun, kecuali
pemberian profilaksis terhadap terjadinya endokarditis infektif terutama bila akan
dilakukan tindakan operatif di daerah rongga mulut atau tindakan traktus
gastrointestinal/urogenital. Tidak diperlukan pembatasan aktifitas pada pasien
dengan defek kecil, namun perlu dipertimbangkan pada defek yang sedang dan
besar sesuai dengan derajat keluhanyang timbul. Gagal jantung dengan pasien
pada defek septum ventrikel sedang atau besar biasanya diatasi dengan digoksin.
Tidak semua pasien dengan VSD harus dioperasi. Tindakan operasi
terindikasi pada kasus-kasus dengan gejala klinik yang menonjol terutama pada
VSD besar atau sedang yang tidak mempunyai respons yang baik terhadap
pengobatan. Oleh karena itu diperlukan pemantauan klinis yang seksama dan
cermat terhadap pasien VSD sebelum mengirim pasien tersebut ke ahli bedah
jantung. Selain iu yang sangat penting adalah menjelaskan penjelasan yang benar
dan hati-hati kepada orang tua pasien mengenai perjalanan penyakit dan
komplikasi yang mungkin terjadi.

8. Komplikasi
a. Eisenmenger (“pulmonari vaskular disease”)
b. Stenosis infundibular
10

c. Aortic imcompetence
d. Endokarditis bakterial
B. Konsep Dasar Keperawatan
Pada tahap ini, penulis menguraikan secara teoritis tentang asuhan
keperawatan pada klien dengan kelainan jantung kongenital menggunakan metode
proses keperawatan yang terdiri dari lima langkah, yakni : pengkajian, diagnosa
keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi.
Konsep dasar keperawatan adalah suatu metode yang sistematis respon
manusia terhadap masalah-masalah kesehatan berhubungan dengan pasien, keluarga,
orang terdekat, atau masyarakat. Proses keperawatan mendokumentasikan distribusi
perawat dalam mengurangi atau mengatasi masalah-masalah pasien (Allen, VC,
1998).
1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan
upaya untuk mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis mulai dari
pengumpulan data, identifikasi, dan evaluasi status kesehatan klien (Nursalam,
2001)
Rencana asuhan keperawatan pedoman dan perencanaan dan
pendokumentasian tujuan perawatan pasien (Doenges, 1999), dasar data
pengkajian pasien adalah :
a. Aktifitas/istirahat
1) Gejala : kelemahan/kelelahan,
dispnea karena kerja
2) Tanda : takikardi, gangguan pada
tekanan darah, takipnea,
apnea
b. Sirkulasi
1) Gejala : kondisi kongenital
ventrikuler septal, riwayat murmur
jantung, batuk dengan/tanpa produksi sputum.
11

2) Tanda : warna/sianosis ; kulit


hangat, lembab dan kemerahan
c. Integritas Ego
Gejala : tanda kecemasan, contoh gelisah, pucat, berkeringat,
fokus menyempit, gemetar.
d. Makanan/Cairan
1) Gejala : perubahan berat badan
2) Tanda : pernapasan payah dan
bising dengan terdengar krekels
dan mengi.
e. Neurosensori
Gejala : episode pusing/pingsan berkenaan dengan aktifitas
f. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri dada, angina, nyeri dada non-angina/tidak khas
g. Pernafasan
1) Gejala : dispnea saat aktifitas,
batuk menetap atau nokturnal
sputum mungkin tidak efektif.
2) Tanda : takipnea, bunyi napas
adventisius (krekels dan mengi)
h. Keamanan
Gejala : proses infeksi/sepsis
i. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : penggunaan obat IV (terlarang) baru/kronis.
Pertimbangan rencana pemulangan: bantuan dengan kebutuhan perawatan
diri, perubahan dalam terapi obat.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon individu,
keluarga atau komunitas terhadap komunitas kesehatan/proses kehidupan yang
aktual/potensial (Allen, VC., 1998)
12

Diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan aktual dan potensial


dimana berdasarkan pendidikan dan pengalaman dia mampu dan mempunyai
kewenangan memberikan tindakan keperawatan. (Nursalam, 2001)

Untuk menyusun prioritas masalah penulis mengacu pada hirarki


Abraham Maslow, yaitu :

Aktualisasi diri

Harga diri

Mencintai dan dicintai

Rasa aman dan nyaman

Kebutuhan fisiologis O2, CO2, elektrolit, makanan.

Keterangan :
1. Kebutuhan Fisiologi
Contoh : O2, CO2, elektrolit, makanan, seks
2. Rasa aman dan nyaman
Contoh : Merasa aman tinggal di rumah sakit dan merasa dilindungi oleh
perawat serta merasa nyaman dengan pelayanan perawat.
13

3. Mencintai dan dicintai


Contoh : Kasih sayang, mencintai dan dicintai
4. Harga diri
Contoh : Merasa dihargai dan diterima dalam lingkungan masyarakat
5. Aktualisasi diri
Contoh : Ingin diakui, berhasil, dan menonjol.
(Smeltzer dan Bare, 2000)

Menurut Doenges (1999), diagnosa keperawatan yang muncul pada klien


dengan kelainan jantung kongenital adalah sebagai berikut :
a. Menurunnya curah jantung b.d perubahan struktural kelainan katup
kongenital ventrikel septal defeck. (Nelson, 1999)
b. Resiko tinggi dispnea b.d penurunan kapasitas oksigen dalam darah
(Doenges, 1999)
c. Intoleran aktifitas b.d ketidakseimbangan antara O2 suplai dengan O2
consumtion. (Doenges, 1999)
d. Kurang pengetahuan tentang penyakit b.d kurang informasi. (Doenges, 1999)

3. Intervensi Keperawatan
Perencanaan keperawatan menurut Doenges (1999) adalah :
a. Menurunnya curah jantung b.d perubahan struktural kelainan katup
Tujuan : menujukkan tanda-tanda vital dalam batas yang dapat
diterima
Kriteria hasil :
1) Melaporkan penurunan episode dispnea.
2) Mendemonstrasikan pola peningkatan toleransi aktifitas.
Intervensi :
1) Kaji frekuensi dan irama jantung
14

Rasional : biasanya terjadi takikardi. (Doenges, 1999)


2) Kaji kulit terhadap pucat dan sianosis
Rasional : pucat menunjukkan penurunan perfusi perifer sekunder
terhadap curah jantung yang tidak adekuat. (Doenges,
1999)
3) Palpasi nadi perifer
Rasional : penurunan curah jantung dapat menunjukkan
menurunnya nadi radial, popliteal, dorsalis pedis, dan
postibial. (Doenges, 1999)
4) Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal/masker sesuai indikasi
Rasional : meningkatkan sediaan oksigen untuk kebutuhan
miocard untuk melawan efek hipoksia/iskemia.
(Doenges, 1999)
b. Resiko tinggi terhadap dispnea b.d penurunan kapasitas oksigen dalam darah
Tujuan : mempertahankan pola napas efektif mengurangi resiko
sianosis dan gejala lain dari hipoksia
Kriteria hasil :
1) Melaporkan adanya penurunan dispnea
2) Saturasi oksigen terkontrol dalam batas yang bisa diterima
Intervensi :
1) Evaluasi frekuensi pernapasan dan kedalaman. Catat upaya pernapasan,
contohnya adanya dispnea.
Rasioal : respons klien berfariasi. Kecepatan dan upaya mungkin
meningkat karena penurunan kapasitas oksigen dalam
darah. (Doenges, 1999)
2) Auskultasi bunyi napas. Catat area yang menurun/tak ada bunyi napas
dan adanya bunyi tambahan.
Rasional : bunyi napas bisa berpengaruh selama sirkulasi
terganggu oleh kadar oksigen yang menurun. (Doenges,
1999)
3) Lihat kulit dan membran mukosa untuk adanya sianosis.
15

Rasional : sianosis bibir, kuku, daun telinga, atau keabu-abuan


umum menunjukkan kondisi hipoksia sehubungan
dengan pengaruh fungsi ventrikel jantung atau
komplikasi paru. (Doenges, 1999)
4) Selidiki/lapor distress pernapasan, penurunan/tak ada bunyi napas, atau
takikardi
Rasional : observasi dan menyelidiki distress pernapasan serta
penurunan bunyi napas/takikardi adalah upaya untuk
mempertahankan fungsi pernapasan. (Doenges, 1999)
5) Berkan tambahan oksigen dengan kanula atau masker sesua indikasi.
Rasional : meningkatkan pengiriman oksigen ke paru untuk
kebutuhan sirkulasi, khususnya pada adanya
penurunan/gangguan ventilasi. (Doenges, 1999)
c. Intoleran aktifitas b.d ketidakseimbangan antara O2 suplai dengan O2
consumtion.
Tujuan : menunjukkan peningkatan yang dapat diukur dalam
toleransi aktifitas.
Kriteria hasil :
1) Mengidentifkasi faktor yang mempengaruhi toleransi aktifitas
2) Penurunan toleransi aktifitas dapat diidentifikasikan dengan efek negatif
Intervensi :
1) Kaji toleransi pasien terhadap aktifitas, dispnea, dan kelemahan
Rasional : parameter menunjukkan respon fisiologis pasien
terhadap stress aktivitas dan indikator derajat pengaruh
kelebihan kerja jantung
2) Kaji kemampuan melakukan aktifitas
Rasional : Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk
memajukan tingkat aktivitas individual. (Doenges,
1999)
3) Berikan bantuan sesuai kebutuhan
Rasioal : Teknik penghematan energi menurunkan penggunaan
16

energi dan membantu keseimbangan dan suplai oksigen.


(Doenges, 1999)
4) Dorong pasien untuk memilih periode aktifitas.
Rasional : meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas.
(Doenges, 1999)
d. Kurang pengetahuan tentang penyakit b.d kurang informasi
Tujuan : klien beserta keluarga menyatakan pemahaman
mengenai proses penyakit, program pengobatan, dan
potensial komplikasi.

Kriteria hasil :
1) Mengidentifikasi perilaku/perubahan pola hidup untuk mencegah
komplikasi.
2) Mengenali kebutuhan untuk kerja sama dan mengikuti perawatan.
Intervensi :
1) Kaji tingkat pengetahuan klien/orang terdekat dan kemampuan/keingian
untuk belajar.
Rasional : menguatkan harapan bahwa ini akan menjadi
‘pengalaman belajar’. Mengidentifikasi secara verbal
kesalahpahaman dan memberikan penjelasan. (Doenges,
1999)
2) Jelaskan rasional pengobatan, dosis, efek samping, dan pentingnya
minum obat sesuai resep.
Rasional : dapat meningkatkan kerja sama dengan terapi obat dan
mencegah penghentian sendiri pada obat atau interaksi
obat yang merugikan. (Doenges, 1999)
3) Tekankan pentingnya menginformasikan pada pemberi perawatan adanya
pingsan karena aktivitas.
Rasional : ini toleransi indikasi terhadap aktivitas yang
berhubungan memburuknya disfungsi katup. (Doenges,
17

1999)
4) Diskusikan fungsi jantung normal. Meliputi informasi sehubungan
dengan perbedaan klien dari fungsi normal.
Rasional : pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat
memudahkan ketaatan pada program pengobatan.
(Doenges, 1999)
5) Diskusikan pentingnya menjadi seaktif mungkin tanpa menjadi kelelahan,
dan istirahat di antara aktifitas.
Rasional : aktifitas fisik berlebihan dapat berlanjut menjadi
kelemahan jantung. (Doenges, 1999)

4. Perencanaan Pulang
a. Klien dan keluarga mentaati program pengobatan di rumah dengan meminum
obat-obat yang telah diberikan, hal ini untuk menghindari adanya komplikasi,
misalnya klien telah diberikan antibiotik, namun klien tidak meminum obat
tersebut hingga tuntas, obat antibiotik harus diminum sampai tuntas agar
bakteri tidak resisten. Anak dengan kelainan jantung bawaan sangat rentan
terhadap penyakit, maka diberikan terapi antibiotik.
b. Klien jangan sampai menangis kuat atau melakukan aktivitas yang banyak
menguras tenaga. Menangis kuat dan aktifitas yang melelahkan banyak
membuang energi dan dapat membuat klien sesak nafas dan tubuh menjadi
biru.
c. Apabila timbul tanda dan gejala, klien harus segera dibawa ke petugas
kesehatan atau puskesmas setempat untuk mendapat pertolongan secepatnya
dari petugas.
d. Apabila defeck (lubang pada septal ventrikel) cukup besar, sebaiknya
dilakukan tindakan operasi di rumah sakit yang bisa melakukan bedah
jantung untuk penutupan defeck secara sempurna.
18