Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KELOMPOK

ASUHAN KEBIDANAN
MELAKUKAN PENKES SEPSIS PUERPERIALIS
DI RS. MARANATA

(Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Profesi Bidan)

Di Susun Oleh :

1. Lina Apriliyana : 1909011

2. Oni Sintawati : 1909013

3. Rambu Hamu Meha : 1909015

4. Rambu Ipu Tunggu Djama : 1909016

5. Sintya Aulina Maharani : 1909019

PROGRAM PROFESI BIDAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA SEMARANG
TAHUN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat Laporan Kelompok Asuhan Kebidanan
Melakukan Penkes Sepsis Puerperialis di RS. Maranata sebagai salah satu tugas
dalam pelaksanaan praktek profesi kebidanan.
Penulis menyadari bahwa terselesaikan Laporan Kelompok Asuhan
Kebidanan Melakukan Penkes Sepsis Puerperialis di RS. Maranata ini banyak
mendapat bantuan, bimbingan, arahan, serta motivasi dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, pada Kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr.Fery Agusman M.M, SKM, M.Kep.,Sp.Kom, selaku Ketua Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada Semarang.
2. Lestari Puji Astuti, S.SiT., M.Kes, selaku Ketua Prodi Profesi Bidan Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada Semarang.
3. Ardhita Listya Fitriani, M. Tr.Keb, selaku pembimbing dan penguji stase
persalinan Prodi Profesi Bidan semester II
4. Semua pihak yang ikut membantu sehingga tugas praktek kelompok dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.
Dalam penyusunan laporan ini untuk dapat menjadi pedoman untuk
pembuatan asuhan terkait melakukan penkes sepsis puerperialis. Penulis
menyadari dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangan dan kesalahan
sehingga jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis bersedia menerima saran dan
kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan laporan ini, tak lupa pula
penulis meminta maaf atas segala kekurangan dalam penulisan laporan ini. Akhir
kata, penulis mempersembahkan Laporan Kelompok Asuhan Kebidanan
Melakukan Penkes Sepsis Puerperialis di RS. Maranata ini semoga bermanfaat
Semarang, November 2020

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
A. Latar Belakang.......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah..................................................................... 2
C. Tujuan....................................................................................... 2
D. Manfaat..................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN TEORI....................................................................... 4
A. Konsep Dasar Nifas / Puerperium ............................................ 4
B. Konsep Dasar Infeksi Puerperalis............................................. 8
BAB III TINJAUAN KASUS....................................................................... 14
BAB IV PEMBAHASAN............................................................................... 22
BAB V PENUTUP.......................................................................................... 25
A. Kesimpulan.................................................................................. 25
B. Saran............................................................................................ 25
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Tempat yang baik sebagai tempat tumbuhnya kuman adalah di
daerah bekas insersio (pelekatan) plasenta. Insersio plasenta merupakan
sebuah luka dengan diameter 4 cm, permukaan tidak rata, berbenjol karena
banyaknya vena yang di tutupi oleh trombus. Selain itu, kuman juga dapat
masuk melalui serviks, vagina dan perineum. Terjadinya infeksi dapat
terjadi karena manipulasi penolong yang tidak steril atau pemeriksaan dalam
berulangulang, alat-alat tidak steril, infeksi droplet, sarung tangan dan alat-
alat yang terkontaminasi oleh kuman dan virus, infeksi nosokomial rumah
sakit, infeksi intrapartum dan hubungan seksual akhir kehamilan yang
menyebabkan ketuban pecah dini (8)
Infeksi masa nifas mencakup semua peradangan yang disebabkan
oleh masuknya kuman-kuman ke dalam alat genital pada waktu persalinan
dan nifas. Menurut john comittee on Maternal Weifare (Amerika serikat ).
Tanda dan gejala yang timbul pada infeksi nifas antara lain demam, sakit di
daerah infeksi, warna kemerahan, fungsi organ terganggu. Gambaran klinis
infeksi nifas terbagi menjadi 2 yaitu: Infeksi lokal dan infeksi umum.
Infeksi lokal warna kulit berubah, timbul nanah, bengkak pada luka, lochia
bercampur nanah, mobilitas terbatas, suhu badan meningkat. Infeksi umum
sakit dan lemah, suhu badan meningkat, pernafasan meningkat dan sesak,
kesadaran gelisah sampai menurun bahkan koma, gangguan involusi uteri,
lochia berbau, bernanah dan kotor (8)
Asuhan pada masa nifas diperlukan dalam periode ini karena
merupakan masa kritis baik ibu maupun bayinya. Infeksi merupakan salah
satu penyebab secara langsung terjadinya kematian ibu di Indonesia(2).
Berbagai hambatan terjadi pada perilaku pencegahan infeksi masa nifas
sehingga ibu tidak bisa merawat bayinya. Faktor penghambat tersebut
adalah perilaku ibu yang kurang baik. Hal ini juga dapat disebabkan antara
lain, karena rendahnya pengetahuan ibu mengenai manfaat pencegahan
infeksi yang baik dan benar. Kurangnya pelayananan konseling pencegahan
infeksi dan dukungan dari petugas kesehatan, peresepsi-peresepsi sosial
budaya yang menentang perilaku pencegahan infeksi masa nifas secara tidak
baik (7).

B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana asuhan kebidanan melakukan penkes sepsis puerperialis di RS.
Maranata?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Melakukan asuhan kebidanan penkes sepsis puerperialis sesuai
standar asuhan dan evidance based practice menggunakan
pendokumentasian 7 langkah Hellen Verney.
2. Tujuan Khusus
a. Diharapkan dapat melaksanakan pengkajian secara Komprehensif
melalui pendekatan manajemen kebidanan dengan pola pikir 7
langkah Hellen Verney
b. Diharapkan dapat melaksanakan pengumpulan data Subyektif
c. Diharapkan dapat melaksanakan pengumpulan data Obyektif
d. Diharapkan dapat melaksanakan Analisa kasus dari hasil
pengumpulan data Subyektif dan
e. Diharapkan dapat membuat perencanaan tindakan yang akan
dilakukan
f. Diharapkan dapat melakukan implementasi
g. Diharapkan dapat melakukan evaluasi
D. MANFAAT
1. Manfaat Bagi Ibu
Mendapatkan asuhan kebidanan penkes sepsis puerperialis
berdasarkan evidence based practice dan manajemen kebidanan
2. Manfaat Bagi Bidan
Asuhan kebidanan ini dapat digunakan bidan sebagai bahan acuan
dan saran untuk meningkatkan mutu pelayanan asuhan kebidanan yang
berkualitas
3. Manfaat Bagi Institusi
Hasil asuhan kebidanan ini dapat digunakan sebagai referensi bagi
mahasiswa dalam meningkatkan proses pembelajaran dan data dasar
dalam memberikan asuhan kebidanan berdasarkan evidence based
4. Manfaat Bagi Penulis
Sebagai sarana belajar bagi penulis untuk mengaplikasikan terori
yang diperoleh selama perkuliahan dan meningkatkan pengetahuan
khususnya tentang penkes sepsis puerperialis
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep dasar nifas / puerperium


1. Pengertian
a. Nifas / puerperium adalah masa pulih dari setelah partus selesai sampai
dengan kurang 6 minggu
b. Nifas / puerperium yaitu masa setelah seorang ibu melahirkan bayi
yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali terutama
alat kelamin bagian dalam.
c. Nifas (Puerperium) adalah masa pulih kembali mulai dari persalinan
selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil lamanya
6 – 8 minggu
d. Nifas (Purperium) periode waktu atau masa dimana organ-organ
reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil.

2. Periode-periode Nifas
Nifas dibagi menjadi 3 periode :
a) Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu setelah diperbolehkan
berdiri dan berjalan-jalan
b) Puerperium intermedia yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia
yang lamanya 6-8 minggu.
c) Remote Puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk perih dan sehat
bagi semua ibu nifas terutama bila selama 1 hari atau waktu persalinan
mempunyai komplikasi.
3. Perubahan Fisiologis Masa Nifas
a. Uterus
Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil sehingga akhirnya
seperti sebelum hamil
Tinggi fundur uteri dan berat uterus menurut masa ivolusi

No Involusi Tinggi fundus uteri Berat uterus

1 Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram

2 Uri lahir 2 jari dibawah pusat 750 gram

3 1 minggu Pertengahan pusat simpisis 500 gram

4 2 minggu Tidak teraba di atas simpisis 350 gram

5 6 minggu Bertambah kecil 50 gram

6 8 minggu Sebesar normal 30 gram

b. Bekas Implantasi Uri


a) Bekas implantasi uri plasenta segera plasenta lahir seluas 12 x 15
cm. permukaan kasar dimana pembulub darah besar bermuara
b) Pada pembuluh darah terjadi pembentukan trombosa, disamping
pembuluh darah tertutup karena kontrak otot rahim
c) Bekas luka impantasi dengan cepat mengecil pada minggu ke 2
sebesar 6-2cm dan akhir pueprium sebesar 2 cm
d) Lapisan endometrium dilepaskan dalam bentuk jaringan nekorsis
bersama dengan lochea
e) Luka bekas implantasi plasenta akan sembuh karena pertumbuhan
yang berasal dari tepi luka dan lapisan basalis endometrium
c. Luka-luka pada jalan lahir bila tidak disertai injeksi akan sembuh
dalam 6-7 hari
d. Rasa sakit disebut afterpain (mules) disebabkan kontraksi uterus,
biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan
e. Lochea adalah cairan secret yang bersifat dari kavum dengan vagina
dalam masa nifas
1) Klasifikasi lochea :
a) Lochea rubra
Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, verniks
kaseosa, lanugo dan mekanium selama 2 hari pasca persalinan
b) Lochea sanguinolenta
Berwarna merah kuning berisi darah dan lender keluar pada
hari ke 3-7 pasca persalinan
c) Lochea serosa
Berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi keluar pada hari ke
7-14 pasca persalinan
d) Lochea alba
Keluar cairan putih setelah 2 minggu
e) Lochea purulenta
Terjadi infeksi,keluar cairan nanah berbau busuk
f) Lochea statis
Lochea tidak lancar keluarnya
f. Ligamen-ligamen : ligament, fasia dan diafragma pelvis yang
meregang pada waktu persalinan dan setelah bayi lahir akan menurut
dan pulih kembali
4. Klinis Nifas
Keadaan umum ibu :
a) Suhu dapat meningkat 36,50 C dari keadaan normal tetapi tidak
melebihi 380 C
b) Nadi berkisar 60-80x / menit
c) Miksi : pembentukan air seni ileh hginjal meningkat
Ibu sering kesulitan BANK karena perasaan ingin BAK berkurang

d) Defakasi biasanya mengalami sembelit pada hari pertama post partum


5. Tanda-tanda bahaya masa nifas
a) Perdarahan pervaginam yang kuas buasa / tiba-tiba bertambah banyak
lebih dari haid bisa
b) Perdarahan pervaginam yang baunya menusk
c) Rasa sakit dibagian bawah abdomen
d) Sakit kepala terus menerus nyeri ulu hati atau masalah penglihatan
e) Pembengkakan wajah
f) Payudara berubah menjadi merah, panas dan terasa sakit
6. Penanganan masa nifas
a) Kebersihan
Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan
sabun dan air. Sarankan ibu untuk mengganti pembalut Setidaknya 2 x
sehari, jika ibu mempunyai luka episidomi atau laserasi sarankan untuk
menghindari menyentuh luka
b) Istirahat
Anjurkan ibu agar istirahat yang cukup untuk mencegah kelelahan
yang berlebihan. Sarankan ibu untuk kembali beraktivitas rumah
tangga secara perlahan-lahan tidur siang / istirahat selagi bayi tidur
c) Latihan
Dengan dada terlentang dengan lengan disamping menarik otot perut
selagi menarik nafas tahan nafas kedalam dab angkat dagu ke dada
tahan hitungan 1 sampai ke 5
d) Gizi
Ibu menyusui harus mengkonsumsi tambahan 500 kalori / hari. Makan
dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan
vitamin yang cukup. Minum sedikitnya 3 liter air / hari. Pil fe harus
diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari PP
minum capsul vitamin A 200.000 untuk agar bisa memberikan vitamin
A pada bayi melalui ASI
e) Menyusui
ASI mengandung semua bahan yang diperlukan bayi, mudah dicerna
memberi perlindungan terhadap infeksi selalu segar bersih dan siap
diminum, untuk meningkatkan suplai ASI ibu harus meningkatkan
istirahat dan minum

f) Perawatan payudara
Menjaga payudara tetap bersih dan kering terutama putting susu.
Menggunakan BH yang menyokong payudara kompres dengan air
hangat dan dingin tiap pagi sore

7. Masalah-masalah pada masa Nifas


a) Adanya rasa motes / afterapain akibat rotraksi uterus biasanya selama
24 hari pasca persalinan
b) Kadang-kadang ditemukan keadaan hipertensi post partum tetapi akan
menghitung dengan sendirinya dalam kurang lebih 2 bulan tanpa
pengobatan
c) Keluarnya lochea
d) Adanya rasa nyeri bila ada luka jahit perineum
e) Adanya bendungan pada payudara
f) Adanya takut pada BAK BAB
g) Gangguan psikologis pada ibu nifas

B. Konsep Dasar Infeksi Puerperalis


1. Pengertian
a. Infeksi puerperalis adalah semua peradangan yang disebabkan oleh
masuknya kuman-kuman ke dalam alat-alat genetalia pada waktu
persalinan dan nifas
b. Infeksi puerperalis adalah keadaan yang mencakup semua peradangan
alat-alat genetalia dalam masa nifas
c. Infeksi puerperalis adalah infeksi peradangan pada semua alat
genetalia pada masa nifas oleh sebab apapun dengan ketentuan
meningkatnya suhu badan melebihi 380 C tanpa menghitung hari
pertama dan berturut-turut selama 2 (dua) hari
2. Etiologi
Bermacam-macam jalan kuman masuk ke dalam alat kandungan seperti
eksugen, autogen danendogen. Penyebab yang terbanyak dan lebih dari
50 % adalah strepto coccus dan anaerop yang sebenarnya tidak patogen
sebagai penghuni normal jalan lahir :
Kuman-kuman yang sering menyebabkan infeksi puerperalis antara lain :
a. Streptococcus haematilicus aerobic
b. Staphylococcus aurelis
c. Escherichia coli
d. Clostridium welchii
3. Faktor-faktor predisposisi infeksi puerperalis, diantaranya :
a. Persalinan yang berlangsung lama sampai terjadi persalinan terlantar
b. Tindakan operasi persalinan
c. Tertinggalnya plasenta selaput ketubahn dan bekuan darah
d. Ketuban pecah dini atau pada pembukaan masih kecil melebihi enam
jam
e. keadaan yang dapat menurunkan keadaan umum, yaitu perdarahan
antpartum dan postpartum, anemia pada saat kehamilan, malnutrisi,
kelelahan dan ibu hamil dengan penyakit infeksi seperti pneumonia,
penyakit jantung dan sebagainya.
4. Mekanisme terjadinya infeksi puerperalis
Terjadinya infeksi puerperalis adalah sebagai berikut :

a) Manipulasi penolong, terlalu sering melakukan pemeriksaan dalam alat


yang dipakai kurang suci hama
b) Infeksi yang didapat dirumah sakit (nosakomial)
c) Hubungan seks menjelang persalinan
d) Sudah terdapat infeksi intrapartum : persalinan lama terlancar ketuban
pecah lebih dari enam jam terdapat pusat infeksi dalam tubuh
5. Infeksi yang terlukalisir di jalan lahir
Biasanya terdapat pada tempat-tempat perlukaan jalan lahir karena
tindakan persalinan dan pada bekas implantasi plasenta
a) Vulvitis, luka bekas episotomi atau robekan perbium yang kena
infeksi. Jaringan sekitar luka membengkak, tepi luka meraih dan
bengkak, jahitan mudah terlepas, luka yang terbuka menjadi ulkus dan
mengeluarkan pus
b) Vaginatis : luka karena tindakan persalinan terinfeksi, permukaan
mukosa membengkak dan kemerahan, terjadi ulkus dan getah
mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus
c) Servisitis : infeksi pada serviks agar dalam dapat menjalar ke
ligamentum dan parametrium
d) Endometritis : infeksi terjadi pada tempat insersi plasenta dan dalam
waktu singkat dapat mengenai seluruh endometrium
e) Peritonitis
Terjadi karena meluasnya endometritis, tetapi dapatjuga ditemukan
bersama-sama dengan salpingo-oofaritis dan seliltis pelvika, infeksi
nifas dapat menyebar melalui pembuluh linfe didalam uterus langsung
mencapai peritoneum dan menyebabkan peronitis
f) Septikomeia dan piemia
Keduanya merupakan infeksi berat.
pada septikemia :
1) Dari permulaan penderita sudah sakit dan lemah
2) Sampai 3 hari post partum suhu menigkat dengan cepat
biasanya disertai menggigil, suhunya berkisar 39-400 C
3) Nadi meningkat / menjadi cepat (140-160 x / menit atau lebih)
Sedangkan pada piemia :
1. Penderita tidak lama post partum sudah merasa sakit
2. suhu agak meningkat (350 C)
3. Perut nyeri
Infeksi ini disebabkan oleh kuman-kuman yang sangat
pathogen biasanya streiptoccocus haeomlyticus golongan A. infeksi
ini merupakan 50 % dari semua kematian karena infeksi nifas.
Pada septicemia kuman-kuman dari sarangnya diuterus,
langsung masuk ke dalam peredaran darah umum dan menyebabkan
ifeksi. Pada plemia terdapat dahulu trombofelbitis ini menjalar ke
venauterina, venatupogastrika dan / atau vena onari (tromboflebitis
pelvika)
g) Parametritis (sellulitis pelivika)
Parametritis adalah infeksi jaringan ikat pelvis yang daoat teradi
melalui beberapa jalan :
a) Dari servisitis atau endometritis dan tersebar melalui pembuluh
limfe
b) Langsung meluas dari servisitis kesadasar ligamentum sampai ke
parametritis
c) Penyeberangan sekunder dari tromboflebitis pelvika
h) Salfingitis
Salfingitis adalah perdangan dari adneksa terdiri atas salfingitis akut
dan kronik kadang-kadang walaupun jarang infeksi menjalin ketuba
fallopi, malahan ke ovarium
6. Pencegahan yang dapat dilakukan dalam upaya menurunkan infeksi
puerperalis sebagai berikut :
a. Pencegahan pada waktu hamil
a. Meningkatkan keadaan umum penderita
b. Mengurangi faktor predisposisi infeksi kala nifas
b. Saat persalinan
1) Perlukan dikurangi sebanyak mungkin
2) Perlukaan yang terjadi perdarahan post partum
c. Mencegah terjadi perdarahan post partum
d. Kurang melakukan pemeriksaan dalam
e. Hindari persalinan yang berlangsung lama
c. Kala nifas
1) Lakukan mobiliasi dini sehingga darah lokia keluar dengan lancar
2) Perlukaan dirawat dengan baik
3) Rawat gabung dengan isolasi untuk mengurangi infeksi nosokomial
7. Pengobatan Infeksi Kala Nifas
a. Sebaliknya segera dilakukan pengambilan (kultur) dari secret vagina,
luka operasi dan darah serta uji kepakaian untuk mendapatkan
antibiotiika yang tepat dalam pengobatan
b. Berikan dalam dosis yang cukup dan adekuat
c. Karena hasil pemeriksaan memerlukan waktu, maka berikan
antibiotikan spectrum luas (broad spectrum) menunggu hasil
laboratorium
d. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh penderita infus atau
tranfusi diberikan perawatan lainnya sesuai dengan komplikasi yang
dijumpai
8. Pengobatan Kometarapi
a) Kemasan sulfonamide
b) Kemasan penislin
c) Tetrasiklin, ertiromisin dan kloramfenikal
d) Jangan diberikan politerapi antibiotika yang sangat berlebihan
e) Tidak ada gunanya memberikan obat-obatan yang mahal kalau
evaluasi penyakit dan hasil laboratorium tidak dilakukan
9. Tatalaksana infeksi puerperalis
Infeksi Puerperalis

Faktor predispsisi
Hamil Gejala klinik
Saat persalinan Iskal
Kala nifas General

Dasar Diagnosa Infeksi Puerperalis

Pencegahan Infeksi Pengobatan


Saat hamil Lokal luka
Saat persalinan Pengobatan Umum
Saat kala nifas Infeksi kala nifas berat :
Tugas Bidan Rujuk ke RS
Mencegah Infeksi Operasi Penyela mat jiwa
Melakukan rujukan
BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN NIFAS PATOLOGI


PADA Ny. “R” P1A0 NIFAS HARI KE-4
DENGAN INFEKSI PUERPERALIS
DI RUMAH SAKIT MARANATA

I. PENGKAJIAN DATA
Tanggal Pengkajian : 20 November 2020
Jam : 09.00 WIB

A. Data Subyektif
1. Biodata
Nama ibu : Ny. "A" Nama suami : Tn. "K"
Umur : 25 tahun Umur : 31 tahun
Pendidikan : SMU Pendidikan : SMU
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta
Agama : Islam Agama : Islam
Alamat : Simbaringin, Kutorejo
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan badannya panas dan mengeluarkan darah berbau
sejak 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada tanggal 4
Januari 2012 jam 17.00 WIB.
3. Riwayat Kebidanan
a) Riwayat haid
Menarche : 13 tahun
Siklus haid : 28 hari
Lama haid : 7 hari
Warna : merah kecoklatan
Banyaknya : ganti pembalut 2-3 pada hari ke 1-4, ganti
pembalut 1-2 pada hari berikutnya.
Bau : khas anyir
Disminorhea : -
Flour Albus :-
b) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
No Kehamilan Persalinan Anak Nifa KB KET
s
UK Peny. Jeni Pnlg Peny. Sex BB H/M Peny Menetek metod
s i e
I Hamil
ini

c) Riwayat persalinan sekarang


Anak lahir tanggal : 04 Januari 2012
Jenis kelamin : perempuan
Jenis persalinan : spontan
Berat badan : 3500 gram
Panjang badan : 50 cm
Cacat : tidak ada
d) Riwayat Perkawinan
Perkawinan ke :1
Lama kawin : 1 tahun
Umur kawin : 16 tahun
5. Riwayat Kesehatan
a) Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular,
menurun dan menahun seperti DM, Jantung, asma, paru-paru dan
lain-lain dan ibu juga mengatakan tidak pernah dioperasi dan
tidak pernah MRS karena suatu penyakit.
b) Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarganya maupun keluarga, tidak ada
yang menderita penyakit menular, menurun dan menahun seperti
DM, Jantung, asma, paru-paru dll. Dan tidak mempunyai
keturunan kanker.
6. Pola kebiasaan sehari-hari
a. Pola Nutrisi
Selama hamil : makan 3 kali/hari, dengan porsi 1 piring nasi
lauk tempe, telur, ikan laut, telur, ikan laut 
1 mangkok sayur (hijau-hijauan), minum air
putih 6-7 gelas/hari.
Setelah melahirkan : saat dikaji ibu makan nasi, lauk dan sayur,
minum 1 gelas teh hangat.
b. Pola eliminasi
Selama hamil : BAK  5-6 x/hari, kuning jernih
BAB setiap hari 1 kali
Setelah melahirkan : BAK 3 x/hari
BAB 1 x/hari
c. Pola Istirahat
Selama hamil : tidur siang  1 jam, tidur malam  6 jam
Setelah melahirkan : tidur siang  3 jam, tidur malam  5 jam
d. Pola aktivitas
Selama hamil : ibu melakukan pekerjaan rumah seperti
mencuci, memasak dan membersihkan
rumah.
Setelah melahirkan : ibu tidak beraktivitas, hanya menggendong
bayinya dan belajar menyusui
e. Pola Personal Hygiens
Selama hamil : mandi 2 x/hari, gosok gigi 2 x/hari, keramas
3 x seminggu, ganti baju dan celana dalam
tiap setelah mandi atau tiap basah atau kotor.
Setelah melahirkan : mandi 2 x/hari, ganti baju 2 x/hari, ganti
pakaian dalam dan pembalut setiap 2 x/hari.

7. Riwayat Psikologis
Ibu merasa senang dan lega telah melahirkan bayi pertamanya dengan
selamat
8. Data Sosial Budaya
Hubungan ibu dengan keluarga dan lingkungan sekitar baik karena ibu
aktif.

B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
TD : 130/100 mmHg
N : 94 x/menit
Suhu : 38,5C
RR : 28 x/menit
2. Pemeriksaan Fisik Khusus
a) Inspeksi
Kepala : rambut hitam, ikal, bentuk kepala bulat, bersih, tidak
berketombe, tidak rontok
Muka : pucat, bentuk ovale
Mata : simetris, konjungtiva pucat, sclera tidak ikterus
Hidung : simetris, tidak ada pernapasan cuping hidung, tidak ada
sekret
Mulut : simetris, bibir pucat, tidak ada stomatitis, tidak ada
caries gigi
Telinga : simetris, tidak keluar serumen, bersih
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada
pembesaran kelenjar limfe, tidak ada bendungan vena
jugularis.
Dada : simetris, tidak ada retraksi dinding dada
Payudara : payudara simetris, membesar, terdapat
hypervaskularisasi, dan adanya pengeluaran ASI
Abdomen : terdapat linea migra, tidak ada luka bekas operasi,
UC baik
Genetalia : terdapat lochea purulenta, terdapat luka bekas
jahitan, luka bekas jahitan masih basah dan berwarna
merah, membengkak, adanya pus yang keluar dan
berbau
Ekstremitas :Simetris, tidak oedem, tidak ada varises, warna kuku
pucat, warna kulit pucat.
b) Palpasi
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada
pembesaran kelenjar limfe, tidak ada bendungan vena
jugularis
Payudara : konsistensi kenyal, colostrums sudah keluar, tidak
ada benjolan abnormal
Abdomen : UC baik, TFU 2 jari bawah pusat, tidak ada nyeri
tekan
Genetalia : terdapat nyeri tekan pada luka jahitan
c) Auskultasi
Dada : tidak ada wheezing, atapun ronkhy
Abdomen : tidak terdengar bising usus
3. Terapi
a. Antibiotic (Ampicillin)
b. Pamol
c. Methergin
d. Cefadroxil
e. Metilergometrin
f. Vit. C
g. Fe

II. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH


A. Diagnosa Kebidanan : Ny. "A" PIA0 nifas hari ke-4 dengan infeksi
puerperalis
B. Ds : Ibu mengatakan telah melahirkan anak pertamanya secara normal
Ibu mengatakan badannya panas dan mengeluarkan darah berbau
sejak 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada tanggal 4
Januari 2012 jam 17.00 WIB.
C. Do :
KU : baik
Kesadaran : composmentis
TD : 130/100 MmHg
N : 94 x/menit
RR : 28 x/menit
Suhu : 38,5C
Genetalia : terdapat lochea purulenta, terdapat luka bekas
jahitan, luka bekas jahitan masih basah dan berwarna
merah, membengkak, adanya pus yang keluar dan
berbau
Ekstremitas : Simetris, tidak oedem, tidak ada varises, warna kuku
pucat, warna kulit pucat.
Mata : simetris, konjungtiva pucat, sclera tidak ikterus
Mulut : simetris, bibir pucat, tidak ada stomatitis, tidak ada
caries gigi
D. Masalah
Febris dan lochea berbau sehubungan dengan infeksi puerperalis

III. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL


1. Sepsis
2. Subinvolusi

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA


1. Kolaborasi dengan tim medis
dalam pemberian terapi
2. KIE tentang perawatan luka
episiotomi dan vulva higiene

V. INTERVENSI
Tanggal : 20 November 2020 Jam : 09.15 WIB
1. Lakukan pendekatan pada ibu dan keluarga
2. Observasi TTV, TFU, lochea dan UC
3. Jelaskan hasil pemeriksaan pada ibu
4. Ajarkan cara perawatan bayi pada ibu
5. Anjurkan ibu untuk minum obat cefadroxil (3 x 500 mg) dan
metilergometrin (3 x 1 tablet)
6. Beritahu ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan berserat dan
juga minum air putih yang cukup
7. Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup
8. Beritahu ibu untuk kontrol 1 minggu lagi atau jika ada keluhan lain
9. Lakukan kolaborasi dengan dokter

VI. Implementasi
Tanggal : 20 November 2020 Jam : 09.20 WIB
1. Melakukan pendekatan pada pasien dan keluarga dengan memberi salam
dan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan serta menanyakan keluhan
yang dirasakan pasien
2. Lakukan observasi TTV, TFU, lochea, dan UC
TTV : TD : 130 / 100 mmHg
S : 38,50 C
N : 94 x / menit
RR : 28 x / menit
TFU : 2 jari dibawah pusat
Lochea : keluar lochea puralenta (lochea berbau dan bernanah)
3. Memberitahu pada ibu bahwa hasil pemeriksaan yang telah dilakukan
menunjukkan bahwa ibu mengalami infeksi puerperalis (infeksi pada
bekas jahitan) sehingga masih diperlukan perawatan
4. Mengajarkan pada ibu tentang perawatan luka bekas jahitan yaitu dengan
menggunakan kasa yang diberi betadhine kemudian dilapisi pembalut dan
diganti setiap selesai BAK / BAB dan setelah mandi miniaml 2 kali sehari
5. Mengajarkan pada ibu cara cebok yang benar yaitu membersihkan alat
genetalia dari depan dengan handuk / tissue ke belakang sampai anus lalu
dikeringkan
6. Memberitahu ibu untuk ganti pembalut dan celana dalam setiap habis
BAK / BAB agar infeksi tidak menyebar.
7. Memberitahu pada ibu cara merawat bayi, yaitu mandi 2 kali sehari, dan
setelah mandi, tali pusat dirawat dengan cara dibungkus dengan kasa
kering atau kasa yang diberi betadhine ataupun kasa yang diberi alcohol
8. Memberitahu ibu untuk minum obat cefadroxil (3 x 500 mg) dan
metilergometrin (3 x 1 tablet) secara teratur untuk mengurangi rasa nyeri
9. Beritahu ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan berserat
seperti sayuran dan buah-buahan dan juga minum air putih yang cukup
agar BAB lancar dan luka cepat sembuh
10. Memberitahu ibu untuk istirahat yang cukup yaitu 6-8 jam untuk
membantu memulihkan tenaga
11. Memberitahu pada ibu untuk kontrol 1 minggu lagi atau jika ada keluhan
lain untuk mengetahui keadaan ibu lebih lanjut

VII. Evaluasi
Tanggal : 20 November 2020 Jam : 10.00 WIB
1. Ibu telah mengerti dan paham tentang penjelasan yang diberikan oleh
petugas kesehatan
2. Ibu mengerti tentang KIE nutrisi yang sudah dijelaskan
3. Ibu mengerti tentang KIE tentang personal hygiene
4. Ibu akan melanjutkan untuk mengkonsumsi obat sampai sembuh.
BAB IV
PEMBAHASAN

Asuhan kebidanan ibu bersalin pada Ny. A berusia 25 tahun dilakukan


pengkajian data subjektif dan objektif. Pada data subjektif, diketahui terdapat
keluhan yaitu Ibu mengeluh badannya panas dan mengeluarkan darah berbau sejak 4
hari. Ibu mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit terdahulu ataupun dalam
keluarga. Pada saat melakukan pengkajian data objektif didapatkan hasil
pemeriksaan dalam batas normal.
Kegiatan pengumpulan data dimulai pada saat klien masuk dan dilanjutkan
secara terus menerus selama proses asuhan kebidanan berlangsung. Data dapat
dikumpulkan dari berbagai sumber. Sumber yang dapat memberikan informasi
paling akurat yang dapat diperoleh secepat mungkin dan upaya sekecil mungkin
yaitu dari pasien atau keluarga pasien. Teknik pengumpulan data yaitu berupa
observasi, wawancara, dan pemeriksaan fisik. (4)
Tanda vital merupakan parameter tubuh untuk menilai fungsi fisiologis
organ vital tubuh atau mekanisme homeostatis tubuh. Pengukuran tanda vital yang
secara rutin dipantau dapat memberikan informasi mengenai status kesehatan
seseorang. Pengukuran tanda vital meliputi: 1) Tekanan Darah 2) Nadi 3)
Pernapasan 4) Suhu.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam pengkajian data subjektif dan
objektif tidak ditemukannya kesenjangan antara teori dan tindakan yang telah
dilakukan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari pengkajian data subjektif dan objektif
dapat disimpulkan analisa pada asuhan ini adalah Ny. A umur 25 tahun P1A0
nifas hari ke-4 dengan infeksi puerperalis.
Langkah awal dari perumusan masalah/ diagnosa kebidanan adalah
pengolahan/analisa data yaitu menggabungkan dan menghubungkan data satu
dengan lainnya sehingga tergambar fakta.(1)
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan oleh bidan dalam
lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar nomeklatur diagnosis
kebidanan. Diagnosa didapatkan dari data subjektif dan data objektif. Dignosa
nomenklatur kebidanan adalah suatu sistem nama yang telah terklasifikasikan dan
diakui serta di syahkan oleh profesi, digunakan untuk menegakkan diagnosa
sehingga memudahkan pengambil keputusanya. Dalam nomenklatur kebidanan
mempunyai standar yang harus dipenuhi.(9)
Penentuan analisa dalam kasus asuhan kebidanan pada ibu bersalin ini
sudah sesuai dengan teori yang telah ada.
Setelah dilakukan analisa pada kasus, kemudian tindakan selanjutnya adalah
memberikan penatalaksanaan. Berdasarkan dignosisa kebidanan yang ditegakkan
bidan dalam mencatat rencana kegiatannya, maka rencana kegiatan mencakup
tujuan dan langkah langkah yang akan dilakukan bidan dalam melakukan
intervensi dalam memecahkan masalah termasuk rencana asuhan evaluasi. Dalam
rencana kegiatan juga dicatat kriteria evaluasi dan keberhasilan tindakan. Kriteria
evaluasi dan hasil tindakan perlu dicatat untuk mengukur keberhasilan dari
pelaksanaan asuhan yang dilakukan.(5)
Pada kasus Ny. A ini peneliti melakukan beberapa penatalaksanaan dan
intervensi diantaranya: (20,21)
1. Melakukan pendekatan pada pasien dan keluarga dengan memberi salam
dan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan serta menanyakan keluhan
yang dirasakan pasien
2. Lakukan observasi TTV, TFU, lochea, dan UC
TTV : TD : 130 / 100 mmHg
S : 38,50 C
N : 94 x / menit
RR : 28 x / menit
TFU : 2 jari dibawah pusat
Lochea : keluar lochea puralenta (lochea berbau dan bernanah)
3. Memberitahu pada ibu bahwa hasil pemeriksaan yang telah dilakukan
menunjukkan bahwa ibu mengalami infeksi puerperalis (infeksi pada bekas
jahitan) sehingga masih diperlukan perawatan
4. Mengajarkan pada ibu tentang perawatan luka bekas jahitan yaitu dengan
menggunakan kasa yang diberi betadhine kemudian dilapisi pembalut dan
diganti setiap selesai BAK / BAB dan setelah mandi miniaml 2 kali sehari
5. Mengajarkan pada ibu cara cebok yang benar yaitu membersihkan alat
genetalia dari depan dengan handuk / tissue ke belakang sampai anus lalu
dikeringkan
6. Memberitahu ibu untuk ganti pembalut dan celana dalam setiap habis
BAK / BAB agar infeksi tidak menyebar.
7. Memberitahu pada ibu cara merawat bayi, yaitu mandi 2 kali sehari, dan
setelah mandi, tali pusat dirawat dengan cara dibungkus dengan kasa kering
atau kasa yang diberi betadhine ataupun kasa yang diberi alcohol
8. Memberitahu ibu untuk minum obat cefadroxil (3 x 500 mg) dan
metilergometrin (3 x 1 tablet) secara teratur untuk mengurangi rasa nyeri
9. Beritahu ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan berserat
seperti sayuran dan buah-buahan dan juga minum air putih yang cukup agar
BAB lancar dan luka cepat sembuh
10. Memberitahu ibu untuk istirahat yang cukup yaitu 6-8 jam untuk
membantu memulihkan tenaga
11. Memberitahu pada ibu untuk kontrol 1 minggu lagi atau jika ada keluhan
lain untuk mengetahui keadaan ibu lebih lanjut
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dalam pembuatan asuhan kebidanan
pada Ny. A umur 25 tahun dengan penkes sepsis puerperialis. Pada tahap
pengkajian data yang terdiri dari data subyektif dan obyektif semuanya
dilakukan sesuai dengan format pengkajian untuk asuhan kebidanan
persalinan. Data yang didapatkan dalam pengkajian ini digunakan sebagai
dasar dalam menentukan diagnosa dan masalah terhadap keadaan yang
dirasakan oleh ibu. Secara keseluruhan untuk tahap identifikasi diagnosa
sampai dengan evaluasi sudah sesuai dengan teori yang ada.

B. Saran
1. Bagi Ibu
Diharapkan dapat mengikuti anjuran yang diberikan agar tidak terjadi
infeksi puerperialis kembali dan bisa cepat sembuh.
2. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa mampu menambah referensi dan pengetahuan serta
mengaplikasikan teori yang sudah dipelajari.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Memberikan laporan serta tambahan referensi mengenai penkes sepsis
puerperialis
DAFTAR PUSTAKA

1. Asri, D. and Clervo., C. (2012) Asuhan Persalinan Normal. Yogyakarta: Nuha Medika.
2. BKKBN. Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) 2012. Jakarta 2013.
3. Mochtar, Rustam,1998,"Sinopsis Obstetri",Jilid I,Jakarta:EGC
4. Mufdlilah (2012) Konsep Kebidanan. Yogyakarta: Nuha Medika.
5. Muslihatun, W. (2013) Dokumentasi Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya
6. Notoatmodjo, S. (2010). Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta.
7. Prawiroharjo,Sarwono,2002,"Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, YBP-SP, Jakarta
8. Purwoastuti dan Walyani. (2015). Asuhan kebidanan masa nifas dan menyusui.
Yogyakarta: Pustaka Baru Pres.
9. Wildan, M. and Hidayat, A. A. A. (2011) Dokumentasi Kebidanan. Jakarta: Salemba
Medika
30