Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi
a. Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat
kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun
pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot.
(Dorland, 1998).
b. Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori
protein.
c. Marasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan
makanan tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan
pada pola penyakit klinis yang menekankan satu ayau lebih tanda
defisiensi protein dan kalori. (Nelson, 1999).

2. Etiologi
Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat
terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat
seperti yang hubungan dengan orangtua-anak terganggu, karena kelainan
metabolik, atau malformasi kongenital. (Nelson,1999).
Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering
dijumpai pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan
penggantinya atau sering diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat
berbagai penyakit lain seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan
atau jantung, malabsorpsi, gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan
juga gangguan pada saraf pusat.
3. Anatomi Fisiologi
Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima
makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan
jalan proses Pencernaan (pengunyahan, penelanan dan percampuran) dengan
enzim dan zat cair yang terbentang mulai dari mulut (oris) sampai anus.
(Syaifuddin, 1996).
Saluran pencernaan terdiri dari: mulut, faring, osofagus, lambung, usus
halus, usus besar, rectum, anus.
a. Anatomi mulut (oris)
Mulut adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas dua bagian
yaitu:
a. Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu ruang diantara gusi, gigi,
bibir dan pipi.
b. Bagian rongga mulut/bagian dalam, yaitu rongga mulut yang dibatasi
sisinya oleh tulang maksilaris, palatum dan mandibularis disebelah
belakang bersambung dengan faring.
a) Kelenjar parotis
b) Kelenjar submaksilaris
c) Kelenjar sublingualis (Syaifuddin, 1996).
b. Faring
Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan
kerongkongan (osofagus), di dalam lengkungan faring terdapat tonsil
(amandel) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung
limfosis dan merupakan pertahanan terhadap infeksi. Disini terletak
bersimpangan antara jalan napas dan jalan makanan (Syaifuddin, 1996).
c. Osofagus.
Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung,
panjangnya kurang lebih 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk
kardiak dibawah lambung (Syaifuddin, 1996).
d. Lambung
Bagian lambung terdiri dari:
1) Fundus Ventrikuli
2) Korpus ventrikuli
3) Antrum Pilorus
4) Kurvatura Minor
5) Kurvatura Mayor
6) Osteum Kardiakum.
Susunan lapisan dari dalam keluar terdiri dari: lapisan selaput lendir,
lapisan otot melingkar, lapisan otot miring, lapisan otot panjang, dan
lapisan jaringan ikat/serosa.
Fungsi lambung terdiri dari:
1) Makanan, menghancurkan dan menghaluskan makanan oleh peristaltik
lambung dan getah lambung.
2) Getah cerna lambung yang dihasilkan:
a) Pepsin fungsinya, memecah putih telur menjadi asam amino
(albumin dan pepton).
b) Asam garam (HCL) fungsinya: mengasamkan makanan, sebagai
antiseptik dan desinfektan, dan membuat Suasana asam pada
pepsinogen sehingga menjadi pepsin.
c) Renin fungsinya, sebagai ragi membekukan susu dan membentuk
kasein dari kasinogen (kasinogen dan protein susu).
d) Lapisan lambung, jumlahnya sedikit memecah lemak menjadi
asam lemak yang merangsang sekresi getah lambung (Syaifuddin,
1996).
e. Usus Halus
Usus halus adalah tabung yang kira-kira sekitar dua setengah meter
panjang dalam keadaan hidup dan merupakan saluran pencernaan diantara
lambung dan usus besar. Usus halus panjang, tube yang berliku-liku yang
memenuhi sebagian rongga abdomen.
Usus halus terdiri dari duodenum, yeyenum dan ileum.
1) Duodenum
Adalah tube yang berbentuk huruf C dengan panjang kira-kira
25 cm, pada bagian belakang abdomen, melengkung melingkari
pancreas. Duodenum di gambarkan kedalam 4 bagian:
Bagian I : menjalar kearah kanan
Bagian II : menjalar kearah bawah
Bagian III : menjalar kearah tranversal kiri dan disebelah depan
vena kava inferior dan aorta.
Bagian IV : menjalar kearah atas untuk selanjutnya bergabung
dengan yeyenum.
Bagian kanan duodenum terdapat selaput lendir yang
membukit disebut papilla vateri, pada papilla vateri ini bermuara
saluran empedu (duktus koledokus) dan saluran pancreas (duktus
wirsungi/duktus pankreatikus). Empedu di buat di hati untuk
dikeluarkan keduodenum melalui duktus koledokus yang fungsinya
mengemulsikan lemak, dengan bantuan lipase. Dinding duodenum
mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar-
kelenjar brunner, berfungsi untuk memproduksi getah intestinum
(Syaifuddin, 1996).
2) Yeyenum dan Ileum
Yeyenum merupakan bagian pertama dan ileum merupakan
bagian kedua dari saluran usus halus. Semua bagian usus tersebut
mempunyai panjang yang bervariasi dari 300 cm sampai 900 cm.
Lekukan yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen
posterior dengan perantaraan lipatan peritoneum yang berbentuk kipas
dikenal sebagai mesenterium. Akar mesenterium memungkinkan
keluar dan masuknya cabang-cabang arteri dan vena mesentrika
suporior, pembuluh limfe dan saraf keruang antara 2 lapisan
peritoneum yang membentuk mesenterium. Sambungan antara
yeyenum dan ileum tidak mempunyai batas yang tegas.
Ujung bawah ileum berhubungan dengan seikum dengan
perantaraan lubang yang bernama orifisium Ileoseckalis. Orifisium ini
diperkuat oleh spinter ileuseikalis dan pada bagian ini terdapat katup
valvula seikalis atau valvula Baukini yang berfungsi untuk mencegah
cairan dalam kolon asendens tidak masuk kembali keadaan ileum
(Syaifuddin, 1996).
Fungsi usus halus adalah:
1) Mensekresi cairan usus.
2) Menerima cairan empedu dan pancreas.
3) Mencerna makanan.
4) Mengabsorbsi air, garam dan vitamin.
5) Menggerakkan kandungan kandungan usus sepanjang usus oleh
kontraksi segmental pendek dan gelombang cepat yang menggerakkan
kandungan usus sepanjang usus menjadi lebih cepat.
f. Usus Besar.
Usus besar mempunyai panjang kurang lebih 1,5 meter dengan lebar 5-6
cm. Lapisan-lapisan usus besar dari dalam keluar adalah:
1) Selaput lendir
2) Lapisan otot melingkar.
3) Lapisan otot penampang.
4) Jaringan ikat.
Fungsi usus besar, terdiri dari menyerap air dari makanan, tempat tinggal
bakteri koli dan tempat feses (Syaifuddin, 1996).
Adapun bagian-bagian dari usus besar adalah sebagai berikut:
a. Seikum
Di bawah seikum terdapat apendiks vermiformis yang berbentuk
seperti cincin sehingga disebut umbai cacing, dengan panjang 6 cm.
Seluruhnya ditutupi oleh peritoneum, mudah bergerak walaupun tidak
mempunyai mensentrium dan dapat diraba melalui dinding abdomen.
(Syaifuddin, 1996).
b. Colon Asenden
Panjangnya 13 cm, terletak dibawah abdomen sebelah kalon
membujur keatas dari ileum kebawah hati. Dibawah hati membengkok
kekiri, lengkungan ini disebut fleksura hepatica dan dilanjutkan
sebagian kolon transversum (Syaifuddin, 1996).
c. Apendiks
Bagian usus besar yang muncul seperti corong dari akhir seikum,
mempunyai pintu keluar yang sempit tapi masih memungkinkan dapat
dilewati oleh beberapa isi usus (Syaifuddin, 1996).
d. Colon Transversum
Panjangnya kurang lebih 38 cm, membujur dari kolon asendes sampai
kekolon desendens berada dibawah abdomen, sebelah kanan terdapat
fleksura hepatica dan sebelah kiri terdapat fleksula lienalis
(Syaifuddin, 1996).
e. Colon Desendens
Panjangnya kurang lebih 25 cm, terletak dibawah abdomen bagian kiri
membujur dari atas kebawah dari fleksura lienalis sampai kedepan
ileum kiri, bersambung dengan colon sigmoid (Syaifuddin, 1996).
f. Colon Sigmoid
Merupakan lanjutan dari kolon desendens terletak miring, dalam
rongga pelvis sebelah kiri bentuknya menyerupai huruf S, ujung
bawahnya berhubungan dengan rectum (Syaifuddin, 1996).
g. Rektum
Terletak dibawah colon sigmoid yang menghubungkan intestinum
mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvic didepan oscracum
dan oscogcigis (Syaifuddin, 1996).
h. Anus
Adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rectum
dengan dunia luar. Terletak didasar pelvik, dindingnya diperkuat oleh
tiga spincter:
a) Spincter Ani Internus, bekerja tidak menurut kehendak.
b) Spincter Levator Ani, bekerja tidak menurut kehendak.
c) Spincter Ani Eksternus, bekerja menurut kehendak (Syaifuddin,
1996).

4. Patofisiologi
Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori,
protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. (Arisman, 2004). Dalam
keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan
hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh
untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang
sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat
dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya
kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga
setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein
terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera
diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selam puasa jaringan lemak
dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat
mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau
kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri
jangan sampai memecah protein lagi seteah kira-kira kehilangan separuh dari
tubuh. (Nuhchsan Lubis an Arlina Mursada, 2002).
5. Manifestasi Klinis
Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan
kehilangan berat badan sampai berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada
kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang
dari bantalan pipi, muka bayi dapat tetap tampak relatif normal selama
beberaba waktu sebelum menjadi menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat
kembung dan datar. Terjadi atropi otot dengan akibat hipotoni. Suhu biasanya
normal, nadi mungkin melambat, mula-mula bayi mungkin rewe, tetapi
kemudian lesu dan nafsu makan hilang. Bayi biasanya konstipasi, tetapi dapat
muncul apa yang disebut diare tipe kelaparan, dengan buang air besar sering,
tinja berisi mukus dan sedikit. (Nelson,1999). Selain itu manifestasi marasmus
adalah sebagai berikut :
a. Badan kurus kering tampak seperti orangtua
b. Lethargi
c. Irritable
d. Kulit keriput (turgor kulit jelek)
e. Ubun-ubun cekung pada bayi
f. Jaingan subkutan hilang
g. Malaise
h. Kelaparan
i. Apatis

6. Test Diagnostik
a. Pemeriksaan Fisik
1) Mengukur TB dan BB
2) Menghitung indeks massa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi
dengan TB (dalam meter)
3) Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah belakang
(lipatan trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak
dibawah kulitnya dapat diukur, biasanya dangan menggunakan jangka
lengkung (kaliper). Lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari
lemak tubuh. Lipatan lemak normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan
sekitar 2,5 cm pada wanita.
4) Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk
memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa,
massa tubuh yang tidak berlemak).
b. Pemeriksaan laboratorium : albumin, kreatinin, nitrogen, elektrolit, Hb,
Hematokrit, transferin.

7. Penatalaksanaan
a. Keadaan ini memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang
kualitas biologiknya baik. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin.
b. Pemberian terapi cairan dan elektrolit.
c. Penatalaksanaan segera setiap masalah akut seperti masalah diare berat.
d. Pengkajian riwayat status sosial ekonomi, kaji riwayat pola makan,
pengkajian antropometri, kaji manifestasi klinis, monitor hasil
laboratorium, timbang berat badan, kaji tanda-tanda vital.
Menurut Arisman, (2004), penatalaksanaan pada klien dengan marasmus
diantaranya:
a. Komposisi ppemberian CRO (Cairan Rehidrasi Oral) sebanyak 70-100
cc/kg BB biasanya cukup untuk mengoreksi dehidrasi.
b. Cara pemberian dimulai sebanyak 5 cc/kg BB setiap 30 menit selama 2
jam pertama peroral atau NGT kemudian tingkatkan menjadi 5-10 cc/kg
BB/ jam. Cairan tersebut harus habis dalam 12 jam.
c. Pemberian ASI sebaiknya tidak dihentikan ketika pemberian
CRO/intravena diberikan dalam kegiatan rehidrasi.
d. Berika makanan cair yang mengandung 75-100 kkal/cc, masing-masing
disebut sebagai F-75 dan F-100.
Menurut Nuchsan Lubis, (2002), penatalaksanaan penderita marasmus yang
dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahap, yaitu :
a. Tahap awal :24-48 jam pertama merupakan masa kritis, yaitu tindakan
untuk menyelamatkan jiwa, antara lain mengoreksi keadaan dehidrasi atau
asidosis dengan pemberian cairan IV.
1) Cairan yang diberikan adalah larutan Darrow-Glukosa atau Ringer
Laktat Dextrose 5%.
2) Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama.
3) Kemudian 140ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya.
4) Cairan diberikan 200ml/kg BB/ hari.
b. Tahap penyesuaian terhadap pemberian makanan
1) Pada hari-hari pertama jumlah kalori yang diberikan sebanyak 30-60
kalori/ kg BB/ hari atau rata-rata 50 kalori/ kg BB/ hari, dengan
protein 1-1,5 gr/ kg BB/ hari.
2) Kemudian dinaikkan bertahap 1-2 hari hingga mencapai 150-175
kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 3-5 gr/ kg BB/ hari.
3) Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet TKTP ini lebih kurang 7-
10 hari.
B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
a. Biodata
1) Identitas pasien
2) Identitas penanggungjawab
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama
Pada umumnya anak masuk rumah sakit dengan keluhan
gangguan pertumbuhan (berat badan semakin lama semakin turun),
bengkak pada tungkai, sering diare dan keluhan lain yang
menunjukkan terjadinya gangguan kekurangan gizi.
2) Riwayat kesehatan masa lalu
Meliputi pengkajian riwayat prenatal, natal dan post natal,
hospitalisasi dan pembedahan yang pernah dialami, alergi, pola
kebiasaan, tumbuh-kembang, imunisasi, status gizi (lebih, baik,
kurang, buruk), psikososial, psikoseksual, interaksi dan lain-lain. Data
fokus yang perlu dikaji dalam hal ini adalah riwayat pemenuhan
kebutuhan nutrisi anak (riwayat kekurangan protein dan kalori dalam
waktu relatif lama).
3) Riwayat kesehatan keluarga
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga,
lingkungan rumah dan komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota
keluarga, fungsi dan hubungan angota keluarga, kultur dan
kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi
keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.
c. Pengkajian Fisik
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan
rumah dan komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi
dan hubungan angota keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang
dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang penyakit klien
dan lain-lain.Pengkajian secara umum dilakukan dengan metode head to
toe yang meliputi: keadaan umum dan status kesadaran, tanda-tanda vital,
area kepala dan wajah, dada, abdomen, ekstremitas dan genito-urinaria.
Fokus pengkajian pada anak dengan Marasmus adalah pengukuran
antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkaran lengan atas dan tebal
lipatan kulit). Tanda dan gejala yang mungkin didapatkan adalah:
1) Perubahan rambut (defigmentasi, kusam, kering, halus, jarang dan
mudah dicabut)
2) Gambaran wajah seperti orang tua (kehilangan lemak pipi), edema
palpebra
3) Tanda-tanda gangguan sistem pernapasan (batuk, sesak, ronchi,
retraksi otot intercostal)
4) Perut tampak acites, hati teraba membesar, bising usus dapat
meningkat bila terjadi diare.
5) Edema tungkai
6) Kulit kering, hiperpigmentasi, bersisik dan adanya crazy pavement
dermatosis terutama pada bagian tubuh yang sering tertekan (bokong,
fosa popliteal, lulut, ruas jari kaki, paha dan lipat paha)

2. Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak
adekuat, anoreksia dan diare.
b. Kekurangan volume cairan tubuh b/d penurunan asupan peroral dan
peningkatan kehilangan akibat diare
c. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d asupan kalori dan protein
yang tidak adekuat
d. Risiko aspirasi b/d pemberian makanan/minuman personde dan
peningkatan sekresi trakheobronkhial
e. Bersihan jalan napas tak efektif b/d peningkatan sekresi trakheobronkhial
sekunder terhadap infeksi saluran.
3. Intervensi Keperawatan
a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat, anoreksia dan diare (Carpenito, 2000)

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


Tujuan : a. Jelaskan kepada keluarga tentang a. Meningkatkan pemahaman keluarga
Klien akan menunjukkan penyebab malnutrisi, kebutuhan tentang penyebab dan kebutuhan nutrisi
pening-katan status gizi. nutrisi pemulihan, susunan menu dan untuk pemulihan klien sehingga dapat
pengolahan makanan sehat meneruskan upaya terapi dietetik yang
seimbang, tunjukkan contoh jenis telah diberikan selama hospitalisasi.
Kriteria Hasil : sumber makanan ekonomis sesuai
Keluarga klien dapat status sosial ekonomi klien.
menjelaskan penyebab
gangguan nutrisi yang dialami b. Tunjukkan cara pemberian makanan b. Meningkatkan partisipasi keluarga dalam
klien, kebutuhan nutrisi per sonde, beri kesempatan keluarga pemenuhan kebutuhan nutrisi klien,
pemulihan, susunan menu dan untuk melakukannya sendiri. mempertegas peran keluarga dalam
upaya pemulihan status nutrisi klien.
pengolahan makanan sehat
seimbang. c. Roborans meningkatkan nafsu makan,
Dengan bantuan perawat, c. Laksanakan pemberian roborans proses absorbsi dan memenuhi defisit
keluarga klien dapat sesuai program terapi. yang menyertai keadaan malnutrisi.
mendemonstrasikan
pemberian diet (per sonde/per d. Menilai perkembangan masalah klien.
oral) sesuai program dietetik. d. Timbang berat badan, ukur lingkar
lengan atas dan tebal lipatan kulit
setiap pagi.
b. Kekurangan volume cairan tubuh b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan kehilangan akibat
diare
(Carpenito, 2000)

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


Tujuan : a. Lakukan/observasi pemberian cairan a. Upaya rehidrasi perlu dilakukan untuk
Klien akan menunjukkan per infus/sonde/oral sesuai program mengatasi masalah kekurangan volume
keadaan hidrasi yang adekuat. rehidrasi. cairan.

b. Jelaskan kepada keluarga tentang b. Meningkatkan pemahaman keluarga


Kriteria Hasil : upaya rehidrasi dan partisipasi yang tentang upaya rehidrasi dan peran
Asupan cairan adekuat sesuai diharapkan dari keluarga dalam keluarga dalam pelaksanaan terpi
kebutuhan ditambah defisit pemeliharan patensi pemberian rehidrasi.
yang terjadi. infus/selang sonde.
Tidak ada tanda/gejala
dehidrasi (tanda-tanda vital c. Kaji perkembangan keadaan c. Menilai perkembangan masalah klien.
dehidarasi klien.
dalam batas normal, frekuensi
defekasi ≤ 1 x/24 jam dengan d. Hitung balans cairan. d. Penting untuk menetapkan program
konsistensi padat/semi padat). rehidrasi selanjutnya.
c. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d asupan kalori dan protein yang tidak adekuat (Carpenito, 2000)

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


Tujuan : a. Ajarkan kepada orang tua tentang a. Meningkatkan pengetahuan keluarga
Klien akan mencapai standar pertumbuhan fisik dan tugas- tentang keterlambatan pertumbuhan dan
pertumbuhan dan tugas perkembangan sesuai usia perkembangan anak.
anak.
perkembangan sesuai standar
usia. b. Lakukan pemberian makanan/ b. Diet khusus untuk pemulihan malnutrisi
minuman sesuai program terapi diet diprogramkan secara bertahap sesuai
Kriteria Hasil : pemulihan. dengan kebutuhan anak dan kemampuan
Pertumbuhan fisik (ukuran toleransi sistem pencernaan.
antropometrik) sesuai standar
usia. Perkembangan motorik, c. Lakukan pengukuran antropo-metrik c. Menilai perkembangan masalah klien.
secara berkala.
bahasa/ kognitif dan
personal/sosial sesuai standar d. Lakukan stimulasi tingkat d. Stimulasi diperlukan untuk mengejar
usia. perkembangan sesuai dengan usia keterlambatan perkembangan anak
klien. dalam aspek motorik, bahasa dan
personal/sosial.

e. Lakukan rujukan ke lembaga e. Mempertahankan kesinambungan


pendukung stimulasi pertumbuhan program stimulasi pertumbuhan dan
dan perkembangan perkembangan anak dengan
(Puskesmas/Posyandu) memberdayakan sistem pendukung yang
ada.
d. Risiko aspirasi b/d pemberian makanan/minuman personde dan peningkatan sekresi trakheobronkhial
(Carpenito, 2000)

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


Tujuan : a. Periksa dan pastikan letak selang a. Merupakan tindakan preventif,
Klien tidak mengalami sonde pada tempat yang semestinya meminimalkan risiko aspirasi.
aspirasi. secara berkala.

b. Periksa residu lambung setiap kali b. Penting untuk menilai tingkat


Kriteria Hasil : sebelum pemberian makan- kemampuan absorbsi saluran cerna dan
Pemberian makan/minuman an/minuman. waktu pemberian makanan/minuman
per sonde dapat dilakukan yang tepat.
tanpa mengalami aspirasi.
Bunyi napas normal, ronchi c. Tinggikan posisi kepala klien selama c. Mencegah refluks yang dapat
tidak ada. dan sampai 1 jam setelah pemberian menimbulkan aspirasi.
makanan/minuman.

d. Ajarkan/demonstrasikan tatacara d. Melibatkan keluarga penting bagi tindak


pelaksanaan pemberian makanan/ lanjut perawatan klien.
minuman per sonde, beri kesempatan
keluarga melakukan-nya setelah
memastikan keamanan
klien/kemampuan keluarga.

e. Observasi tanda-tanda aspirasi. e. Menilai perkembangan masalah klien.


e. Bersihan jalan napas tak efektif b/d peningkatan sekresi trakheobronkhial sekunder terhadap infeksi
saluran pernapasan. (Carpenito, 2000)

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


Tujuan : a. Lakukan fisioterapi dada dan suction a. Fisioterapi dada meningkatkan pelepasan
Klien menunjukkan jalan secara berkala. sekret. Suction diperlukan selama fase
napas yang efektif. hipersekresi trakheobronkhial.

b. Mukolitik memecahkan ikatan mukus;


Kriteria Hasil : b. Lakukan pemberian obat ekspektorans mengencerkan m,ukus.
Jalan napas bersih dari sekret, mukolitik/ekspektorans sesuai
sesak napas tidak ada, program terapi.
pernapasan cuping hidung c. Menilai perkembangan maslah klien.
tidak ada, bunyi napas bersih, c. Observasi irama, kedalaman dan
ronchi tidak ada. bunyi napas.